ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Thursday, June 3, 2010 | 2:06 PM | 0 Comments

    KASAU : LANUD PEKANBARU DAPAT DIANDALKAN


    Pangkalan TNI Angkatan Udara Pekanbaru dapat diandalkan untuk melaksanakan dukungan operasi dan operasi udara, demikian disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Sufa’at S, Ip, pada saat diwawancarai beberapa wartawan disela-sela kunjungan kerja di Lanud Pekanbaru, (Rabu, 2/6)

    Hal tersebut disampaikan Kasau setelah meninjau langsung kesiapan fasilitas dan sarana prasarana pendukung yang ada di Lanud Pekanbaru, untuk itu Kasau mengharapkan kondisi yang ada saat ini tetap dipertahankan, sedangkan untuk kedepan kesiapan operasi tersebut akan terus ditingkatkan. Guna mendukung hal tersebut Kasau akan memprioritaskan peningkatan kesiapan alutsista pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 12. Hal yang paling diprioritaskan adalah kebutuhan spare part pesawat, sehingga jumlah pesawat yang operasional di Skadron Udara 12 bisa lebih banyak lagi, demikian disampaikan Kasau.

    Adanya wacana peningkatan status Lanud Pekanbaru dari type B menjadi type A, Kasau menegaskan bahwa hal tersebut bukan hanya sekedar wacana, tetapi sudah ada Keputusan untuk peningkatan status Lanud Pekanbaru, namun internal TNI AU sendiri belum merealisasikannya, hal ini terkendala dengan persyaratan yang harus dipenuhi, dimana Lanud type A harus memiliki dua skadron pesawat, sementara untuk merealisasikan hal tersebut sangat tergantung dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah. Namun peningkatan status Lanud Pekanbaru tersebut dapat direalisasikan apabila tingginya frekwensi latihan bersama dengan negara lain yang dilaksanakan di Lanud Pekanbaru.

    Kunjungan Kerja Kasau ke Lanud Pekanbaru yang berlangsung selama dua hari tersebut turut didampingi oleh para pejabat teras Mabesau, Pangkoopsau I, Dankodikau, serta Dankorpaskhasau.

    Sumber: TNI AU
    Readmore --> KASAU : LANUD PEKANBARU DAPAT DIANDALKAN

    Russian missile cruiser ready to visit San Francisco


    The Varyag is a Slava class missile cruiser, designed as a surface strike ship with some anti-air and ASW capability


    A task force from the Russian Pacific Fleet led by the missile cruiser Varyag will set sail on June 4 on a friendly visit to the United States, the fleet's spokesman said on Thursday.

    The naval group, which also includes the Fotiy Krylov salvage tug and the Boris Butoma tanker, will make a port call in San Francisco during a month-long voyage.

    "During a visit to San Francisco the Russian sailors will get acquainted with the city and its history...while San Francisco residents will be able to visit the ship, meet with the crew and listen to the music performed by the Pacific Fleet's orchestra," the official said.

    The Varyag is a Slava class missile cruiser, designed as a surface strike ship with some anti-air and ASW capability. The sixteen SS-N-12 Sandbox nuclear-capable supersonic anti-ship missiles are mounted in four pairs on either side of the superstructure, giving the ship a distinctive appearance.

    NATO experts had dubbed Russian combat ships of this class "the killer of aircraft carriers," as it can launch 1,000 kg of high-explosives or a tactical nuclear warhead out to a range of 300 nautical miles.

    In April 2009 the Varyag led a group of 21 foreign naval vessels participating in a parade to mark the 60th anniversary of China's Navy off the coast of the eastern city of Qingdao.

    In November last year the flagship of the Pacific Fleet visited Singapore.

    from: RIA
    Readmore --> Russian missile cruiser ready to visit San Francisco

    Indonesia Paling Siap Membangun PLTN


    JAKARTA (Pos Kota)-Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo mengakui, dibanding negara tetangga lainnya Indonesia paling siap membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

    “Secara infrastruktur kita paling siap membangun PLTN dibandingkan negara lain, sayangnya belum ada keputusan pemerintah untuk Go nuklir” ujarnya, kemarin.

