ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Tuesday, July 31, 2012 | 5:02 PM | 0 Comments

    English News : Pindad Will Begin Production Armored Fighting Vehicle in 2014

    Bureau - If procurement of main battle tanks (MBTs) in NATO and certain other countries is any indication, the era of MBTs being the bulwark of land forces may be over. Tanks seem to be losing the strategic advantage to UAVs, and force projection advantage to lighter and more agile armoured vehicles.

    A study by defenseworld.net has revealed that Germany, France, U.K., and the U.S., have not issued RFPs for new MBTs in the past few years. Instead, highly mobile infantry combat vehicles (IFVs) and All Terrain Vehicles (ATVs) seem to be the flavor of the season.

    Used and refurbished MBTs seem to be finding new homes in developing countries. Recently, the Czech Army announced plans to sell 134 T-72 MBTs to an unnamed African country. Earlier, the Czech Republic had sold an unspecified number of T-72s to Algeria. Taking a cue from their NATO neighbors’, the Czech army seems keen on light armored vehicles with higher mobility over the T-72 which can be bogged down in urban environments and are sitting ducks for armed UAVs and other air launched weapons in open fields.

    However, some developing countries too seem to be having second thoughts about MBTs. Indonesia which is in the line to purchase 100 used German Leopold tanks has had opposition from Indonesian lawmakers who have voiced that the 62-ton German-built tank is unsuited for the far-flung archipelago with two land borders and an under-developed network of roads and bridges which would be major obstacles to their effective deployment.

    IFV manufacturers meanwhile are being flooded with orders. Oshkosh Corporation recently won an order for its mine-resistant, ambush-protected all-terrain vehicles (M-ATVs) from the UAE. Since 2009 Oshkosh has received orders for more than 9,500 M-ATVs. Oshkosh Navistar International Corp. has also pursued contracts with foreign armies interested in upgrading their tactical-truck fleets.

    Defense market research organization, Forecast International expects the market for IFVs to be worth more than $19.7 billion, through 2021.

    As part of its modernization program, the United Arab Emirates (UAE) Army has issued an international request for proposals (RFP) for 600, 8x8 wheeled combat vehicles. Prospective contenders include BAE Systems Land Systems South Africa's RG41, the ARTEC Boxer (Germany), the FNSS Savunma Sistemleri Pars (Turkey), the General Dynamics European Land Systems Piranha 5.

    South Africa is planning to procure a new IFV called Project Hoefyster. BAE Systems has offered the RG41 stating that it was more modern and cheaper than the locally-customised version of the Patria AMV currently slated for production as the “Badger”.

    Johan Steyn, director Land Systems SA managing director said “Technology has evolved significantly in the years since Project Hoefyster was first launched".

    “It makes sense then to look at newer solutions such as RG41 now available, which largely meet the technical requirements and could provide cost savings and broader economic benefits for the country".

    China too has switched over to light armed vehicles in many applications where tanks were earlier used. China’s Type 90 armored personnel carrier (APC) and Type 90 mechanized infantry combat vehicle (MICV) represent a new generation of IFVs the country will increasingly use.

    Russia was in talks with French manufacturer Panhard on the purchase of 5001-ton light armored vehicles for its border guards. Russia is scaling down the production of its T-90 tanks for its own forces though it offers a modernized version for export.

    India, which has considerable inventory of Russian T-72 and T-90 tanks, has launched its Future Infantry Combat Vehicle (FICV) project. The objective is to have a highly mobile, lightweight and a lethal vehicle which can match a tank in firepower.

    The Indonesian government owned manufacturing company Pindad said it will begin production of an armored fighting vehicle in 2014.

    Source : Defenseworld.net
    Readmore --> English News : Pindad Will Begin Production Armored Fighting Vehicle in 2014

    ITS : Dengan Nano Komposit, Kapal Perang Lama Bisa Menjadi Stealth

    Surabaya - Teknologi siluman, yang memungkinkan kapal perang tak terdeteksi radar musuh, menjadi salah satu keunggulan penting bagi sistem pertahanan di negara maju. Hanya saja, untuk menciptakan teknologi canggih seperti ini membutuhkan anggaran besar. Tak mengherankan jika teknologi semacam ini seperti menjadi monopoli negara maju.

    Benarkah teknologi seperti itu tak bisa dimiliki oleh Indonesia? Jawaban atas pertanyaan inilah yang ingin dipecahkan oleh Mochammad Zainuri, dosen Fisika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, melalui risetnya sejak 2009 lalu.

    Menurut dia, teknologi siluman sebenarnya bisa dikembangkan dengan dua cara. Pertama, membuat kapal dengan struktur dan desain yang tidak bisa dilacak dengan radar. Artinya, saat terkena radar, bagian dari kapal tersebut akan memantulkannya ke arah lain sehingga membuatnya tak terdeteksi. "Untuk membuat kapal sendiri dengan desain dan struktur canggih, butuh biaya sangat besar. Ini tidak mungkin saya lakukan," kata dia saat ditemui Tempo di rumahnya di Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu 29 Juli 2012. Ia menyadari anggaran untuk alat utama sistem persenjataan Indonesia sangat terbatas.

    Kedua, mengembangkan teknologi "kapal siluman" dengan menyulap kapal-kapal bekas yang dilapisi material nano komposit sehingga bisa menyerap gelombang radar. Konsep inilah yang sedang ditelitinya sejak tiga tahun lalu hingga kini. Pria 48 tahun ini terus mengembangkan teknologi siluman dengan mengembangkan material nano komposit, pelapis yang mampu menyerap gelombang radar.

    Material untuk nano komposit itu diambil dari bahan-bahan alam pasir besi di Pantai Bambang Lumajang, Jawa Timur. Pertimbangannya, pasir di wilayah ternyata mempunyai sifat veromagnetik (pasir besi). Untuk bisa menjadi bahan nano komposit, pasir besi ini terlebih dahulu dipisahkan, diekstraksi, dan direkayasa. Hasilnya lantas digabung dengan partikel listrik yang berbahan dasar PANi (ponianeline) dalam orde nano dan diikat sehingga bisa dilapiskan dalam bahan logam.

    Kenapa dalam ukuran orde nano? Kata Zainuri, semakin kecil ukuran partikel maka akan memperluas permukaan spesifik, sehingga kemampuan menyerap radar semakin besar.

    Setelah diuji coba, kata Zainuri, logam yang telah dilapisi dengan material ini tidak bisa dilacak radar jarak jauh microwafe dengan gelombang 8-12 GHz. Radar jarak jauh jenis ini biasanya digunakan untuk mendeteksi keberadaan kapal. Hasilnya, gelombang radar yang dikirim oleh alat deteksi tidak bisa terpantul kembali alias terserap atau (terabsorsi) oleh material tersebut hingga 99 persen.

    Zainuri menambahkan, prinsip kerja radar adalah mengirim gelombang ke kapal tersebut. Biasanya kapal selalu memantulkan kembali gelombang yang dikirim tersebut, sehingga membuat keberadaannya terbaca di alat pemantau radar. "Jika diberi pelapis logam ini, maka kapal-kapal perang kita tidak akan terdeteksi oleh gelombang radar meski sebelumnya adalah kapal-kapal bekas yang selalu bisa terdeteksi oleh gelombang radar," ujarnya.

    Ia mengungkapkan, ketertarikannya untuk menggunakan pasir besi pesisir pantai Lumajang menjadi bahan dasar pelapis logam anti radar berawal dari karena keterlibatannya dalam survey yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Jawa Timur. Ia diminta untuk meneliti bahan-bahan alternatif yang terkandung pada pasir pantai tersebut.

    Saat itu kata dia, banyak kontraktor perumahan yang langsung datang dan membeli pasir di wilayah setempat. Harga pasirnya juga lebih lebih mahal dari yang lain. "Saya diminta meneliti apa kelebihannya.Dan setelah saya teliti ternyata pasir setempat mempunyai sifat veromagnetik (pasir yang mengandung besi)," kata pria kelahiran Surabaya, 30 Januari 1964 ini.

    Usai melakukan survey itulah muncul ide untuk berkontribusi terhadap ketahanan alutsista Indonesia. Ide semacam ini juga terpicu oleh tantangan Profesor Sirait, promotor Strata III-nya di Universitas Indonesia. "Lue bisa apa untuk bantu pertahanan keamanan Indonesia ?" kata Zainuri, menirukan ucapan promotornya. Zainuri adalah lulusan Strata 3 Metalurgi dan Material Universitas Indonesia tahun 2008. Strata 2-nya juga dari kampus yang sama. Sedangkan Strata 1-nya dari ITS.

