ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Thursday, July 28, 2011 | 8:47 AM | 0 Comments

    Menhan : Dalam Lima Tahun Ini Akan Membuat Beberapa Kapal Selam

    Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemhan) terus berupaya meningkatkan kemampuan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro menargetkan pada 2024 kekuatan pokok minimum (essensial minimum forces) terpenuhi.

    "Lima tahun ini kita akan bikin beberapa kapal selam, tapi tak bisa disebutkan jumlahnya," ujarnya dalam pertemuan dengan pimpinan redaksi media massa di Kemhan, Rabu (27/7) malam.

    Saat ini, Indonesia baru memiliki dua kapal selam buatan DSME Korea Selatan tipe U-209. Sebelumnya tersiar kabar pembangunan kapal selam mencapai empat unit.

    Untuk pembuatan kapal selam, saat ini baru 40 sampai 50 persen kandungan lokal yang mampu dibuat PT PAL. Seiring berjalannya waktu dengan proses alih teknologi, pihaknya menjamin lima tahun lagi anak negeri mampu membuat kapal sendiri.

    Dijelaskan Purnomo, kekuatan perairan wilayah Indonesia barat dan timur terus diperkuat. Untuk di barat, pihaknya menetapkan setiap tahun terjadi penambahan 10 kapal cepat rudal (KCR) selama 13 tahun ke depan. Kapal jenis ini berfungsi sebagai kapal patroli untuk menjaga keamanan wilayah laut dari perompak dan penyusup.

    Kapal sepanjang 70 meter tersebut, kata dia, bisa dilengkapi rudal dan komponen persenjataan lain. "Kapal jenis ini cocok dengan lautan di barat yang tidak dalam dan tenang."

    Untuk memperkuat wilayah Indonesia timur, pihaknya memesan kepada PT PAL untuk membangun beberapa kapal fregat. Selain lincah, kapal berjenis perusak tersebut sesuai untuk digunakan patroli di perairan yang dikenal dalam dan berombak besar tersebut.

    Khusus matra udara, Purnomo menyatakan tahun ini akan menambah tiga radar untuk mengkover wilayah udara yang bolong. Rencananya dipasang di Timika, Kepulauan Aru, dan wilayah Maluku. Pemasangan radar itu untuk menambah daya deteksi kekuatan radar yang telah beroperasi di Biak dan Kupang.

    Sumber : REPUBLIKA
    Readmore --> Menhan : Dalam Lima Tahun Ini Akan Membuat Beberapa Kapal Selam

    Empat Super Tucano Akan Ramaikan HUT TNI AU Tahun 2012

    Jakarta - Empat dari 16 pesawat tempur jenis Super Tucano EMB-314 buatan Brasil dijadwalkan tiba pada April 2012 untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan Indonesia.

    Kepala Suadron 21 Lanud Abd Saleh Mayor Pnb James Yanes Singal, Rabu (27/7), mengatakan dari total 16 pesawat yang dipesan Angkatan Udara (AU) Indonesia, empat pesawat di antaranya bisa ditunjukkan kepada masyarakat pada peringatan HUT TNI AU 9 April 2012.

    "Memang dari awal Kepala Staf Angakatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Syufaat berharap pada peringatan HUT TNI AU April 2012 sudah ada empat pesawat yang ikut meramaikan ulang tahun itu," kata James saat ditemui di ruang Dinas Operasi Lanud Abdurahman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

    Keberadaan pesawat tempur jenis Super Tucano EMB-314 adalah untuk mengganti pesawat tempur taktis OV-10 FBronco yang saat ini sudah grounded. James menjelaskan, kedatangan empat pesawat tersebut diketahui setelah tim dari Mabes TNI-AU yang terdiri atas delapan perwira dan tiga anggota penyedia jasa, datang ke Pabrik Pesawat Terbang Embraer Defense System di Brasil, awal Juli lalu.

    Tim dari Mabes TNI-AU bertugas sebagai design review meeting (DRM) atau penentuan akhir sebelum pesawat tersebut dirakit. "Dengan kedatangan tim itu, bisa diartikan pesawat itu segera diproduksi untuk memperkuat kekuatan TNI AU," katanya.

    Sumber : MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Empat Super Tucano Akan Ramaikan HUT TNI AU Tahun 2012

    Simulasi : F-16 TNI AU Melakukan Force Down Hercules Malaysia

    Balikpapan - Sebuah pesawat tak dikenal memasuki wilayah Indonesia dan melintas di atas objek vital Kota Bontang, tepatnya di atas kilang minyak PT.Badak NGL. Dua pesawat F-16 segera diperintahkan untuk melakukan pengejaran.

    SETELAH diidentifikasi diketahui pesawat tersebut berasal dari Malaysia. Pesawat asing itu diperintahkan untuk meninggalkan wilayah udara Indonesia, namun menolak. Akhirnya pesawat tempur TNI AU F-16 melakukan show of force menunjukan persenjataan yang dibawa.

    Menyadari peringatan yang diberikan oleh pilot pesawat tempur TNI AU tersebut tidak main-main, akhirnya pilot pesawat asing membuka komunikasi dan bersedia mengikuti arahan dari pilot TNI AU.

    Pesawat asing berjenis Hercules tersebut dipaksa mendarat (force down) di Bandara Sepinggan Balikpapan. Sementara pasukan yang berada di darat bersiap-siap menunggu datangnya pesawat asing tersebut. Satu unit kendaraan komunikasi, satu mobil guide yang berisi pasukan bersenjata lengkap dan satu mobil ambulan.

    Ketika pesawat mendarat, kendaraan pemandu memasuki landasan pacu dan mengarahkan pesawat untuk mengikuti mobil pemandu. Pesawat tersebut mengikuti hingga sampai di hanggar milik Pelita Airlines.

    Begitu pesawat mematikan mesin, pintu pesawat dibuka, mereka (penyusup) yang berjumlah lima orang tersebut langsung disambut oleh pasukan TNI AU bersenjata lengkap. Pasukan darat langsung melakukan penyerbuan. "Jangan bergerak! Angkat tangan!" seru pasukan penyergap.

    Penumpang pesawat termasuk pilot dan copilot langsung menyerahkan diri. Mereka langsung dibawa dengan menggunakan sebuah mobil menuju kantor Pemadam Kebakaran Bandara Sepinggan untuk diinterogasi.

    Setibanya di ruang interogasi, penumpang dan awak pesawat menjalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu, kemudian dicatat identistasnya satu per satu. Mereka dicecar dengan berbagai pertanyaan seperti. Dari interogasi tersebut terungkap bahwa pesawat asal Malaysia tersebut terbang menuju Philipina dengan melintasi wilayah udara Indonesia tanpa memiliki ijin.

    Kejadian tersebut merupakan bagian skenario latihan tempur yang dilakukan TNI AU bersama TNI AL dan TNI AD. Menurut Danlanud Letkol Penerbang Riva Yanto kegitan latihan tempur ini rencananya akan dilakukan secara rutin. "Setiap tahun akan kita lakukan latihan seperti ini, tahun 2011 ini sudah yang kedua setelah pesawat Sukhoi kemarin," jelasnya.

