ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Saturday, October 23, 2010 | 9:24 PM | 0 Comments

    Sikap Jantan Dari TNI

    Video yang diposting di YouTube ini menunjukkan dua pria Papua tengah dianiaya oleh beberapa orang yang diduga pasukan keamanan Indonesia. Salah satu personel keamanan melakukan penganiayaan dengan mengarahkan benda tumpul ke alat kelamin pria Papua tersebut.

    BERANI berbuat, berani bertanggung jawab. Itulah sikap yang diperlihatkan Tentara Nasional Indonesia menyusul ditayangkannya tindak kekerasan yang dilakukan prajurit TNI di Papua melalui situs web Youtube. Semua orang terhenyak dengan kekerasan yang terekam, apalagi rekaman kekerasan itu kemudian menjadi tontonan masuarakat dunia.

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengakui bahwa telah terjadi tindak kekerasan yang dilakukan prajurit TNI terhadap tahanan di Papua. TNI akan mencari tahu pelaku tindak kekerasan tersebut dan kemudian akan menjatuhkan sanksi kepada pelakunya.

    Sikap jantan untuk mengakui kesalahan penting agar duduk persoalan bisa dibuat semakin jelas. Apalagi kita tahu tindakan itu pasti bukan kebijakan dari institusi, tetapi penyimpangan yang dilakukan oleh anggota TNI. Dengan pengakuan ini maka yang tinggal dilakukan adalah penyelidikan lebih lanjut dan penataan organisasi agar jangan sampai tindakan seperti ini kemudian terulang kembali.

    Kemarin di kolom ini kita meminta Kepolisian Republik Indonesia untuk berani bersikap jantan. Tindakan ala koboi yang diperlihatkan anggota polisi ketika menangani demo mahasiswa tanggal 20 Oktober lalu, merupakan tindakan yang tidak pantas. Namun seperti biasa, polisi selalu berdalih dan tidak berani untuk mengakui kesalahannya.

    Tanpa ada keberanian untuk mengakui kesalahan, maka tidak mungkin akan bisa dilakukan perbaikan. Akibatnya, maka tindakan asal main tembak, akan menjadi sikap yang biasa di aparat kepolisian. Kasus penembakan kepada warga bukan hanya terjadi hari Rabu lalu itu saja. Sudah beberapa kali insiden seperti itu terjadi dan selalu saja berulang, karena polisi tidak pernah berani mengakui kesalahannya.

    Polri harus belajar kepada TNI untuk berani berjiwa besar. Secara terbuka mengakui kesalahan yang dilakukan anggotanya dan kemudian mencoba memerbaiki dirinya. Dengan itulah maka Polri akan menjadi organisasi yang semakin matang dan dewasa.

    Sekarang ini kita hidup di era yang berbeda. Semua serba terbuka dan tidak mungkin ditutup-tutupi lagi. Teknologi informasi yang berkembang begitu pesat membuat semua peristiwa tidak mungkin bisa lepas dari pengamatan. Bocornya rekaman penganiayaan terhadap tahanan, bukan hanya dialami oleh TNI. Tentara Amerika dan Inggris tertangkap oleh kamera ketika melakukan penganiayaan terhadap tahanan yang ada di Abu Ghraib, Irak dan Guantanamo, AS. Rekaman penganiayaan itu disebarkan juga melalui sociamedia dan dalam waktu yang cepat menjadi perguncingan di seluruh dunia.

    Apa yang lalu dilakukan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan juga Inggris? Apakah mereka lalu bersembunyi dan mencoba untuk mengelak dari kenyataan? Lalu apakah kemudian mereka juga mencoba untuk cuci tangan dan tidak mau mengakui kesalahannya?

    Sebuah tindakan konyol, apabila Angkatan Bersenjata AS dan Inggris kemudian mencoba untuk mengelak dari tanggung jawab. Mereka malah akan dikejar untuk dimintai pertanggungjawaban. Dosa paling dari seorang pemimpin adalah ketika ia mengelak dari tanggung jawab.

    Dalam kasus pelanggaran berat yang terjadi di penjara Abu Ghraib dan juga Guantanamo, kita ingat bagaimana Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS harus memertanggungjawabkan kesalahan anak buahnya di depan Kongres. Kedua pejabat tinggi pertahanan AS itu tidak mencoba menghindar dari tanggung jawab, namun menjawab kesalahan dengan memerbaiki sikap dan perilaku dari para prajurit AS.

    Pemerintah dan TNI tidak perlu berkecil hati dengan apa yang terjadi di Papua. Kita memang malu ketika tindakan kekerasan seperti itu kemudian ditayangkan di televisi-televisi internasional. Namun kita akan lebih malu kalau mencoba menyangkal fakta yang ada dan tidak mencoba memerbaiki diri.

    Setelah keterangan yang disampaikan Menko Polhukam, yang perlu ditindaklanjuti adalah melakukan koreksi ke dalam. Terutama para pembina di jajaran Angkatan Darat harus mengevaluasi ulang semua prosedur yang berlaku dan semua aturan yang berlaku itu harus bisa diturunkan kepada seluruh prajurit di lapangan.

    Kepala Staf Angkatan Darat yang bertanggung jawab terhadap pembinaan prajurit, tidak bisa tinggal diam. Apa yang terjadi di Papua menunjukkan bahwa reformasi sikap dan perilaku prajurit belumlah berjalan optimal. Kebiasaan lama untuk menggunakan kekerasan, masih melekat pada diri prajurit TNI-AD.

    Tentu kita tidak bisa menggeneralisasi. Bisa jadi pemahaman seperti itu hanya ada pada sebagian kecil prajurit. Tetapi KSAD harus mengevaluasi secara menyeluruh dan memastikan di mana persoalan masih ada dan kemudian melakukan perbaikan.

    Kita harus memetik hikmah dari setiap kejadian. Hikmah yang baik dan perlu terus kita pertahankan adalah sikap ksatria untuk mau mengakui kesalahan. Dari pengakuan itulah lalu kita melakukan perbaikan, sehingga akhirnya kita bisa membangun sebuah sistem yang jauh lebih baik lagi. Itu harus berlaku pada semua kita.

    Sumber: METRO TV

    Berita Terkait:

    0 komentar:

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.