    Setelah itu, ia terus berfikir untuk meneliti sesuatu dan memanfaatkan ilmunya. "Awalnya ingin melakukan riset menciptakan peluru ramah lingkungan sehingga selongsongnya tidak terbuang sia-sia. Namun akhirnya menawarkan untuk mengembangkan teknologi anti radar," ujar dia. Dengan bantuan dana dari Departemen Riset dan Teknologi, ia kemudian mengembangkan riset teknologi siluman ini.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> ITS : Dengan Nano Komposit, Kapal Perang Lama Bisa Menjadi Stealth

    TNI AU : Selain Simulasi Di Australia, Pilot Akan Segera Memiliki Flight Simulator Sukhoi

    Makassar - Pesawat tempur terbaik Indonesia kini sedang tampil setiap hari di atas langit Australia. Ya, sebuah Sukhoi Su-27 dan Su-30 teranyar milik Skadron 11 Lanud Hasanuddin Makassar ikut terlibat dalam latihan udara terbesar Australia 2012 bertajuk "Pitch Black".

    Kepala Penerangan Koopsau II, Letkol Sus. Andi Arman mengatakan, keiikutsertaan empat Sukhoi milik Lanud Hasanuddin ini karena mendapat kehormatan diundang untuk mengirimkan pesawatnya dalam berbagai manuver di negara tersebut.

    Ikut serta dalam rombongan itu sebagai peninjau Panglima Koopsau II Marsekal Muda TNI Agus Supriatna. Direncanakan pesawat sukhoi itu akan kembali hingga 13 Agustus mendatang. “Sebab, Pitch Black ini merupakan even bergengsi di Australia,” terang Andi Arman yang dihubungi malam tadi.

    Terpisah, Kadispen AU Marsma Azman Yunus di Jakarta kemarin mengatakan, Pitch Black juga diikuti oleh armada udara Negara sahabat Australia lainnya misalnya, Amertika Serikat, Selandia Baru, Singapura, Thailand dan Prancis.

    Pemberangkatan satu pesawat tempur Sukhoi didukung 55 kru dan teknisi. Kru diangkut dengan dua pesawat angkut Hercules C-130 dari Skuadron Udara 31 Halim Perdanakusuma dan satu Hercules C-130 dari Skuadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh Malang. Dalam latihan Pitch Black, masing-masing peserta akan dibagi menjadi dua armada. Mereka berlatih offensive counter air combat atau peperangan udara tangkal cepat. Dua tim akan dibagi menjadi kelompok merah dan kelompok biru. Merah akan menyerang dan biru berusaha melakukan kontra serangan di atas udara dengan kecepatan super . "Sukhoi kita baru pertama ini ikut latihan skala internasional dengan pesawat-pesawat tempur lain," katanya.

    Selain mengikuti latihan bersama dengan negara lain, TNI AU kini sedang bersiap menerima enam Sukhoi baru dari Rusia. "Secara bertahap idealnya akan ada 16 pesawat, kita sudah punya 10 di Makassar," kata Azman.

    Pilot-pilot Indonesia juga segera memiliki flight simulator Sukhoi yang akan menghemat biaya latihan hingga ratusan juta. "Kita juga diundang angkatan Udara Republik Rakyat China untuk mengirim pilot Sukhoi berlatih di sana," katanya.

    Sumber : Fajar Online
    Readmore --> TNI AU : Selain Simulasi Di Australia, Pilot Akan Segera Memiliki Flight Simulator Sukhoi

    Monday, July 30, 2012 | 4:58 PM | 1 Comments

    Menhan Dan Panglima TNI Diundang Memperingati Hari Pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat China

    Singapura - Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia dan Kedutaan Besar Tiongkok di Singapura secara terpisah menggelar resepsi peringatan 85 tahun pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

    Menteri Pertahanan Indonesia Jenderal Purnomo Yusgiantoro dan Laksamana TNI Agus Soehartono telah mengirim surat ucapan selamat. Resepsi dihadiri 400 undangan, termasuk pejabat tinggi pemerintah dan angkatan bersenjata termasuk Ketua MPR Taufik Kiemas, serta utusan diplomatik berbagai negara di Jakarta, kalangan industri dan perdagangan Indonesia, serta kalangan perusahaan Tiongkok di Indonesia.

    Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Liu Jianchao dalam sambutannya mengatakan, melalui upaya bersama, hubungan kedua negara terus mengalami perkembangan yang memuaskan pada beberapa tahun terakhir. Hubungan militer sebagai bagian penting hubungan kedua negara terus ditingkatkan. Tiongkok ingin meningkatkan komunikasi dan kerja sama militer dengan semua negara di dunia termasuk Indonesia, demi menciptakan iklim keamanan internasional yang damai, stabil, sederajat, saling percaya, dan kooperatif.

    Atase militer Tiongkok dari Kedutaan Besar Tiongkok di Singapura, Yu Haipo dalam sambutannya dalam resepsi peringatan Hari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok memuji perkembangan pesat yang dicapai dalam hubungan militer kedua negara. Ia mengatakan, badan pertahanan dan lapisan tingkat tinggi angkatan bersenjata kedua negara telah memelihara kontak erat. Dialog kebijakan pertahanan kedua negara berlangsung lancar. Kedua negara juga telah mengadakan kerja sama yang memuaskan di bidang akademi militer, pelatihan personel, latihan bersama, kunjungan timbal balik kapal perang, dan bidang-bidang lain.

    Sumber : CRI
    Readmore --> Menhan Dan Panglima TNI Diundang Memperingati Hari Pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat China

    KSAU : Kekuatan Dirgantara Jadi Tulang Punggung

    Yogyakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan kekuatan dirgantara menjadi tulang punggung pembangunan nasional, karena sekarang ini terjadi pergeseran karakter ancaman yakni perang modern yang mengandalkan teknologi.

    "AU sangat berperan dalam perang modern karena perang modern bentuknya mengandalkan teknologi tinggi. Karenanya TNI AU membuat perencanaan pengadaan alutsista sesuai MEF yakni dengan mengisinya dengan pesawat-pesawat terbaik dan radar yang berkualitas canggih," demikian dikatakan KSAU pada upacara peringatan HUT ke-65 Hari Bakti TNI AU di Yogyakarta, Minggu (29/7).

    Disampaikan KSAU bahwa pembangunan kekuatan udara didukung teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) canggih harus tetap menjadi prioritas tanpa menabrak kebijakan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF).

    Lebih lanjut, katanya, kekuatan dirgantara sebagai bagian pertahanan negara banyak memengaruhi aspek kepentingan nasional di kancah global. Itu artinya, menurut KSAU, pengelolaan kedirgantaraan nasional harus dilakukan dengan baik sebagai bagian dari komponen kekuatan nasional di bidang pertahanan militer.

    "Kekuatan dirgantara kita harus dapat membantu upaya komponen kekuatan negara lainnya seperti diplomasi, ekonomi, dan informasi untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam membela kepentingan nasional di kancah global antar negara," ujar KSAU. Dia menyebut, untuk pesawat tempur sekarang ini teknologi tercanggih ada pada pesawat F-22 Raptors milik Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk tidak terlacak radar (stealth). Pesawat dengan kemampuan yang tak jauh beda adalah F-35 yang digunakan beberapa negara sekutu Amerika Serikat.

    "Kita belum ke sana, tapi untuk pesawat antiradar ini kita sekarang sedang membuatnya bekerja sama dengan Korea Selatan, yaitu KFX/IFX. Itu pesawat generasi 4,5," beber Imam.

    Terkait realisasi program MEF tersebut, pada 28 Agustus mendatang akan tiba di tanah air empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano. Empat unit lainnya akan menyusul dalam kurun tiga bulan setelahnya. Pesawat ini akan berhome base di Sakdron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, menggantikan pesawat OV-10F/Bronco.

    Namun, Imam tak mengesampingkam membangun sebuah angkatan udara yang kuat, diperlukan SDM yang handal. "Juga didukung sumber dana atau anggaran yang tidak sedikit dan pengetahuan akan teknologi tinggi dan modernisasi," sebutnya.

