ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Thursday, January 5, 2012 | 7:57 AM | 0 Comments

    Wamenhan: Industri Perkapalan Nasional Harus Mempunyai Daya Saing

    Batam - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meminta industri pertahanan nasional, termasuk industri perkapalan agar membenahi sistem manajerialnya sehingga memiliki daya saing yang kuat dan sehat tidak saja di dalam tetapi juga luar negeri.

    "Saya bersama tim datang untuk melihat langsung kinerja dan sistem manajerial yang dilakukan perusahaan-perusahaan kapal swasta dalam mendukung kebutuhan TNI, khususnya TNI Angkatan Laut," katanya, dalam kunjungan kerjanya di tiga perusahaan galangan kapal swasta di Batam, Rabu.

    Ia menilai, perusahaan kapal swasta memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan produk kapal yang berdaya saing tinggi, tidak saja untuk kapal niaga tetapi juga militer.

    "Namun, untuk dapat menghasilkan produk yang sesuai kebutuhan operasional TNI yang diperlukan, harus didukung daya mampu yang memadai secara manajerial, terutama tingkat keahlian dan kemampuan sumber daya manusianya," katanya.

    Para pengusaha kapal swasta juga harus mampu berinteraksi dengan Kementerian Pertahanan/TNI untuk lebih memahami spesifikasi teknik dan kebutuhan operasional yang dibutuhkan, lanjut Sjafrie.

    Hal tersebut terkait dengan kebijakan politik negara untuk membangun sistem pertahanan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

    "Dengan banyaknya perusahaan kapal baik nasional maupun swasta yang berdaya saing tinggi, maka kemampuan SDM mau tidak mau akan meningkat. Daya serap tenaga kerja pun semakin tinggi, dan ini berarti mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

    Dari segi politik, perusahaan kapal nasional dan swasta yang berdaya saing tinggi dapat memacu kemandirian industri pertahanan nasional, yang berujung pada posisi tawar Indonesia, kata Sjafrie menambahkan.

    Karena itu, pemerintah telah mencanangkan modernisasi alat utama sistem senjata selama 2009-2024 secara bertahap, terutama untuk alat utama sistem senjata bergerak seperti kendaraan tempur, pesawat tempur, dan kapal selam.

    "Karena itu, saya harapkan semua perusahaan kapal di Indonesia baik nasional seperti PT PAL dan perusahaan kapal swasta dapat memperbaiki kinerja manajerialnya, kepemimpinannya, kemampuan SDM dan lainnya sehingga mampu saling bersaing secara sehat. Semua memiliki peluang sama," katanya.

    Dalam kunjungannya ke Batam, Wakil Menhan melakukan kunjungan ke PT Bandar Abadi Shipyard, PT Citra Shipyard, dan PT Palindo Marine Shipyard (meninjau production line dan peninjauan KCR).

    Selain itu juga akan mengunjungi Fasharkan Mentigi, Dermaga Punggur dan Puskodal TNI-AL.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Wamenhan: Industri Perkapalan Nasional Harus Mempunyai Daya Saing

    Wednesday, January 4, 2012 | 7:45 PM | 1 Comments

    Wamenhan : Pemerintah Genjot Alih Teknologi Kapal Selam Korea

    Batam - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin memastikan pemerintah bakal mendorong percepatan alih teknologi pembuatan kapal perang dalam negeri. Selama ini industri kapal dalam negeri baru bisa memproduksi non-kapal perang, seperti kapal patroli dan kapal angkut. Sedangkan, untuk kapal selam, masih mengandalkan teknologi asing. "Pemerintah sudah memprioritaskan anggaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) angkatan laut untuk transfer teknologi," ujar Sjafrie saat meninjau industri kapal di Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 4 Januari 2012.

    Pada 20 Desember lalu, Kementerian Pertahanan sudah menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME). Menurut Sjafrie, kerja sama dilakukan dengan model produksi bersama agar terjadi alih teknologi. Penambahan alutsista kapal selam ini diharapkan menjadi wadah penguatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) lokal dalam pembuatan kapal selam.

    Menurut Sjafrie, alih teknologi pembuatan kapal selam sudah masuk dalam kontrak pembelian tiga kapal selam itu. Berdasarkan kontrak, ketiga kapal ini menghabiskan biaya sekitar US$ 1,80 miliar yang diambil dari alokasi pengadaan alutsista tahun 2010-2014.

    Kepala Badan Sarana Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo mengatakan, untuk menjamin terlaksananya alih teknologi, pembuatan kapal selam ketiga akan dilakukan sepenuhnya di Indonesia melalui perusahaan produsen kapal pelat merah PT PAL.

    Pembuatan kapal pertama dilakukan sepenuhnya di Korea dengan mendatangkan tenaga ahli PT PAL Surabaya untuk belajar ke Daewoo. Mereka akan diminta belajar tahapan desain dan turut dalam tahapan persiapan pembangunan kapal selam kedua.

    Rencananya, dalam pembuatan kapal tahap pertama, akan dikirim sekitar 30 tenaga ahli. Sedangkan, pada pembuatan kapal kedua, pemerintah akan mengirim hingga 130 orang untuk mulai terlibat dalam praktek pembuatan kapal selam. Barulah nanti pembuatan kapal ketiga sepenuhnya bisa dibuat langsung di PT PAL. "Kami berharap pada akhirnya SDM lokal bisa membuat kapal selam secara penuh," ujarnya di tempat yang sama.

    Ediwan menuturkan pemerintah menargetkan kapal selam pertama sudah rampung pada 2015. Sedangkan kapal kedua dan ketiga berturut-turut selesai pada 2016 dan 2017. Pengadaan tiga unit kapal selam baru ini akan digunakan untuk melengkapi armada tempur TNI Angkatan Laut. Saat ini Indonesia baru memiliki dua kapal selam, yaitu KRI Cakra dan KRI Nanggala, yang sudah beroperasi lebih dari sepuluh tahun.

    Tiga kapal selam yang sudah dipesan ini memiliki bobot dan daya angkut yang lebih besar, dengan peralatan dan persenjataan yang lebih baru. "Dengan kehadiran tiga kapal selam baru ini, diharapkan daya tempur dan daya tangkal TNI Angkatan Laut semakin kuat," ujarnya.

    sumber: Tempo
    Readmore --> Wamenhan : Pemerintah Genjot Alih Teknologi Kapal Selam Korea

    Panglima TNI Kunjungi Replika KRI Macan Tutul-602

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Soeparno mendampingi Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono,S.E meninjau peletakan replika KRI Macan Tutul-602 sebagai pelaku pertempuran di Laut Aru saat operasi pembebasan Irian Barat tahun 1962, di mana replika dari KRI tersebut saat ini diletakkan di Museum Bhakti TNI, Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

    Selain Kasal, turut hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio,M.M, Asisten Panglima TNI serta Para Asisten Kasal dan para kepala dinas di jajaran Maarkas Besar Angkatan Laut Jakarta.

    Dalam gambar tampak Kasal Laksamana TNI Soeparno (kiri) dan Wakasal Laksamana Madya TNI Marsetio,M.M (kanan) saat mendampingi Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono,S.E (tengah) meninjau replika KRI Macan Tutul-602 di Museum Bhakti TNI, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

    Sumber : POS KOTA
    Readmore --> Panglima TNI Kunjungi Replika KRI Macan Tutul-602

    Hingga 2024, KCR Akan Diproduksi 24 Unit

    Batam - Pemerintah Indonesia menargetkan pembuatan 24 unit kapal cepat berpeluru kendali hingga 2024.

    Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Sumartono di Batam, Rabu mengatakan kedua puluh empat unit Kapal Cepat Rudal (KCR) itu akan disebar ke wilayah Barat Indonesia dan Sulawesi Utara.

    Saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, ia menambahkan,"Kapal Cepat Rudal sangat diperlukan untuk wilayah perairan yang memiliki ombak rendah atau kepulauan,".

