ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, June 11, 2011 | 3:37 PM | 0 Comments

    TNI AU Akan Diperkuat Lima Hercules Baru

    Jakarta - Sebanyak lima unit pesawat angkut C-130 Hercules akan segera memperkuat TNI Angkatan Udara, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Jakarta, Sabtu.

    Ditemui ANTARA usai memimpin serah terima jabatan Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I, Kasau Marsekal Imam Sufaat mengatakan lima pesawat angkut C-130 itu akan tiba di Indonesia dalam dua tahun mendatang secara bertahap.

    "Kami membutuhkan sembilan pesawat Hercules, dalam dua tahun ini semoga bisa dipenuhi lima dulu. Dengan penambahan sembilan unit itu, maka TNI Angkatan Udara akan memiliki 30 unit," katanya.

    Ketigapuluh unit Hercules itu, lanjut Imam terdiri atas pesawat tanker sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional untuk mengangkut dua batalyon sebanyak 26 unit.

    Ia menuturkan, untuk memenuhi sembilan unit Hercules ke depan maka pihaknya telah menjajaki beberapa tawaran dari beberapa negara.

    "Dari beberapa tawaran itu, kami pilih yang terbaik," kata Kasau.

    Hingga kini setidaknya tiga negara yang menawarkan hibah pesawat angkut C-130 Hercules kepada Indonesia, seperti Amerika Serikat, Australia dan Norwegia.

    Pemerintah Amerika Serikat dan Australia menawarkan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe E dan J dengan potongan harga khusus kepada pemerintah Indonesia pada 2012.

    Enam Hercules hibah dari AS itu merupakan pesawat yang sebelumnya diperuntukkan bagi tiga negara di Asia dan Afrika. Namun, semua sebelum dihibahkan ke Indonesia telah mengalami perbaikan dan modifikasi.

    AS menjanjikan bantuan pengadaan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dan J untuk Indonesia. Bantuan berupa potongan harga dengan menggunakan fasilitas Foreign Military Financing (FMF) dan bantuan suku cadang bagi pesawat angkut berat Hercules.

    Sementara Pemerintah Norwegia menawarkan empat unit pesawat angkut C-130 Hercules tipe H kepada Indonesia, yang telah digunakan Angkatan Udara Norwegia.

    Sebelum dihibahkan, Norwegia sepakat untuk melakukan peremajaan terlebih dulu atas biaya mereka. Empat unit Hercules tipe H yang ditawarkan tersebut keseluruhannya bernilai 66 juta dolar AS.

    Sedangkan Australia menawarkan Hercules Tipe J, sesuai hasil kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara Australia pada awal 2011, maka Australia akan segera menyerahkan hibahnya kepada Indonesia.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI AU Akan Diperkuat Lima Hercules Baru

    KSAU: Pelanggaran Wilayah Terus Meningkat

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengemukakan, kegiatan pelanggaran wilayah baik di darat, laut maupun udara meningkat.

    "Meski berdasar analisa intelijen dalam beberapa waktu ke depan tidak akan ada invasi terbuka, namun pelanggaran wilayah makin meningkat baik di darat, laut maupun udara," katanya, saat memimpin upacara serah terima jabatan Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) I di Jakarta, Sabtu.

    Imam mengatakan, pelanggaran wilayah itu disertai dengan aksi pencurian sumber daya alam baik di darat maupun di laut.

    "Pembalakan liar, pencurian ikan marak terjadi di wilayah kita. Karena itu. Berbagai bentuk pelanggaran wilayah disertai kegiatan ilegal seperti pencurian ikan tersebut dapat menjadi potensi konflik bagi dua negara atau beberapa negara," katanya.

    Terkait itu, lanjut Imam, sebagai salah satu komando utama yang bertugas menegakkan kedaulatan di udara dan mendukung kedaulatan negara di laut dan darat, Koopsau I harus terus melaksanakan peran dan tugas pokoknya dengan maksimal.

    Kasau mengakui, untuk melaksanakan peran dan tugas pokoknya secara maksimal masih terkendala terbatasnya tingkat kesiapan alat utama sistem senjata karena anggaran yang terbatas.

    "Namun, bukan berarti dengan keterbatasan itu, jajaran Koopsau I tidak dapat melakukan tugas pokoknya dan perannya. Diperlukan manajemen yang baik yang dapat mensinergikan potensi SDM, alat utama sistem senjata dan lainnya," ujarnya.

    Imam menegaskan, diperlukan kreativitas, inovasi yang realistis untuk menjalankan tugas pokok dan peran Koopsau I secara maksimal dihadapkan pada keterbatasan yang ada.

    Koopsau I yang bermarkas komando di Jakarta menaungi 19 pangkalan udara atau lanud, tiga detasemen, dan 40 pos TNI AU. Wilayah tanggungjawabnya membentang dari Sabang hingga sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Jawa Tengah.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> KSAU: Pelanggaran Wilayah Terus Meningkat

    KSAU: Hibah F-16 Tunggu Keputusan Parlemen AS

    F-16

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan hibah dua skuadron pesawat F-16C/D Fighting Falcon dari Amerika Serikat masih menunggu persetujuan parlemen negara tersebut.

    Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, ia menambahkan, "Semoga pada Agustus mendatang, seluruh proses sudah selesai termasuk persetujuan dari parlemen AS, sehingga pada tahun ini sudah dapat tandatangan kontrak,".

    Kasau melanjutkan,"jika tahun ini sudah dapat ditandatangani kontraknya, maka tahun depan delapan unit pesawat tersebut diharapkan sudah masuk memperkuat TNI Angkatan Udara,`.