    Sedikitnya 250 personil terlibat dalam latihan tempur ini. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme TNI AU dibantu dengan Korps Radar dan Lapangan Udara Angkasa Pura Balikpapan.

    Sumber : Tribun
    Readmore --> Simulasi : F-16 TNI AU Melakukan Force Down Hercules Malaysia

    AS Hibahkan 19 Kapal Patroli Untuk Marinir TNI AL

    Jakarta - Sebagai bagian dari kerja sama komprehensif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), ternyata 19 kapal patroli sudah disediakan kepada Marinir Republik Indonesia untuk digunakan sebagai alat patroli keamanan di laut Indonesia.
    Semua kapal sudah diserahkan dan digunakan untuk melindungi sumber daya alam Indonesia. Kapal-kapal itu sudah diserahkan sekira bulan Mei lalu, ucap Wakil Dubes AS Ted Osuis di Kediaman Duta Besar AS untuk ASEAN di Jakarta, Rabu (27/7/2011).

    Menurut Osius wilayah laut Indonesia sangat luas, untuk itu AS berusaha untuk membantu Indonesia dengan kapal patroli tersebut. Selain itu, kerja sama lain yang dilakukan adalah memberikan pelatihan.

    Angkatan laut kedua negara memiliki hubungan sangat erat. Lima tahun tidak latihan gabungan dari kedua militer. Tahun depan ada sekira 160 latihan gabungan yang akan dilakukan, lanjutnya.

    Lebih lanjut Osuis menambahkan, kedua negara memiliki kerja sama yang amat sehat dalam bidang kerja sama keamanan, termasuk juga kerja sama anti terorisme.
    Lebih dari penyediaan 19 kapal, kerja samanya yang menjadi bentuk penting, khususnya dalam upaya pengamanan maritim. Inilah yang kami anggap penting dari bentuk kerja sama ini, ungkap Osius.

    Sumber : OKEZONE
    Readmore --> AS Hibahkan 19 Kapal Patroli Untuk Marinir TNI AL

    Wednesday, July 27, 2011 | 2:05 PM | 0 Comments

    TNI AU Siapkan 12 Pilot Di Lanud Abd Saleh Untuk Pesawat Super Tucano

    Malang - Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Abdulracman Saleh telah menyiapkan pilot untuk mengawaki pesawat Super Tucano A-29. Pesawat latih taktis ini bakal menggantikan Skuadron Ov-10F Bronco yang sudah di-grounded.

    "Ada 12 pilot yang tengah kami siapkan untuk Super Tucano," ujar Kepala Skuadron 21 Mayor (penerbang) James Y Singal ditemui detiksurabaya.com di Lanud, Rabu (27/7/2011).

    Dia mengaku, daftar para pilot itu telah diajukan ke Mabes TNI AU guna dilakukan verfikasi kelayakan. Beberapa ukuran kelayakan telah disertakan yakni usia pilot minimal 24 hingga 35 tahun serta merupakan alumnin Tahun 1997 hingga 2007.

    "Termasuk keahlihan untuk berbahasa Inggris," tegasnya.

    Proses ini, lanjut dia, merupakan tindak lanjut dari dirinya bersama tujuh perwira TNI AU melakoni kunjungan ke Brazil sebagai tempat pesawat itu diproduksi pekan lalu. "Setelah disetujui 12 pilot itu akan dikirim ke Brazil menyiapkan diri sebagai awak Super Tucano," terangnya.

    Sesuai rencana, 8 unit pesawat Super Tucano bakal dikirim ke tanah air. Secara bertahap hingga akhir 2012 sebanyak 16 pesawat akan memenuhi Skuadron 21.

    Persiapan infrastruktur juga dilakukan oleh Pangkalan TNI AU Abdulracman Saleh guna menyambut kehadiran pesawat taktis itu dengan membangun enam selter dan merenovasi selter lama, serta menambah ketebalan aspal landasan.

    "Semua telah kita persiapkan termasuk infratruktur pendukungnya," bebernya.

    Seperti diberitakan, sebagai pengganti pesawat Ov-10F Bronco, Mabes TNI AU membeli 16 pesawat Super Tucano buatan Brazil guna mengisi Skuadron 21 Pangkalan TNI AU Abdulracman Saleh.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> TNI AU Siapkan 12 Pilot Di Lanud Abd Saleh Untuk Pesawat Super Tucano

    TNI AU Gelar Latihan Tempur Udara Di Balikpapan

    Balikpapan - TNI Angkatan Udara (AU) kembali menggelar latihan tempur udara di langit Balikpapan. Lima pesawat tempur F-16 dilibatkan dalam latihan ini. Latihan tempur dengan nama "Latihan Pertahanan Udara Perkasa B" tersebut juga melibatkan 11 pilot pesawat tempur.

    "Pilot ada 11 orang, pesawat ada lima. 4 single seat dan 1 double seat. Khusus yang double seat itu pesawat latih atau tandem, karena kita tidak mungkin melepas pilot training sendiri. istilahnya seperti belajar nyetir. Pilot training di depan dan instrukturnya di seat belakang," jelas Yudhistira, pilot tempur berpangkat letnan satu.

    Untuk melatih kesiapan para pilot tempur tersebut, mereka tidak diberitahu skenarionya tempurnya. "Kalau skenario kita enggak tahu, ini kan latihan untuk kita (pilot) skenario yang mengatur komando latihan," ujarnya. Latihan ini juga melibatkan unsur tempur dan komando sektor pertahanan nasional.

    Dalam latihan tempur Hri Selasa (26/7) kemarin para pilot tempur mendapat tugas untuk mencegat pesawat asing yang melintas di wilayah udara Indonesia.

    "Intinya kita diterbangkan kesana untuk melihat itu pesawat apa, disebut visual indetification untuk mengetahui jenis pesawat, nomer pesawatnya, bendera negaranya, membawa senjata atau enggak setelah itu kita laporkan lagi ke kesatuan radar kemudian panglima akan memberikan keputusan untuk penindakan," ungkap Yudhistira.

    Penindakan yang dimaksud bisa berupa mengusir (force out), membayang-bayangi saja (shadowing). "Bisa juga kita paksa mendarat seperti kejadian force down pesawat pakistan di Makassar kemarin," ujarnya.

    Tindakan terakhir terhadap penyusup jika dianggap membahayakan dan ada perintah dari panglima atau perintah dari presiden adalah penghancuran.

    Meski latihan tempur tersebut dilakukan secara intensif namun kegiatan tersebut tidak mengganggu jadwal penerbangan pesawat komersial. "Tidak mengganggu hanya ATC (Air Trafict Control) harus lebih teliti terutama pada saat-saat jam padat penerbangan," kata Abdullah Husain Manajer Operasional Bandara Sepinggan Balikpapan.

    Menurutnya latihan tempur tersebut dilaksanakan bersamaan dengan operasional bandara. Dengan memanfaatkan jeda waktu yang dimiliki oleh Angkasa Pura.