    TNI Angkatan Laut kini telah mengoperasikan Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Clurit-641, sedangkan satu unit lainnya yakni KRI Kujang-642 dalam tahap melengkapi peralatan dan persenjataan.

    Kedua kapal buatan PT Palindo Marine memiliki panjang 43 m, lebar ,40 m, berat 250 ton, kecepatan cepat 27 knots dan akan dipersenjatai rudal C-705 dan meriam kal 30 mm enam laras dan meriam anjungan dua unit kal 20 mm.

    Pada kesempatan itu, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyaksikan langsung sailing pass KRI Kujang dari Batam ke Bintan dengan kecepatan 20 Knots.

    PT Palindo kini sedang melakukan penyelesaian KCR ketiga dan pada 2014 diharapkan telah berhasil menyelesaikan enam KCR.

    Sumber : Antara
    Readmore --> Hingga 2024, KCR Akan Diproduksi 24 Unit

    English News : Jakarta's Security Policy Off The Mark

    Jakarta - When the United States and Australia recently announced that US Marines would begin regular training in the Northern Territory, all that some Indonesian legislators could think about was not the strategic balancing act with China, but the threat they thought the deployment posed to Jakarta's control over Papua.

    Bemused diplomats could only marvel at the befuddled thinking of overly nationalist, conspiracy-minded politicians, some of whom even voiced suspicions that the move was linked to the now-ended strike at Papua's US-owned Grasberg copper and gold mine.

    What it did reveal was the depth of unease being felt over the situation in Indonesia's most restive province and, in a broader sense, the fact that at a time of heightened regional tensions, the discourse in the corridors of power is overwhelmingly internal.

    Memories remain fresh over Timor Leste's decision to break away from Indonesia in 1999, which many shocked citizens blamed - and still blame - on the international community. After all, they had never seen it coming.

    In contrast to the public indifference shown towards the former Portuguese territory during much of Jakarta's brutal 25-year rule, Parliament and the media are showing more than a passing interest in recent events in Papua, where Indonesia seems to be making the same mistakes.

    Missing in action in the debate over the country's strategic outlook is the Indonesian Armed Forces (TNI), whose new paradigm, formulated in 1998, was meant to take it out of politics and shift its focus to external defense - while retaining the role of preserving national unity.

    The TNI has a less neurotic view of US motives than the politicians, but safeguarding sovereignty continues to dominate its approach to everything, underpinned by a pervasive territorial structure and buttressed by an enduring distrust of civilian governance.

    In its only Defense White Paper, issued in 2003, the military surprisingly had very little to say about big power involvement in the region, dismissing the possibility of external threats and concentrating instead on international terrorism, transnational crime and illegal immigration as the main issues.

    That seems extraordinary for a sprawling archipelago with 81,000 km of coastline and four million sq km of exclusive economic zone, lying astride some of the world's most important trading routes and boasting a hardly formidable navy.

    That, however, is not surprising for TNI watchers. Over the past decade, the TNI leadership has been content to allow the Foreign Ministry to take the lead in pursuing a 'free and active' policy that enhances Asean's role as a burgeoning regional community and seeks to strike a balance between the US and China.

    For all of Indonesia's neutral stance, however, US-educated President Susilo Bambang Yudhoyono and his military leaders have clearly not been unhappy to see the Americans restoring their presence in the region.

    When Foreign Minister Marty Natalegawa suggested the Darwin deployment had the potential to "provoke a reaction and counter-reaction that would create a vicious circle of tensions and mistrust", it took only a day for him to back off from those remarks.

    Indeed, with as many as 2,500 Indonesian servicemen training alongside Australian forces in ground, sea and air exercises this year alone, the Indonesian military sees the Marine deployment as a further opportunity for operational engagement.

    While the TNI's wavering relations with the US over the past two decades have been largely defined by the boycott imposed after the 1991 Timor Leste graveyard massacre and the familiar vagaries of congressional politics, its view of China remains foggy.

    By the time Jakarta and Beijing restored diplomatic relations in 1990 after a 23-year hiatus, former defense minister Juwono Sudarsono says the military had long since put China's previous support for the long-defunct Indonesian Communist Party (PKI) behind it.

    But only four years later, Beijing unnecessarily raised suspicions about its future ambitions by appearing to include Indonesia's gas-rich Natuna Islands in its controversial "historic" claim to the South China Sea - and failing to answer an inquiring diplomatic note.

    In fact, maritime expert Hasyim Djalal says it was nearly a decade before the Chinese produced a 'classroom' map, devoid of longitudes and latitudes, which showed the nine dotted lines delineating the country's tongue-shaped claim falling well to the north of the Natunas.

    The former diplomat notes that even the Indonesian military itself seems unsure of where its maritime defense perimeter lies. "I keep asking whether it is our territorial waters, the economic zone or where," he says. "But no one responds to that sort of question."

    Indeed, the Coordinating Ministry for Political and Security Affairs - the obvious body for such things - seems more preoccupied with day-to-day issues than coming up with strategic guidance on what the region might look like in 20 years and how the military should position itself.

    Without that coherent view, the military's shopping list of new hardware, or what it calls its minimum force requirement, seems more tailored to what big-ticket items Singapore and Malaysia have in their inventory than any other consideration, such as disaster relief and maritime security.

    Acquiring two squadrons of F-16 jets may make sense for a country with threadbare air defenses. But why buy 100 surplus Leopard 2A6 main battle tanks (MBTs) and three submarines when, by general agreement, there is a more urgent need for transport aircraft, helicopters and fast patrol boats?

    For a country that has documented so clearly in its 2003 White Paper that it should concentrate on "lower-level" threats such as transnational crime and illegal immigration, the focus on "high-end" MBTs and submarines is somewhat misplaced.

    Source : TJP
    Readmore --> English News : Jakarta's Security Policy Off The Mark

    Tuesday, January 3, 2012 | 3:26 PM | 0 Comments

    TNI AU Sukses Capai Zero Accident Di Tahun 2011

    Jakarta - TNI Angkatan Udara selama tahun 2011 mengklaim sukses menghindari terjadinya kecelakaan dalam tugas latihan dan operasional penerbangan, atau zero accident,"
    Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Marsekal Pertama TNI, Azman Yunus mengatakan prestasi tersebut adalah hasil dari upaya pencegahan kecelakaan terbang, dan kerja yang intensif dari segenap jajaran TNI AU.

    "Dengan ini sasaran jangka pendek TNI AU yaitu Zero Accident yang dicanangkan awal tahun 2011 untuk menuju First Class Air Force telah berhasil diwujudkan," katanya.

    Selama 2011, TNI AU bisa mencapai suatu tingkat keamanan operasi penerbangan yang tinggi, dengan pencapaian 48.674 jam terbang, serta tingkat kesiapan alutsista 70 persen untuk mempertanggungjawabkan total anggaran 7,433 triliun rupiah.

    Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Sufaat, dalam apel khusus menyambut tahun baru 2012 yang dilaksanakan di Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur,Senin, (02/01/2012), mengatakan menyikapi tahun 2012, TNI AU harus jeli dalam membaca situasi nasional.

    Ia juga mengatakan bahwa kebijakan mengenai modernisasi alusista TNI telah direalisasikan secara bertahap selama tahun 2011.

    "Modernisasi merupakan awal kebangkitan yang harus disikapi dengan bijak karena proses penyediaan yang tengah berjalan ini mendapat perhatian dari berbagai elemen bangsa dan media massa," tuturnya.

    Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kedepannya, kebijakan Zero Growth Policiy yang telah diterapkan pemerintah, akan menjadi fokus perhatian. Meningkatkan efisiensi anggaran TNI yang jutru dihabiskan untuk membayar gaji personel.