    Saat ini, aspek personel dan anggaran serta kebutuhan akan penguasaan teknologi tinggi masih menjadi tatangan tersendiri dalam membangun kekuatan kedirgantaraan, khususnya TNI Angkatan Udara. Tantangan tersebut, kata KSAU, harus dapat dijawab oleh jajaran TNI AU ke depan.

    Lebih lanjut dia menuturkan, TNI AU berharap pa-da realisasi kebijakan MEF melalui rencana strategis lima tahunan. "MEF merupakan jawaban tepat dalam memenuhi kebutuhan modernisasi TNI AU. Melalui pelaksanaannya kita berharap TNI AU yang modernisasi setahap demi setahap mampu kita wujudkan," terang Imam.

    Sumber : Suara Karya
    Readmore --> KSAU : Kekuatan Dirgantara Jadi Tulang Punggung

    Komisi I : Indonesia Dan China Akan Bangun Industri Rudal

    Jakarta - Indonesia telah bekerjasama dengan Republik Rakyat China (RRC) dalam bidang militer. Kerjasama ini nanti bisa berlanjut hingga membangun peralatan perang seperti rudal.

    Hal itu diakui oleh Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin. Kerjasama tersebut kini sudah berjalan. "Secara diplomasi Indonesia Menhan Indonesia dengan Menhan China sudah sepakat untuk latihan-latihan dan meningkatkan kerjasama militer," kata politisi PDI Perjuangan ini.

    Ia menjelaskan kerjasama tersebut sudah berlangsung sejak beberapa pekan lalu. Hanya saja, untuk latihan perang bersama belum dilakukan. Akan tetapi, keinginan untuk latihan perang bersama memang ada. "Beberapa minggu lala misalnya diadakan latihan teknis, menembak bersama, menggunakan senjata bersama. Taktis dulu baru latihan perang," terang purnawirawan TNI ini.

    Kerjasama ini juga diakuinya dalam bentuk persenjataan rudal. Modelnya, kapal perang dibuat oleh Indonesia. Sementara, peralatan perangnya yaitu rudal masih dibuat di RRC.

    Namun, lanjutnya, keinginan ke depannya adalah rudal juga akan dibuat di Indonesia. Dan itu kerjasama militer yang diharapkan. "Dalam kerjasama non teknis, dalam pembangunan program-program pembangunan produksi alutista. Setiap pembelian senjatan diadakan transfer of teknologi (ToT), seperti membeli rudal. Ke depan akan dilanjutkan pembuatan di Indonesia," jelasnya.

    Untuk sumber dana, di awal ini masih menggunakan dana alokasi alutsista yang sudah dianggarkan. Indonesia masih membeli peralatan dari China. Namun, diupayakan untuk diproduksi bersama dan dijual atas nama Indonesia dan China. "Ini merupakan bagian kebutuhan aliutista TNI, sehingga hasilnya dibeli oleh TNI. Bisa jadi pada suatu saat dijual bersama-sama," ucapnya.

    Sumber : WASPADA
    Readmore --> Komisi I : Indonesia Dan China Akan Bangun Industri Rudal

    Friday, July 27, 2012 | 5:05 PM | 0 Comments

    Menhan Terima Wakil Dirjen JSC Rosoboronexport Untuk Membahas Kontrak Sukhoi Dan BMP-3F

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Jumat (27/7) menerima kunjungan Wakil Dirjen JSC Rosoboronexport Mr. Victor M Komardin beserta rombongan di Kantor Kemhan Jakarta. Sebelumnya rombongan JSC Rosoboronexport telah bertemu dengan Ketua Komisi I DPR RI Drs. H. Mahfudz Siddiq, M.Si untuk membahas hal yang sama yaitu tentang kontrak dan proses pembelian Sukhoi dan BMP-4.

    Dikatakan Wakil Dirjen JSC Rosoboronexport berdasarkan kontrak disebutkan bahwa pembelian pesawat Sukhoi menggunakan Letter of Credit yang telah disepakati bersama antara kedua belah pihak. Selain itu juga berdasarkan kontrak pesawat Sukhoi gelombang pertama akan tiba di Indonesia sekitar bulan Desember. Namum dikatakan Wakil Dirjen JSC Rosoboron karena pembuatan pesawat Sukhoi memakan waktu satu tahun lamanya maka kemungkinan dua pesawat Sukhoi pertama akan tiba di Indonesia sekitar bulan Mei. Selanjutnya dua Sukhoi berikutnya akan tiba sekitar bulan April dan terakhir bulan Juli.

    Selain itu pertemuan juga membahas mengenai draft kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) antar dua Kementerian Pertahanan yang akan ditandatangani kedua Menhan. Diharapkan draft kerjasama akan ditandatangani kedua Menhan di Rusia dalam waktu mendatang.

    Turut hadir mendampingi Menhan Kabadan Ranahan Kemhan Mayjen TNI R. Ediwan Prabowo, S.Ip dan Kapuskom Publik Brigjen TNI Hartind Asrin. Sedangkan wakil Dirjen JSC Rosoboronexport didampingi Dubes Rusia untuk Indonesia Alexander A Ivanov.

    Usai bertemu dengan Menhan, Wakil Dirjen JSC Rosoboron Export Rusia ini juga menemui Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin di ruang Wamenhan. Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang perkembangan pengadaan pesawat tempur Sukhoi untuk TNI Angkatan Udara dan Tank BMP-3F untuk mendukung alutsista TNI AL. Selain itu maksud kunjungan dari delegasi Rosoboron Export ini juga untuk membantu mempercepat prosedur keputusan yang belum selesai dari pengadaan pesawat Sukhoi yang rencananya akan datang ke Indonesia pada bulan Desember nanti.

    Sementara itu untuk pengadaan Tank BMP-3F juga diupayakan akan dipercepat dengan menggunakan sistem State Kredit dimana prosedurnya harus memerlukan persetujuan dari beberapa pihak, seperti Menteri Pertahanan, Kementerian Keuangan dan Pihak Parlemen. Disamping itu Wakil Dirjen JSC Rosoboron Export sangat berharap peluang kerjasama pengadaan alutsista ini masih terus berlangsung dimasa depan.

    Masih dalam rangkaian kunjungan ke Kementerian Pertahanan Delegasi JSC Rosoboron Export tersebut meneruskan kunjungannya ke Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemhan, Marsdya TNI Eris Herryanto di Kantor Kerjanya.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Menhan Terima Wakil Dirjen JSC Rosoboronexport Untuk Membahas Kontrak Sukhoi Dan BMP-3F

    Kemhan : Proses Pembelian Tank Leopard Sudah Selesai

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengklaim bahwa proses pembelian Main Batle Tank (MBT) Leopard dari Jerman sebanyak 100 unit telah selesai, bahkan pada Oktober 2012 nanti, sebanyak 15 unit tank sudah tiba di Indonesia.

    "Pada Oktober 2012, bertepatan HUT TNI, Anda sudah akan melihat 15 unit Tank Leopard," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin menanggapi kekhawatiran DPR akan terganggunya pembelian tank Leopard akibat penolakan sebagian anggota Parlemen Jerman, di Jakarta, Jumat (27/7).

    Menurut dia, tank berbobot 60 ton itu akan terus berdatangan dengan total 100 unit hingga 2014 mendatang. Penolakan sebagian anggota parlemen, terutama dari partai oposisi, tidak mengganggu proses pembelian tank tersebut.

    "Penolakan itu memang ada, namun hanya dalam diskusi kecil. Tapi, tidak membuat pembelian tank menjadi batal," jelas Hartind.

    Sebanyak 15 tank yang akan di tahap pertama rencananya akan ditempatkan di wilayah Jawa. Namun, tak menutup kemungkinan tank yang datang kemudian akan dikirim ke daerah-daerah perbatasan.

    "Kita sedang mempersiapkan kapal untuk mengangkutnya jika memang akan ditempatkan di sana," ujarnya.

    Beberapa waktu lalu, laman "Spiegel Online" konsisten memberitakan bahwa anggota parlemen senior dari Partai Hijau Katja Keul menyatakan, Jerman tidak bisa menjual tank Leopard pada Indonesia mengingat masih banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi.

    Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin juga pernah mengatakan penolakan parlemen Jerman itu harus disikapi hati-hati oleh pemerintah Indonesia maupun Jerman.