    Sumber : TRIBUN
    Readmore --> TNI AU Gelar Latihan Tempur Udara Di Balikpapan

    Indonesia Dan Singapura Tingkatkan Kerja Sama Militer

    Jakarta - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan kehormatan Menhan Singapura Ng Eng Hen, di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Selasa (26/7). Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama bilateral kedua negara khususnya di bidang pertahanan.

    Dalam pertemuan tersebut, Menhan RI dan Menhan Singapura sepakat untuk terus berupaya meningkatkan kerjasama pertahanan kedua negara yang selama ini telah berjalan dengan baik.

    Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Brigjen TNI Hartind Asrin dalam pernyataan tertulisnya, Menhan RI juga menyampaikan kepada Menhan Singapura terkait dengan tindak lanjut rencana kegiatan ADMM Retreat yang akan dilaksanakan di Bali Oktober mendatang.

    Selain itu, Menhan RI mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan "ASEAN Humanitarian Assistance Disaster Relief Exercise" pada tanggal 12-14 Juli 2011 di Singapura dan Jakarta dimana TNI dan SAF menjadi co-host.

    ASEAN Humanitarian Assistance Disaster Relief Exercise tersebut dilaksanakan dengan maksud untuk meningkatkan kerjasama militer negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk membiasakan penggunaan model operasi dan pengembangan Standard Operating Procedure (SOP) Humanitarian Assistance Disaster Relief (HARD). ASEAN HARD Exercise juga dilaksanakan untuk meningkatkan kerjasama Civil–Military Cooperation (Cimic).

    Turut haadir dalam pertemuan tersebut, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, Staf Khusus Menhan Bidang Kerjasama Internasional Soemadi D.M. Brotodiningrat dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin.

    Sementara Menhan Singapura didampingi Duta Besar Singapura untuk Indonesia Asok Mirpuri, Permanent Secretary, Ministry of Defence Chiang Chie Foo, Dir Policy Office Cheng BG Cheng Siak Kian dan Atase Pertahanan Singapura di Jakarta Kol. Tham Chong Yean.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Indonesia Dan Singapura Tingkatkan Kerja Sama Militer

    Pangkohanudnas Telah Berganti Pimpinan

    Jakarta - Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) TNI diserah terimakan. Marsda TNI J.F.P. Sitompul resmi menggantikan Marsda TNI Eddy Suyanto sebagai Pangkohanudnas. Serah terima jabatan ini dipimpin langsung Panglima TNI Agus Suhartono di Lapangan Upacara Kohanudnas Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (26/7).

    Marsda TNI Eddy Suyanto adalah lulusan Akabri Udara tahun 1978 dan akan melaksanakan tugas baru di Lemhannas RI. Sedangkan Marsda TNI J.F.P. Sitompul adalah lulusan Akabri Udara tahun 1980, yang sebelumnya menjabat Staf Ahli Panglima TNI.

    Dalam sambutannya, Panglima TNI mengatakan bahwa Kohanudnas sebagai bagian integral dari TNI, bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan terpadu atas wilayah udara nasional secara mandiri maupun bekerjasama dengan komando utama operasional lainnya dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan NKRI. Selain itu, juga bertugas menyelenggarakan pembinaan administrasi dan kesiapan operasi unsur-unsur Hanud TNI AU dan melaksanakan siaga operasi untuk unsur-unsur Pertahanan Udara (Hanud) jajarannya, dalam rangka mendukung tugas pokok TNI.

    Oleh karena itu, Kohanudnas dituntut untuk selalu menjaga kesiapan operasionalnya secara utuh, mengingat tantangan tugas ke depan semakin berat seiring dengan perkembangan lingkungan strategis dan cenderung berubah cepat, dihadapkan kepada kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan luas wilayah udara nasional serta tersebarnya potensi sumber daya nasional yang harus selalu dilindungi dari kemungkinan gangguan pihak lain.

    Salah satu upaya terobosan yang dilakukan oleh Kohanudnas saat ini yaitu telah dioperasikannya suatu sistem transmisi data yang mengintegrasikan hasil deteksi radar sipil dan militer, sehingga situasi wilayah udara dapat termonitor secara Real Time. Terobosan lain adalah melalui pengembangan Flight Clearance Information System (FCIS) bekerjasama dengan kementerian terkait. Hal ini merupakan langkah maju guna meningkatkan upaya deteksi dini, untuk mencegah terjadinya pelanggaran wilayah udara nasional oleh pesawat asing, baik berawak maupun tidak berawak sehinggga dapat diaplikasikan dan berujung pada pelaksanaan tugas pokok.

    Diakhir amanatnya, Panglima TNI mengharapkan agar Kohanudnas TNI senantiasa mampu mengoptimalkan kemampuan peralatan yang dimiliki sekaligus dapat memamfaatkan sumber daya nasional yang tersedia, melalui pengembangan kerjasama dengan lembaga atau institusi nasional lainnya yang memiliki keterkaitan dalam bidang pertahanan udara.

    Pembangunan sistem integrasi yang dilaksanakan bersama-sama dengan pakar-pakar teknologi elektronika dalam negeri, untuk meningkatkan kemampuan Kohanudnas dalam memantau wilayah udara nasional dan mengurangi ketergantungan kebutuhan militer dengan pihak asing.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Pangkohanudnas Telah Berganti Pimpinan

    TNI Sulit Capai Kekuatan Pokok Minimum

    Jakarta - Alokasi anggaran TNI yang rendah pada APBN Perubahan 2011 dikhawatirkan mengganggu pencapaian program percepatan pembangunan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF).

    Sebab, untuk mencapai MEF, idealnya dibutuhkan dana Rp11 triliun pada 2011.Namun, nyatanya hanya terpenuhi sekitar Rp4,3 triliun. Pengamat militer Universitas Indonesia Andi Widjajanto menyatakan pesimistis realisasi belanja MEF TNI dapat tercapai sesuai target pada 2024.

    “Kalau tren ini berlanjut,maka program itu sulit tercapai,” tegas Andi di Jakarta kemarin. Kondisi ini memaksa pemerintah pada periode selepas 2014 harus membuat rumusan ulang untuk MEF agar program penguatan pertahanan inidapat terwujud sesuai target.

    “Masa pemerintah Presiden SBY periode pertama dan kedua tidak ada perencanaan anggaran yang terpenuhi,”paparnya. Menurut Andi, ada tiga hal yang bisa ditempuh untuk mencapai target MEF,yakni mengurangi besaran postur MEF,memperpanjang jangka waktu pencapaian MEF selama 5–10 tahun menjadi 2029 atau 2034.“Atau, kalau mau optimistis,alokasi belanja diperbesar,”ungkapnya. 

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, minimnya alokasi membuat Kemhan mengambil kebijakan tidak berbelanja alat utama sistem senjata (alutsista) dari luar negeri.Alokasi untuk MEF mayoritas akan diperuntukkan bagi biaya pengadaan alutsista dari dalam negeri.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> TNI Sulit Capai Kekuatan Pokok Minimum

    Tuesday, July 26, 2011 | 10:16 PM | 0 Comments

    Kasal Terima `Legiun Of Merit Medal` Dari AL AS

    Jakarta – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno menerima penghargaan dari Pemerintah Amerika Serikat berupa medali “Legiun of Merit Medal” yang disematkan oleh Kepala Operasi Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana Gary Roughead mewakili Pemerintah Amerika Serikat, di lapangan Navy Yard Pangkalan Angkatan Laut AS, Washington DC, Kamis (21/7) lalu.