    Menurut Hudi penundaan penerapan PLTN mengandung risiko besar. Pasalnya, jika negara sekitar atau Asia sudah lebih dulu membangun PLTN maka negara kita akan menjadi daftar tunggu yang semakin panjang untuk bangun PLTN.

    Selain itu sumber daya manusia (SDM) ahli nuklir Indonesia akhirnya memilih bekerja ke luar negeri untuk mengaplikasikan keahliannya. Ia mengingatkan, bahwa energi adalah penunjang kemajuan perekonomian negara oleh.

    Karena itu kebutuhan akan energi listrik di masa depan dipastikan semakin tinggi. PLTN harus menjadi salah satu bagian dari rencana pengembangan energi nasional agar kebutuhan tersebut tercukupi.

    Sementara itu Kepala Divisi Perencanaan Sistem-PLN Joko Prasetyo mengatakan, meningkatnya kebutuhan akan energi listrik di wilayah Jawa dan Bali menjadikan tempat ini yang paling sesuai untuk pengembangan PLTN.

    Sedangan pakar teknologi nuklir dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Zaki Su`ud mengungkapkan, bahwa pada tahun 2025 diproyeksikan kebutuhan pembangkit listrik terbesar di daerah Jawa dan Bali yaitu sebesar 100 Gwe dan dengan ini diproyeksikan adanya empat PLTN dengan kapasitas 1 Gwe per-unit.

    Untuk dapat memenuhi kebutuhan listrik dia mengharapkan pada tahun 2017 dua unit pertama reaktor PLTN sudah mulai beroperasi.

    Terkait dengan faktor lingkungan, menurut Zaki, Keunggulan PLTN dibandingan dengan pembangkit lainnya adalah tidak adanya polusi gas rumah kaca yang ditimbulkan.

    Sumber: POS KOTA
    Readmore --> Indonesia Paling Siap Membangun PLTN

    Supadio Akan Miliki Skadron Pesawat Tanpa Awak


    Pontianak (ANTARA News) - TNI Angkatan Udara akan menambah satu skadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio Pontianak untuk memperkuat kemampuan pemantauan termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat.

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufa`at di Pontianak, Rabu malam mengatakan, pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis.

    "Di negara maju, pesawat ini dapat dioperasikan dari jarak jauh," katanya.

    Selain itu, lanjut dia, dapat dipersenjatai serta dilengkapi dengan peralatan pendeteksi untuk kondisi malam dan siang hari.

    Ia menambahkan, status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1. Salah satu syarat minimalnya mempunyai dua skadron.

    Saat ini Lanud Supadio menjadi pangkalan Skadron Udara I Elang Khatulistiwa. Pesawat yang digunakan jenis Hawk.

    "Kalau ada skadron pesawat tanpa awak, Supadio bisa menjadi pangkalan udara Kelas A," kata mantan Komandan Lanud Supadio tahun 2000 - 2002 itu.

    Pengadaan pesawat tersebut diharapkan terwujud awal tahun depan. Ia melanjutkan, untuk alat utama sistem senjata (Alutsista) pengadaan dilakukan oleh Mabes TNI.

    Sementara Wagub Kalbar Christiandy Sanjaya mengatakan, banyak isu strategis di wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia.

    "Seperti pergeseran patok, kegiatan ilegal yang melibatkan warga kedua negara. Misalnya ilegal tambang, perdagangan manusia dan pembalakan liar," kata Christiandy Sanjaya.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Supadio Akan Miliki Skadron Pesawat Tanpa Awak

    Kemhan: Beli alutsista asing boleh, asal ada transfer teknologi


    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) tetap mengizinkan pengadaan alutsista TNI dari luar negeri jika alutsista tersebut tidak bisa dibuat di dalam negeri. Namun, apabila pengadaan tersebut dari luar maka tetap harus melakukan transfer teknologi.