    Untuk itu, ia mengatakan bahwa anggaran yang diperoleh pada tahun 2012 akan digunakan untuk mendukung 60.000 jam terbang dan mendukung seluruh kegiatan TNI AU.

    Sumber: TRIBUN
    Readmore --> TNI AU Sukses Capai Zero Accident Di Tahun 2011

    Australia Positif Hibahkan Empat Hercules C -130 H Kepada Indonesia

    Jakarta - Pemerintah Australia positif menghibahkan empat unit pesawat C-130 Hercules untuk Indonesia setelah sempat tertunda prosesnya pada 2011.

    "Kemungkinan kedua tim teknis dari masing-masing negara akan bertemu pada pertengahan Januari ini," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Hartind Asrin ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa.

    Hartind Asrin mengatakan, dalam pertemuan itu kedua tim akan membicarakan teknis hibah yang akan dilakukan setelah sempat tertunda pada 2011.

    Selain mengadakan pertemuan di Jakarta, akan dilakukan pula pertemuan di Australia untuk melihat langsung empat unit pesawat Hercules yang akan dihibahkan tersebut, lanjut Hartind.

    Kepastian hibah empat unit pesawat Hercules dari Australia itu telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat sebagai produsen pesawat angkut berat Hercules.

    "Namun teknisnya harus dibicarakan lebih lanjut antartim kedua negara. Dan itu akan segera dilakukan mulai pertengahan Januari ini," kata Hartind.

    Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo mengatakan pesawat Hercules yang dibutuhkan TNI AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

    "Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalyon sebanyak 26 unit," kata Marsekal Muda Rodi.

    Rodi menambahkan,"Tipe yang akan dihibahkan adalah tipe H, diremajakan kembali, dan akan digunakan TNI Angkatan Udara untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua,".

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Australia Positif Hibahkan Empat Hercules C -130 H Kepada Indonesia

    Monday, January 2, 2012 | 2:14 PM | 0 Comments

    TNI AU Akan Bentuk Lima Skuadron Baru

    Jakarta - Zero Accident yang dicanangkan untuk menuju The First Class Air Force tahun 2011 telah berhasil diwujudkan, demikian dikatakan Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos., pada apel khusus di awal tahun 2012 yang diikuti oleh seluruh personel Lanud Iswahjudi dan Insub, dilapangan Dirgantara, Senin (2/1).

    Kasau, Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Danlanud Iwj, pada apel khusus tersebut Kasau mengatakan bahwa, selain dapat tercapainya Zero Accident ditahun 2011 TNI AU juga sukses mengemban tugas OMSP, operasi kemanusian lewat udara didalam maupun diluar negeri.

    Hal tersebut dapat terwujud atas dedikasi, komitmen dan kerja keras yang ditunjukkan oleh seluruh personel TNI AU dalam tahun 2011, untuk menyikapi tahun 2012 Kasau berpesan untuk lebih jeli dalam membaca setiap situasi yang ada sehingga selalu berpikir, memutuskan dan bertindak secara bijak dan tidak kehilangan arah.

    Pada tahun ini pula lanjut Kasau, alutsista yang sudah habis masa pakainya akan diganti dengan alutsista baru. Modernisasi tersebut merupakan awal kebangkitan yang harus disikapi dengan bijak dan benar serta dapat cepat beradaptasi dengan alutsista yang diberikan oleh negara.

    ”Terkait dengan Minimum Essensial Force (MEF) TNI AU telah menrencanakan untuk meningkatkan kekuatan dan pengembangan organisasi berupa pembentukan 5 Skadron Udara, 1 satuan radar, 10 satuan rudal, 2 batalyon Paskhas, 2 Skadron Teknik dan beberapa Sathar”, demikian harap Kasau.

    Kondisi tersebut tentu saja membutuhkan jumlah personel yang cukup besar dengan berbagai keahlian untuk mengawaki organisasi yang dibentuk, sehingga berlakukanlah The Right Man The Right Place dan Merit Sistem secara terarah, terpadu, konsisten dengan kaidah-kaidah yang jelas, sehingga tercipta rasa keadilan yang mampu meningkatkan profesionalisme disetiap lini organisasi.

    Sumber : TNI AU
    Readmore --> TNI AU Akan Bentuk Lima Skuadron Baru

    2012, Menanti Kebangkitan Alutsista Indonesia

    Jakarta - Di penghujung tahun 2011, Kementerian Pertahanan dan perusahaan militer Rusia JSC Rosoboronexport melakukan penandatanganan untuk kelanjutan pengadaan enam pesawat jet tempur Sukhoi, untuk memperkuat satuan tempur TNI Angkatan Udara.

    Pengadaan enam unit pesawat tempur generasi 4,5 itu melengkapi 10 pesawat sejenis yang telah dimiliki Indonesia dengan tipe SU-27SK, SU-27SKM, SU-30MK dan SU-30MK2.

    Beberapa hari sebelumnya, Kementerian Pertahahan juga melakukan penandatanganan kontrak pengadaan tiga kapal selam dengan perusahaan galangan kapal Korea Selatan Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME), untuk memperkuat satuan tempur TNI Angkatan Laut.

    Untuk matra darat, Pemerintah Indonesia juga sebelumnya telah mendatangkan enam helikopter Mi-17 V-5 dari Rusia. Pada 2012 bahkan mulai dijajaki sejumlah pembelian kendaraan tempur taktis dari Eropa seperti Main Battle Tank dari Belanda.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang makin membaik, maka alokasi anggaran untuk pertahanan pun lambat laun mengalami peningkatan meski masih relatif kecil dibandingkan negara-negara ASEAN lain dalam hal belanja modal persenjataan.

    Untuk pertama kalinya sejak 1962, anggaran pertahanan pada 2012 menjadi nomor satu, dengan jumlah menjadi Rp64,4 triliun mengalahkan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum (Rp 61,2 triliun) dan Kementerian Pendidikan Nasional (Rp 57,8 triliun). Jumlah untuk meningkat dari APBN-Perubahan 2011 yakni Rp47,5 triliun.

    Tak hanya membeli persenjataan baru, Indonesia selama 2011 juga telah menjajaki dan menyepakati sejumlah hibah alat utama sistem senjata yang ditawarkan seperti pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Sedangkan hibah empat unit pesawat angkut C-130 Hercules dari Australia yang tertunda akan dilanjutkan pada awal 2012.

    Wakil Menteri Pertahahan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan target modernisasi militer diprioritaskan pada alutsista yang bergerak seperti kendaraan tempur, pesawat tempur, dan kapal selam beserta persenjataannya.

    Terkait itu, Indonesia tidak saja mendatangkan alat utama sistem senjata dari mancanegara melainkan juga memproduksi sendiri dalam rangka merevitalisasi industri pertahanan dalam negeri. Tengoklah kapal cepat berpeluru kendali yang kini sedang dikerjakan PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi. Kapal berbahan serat karbon itu merupakan kapal Trimaran pertama di dunia yang akan diproduksi Indonesia lengkap dengan kemampuan menghilang dari tangkapan radar lawan.

    Tak hanya itu, PT Pindad pun telah memproduksi ratusan panser Anoa, empat unit panser intai yang di Eropa dikenal sebagai "Sherpa".

    "Kita memang belum memberinya nama," kata Direktur PT Pindad Adik Sudarsono.

    Terdapat pula enam unit panser Mortar 81 mm dan tiga unit panser recovery.

    "Yang jelas jika pengadaannya dari luar, kita mensyaratkan adanya alih teknologi, sehingga suatu ketika nanti putra-putri Indonesia mampu membuat pesawat tempur dan kini yang tengah dijajaki adalah pembuatan kapal selam," kata Sjafrie.

    Sebagian dari beragam kontrak pengadaan alat utama sistem senjata yang telah disepakati akan direalisasikan bertahap mulai 2012 hingga 2014 dan seterusnya. Sehingga militer Indonesia diharapkan benar-benar bangkit, besar, kuat dan profesional.

