ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Sunday, September 11, 2011 | 7:53 PM | 0 Comments

    Perbatasan Papua Nugini Dan Malaysia Sangat Rawan

    Banjarmasin - Anggota Komisi I DPR-RI dari Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid, menilai perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan Papua Nugini (PNG) adalah yang paling rawan dan mengancam disintegrasi bangsa.

    "Namun kerawanan perbatasan Indonesia dengan dua negara tetangga tersebut berbeda," katanya menjawab ANTARA, usai halal bihalal keluarga besar PKS se Kalimantan Selatan, di Banjarmasin.

    Ia menerangkan, kalau yang menonjol dari perbatasan Indonesia dengan Malaysia adalah soal sosial ekonomi di mann tingkat kesejahteraan rakyat negeri jiran terlebih lebih baik, maka kerawanan perbatasan Indonesia dengan PNG terletak pada segi keamanan.

    Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia harus terus berupaya menghilangkan kerawanan-kerawanan itu, diantaranya lewat pembinaan melalui pemberitaan.

    Dia menilai pemerintah Indonesia harus menambah jaringan dan siaran radioa dan televisi agar daerah-daerah perbatasan bisa menerimanya.

    "Dengan mendengar atau mengetahui siaran radio dan pemberitaan televisi Indonesia, warga perbatasan dapat pula mengetahui bagaimana perhatian serta upaya-upaya pemerintahnya," kata dia.

    Sedangkan pembinaan teritorial dilakukan dengan membuat tentara di daerah-daerah perbatasan menyatu dengan masyarakat setempat.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Perbatasan Papua Nugini Dan Malaysia Sangat Rawan

    Komisi I DPR Menyayangkan Kemhan Beli UAV Dari Israel

    Jakarta - Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyayangkan sikap ketidak terbukaan Kementerian Pertahanan yang membeli pesawat tanpa awak buatan Israel pada masa periode lalu. Meski pembelian pesawat tanpa awak itu dilakukan dengan menggunakan perantara negara ketiga dan tidak menggunakan anggaran APBN.

    "Ya memang dalam kunjungan kerja Komisi I DPR sebelumnya, kami mendapat keterangan soal keberadaan pesawat tanpa awak buatan Israel beberapa unit, yang kini ditempatkan di Pontianak untuk tugas patroli dan pengintaian. Kami sudah cek, memang pengadaannya sepertinya tidak lewat anggaran APBN. Dimana DPR periode lalu pun tidak pengetahui soal pengadaan pesawat tersebut," ujar Mahfudz, pada Jurnalparlemen.com, Minggu (11/9).

    Mahfudz mengatakan, bahwa Kementerian Pertahanan kembali berencana untuk menambah pengadaan pesawat tanpa awak untuk kepentingan yang sama. Namun Komisi I DPR periode saat ini telah mengingatkan dan meminta agar pengadaan pesawat tanpa awak itu tidak dibeli dari Israel lagi, apapun alasan dan dalihnya, karena memang hingga kini Indonesia tidak mengakui negara Israel dan tidak memiliki hubungan diplomatik.

    "Kami (Komisi I DPR) telah menyarankan agar kalaupun harus membeli pesawat tanpa awak dari luar, agar membeli dari Turki misalnya. Di mana kemampuan pesawat tanpa awak Turki itu kini telah setara dengan pesawat yang dioperasikan oleh negara-negara NATO atau bisa membeli dari Korea atau Rusia. Yang penting tidak dari Israel. Kerena itu hanya akan menimbulkan kontroversi di dalam neegeri sendiri nantinya," tegas politisi PKS ini.

    Menurut Mahfudz, sebenarnya di dalam negeri sendiri seperti PI Dirgantara Indonesia juga sudah mampu mengembangkan pesawat tanpa awak. Dimana pesawat produksi PT DI itu juga sudah di pergunakan untuk tujuan yang sama, patroli dan pengintaian. Tinggal kini PT DI meningkatkan kemampuannya, agar pesawat tanpa awat produksi dalam negeri itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan bauatan luar negeri, yaitu tidak mampu terdekteksi dari radar dan mampu juga membawa senjata, untuk kepentingan militer.

    "Sekarang tinggal Kemhan sendiri, mau tidak memaksimalkan membali pesawat produksi dalam negeri sendiri untuk tujuan militer tersebut. Bahwa bebera negara saat ini juga telah bersedia melakukan alih teknologi dengan Indonesia untuk tujuan produksi alutsista tersebut," tegasnya.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Komisi I DPR Menyayangkan Kemhan Beli UAV Dari Israel

    Ketua Komisi I : Sistem Pengadaan Alutsista Harus Diperbaiki

    Jakarta - DPR meminta Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan untuk terus membenahi sistem pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) TNI dalam rangka peremajaan dan modernisasi, yang berasal dari impor. Pasalnya, hingga kini Komisi I DPR masih menemukan kasus-kasus pengadaan alutsista tidak sesuai perencanaan awal.

    “Di dalam pengadaan alutsista, kami masih menemukan perangkat mutahir yang tidak lengkap,” ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com di Jakarta, Sabtu (10/9).

    Sebagai contoh, kata Politisi PKS ini, dalam hal pengadaan pesawat latih T-50 asal Korea Selatan, ternyata belum dilengkapi dengan teknologi canggih seperti radar dan JPS sebagai penunjang dan pelengkapnya.

    “Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Kasus pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia yang dibeli Indonesia pertama kali, tanpa dilengkapi senjata tidak seharusnya terulang kembali. DPR maunya pengadaan alutsista yang dilengkapi dengan perangkat tempur standar,” tegas Mahfudz.