    "Kebijakan yang dikeluarkan Menhan itu jika pengadaan alutsista yang tidak bisa dibuat di dalam negeri. Tapi harus ada transfer teknologi sehingga peralatan kita beli paling tidak bisa mendukung keberadaan TNI," kata Sekjen Kemhan Marsdya Eris Haryanto, di Jakarta, Rabu (2/6).

    Menurutnya, transfer teknologi tersebut menjadi utama bagi pertimbangan pemerintah, sehingga ke depan bisa mengerjakan barang itu dengan sendiri.

    Diakuinya, pembelian untuk pengadaan alutsista memang saat ini terbatas dengan anggaran. Untuk bisa transfer teknologi, lanjut dia, harus ditempel dalam pengadaan sehingga bisa mendukung dari dalam negeri dan bisa membuat sendiri.

    "Hal ini sudah diketahui oleh semua prinsip-prinsip yang beroperasi. Dalam pengadaan barang mereka memahami sehingga saat menawarkan selalu disertakan dengan program transfer of technology," papar Eris.

    Sumber: PRIMAIRONLINE
    Readmore --> Kemhan: Beli alutsista asing boleh, asal ada transfer teknologi

    Russia-Vietnam submarine deal worth record $3.2 bln


    Last year's contract on the delivery of six Kilo class diesel submarines to Vietnam, worth a total of $3.2 billion, is the largest deal in the history of Russian exports of naval equipment, a Russian magazine says.

    The contract was signed in December 2009 during the visit of Vietnamese Prime Minister Nguyen Tan Dung to Russia.

    "The construction cost is $2.1 billion, but the building of all necessary coastal infrastructure and the delivery of armaments and other equipment may bring the total to $3.2 bln, which makes this deal the largest in the history of Russian exports of naval equipment," the Export of Arms magazine says in an editorial published in its June issue.

    Admiralty Shipyards in St. Petersburg will build the submarines with the rate of one vessel per year.

    State-run arms exporter Rosoboronexport previously said Russia could sell up to 40 fourth-generation diesel-electric submarines to foreign customers by 2015.

    Kilo class submarines, nicknamed "Black Holes" for their ability to avoid detection, are considered to be among the quietest diesel-electric submarines in the world.

    The submarine is designed for anti-submarine warfare and anti-surface-ship warfare, and also for general reconnaissance and patrol missions.

    The vessel has a displacement of 2,300 tons, a maximum depth of 350 meters (1,200 feet), a range of 6,000 miles, and a crew of 57. It is equipped with six 533-mm torpedo tubes.

    At least 29 Kilo class subs have been exported to China, India, Iran, Poland, Romania and Algeria.

    Export of Arms is a specialized Moscow-based technical and analytical magazine, published bimonthly by Russia's Centre for Strategic and Technological Analysis.

    From: RIA
    Readmore --> Russia-Vietnam submarine deal worth record $3.2 bln

    Pemerintah Bungkus 18 Pesawat Fixed Wing


    JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membeli 18 pesawat fixed wing untuk keperluan Sekolah Tinggi Penerbang Indonesia (STPI) Curug tahun ini. Saat ini proses tender tengah berjalan dengan melibatkan beberapa produsen pesawat latih seperti Diamond, Piper dan Cessna.

    Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kemenhub Dedi Darmawan menjelaskan, 18 pesawat tersebut harusnya sudah dibeli tahun lalu. Namun proses tender waktu itu batal karena pemenang tidak bisa memenuhi spesifikasi pesawat yang diinginkan.

    "Tendernya kami buka lagi untuk jumlah yang sama. Harga satu fixed wing di pasaran Rp 2,5 miliar. Jadi untuk 18 pesawat nilai totalnya Rp 45 miliar," kata Dedi, Rabu (2/6/2010).

    STPI Curug tidak akan langsung menerima seluruh pesawat tersebut. Pasalnya, Kemenhub akan mendanai pengadaannya secara bertahap sampai tahun depan. Pengiriman perdana pesawat sendiri direncanakan dilakukan November 2010.