    Imam menuturkan pihaknya sudah melakukan pemaparan baik kepada Mabes TNI, Kementerian Pertahanan dan DPR tentang rencana hibah dua skuadron pesawat F-16 tersebut.

    "Bahkan kami juga sudah menyampaikan secara rinci mengapa TNI Angkatan Udara lebih memilih menerima hibah tersebut dibandingkan dengan membeli pesawat serupa berjenis terbaru namun dengan harga lebih mahal. Kita paparkan segala kekurangan dan kelebihannya," ungkapnya.

    F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multiperan yang dikembangkan General Dynamics, yang kemudian diakuisisi oleh Lockheed Martin, AS. Meski pada awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, belakangan telah berevolusi menjadi pesawat multiperan yang tangguh dan amat populer.

    Indonesia pernah memiliki 12 unit F-16 blok 15OCU yang terdiri atas delapan F-16A dan empat F-16B. Namun, anggota Komisi I (Hankam dan Luar Negeri) DPR, Fayakhun Andriadi, mengatakan, Indonesia kini hanya memiliki 10 F-16 model A/B atau F-16 generasi pertama. Indonesia hendak mengembangkannya menjadi satu skuadron penuh dengan berencana membeli enam unit F-16 terbaru model C/D.

    Namun, munculnya tawaran dari AS untuk menghibahkan F-16 kepada Indonesia. AS kini memiliki 24 F-16 C/D yang masih baik dan masih dapat di-retrofit menjadi F-16 C/D terbaru karena AS telah meningkatkan kelas pesawatnya ke F-18.

    Sebelum dihibahkan, AS membantu melakukan retrofit 24 unit pesawat F-16 C/D itu dan "upgrade" 10 unit F-16 A/B milik Indonesia menjadi F-16 generasi terbaru.

    Jika tawaran AS itu diterima, jumlah pesawat F-16 model C/D Indonesia kelak setelah "retrofit" dan "upgrade" akan menjadi 32 unit atau dua skuadron.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> KSAU: Hibah F-16 Tunggu Keputusan Parlemen AS

    Marsekal Pertama TNI Sunaryo Resmi Jadi Pangkoopsau I

    Jakarta - Marsekal Pertama TNI Sunaryo resmi menjabat Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) I menggantikan Marsekal Muda TNI Dede Rusamsi yang akan menduduki jabatan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara.

    Upacara serah terima jabatan Pangkoopsau I dipimpin Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu.

    Marsma Sunaryo merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara 1982 dan sempat menjabat sebagai Komandan Skuadron Udara 7 Kalijati, Subang, Jawa Barat.

    Pria kelahiran Bojonegoro, 14 Juli 1956, itu juga sempat dipercaya menjabat Komandan Pangkalan Udara Jayapura, Komandan Pangkalan Udara Atang Sendjaja, Bogor, dan terakhir sebagai Wakil Gubernur Akademi Angkatan Udara.

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat dalam sambutannya mengatakan, dengan pergantian jabatan Pangkoopsau I, kualitas pelaksanaan peran dan tugas Komando Operasi Angkatan Udara I, semakin meningkat.

    "Sebagai salah satu kotama, Koopsau I memiliki tugas pokok melakukan pembinaan kemampuan dan kesiapsigaan operasional TNI AU dalam menegakkan kedaulatan negara di udara, mendukung penegakkan kedaulatan negara di darat, laut dan udara," katanya.

    KASAU mengakui, keterbatasan anggaran yang berdampak pada tingkat kesiapan alat utama sistem senjata masih menjadi tantangan klasik yang harus dihadapi.

    "Karena itu, sebagai pemimpin Pangkoopsau harus mampu membina dan menumbuhkan daya kreatifitas dan inovasi untuk mengatasi tantangan itu sekaligus mencarikan solusi terbaik untuk mengatasi keterbatasan itu," kata Imam menegaskan.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Marsekal Pertama TNI Sunaryo Resmi Jadi Pangkoopsau I

    Kasum TNI Tinjau Latihan Bersama TNI-Militer China

    Jakarta - Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Suryo Prabowo meninjau langsung pelaksanaan latihan bersama TNI dengan Angkatan Bersenjata China atau People`s Liberation Army (PLA) di Bandung, Jawa Barat, Jumat.

    Ia mengatakan, latihan bersama yang baru kali pertama diadakan tidak saja bertujuan meningkatkan keterampilan, kemampuan dan profesionalisme prajurit, namun juga untuk menjalin saling pengertian dan kesepahaman militer kedua negara.

    "Latihan ini tidak semata untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan, akan tetapi bagaimana latihan antara Kopassus TNI AD dan People`s Liberation Army (PLA) China menghasilkan pemahaman, kesetaraan dan manfaat bersama bagi kedua pihak," kata Suryo.

    Latihan bersama tersebut bersandikan "Sharp Knife" dimulai pada 5 hingga 18 Juni 2011 di Pusdikpassus Batujajar.

    Kegiatan itu merupakan wahana untuk mempererat hubungan kedua negara khususnya di bidang militer antara Kopassus dengan PLA China.

    Secara umum, latihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan serta keterampilan anggota Kopassus dan PLA China dalam bidang taktik dan teknik operasi khusus secara perorangan maupun kelompok.

    Tidak itu saja, latihan itu juga bertujuan meningkatkan hubungan kerja sama antara Kopassus dan PLA China.

    Sedangkan sasaran latihan diantaranya adalah mampu melaksanakan teknik dan taktik pembebasan sandera, serbuan rumah ban, praktek penerjunan dan bersosialisasi dengan China melalui olahraga dan pertukaran budaya.