    Dalam waktu dekat ini, Indonesia berencana membeli 16 pesawat T-50 dari Korsel. Menurut laman aircraftcompare.com, harga satuan pesawat ini mencapai US $ 21 juta atau sekitar Rp 179,9 miliar.

    Mahfudz mengatakan, bahwa DPR tetap menekankan bahwa dalam penggunaan peningkatan anggaran Kemenhan 2012 sebesar Rp 61 trilun tetap mengedepannya produksi Alutsista dari dalam negeri. Kalaupun terpaksa harus dari luar negeri, Pemerintah harus menggandeng negara produsen Alutsista yang bersedia mentrasfer teknologinya.

    “Karena itu, sebagian Alutsista yang dibeli, sebaiknyai diproduksi di dalam negeri,” ucapnya.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Ketua Komisi I : Sistem Pengadaan Alutsista Harus Diperbaiki

    Pemerintah Diharapkan Beli Pesawat PT DI Sebesar Rp 9,23 Triliun

    Jakarta - Pemerintah diharapkan menegaskan komitmennya dalam mendorong penggunaan produk dalam negeri pada semua lini, termasuk pada produk pesawat militer.

    Jika pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan, mengalihkan pembelian seluruh anggaran pesawat militernya ke dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia (Persero) yakin dapat menyabet peluang pasar domestik senilai Rp 9,23 triliun.

    "Target itu bisa dipenuhi jika pemerintah punya komitmen memakai produk dalam negeri," demikian kutipan isi dokumen Supplement Business Plan PT DI Tahun 2011-2015 halaman 44 yang diterima Kompas di Jakarta, Minggu (11/9/2011).

    Dokumen ini secara resmi telah dipublikasikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada 8 September 2011.

    Kebutuhan alat utama sistem persenjataan yang dapat dipenuhi PT DI dibagi dalam empat jenis. Pertama, produk pesawat terbang militer tipe CN235 MPA sebanyak 1 unit senilai Rp 350 miliar per unit pada 2012 untuk TNI Angkatan Udara.

    Selain itu, juga bisa dibuatkan CN235 Patroli Maritim sebanyak tiga unit seharga masing-masing 30 juta dollar AS untuk TNI Angkatan Laut. Terakhir, pesawat pengganti F-27 dan NC-212 sebanyak 8 unit senilai 325 juta dollar AS untuk TNI Angkatan Udara tahun 2011.

    Kedua, kelompok helikopter jenis BELL 412 EP tipe serbu sebanyak delapan unit bernilai 85 juta dollar AS pada tahun 2011 dan 2012 lalu BELL 412 EP tipe angkut delapan unit senilai 85 juta dollar AS. Selain itu, bisa juga dibuatkan helikopter jenis Fennec AS-550 sebanyak delapan unit seharga 90 juta dollar AS pada tahun 2011. Ketiganya ditawarkan kepada TNI Angkatan Darat.

    Adapun helikopter yang ditawarkan ke TNI Angkatan Udara adalah helikopter jenis EC-725 Cougar Combat SAR sebanyak enam unit bernilai 200 juta dollar AS dan helikopter NAS-332 Super Puma sebanyak dua unit senilai Rp 370 miliar.

    Sementara helikopter yang ditawarkan kepada TNI Angkatan Laut adalah tiga unit BELL 412 EP angkut sedang senilai 30 juta dollar AS dan satu unit AS-565 Panther AKS sebesar Rp 200 miliar.

    Ketiga, PT DI juga siap menyediakan dua unit SUT Torpedo tipe 364 MKO untuk TNI Angkatan Laut senilai Rp 60 miliar (untuk penjualan tahun 2013-2014). Keempat, PT DI juga bisa menyediakan satu paket simulator terjun payung untuk TNI Angkatan Darat senilai Rp 76 miliar.

    Dengan demikian, total potensi pasar dalam negeri yang ingin digaet PT DI antara 2011-2014 adalah 905 juta dollar AS plus Rp 1,087 triliun. Itu setara Rp 9,23 triliun.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Pemerintah Diharapkan Beli Pesawat PT DI Sebesar Rp 9,23 Triliun

    PT DI Sudah Bisa Produksi C-295

    Jakarta - Pasar internasional membutuhkan sekitar 300 unit pesawat angkut militer kelas menengah hingga tahun 2019. PT Dirgantara Indonesia (Persero) bisa memenuhi kebutuhan dunia itu dengan dua jenis pesawat yang sudah dapat mereka produksi, yakni tipe C295 dan kelas CN235.

    Demikian isi dokumen Supplement Business Plan PT DI Tahun 2011-2015 yang diterima Kompas di Jakarta, Minggu (11/9/2011). Dokumen ini secara resmi telah dipublikasikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada 8 September 2011.

    Perkiraan tentang kebutuhan pesawat militer yang dihitung Douglas Royce menunjukkan bahwa produksi pesawat angkut militer ukuran medium pada satu dekade ke depan diperkirakan mencapai 9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 76,5 triliun. Pesawat yang masuk ke dalam kelas medium ini, antara lain, Alenia Aeronautica C27J, EADS CASA CN235, dan C-295.

    Douglas Royce juga memperkirakan produksi pesawat C-295 hingga 2019 akan mencapai 110 unit. Selain itu, untuk tipe CN-235 diperkirakan akan diproduksi 65-70 unit. Selain untuk alat transportasi, konsumen juga memanfaatkan kedua jenis pesawat tersebut untuk kebutuhan patroli laut.