    "Sekarang Curug sudah punya 33 pesawat fixed wing dan 3 helikopter latih. Tetapi semuanya pesawat tua, rata-rata usianya dibawah 1995," imbuhnya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Pemerintah Bungkus 18 Pesawat Fixed Wing

    Iran tidak akan Hentikan Program Nuklir


    TEHERAN--MI: Sanksi-sanksi baru dunia internasional terhadap Iran terkait dengan program nuklirnya tidak akan menghentikan upaya negara itu memperoleh energi atom untuk kepentingan damai. Hal itu dikatakan ketua parlemen Ali Larijani, Rabu (2/6).

    Larijani, seorang tokoh konservatif dan mantan perunding utama nuklir Iran, mengatakan, sanksi baru juga bisa membuat Teheran meninjau lagi hubungannya dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Iran tidak akan Hentikan Program Nuklir

    Oktober Nanti Indonesia Punya Satu Skuadron Tempur Sukhoi


    JAKARTA. Jumlah pesawat Sukhoi Indonesia makin bertambah. Kementerian Pertahanan memastikan pada September nanti tiga pesawat Sukhoi yang dipesan dari Rusia tiba di Jakarta.

    Dengan begitu pada bulan Oktober nanti Indonesia sudah memiliki satu skuadron tempur Sukhoi. "Sukhoi yang tiga lagi akan datang pada September ini, karena diharapkan sudah bisa diterbangkan pada Oktober," ujar Direktur Pengadaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Sarana Pertahanan, Marsekal Pertama Mukhtar Lubis di Kementerian Pertahanan, Rabu (2/6).

    Tiga Sukhoi yang akan tiba tiga bulan lag itu adalah jenis Su-27SKM. Saat ini, menurut Lubis, Ditjen Sarana Pertahanan sedang melatih para teknisi untuk menangani pesawat canggih itu.

    Sekadar informasi, sebelumnya pemerintah pernah membeli dua Sukhoi jenis SU-30MK dan dua SU-27SK pada tahun 2003 lalu. kemudian
    Kementerian Pertahanan memesan lagi enam pesawat Sukhoi pada 2007 senilai sekitar US$ 300 juta atau senilai Rp 2,85 triliun.

    Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009.'

    Sumber: KONTAN
    Readmore --> Oktober Nanti Indonesia Punya Satu Skuadron Tempur Sukhoi

    Okinawa, Anak Tiri Negeri Jepang


    Sebuah foto dokumentasi yang diambil pada 24 April 2010 menunjukkan sejumlah pesawat dan helikopter bertengger di tarmak Pangkalan Angkatan Laut AS Futenma di Ginowan, Okinawa, Jepang. PM Hatoyama gagal mewujudkan janjinya untuk memindahkan pangkalan ini ke tempat lain.


    Kepulauan Okinawa yang membentang di selatan Kerajaan Jepang dan berada di utara Taiwan adalah ”anak tiri” negara Matahari Terbit. Gagalnya pemindahan pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa membuat warga kecewa dan memaksa Perdana Menteri Yukio Hatoyama mundur.

    Warga Okinawa menyebut diri sebagai ”uchinanchu”, berbeda dengan warga Jepang lain yang disebut ”yamato unchu” atau ”naicha”. Warga Okinawa hingga kini seperti warga kelas dua di Jepang. Diskriminasi terjadi meski tak setajam masa lalu.

    Sejarawan Matsumura Toshio yang sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Tokyo mengatakan, kehidupan di Okinawa keras sehingga warga harus merantau ke kota Tokyo dan Osaka untuk mencari sesuap nasi. Warga Okinawa hidup sebagai nelayan atau petani marjinal di kampung halaman.

    ”Sebelum Perang Dunia II terasa betul ada diskriminasi terhadap warga Okinawa oleh warga Jepang dari pulau besar seperti Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Warga Okinawa memiliki dialek tersendiri yang berbeda dengan mayoritas warga Jepang di pulau-pulau besar,” kata Toshio.