    Materi latihan bersama antara lain meliputi menembak tepat, reaksi, serbuan ruangan, pembebasan sandera di gedung, terjun statik, olahraga dan pertukaran budaya.

    Didampingi Danpusdikpassus Kolonel Inf Santos Gunawan Matondang dan Kepala Tim Koordinasi Latihan PLA China Kolonel Senior Xu Huan Lin, Kasum TNI mengunjungi daerah latihan didahului menerima paparan dari Komandan Latihan Letkol Inf Enoh Solehudin.

    Dalam kesempatan tersebut, Kasum TNI beserta rombongan juga mengecek peralatan latihan yang digunakan.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Kasum TNI Tinjau Latihan Bersama TNI-Militer China

    Bappenas: Pengadaan Alutsista TNI Mengedepankan Skala Prioritas

    Surabaya - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana menegaskan, pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) di lingkungan TNI harus mengedepankan skala prioritas dan memenuhi kebutuhan pokok minimum.

    "Pemerintah memiliki komitmen dalam percepatan pemenuhan MEF (Minimum Essential Forces) tahap pertama dalam jangka waktu lima tahun," katanya kepada wartawan di sela-sela kunjungan kerja ke Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) di Surabaya, Jumat.

    Dalam kunjungan itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas didampingi Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, KSAL Laksamana TNI Soeparno, dan sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan, Bappenas, serta Mabes TNI.

    Armida mengakui masih banyak alutsista yang dibutuhkan untuk mendukung tugas TNI. Namun, anggaran yang diperlukan juga tidak sedikit sehingga harus ada pertanggungjawaban dan berfungsi efektif.

    "Prioritas MEF (Kekuatan Pokok Minimum) alutsista tergantung 'user' (TNI) yang dikoordinasikan dengan Kementerian Pertahanan. Semua harus terintegrasi, termasuk revitalisasi industri pertahanannya," tambahnya.

    Ia menambahkan, kunjungannya ke Koarmatim dan dilanjutkan ke PT PAL bertujuan untuk mengetahui kemajuan dari pencapaian MEF, terkait pengembangan industri pertahanan dalam negeri.

    Menurut Armida, sebagai negara kepulauan, pemerintah sedang berusaha mengimplementasikan program ekonomi jangka panjang, yang salah satu program utama di dalamnya adalah pengadaan alutsista TNI dan juga industri perkapalan.

    "Keduanya harus dikembangkan bersama-sama dengan memperhatikan sejauh mana dampak positif terhadap perekonomian," tambahnya.

    Dalam kesempatan itu, Kepala Bappenas dan rombongan melihat beberapa alutsista milik TNI AL yang dipamerkan di Koarmatim, seperti tank amfibi buatan Rusia, kapal perang KRI Clurit dan KRI Banjarmasin, serta sejumlah peralatan senjata dan amunisi.

    KRI Clurit yang merupakan kapal perang jenis kapal cepat rudal dan baru bergabung di jajaran TNI AL pada akhir April 2011, adalah produksi industri perkapalan dalam negeri PT Palindo Marine, Batam.

    Begitu juga KRI Banjarmasin dari kapal perang jenis "Landing Platform Dock" (LPD) merupakan hasil karya PT PAL dan bergabung di jajaran TNI AL sejak akhir 2010. Sedangkan peralatan senjata dan amunisi produksi PT Pindad.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Bappenas: Pengadaan Alutsista TNI Mengedepankan Skala Prioritas

    Friday, June 10, 2011 | 5:49 PM | 0 Comments

    Menteri PPN Armida S. Alisjahbana Tinjau Alutsista TNI AL

    Surabaya - Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengunjungi Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Ujung Surabaya. Di markas Koarmatim ini, Armida mendapat pemaparan mengenai kekuatan pokok minimum atau Minimum Essential Forces (MEF).

    Menteri PPN Kepala Bappenas tiba di Koarmatim dan langsung disambut oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhatono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto serta Dankormar Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin di Ruang Longue Majapahit, Jumat (10/6/2011).

    Di dalam ruangan tersebut Menteri PPN/Kepala Bappenas beserta rombongan mendengarkan paparan tentang kekuatan pokok minimum atau Minimum Essential Forces (MEF) yang disampaikan oleh Waasrena Kasal Laksamana Pertama TNI Agung Pramono.

    Kunjungan Kerja Menteri PPN/Kepala Bappenas dilanjutkan meninjau Tank BMP-3F milik Korps Marinir yang baru dibeli tahun 2010 sebanyak 17 unit, KRI Clurit-641 yang dibuat oleh PT Palindo Marine Industry Tanjung Guncang Batam dan KRI Banjarmasin 592 yang bersandar di Dermaga Ujung Koarmatim, serta meninjau Alutsista dari perlengkapan dan sarana TNI AL yang digelar di Dermaga Koarmatim Surabaya.

    Turut Hadir dalam acara tersebut Aslog Panglima TNI, Danguspurlatim, Asrena Kasal, Aslog Kasal, Danpasmar-1 serta para pejabat TNI lainnya.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Menteri PPN Armida S. Alisjahbana Tinjau Alutsista TNI AL

    Komisi I DPR : Bahas Hibah F16 dari Amerika Serikat

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf, mengungkapkan, pihaknya sedang membahas beberapa usulan pemerintah di bidang pengembangan alat utama sistem persenjataan, termasuk hibah pesawat tempur jenis F-16 dari Amerika Serikat.

    "Termasuk adanya hibah pesawat militer jenis F-16 dari USA yang membutuhkan biaya cukup besar," kata dia, Jumat. Selain itu, kata Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antarparlemen (BKSAP) DPR RI ini, pembahasan mengenai pendidikan dan latihan militer bersama serta kebutuhan-kebutuhan di bidang pertahanan lainnya.