    Jenis-jenis pesawat dibagi atas tiga kelas. Pertama, kelas alat angkut ringan atau yang memiliki bobot pada saat lepas landas (MTOW) di bawah 20.000 lbs. Kedua, alat angkut medium dengan MTOW 20.000-80.000 lbs. Ketiga, pesawat pengangkut kelas berat dengan MTOW di atas 80.000 lbs. (1 lbs setara 453 gram).

    Perkiraan yang dibuat tahun 2010 menunjukkan bahwa hingga 2019 akan ada 510 pesawat militar kelas berat yang akan diproduksi. Adapun pesawat militer kelas medium akan dihasilkan 300 unit, sedangkan pesawat angkut militer kelas ringan mencapai 90 unit.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> PT DI Sudah Bisa Produksi C-295

    Saturday, September 10, 2011 | 9:56 PM | 0 Comments

    Wamenhan : Indonesia Mantapkan Kerjasama Pertahanan Dengan Eropa

    Jakarta - Indonesia akan memantapkan kerja sama pertahanan dengan tiga negara Eropa, yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol, kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

    Selama ini Indonesia telah memiliki kerja sama pertahanan dengan tiga negara itu, meski masih berjalan parsial, katanya kepada ANTARA News di Jakarta, Sabtu.

    Oleh karena itu, Indonesia dan tiga negara tersebut akan mengakselerasi kesepakatan kerja sama pertahanan agar menjadi payung hukum politik bagi keempat negara dalam kerangka kerja sama pertahanan termasuk di dalamnya kerja sama industri pertahanan.

    "Indonesia dan Jerman serta Indonesia dengan Spanyol, rancangan kesepakatan kerja sama pertahanannya sudah pada tahap pematangan untuk menjadi nota kesepahaman yang akan ditandatangani menteri pertahanan masing-masing negara," ujarnya.

    Rancangan kesepakatan kerja sama antara Indonesia dengan Prancis, menurut dia, masih dalam tahap konsep awal dan akan didalami terus.

    Ia mengatakan dengan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), maka kerja sama antara Indonesia dengan masing-masing negara Eropa itu dapat meningkatkan dan memperluas kerja sama yang sudah berjalan selama ini yang masih parsial.

    Dalam kaitan itulah, Wamenhan akan melakukan kunjungan kerja ke Berlin dan Stuttgard (Jerman), Madrid (Spanyol), kemudian Paris dan Marseille (Prancis) selama sepekan mulai 11 September 2011.

    "Yang jelas, kerja sama yang dijalin tersebut harus didasarkan saling menghormati, menghargai, dan menguntungkan kepentingan nasional," kata Sjafrie.

    Selain memantapkan payung hukum politik kerja sama pertahanan, ia mengemukakan, akan dibahas pula pengembangan kerja sama indsutri pertahanan antara Indonesia dengan tiga negara itu.

    "Kerja sama industri pertahanan yang telah berjalan antara Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan Indonesia dan tiga negara itu akan kami mantapkan pula, agar dapat mendukung kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi nasional," demikian Sjafrie Sjamsoeddin.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Wamenhan : Indonesia Mantapkan Kerjasama Pertahanan Dengan Eropa

    Menhan Korsel Kagum Akan Ketangguhan KRI Dewaruci

    Jakarta - KRI Dewaruci, siapa tidak tahu? Pada L'Armada 2003 di Perancis sebagai misal dia menjadi satu-satunya wakil kapal layar tiang tinggi dari Asia dan Afrika yang hadir di perhelatan maritim internasional dengan peserta puluhan koleganya.

    Bukan main-main untuk bisa ke sana dengan jarak tempuh dan waktu hingga 12.000 mil laut dan berbulan-bulan. Dia bukan kapal baru, buatan 1953 dari Hamburg, Jerman. Bung Karno sangat percaya pada peran ampuh KRI Dewaruci sebagai goodwill ambassador Tanah Air.

    Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Kwan-jin, diberitahu beberapa fakta dari segudang fakta tentang kapal perang non kombatan berkelir putih bersih itu. Kim geleng-geleng kepala mengagumi ketangguhan kapal latih taruna TNI-AL, KRI Dewaruci, yang disaksikan dalam bentuk model berskala.

    "Ini kapalnya pakai mesin? Karena kapal ini sudah melakukan beberapa kali muhibah keliling dunia," katanya. Paling tidak sudah 36 misi pelayaran latih dan navigasi astronomi dilakoni KRI Dewaruci.

    Korea Selatan tidak memiliki kapal layar latih militer sekelas KRI Dewaruci. Dia bertanya kepada Direktur Utama PT PAL, Harsusanto, yang mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Jumat.

    Pertanyaan itu pun dijawab Harsusanto, "Pakai, kapal ini sudah menggunakan mesin." Mendengar itu. Menhan Korsel Kwan-Jin pun berdecak kagum. KRI memang dilengkapi mesin diesel berdaya cuma ratusan tenaga kuda saja sehingga kecepatan maksimalnya pun cuma 11-12 knot per jam. Jika dipadu layar, bisa mencapai 17 knot per jam.

    "Kalian, Indonesia, pasti sangat bangga memiliki kapal ini," kata Kim.

    Kim memang tidak cuma datang untuk mengagumi KRI Dewaruci. Itu cuma bagian saja dari penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pertahanan kedua negara.