    Mereka pun tinggal berkelompok untuk dapat bertahan hidup di perantauan. Kebiasaan merantau ke luar negeri juga dilakukan orang Okinawa.

    Menurut Toshio, sebagian besar warga keturunan Jepang (Nisei) di Brasilia berasal dari kepulauan Okinawa.

    Perlakuan berbeda juga diterapkan kepada warga Okinawa yang diwajibkan membawa paspor saat meninggalkan wilayah mereka untuk memasuki pulau-pulau utama di Jepang. Analis politik Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Atsushi Sano, menjelaskan, kebijakan itu berlaku hingga akhir masa pendudukan militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa selepas Perang Dunia II.

    ”Kewajiban itu dihapus awal tahun 1970-an. Pendudukan Amerika berlangsung tiga dasawarsa lebih di sana,” kata Sano.

    Rebutan Tiongkok-Jepang

    Pada awal abad ke-19, Kepulauan Ryukyu merupakan daerah perluasan pengaruh kerajaan Tiongkok dan kerajaan Jepang. Wilayah itu sempat berdiri sendiri sebagai kerajaan Ryukyu.

    Matsumura Toshio menerangkan, pada paruh kedua abad ke-19, saat restorasi Meiji, Ryukyu sepenuhnya dikuasai kekaisaran Jepang. ”Selanjutnya ekspansi berlanjut ke Taiwan setelah perang Tiongkok-Jepang tahun 1895 dan pendudukan Korea pada tahun 1910. Okinawa menjadi daerah strategis bagi kekaisaran Jepang yang memasuki era industrialisasi,” kata Toshio.

    Pada kurun waktu tersebut, Kaigun (Angkatan Laut) Jepang menggoreskan sejarah sebagai bangsa Asia pertama yang mengalahkan bangsa kulit putih saat menghantam Angkatan Laut Kekaisaran Rusia dalam pertempuran Selat Tsushima (1905).

    Pada masa pendudukan Jepang terhadap Semenanjung Korea, Taiwan, dan Manchuria (sekarang timur laut Tiongkok atau kawasan Dong Bei), timbul sebutan ”san goku jin” atau orang jajahan yang bermakna merendahkan.

    Meski sebutan tersebut tidak digunakan untuk merujuk kepada orang Okinawa, dalam pelbagai bidang kehidupan, lanjut Toshio, seorang Okinawa dipandang rendah oleh masyarakat asli Jepang.

    Perlakuan berbeda, kata Toshio, juga terjadi atas orang Tionghoa dan orang Korea yang tinggal turun-temurun di Honshu, Shikoku, dan Kyushu.

    Militer Amerika Serikat

    Pada babak akhir Perang Dunia II, bulan April 1945, terjadi pertempuran berdarah di Okinawa antara militer Amerika Serikat melawan tentara kekaisaran Jepang yang terdesak, tetapi melawan dengan berani.

    Kemenangan AS dibayar mahal dengan korban 12.000 prajurit tewas dan 38.000 terluka. Adapun Jepang kehilangan 100.000 prajurit.

    Penduduk Okinawa menjadi korban dalam pertempuran itu. Menurut Museum Prefektur Okinawa, sekitar 100.000 warga setempat tewas akibat kelaparan dan sebagian lagi dipaksa militer Jepang untuk bunuh diri.

    Pendudukan AS di bawah Jenderal Douglas MacArthur mengambil alih pangkalan militer Jepang. Semasa Perang Tiongkok (1945-1949), Perang Korea (1950-1953), dan Perang Vietnam pada dekade 1960-an hingga jatuhnya Saigon, April 1975, Okinawa menjadi pangkalan strategis bagi Amerika dan sekutu.

    Saat ini, dari 47.000 prajurit AS yang berada di Jepang, lebih dari separuh berada di Okinawa. Pangkalan militer AS menduduki 19 persen wilayah Okinawa.

    Meski ekonomi lokal tumbuh dengan keberadaan pangkalan militer di Futenma dan Kadena, warga Okinawa resah. Mereka melihat Okinawa dibiarkan menjadi pusat militer AS karena tidak diinginkan berada di pulau-pulau utama Jepang.