    Krusial Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto menyebutkan 2012 merupakan masa peralihan yang cukup menentukan dalam keberhasilan mencapai kekuatan pokok minimum (minimum essential forces /MEF) dalam pembangunan kekuatan militer Indonesia.

    "Postur anggaran 2012 memang relatif terasa dampaknya untuk pemeliharaan atau perbaikan dan pengadaan dari dalam negeri. Tapi,kalau untuk pengadaan dari luar negeri belum ada," katanya berpendapat.

    Menurut Andi Widjajanto, anggaran Rp64,4 triliun yang akan dikucurkan pada 2012 menegaskan keseriusan pemerintah untuk membangun alutsista TNI yang andal. Tapi,tetap saja angka itu masih jauh dari cukup untuk bisa mengejar kekuatan pokok minimum yang ditarget hingga 2024.

    Jika kondisi itu terus terjadi tiap tahunnya, Andi yakin MEF tidak akan tercapai sesuai target. Mengacu pada target 2024, maka pada 2012 mestinya tersedia alokasi Rp80 triliun.

    Bahkan, kalau bisa mencapai Rp90 triliun agar pada 2014 (akhir pemerintahan SBY periode kedua) tercapai Rp120 triliun. Jadi, secara perbandingan dengan GDP,pada 2014 tercapai 1,25 persen dan 2012 sebesar satu persen.

    Ia menambahkan alutsista- alutsista tua itu idealnya memang tidak dipakai lagi dan harus diganti dengan yang baru.Apalagi beban perbaikan alutsista yang sudah usang juga cukup berat.

    Namun, kondisi sekarang belum memungkinkan untuk mencapai hal itu.

    "Harusnya jika 10 dibuang, maka yang beli baru lagi 10. Tapi,yang terjadi sekarang adalah 10 dibuang, tapi beli barunya cuma dua, yang enam diperbaiki, empat benar-benar dibuang," tutur Andi. Andi membeberkan usia alutsista yang dipakai TNI sekarang ini banyak yang telah tua, yakni 25-40 tahun.

    Bahkan dia menyebut alutsista yang telanjur uzur dan harus diganti mencapai sekitar separuh dari yang ada. Dengan kondisi tersebut, tingkat kesiapannya rata-rata hanya sekitar 40 persen. Dalam postur RAPBN 2012, Kemenhan seperti yang disampaikan Dirjen Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan Marsda TNI Bonggas S Silaen, dari besaran alokasi sebesar Rp64,4 triliun sekitar 40,1 persennya atau Rp25,84 triliun untuk belanja, yakni alutsista. Sisanya belanja pegawai Rp27,18 triliun (42,2 persen) dan belanja barang Rp11,41 triliun (17,7 persen).

    Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, membangun militer tergantung pada dua hal, yakni seberapa besar ancaman yang ada dan bagaimana standar penangkalan yang hendak diciptakan.

    Dua hal itu masih dipengaruhi kondisi keuangan negara.

    "Jadi MEF itu bukan penangkalan yang levelnya rendah,tapi juga bukan yang tinggi," ungkap purnawirawan TNI itu.

    Ia menilai dengan alokasi anggaran yang selama ini dikucurkan, target MEF sulit untuk dicapai sesuai rencana. ?Dengan anggaran Rp60 triliun-65 triliun per tahun, maka pada 2014 kapasitas yang tercapai baru sekitar 28 persen dari yang diinginkan,? ujarnya.

    Posisi Tawar Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai kekuatan militer dapat digunakan sebagai alat tawar dalam memperjuangkan pembangunan perekonomian suatu negara. Ekonomi dan militer pada dasarnya merupakan perhubungan dua variabel yang bersifat timbal-balik.Artinya, jika militer kuat, ekonominya juga akan kuat.

    Bagaimana pun tak bisa dipungkiri secara geopolitik dan geostrategi, Indonesia terletak pada posisi yang strategis dan menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam, bangsa dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI.

    Namun, setelah merebaknya krisis, pembangunan kemampuan pertahanan relatif terabaikan sehingga mengakibatkan turunnya kemampuan pertahanan negara secara keseluruhan. Karena itu dengan kenaikan anggaran pertahahan pada 2012, diharapkan kebangkitan militer Indonesia dapat benar-benar berjalan sehingga Indonesia mampu menghadapi berbagai ancaman baik aktual maupun potensial.

    Sejarah setidaknya mencatat setidaknya dua kali dalam sejarah Republik Indonesia, TNI diperhitungkan sebagai kekuatan bersenjata yang tidak bisa dipermainkan dalam pertahanan dan nyata dampaknya pada posisi tawar politik luar negeri kita.

    Pertama, periode 1960-1962, ketika Presiden Soekarno mendorong Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk bersiap merebut Irian Barat dengan kekuatan militer. Meskipun situasi perekonomian nasional tidak terlalu baik, Bung Karno mengizinkan pembelian persenjataan secara besar-besaran.

    Dalam waktu kurang dari dua tahun, APRI menjelma menjadi kekuatan perang terbesar di bumi bagian selatan, antara lain Angkatan Laut mempunyai 12 kapal selam yang mampu berpatroli hingga ke bibir pantai barat Australia tanpa bisa di deteksi oleh negara itu.

    Sementara itu, Angkatan Udara Republik Indonesia punya dua skuadron pengebom jarak jauh TU-16, yang dengan mudah mencapai seluruh wilayah Asia Tenggara dan Australia, menjatuhkan bom, serta kembali ke pangkalannya dengan selamat.

    Kedua, era 1980-1988. Pada kepemimpinan Jenderal M. Jusuf (1978-1983) dan Jenderal L.B. Moerdani (1983-1988), Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dibangun menjadi institusi militer yang modern dan profesional serta tidak berpolitik. Jenderal Jusuf mengawali programnya dengan cara sederhana: membangkitkan kembali harga diri prajurit dengan meningkatkan kesejahteraan, memperbaiki asrama, serta melatih ulang pasukan yang lama mengalami proses "penghalusan" karena jarang berlatih, persenjataan ketinggalan zaman, dan terabaikan kesejahteraan mereka.

    Pada era berikutnya, Jenderal Moerdani mampu dengan cerdik melihat peluang membeli alat utama sistem senjata yang tidak baru (seperti enam fregat Van Speijk dari Belanda), memperbaiki dan memodernkannya hingga bisa beroperasi penuh lagi. Pada eranya, ABRI juga membeli 10 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.

    Kini dengan Indonesia kembali mencoba memperkuat kembali pertahanannya diharapkan posisi tawar Indonesia di segala bidang baik politik, ekonomi dan budaya dapat pula ditingkatkan.

    Sumber: DEPHAN
    Readmore --> 2012, Menanti Kebangkitan Alutsista Indonesia

    Pengamat : DPR RI Jangan Mempersulit Pengadaan Alutsista TNI

    Jakarta - Sepanjang tahun 2011 media dan masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) hingga di tingkat nasional diriuhkan dengan sengketa perbatasan darat antara Indonesia—Malaysia. Menjelang akhir tahun 2011 (baru-baru ini), dari masyarakat kecil di Kalbar yang tidak pernah menyinggung masalah politik dalam kesehariannya, hingga Menkopolhukam dan DPR RI, semuanya riuh karena munculnya berita di media massa lokal dan nasional, bahwa wilayah Tanjung Datu/Camar Bulan di Kabupaten Samnbas, Kalbar, seluas 1.499 hektar telah dicaplok oleh Malaysia.