    Penghargaan berupa medali “Legiun of Merit Medal” diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat kepada Kasal Laksamana TNI Soeparno karena jasa dan pemikirannya dalam upaya peningkatan hubungan Angkatan Laut kedua negara, sekaligus dinilai berhasil dalam memajukan TNI AL serta pengabdiannya yang luar biasa kepada bangsa dan negara.

    Upacara penyematan medali “Legiun of Merit Medal” digelar secara khusus di lapangan Navy Yard dalam rangka menyambut kehadiran Kasal. Dalam upacara khas Angkatan Laut Amerika tersebut, Kepala Operasi Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana Gary Roughead bertindak selaku inspektur upacara. Dengan pakaian PDU-III putih Kasal menerima penyematan medali tersebut disaksikan pasukan upacara para prajurit Angkatan Laut Amerika Serikat, para pejabat militer dan undangan lainnya.

    “Legiun of Merit Medal” merupakan medali penghargaan militer bergengsi dari Pemerintah Amerika Serikat yang diberikan kepada personel militer Amerika Serikat atau tokoh militer dan politik negara-negara lain di luar Amerika Serikat yang dinilai berjasa dan berprestasi. Medali ini ditetapkan berdasarkan Undang-undang Kongres AS pada 20 Juli 1942.

    Sementara itu, dalam sambutannya inspektur upacara Kepala Operasi Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana Gary Roughead mengungkapkan, bahwa Laksamana TNI Soeparno selaku pemimpin TNI AL telah berhasil memajukan hubungan yang semakin harmonis antara Angkatan Laut Amerika Serikat dan Indonesia, meningkatkan kemampuan TNI AL, serta sukses dalam pembebasan sandera di Somalia. “Dibawah kepemimpinan Laksamana TNI Soeparno, TNI AL telah berhasil membebaskan sandera atas pembajakan kapal KM Sinar Kudus di Somalia dengan menewaskan 4 pembajak,” katanya.

    Laksamana Gary Roughead juga menilai Angkatan Laut Indonesia baru-baru ini telah berhasil menggelar latihan gabungan terbesar Angkatan Lautnya dengan melibatkan lebih dari 14 kapal, kapal selam, dan helikopter, serta sukse peluncuran rudal anti kapal permukaan Yakhont dan Exocet, dan peluncuran Torpedo SUT dari kapal selam. “Kemampuan, profesionalisme, dan keselamatan saat latihan tersebut menunjukkan kemampuan kelas dunia dari Angkatan Laut Indonesia,” ujarnya.

    Selain itu, menurut Gary Roughead , dengan dilaksanakannya kembali Latihan Bersama CARAT antara kedua Angkatan Laut pada bulan Juni 2011 lalu yang sukses telah membuka pintu untuk keterlibatan kerja sama lebih lanjut antara TNI AL dan Angkatan Laut Amerika Serikat. Gary Roughead juga menilai, di bawah konsep MEF (Minimum Essential Force) dari Kementerian Pertahanan RI, TNI AL dinilai telah berhasil dalam penataan kinerjanya sehingga operasi lebih efisien, serta mendorong peningkatan kemampuan TNI AL dalam kesiapan, kemampuan, keunggulan dan modernisasi.

    Sumber : POS KOTA
    Readmore --> Kasal Terima `Legiun Of Merit Medal` Dari AL AS

    TNI AU Sedang Menjajaki UAV Buatan Afsel

    Belitung - TNI AU akan menempatkan satu skuadron pesawat tanpa awak di Lapangan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Skuadron itu akan direncanakan minimal berkekuatan enam pesawat tanpa awak.

    Panglima Komando Operasi I TNI AU Marsekal Muda Sunaryo mengatakan, saat ini fasilitas di Supadio sedang disiapkan agar bisa dijadikan markas pesawat tanpa awak. "Untuk pelatihan personelnya masih dikaji kapan akan mulai dilakukan," ujarnya disela latihan TNI AU dengan sandi Operasi Jalak Sakti 2011 di Belitung, Selasa (26/7/2011).

    Skuadron itu rencananya akan diperkuat minimal enam pesawat tanpa awak. Skuadron itu akan menjadi kesatuan pesawat tanpa awak milik Indonesia. "Sedang dijajaki pengadaan (pesawat) buatan Afrika Selatan," ujarnya.

    Sunaryo juga mengungkapkan, jet tempur buatan Korea Selatan akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara. Penempatan itu rencananya akan mulai dilakukan tahun 2012. "Di Medan nanti satu skuadron," ujarnya.

    Sementara itu, Komandan Wing I Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah Kolonel Penerbang Tribowo Budi mengatakan, jet sejenis akan ditempatkan juga di Manado. Waktu penempatan juga diperkirakan tahun depan. "Konsep kerja samanya adalah transfer teknologi antara Korea Selatan dan Indonesia. Korea Selatan dan Indonesia akan membangun bersama jet tempur canggih," ujarnya.

    Dua lapangan udara itu paling dekat dengan wilayah perbatasan yang ramai dilewati pihak asing. Lanud Medan berdekatan dengan Selat Malaka. Sementara itu, Lanud Manado mengawasi kawasan timur Indonesia. "Sedapat mungkin alutsista (alat utama sistem persenjataan) ini dimaksimalkan untuk menjaga wilayah," ujar Tribowo.

    Pengganti Sunaryo mengatakan, pengadaan jet tempur buatan Korea Selatan itu untuk mengganti armada saat ini. Beberapa armada, seperti Hawk buatan Inggris dan F5 buatan Amerika Serikat, sudah tua dan harus diganti. "Alusista sedang dimodernisasi dengan alat yang lebih canggih dan variatif," tuturnya.

    Selain dengan Korea Selatan, Indonesia juga menjajaki pembelian jet tempur dengan Brasil dan Rusia. Selain itu, Indonesia mendorong perusahaan dalam negeri untuk memproduksi alutsista. "Hal itu kewenangan mabes," ujarnya.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> TNI AU Sedang Menjajaki UAV Buatan Afsel

    PPAL sarankan kapal dagang Indonesia dikawal Oleh TNI AL

    Jakarta - Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) mendesak pemerintah untuk melakukan penanggulangan perompakan di perairan Somalia.

    Ketua PPAL Achmad Sutjipto, mengatakan, perlu ditindak lanjuti penegasan aturan, bahwa Indonesia dapat menggunakan kekuatan tentara atau tenaga militer asing.

    "Selain itu, bisa juga dengan cara melatih awak kapal dengan pembekalan pelatihan militer menghadapi serangan teroris," kata Achmad Sutjipto di Jakarta, Selasa (26/7).

    Senada dengan anggota PPAL, Anggota Komisi I DPR RI Satca Wirya mengatakan, sudah merupakan tugas TNI AL untuk melindungi warga negaranya termasuk awak kapal niaga berkewarganegaraan Indonesia.