    Keberadaan militer AS menimbulkan efek samping, seperti kasus pemerkosaan terhadap bocah perempuan berusia 12 tahun oleh tiga prajurit AS. Okinawa masih menjadi anak tiri Jepang....

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Okinawa, Anak Tiri Negeri Jepang

    Robot Berperan di Masa Depan


    DU-114 merupakan salah satu robot unggulan karya mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Bandung, Jumat (14/5). Robot karya putra bangsa ini menjadi jawara dalam ajang internasional.


    Untuk kedua kalinya karya anak bangsa berjaya di Robogames 2010 di San Mateo Event Center, Amerika Serikat, 24-25 April lalu. Robot DU-114 berhasil mempertahankan gelar di kelas yang sama.

    Tahun lalu, Indonesia merebut medali emas di kelas yang sama, yaitu Open Autonomous Fire Fighting alias robot pemadam api di ajang serupa.

    Robot DU-114 berhasil mengungguli pesaingnya dari beberapa negara maju dalam pengembangan teknologi, seperti Amerika Serikat, Mesir, dan Inggris. Teknologi robot juara Robogames 2010 karya mahasiswa Teknik Komputer Universitas Komputer Bandung, Rodi Hartono, ini diklaim lebih canggih ketimbang DU-114, juara 2009.

    ”Secara garis besar tidak banyak berubah. Namun, kami mencoba mengembangkan sistem operasi robot menjadi lebih peka dan mampu bergerak lebih cepat dalam memadamkan api. Sebelumnya 18 detik, sekarang 13 detik saja untuk mencari titik api,” kata Rodi membandingkan dua tipe DU-114 buatannya.

    Robogames adalah kejuaraan desain robot tingkat internasional. Pesertanya sekitar 20 negara yang bersaing di 72 kelas. Kelas paling bergengsi dalam pertandingan ini adalah Open Autonomous Fire Fighting.

    Dosen Pembimbing Divisi Robotika Unikom Bandung, Yu s rila Kerlooza, mengatakan, keikutsertaan mereka dalam kompetisi internasional ini sebenarnya dilatarbelakangi keberhasilan meraih prestasi dalam negeri ketika menjadi juara I Divisi Senior Beroda Kompetisi Robot Cerdas Indonesia Tingkat Regional II dan Tingkat Nasional sejak tahun 2008. Mereka ingin menguji kemampuan dengan ikut pertandingan yang lebih besar, salah satunya Robogames.

    ”Dengan begitu kami mengetahui kemampuan, kelemahan, dan kelebihan kami sekaligus robot buatan negara lain. Itu berguna untuk mengembangkan konsep robot selanjutnya,” ujar Yusrila.

    Ketekunan dan ketelitian

    Bentuk robot berukuran 28 cm x 23 cm x 21 cm ini, menurut Yusrila, terinspirasi bentuk tank, kendaraan lapis baja penjelajah segala jenis medan dalam perang. Hal itu bisa dilihat dari tubuh dan roda yang dipakai. Bentuk seperti ini memudahkan robot menaklukkan jalan datar atau menaiki tangga.

    ”Bahan untuk tubuh dan roda robot kami ambil dari bahan mainan anak-anak, sedangkan material lain dibuat sendiri,” ujarnya.

    Meskipun bentuknya sangat mendukung kinerja robot, ada beberapa hal lain yang menjadi kekuatan robot.

    Dari aplikasi sensor, DU-114 memiliki tiga buah sensor berbeda. Pertama adalah sensor api yang bisa mendeteksi titik api. Sensor ini menggunakan Uvtron dan Phototransistor. Letaknya ada di bagian depan robot. Selain itu, ada juga sensor jarak menggunakan mekanisme ultrasonik.