    Kontan saja berita itu membangun berbagai persepsi. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu dengan kebenaran berita tentang pencaplokan wilayah Camar Bulan oleh Malaysia. Pihak yang percaya menganggap pengamanan wilayah perbatasan Indonesia—Malaysia lemah. Pihak yang tidak percaya menganggap bahwa berita itu adalah isu politik untuk popularitas dalam Pilkada Gubernur Kalbar 2012. Pihak yang ragu menganggap bahwa bagaimana mungkin terjadi pencaplokan? Waktu Kalbar masih hanya Korem 121/ABW tidak ada pencaplokan wilayah. Tetapi setelah ada Kodam XII/Ptr kok ada pencaplokan wilayah Indonesia oleh Malaysia? Demikian juga dengan isu politik pilkada rasanya terlalu berisiko tinggi.

    Ketiga persepsi itu tidak ada yang pasti benar dan tidak ada yang pasti salah. Namun yang pasti tidak terbantahkan bahwa wilayah perbatasan darat dan laut antara Indonesia—Malaysia masih banyak terdapat sengketa yang dapat memicu konflik tradisonal militer antar kedua Negara Indonesia—Malaysia. Di antaranya adalah sengketa blok ambalat (ambang permukaan laut), daerah-daerah bermasalah yakni D-400, Gunung Raya, Sungai Buan, dan Batu Aum, serta paling menonjol akhir-akhir ini hingga sekarang adalah sengketa Tanjung Datu/Camar Bulan dan Sajingan Besar.

    Mari kita tinggalkan sejenak detail sengketa di atas. Kemudian mari kita perhatikan sejenak tiga dimensi bagi pertahanan negara kita. Dimensi pertama, kita selalu menuntut TNI untuk bekerja dengan hasil maksimal.

    Tetapi DPR RI terperosok dengan isu infiltrasi dari musuh Indonesia bahwa ke depan tidak akan ada perang tradisional militer. Itu sebabnya anggaran pertahanan kita tidak ditingkatkan dengan cepat oleh DPR RI. Dewasa ini alutsista kita berada di bawah standar keperluan minimum. Salah satu contohnya adalah kapal selam kita Manggala dan Cakra. Cakra baru selesai dioverhoul di Korea Selatan. Sekarang gantian dengan Manggala yang dioverhaul. Ditambah lagi kontrak pembuatan 3 (tiga) kapal selam baru dengan Korea Selatan. Tapi jadinya kapan belum tau. Pada hal sebenarnya, kita perlu banyak kapal selam karena kita punya banyak ALKI. Jadi kita memerlukan 8 (delapan) buah kapal selam hybrid (Hybrid Submarine) buatan Jerman.

    Di samping itu kita juga memerlukan banyak kapal cepat rudal (Fast Patrol Boat) panjang antara 50-60 meter dan lebar 10 meter. Kedua jenis alusista Angkatan Laut itu diperlukan untuk mengamankan SDA di laut dan mencegah serta menghancurkan musuh sebelum memasuki wilayah perairan Indonesia. Sekedar informasi perbandingan kapal selam di Asean: Singapura punya 6 kapal selam, Malaysia punya 3 kapal selam dan Indonesia punya 2 kapal selam. Asia Timur: Cina punya 62 kapal selam, Korea Utara punya 63 kapal selam, Jepang punya 16 kapal selam, Korea Selatan punya 12 kapal selam, Taiwan punya 4 kapal selam. Asia Selatan: India punya 16 kapal selam. Australia punya 6 kapal selam.

    Begitu pula dengan Angkatan Udara di Kalbar. Tidak punya radar untuk memantau seluruh wilayah Kalbar karena dari corong Utara jangkauan radar kosong. Di samping itu bermasalah dengan faktor sentral alat komunikasi. Kalau pesawat-pesawat tempur Kalbar mau patroli di Ranai, harus bilang sama Singapura dan Malaysia lebih dahulu, sebab FIR-nya di Singapura. Pada hal FIR itu milik Indonesia. Ironis kan, mau nengok-nengok pekarangan rumah sendiri kok harus bilang sama tetangga lebih dahulu. Kalau tidak bilang dituduh melanggar! Angkatan Darat di Kalbar tidak kalah sulitnya dengan Angkatan Laut dan Angkatan Udara! Pamtasnya sudah digelar. Mobilisasi personil dan alutsistanya sulitnya setengah mati. Mugkin kalau Malaysia bergerak dari pos A ke pos B hanya perlu waktu 2-3 jam sudah sampai. Tetapi Indonesia, mungkin bergerak dari pos A ke pos B perlu waktu 2-3 hari baru sampai sebab jalan paralel belum dibangun.

    Dimensi kedua, pada tahun 2015 kita sudah memasuki Asean Community. Harusnya semua Negara-negara Asean sudah menyelesaikan semua sengekta berbatasan negaranya masing-masing serta telah didaftarkan di PBB. Dimensi ketiga, harus ada pembangunan pilot project wilayah perbatasan berupa kota otonom (kota terpadu) yang ditempatkan di Kalbar, Kaltim, Papua, dan NTT masing-masing 1 buah. Menurut informasi terakhir bahwa akan dimulai di Kaltim, persisnya di Pulau Sebatik serta mempercepat pemekaran Kaltara dan Kapuas Raya sebagai indikator kehadiran peran Negara dalam pelayanan publik di wilayah perbatasan Indonesia—Malaysia.

    Mari kita kembali kepada detail sengketa perbatasan di atas. Sangat tidak adil DPR RI menuntut TNI senantiasa bekerja dengan hasil maksimal sementara alutsistanya dibatasi karena ketidak mampuan anggotanya menganalisis informasi yang bersifat infiltrasi musuh untuk melemehakan pertahanan Indonesia.

    Dengan perkataan lain, jika mau melihat Indonesia menjadi Negara yang tangguh dalam mengamankan SDA dan seluruh wilayah Laut, Darat, dan Udara, serta menjadi Negara juru damai di Dunia, maka bangunlah alutsistanya dengan sembaoyan “militer tangguh rakyat makmur dan berwibawa”.

    Sumber : Pontianak Post
    Readmore --> Pengamat : DPR RI Jangan Mempersulit Pengadaan Alutsista TNI

    Saturday, December 31, 2011 | 8:28 AM | 0 Comments

    Menhan : Anggaran Kemhan Diarahkan untuk Penyelenggaraan Sistem Pertahanan

    Jakarta - Kebijakan pelaksanaan rencana kerja Kementerian Pertahanan tahun 2011 diarahkan pada penyelenggaraan sistem pertahanan negara yang terintegrasi, handal, dan pro kesejahteraan. Pelaksanaannya ditikberatkan pada lima hal.

    “Pertama, kesejahteraan, dengan telah diberikan pada prajurit TNI dan PNS berupa tunjangan khusus perbatasan, remunerasii kinerja, kenaikan berkala, gaji ke-13, santunan dan tunjangan cacat serta rencana kenaikan ULP,” kata Menteri Pertahanan di Jakarta, Jumat (30/12).

    Kedua, penataan organisasi internal seperti bela negara, Universitas Pertahanan, peresmian pusat misi pemeliharaan perdamaian (PMPP), sistem informasi pertahanan negara (sisfohanneg) alokasi penelitian dan pengembangan, dan pengawasan.

    Selanjutnya, pelaksanaan rencana kerja diarahkan pada industri pertahanan dengan dibentuknya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dalam merevitalisasi industri dalam negeri dan mengupayakan penyehatan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP) dalam bentuk penyertaan modal.

    Selain itu juga digunakan untuk menghasilkan produk-produk RUU antara lain RUU Revitalisasi Industri Pertahanan, RUU Keamanan Nasional, RUU Komponen Cadangan, RUU Rahasia Negara dan menyelesaikan 31 Peraturan Menteri Pertahanan.