    "Saat ini DPR dalam posisi menunggu sikap pemerintah kedua negara," katanya.

    Sumber : SUARA PEMBARUAN
    Readmore --> Kemhan : Proses Pembelian Tank Leopard Sudah Selesai

    Kemhan : Kekuatan Persenjataan Indonesia Turun ke Peringkat 18

    Jakarta - Saat ini, posisi kekuatan angkatan bersenjata atau kekuatan militer Indonesia berada di posisi 18 di dunia.

    Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Hartind Asrin peringkat ini mengalami penurunan.

    "Sebelumnya di peringkat 16. Ini turun karena ada alutsista yang tidak efektif," ujar Brigjen TNI Hartind kepada wartawan usai acara Silaturahmi Kapuskom Publik TNI dengan Wartawan di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta Pusat, Kamis (26/7/2012). Menurut Brigjen TNI Hartind, yang menentukan naik-turunnya peringkat kekuatan militer suatu negara dilihat dari teknologi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki negara tersebut.

    Dengan adanya penurunan tersebut, maka menurut Brigjen TNI Hartind, perlu adanya penambahan teknologi alutsista dan memodernisasi teknologi alutsista yang telah lama. Penambahan tersebut salah satunya memperkuat alutsista di tubuh Angkatan Darat (AD). "Alutsista bergerak itu memang menjadi prioritas. kalau di Angkatan Darat itu mulai dari MBT (Main Battle Tank) Leopard," ujar Brigjen TNI Hartind.

    Dengan pembelian MBT dari Jerman ini, Brigjen TNI Hartind berharap dapat meningkatkan kekuatan TNI AD dalam menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Sebab, semakin kuatnya alutsista, maka semakin kuat pula deteren power atau kekuatan penangkal suatu negara.

    "Nah kenapa malah sekarang banyak yang mempersoalkan MBT Leopard itu? Padahal ini bisa membuat deteren power yang membuat lawan urungkan niatnya," ujar Brigjen TNI Hartind.

    Selain Pembelian MBT Leopard asal Jerman, Brigjen TNI Hartind juga mengungkapkan saat ini pihaknya tengah menguatkan kendaraan taktis seperti Anoa yang kini jumlahnya mencapai 165 unit. Ke depannya, Kemenhan akan terus memperkuat sampai dua brigade. Penguatan teknologi alutsista tersebut tidak hanya di tubuh TNI AD saja, namun juga di TNI AL dan TNI AU. Menurut Brigjen TNI Hartind, penguatan teknologi alutsista harus dilakukan secara seimbang.

    Sumber : Tribunnews
    Readmore --> Kemhan : Kekuatan Persenjataan Indonesia Turun ke Peringkat 18

    Kemhan : Indonesia Tambah Pasukan Elit di Perbatasan

    Jakarta - Pemerintah Indonesia mengirim pasukan elit tambahan untuk menjaga wilayah di perbatasan negara tetangga. Tiga Batalyon Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) dan Marinir telah dikirim ke wilayah perbatasan sejak pertengahan tahun ini.

    Hal itu dungkapkan, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Hartind Asrin saat ditemui di Gedung Kemenhan, Jakarta, Kamis, 26 Juli 2012.

    "Kami sudah mengubah strategi di perbatasan. Sekarang kita kirim pasukan pemukul (Kostrad dan Marinir) sejak pertengahan tahun ini. Pasukan elit kita masuk ke sana," kata Hartind.

    Ditambahkan Hartind, wilayah perbatasan antar negara tetangga, selama ini memang kerap menjadi wilayah yang rawan konflik. Untuk itulah, maka terjadi penambahan pengiriman pasukan elit ke daerah tersebut.

    Kostrad diperuntukkan untuk menjaga wilayah perbatasan darat, sedangkan Marinir berjaga wilayah perbatasan laut. "Mereka itu kan memang dilatih untuk perang, makanya kita taruh di perbatasan," ucapnya.

    Di samping menjelaskan soal penambahan pasukan elit, Hartind juga mengungkapkan, kekuatan militer Indonesia melalui keberadaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutista) berada dalam 20 besar dunia. "Kalau kekuatan angkatan bersenjata dalam totalitasnya kita itu ada di peringkat 18 dunia," ujarnya.

    Meski begitu, Indonesia mengalami penurunan peringkat yang sebelumnya berada di peringkat 16 dunia. "Turun karena ada Alutsista yang tidak efektif. Tapi untuk kawasan Asia Tenggara masih terkuat, nomor satu," ujar dia.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> Kemhan : Indonesia Tambah Pasukan Elit di Perbatasan

    Pengamat : Apa Kabar Industri Pesawat Terbang Indonesia?

    Jakarta - Dalam kesempatan kunjungan resmi ke Korea Selatan sebagai kepala staf Angkatan Udara Republik Indonesia,salah satu acara formal adalah mengunjungi lokasi strategis Angkatan Udara Korea di luar Kota Seoul.

    Perjalanan ke tempat tersebut dilakukan menggunakan pesawat helikopter yang berpangkalan di salah satu pangkalan udara yang berdampingan dengan Air Force Base, unit dari Angkatan Udara Amerika Serikat. Selesai acara resmi, rombongan kami saat itu tertunda lebih kurang satu jam dalam jadwal perjalanan kembali ke Seoul karena cuaca yang berubah buruk. Seorang kolonel menghadap saya menjelaskan bahwa perjalanan kembali ke Seoul tidak dapat dilaksanakan menggunakan helikopter atau pesawat rotary wing yang tadi.

    Disebutkan alasannya adalah pesawat tersebut tidak bisa terbang tinggi berhubung dengan perkembangan keadaan cuaca yang memburuk. Markas Besar di Seoul memerintahkan untuk mengirim sebuah pesawat fixed wing VIP menjemput saya dan rombongan. Setelah pesawat siap, kami pun segera bergegas menuju tempat parkir pesawat. Agak sedikit kaget karena ternyata pesawat fixed wing VIP yang disiapkan tersebut ternyata dari jenis CN-235.

    Selesai melaksanakan penghormatan berjajar sesuai dengan prosedur pemberangkatan VIP,sang Captain Pilot dengan tersenyum lebar mendekat ke saya dengan mengatakan penuh bangga bahwa saya akan diantar kembali ke Seoul dengan pesawat fixed wing terbaik yang tersedia di Korea Selatan dan itu adalah pesawat terbang “asli” buatan negara anda! Terharu dalam hati, saya tersenyum sejenak dan mulai meneliti interior CN-235 yang sama sekali belum pernah saya saksikan sebelumnya.

    Tidak bisa saya sembunyikan kekaguman terhadap desain interior CN-235 VIP Angkatan Udara Korea Selatan ini.Konon,belakangan setelah itu, saya memperoleh informasi bahwa desain dan perlengkapan VIP interior CN-235 tersebut adalah produk dari pesanan khusus Pemerintah Korea Selatan kepada pihak PTDI.

    Terus terang,sangat mewah untuk ukuran Indonesia dan yang istimewa adalah sangat bersih,termasuk lantainya.Yang sangat mengharukan saya adalah melihat bagaimana para awak pesawat bertugas di pesawat itu dengan penuh kebanggaan. Bertugas menerbangkan VIP dengan pesawat khusus buatan Bandung!

    Di pertengahan masa jabatan saya lainnya, Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) berkunjung tidak resmi ke Surabaya dengan transit semalam di Jakarta. Saya datang menemuinya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.Ada rasa ingin tahu,apa gerangan yang menjadi acara penting Panglima ke Surabaya. Ternyata,Panglima TUDM beserta satu set kru lainnya hendak berlatih simulator CN-235 di Surabaya.

    Saya bertanya kepada Panglima, Jenderal Dato’ Suleiman, jam berapa tiba dan menggunakan apa? Surprise sekali saya memperoleh jawaban ternyata Panglima mengemudikan sendiri pesawat CN-235 TUDM VIP dengan menyertakan dua co-pilot yang akan berlatih simulator di Surabaya. Jenderal Dato’ Suleiman menceritakan kepada saya betapa dia sangat menikmati terbang dengan CN-235. Saya tidak punya rating/ kemampuan menerbangkan CN-235 karena sebagian besar perjalanan terbang saya adalah menerbangkan C-130 Hercules.