    Dirinya memaparkan hasil diskusi penanggulangan teroris yang diselenggarakan oleh PPAL di Hotel Borobudur pagi ini, Selasa (26/7) selanjutnya akan disampaikan kepada Menhan Purnomo Yusgiantoro yang rencananya akan hadir pada penutupan.

    Sumber : Primaironline
    Readmore --> PPAL sarankan kapal dagang Indonesia dikawal Oleh TNI AL

    English News : Southeast Asia’s underwater bazaar

    Jakarta - A scan of recent naval procurement by Southeast Asian navies points to the fact that submarines top their shopping lists. Thailand and the Philippines have been talking the talk to add submarines to their fleets.

    Thailand plans to buy six ex-German Navy Type-206 submarines. Despite facing domestic criticisms against the plan, Bangkok believes the US$257 million purchase will be money well-spent.

    The Thai Navy argues that the underwater warships are needed to patrol the Andaman Sea and Gulf of Thailand and catch up with neighboring navies’ modernization.

    The Philippines, too, has recently announced the “Sail Plan 2020” to buy, among others, a submarine. Although financial problems have stifled the plan, the recent tension in the South China Sea (SCS) may bolster domestic support for the purchase.

    Following its maritime spat with China over the South Chine Sea, Vietnam decided to acquire six Kilo-class submarines from Russia in December 2009.

    The delivery of the boats will begin in 2014 and greatly increase Hanoi’s capability to monitor activities in the disputed sea.

    Despite that submarines alone form part of a regional naval modernization trend, the motive and timing for the purchases have led some to argue that the region is in some sort of a naval arms race.

    Indonesia purchased submarines in the early 1960s and 1980s. But it was not until 1995 that a second regional country, Singapore, purchased submarines from Sweden.

    Malaysia followed suit in 2002 with two Scorpene-class boats purchased from France, allegedly as a response to Singapore’s procurement. And recently, Thailand, Vietnam and the Philippines have announced their bids almost simultaneously.

    This will result in Southeast Asia having at least six submarine operators in the next decade or so. Should this trend persist, it will be unprecedented in the regional naval development.

    Not only will the waters become more crowded, it could also bring deleterious consequences for regional maritime security. Thus, it is necessary to examine why the submarine has become a weapon of choice for regional navies.

    The submarine is different from surface warships for the purpose they are built and the method they are deployed. Surface warships are not only designed to attack their likes. For example, they can also conduct counter-piracy patrols, marine environmental protection, or even peacekeeping operations.

    Thus, surface warships are less sensitive to other navies provided they are only fitted with modest armaments to conduct normal, routine patrols.

    By contrast, a submarine has nothing else to do but to sink ships, especially for a diesel-electric attack, or conventional, submarine (SSK). The SSK is the only type currently sought after by the six Southeast Asian navies.

    Armed with torpedoes and anti-ship cruise missiles (ASCMs), the SSKs can sink enemy vessels at sea while remaining underwater.

    They can also support special operations, for example, to discreetly land Special Forces, lay sea mines, or conduct intelligence activities inside or near enemy waters.

    The SSKs can perform these roles thanks to its stealth capability. Stealth is a matter of life and death for submariners. Stealth permits a submarine to quietly intrude into enemy’s waters and covertly do whatever it wants.

    But stealth is also a submarine’s Achilles’ heels. Once detected, a submarine is left vulnerable to attack from aircraft, surface warships or other submarines.

    But, submarine’s stealth capability has recently been improved by an air-independent propulsion (AIP) system which permits the submarine to stay submerged for a longer period of time.

    Non-AIP SSK may have three to five days underwater. But with an AIP, it can stay submerged for weeks at a time. Malaysia’s Scorpene and Singapore’s Västergötland submarines are known to be equipped with AIP systems.

    Hence, SSKs are very attractive indeed. They come as an effective weapon against stronger navies with an affordable price tag. They can greatly restrict the operational range and mobility of surface warships with a specter of being sunk.

    They can be secretly deployed in disputed waters, such as the SCS or Ambalat, to monitor activities unnoticed.

    Thus, they are less likely to generate tensions often associated with the deployment of surface warships. Should a conflict occur, they can also be tasked to protect sea lanes from the enemy’s or belligerent warships.

    On the flip side, however, they can easily trigger misperceptions and miscalculations.

    A submarine found lurking in disputed or foreign waters will be perceived as having a clear intention of doing activities detrimental to the latter.

    Thus, it does not make sense when the Malaysian armed forces chief said that the Scorpene submarines could “stabilize regional security” during his recent visit to Jakarta (The Jakarta Post, July 6, 2011). There is nothing regional about it. It is only individual.

    Clearly, the submarine shopping spree in the region is an indication of existing inter-state tensions in the maritime domain.

    Regional institutions and security regimes provide a solid framework to ease the tensions, but they are
    not silver bullets. Nobody wants war to occur. But referring it as an assumption that war is impossible is indeed foolish.

    Facing this, Indonesia must react and act quickly.

    First, with military expenditure expected to rise by US$9 billion in 2014, Indonesia must put naval modernization high on the defense agenda.

    Second, it must improve anti-submarine warfare (ASW) capabilities by adding ASW sensors on all platforms, particularly on naval aviation. The current ASW platform based only on surface warships (hull-mounted sonar) is dangerously insufficient. This also implies the need for better ASW doctrine and exercises.

    Third, it must accelerate the submarine procurement process and come up with a capability on par with other regional states, but with a number more suitable to meet Indonesia’s maritime needs.

    This means that they must be at least AIP-equipped, armed with both torpedo and ASCM. The new submarines will likely be German-Korean Type-209 or French Scorpene, after Russian Kilo-class boats were disqualified by the navy. All are capable of being equipped with AIP and ASCM.

    But the deal should also include provisions for the construction of submarine support and training facilities ashore.

    Fourth, it should gradually develop self-sufficiency in naval shipbuilding to enable all-around maintenance capabilities for the new submarines and other ASW platforms.

    Only then can Indonesia be ready to sail the treacherous waters ahead.

    Source : TJP
    Readmore --> English News : Southeast Asia’s underwater bazaar

    Simulasi : Dua Pesawat Tempur F-5E Tiger Hancurkan Sasaran di Udara

    Jakarta - Satuan Radar (Satrad)-211 Tanjungkait menangkap adanya penerbangan tanpa memiliki izin memasuki wilayah udara nasional. Satrad-211 melaporkan hasil pengamatan tersebut ke SOC Center (Siaga Sektor Opration) Kosekhanudnas I. Selanjutnya siaga SOC melaporkan ke Puskodal Kohanudnas Popunas.

    Setelah menerima laporan, Pangkohanudnas selaku penanggungjawab keamanan wilayah udara nasional memerintahkan pesawat buru sergap F-5E Tiger Skadron Udara-14 untuk segera
    melacak dan menghancukan sasaran. Dua pesawat F-5E Tiger TS 0509 dan TS 0515 lepas landas dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

    Dalam waktu singkat, kata Kapen Kohanudnas Mayor Sus Suharto, SH; Senin (25/7) dua pesawat tempur tersebut berhasil menemukan sasaran. Dalam komunikasi pesawat lawan tidak mengindahkan perintah maka sesuai perintah Pangkohanudnas, kedua F-5E Tiger menghancurkan pesawat lawan tersebut.