    Gunanya, memberikan panduan pada robot untuk melihat sejauh mana penghalang yang ada di depan dan belakang serta samping kiri dan kanan. Jumlahnya 8 buah dan tersebar di sekeliling tubuh robot. Adapun sensor ketiga adalah sensor lantai yang berguna mendeteksi batas tertentu sebelum memasuki ruangan. Sensor lantai ini menggunakan mekanisme pantulan cahaya yang diletakkan di bawah tubuh robot.

    Kelebihan lain, menurut Rodi, ada pada sistem pengendali. Robot ini memiliki dua mikrokontroler untuk sensor dan gerak roda. Untuk pembaca sensor dipakai BasicStamp, sedangkan gerak roda menggunakan AVR.

    Adapun untuk catu daya, robot ini menggunakan baterai 5 volt untuk sensor dan mikrokontroler serta 12V untuk roda, pompa air, dan kipas.

    ”Kipas dan air gunanya untuk memadamkan api. Kami sengaja membuatnya menjadi dua karena berjaga-jaga bila salah satunya mati. Khusus untuk air, kami rasa lebih efektif karena bisa memadamkan api lebih cepat,” ujar Rodi.

    Sementara itu, untuk bahasa pemograman, DU-114 menggunakan bahasa pemograman C yang dinilai lebih efektif dan mudah diterapkan. Meskipun banyak digunakan di robot buatan orang lain, kunci keberhasilan terletak pada percobaan berulang yang diterapkan.

    ”Ketekunan dan ketelitian mengamati pergerakan robot guna melihat kelemahan terus kami lakukan. Untuk satu pertandingan, misalnya, kami melakukan percobaan hingga ratusan kali,” u j a r ny a .

    Membantu manusia

    Yusrila mengatakan, sistem kerja DU-114 sebenarnya sama dengan robot lainnya. Setelah dihidupkan, robot masuk ke dalam lorong untuk mencari sumber api dengan batuan sensor ultrasonik. Setelah itu robot berusaha menemukan ruangan yang berisi api menggunakan sensor lantai dan segera memadamkan api dengan bantuan sensor api.

    Ke depannya, Yusrila bersama Divisi Robotika Unikom ingin teknologi ini dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi. Salah satunya, RoboCup Rescue.

    Dalam pertandingan ini, Robot- robot bertanding menunjukkan kecepatan dan keahlian mereka dalam mencari dan melakukan operasi penyelamatan. Yang dinilai, antara lain, adalah kecepatan dan kestabilan saat menuruni tangga.

    Salah satu yang dipertandingkan adalah kemampuan robot mendeteksi korban bencana alam di lingkungan buatan yang menyerupai kondisi bencana sesungguhnya.

    Bila hal ini bisa terwujud, Yu s rila yakin akan memberikan sesuatu yang berarti pada teknologi penyelamatan bencana di Indonesia atau dunia. Robot bisa membantu manusia mengatasi beragam hal yang sebelumnya sulit dilakukan, termasuk memadamkan api. Sejak awal, konsep yang diusung adalah robot membantu tugas manusia dan bukan menggantinya.

    ”Awalnya mungkin dari pemadam kebakaran dan penanganan bencana. Namun, ke depannya, bukan tidak mungkin diterapkan pada teknologi dan peralatan canggih lainnya buatan anak bangsa,” ujar Yusrila.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Robot Berperan di Masa Depan

    Indonesia-Korsel Buat Pesawat Tempur


    Jakarta, Kompas - Tahun ini, Indonesia diharapkan bisa menandatangani perjanjian kerja sama dengan Korea Selatan untuk pembuatan pesawat tempur. Dengan demikian, Indonesia diharapkan tak akan bergantung kepada negara lain dalam hal penyediaan pesawat tempur.

    Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Erris Herryanto, Rabu (2/6). ”Kemungkinan besar tahun ini sudah ditandatangani,” kata Erris. Kesepakatan untuk studi kelayakan ditandatangani tahun lalu.

    Kementerian Pertahanan menerima hasil studi kelayakan pada Juli 2009. Dalam studi itu disebutkan, Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur. Spesifikasi pesawat tempur dengan kode KFX ini kira-kira berada di atas F-16, tetapi di bawah spesifikasi F-35.