    "Dalam rapat dengar pendapat (RDP) awal pekan ini dengan Menteri Pertahanan (Menhan), kami akan mendalami Rencana Anggaran Kementerian dan Lembaga Negara (RAKL) yang diajukan pemerintah (melalui Kementerian Pertahanan), belum mengambil keputusan apa-apa," ujarnya.

    Dia meluruskan pernyataan Menhan Purnomo Yusgiantoro seolah pemerintah sudah mengajukan anggaran pertahanan sebesar Rp80 triliun, lalu dirasionalisasikan dalam pembahasan di DPR RI (Komisi I) menjadi hanya Rp61 Triliun.

    "Sesuai dengan amanat Undang-Undang MD3 bahwa satuan tiga dibahas mitra dengan komisi di DPR RI. Maka kami akan membahas secara detil tentang kebutuhan-kebutuhan Kemenhan, khususnya prioritas mengenai penyediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista)," kata Nurhayati Ali Assegaf.

    Sumber: REPUBLIKA
    Readmore --> Komisi I DPR : Bahas Hibah F16 dari Amerika Serikat

    TNI AD Dan US Army latihan bersama di Bogor

    TNI AD Dan US Army Sedang Melakukan Latihan Bela Diri.

    Jakarta - TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Darat Amerika Serikat (USARPC) melakukan latihan bersama dengan nama Garuda Shield 2011.

    Latihan ini dibuka oleh Direktur Latihan Kodiklat AD, Brigjen TNI Mulyono dan Komandan Pelaksana Komando Misi 9 AD Amerika Serikat Brigjen Michell Compton, di Pusat Pendidikan Zeni AD, Jalan Sudirman 39, Bogor, Jawa Barat.

    "Sebanyak 130 personel US Army yang terdiri beberapa kesatuan. Diantaranya Garda Nasional dan elemen yang tergabung dalam latihan Garuda Shield 2011 ini," kata Publik Affair Komando Misi ke-9 US Army, Captaian Cristina Douglas.

    Menurut Cristina, tujuan latihan bersama ini untuk memperkuat hubungan US Army dan TNI AD yang sudah kelima kalinya melakukan latihan bersama.

    "Bahwa US Army mengadakan latihan bersama bukan hanya dengan Indonesia, tapi banyak sekali di seluruh negara," ujar Christine.

    Sumber: PRIMAIRONLINE
    Readmore --> TNI AD Dan US Army latihan bersama di Bogor

    Laut Cina Selatan Picu Konflik China Dan Vietnam


    Jakarta - Ketegangan dua negara terjadi di Laut China Selatan. Vietnam menuduh China menyabot kapal survei gempa mereka. Sebaliknya China memperingatkan negara-negara tetangganya, termasuk Vietnam, agar tidak coba-coba mencari sumber daya alam di wilayah yang masih mereka sengketakan.

    Menurut harian The Wall Street Journal, Kementerian Luar Negeri Vietnam pada Kamis 9 Juni 2011 mengungkapkan kapal survei mereka diganggu kapal penangkap ikan dan dua kapal patroli China pada hari yang sama. Kapal-kapal China itu dituduh telah memotong kabel yang dipasang oleh tim survei gempa bumi dari kapal yang dioperasikan perusahaan minyak milik pemerintah Vietnam, PetroVietnam.

    Peristiwa itu berlangsung di suatu kawasan di Laut China Selatan. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Nguyen Phuong Nga, insiden itu terjadi di wilayah kedaulatan mereka.

    Kejadian yang sama berlangsung dua pekan lalu. Vietnam saat itu menuding kapal patroli China memotong kabel yang dipasang kapal survei mereka. Peristiwa itu berlangsung di dalam zona ekonomi eksklusif Vietnam, yang berjarak 200 mil laut dari garis pantai negara itu.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung Rabu lalu menyatakan bahwa klaim negaranya atas sebagian wilayah maritim di Laut China Selatan tidak bisa diganggu gugat.

    China pun membantah klaim Vietnam. Menurut Duta Besar China untuk Filipina, Liu Jianchao, pernyataan Vietnam itu tidak beralasan. Liu justru curiga bahwa Vietnam melakukan muslihat untuk mencari sumber daya alam di Laut China Selatan.

    Maka, Liu memperingatkan kepada Vietnam dan negara-negara pesisir Laut China Selatan agar tidak coba-coba eksplorasi minyak mentah dan gas alam di kawasan yang tengah dipersengketakan.

    "Kami menyerukan pihak-pihak lain untuk berhenti mencari sumber daya alam di wilayah yang turut diklaim China. Kami tidak akan bertindak kecuali bila diserang," kata Liu.

    Selain China dan Vietnam, wilayah-wilayah pesisir Laut China Selatan yaitu Filipina, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Kamboja, Taiwan, dan Thailand. Lautan itu diyakini kaya dengan ikan dan sumber daya alam.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> Laut Cina Selatan Picu Konflik China Dan Vietnam

    Pengiriman Pasukan TNI Buktikan Indonesia Ciptakan Ketertiban Dunia

    Jakarta - Pengiriman prajurit-prajurit TNI ke berbagai wilayah konflik menunjukkan Indonesia berperan aktif dalam menciptakan ketertiban dunia sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

    Demikian salah satu butir paparan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di hadapan sekitar 200 peserta Konferensi dengan tajuk "Regional Architecture in Southeast Asia" yang diadakan Royal Higher Institute for Defense, Kementerian Pertahanan Belgia dan KBRI Brussel di Brussel, Belgia baru-baru ini.