    Indonesia memang tengah menjalin kerja sama pertahanan dengan Korea Selatan. Untuk awal, pesawat tempur latih dasar-lanjut, T-50 Eagle, dibeli dari negara itu sekaligus menyisihkan kompetitor Rusia-nya, Yakovlev Yak-130 Mitten.

    Menurut rencana besar pertahanan negara, Indonesia akan merancang dan membangun pesawat tempur sekelas F-16 Fighting Falcon bersama mitra Korea Selatannya itu.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Menhan Korsel Kagum Akan Ketangguhan KRI Dewaruci

    Wamenhan Tinjau Retrofit AMX 13 Oleh Pindad

    Bandung - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Jum’at (9/9) melakukan kunjungan kerja ke PT. Pindad (Persero) dalam rangka melihat secara langsung kesiapan tindak lanjut dari kontrak retrofit kendaraan tempur Tank AMX-13. Dalam peninjauannya Wamenhan berharap kepada PT. Pindad untuk melihat kontrak retrofit tank ini sebagai bagian dari grand strategi menuju kemandirian industri pertahanan, khususnya kemandirian dalam pembuatan tank.

    “Retrofit tank ini perlu dilihat dari suatu kerangka yang makro sebagai bagian grand strategi dalam rangka menuju kemandirian industri pertahanan, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan ini adalah bagian dari pembuatan tank oleh indonesia” ungkap Wamenhan dalam arahannya.

    Turut hadir mendampingi Wamenhan dalam kunjungan tersebut Kabadan Ranahan Mayjen TNI R. Ediwan Prabowo, Dirjen Potensi Pertahanan Kemhan Prof. Dr. Pos M Hutabarat, Direktur Teknik Industri Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Agus Suyarso. Hadir pula beberapa pejabat tinggi di jajaran TNI Angkatan Darat antara lain Waaslog Kasad, Waasrena Kasad dan Komandan Pussenkav V.

    Dalam peninjauannya, Wamenhan yang juga didampingi sejumlah Tim Asistensi Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) tersebut diterima oleh Direktur Utama PT. Pindad (Persero) Adik Avianto Soedarsono.

    Lebih lanjut Wamenhan menekankan kepada seluruh jajaran PT. Pindad mulai jajaran direksi sampai pada jajaran operasional teknis untuk menangkap kontrak retrofit tank ini sebagai tantangan sekaligus juga tuntutan.

    Menurut Wamenhan, apabila PT. Pindad dapat menjawab tantangan dan tuntutan ini maka akan terjadi suatu trush building yang tinggi. Oleh karena itu, trush building quality dan trush building prosuksi hendaknya menjadi cacatan utama.

    Sementara itu, menanggapi penekanan dan arahan dari Wamenhan, Dirut PT. Pindad mengatakan akan berusaha menggunakan segala sumber daya yang ada untuk melaksanakan dengan sebaik – baiknya dan semaksimal mungkin proyek retrofit tank AMX-13 ini.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Wamenhan Tinjau Retrofit AMX 13 Oleh Pindad

    Kemhan : Pengadaan Alutsista Harus Dengan Pertimbangan Potilis Tanpa Syarat Penggunaan

    Jakarta - Indonesia memerlukan tambahan kapal selam untuk memperkuat patroli pengamanan wilayah teritorial laut.

    Kementerian Pertahanan saat ini sedang menyiapkan perencanaan strategi bagi penambahan armada kapal selam itu termasuk di negara mana akan dibuat. "Kami sudah evaluasi teknisnya, menyesuaikan keinginan penggunannya yaitu TNI Angkatan Laut dan dan Kementerian Pertahanan," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Pertama TNI Leonardi usai menghadiri Seminar Pertahanan "Saling Membangun Kerja Sama Industri Pertahanan" di Jakarta, Jumat (9/9).

    Leonardi menambahkan, selain masalah teknis, yang tidak kalah penting adalah mengenai pembiayaan bagi pengadaan kapal selam tadi. Ia juga mengingatkan sisi politis yang bakal ditimbulkan dari pengadaan kapal selam ini. "Embargo harus dijadikan pelajaran. Kemhan sebagai pengambil kebijakan saat pengadaan alutsista harus mengedepankan pengadaan itu dengan pertimbangan politis tanpa syarat penggunaan," katanya.

    Menurutnya, dalam pengadaan kapal selam itu, pengunaannya harus sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa ada tekanan politik. "Politik, anggaran, suku cadang jadi pertimbangan. Kemungkinan-kemungkinan negara mana saja untuk mengawali kemungkinan dari negara-negara yang bersangkutan," tegasnya.

    Sedangkan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno ketika menghadiri peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah di Surabaya, hari ini menjelaskan, pada tahap pertama pembangunan kekuatan alat utama sistem persenjataan, pihaknya mengajukan pengadaan sebesar US$5 miliar, salah satunya pengadaan tiga kapal selam yang selesai pada 2014 mendatang. "Prioritas pertama kapal selam dan helikopter untuk memperkuat kekuatan kita di laut," katanya. Alutsista laut lainnya yang bakal dibeli selain kapal selam adalah kapal perusak dan helikopter antikapal selam.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Kemhan : Pengadaan Alutsista Harus Dengan Pertimbangan Potilis Tanpa Syarat Penggunaan

    Menhan Korsel : Indonesia Kekuatan Baru Pertahanan di Asia

    Jakarta - Menteri Pertahanan Korea Selatan Jenderal (Purn) Kim Kwan-jun menilai, Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara yang diperhitungkan di bidang pertahanan. "Berdasarkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya, Indonesia siap jadi kekuatan besar di kawasan Asia," kata Kwan-jun dalam Seminar Pertahanan “Saling Membangun Kerja Sama Industri Pertahanan” di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (9/9).