    “Terakhir untuk keberhasilan Indonesia sebagai keketuaan Asean Defence Ministers Meeting ke-5 tahun 2011,” kata Purnomo. Kegiatan ini, menghasilkan kesepakatan Joint Declarations ADMM dan ASEAN political and Security Community dalam Bali Concord III.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Menhan : Anggaran Kemhan Diarahkan untuk Penyelenggaraan Sistem Pertahanan

    Menhan: Penyerapan Anggaran Kemhan 2011 Mencapai 94,73%

    Jakarta - Penyerapan belanja modal dan barang anggaran APBN 2011 Kementerian Pertahanan terserap sebanyak 94,73 persen. Total pagu APBN Kemhan sebesar pada 2011 adalah sebesar Rp58,192 triliun, khusus untuk belanja barang dan modal dari Pagu setelah revisi sebesar Rp35,973 triliun terserap sebesar Rp34,076 triliun atau 94,73 persen.

    "Sisanya Rp1,897 triliun atau 5,27 persen, alokasi pinjaman dalam APBN Kemhan 2011 yang belum dipakai atau multiyears," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dalam evaluasi akhir Kemhan di Jakarta, Jumat (30/12).

    Menurut Purnomo, sumber dana pinjaman dalam dan luar negeri belum terealisasi meskipun sudah ada kontrak.

    "Jika belanja pegawai masuk dalam perhitungan penyerapan, maka penyerapan anggaran Kemhan 2011 sebesar 96,7 persen," ujarnya. Kebijakan Kemhan pada pelaksanaan rencana kerja tahun 2011 lebih diarahkan pada terselenggaranya sistem pertahanan negara yang terintegrasi, handal dan prokesejahteraan.

    Sumber : Jurnas
    Readmore --> Menhan: Penyerapan Anggaran Kemhan 2011 Mencapai 94,73%

    Januari 2012 , Dua C-295 Buatan Airbus Akan Tiba Ke Indonesia

    Jakarta - Kementerian Pertahanan kembali melakukan penambahan enam unit jet tempur untuk TNI Angkatan Udara. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebutkan pembelian enam unit Sukhoi Su-30 MK2 dari Rusia ini sudah diresmikan melalui penyerahan kontrak antara Kementerian Pertahanan dan produsen pesawat Rusia, JSC Rosoboronexport.

    Menurut Sjafrie, penambahan enam unit Sukhoi Su-30 MK2 ini untuk melengkapi jet tempur yang kini sudah dimiliki TNI Angkatan Udara. "Penyerahan kontrak sudah dilakukan kemarin dan saat ini masih ada kontrak yang sedang berjalan," ujar Sjafrie di kantornya, Jumat, 30 Desember 2011.

    Saat ini TNI AU telah memiliki 10 unit jet tempur Sukhoi sejenis. Ini terdiri dari enam Sukhoi jenis Su-27 SKM dan empat Sukhoi jenis Su-30 MK2. Rencananya, TNI AU akan menempatkan satu skuadron Sukhoi ini di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

    Menurut Sjafrie, selain pembelian jet tempur dari luar negeri, pemerintah kini juga tengah mengoptimalkan peningkatan industri penerbangan dalam negeri. Apalagi pemerintah sudah menargetkan tahun 2010 dan 2011 sebagai tahun kebangkitan industri dalam negeri. "Jadi, tahun 2012-2013 mendatang kami akan lakukan pemenuhan kebutuhan alutsista penerbangan secara cepat," ujarnya.

    Untuk pemenuhan alat utama sistem persenjataan udara, Sjafrie menyebutkan PT Dirgantara Indonesia secara berangsur merampungkan penyaluran helikopter jenis Bell 412 dan Puma untuk Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Selain itu PT DI juga terus meningkatkan kerja sama pembuatan sembilan unit pesawat CN 295 dengan produsen pesawat Airbus Millitary yang berbasis di Spanyol.

    Rencananya pada awal 2012 mendatang, Airbus Millitary mulai menindaklanjuti kerja sama. "Awal Januari ini akan tiba dua unit pesawat CN295," ujarnya.

    Selain dengan Spanyol dan Rusia, Kementerian Pertahanan terus mendorong industri pesawat dalam negeri untuk meningkatkan kerja sama pemenuhan alutsista penerbangan dengan negara lain. "Kami mendorong kerja sama pembuatan jet latih dengan Brazil dalam kerangka alih teknologi dengan PT DI," lanjut Sjafrie. Kemenhan berharap industri penerbangan dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan TNI AU dalam pengawasan udara.

    Sumber : Tempo
    Readmore --> Januari 2012 , Dua C-295 Buatan Airbus Akan Tiba Ke Indonesia

    2012, TNI AL Akan Melakukan Pengadaan 3 Kapal Selam, 2 PKR Dan 20 KCT

    Jakarta - TNI AL telah melaporkan kesiapan validasi organisasi kepada komando atas dan pemerintah tentang pembentukan Komando Wilayah Laut Republik Indonesia (Kowila RI) yang membawahi 3 Armada (Barat, Tengah dan Timur), Komando Latihan Wilayah Laut (Kolatwila) Komando Pemeliharaan Material Wilayah Laut (Koharmatwila), pembentukan 3 Divisi Marinir dan perubahan Korps Marinir menjadi Kotama Operasi.

    Hal tersebut dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Soeparno dihadapan 700 Perwira Menengah (Pamen) dan Perwira Tinggi (Pati) TNI AL Wilayah Timur (Wiltim) pada olahraga bersama TNI AL Wilayah Timur di Lapangan Laut Maluku, Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal), Jumat (30/12).

    Kemudian, lanjutnya, selain pembentukan Kowila, TNI AL memandang perlu meningkatkan Dinas Potensi Maritim menjadi Asisten Potensi Maritim, karena potmar dipandang sebagai salah satu tugas pokok TNI AL, kemudian membentuk Disopslatal, membentuk Pusat Intelejen Laut (Pusintelal) serta meningkatan Dinas Hidrooseanografi menjadi Badan Hidro Oseanografi.

    Selain siap melakukan validasi organisasi, di tahun 2012 diharapkan kebijakan pemerintah dalam pembangunan kekuatan pertahanaan pada tingkat Minimum Essential Force (MEF) TNI AL dalam bidang penambahan Alat Utama Sisitem Senjata (Alutsista) dapat segera terrealisasi. Penambahan alutsista tersebut, diantaranya pembelian 3 kapal selam, 2 kapal permukaan frigate jenis Perusak Kapal Rudal (PKR) dan 20 Kapal Patroli Cepat dan Kapal Cepat Torprdo (KCT).

    Menurutnya, untuk membangun kekuatan militer yang handal tidak perlu beraliansi kepada salah satu blok teknologi alutsista, tetapi mampu mengadaftasi dan mengadopsi teknologi dari berbagai blok yang diarahkan untuk meraih keunggulan sendiri. Pada konteks ini penyiapan sumber daya manusia menjadi sangat vital.

    “Kita harus akui, negara kita tidak sekuat negara barat yang kuat dalam teknologi mesin perangnya, oleh karena itu kita tidak usah cari musuh, lebih baik cari teman dan tidak menggantungkan kekuatan Alut kepada salah satu blok,” terangnya.

    Selain menyoroti validasi organisasi dan alutsista, orang nomor satu di TNI AL ini mengingatkan kepada para perwira dibawahnya untuk senantiasa meningkatkan kembali pelaksanaan kode etik dan etika professional serta tatakrama dalam kehidupan seorang perwira.

    Seorang perwira, lanjutnya, harus mampu membangun sendi-sendi kehidupan yang berdisiplin, memiliki kepedulian dan rasa tanggung jawab yang lebih tinggi dibanding dengan prajurit yang dipimpinnya.

    “Pegang teguh Sapta Marga, 8 Wajib TNI, Trisila TNI AL dan malu berbuat cela,” serunya.

    Ditahun 2011, lanjutnya lagi, masih ada agenda yang belum terealisasi dan akan dilanjutkan pada 2012 nanti diantaranya Kartika Jala Krida (KJK) KRI Dewaruci ke AS. Dimana pada KJK sebelumnya tidak pernah mengikutkan Kadet (taruna AAL;Red) dari Korps Marinir, pada KJK nanti akan diikutsertakan, kemudian latihan Armada Jaya pada medio September dan Latihan Gabungan TNI pada medio November 2012.