    Secara kebetulan, Jenderal Dato’ Suleiman juga mempunyai rating pesawat Hercules. Dengan demikian saya dapat mendiskusikannya agak lebih teknis apa yang dimaksudkannya “nikmat” menerbangkan CN-235 dengan membandingkannya dengan Hercules. Diskusi berakhir dengan pernyataan Panglima TUDM yang sangat saya percaya jauh dari basa-basi bahwa secara teknis, menerbangkan CN-235 tidaklah kalah menyenangkan dari menerbangkan Hercules.

    Dia menutup dengan hal yang sangat mengharukan hati saya bahwa seluruh warga TUDM sangat berbangga hati memiliki dan mengoperasikan pesawat CN-235 produksi dari bangsa serumpun! Dari dua uraian ilustrasi tadi, kiranya telah lebih dari cukup untuk mewakili refleksi dari beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang juga menggunakan pesawat buatan anak bangsa CN-235.

    Pesawat tersebut telah membuktikan dirinya, betapa kelas dari hasil jerih payah putra sang Ibu Pertiwi sudah memperoleh pengakuan de facto di panggung global. Sangat disayangkan, kini justru di negeri sendiri kita mulai sulit untuk dapat menyaksikan CN-235 membelah angkasa Nusantara, menjaga persada. Sangat berbeda kehadiran CN- 235 bila dibandingkan dengan pesawat Casa-212 yang juga keluar dari kandungan PTDI.

    CN-235 dari sejak awal memang telah lahir dari kerja keras dan olah pikir anak-anak kebanggaan kita.Lahir dari pemikiran orisinal sejak desain dasar pesawatnya, bukan sekadar kerja yang mencampur “asem dengan beling” alias assembling alias “jahit obras” belaka. Tidak berlebihan kiranya bila banyak pihak yang masih saja menginginkan produk kebanggaan seperti ini dapat diteruskan.

    Diteruskan yang memang pasti membutuhkan tekad kuat yang harus dilandasi dengan rasa bangga atas karya sendiri. Yang memang diperlukan adalah spirit dan daya juang untuk bertempur dalam kancah persaingan internasional dibandingkan dengan hanya mencari kemudahan melalui kerja ringan memoles saja karya negara lain untuk diluncurkan melalui jalur assembly-lineaircraft manufacturer yang bernama PTDI.

    Mudah-mudahan kita ini semua tidak mudah untuk selalu tergoda dengan “jalanpintas” yang selalu saja merangsang alias “menggiurkan” itu. Marilah kita semua mempertebal iman di dalam bulan Ramadan yang suci ini. Selamat menjalankan ibadah puasa!

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Pengamat : Apa Kabar Industri Pesawat Terbang Indonesia?

    Thursday, July 26, 2012 | 4:50 PM | 0 Comments

    Berita Foto : 'Pitch Black' sees enemy battle played out over Darwin

    Darwin - 'Pitch Black' is the largest air force exercise in the Southern Hemisphere, and is held bi-annually in Top End skies.

    This year, a new addition to the multi-lateral exercise has come on board: Indonesia. The country's involvement signals growing cooperation and is being tooted as a historic steo in bi-lateral relations.



    Indonesia expressed suspicion over Australia's move to host 2500 US marines in Darwin when US President Barack Obama made the announcement late last year. Since then, Darwin has hosted Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono for high level talks with the Prime Minister Julia Gillard.

    During the Indonesian President's visit, Australia gifted Indonesia a decommissioned Hercules aircraft, to be used in disaster relief around the region.

    The gift was coupled with a Memorandum of Understanding, aimed at boosting regional cooperation between the two nations.



    RAAF Darwin Group Captain David Thiele said Exercise Pitch Black posed two hypothetical forces against each other, with the 'bad guys' based at Tindil, Katherine.

    He said the airspace between Darwin and Katherine was one of the best in the world. "Simply the size of it - if you were to compare it to air spaces such as Singapore, you'll see they have a very small operating area. This is an opportunity to get out and test their tactics, test their procedures," Captain Thiele said.



    Noise levels are expected to disturb some residents in Darwin; a fact Captain Thiele says can't be avoided.

    "We do acknowledge Pitch Black brings with it an increased level of noise...we do minimise night activity until later in the exercise. Aircraft will be operating in their normal war time profiles," he said.



    "This is an outstanding opportunity to see a number of very professional nations come together for a major exercise."

    RAAF Darwin will host an open Day on August 11 for the public to tour the base and aircraft involved in Pitch Black.

    A flying display is planned for August 9 over Mindil Markets.

    Source : ABC.NET.AU
    Readmore --> Berita Foto : 'Pitch Black' sees enemy battle played out over Darwin

    Pengamat : Kemandirian Alutsista Untuk Menjadi Negara Tangguh

    Jakarta - Sebab,penguasaan teknologi menjamin adanya persenjataan yang tangguh. Salah satu aspek penting pengembangan teknologi adalah untuk mendukung kemampuan pertahanan negara.

    Dalam sejarah peperangan yang pernah terjadi, kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi sangat berpengaruh pada kemenangan. Sebab, penguasaan teknologi menjamin adanya persenjataan yang tangguh. Di Indonesia, pembangunan industri pertahanan telah dimulai sejak diterbitkannya Keputusan Presiden No 59/1983.Keppres itu membidani lahirnya sejumlah industri pertahanan seperti PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia/ PT DI) untuk bidang kedirgantaraan, PT PAL (untuk maritim), PT PINDAD (persenjataan dan amunisi), PT DAHANA (bahan peledak), PT LEN (elektronika dan komunikasi).

    Industri-industri itu mulai tenggalam setelah dihantam badai krisis pada 1998. Sekarang, pengembangan kemampuan teknologi dalam mendukung pertahanan kembali digencarkan. Guna mendukung langkah ini, dibentuklah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang dipimpin Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan beranggotakan sejumlah menteri, termasuk Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta,Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo.

    Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyebut, ada tiga klaster dalam produksi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Yakni, yang bersifat untuk meningkatkan produksi,pelayanan,dan perlindungan. “Jadi, kita harus terus mengembangkan iptek untuk mendukung pertahanan,” katanya di kantor Bapeten,belum lama ini. Di antara yang sedang dikembangkan untuk pertahanan adalah pembuatan roket yang dinamai RHAN. Roket ini sudah beberapa kali diujicoba dan berhasil.Namun,daya jangkau masih belum memenuhi ekspektasi. “Kita ingin di atas tiga digit,”ujar Gusti.

    Di Indonesia, ada banyak Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP), serta badan usaha milik swasta yang aktivitas usahanya berkaitan erat dengan bidang pertahanan.Di deretan pelat merah ada nama-nama seperti PT Dirgantara Indonesia,PT Pindad,PT PAL Indonesia.Dikalangan swasta ada beberapa industri galangan kapal seperti PT Palindo.

    Kemampuan PT DI dalam memproduksi pesawat tidak perlu diragukan lagi.Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI Dita Ardoni Safri menyebutkan, beberapa pesawat yang sudah berhasil dibuat adalah CN 235,dan NC 212-200. Untuk pesawat CN 235 sekarang ini di antaranya dipakai oleh TNI Angkatan Udara sebagai pesawat angkut ringan, juga oleh TNI Angkatan Laut.Beberapa negara asing juga tertarik menggunakan pesawat ini,seperti Korea Selatan.

    Selain pesawat, PT DI juga berhasil membuat roket FFAR (Fin Folding Aeriaal Rocket) yang dipakai untuk jet tempur TNI. Roket ini sebagian besar komponennya berasal dari dalam negeri. PT DI mampu memproduksi roket ini hingga ribuan unit per tahun.Roket jenis FFAR memiliki tiga tipe berdasarkan diameter serta jarak luncur.Yakni, tipe MK 60 dengan diameter 100 mm,tipe MK4 dan MK40 berdiameter 67 mm.

    Roket ini pertama kali diproduksi dengan lisensi produsen roket Force de Zeeburg,Belgia. PT DI juga membuat torpedo berdiameter 122 milimeter yang memiliki jangkauan area hingga 40 km.Di luar teknologi yang sudah dikuasai,PT DI juga terlibat dalam berbagai pembuatan pesawat terbang selaku penyuplai komponen.Di antaranya bekerja sama dengan Airbus Military dan Boeing. Produk-produk Pindad juga sudah menembus pasar ekspor.