    Kim dalam kesempatan itu, menyarankan agar Indonesia memperkuat pertahanan wilayah laut. Hal ini, kata dia, karena secara geografis Indonesia mirip dengan Korea Selatan dan berbatasan dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. "Penguatan industri kapal sudah jadi wajar dan sangat tepat," katanya.

    Dia menuturkan, industri kapal Korea sudah menjadi kelas dunia. Selain itu, Korea sudah mampu membangun pesawat tempur dan kapal perang. Kwan-jun mengatakan, negaranya siap berbagi pengalaman dan ilmu membangun industri pertahanan, khususnya kapal perang dan pesawat tempur dengan Indonesia. "Kerja sama ini akan mendukung peningkatan ekonomi Indonesia dan Korsel," kata Kim.

    Kerja sama RI-Korea sudah berlangsung sejak 2004 dengan membangun kapal Landing Platform Dock (LPD). “Sekarang siap mendukung industri kapal di Indonesia,” tambahnya.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Menhan Korsel : Indonesia Kekuatan Baru Pertahanan di Asia

    Friday, September 9, 2011 | 9:41 PM | 0 Comments

    Dirut Pindad: Pindad Akan Buat Tank Ringan Merujuk Pada K-21 Korsel Dan ACV 300 Turki

    Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat mengembangkan panser dan tank bersama. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman antara PT Pindad dengan Busan Ltd terkait rencana kerjasama itu di Jakarta, Jumat (9/9).

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, PT Pindad dan Busan akan bersama-sama memproduksi panser Anoa Tarantula. "Indonesia akan membuat 11 unit panser Tarantula dan Korea Selatan 11 unit," katanya.

    Dirut PT Pindad, Adik Avianto Soedarsono, mengatakan Anoa Tarantula teknologinya diserap dari Doosan DST. Panser itu akan dipersenjatai kanon 90 mm buatan Belgia. "Kontrak kerjasama pengadaan kendaraan tempur tersebut sudah dilakukan pada 2009 sebanyak 22 unit. Sebanyak 11 unit "built-up" akan segera tiba dari Doosan DST, sedangkan sisanya 11 unit dikerjakan oleh Pindad," ungkap Adik.

    Tak hanya itu, PT Pindad akan mengembangkan kendaraan tempur tank ringan mulai 2014, untuk memenuhi kebutuhan pertahanan TNI Angkatan Darat. Rencana tersebut merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan panser dan tank TNI AD yang saat ini 90 persen diisi oleh produk asing.

    Menurut Adik, tank ringan itu akan merujuk pada model produk mancanegara saat ini, seperti produk K-21 buatan Doosan DST Korea Selatan dan Turki. Tank ringan ini memiliki bobot antara 15 ton-25 ton dengan dua jenis penggerak kendaraan berupa ban atau rantai. Namun ada pula tank ringan lainnya yang memiliki bobot 25 ton lebih.

    Selain panser dan tank, ditandatangani pula pengembangan bersama nota kesepahaman dengan Daewoo International Corporation untuk kerjasama pengembangan kapal cepat rudal (KCR-70). Selain panser dan KCR-70 kedua negara juga telah melakukan pengadaan bersama empat unit kapal "Landing Platform Dock" (LPD), pesawat jet tempur KFX/1FX dan kapal selam.

    Indonesia dan Korsel mengukuhkan kerjasama pertahanan kedua negara ditandai dengan penandatangana nota kesepahaman oleh Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Pos, M Hutabarat, dan Direktur Biro Kebijakan Kekuatan Korsel, Lee Yung Dae.

    Sumber : REPUBLIKA
    Readmore --> Dirut Pindad: Pindad Akan Buat Tank Ringan Merujuk Pada K-21 Korsel Dan ACV 300 Turki

    Indonesia Dan Korsel Sepakat Bentuk Komite Kerja Sama Pertahanan

    Jakarta - Kementerian Pertahanan menandatangani naskah kesepahaman (MoU) terkait pembentukan Komite Kerja Sama Pertahanan Indonesia dan Korea Selatan. Penandatanganan disaksikan Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan General (Ret) Kim Kwan-Jin. Sebelumnya, delegasi dari kedua negara melakukan pembicaraan selama satu setengah jam.

    Menteri Purnomo mengatakan pembicaraan itu membahas kerja sama pertahanan kedua negara, khususnya terkait alat utama sistem persenjataan (alutsista). Termasuk di antaranya kerja sama pengembangan pesawat tempur KF-X, rencana pembelian pesawat latih T-50 Golden Eagle, dan rencana pembelian kapal selam.

    "Kerja sama antara kedua negara sangat penting sekali. Di satu sisi, untuk menuju kemandirian agar bisa belajar dari Korea Selatan," katanya di Jakarta, Jumat, 9 September 2011.

    Purnomo mengatakan kerja sama ini terutama dilakukan untuk membangun kekuatan pertahanan dalam negeri. Kerja sama industri pertahanan mutlak dilakukan karena, menurutnya, tak ada negara yang kuat jika industri pertahanannya tidak kuat.

    Kerja sama dengan Korea Selatan dipilih karena sejarah kerja sama dengan negara ini. Menteri mengatakan Korea Selatan selalu bersedia melakukan transfer teknologi. Ini terjadi saat kerja sama pengembangan kapal landing platform dock (LPD) dengan industri kapal dalam negeri, PT PAL. "Dua kapal dibangun di Korea dan dua di PT PAL," katanya.