    Sementara itu pada acara olah raga bersama penutup akhir tahun yang diisi dengan senam dan jalan sehat sejauh 3 kilometer di area Kesatriaan Kobangdikal tersebut, tampak hadir para Asisten KASAL, Pangkotama TNI AL wilayah timur dan barat, seperti Dankobangdikal Laksda TNI Sadiman, SE, Pangarmatim Laksda TNI Ada Supandi, Pangarmabar, Komandan Seskoal dan para Kepala Dinas di lingkunagn Mabesal, serta Pamen TNI AL se-Wilayah Timur.

    Sumber : TNI AL
    Readmore --> 2012, TNI AL Akan Melakukan Pengadaan 3 Kapal Selam, 2 PKR Dan 20 KCT

    Friday, December 30, 2011 | 9:23 AM | 0 Comments

    Mantan KSAL : MBT Tidak Cocok Digunakan Di Indonesia

    Jakarta - Anggaran pertahanan yang mencapai Rp 9 triliun harus digunakan seefisien mungkin untuk membeli peralatan alutsista. Salah satu caranya, jangan terlalu banyak membeli pesawat tempur bekas negara lain.

    Dalam acara Refleksi Catatan Akhir Tahun 2011 yang diselenggarakan ormas NasDem, Ketua Dewan Pertimbangan ormas NasDem Tedjo Edhy Purduatno, mengatakan walaupun anggaran alutsista besar namun pembelian peralatan alutsista belum sesuai untuk menangkal Indonesia dari serangan musuh asing. Tedjo mencontohkan peralatan alutsista yang dibeli acapkali tak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.

    "Misalnya membeli tank. Tank itu bagusnya di padang pasir. Bila dipakai di sini tidak cocok. Kemudian untuk pesawat tempur, jangan terlalu banyak membeli bekas pesawat negara lain," ujar Tedjo, Kamis (29/11/2011) di kantor pusat NasDem.

    Dikatakannya, meskipun pesawat bekas tersebut bisa di-upgrade, namun namanya pesawat bekas tentu sudah berkurang masa pemakaiannya atau life timenya. Tedjo pun meminta pemerintah bila membeli peralatan alutsista paling tidak sebanding dengan negara tetangga, bahkan kalau bisa melebihi.

    "Kita mau beli kapal selam. Beli kapal selamnya di negara yang kompeten dalam pembuatan kapal selam. Bila kapal selam yang dibeli kemampuannya dibawah negara tetangga, sama saja tidak ada artinya," ucapnya.

    Tedjo menambahkan, masalah perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangga juga perlu ditegaskan kembali. Saat ini, batas negara sering digeser-geser dan kerap merugikan Indonesia.

    Sumber : Tribun
    Readmore --> Mantan KSAL : MBT Tidak Cocok Digunakan Di Indonesia

    Kemhan Teken Kontrak Pengadaan Enam Unit Su30MK2

    Jakarta - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memastikan membeli enam unit jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 dari Rusia sebagai bagian dari rencana strategis untuk memenuhi kekuatan udara pesawat tempur Sukhoi hingga satu skuadron atau setara 16 jet tempur.

    Kepastian tersebut ditandai dengan penyerahan kontrak pengadaan Sukhoi Su-30 MK2 antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan JSC Rosoboronexport Rusia, Kamis (29/12) di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.

    Dalam acara penyerahan kontrak tersebut, pihak Kemhan diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak Rosoboronexport Rusia diwakili oleh pejabat perwakilannya di Indonesia Vadim Araksin.

    Hadir menyaksikan serah terima kontrak tersebut sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan dan Mabes TNI AU antara lain Kepala Pusat Pengadaan Baranahan Kemhan Laksma TNI Ir. A. Djonie Gallaran, MM, Asrena Kasau Marsda TNI Rodi Suprasodjo, S.IP dan Kadisadaau Marsma TNI Achmad Zainuri. Hadir pula Duta Besar Rusia Untuk Indonesia Alexander A. Ivanov.

    Pengadaan enam unit jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 ini untuk melengkapi 10 Sukhoi yang kini sudah dimiliki TNI AU sehingga nantinya genap menjadi satu skuadron yang ditempatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

    10 Shukoi tersebut terdiri enam unit Sukhoi jenis Su-27 SKM dan empat unit Sukhoi jenis Su-30 MK2. Dengan penambahan enam unit jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 tersebut diharapkan dapat menambah kekuatan tempur TNI AU dalam menjaga kawasan udara Indonesia.

    Kabaranahan Kemhan RI dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak JSC Rosoboronexport Rusia yang telah menunjukkan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sehingga realisasi pengadaan Sukhoi Su-30 MK2 dapat terpenuhi.

    Realisasi pengadaan Sukhoi Su-30 MK2 menjadi salah satu perkembangan positif dari hubungan kerjasama yang saling menguntungkan antara kedua negara di bidang pertahanan terutama kerjasama pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista).

    Kabaranahan Kemhan RI berharap, di masa mendatang Pemerintah Indonesia dapat mencapai kebutuhan Alutsista khususnya pesawat tempur yang dapat menjaga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman baik internal dan eksternal.

    Mengakhiri sambutannya, Kabaranahan Kemhan RI mengatakan, dengan telah diserahkannya kontrak pengadaan Sukhoi Su-30 MK2, maka kedepan kedua belah pihak memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan proses pengadaan Sukhoi Su-30 MK2 seperti yang telah direncanakan dan Kemhan RI berharap dapat selesai tepat pada waktunya.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Kemhan Teken Kontrak Pengadaan Enam Unit Su30MK2

    Thursday, December 29, 2011 | 4:52 PM | 0 Comments

    Marinir TNI AL Latihan Tempur di Hutan Baluran dan Pantai Banongan Situbondo

    Situbondo - Prajurit Korps Marinir TNI AL gelar latihan perang di kawasan Hutan Baluran, Situbondo, Kamis (29/12/2011). Berbagai peralatan dan kendaraan tempur (ranpur) dikerahkan untuk menghancurkan kekuatan musuh.

    Termasuk kendaraan tempur (ranpur) ampibi yang melakukan pendaratan di Pantai Banongan, Asembagus, Situbondo.

    Dengan mengendarai tank jenis LVT-7, sejumlah perwira tinggi TNI dan Polri ikut serta melakukan pendaratan. Tampak di atas ranpur ampibi tersebut, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kasal Laksamana TNI Soeparno, Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, dan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo.

    Ranpur amfibi itu mengikuti manuver gelombang pendaratan kendaraan amfibi yang lain. Antara lain, 5 unit PT 76; 6 unit BTR 50; 4 unit LVT-7; dan dua unit Kapa. Berikutnya, semua ranpur Amfibi ini bertolak menuju Hutan Baluran, tempat terjadinya pertempuran.

    Dalam latihan perang tersebut, Korps Marinir mengerahkan kekuatan penuh, mulai dari Batalyon Taifib, Infanteri, Kavaleri, Artileri, dan bantuan tempur. Setelah melalui pertempuran sengit, Korps Marinir akhirnya berhasil membuat lawan kocar-kacir.

    Meski begitu, Korps Marinir kembali memberondong tembakan, termasuk dengan empat pucuk RM 70 Grad. Sehingga musuh benar-benar berhasil dihancurkan dan sebagian pasukan lawan ditawan.

    Demikianlah, skenario Latihan Pemantapan Brigade Pendarat (Lattap Brigat) dan Latihan Kesenjataan Terpadu (Latsendu) yang digelar di Puslatpur Marinir Baluran Situbondo. Seluruh petinggi TNI dan Polri menyaksikan latihan tempur tersebut dari ketinggian bukit Tersier bernomor 12 (T-12).