    Bahkan untuk amunisi,jumlah permintaan melebihi kemampuan produksi.Sehingga manajemen berupaya untuk meningkatkan kapasitas dengan mendatangkan mesin baru.PT Pindad juga berhasil menciptakan kendaraan tempur angkut personel Panser Anoa 6x6. Penciptaan kendaraan ini dimulai ketika operasi militer di Aceh. Kala itu, banyak pasukan yang cidera karena menaiki kendaraan yang tidak memadai untuk operasi. Sehingga, Pindad dipesan untuk membuat kendaraan tempur angkut personel yang lebih aman dan lahirlah Anoa 6x6.

    Kendaraan ini juga digunakan prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian dunia di bawah kendali PBB. Bahkan, spesisifikasi Anoa 6x6 sudah memenuhi kualifikasi PBB. Beberapa negara asing pun berminat untuk membeli,seperti Malaysia. Saat ini,PT Pindad membuat prototipe kedua kendaraan perintis ( Rantis) 4x4 bekerja sama dengan TNI dan industri lain.PT Pindad sebagai leading sector industri termasuk pelaksana integrator desain,pengerjaan break system, steering system, serta senjata.

    Sedangkan penyedia baja oleh PT Krakatau Steel dan penyedia power train, powerpack, electricalAC,engine,wich,driver set,dan pengecatan body assembling oleh PT Autocar Industri Komponen. Dalam bidang maritim,Indonesia juga sudah bisa membuat kapal perang oleh PT PAL maupun PT Palindo. Di antara kapal perang yang sudah diproduksi adalah landing platform dock (LPD) yang diproduksi setelah proses alih teknologi dalam pembelian LPD dari Korea Selatan.

    Selain itu juga berhasil diproduksi kapal kawal cepat rudal (KCR) berbagai ukuran 40 meter dan 60 meter.“Ada roadmap pembangunan kapal perang. Ada tahapan-tahapannya,”kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Pengamat : Kemandirian Alutsista Untuk Menjadi Negara Tangguh

    Kemhan : Aturan Wajib Militer Bisa Disahkan Tahun Ini

    Jakarta - Kementerian Pertahanan menilai Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan Pertahanan Negara amat mendesak untuk segera disahkan tahun ini. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, menilai peraturan itu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nasionalisme masyarakat dan keamanan negara. “Dibandingkan Malaysia dan Singapura, kita sangat ketinggalan," kata Hartind, Ahad 22 Juli 2012.

    RUU itu sebenarnya sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) sejak 2004, bahkan masuk kategori prioritas pada 2010. Namun hingga kini RUU belum juga selesai dan pembahasannya masih tertahan di Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat.

    Dalam RUU Komponen Cadangan Pertahanan tersebut, warga sipil dipersiapkan untuk mendapat pelatihan militer. Selanjutnya, sewaktu-waktu mereka dapat dikerahkan dan dimobilisasi untuk memperbesar serta memperkuat kekuatan dan kemampuan Tentara Nasional Indonesia.

    Menurut Hartind, program serupa sudah dilakukan di Malaysia sejak 2003, dengan nama Program Latihan Khidmat Negara (PLKN). Setiap tahun, 18 ribu warga Malaysia menjalani program tersebut. "(Program) itu sangat efektif meningkatkan keamanan masyarakat," ujar dia sembari mencontohkan, peningkatan kemampuan warga untuk membela diri jika terjadi kejahatan di sekitarnya.

    Adapun beberapa materi yang akan diberikan dalam pelatihan selama sebulan kepada komponen cadangan adalah kemampuan dasar militer, seperti baris-berbaris dan bela diri. Selain itu, diberikan materi nasionalisme, seperti Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Sumpah Pemuda.

    Saat ini DPR dan Kementerian Pertahanan sedang membicarakan hal-hal teknis dalam RUU agar tujuan pembentukan komponen cadangan tercapai dengan baik. “Contohnya, siapa warga yang diwajibkan dan dikecualikan mengikuti pelatihan. Misalnya, kalau pengangguran tidak boleh ikut pelatihan karena khawatir akan disalahgunakan," tutur Hartind.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Kemhan : Aturan Wajib Militer Bisa Disahkan Tahun Ini

    Pengamat : ASEAN Terpecah Belah Menghadapi China

    Jakarta - Harapan Filipina dalam pertemuan ke-45 Menteri Luar Negeri ASEAN, di Phnom Penh, Kamboja, Juli 2012, agar disepakatinya Kode Tata Berperilaku di Laut China, kandas. Kandasnya kesepakatan tersebut diakibatkan di antara anggota ASEAN sendiri, khususnya Kamboja dan Filipina, yang tak menemukan titik temu.

    Menteri Luar Negeri Kamboja, Hor Namhong, dalam kesempatan itu menuturkan bahwa pertemuan ini bukan untuk membahas sengketa yang terjadi di Laut China Selatan. Bahkan lebih tegas, Hor mengatakan masalah sengketa di Laut China Selatan tidak perlu dibahas.

    Filipina ngotot agar masalah di Laut China Selatan bisa diselesaikan oleh negara ASEAN karena negara itu butuh dukungan. Bila Filipina menghadapi China secara sendiri, secara militer dan hukum internasional, akan kewalahan. Untuk itu Filipina tak lelah-lelahnya membawa masalah ini ke dunia internasional.

    Pengklaiman secara sepihak wilayah Laut China Selatan oleh China membuat ketegangan tidak hanya antara China dan Filipina namun juga dengan Vietnam, Brunai, Malaysia, dan Taiwan. Diantara negara itu Filipina dan Vietnam-lah yang paling seru memperebutkan wilayah Laut China Selatan. Negara-negara itu memperebutkan wilayah itu pasti dilandasi alasan bahwa ada sumber minyak yang menggiurkan.

    Ketegangan antara Filipina dan Vietnam dengan China sudah pada tingkatan aksi militer. Dalam kondisi yang merasa lemah, membuat Filipina meminta bantuan kepada Amerika Serikat. Undangan Filipina kepada Amerika Serikat untuk masuk dalam konflik militer ini tentu disambut dengan senang hati oleh Amerika Serikat. Undangan Filipina ini dianggap oleh Amerika Serikat sebagai sarana untuk menghantam China sekaligus menacapkan pengaruh Amerika Serikat di Asia Timur dan Asia Tenggara.

    Untuk menghadapi China, Filipina tidak hanya menggandeng Amerika Serikat, namun Filipina juga memaki-maki Kamboja sebagai antek China di Asia Tenggara. Filipina menuduh Kamboja yang menolak disepakatinya Kode Tata Berperilaku di Laut China Selatan karena adanya tekanan China.

    Mengapa pertemuan itu gagal membahas masalah di Laut China Selatan meski urusan itu melibatkan banyak negara ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, Brunai, dan Malaysia? Alasannya adalah. Pertama, ketergantungan negara-negara ASEAN akan bantuan China. Sebagaimana kita ketahui China telah banyak memberi bantuan dan investasinya di negara-negara ASEAN, terutama di Myanmar, Kamboja, dan Indonesia. Bantuan yang diberikan ini tentu menjadi beban bagi banyak negara ASEAN bila hendak menentang China. Misalnya saja, ketika pemerintahan Junta Militer Myanmar diembargo ekonomi oleh PBB dan Uni Eropa, namun nafas ekonomi Myanmar masih menghembus karena adanya bantuan ekonomi dan perdagangan dengan China.

    Dukungan kepada Myanmar tidak hanya masalah ekonomi dan perdagangan, namun juga penentangan-penentangan China kepada PBB dan Uni Eropa atas sanksi-sanksi yang hendak ditimpakan kepada Myanmar. Hal yang demikian membuat Myanmar tidak bersuara banyak dalam masalah Laut China Selatan.

    Pun demikian dengan Indonesia, kita lihat banyak sekali bantuan ekonomi, pendidikan, teknis infrastruktur, transportasi, perdagangan, dan lain sebagainya yang diberikan China. Bantuan ini membuat kenyang Indonesia, sehingga kalau kenyang otomatis tidak membuat Indonesia kritis kepada China.

    Kedua, bila konflik militer terjadi antara ASEAN dan China, pasti ASEAN tidak berdaya menghadapi gempuran militer China. Mengapa demikian? Sebab China tidak dipusingkan dengan masalah alutsista yang dimiliki. Selama ini China mampu memproduksi alutsistanya sendiri dengan canggih, modern, dan tangguh. Sebagai negara besar, penguasaan teknologi China sangat maju, buktinya China sudah mampu mengirim taikonot (astronot) ke luar anagkasa.