    Purnomo adalah menteri pertahanan pertama yang memberikan kuliah umum di lembaga pemikir atau"think tank" hankam Belgia ini, demikian Sekretaris III Penerangan, Sosial Budaya dan Diplomasi Publik KBRI Brussel, Punjul Nugraha kepada Antara London, Jumat.

    Punjul Nugraha menjelaskan pada konferensi itu Purnomo Yusgiantoro menekankan bahwa dunia yang aman, tertib dan damai merupakan tanggung jawab semua bangsa, dan Indonesia telah menekankan prinsip tersebut sejak kemerdekaannya.

    Bukti konkret peran itu adalah keikutsertaan Indonesia pada berbagai pasukan pemelihara perdamaian dalam kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa, melalui pengiriman kontingen Garuda yang telah dimulai sejak 50 tahun lalu.

    Purnomo juga menggarisbawahi bahwa letak Indonesia sangat strategis dalam memainkan peran pemeliharaan keamanan kawasan, utamanya keamanan laut di perairan Indonesia dan sekitarnya yang vital bagi kelancaran perdagangan dunia.

    Sejumlah peserta menyatakan penghargaan mereka atas peran dan sumbangan Indonesia dalam pengamanan Selat Malaka dan Selat Singapura, serta pengiriman misi penjaga perdamaian di berbagai belahan dunia.

    Menhan menggarisbawahi tantangan dan potensi ancaman terhadap keamanan Indonesia baik yang datang dari luar maupun dari dalam, serta prioritas strategi dalam mengatasinya.

    Menhan juga menggarisbawahi situasi terkini di ASEAN, termasuk perkembangan di perbatasan Thailand dan Kamboja, serta peran ASEAN dalam meredam ketegangan di kawasan itu.

    Prioritas kerja sama yang telah ditetapkan di ASEAN mencakup keamanan kelautan, penanggulangan terorisme, kesiapsiagaan dan tanggap darurat menghadapi bencana, serta pengembangan kerja sama operasi misi perdamaian.

    Selama di Belgia, selain menjadi pembicara di Konferensi, Purnomo Yusgiantoro juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Belgia, Pieter de Crem dan Ketua Komite Militer Uni Eropa, Jenderal Hakan Syren serta bertemu dengan beberapa wakil dari kalangan industri strategis Belgia.

    Dubes RI di Brussel, Arif Havas Oegroseno mengatakan kehadiran Menhan Purnomo Yusgiantoro di Brussel memiliki arti penting, salah satunya, adalah sebagai bentuk pengakuan Eropa atas peran Indonesia dalam menciptakan dan memelihara perdamaian dunia.

    Dubes Arif Havas Oegroseno menjelaskan diterimanya Purnomo Yusgiantoro oleh Menhan Belgia dan pejabat tinggi di Uni Eropa merupakan momentum untuk meningkatkan rasa saling percaya antara kedua pihak pada isu pertahanan dan keamanan yang sensitif, demikian Dubes Havas.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Pengiriman Pasukan TNI Buktikan Indonesia Ciptakan Ketertiban Dunia

    Bandara Timika Belum Bisa Didarati Pesawat Sukhoi TNI AU

    Pesawat Sukhoi TNI AU Sedang Melakukan Landing.

    Timika - Landasan pacu pada Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika, Papua, hingga saat ini belum bisa didarati pesawat tempur Sukhoi.

    Panglima Komando Operasi TNI AU II Marsekal Muda (Marsda) R Agus Munandar kepada wartawan di Timika, Kamis (9/6/2011), mengatakan, untuk bisa didarati pesawat Sukhoi, landasan pacu Bandara Timika harus dilapis ulang (overlay) agar lebih licin.

    Sehubungan dengan itu, Agus mengatakan bahwa jajarannya telah meminta PT Freeport Indonesia untuk mengupayakan lapis ulang landasan pacu tersebut.

    "Melalui Komandan Lanud Timika, kami sudah meminta Freeport untuk memperbaiki landasan yang masih kasar supaya lebih licin lagi. Kalau soal panjang, itu tidak jadi masalah karena landasan Bandara Timika memiliki panjang 2.500 meter, sementara pesawat Sukhoi mampu mendarat di landasan minimal 2.000 meter," urai Agus.

    Ia mengatakan, lapis ulang landasan pacu Bandara Timika sangat penting mengingat pada Februari 2012, TNI AU berencana mengoperasikan radar pertahanan udara di Timika. Radar pertahanan udara itu nanti memiliki kemampuan deteksi 180 hingga 250 notikal mile.

    Sebelum radar pertahanan udara Timika beroperasi, rencananya pesawat Sukhoi akan terbang dari Bandara Timika ke arah Laut Arafura di selatan Papua guna menguji kemampuan radar pertahanan udara tersebut.

    Saat ini TNI AU baru memasang dua radar pertahanan udara untuk melindungi wilayah Papua, yakni di Biak dan Merauke, yang baru diresmikan pada bulan Maret lalu.

    Selain di Timika, TNI AU juga akan menempatkan radar pertahanan udara di Saumlaki, Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

    Sesuai perencanaan dari Mabes TNI AU, dalam beberapa tahun ke depan akan dibangun lagi empat radar pertahanan udara, yakni di Tambulaka, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Poso di Sulawesi Tengah, Jayapura, dan Singkawang di Kalimantan Barat.

    "Saat ini sistem pertahanan udara kita di wilayah timur Indonesia sudah semakin baik karena didukung pembangunan sejumlah radar dengan prioritas daerah perbatasan," ungkap Agus.