    Sementara itu, tepat pukul 14.41 WIB KRI menangkap adanya dua lasa (dua pesawat), ter-indikasi lasa berkeinginan menghancurkan KRI tersebut, namun KRI memiliki kemampuan pertahanan udara sehingga mampu menyelesaikan lasa dengan menggunakan Meriam M-30, namun satu pesawat lawan berhasil lolos dari tembakan KRI.

    Keberhasilan tersebut harus dibayar mahal, karena pesawat lawan yang lolos berhasil menghancurkan obyek vital PT Puspitek Serpong Tangerang akibatnya terjadi kebakaran, dan serangan tersebut membuat panik para karyawan dan masyarakat sekitar. Berkat kesigapan para pejabat muspida setempat, satuan pemadam kebakaran bersama masyarakat berusaha untuk memberikan pertolongan para korban dan memadamkan kebakaran.

    Selain itu dua pesawat Tempur Sergap F-5E Tiger juga berhasil memaksa turun pesawat yang memasuki wilayah udara nasional tanpa memiliki ijin mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma.
    Demikian sekenario latihan pertahanan Udara Perkasa “A” hari terakhir.

    Pada pukul 14.45 WIB, Kas Kohanudnas Marsma TNI Chaerudin Ray selaku Dirlat didampingi Wadirlat Kolonel Pnb Sembiring menutup Latihan Hanudnas Perkasa “A” dari ruang Popunas Makohanudnas, Jakarta, akhir pekan lalu.

    Sumber : Harian Pelita
    Readmore --> Simulasi : Dua Pesawat Tempur F-5E Tiger Hancurkan Sasaran di Udara

    DID : Perancis Menawarkan Kapal Selam Andrasta Ke Indonesia

    DID (MIK/WDN) - Wilayah Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan ancaman paling kritis dalam dunia perkapal selaman. Sebagian besar perdagangan global melewati selat malaka yang rawan dengan ancaman dan merupakan perairan dangkal di sekitar pesisir kepulauan Indonesia. Itu membuat tempat pengintaian yang tepat bagi kapal selam, namun Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam U-209 dalam jajaran TNI AL dan untuk patroli hanya mengandalkan kapal jenis frigat, korvet dan kapal cepat rudal.

    Perusahaan perkapalan Daewoo telah memiliki pengalaman memproduksi kapal selam U-209 untuk angkatan laut Korsel dan telah mendapatkan kontrak untuk upgrade kapal selam kelas Cakra. Meskipun demikian memiliki kelamahan dalam yaitu tekanan pada lambung kapal selam yang memiliki batasan tidak fleksibel dalam menjaga umur kapal selam mereka karena adanya masalah hidrolik. Indonesia telah melakukan tender pengadaan 3-6 kapal selam sejak tahun 2007 yang diikuti Perancis, Jerman, RUsia, Korsel dan bahkan Turki diisukan dalam pengadaan kapal selam tersebut.

    Persaingan Desain Kapal Selam

    Secara umum, Indonesia menginginkan 3-6 kapal selam diesel elektrik, saat ini ke lima negara memberikan laporan yang berbeda. Pertanyaan terbesar secara teknik dan politis adalah apakah Indonesia menginginkan kapal selam yang memiliki kemampuan Air Independent Propulsion (AIP) dan dapat menyelam hingga tiga minggu pada kecepatan rendah serta membuat kapal selam diesel elektrik untuk sulit terdeteksi, tetapi hal ini akan memicu ketegangan di kawasan regional dan negara-negara yang bertetangga dengan Indonesia. Indonesia sebenarnya lebih suka menggunakan cara-cara yang masih konvensional yaitu menunjukkan bendara dan sering muncul ke permukaaan pada saat di negara lain untuk menjaga hubungan baik. Tapi hal itu hanya waktu yang bisa menjawabnya.

    Indonesia sudah mengoperasikan varian U-209 dan ingin membeli lebih banyak kapal selam U-209 tetapi dengan sistem internal yang modern. Hal ini akan menghemat biaya dan biaya yang rendah untuk dukungan tambahan.

    HDW Jerman telah mengekspor kapal selam jenis terbaru yaitu U-214 dengan sistem AIP yang lebih maju dari U-209 dan lebih mahal. Selain itu ada varian lain yaitu U-212 pesanan Jerman dan Italia,untuk U-214 antara lain Yunani, Korsel dan Turki.

    Dan salah satu jenis kapal selam buatan HDW telah diproduksi di Jerman, Korsel, dan Turki. Turki telah memiliki pengaruh di negara-negara Islam, hal ini membuat Turki untuk mencoba menjual kapal selam tersebut. Korsel telah memiliki hubungan baik dengan armada kapal selam yang dimiliki TNI AL, ini merupakan keuntungan dari Korsel karena untuk mendapatkan tempat dan dukungan di kawasan regional.

    Selain Itu DCNS Perancis juga memiliki tiga penawaran yang relevan. Yang paling menonjol yaitu Kapal selam jenis Scorpene yang telah dioperasikan Malaysia dan India. India telah merakit enam Scorpene buatan lokal, tapi terjadi penundaan karena mereka belum terbukti dalam ekspor kapal selam. Scorpene sendiri memiliki dua varian yaitu tanpa AIP dan menggunakan AIP, seperti yang dilakukan pendahulunya yaitu Agosta 90 B yang sedang produksi untuk Pakistan. Saat Ini Scorpene memiliki standar varian CM-2000.

    Yang uniknya DCNS menawarkan kapal selam jenis Andrasta. Desain 885t yang kecil sehingga optimal untuk daerah pesisir yang cocok untuk perairan dangkal seperti Indonesia, seperti Jerman yang menggunakan U-206 yang dikabarkan Thailand berminat membeli U-206. Kapal selam Andrasta menggunakan teknologi dari Scorpene akan tetapi dengan daya jelajah yang pendek dan memiliki 6 tabung torpedo yang hanya bisa dimuat saat di dermaga, selain itu memiliki kemampuan stealth atau siluman dan memiliki biaya operasional yang rendah. Ini menjadikan pilihan yang cocok bagi Indonesia, sementara Indonesia dapat memberi ancaman potensial di wilayahnya. Pertanyaannya apakah memiliki kemampuan deteren bagi Indonesia. Vietnam sendiri telah membeli kapal selam kilo dari Rusia.

    Rusia telah bermain sendiri dalam pengadaan peralatan pertahanan Indonesia beberapa tahun terakhir. Sebagian besar membeli kendaraan darat dan pesawat, tetapi TNI AL telah membeli rudal supersonik P800/SS-N-26 (Yakhont) untuk dipasang dibeberapa kapal perang mereka.

    Indonesia tertarik dengan harga yang ditawarkan oleh Rusia dan menggurangi gangguan setelah menggunakan alutsista mereka gunakan. Kapal selam kilo/kilo improved telah teruji dengan baik di kawasan India, dan kapal selam paling populer di dunia. Negara-negara tetangga Indonesia yang telah mengoperasikan yaitu India, Vietnam dan China.