    Kerja sama serupa akan segera dilakukan antara Negeri Ginseng itu dengan PT Pindad untuk memproduksi panser Tarantula. Rencananya, Korea Selatan akan memproduksi 11 unit panser dan PT Pindad juga memproduksi 11 unit.

    Menteri Kim mengatakan dengan situasi geografis Indonesia yang sangat luas, wajar jika ada dorongan untuk melaksanakan industri pertahanan dari sisi keamanan. "Menurut saya, keinginan Indonesia tepat. Korea juga keadaannya sama," katanya.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Indonesia Dan Korsel Sepakat Bentuk Komite Kerja Sama Pertahanan

    Indonesia Dan Korsel Kerjasama Dalam Pembuatan 9 Unit KCR 70 Dan 22 Tarantula

    Jakarta - Kerja sama di bidang industri pertahanan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan terus dikembangkan. Setelah tahun ini dimulai pengembangan pesawat tempur Korea-Indonesia Fighter Xperiment (KIF-X), kedua negara sedang menjajaki kerja sama baru pembuatan kapal selam dan panser.

    Bersamaan dengan kunjungan delegasi Kementerian Pertahanan Korea Selatan ke Indonesia, PT. Pindad menandatangani naskah kesepahaman (MoU) dengan Busan Ltd. terkait rencana kerja sama itu. Pada saat yang sama, PT. Palindo juga menandatangani Memorandum of Understanding dengan Daewoo International Corporation untuk kerja sama pengembangan kapal cepat rudal.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan PT. Pindad dan Busan akan bersama-sama memproduksi panser Tarantula. "Korea Selatan akan membuat 11 unit panser Tarantula dan Korea Selatan 11 unit," katanya pada acara penandatanganan MoU di Kementerian Pertahanan Jakarta, Jumat, 9 September 2011.

    Tim dari Kementerian Pertahanan Korea Selatan berkunjung ke Indonesia selama dua hari terakhir. Rombongan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Korea Selatan General (Ret.) Kim Kwan-Jin. Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Pos, M. Hutabarat, mengatakan kunjungan ini untuk membicarakan kerja sama kedua negara dalam pengadaan alutsista.

    "Juga dibicarakan berbagai hal tentang ASEAN, perkembangan ketegangan di Laut Cina Selatan, dan Semenanjung Korea," katanya. Kedua delegasi mengadakan pembicaraan sejak pagi tadi dan masih berlanjut hingga saat ini. Pembicaraan juga sempat dihentikan sejenak untuk penandatanganan MoU tentang Komite Kerja Sama Industri Pertahanan Indonesia-Korea Selatan.

    Perjanjian ini menandai kesepakatan kedua negara untuk mengadakan pembicaraan secara reguler, meliputi pengembangan, produksi, dan pemasaran alat utama sistem persenjataan yang digunakan kedua negara. "Juga pertukaran informasi mengenai pekembangan teknologi di bidang industri pertahanan yang ada sekarang ini," kata Pos.

    Soal kerja sama pembuatan kapal, Sekretaris Dirjen Potensi Pertahanan Marsekal Pertama Leonardi mengatakan Palindo dan Daewoo akan membuat Kapal Cepat Rudal 9 KCR 70. Rencana kerja sama akan dibicarakan lebih lanjut, terutama mengenai apakah yang diproduksi hanya kapal saja atau termasuk sistem persenjataan.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Indonesia Dan Korsel Kerjasama Dalam Pembuatan 9 Unit KCR 70 Dan 22 Tarantula

    KSAL : 3 Unit Kapal Selam, PKR, Dan Helikopter Anti Kapal Selam Akan Rampung 2014

    Jakarta - TNI AL terus membangun kekuatan dengan memesan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Hal ini terkait dengan rencana pemerintah yang sudah menganggarkan kebutuhan alutsista tahap pertama sebesar US$ 5 miliar.

    TNI AL berharap pada tahap pertama pembangunan kekuatan alutsista dapat tercapai kekuatan minimum. "Sudah direncanakan apa yang kita tuju pada 2014 akan tercapai pada kekuatan pokok minimum," kata Laksamana TNI Soeparno kepada wartawan usai peletakan batu pertama pembangunan Gedung FK Universitas Hang Tuah Surabaya di RSAL, Jumat (9/9/2011).

    Meski sangat membutuhkan alutsista, Soeparno enggan disebut tidak ada alutsista yang mendesak untuk segera dibeli. Dia mengaku,semuanya dilakukan secara pararel dengan pengadaan yang sesuai dengan kebutuhan TNI AL.

    Meski begitu, Soeparno mengaku saat ini sudah mempunyai prioritas alusista yang harus segera dipesan untuk memperkuat kekuatan TNI AL. "Prioritas pertama kapal selam dan helikopter yang untuk memperkuat kekuatan kita," ungkapnya.

    Selain itu dia juga mengaku, pada tahun 2014 pihaknya sudah mempunyai beberapa alutsista yang sudah jadi, diantaranya kapal selam serta kapal tempur perusak dan helikopter anti kapal selam.