    Sementara negara-negara ASEAN sendiri saat ini banyak dipusingkan dengan masalah alutsista yang dimiliki. Kita tahu bagaimana alutsista Indonesia? Tidak perlu dikupas di sini, sebab para pembaca sudah bisa menyimpulkan sendiri. Dalam kondisi yang demikian, maka Indonesia sebagai negara yang berpengaruh di ASEAN selalu mengatakan, “Dalam masalah Laut China Selatan harus dihindarkan penyelesaian secara militer.” Hal demikian sebenarnya menunjukan lemahnya kekuatan militer yang dimiliki Indonesia.

    Ketiga, komunitas ASEAN berbeda dengan komunitas Uni Eropa dan Liga Arab. Uni Eropa adalah kumpulan negara-negara di mana penduduknya mayoritas beragama Kristen dan Katolik sehingga bila negara yang ingin menjadi anggota Uni Eropa namun mayoritas penduduknya bukan Kristen atau Katolik maka keinginan negara itu akan dipersulit. Lihat saja bagaimana susahnya Turki masuk ke Uni Eropa.

    Demikian pula Liga Arab, organisasi ini adalah kumpulan negara yang seluruh penduduknya berbahasa Arab, beretnis Arab, dan beragama Islam. Dari dasar-dasar itulah maka mereka sangat solidaritas ke Palestina, di mana orang Palestina adalah etnis Arab, berbahasa Arab, dan mayoritas beragama Islam. Solidaritas inilah membuat Liga Arab menjadikan Israel sebagai musuh bersama.

    Sementara itu ASEAN adalah lain. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini multietnik, bahasa, dan ras. Tidak adanya homogenitas inilah yang tidak bisa menjadikan ASEAN sebagai komunitas yang senasib dan seperjuangan. Sehingga China oleh ASEAN tidak seperti Uni Eropa memandang Turki atau Liga Arab memandang Israel.

    Ketiga hal di ataslah yang membuat ASEAN serba bingung menghadapi China. Bila tidak dilawan, China akan semakin sewenang-wenang dan agresif di kawasan Laut China Selatan, namun bila dilawan, kekuatan apa yang dimiliki negara-negara ASEAN.

    Dengan demikian, konflik di Laut China Selatan ini akan berlangsung lama dan terus memanas. Jalan pendek yang ditempuh Filipina adalah mengundang Amerika Serikat untuk berpartisipasi secara aktif untuk menyelesaikan masalah di Laut China Selatan. Karena ASEAN tidak mampu menyelesaikan masalah di Laut China Selatan maka ASEAN tidak bisa melarang kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Padahal negara ASEAN menyepakati bahwa kawasan Asia Tenggara adalah zona damai.

    Ketidakmampuan ASEAN dalam menyelesaikan masalah kawasan akan membuat organisasi ini tidak bermanfaat bagi anggotanya. Dan dalam masalah ini menunjukan bahwa organisasi ASEAN secara ekonomi rapuh dan secara militer lemah. Akhirnya kawasan Asia Tenggara akan selalu menjadi wilayah konflik, baik ekonomi dan militer, yang melibatkan dan menguntungkan pihak-pihak lain.

    Sumber : OKEZONE
    Readmore --> Pengamat : ASEAN Terpecah Belah Menghadapi China

    Indonesia Dan China Adakan Adakan 1st Defense Industry Cooperation Meeting

    Jakarta - Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan mengadakan 1st Defense Industry Cooperation Meeting RI – China, Rabu (25/7), di Kantor Kemhan, Jakarta.

    Pertemuan dipimpin oleh Dirjen Pothan Kemhan Dr Ir Pos M Hutabarat MA, PhD dari pihak Kemhan RI, sedangkan Delegasi China dipimpin oleh Deputy Director General Department of Military Trade and Foreign Affair, SASTIND, Liu Yunfeng. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dir Tekind Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Ir Agus Suyarso, Kapus Ada Baranahan Kemhan Marsma TNI Asep Sumarrudin MSc dan perwakilan dari Mabes TNI, Angkatan dan BUMN Industri Pertahanan.

    Saat membuka kegiatan tersebut Dirjen Pothan menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan MoU dan LoI antara Kemhan RI dan SASTIND China pada tanggal 22 Maret 2011.

    Kerjasama industri dan logistik pertahanan yang ingin dikembangkan antara lain ; pengadaan peralatan militer di bidang-bidang tertentu yang disepakati antara kedua Pemerintah dan transfer teknologi peralatan militer tertentu yang tidak terbatas pada perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.

    Selain itu, ingin dijalin pula kerjasama dalam produksi bersama peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu dan pemasaran bersama peralatan militer tertentu di dalam dan di luar negara masing-masing.

    Dalam pertemuan RI-China yang membahas mengenai kerjasama industri pertahanan ini diharapkan dapat meningkatkan kerjasama bilateral kedua negara khususnya di bidang industri dan logistik pertahanan yang lebih berimbang dalam hal alih teknologi dan nilai ekonominya.

    Dirjen Pothan melanjutkan, terjalinnya kerjasama industri pertahanan dengan China diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemberdayaan segenap kemampuan industri nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan Alutsista. Beberapa jenis Alutsista yang dibicarakan antara lain ; C705 Antiship Missile dan CMS KCR 40C.

    Delegasi China yang berjumlah 13 orang tersebut selain melakukan pertemuan dengan pihak Kemhan juga mengunjungi industri pertahanan seperti PT Pindad, PT DI, dan PT LEN di Bandung. Delegasi ini merupakan perwakilan dari SASTIND (State Administration for Science, Technology and Industry for National Defence) yaitu suatu otoritas sipil terkemuka di China yang bertanggung jawab langsung kepada Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) .

    Tanggung jawab utama mereka diantaranya adalah menyusun pedoman, kebijakan, hukum dan peraturan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan industri pertahanan nasional.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Indonesia Dan China Adakan Adakan 1st Defense Industry Cooperation Meeting

    DSI : Survey Masyarakat Menyatakan Anggaran Pertahanan Perlu Ditambahkan

    Jakarta – Berdasarkan perkembangan yang terjadi terhadap isu-isu di bidang pertahanan banyak masyarakat menilai sistem pertahanan bangsa ini sama saja dan perlu di adakan penambahan anggaran di bidang pertahanan.

    Hal ini terbukti melalui hasil survey selama tiga bulanan yang dikeluarkan oleh Bapak Silmy Karim, yang didukung oleh Danareksa Research Institute terhadap seluruh masyarakat, Rabu (25/7), di Jakarta. Hasil yang terakhir dikeluarkan tersebut, merupakan survey yang dilakukan pada Bulan Mei tahun 2012 yang menyangkut issue-issue pertahanan.

    Dari hasil survey terhadap masyarakat tersebut, ketika berbicara tentang system pertahanan negara sekitar 23,4% dari masyarakat Indonesia menilai baik, 55,9% menilai sama saja dan 20,5% menilai buruk.

    Sedangkan dari sisi penyediaan anggaran untuk mendukung berjalannya pertahanan di wilayah NKRI yang selama ini dilaksanakan, sebanyak 66,5% masyarakat Indonesia menyatakan masih perlu adanya penambahan anggaran pertahanan, sementara 28,9% menyatakan tidak perlu dan 4,5% lainnya tidak tahu.

    Dari hasil survey terakhir bila dibandingkan dengan survey bulan Febuari 2012 sebelumnya terdapat data hasilnya sekitar 60,3% masyarakat menyatakan pemerintah perlu meningkatkan anggaran pertahanannya. Kemudian 34,0% menyatakan tidak perlu dan 5,5% menyatakan tidak tahu. Berdasarkan hasil tersebut maka bisa diambil kesimpulan bahwa masyarakat mendukung penuh peningkatan anggaran Kementerian Pertahanan.

    Dari penyampaian hasil survey ini akan dapat menambah keyakinan dalam mengambil kebijakan dan juga dapat menjadi dasar dalam mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini kepada pemerintah. Rencananya Silmy Karim akan merencanakan kembali untuk melakukan survey kaitannya dengan issue pertahanan setiap tiga bulan sekali.