    Sumber : DID/WDN/MIK
    Readmore --> DID : Perancis Menawarkan Kapal Selam Andrasta Ke Indonesia

    Kopassus Dan Pasukan Khusus AS Untuk Program Pertukaran Medis

    Jakarta – Pasukan khusus AS United States 1st Special Forces Group mengadakan kunjungan selama lima hari di Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Batujajar.

    Pada 15 Juli lalu, 1st Special Forces Group mengakhiri kunjugan lima hari di Pusat Pendidikan Kopassus. Kunjungan ini dalam rangka pertukaran gagasan dan praktik terbaik dalam kedokteran militer untuk pasukan operasi khusus Special Operations Forces (SOF).

    Tim dari AS, yang dipimpin komando kesehatan pasukan khusus AS 1st Special Forces Group Command Surgeon turut serta dalam program pertukaran ini, bersama komando kesehatan Kopassus serta 24 prajurit kesehatan Kopassus.

    Mereka berbagi pengalaman keahlian medis dalam hal praktik terbaik dalam penanganan triase dan trauma, perencanaan dan perbekalan medis, serta evakuasi korban.

    Program pertukaran ini mendukung secara langsung Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia, yang berupaya mempromosikan keamanan, kesejahteraan, keberlanjutan lingkungan hidup, memperkuat demokrasi, serta meningkatkan saling pengertian antara warga Indonesia dan Amerika.

    Program ini juga merupakan bagian dari keterlibatan AS secara bertahap dan terukur dalam kegiatan Kopassus. Sebagaimana dinyatakan mantan Menteri Pertahanan AS Robert Gates pada kunjungannya ke Indonesia akhir Juli lalu.

    Pemerintah AS melibatkan diri dalam kegiatan kerja sama keamanan terbatas dengan Kopassus dalam kerangka aturan hukum AS dan berdasarkan perubahan demokratis yang telah terjadi di Indonesia serta program reformasi TNI yang terus akan berlanjut.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> Kopassus Dan Pasukan Khusus AS Untuk Program Pertukaran Medis

    Monday, July 25, 2011 | 11:18 AM | 0 Comments

    Hibah 24 F-16 Akan Di Tempatkan Di Makassar

    Makassar - Dalam memaksimalkan pengamanan wilayah udara di kawasan timur Indonesia, Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) II kembali akan melengkapi alusista dengan pembelian pesawat F-16 selain pesawat tempur sukoi. Pesawat F- 16 ini rencananya akan ditempatkan di skuadron udara 3.

    Pangkoopsau II, Marsda TNI R Agus Munandar sebelum pelantikan dan pergantian Pangkoopsau II ke ke Marma TNI Ismono Wijayanto menjelaskan pemerintah melalui anggaran yang sudah ditargetkan akan menambah pesawat tempur F-16 block 32 dengan jumlah 24 pesawat atau satu skuadron. Khusus di Lanud Hasanuddin, saat ini sudah ada 10 sukhoi.

    "Soal anggaran, inilah tantangan yang harus dipecahkan TNI AU, yang jelas keuntungan pesawat ini karena dapat dipakai hingga 20 tahun ke depan. Saya kira bisa terdukung karena pemerintah sudah menargetkan," terang Agus.

    Sebelum meninggalkan Makassar menuju tempat bertugas barunya Agus menitip pesan agar setiap personel tetap menjaga kesiap-siagaan menghadapi ancaman, terutama masalah terorisme dan penyelundupan senjata tetap harus menjadi prioritas.

    "Selain keselamatan penerbangan dan kerja (lambangja) yang sudah harus dijaga di jajaran kerja kami, saya menitip pesan untuk tetap menjaga kekompakan, dan selalu berpegang pada prinsip Integrity, profesional and excelence. Terima kasih atas bantuan seluruh masyarakat dan pemerintah selama saya menjalankan tugas saya disini," urai Agus.

    Serah terima jabatan Panglima Komando Operasi Angkatan Udara II dari Marsda TNI R Agus Munandar kepada pejabat yang baru, Marsma TNI Ismono Wijayanto berlangsung di Apron Galaktika Lanud Sultan Hasanuddin, Senin, 25 Juli. Selanjutnya Agus akan menjabat sebagai Asisten Operasi (Asops) Kasau di Jakarta.

    Sumber : FAJAR
    Readmore --> Hibah 24 F-16 Akan Di Tempatkan Di Makassar

    PT INKA Berpeluang Topang Industri Pertahanan Indonesia

    Madiun - PT Industri Kereta Api (PT INKA) memiliki peluang yang cukup luas untuk menopang industri pertahanan negara, yang selama ini masih dilakukan oleh PT Pindad.

    Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto, dalam kunjungan kerjanya bersama tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu II lainnya dan Panglima TNI ke PT INKA di Kota Madiun, Jawa Timur, Minggu, sore.

    "Selama ini PT INKA memang fokus dalam hal transportasi perkeretaapian. Namun, mereka memiliki kemampuan yang suatu saat bisa ditransfer untuk menopang dan memperluas industri pertahanan negara. Apabila nanti Menteri Pertahanan menganggap hal tersebut perlu dilakukan, maka peluang itu sangat ada dan sangat mungkin," ujar Menko Polhukam Djoko Suyanto, kepada wartawan.

    Menurut dia, PT INKA memiliki elemen-elemen lain yang bisa dibangkitkan untuk menopang industri pertahanan Tanah Air, disamping fungsi utamanya mengembangkan produk transportasi sesuai perkembangan kebutuhan ekonomi masyarakat. Kesinergian inilah, yang membuat pihaknya, Menhan, dan menteri terkait lainnya ada di INKA saat ini.

    Djoko memandang PT INKA merupakan industri strategis milik negara yang memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan utama dalam negeri, baik untuk pemenuhan kebutuhan mobilitas ekonomi dan transportasi massal. Apalagi saat ini, INKA memiliki kemampuan lainnya untuk mendukung bidang pertahanan.

    Keberadaannya sejajar dengan PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, dan industri strategis lainnya milik negara.

    "Hal inilah juga, mengapa Menteri Bappenas ikut melakukan kunjungan kerja ke PT INKA. Karena hasil kunjungannya ini berkaitan langsung dengan perencanaan-perencanaan jangka menegah dan panjang yang harus ditopang oleh industri-industri strategis milik negara, seperti INKA," terang Djoko Suyanto.

    Dengan demikian, lanjutnya, kebijakan pemerintah yang menekankan agar prioritas kebutuhan dalam negeri ditopang oleh industri strategis setempat, dapat terwujud.

    Sementara, Direktur Utama PT INKA Roos Diatmoko, menyambut baik wacana Menko Polhukam dan menteri lainnya. Menurut dia, dengan dasar kompetensi industri transportasi, PT INKA juga dapat mendukung kemandirian dalam industri pertahanan dan keamanan negara.

    "INKA memiliki bagian penting dalam industri stragtegis negara. Disamping tugas pokoknya sebagai industri strategis di bidang perkeretaapian, INKA juga dapat menunjang kemajuan sistem logistik nasional, sistem transportasi perkotaan, kereta, dan darat, serta sebagai industri penunjang untuk industri pertahanan," kata Roos Diatmoko.