    "Kapal selam ada 3 unit nanti dipastikan sudah jadi tapi sekarang masih dalam tahap pemesanan dan dibuat karena tidak beli jadi," terangnya.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> KSAL : 3 Unit Kapal Selam, PKR, Dan Helikopter Anti Kapal Selam Akan Rampung 2014

    PT PAL Menargerkan Menjual Produk Rp 2,5 Triliun pada 2015

    Jakarta - PT PAL Indonesia (Persero) menargetkan tingkat penjualan sebesar Rp 2,5 triliun, meningkat lima kali lipat dari penjualan tahun 2010 sebesar Rp 442 miliar. Hal tersebut diharapkan dapat tercapai dengan fokus pada peningkatan bisnis produk minyak dan gas sebesar 50 persen dan menjadi bagian dari sistem terintegrasi dalam memenuhi kebutuhan pokok matra laut alat utama sistem persenjataan (alutsista).

    Demikian isi dokumen Rencana Bisnis PT PAL Indonesia (Persero) 2011-2015 yang diterima Kompas di Jakarta, Jumat (9/9/2011).

    Dokumen itu disampaikan kepada Komisi XI DPR dalam rangka permohonan penyertaan modal negara (PMN). Untuk mendukung program tersebut, PT PAL membutuhkan 5.200 pegawai di divisi kapal niaga pada tahun 2015, 1.449 orang di divisi rekayasa umum, lalu 140 orang di divisi kapal perang.

    Pada tahun 2015, PT PAL ditargetkan memiliki keunggulan bersaing dan sudah mencapai posisi tumbuh. Penjualan sebesar Rp 2,5 triliun itu diharapkan akan terpenuhi dengan membidik lini alutsista TNI Angkatan Laut.

    Pada tahun 2010-2019, TNI AL membutuhkan alutsista senilai Rp 78 triliun dan peningkatan kemampuan KRI sebesar Rp 5 triliun. Kebutuhan TNI AL yang akan ditawarkan PT PAL, antara lain, dua kapal selam, 12 kapal angkut tank (AT), empat kapal bantu cair minyak (BCM), 68 tank amfibi BMP-3F, dan 25 proyek peningkatan kemampuan KRI. Selain itu, PT PAL juga akan berupaya memenuhi kebutuhan kapal yang meningkat akibat penerapan asas Cabotage (kewajiban menggunakan kapal berbendera Indonesia di wilayah perairan domestik).

    Kebutuhan itu adalah penambahan general cargo 800 unit, 80 kontainer, 30 bulk, 500 barge, 500 tug boat, 132 tanker, 50 penumpang, dan 50 kapal ro-ro. Dengan demikian, ada 2.142 kapal yang menjadi potensi pasarnya atau meningkat 44,3 persen di atas jumlah kapal yang ada saat ini, yakni 4.828 unit.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> PT PAL Menargerkan Menjual Produk Rp 2,5 Triliun pada 2015

    Menhan : Indonesia Dan Korsel Masing - Masing Membuat 5 Unit Prototipe KFX / IFX

    Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro, menerima kunjungan kehormatan Menhan Korea Selatan HE General Kim Kwan-Jin di kantor Kementerian Pertahanan, Jumat (9/9). Kunjungan Menhan Korea Selatan tersebut untuk membahas kerjasama pertahanan kedua negara, khususnya alutsista.

    Salah satu alutsista yang menjadi pembahasan kedua Menhan tersebut pesawat tempur yang merupakan joint production antara Indonesia dengan Korea Selatan. "Pesawat tempur yang dimaksud adalah jenis KF-X/IF-X sejumlah 10 buah, yang lima dibuat di dalam negeri, sisanya di Korea," ujar Purnomo.

    Dalam kesempatan itu dilakukan penyerahan replika pesawat CN 235 dari Menhan RI kepada Menhan Korea Selatan, begitu juga sebaliknya diserahkan replika pesawat tempur T-50. Purnomo menilai, kemandirian industri pertahanan bisa menjadi titik tolak bagi kekuatan pertahanan Indonesia.

    Menhan Korea Selatan Kim Kwan-Jin menyatakan, sangat senang bisa menjalin kerjasama dengan Indonesia. Selain bisa berbagi pengetahuan dan teknologi terbaru, juga membantu terbentuknya pertahanan negara Indonesia agar berdaya saing dengan negara lain. "Kerjasama dengan Indonesia harus terus dilakukan, khususnya bidang pesawat tempur," katanya.

    Sumber : Yahoo
    Readmore --> Menhan : Indonesia Dan Korsel Masing - Masing Membuat 5 Unit Prototipe KFX / IFX

    Akhirnya, Indonesia Dan Korsel Teken MoU Pembuatan Kapal Selam

    Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat mengukuhkan kerja sama pertahanan kedua negara.

    Pengukuhan kerja sama pertahanan kedua negara itu tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Dirjen Potensi Pertahanan Pos Hutabarat dan Direktur Biro Kebijakan Kekuatan Korsel Lee Yong Dae di Jakarta, Jumat.

    Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Kwan-jin.

    "Selain industri pertahanan yang selama ini sudah berjalan maka dengan nota kesepahaman itu kerja sama yang ada dapat ditingkatkan dan diperluas seperti pendidikan, dan pertukaran perwira," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Hartind Asrin.

    Terkait kerja sama industri pertahanan, kedua negara sepakat untuk diadakan produksi bersama disertai alih teknologi seperti dalam pembuatan kapal jenis "Landing Platform Dock" (LPD) dan kapal selam antara PT PAL dan perusahaan kapal Daewoo Shipbuilding.

    Kedua negara juga telah menjajaki kerja sama industri dirgantara seperti pembuatan pesawat tempur KFX/IF-X.