    "Latihan seperti ini rutin kita laksanakan setiap tahun, sebagai puncak latihan Korps Marinir TNI AL," kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

    Kali ini, latihan diikuti sekitar 3.000 prajurit Korps Marinir dari berbagai unsur. Selain itu, aneka peralatan dan kendaraan tempur yang dimiliki juga dilibatkan. Antara lain, 6 unit LVT-7, 5 unit Tank PT 76, 32 unit BTR 50, dan 15 unit BMP-3F.

    Tak hanya itu, Latsendu 2011 Korps Marinir juga mengerahkan 4 unit BVP-2, 8 pucuk Howitzer 105 mm, 6 unit Roket Multi Laras (RM 70 Grad), 4 pucuk Meriam 57 mm, 4 unit Sea Raider, 3 Helikopter, empat Pesawat Cassa 212, serta 3 kapal perang, yakni KRI Makasar, KRI Teluk Mandar, dan KRI Hasanudin.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Marinir TNI AL Latihan Tempur di Hutan Baluran dan Pantai Banongan Situbondo

    Kedatangan 16 Super Tucano Menambah Kepadatan Lanud Malang

    Malang - Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Abdurrahman Saleh di Pakis,Kabupaten Malang akan ketambahan 16 unit pesawat tempur baru jenis Super Tucano dari Brasil.

    Penambahan armada tempur jenis pesawat tempur ringan ini rencananya akan datang pada 2012 nanti. ”Makanya, ke depan aktivitas penerbangan di sini akan makin padat dengan mulai dibukanya terminal baru bandara sipil,” ujar Kepala Dinas Operasional (Kadisops) Lanud TNI AU Abdurrahman Saleh Kolonel Penerbang Novyanto Widadi di sela-sela peninjauan Bandara Sipil Abdurrahman Saleh kemarin. Rencananya pada Jumat (30/12) besok, terminal baru Bandara Sipil Abdurrahman Saleh akan diuji coba selama dua pekan.Kompleks bandara sipil ini berada di luar daerah militer Lanud TNI AU.Namun, untuk runway masih tetap menggunakan milik TNI AU.

    Pihak TNI khawatir,dengan adanya penambahan pesawat tempur baru di pangkalannya nanti akan membuat kepadatan pesawat makin tinggi. Karena itu, kata Novyanto, pihaknya meminta agar pemerintah membangun runway pararel untuk memudahkan dan melancarkan aktivitas penerbangan militer dan sipil. Pihak TNI AU belajar dari Bandara Juanda Surabaya yang berdampingan dengan bandara milik TNI AL.”Di sana waktu jarak antara pesawat satu dengan lainnya,baik mendarat maupun terbang sudah 1, 2 menit,”ungkapnya.

    Apalagi, katanya, pesawat tempur militer memerlukan latihan dan manuver. Misalnya ketika ada latihan menembak dalam bentuk formasi, saat pesawat landing harus membentuk formasi. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan dan LLAJ Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi mengatakan, pihaknya memahami harapan pihak Lanud TNI AU Abdurrahman Saleh terkait kebutuhan runway pararel. ”Kita memahami dan akan menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah pusat,”ungkapnya.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Kedatangan 16 Super Tucano Menambah Kepadatan Lanud Malang

    Wednesday, December 28, 2011 | 4:38 PM | 0 Comments

    Menhan : Lokasi Penempatan Kapal Selam Baru Belum Ditentukan

    Medan - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah belum menentukan lokasi pemanfaatan tiga kapal selam yang diproduksi di Korea Selatan untuk mendukung kekuatan TNI Angkatan Laut. “Masih dipikirkan lokasi penggunaannya,” katanya ketika tiba di Bandara Polonia Medan, Rabu [28/12] .

    Menurut Menteri Pertahanan (Menhan), pihaknya telah memiliki beberapa pilihan lokasi untuk pemanfaatan tiga kapal selama itu. Namun dalam perkembangan terakhir, pihaknya belum dapat memutuskan lokasi pemanfaatan kapal selam yang masih dalam proses pembahasan tentang mekanisme alih teknologi dalam pengadaan benda tersebut. “Ada beberapa pilihan tetapi belum diputuskan,” katanya tanpa menyebutkan lokasi-lokasi yang menjadi pilihan itu.

    Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu menyatakan, kapal selam yang diproduksi di Korea Selatan tersebut dipilih karena memiliki sejumlah kelebihan dalam mendukung kekuatan TNI Angkatan Laut. “Kapal itu pengembangan lebih lanjut dari jenis U-209,” katanya tanpa menjelaskan lebih rinci.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan, pemerintah Indonesia dan Korea Selatan masih membahas mekanisme alih teknologi dalam pengadaan tiga kapal selam baru tersebut.

    Ketika mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Selasa (20/12), ia mengatakan, proses pengadaan kapal selam tersebut telah selesai pada tahap penentuan produsen dan kontrak. Dalam kontrak tersebut ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

    Proses pengadaan tiga kapal selam tersebut diadakan dari Korea Selatan. Sebelumnya untuk pengadaan kapal selam TNI AL ada beberapa negara yang menjadi pilihan seperti Jerman (U-209), Korea Selatan (Changbogo), Rusia (Kelas Kilo), dan Prancis (Scorpen).

    Setelah melalui tender dan disesuaikan dengan spesifikasi teknis dan kebutuhan operasional serta anggaran yang ada, akhirnya diputuskan pengadaan dilakukan dari Korea Selatan.

    Sumber : Berita Sore
    Readmore --> Menhan : Lokasi Penempatan Kapal Selam Baru Belum Ditentukan

    Dua Pesawat Hawk TNI AU Terbang Rendah Di Danau Toba

    Medan - Dua pesawat jenis Hawk melakukan terbang rendah di kawasan Danau Toba, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), Rabu siang. Atraksi itu merupakan bagian patroli sekaligus suguhan atraksi bagi para pengunjung Pesta Danau Toba (PDT) yang tengah berlangsung.

    Kedua pesawat sempat melintas di atas Open Stage Parapat, pusat penyelenggaraan PDT 2011 sebanyak lima kali dengan terbang rendah. Pesawat mengelilingi kawasan Danau Toba kemudian menjauh pergi. Deru suaranya yang keras sempat menarik perhatian warga yang sedang menyaksikan pagelaran tari daerah.

    Salah seorang warga, Ferdinan mengatakan, pesawat tempur nyaris tidak pernah terbang rendah melintas di atas Danau Toba. Atraksi dua pesawat tersebut merupakan pengalaman pertama yang menyenangkan bagi dia.

    "Suaranya kuat dan terbang rendah. Saya baru pertama kali melihat ini," kata Ferdinan.

    Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudnas) III, Marsekal Pertama, Bonar Hutagaol menyatakan, kedua pesawat tersebut memang sengaja melintas rendah di sekitar Danau Toba. Pesawat-pesawat itu tengah melakukan patroli dalam perjalanan pulang lewat di atas Danau Toba.

    "Jadi, combine-lah, ya sekalian patroli ya sekalian atraksi bagi masyarakat yang sedang menghadiri Pesta Danau Toba," kata Hutagaol kepada wartawan di Medan.

    Disebutkan Hutagaol, kedua pesawat itu, masing-masing jenis Hawk 109/209 merupakan bagian dari Skuadron Udara 12 Pekan Baru, yang tengah melakukan kegiatan patroli. Kegiatan itu berlangsung 26-30 Desember mendatang.

    Patroli udara itu untuk memantau wilayah udara perbatasan Indonesia-Malaysia khususnya di kawasan perairan Selat Malaka dan daerah-daerah lain yang berada di Pulau Sumatera, mulai dari Sabang hingga Sibolga.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Dua Pesawat Hawk TNI AU Terbang Rendah Di Danau Toba

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.