    Menurut Roos, INKA akan mencoba membuat beberapa produk penunjang kendaraan militer seperti "rolling chases" (perangkat roda penggerak) untuk kendaraan taktis seperti tank, "landing craft tank", dan kendaran penarik beberapa artileri.

    "Tentunya yang tidak dibuat BUMN bidang pertahanan lainnya seperti PT PAL maupun PT Pindad," ucap Roos Diatmoko berkelakar.

    Selain Menko Polhukam Djoko Suyanto, tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang melakukan kunjungan kerja ke PT INKA adalah, Menteri Pertahan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana. Keempatnya juga didampingi oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.

    Mereka sebelumnya transit dari Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Iswahjudi Magetan. Di sana, rombongan para menteri dan Panglima TNI ini juga meninjau alat utama sistem senjata (alutsista), tepatnya di skuadron udara 3, 14 dan 15 pangkalan setempat.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> PT INKA Berpeluang Topang Industri Pertahanan Indonesia

    Sunday, July 24, 2011 | 10:17 PM | 0 Comments

    Menhan : Skuadron Sukhoi Dan F-16 Akan Segera Dilengkapi

    Madiun - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memastikan bahwa pemerintah akan melengkapi Skuadron Sukhoi dan F-16 yang sudah dimiliki oleh TNI Angkatan Udara (AU) selama ini.

    "Kami sudah anggarkan dari APBN untuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dengan penambahan jumlah pesawat guna menggenapi Skuadron Sukhoi dan F-16 yang telah ada saat ini," ujar Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro saat kunjungan kerja ke PT Industri Kereta Api (PT INKA) di Kota Madiun, Jawa Timur, Minggu.

    Menurut dia, pelengkapan Skuadron Sukhoi dan F-16 ini untuk menambah kekuatan tempur TNI AU yang saat ini masih minim. Diupayakan untuk pesawat Sukhoi akan dilengkapi hingga satu skuadron penuh, demikian juga dengan pesawat F-16.

    "Untuk F-16 akan dihitung terlebih dahulu berapa jumlah pastinya untuk bisa menjadi satu skuadron penuh. Bahkan kalau memungkinkan akan dilengkapi hingga menjadi dua skuadron penuh," kata Menhan.
    Adapun untuk penempatannya hanya masalah teknis saja. Hal ini masih dibicarakan lebih lanjut dengan melibatkan KASAU dan pihak terkait lainnya.

    Selain melengkapi Skuadron Sukhoi dan F-16, Kementerian Pertahanan juga akan melakukan pembelian suku cadang-suku sadang dari pesawat yang saat ini sudah dimiliki oleh TNI AU. Sehingga diharapkan pesawat-pesawat tempur yang ada dapat kembali terbang.

    Berdasarkan data dari Penerangan dan Perpustakaan (Pentak) Lanud TNI AU Iswahjudi, Lanud Iswahjudi Magetan memiliki tiga skuadron. Ketiga Skuadron tersebut adalah satu skuadron pesawat tempur F-16, satu skuadron pesawat tempur F-5, dan satu skuadron pesawat Hawk yang akan segera diganti dengan pesawat tempur taktis T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan.

    Sumber : REPUBLIKA
    Readmore --> Menhan : Skuadron Sukhoi Dan F-16 Akan Segera Dilengkapi

    Kualitas Senjata SS 1 Buatan Pindad Lumayan

    Jakarta - Tim ekspedisi Bukit Barisan yang baru saja selesai menunaikan misnya tak hanya menemukan flora dan fauna baru. Tim yang terdiri dari 787 prajurit, pecinta alam, dan relawan itu juga melakukan uji coba persenjataan. Tentu, senjata yang digunakan buatan Indonesia.

    ”Uji senjata dilakukan oleh personel dari Kopassus dengan sengaja tidak membersihkan senjata selama satu bulan selama di pedalaman hutan,” ujar Kadispen TNI AD Brigjen Wiryantoro kemarin. Senjata itu lantas diuji tembak dan dinilai akurasinya.

    ”Hasilnya, dari 32 pucuk SS-1 yang diujicoba hanya empat yang macet. Ini berarti baik,” katanya. Itu berarti, senjata buatan dalam negeri masih sangat layak digunakan untuk medan berat dan situasi pedalaman hutan seperti gerilya.

    SS1 adalah singkatan dari Senapan Serbu 1, senapan serbu yang banyak digunakan oleh TNI dan POLRI. Senapan ini diproduksi oleh PT Pindad Bandung, berdasarkan senapan FN FNC dengan lisensi dari perusahaan senjata Fabrique Nationale (FN), Belgia.

    Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 4,01 kg. Senapan ini bersama-sama dengan M16, Steyr AUG dan AK-47 menjadi senapan standar TNI dan POLRI, tapi karena diproduksi di Indonesia, senapan ini paling banyak digunakan.

    SS-1 diproduksi dalam 2 konfigurasi utama, yaitu senapan standard dan karabin pendek. Versi senapan standar disebut SS1-V1 (FNC “Standard” Model 2000) dan karabin disebut SS1-V2 (FNC “Short” Model 7000). Kedua varian diatas dilengkapi dengan laras yang berisi pelintiran tembakan tangan kanan sepanjang 178 mm (untuk stabilisasi mengantisipasi peluru SS109 belgia yang lebih berat).

    Menurut Wiryantoro, uji coba senjata itu memang direncanakan untuk mengukur kualitas senjata lokal. ”Supaya kita bisa melakukan penilaian yang akurat. Karena itu memang sengaja tidak dibersihkan seakan-akan dalam situasi gerilya,” katanya.

    Seluruh tim eksepedisi bukit barisan tersebar ke tujuh wilayah ekspedisi yaitu Gunung Leuser (Aceh), Gunung Sinabung (Sumut), Gunung Singgalang (Sumbar), Gunung Kerinci (Jambi), Gunung Seblat (Bengkulu), Gunung Dempo (Sumsel), Gunung Tanggamus di Lampung.

    Selama pelaksanaan kegiatan ekspedisi ini, Tim Flora-fauna telah berhasil menemukan sejumlah 8 spesies baru terdiri tiga flora seperti jenis Impatiens sp1/pacar air di pantai cermin Surian Solok selatan Sumbar, jenis Impatiens sp2/pacar air di Paninggahan danau singkarak Solok Sumbar,jenis Impatiens sp3/pacar air di Sijunjung Sumbar.

    Juga lima fauna seperti kodok jenis Microhylasp,Philatus sp1,Philatus sp2,Philatus sp3, lalat jenis Drosophila, yang seluruhnya ditemukan di GunungTujuh Kerinci Jambi,serta menemukan dua jenis fauna langka seperti Kucing Emas (Golden cat)di Gunung Dempo Sumatera Selatan serta Burung Ciung Mungkal (CochoaBeccarii) di Gunung Singgalang Sumatera Barat. Rencananya, hasil ekspedisi ini akan dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit group Jawa Pos JP Books.

    Sumber : Kaltim Post
    Readmore --> Kualitas Senjata SS 1 Buatan Pindad Lumayan

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.