    Tak hanya itu, kedua negara juga menjajaki pembelian pesawat jet tempur latih T-50 oleh Indonesia yang disertai pengadaan CN-235 oleh Korsel.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Akhirnya, Indonesia Dan Korsel Teken MoU Pembuatan Kapal Selam

    Menhan Korsel Bawa Sembilan Kontraktor Pertahanan Korea Dalam Kunjungan Di Indonesia

    Jakarta - Pemerintah Indonesia menggaet perusahaan pembuat perangkat perang Korea Selatan untuk memperbarui sistem pertahanan negara. Salah satu yang akan dibeli adalah pesawat jet latih T-50 dan kapal selam.

    Menurut laman Asian Defence News April lalu, Indonesia memilih bekerjasama dengan Korean Aerospace Industries dalam penyediaan pesawat berbobot kosong 4.600 kilogram tersebut. Pesawat yang pertama kali dikembangkan tahun 90an ini adalah kebanggan Korsel dalam kelas pesawat supersonic latih dan tempur. Pesawat ini pertama kali terbang tahun 2002 dan mulai bertugas di angkatan udara Korsel pada 2005.

    Pesawat latih T-50 ini kemudian dikembangkan menjadi pesawat lainnya untuk tujuan akrobatik dan serang, di antaranya adalah T-50B, TA-50 dan FA-50. Terdapat banyak kesamaan antara pesawat ini dengan pesawat F-16 Fighting Falcon buatan Lockheed Martin Amerika Serikat. T-50 dapat mencapai ketinggian 14.600 meter dan berkecepatan maksimal Mach 1,4-1,5. Pesawat ini didesain memiliki daya terbang selama 8000 jam.

    Indonesia berencana membeli sebanyak 16 pesawat T-50 dari Korsel. Harganya akan ditentukan kemudian dalam negosiai. Menurut laman aircraftcompare.com, harga satuan pesawat ini mencapai US$21 juta atau sekitar Rp179,9 miliar. Menurut media di Korsel, pemerintah Korsel akan membeli pesawat CN-235 buatan Indonesia jika pemerintahan SBY jadi memborong T-50.

    Pembicaraan masalah ini akan dilakukan dalam kunjungan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Kwan-jin, ke Indonesia hari ini, Jumat, 9 September 2011. Dalam kunjungannya, Kim akan didampingi oleh para eksekutif dari sembilan kontraktor pertahanan Korea, termasuk Daewoo Shipbuilding and Marine, perusahaan pembuat kapal selam ternama Negeri Ginseng.

    Perusahaan Daewoo menguasai pasar kapal selam di Korsel sampai awal tahun 1999. Sejak tahun 1991, perusahaan ini telah membuat sembilan kapal selam diesel seberat 1.200 ton, bekerja sama dengan perusahaan kapal selam Jerman Howaldtswerke-Deutsche Werft. Indonesia rencananya akan membeli kapal selam dari perusahaan ini dengan kontrak senilai US$1 miliar atau sekitar Rp8,5 triliun.

    Pemerintah Korsel telah menunjuk perusahaan ini untuk membuat kapal selam tipe 214 seberat 1.800 ton dilengkapi dengan rudal serta sistem sensor canggih yang diperkirakan selesai pada 2018. Harga satuan kapal selam ini sekitar 110 miliar won atau sekitar Rp879 miliar.

    Sumber : VIVANews
    Readmore --> Menhan Korsel Bawa Sembilan Kontraktor Pertahanan Korea Dalam Kunjungan Di Indonesia

    Kadispenau : 24 F-16 Akan Datang Dalam Waktu Dekat Sebelum T-50 Dan Super Tucano

    Jakarta - Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertana Azman Yunus menjelaskan pihak TNI-AU dalam waktu dekat akan menambah armada pesawat tempur.

    "Yang paling dekat adalah 30 F-16 dari Amerika" Ujarnya ketika dihubungi Media Indonesia, Kamis (8/9). Azman Yunus menjelaskan, ke-30 F-16 tersebut hanya akan datang 24 buah, sedangkan yang 6 sisanya adalah berupa suku cadang.

    Kadispenau juga mengatakan bahwa selain pesawat F-16 yang akan datang berikutnya adalah pesawat T-50 dan pesawat Super Tucano."Super Tucano tersebut akan datang pada bulan Maret dan siap digunakan di bulan April," ujarnya.

    Kadispenau juga menambahkan bahwa dengan datangnya pesawat-pesawat tambahan tersebut, pangkalan TNI AU yang ada akan lebih ditingkatkan lagi.

    Sumber : MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Kadispenau : 24 F-16 Akan Datang Dalam Waktu Dekat Sebelum T-50 Dan Super Tucano

    Komisi I DPR : Rencana Penambahan F-16 Dari AS Belum Dilaporkan Ke DPR

    Jakarta - Rencana penambahan pesawat tempur untuk TNI-AU berupa 30 pesawat F-16 dari Amerika Serikat ternyata tidak sampai ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Jakarta, Kamis (8/9) membenarkan jika pihak DPR telah mendengar rencana tersebut, akan tetapi ia juga mengaku sampai saat ini belum ada dokumen resmi tertulis mengenai rencana tersebut yang disampaikan kepada DPR.

    "Jadi seharusnya bisa dibahas secara dialogis dengan DPR mengenai rencana tersebut," ujarnya.

    Rencana pembelian pesawat tempur F-16 diungkapkan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertana Azman Yunus. Selain 30 pesawat F-16, TNI-AU juga mendatangkan pesawat T-50 dan pesawat Super Tucano.

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> Komisi I DPR : Rencana Penambahan F-16 Dari AS Belum Dilaporkan Ke DPR

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.