    Ia mengatakan, selama ini, satu dari 10 pesawat Sukhoi yang ditempatkan di Skuadron Bandara Hasanuddin, Makassar, setiap saat melakukan pengawasan hingga ke wilayah Papua, termasuk ke wilayah perbatasan dengan negara tetangga terdekat, seperti Papua Niugini dan Australia.

    Agus menambahkan, radar pertahanan udara yang akan ditempatkan di Timika nantinya akan dikoneksikan dengan radar sipil sebagaimana di tempat lain.

    Dalam kunjungan kerja ke Timika beberapa waktu lalu, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan sedikitnya 32 radar pertahanan udara yang ditempatkan di semua wilayah, mulai dari Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua.

    KSAU mengatakan bahwa saat ini Indonesia baru memiliki 17 radar pertahanan udara. "Kita membutuhkan minimal 32 radar. Sekarang baru 17 radar. Jadi, masih sangat kurang," katanya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Bandara Timika Belum Bisa Didarati Pesawat Sukhoi TNI AU

    Thursday, June 9, 2011 | 8:15 PM | 0 Comments

    Dua Pesawat C-17 Globemaster II USAF Mendarat Di Pekanbaru Dalam Rangka Latma Pasific Angle

    Pekanbaru - Dua pesawat jenis Boeing C-17 Globemaster III dari USAF mendarat di Lanud Pekanbaru. Pesawat membawa 120 personel dan alat berat berupa mobil besar serta kelengkapan peralatan lainnya. Kedatangan pesawat di bumi Lancang Kuning tersebut berkaitan dengan rencana pelaksanaan latihan bersama antara TNI dengan USAF, membawa misi kemanusiaan. Latihan bersama yang bertajuk “Pasific Angle Exercise” tersebut akan digelar pada tanggal 12 – 17 Juni mendatang di desa Kampar Kiri Hilir Kabupaten kampar.

    Agenda Kegiatan yang dilaksanakan adalah bakti sosial dengan pengobatan massal, rehab SMP 2 Kampar, SMA 1 Kampar, dan pembangunan menara air puskesmas Perhentian Raja, Kampar. Adapun personel yang terlibat di Pacific Angel Exercise selain Indonesia dan Amerika, ada juga dari Bangladesh, Singapura dan Timor Leste yang akan mendirikan rumah sakit lapangan.

    Selain agenda bersama dan kerjasama tahunan, latihan bersama yang melibatkan beberapa Negara tersebut juga bertujuan meningkatkan hubungan baik antar beberapa Negara.

    Sumber: TNI AU
    Readmore --> Dua Pesawat C-17 Globemaster II USAF Mendarat Di Pekanbaru Dalam Rangka Latma Pasific Angle

    TNI AL Dan AL Korsel Jajaki Latihan SAR Kapal Selam

    Jakarta - TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) sepakat menjajaki latihan bersama SAR kapal selam, untuk meningkatkan profesionalisme dan ketrampilan prajurit matra laut kedua negara.

    Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Tri Prasodjo ketika dikonfirmasi ANTARA News di Jakarta, Kamis, mengatakan kerja sama dan latihan bersama kedua angkatan laut selama ini telah berjalan baik.

    "Semua bentuk kerjasama dan latihan bersama, dibahas rutin dalam forum navy to navy talk angkatan laut kedua negara, salah satu yang disepakati untuk dijajaki adalah latihan bersama SAR kapal selam," ungkapnya.

    Selain latihan bersama, kedua angkatan laut juga melakukan kerja sama bidang pendidikan dan saling kunjung perwira, kata Tri menambahkan.

    Dialog antar-angkatan laut kedua negara dilakukan dua hari sejak Rabu, dihadiri Asisten Operasi Angkatan Laut Korsel Laksamana Muda Kim Kyung-sik.

    Sebelumnya, Kyung Sik melakukan kunjungan kehormatan kepada Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.

    Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan kerjasama militer kedua negara di bidang latihan, operasi, dan pendidikan dapat terus ditingkatkan pada masa mendatang.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI AL Dan AL Korsel Jajaki Latihan SAR Kapal Selam

    China Akan Segera Memiliki Kapal Induk Pertamanya

    Beijing - China patut mendapatkan acungan dua jempol ke atas. Pasalnya, sebentar lagi, Negeri Tirai Bambu itu akan memiliki kapal induk pertamanya.

    Kendati begitu, sebagaimana warta AP dan AFP pada Rabu (8/6/2011), kapal induk dimaksud sejatinya adalah kapal induk yang belum kelar sepenuhnya dibangun. Varyag namanya.

    Kapal yang diluncurkan pada 4 Desember 1998 itu tadinya milik Uni Soviet. Kapal tersebut dihentikan pembangunannya pada 1992. Kala itu, Varyag memang tergerus oleh runtuhnya Uni Soviet. Alhasil, Uni Soviet pun menyerahkan kapal tersebut kepada Ukraina. Soalnya, Ukrainalah yang memang jadi basis pembangunan kapal kelas Admiral Kuznetsoz ini. Seturut catatan, kapal induk itu belum rampung pengerjaan kelengkapan elektroniknya.

    Ternyata juga, Ukraina tengah bokek alias kehabisan uang. Varyag kemudian dilelang. Seusai menebus banderol lelang sebesar 20 miliar dollar AS, China pun boleh membawa pulang Varyag.

    Informasi terkini, Varyag kemudian dituntaskan pembangunannya di galangan Dalian, China. Kapal itu dicat abu-abu, khas Angkatan Laut (AL) China. Nama Shi Lang kemudian menjadi nama baru pengganti Varyag. Pada Oktober 2010 AL China menerima Shi Lang dalam jajarannya.

    Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata China Jenderal Chen Bingde membenarkan kalau pihaknya memang bersegera mengoperasikan Shi Lang. Sejatinya, pembangunan kapal induk tersebut adalah proyek rahasia China.

    Kemudian, Letnan Jenderal Qi Jiangua, asisten kepala staf, mengatakan kepada koran Commercial Daily, bahkan jika kapal induk tersebut digunakan, kapal itu sudah pasti tidak akan berlayar ke wilayah perairan negara lain. "Semua bangsa besar di dunia memiliki kapal induk mereka sendiri. Itu adalah simbol kebesaran sebuah bangsa," kata Qi, seperti dikutip oleh koran tersebut.

    China saat ini memiliki masalah perbatasan lautnya dengan beberapa negara tetangga. Akan tetapi, Letjen Qi mengatakan, China selalu mengikuti prinsip-prinsip bertahan untuk strategi militernya. "Akan lebih baik bagi kami jika kami bertindak lebih cepat dalam memahami samudra dan memetakan kemampuan maritim kami lebih dini," kata Qi Jianghua.
    "Kami sekarang menghadapi tekanan besar di beberapa samudra, apakah itu di Laut China Selatan, Laut China Timur, Laut Kuning, atau Selat Taiwan," kata Qi Jiangua merujuk ke perairan-perairan yang diperebutkan China dengan negara-negara tetangga.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> China Akan Segera Memiliki Kapal Induk Pertamanya

    Komisi I DPR : Peluang Pembelian Pesawat Sukhoi Masih Terbuka

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR Muhammad Najib mengatakan, masih terbuka opsi pengadaan pesawat tempur Sukhoi dari Rusia untuk penambahan alutsista bagi TNI AU, meski dikabarkan saat ini Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah mencapai kesepakan untuk pembelian 16 pesawat T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan. Sebab, sepengetahun Komisi I DPR, kontrak pengadaan pesawat T-50 dari Korsel itu baru tahap awal, belum final.

    "Komisi I DPR sejauh ini belum pernah diajak pembahasan pengadaan satu skuadron pesawat T-50 dari Korsel sehingga keputusan pengadaan pesawat tersebut belum belum final karena DPR belum menyetujuinya," ujar Najib kepada Jurnalparlemen.com, Kamis (2/6).

    Bahkan, kata Najib, masih terbuka juga peluang atas tawaran 24 unit hibah pesawat F-16 bekas dari Amerika Serikat (AS). Mengingat sampai saat ini semua opsi pengadaan pesawat tempur untuk mendukung kekuatan alutsista TNI AU semuanya belum disepakati DPR dan Pemerintah.

    Menurut Najib, memang sebagian besar anggota Komisi I DPR menyarankan agar Kemhan kembali membeli pesawat Sukhoi dari Rusia untuk melengkapi jumlah pesawat tersebut yang dimiliki TNI AU menjadi satu skuadron. Terlebih kerja sama pembelian pesawat tempur dengan Rusia selama ini relatif mudah. Ini berbeda dengan negara lain yang menyertakan sejumlah persyaratan ketat dan cenderung membebani Indonesia.

    "Rusia selama ini telah menyediakan anggaran kredit ekpor bagi Indonesia dalam pengadaan alutsista dari Rusia sebesar satu miliar dolar AS. Kredit ekspor dari Rusia itu selama ini baru terpakai 30 persennya sehingga Indonesia masih banyak memiliki kesempatan untuk membeli berbagai alutsita dari Negeri Beruang Merah itu dengan memanfaatkan kredit ekspornya, termasuk dalam pembelian pesawat tempur Sukhoi," tegasnya.

    Mantan Sekretaris F-PAN DPR RI ini menjelaskan, selama ini kecenderungannya Komisi I DPR juga mendorong Kemhan untuk membeli pesawat tempur yang dalam kondisi baru, serta dari negera yang tidak memiliki catatan buruk pada Indonesia, khususnya soal embargo persenjataan.

    Dikabarkan, Korea Selatan akan segera merealisasikan pesanan 16 jet tempur T-50 Golden Eagle pada 2013. Itu menyusul penandatanganan kontrak pengadaan pesawat senilai 400 juta dolar AS dengan Pemerintah Indonesia pada pekan lalu.

    Sumber: JURNAL PARLEMEN
    Readmore --> Komisi I DPR : Peluang Pembelian Pesawat Sukhoi Masih Terbuka

    Wednesday, June 8, 2011 | 7:52 PM | 0 Comments

    Pesawat N 219 Buatan PT DI Kebanjiran Peminat

    Pesawat N-219 Buatan PT DI.

    Jakarta - Pesawat terbang komuter N-219 banyak diminati sejumlah pemerintah daerah. Padahal pesawat jenis ini baru memasuki tahap pembuatan prototipe. "Mereka tertarik membeli untuk transportasi penghubung antarkabupaten kota," kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011.

    Sedikitnya ada 40 pemerintah daerah tingkat kabupaten dan kota yang berminat membeli N-219. Minat para calon pembeli terungkap dari hasil muhibah bisnis Kementerian Perindustrian di sejumlah daerah. "Mereka bisa membeli pesawat itu sendiri atau dengan menggandeng maskapai lokal untuk penerbangan terjadwal ataupun carter," kata Budi.

    Sekitar 300 insinyur diterjunkan untuk mengembangkan N-219. Pesawat ini memakai dua mesin, yang masing-masing berkekuatan 8.50 HP. Komponen lokal mencapai 70 persen. Sisanya berupa mesin dan sistem avionik dipasok dari impor. Saat ini PT Dirgantara Indonesia berhasil membuat 3 jenis pesawat: NC-212, CN-235, dan N-250.