    Sumber : DMC
    Readmore --> DSI : Survey Masyarakat Menyatakan Anggaran Pertahanan Perlu Ditambahkan

    Untuk Pertama Kali TNI AL Dan AL China Lakukan Dialog

    Beijing - TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut China untuk kali pertama melakukan dialog dalam kerangka "navy to navy talk" guna meningkatkan kerja sama pertahanan kedua negara.

    Wakil Ketua Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertahanan China Laksamana Muda Guan You Fei mengatakan dialog antara angkatan laut Indonesia dan China merupakan salah satu bagian dari kerja sama pertahanan kedua negara dalam bentuk forum konsultasi bilateral bidang pertahanan dan keamanan.

    "Dialog antarangkatan laut kedua negara menjadi salah satu komponen penting untuk membina hubungan yang lebih baik berdasar saling pengertian, dan saling percaya," kata Guan You Fei.

    Ia mengatakan pada dialog kali pertama ini akan dibahas pembangunan angkatan laut kedua negara dan beragam isu keamanan maritim regional.

    Sedangkan Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan mengatakan "navy to navy talk" yang baru kali pertama dilakukan ini dapat menjadi jembatan yang kuat bagi pembangunan kerja sama angkatan laut kedua yang makin meningkat dan luas.

    "Kita ketahui bersama bahwa hubungan RI-China, termasuk hubungan angkatan laut kedua negara telah berjalan baik, dan diharapkan akan terus meningkat di masa datang didasari rasa saling percaya, saling memahami, saling menghormati satu sama lain," katanya.

    Selain itu, dialog antarangkatan laut kedua negara dapat memberikan peluang kerja sama yang lebih luas tidak saja untuk kepentingan dua angkatan laut, tetapi juga untuk kepentingan kedua negara dalam mewujudkan stabilitas keamanan maritim regional.

    "Melalui 'navy to navy talk' angkatan laut kedua negara dapat saling bertukar informasi, pandangan untuk pembangunan kedua angkatan laut serta membahas isu-isu umum terkait keamanan maritim regional," kata Didit.

    Dialog TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut China akan dilaksanakan selama dua hari, 25-26 Juli, dengan agenda membentuk kerangka kerja sama angkatan laut kedua negara dan pembahasan isu-isu keamanan maritim regional.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Untuk Pertama Kali TNI AL Dan AL China Lakukan Dialog

    Panglima TNI : Saya Minta Paspampres Terus Tingkatkan Kewaspadaan

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono meminta Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menghadapi dinamika politik pada 2014 mendatang.

    "Tugas Paspampres tidak akan ringan menghadapi periode kepemimpinan 2014--2019. Tamu negara akan semakin banyak. Apalagi kondisi lingkungan yang semakin terbuka," kata Panglima TNI dalam Upacara Serah Terima Jabatan Komandan Paspampres di Mako Paspampres, Jakarta, Rabu.

    Ia mengatakan, tugas pengamanan terhadap Presiden dan Wakil Presiden tidak boleh dikurangi dan disederhanakan, tetapi harus dipersiapkan secara matang dan selalu memperhatikan kewaspadaan.

    Panglima TNI menyebutkan, bahwa tantangan lingkungan strategis ke depan harus senantiasi diawasi dengan cermat, meski pengamanan VVIP bukan merupakan hal yang baru.

    "Kehidupan nasional menghadapi tantangan berat dan kompleks. Kita harus senantiasi menekan pengaruh negatif dari luar dan terus berusaha menekan dinamika konflik di dalam negeri," jelasnya.

    Brigjen TNI Doni Munardo yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Wadanjen Kopassus) resmi menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) melalui upacara serah terima jabatan dipimpin Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.

    Brigjen TNI Doni Munardo menggantikan Mayjen TNI Agus Sutomo yang selanjutnya menempati posnya yang baru sebagai Danjen Kopassus menggantikan Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya yang dipromosikan menjadi Pangdam IX/Udayana.

    Pergantian jabatan ini sesuai keputusan Panglima TNI nomor: Kep/392/VI/2012 tanggal 15 Juni 2012. Dalam keputusan ini, ada 46 perwira tinggi yang berganti jabatan.

    Sebelumnya Doni telah menyerahkan jabatannya sebagai Wadanjen Kopassus kepada penggantinya, Kolonel Inf Jaswandi dari Pamen Denma Mabesad.

    Doni yang merupakan Akmil angkatan 1985 sebelum menjadi Wadanjen Kopassus merupakan Dan Grup A Paspampres. Dengan jabatan sebagai Dan Paspampres, maka perwira tinggi yang lama berkarier di Kopassus ini akan kembali mengurus `Istana`.

    Dengan jabatan barunya, Doni Munardo juga akan mendapat kenaikan pangkat menjadi Mayjen, perwira tinggi bintang dua.

    Danpaspampres yang baru Brigjen TNI Doni Munardo, mengatakan, dirinya akan meningkatkan kewaspadaan seluruh prajurit di lingkungan Paspampres.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Panglima TNI : Saya Minta Paspampres Terus Tingkatkan Kewaspadaan

    Wednesday, July 25, 2012 | 10:25 AM | 0 Comments

    Indonesia Dan Filipina Tingkatkan Anggaran Pertahanan Pada Tahun 2013

    Moskow (MIK/WDN) - Kedua negara di Asia tenggara yaitu Indonesia dan Filipina telah mengumumkan peningkatan secara signifikan dalam anggaran pertahanan pada tahun 2013.

    Menurut "Jane's Defence Industry" menjelaskan bahwa dari hasil rapat kabinet Indonesia memutuskan untuk meningkatkan anggaran Departemen Pertahanan sebesar Rp. 76,54 Triliun ($ 8,1 Miliar) atau meningkat 18% dari tahun 2012.

    Filipina

    Departemen Anggaran dan Perencanaan (DBM) Filipina mengatakan Filipina akan mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 121,5 miliar peso ($ 2,9 miliar) atau meningkat 12,5 % dibandingkan tahun 2012.

    Menurut DBM, anggaran pertahanan yang dikucurkan oleh Filipina sebesar 47,2 miliar peso dialokasikan untuk anggaran keamanan dalam negeri dan 2,1 miliar peso digunakan untuk pertahanan di perbatasan.

    Angkatan bersenjata Filipina telah menganggarkan sebesar 5 miliar peso untuk program pengadaan senjata (CUP- Capability Upgrade Programme) yang akan digunakan dalam pengadaaan alutsista antara lain kapal dan pesawat terbang.

    Sebagai bagian dari CUP dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi serangkai pengadaan alutsista. Secara khusus, yaitu sistem pertahanan udara dan laut yang menggunakan helikopter dan pesawat patroli serta pesawat angkut medium selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan pesawat.

    Menurut Presiden Benigno Aquino pada 23 Juli kemarin mengatakan telah mengalokasikan sekitar 28 miliar peso untuk program CUP. Selain itu Filipina juga mengajukan proyek sebesar 75 miliar peso kepada Parlemen yang akan digunakan selama lima tahun kedepan.

    Selain melakukan pembiayaan anggaran pertahanan, DBM juga akan mengalokasikan sebesar 1,8 miliar peso atau naik sebesar 62% dibandingkan tahun 2012 untuk Penjaga pantai Filipina.

    Departemen Dalam Negeri Filipina juga mendapatkan anggaran sebesar 120,8 miliar peso atau meningkat 12%.

    Indonesia

    Saat ini Departemen Pertahanan Indonesia tidak mau mengungkapkan besaran pengeluaran anggaran pertahanan untuk pengadaan alutsista, walaupun begitu kita tahun, Kemhan melakukan pengadaan alutsista seperti pesawat tempur, pesawat angkut, frigat, kapal patroli maritim, helikopter dan berbagai jenis sistem pertahanan udara.

    Meski anggaran pertahanan naik, anggaran tersebut masih kecil dibandingkan PDB Indonesia yaitu hanya 0,8% dari PDB. Sedangkan Filipina telah mengalokasikan 1,1% untuk anggaran pertahanan. Tetapi pada dasarnya, kedua negara telah melakukan peningkatan anggaran pertahanan untuk memodernisasi alutsistanya. Sumber : Armstrade.org/MIK
    Readmore --> Indonesia Dan Filipina Tingkatkan Anggaran Pertahanan Pada Tahun 2013

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.