    Pesawat yang dirancang PT Dirgantara Indonesia itu memiliki kapasitas 19 kursi. Pengadaan N-219 sudah mendesak karena pesawat di kelas itu banyak yang berusia 20 tahun sehingga perlu segera diganti. Nantinya pesawat perintis berusia uzur dapat diganti dengan N-219. Pengembangan N-219 menjadi bagian dari program restrukturisasi PT Dirgantara.

    Menurut Budi, Kementerian Perindustrian masih mempersiapkan detail teknis dan desain prototipenya. Pembuatan prototipe pesawat membutuhkan dana sekitar Rp 300 miliar. Tahun ini Kementerian Perindustrian sudah mengajukan anggaran untuk 2012 bagi pengembangan N-219 sebesar Rp 59 miliar. Ditargetkan prototipe pesawat N-219 mampu terbang pada 2014.

    Pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang mengatakan tipe N-219 sangat cocok untuk daerah dengan lapangan udara terbatas. Daerah semacam ini membutuhkan transportasi udara sebagai penghubung wilayah, terutama di Indonesia bagian timur. Menurut Hanna, Indonesia mampu memproduksi pesawat sendiri. "Tapi hasilnya tetap perlu dikaji kelayakannya," katanya.

    Dengan memproduksi sendiri, kata Hanna, biaya pengadaan pesawat tersebut bakal jauh lebih murah ketimbang membelinya dari negara lain. "Jelas lebih murah membikin sendiri daripada membeli. Apalagi kita memang sudah mampu memproduksinya," katanya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Pesawat N 219 Buatan PT DI Kebanjiran Peminat

    Indonesia Membeli Pesawat Kepresidenan Seharga $ 58 Juta Dollar

    Pesawat Boeing Business Jet 2.

    Jakarta - Tak lama lagi Indonesia akan mempunyai pesawat kepresidenan sendiri. Pemerintah telah menemukan kata sepakat dalam penentuan harga pesawat dengan Boeing, produsen pesawat asal AS. Pesawat Boeing Business Jet 2 ini akan dibeli pemerintah dengan harga USD 58 juta.

    "Kami berhasil menegosiasi USD 58 juta dari USD 62 juta," kata Mensesneg Sudi Silalahi dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (8/6/2011). DPR sebelumnya sudah menyetujui pengadaan pesawat kepresidenan.

    Saat ini, Sudi sudah membuat surat kepada Menteri Keuangan untuk pengadaan green aircraft. "Sudah ditandatangai persetujuannya 27 Desember 2010 yang lalu," kata Sudi.

    Dengan telah disepakatinya harga, maka pesawat ini akan mulai dirakit tahun 2012 dan diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2013.

    "Tim teknis sedang mempersiapkan desain interiornya," ucapnya.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Indonesia Membeli Pesawat Kepresidenan Seharga $ 58 Juta Dollar

    Roda Pesawat TNI AU Patah Saat Tergelincir

    Pesawat tempur, Hawk 200 milik TNI AU tergelincir di Pekanbaru.

    Pekanbaru - Pesawat tempur milik TNI AU yang tergelincir di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, sudah ditarik ke base Lanud.

    Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Pekanbaru, Bowo Budiarto menjelaskan kecelakaan terjadi akibat kesalahan teknis pada rem. "Sistem rem tidak berfungsi dengan baik. Sehingga ketika pesawat mendarat, rem tidak berfungsi dan terjadilah insiden," kata dia kepada wartawan, Rabu 8 Juni 2011.

    Akibatnya, lanjut Bowo, pesawat yang saat itu sedang berada di pertengahan runway, keluar dari jalur sekitar 3 meter. Selain itu, imbuhnya, kecelakaan ini juga menyebabkan roda sebelah kanan belakang patah.

    "Dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa. Pilot pesawat selamat. Sekarang sedang kami dalami kondisi pesawat. Teknisi sedang memeriksanya," tambah Bowo.

    Ia menjelaskan, pesawat Hawk 200 tersebut diterbangkan dalam rangka latihan rutin. Insiden ini sempat membuat Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru tutup.

    "Bandara tutup sekitar pukul 13.00 WIB dan buka kembali sekitar pukul 15.30 WIB," kata Duty Manager Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Sudrajat kepada VIVAnews.com di ruang kerjanya. Sejumlah penerbangan pun terganggu.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> Roda Pesawat TNI AU Patah Saat Tergelincir

    Menristek Dan Polri Kerjasama Dalam Pengembangan Teknologi

    Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi menjalin kerja sama dengan Kepolisian. Kerja sama itu dibuat guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di bidang penegakan hukum.

    "Kerja sama akan melibatkan sejumlah instansi yang berkepentingan dengan program tersebut," ujar Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, usai menandatangani naskah kerja sama di ruang Rupatama Mabes Polri, 8 Juni 2011.

    Beberapa instansi tersebut di antaranya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Tenaga Nuklir Nasional, dan Industri Pertahanan Dalam Negeri. "Termasuk sejumlah kampus, seperti ITB dan ITS," ujar Suharna.

    Kepala Kepolisian RI, Jenderal Timur Pradopo menilai penting kerja sama tersebut. Menurut dia, dukungan iptek merupakan instrumen penyelidikan yang banyak membantu tugas kepolisian. Hal mana tampak dari penggunaan robot pendeteksi bom atau teknologi forensik guna identifikasi korban kejahatan. "Kerja sama ini sebenarnya sudah lama dibuat, khususnya yang menyangkut teknologi tinggi," ujarnya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Menristek Dan Polri Kerjasama Dalam Pengembangan Teknologi

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.