    Menurut Erris, langkah tersebut merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur. Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain.

    Menurut Erris, masalah komitmen dan perjanjian secara rinci tengah dibahas. Namun, tidak ada perbedaan yang mencolok. Saat ini tengah disusun redaksional perjanjian di antara kedua belah pihak. Erris belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu, termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,” kata Erris.

    Kebutuhan biaya yang diajukan sekitar 8 miliar dollar Amerika Serikat dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020. Pada tahun 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe. Dari keseluruhan anggaran itu, Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20 persen. Akan tetapi, ujar Erris, belum ada kesepakatan soal keuangan tersebut.

    Super Tucano

    Mengenai pengadaan pengganti pesawat OV-10 Bronco, Direktur Pengadaan Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan Marsekal Pertama Mukhtar Lubis mengatakan belum ada kepastian. Mabes TNI masih mengevaluasi masukan dari TNI AU. Menurut Mukhtar, pihaknya belum bisa memastikan bahwa pesawat yang akan dibeli adalah Super Tucano dari Brasil. ”Masih harus diteliti dulu spesifikasi dan juga prosedurnya,” katanya.

    Soal Sukhoi, kata Mukhtar, pihaknya tengah mengirim sejumlah personel untuk mengikuti pelatihan. Hal itu dilakukan untuk persiapan kedatangan lagi tiga pesawat Sukhoi Su-27SKM yang diharapkan tiba pada September mendatang. ”Soal persenjataan, kita beli dengan paket yang berbeda,” kata Erris.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Indonesia-Korsel Buat Pesawat Tempur

    Wednesday, June 2, 2010 | 6:21 PM | 0 Comments

    Russia to supply Su-30, Yak-130 planes to Algeria in 2011

    Su-30

    Russia will supply Su-30 Flanker fighters and Yak-130 Mitten trainer/light attack jets to Algeria in 2011, the deputy head of the Russian Federal Service for Military Technical Cooperation, Vyacheslav Dzirkalin, said.
    YAK-130
    "The delivery of Su-30s and Yak-130s [to Algeria] is due to begin next year, this is no military secret," Dzirkalin said.

    Earlier in April, the head of Russian Technologies state Corporation, Sergei Chemezov, in an interview with the Novaya Gazeta weekly said Russia would ship to Algeria "a party of modern Russian fighters" at a price of about $1 billion.

    Dzirkalin did not specify the number of aircraft to be delivered to Algeria.

    Speaking about Russian-Algerian Navy partnership, Dzirkalin said that "636 series diesel submarines are being repaired and modernized, but the Algerian side has not stated anything on the purchase of the new subs."

    The 636 Kilo diesel-electric submarine is a more advanced version of a 877 Paltus sub. The Chinese Navy has two Russian Kilo submarines built at one of the leading submarine shipbuilding companies, Admiralty Shipyards in St.Petersburg.

    From: RIA
    Readmore --> Russia to supply Su-30, Yak-130 planes to Algeria in 2011

    Russia, UAE hold talks on modernizing BMP-3 infantry vehicles


    Russia, UAE hold talks on modernizing BMP-3 infantry vehicles


    Russia and the United Arab Emirates are holding negotiations on modernizing a large number of BMP-3 infantry fighting vehicles, a defense industry official said on Wednesday.

    Vyacheslav Dzirkaln, deputy head of the Federal Service for Military and Technical Cooperation, is heading the Russian delegation at a meeting of the Russia-UAE intergovernmental committee for military and technical cooperation.

    The talks in Abu Dhabi are to focus on the "full modernization of a large number of BMP-3s in an effort to seriously increase their combat capability," the Russian official said.

    "We have succeeded in this direction," Dzirkaln said.

    The infantry fighting vehicles had been earlier supplied to the UAE by Kurganmashzavod, a Russian machine building company based in Kurgan, western Siberia.

    The official said that the military officials in the United Arab Emirates have "a good attitude for cooperating with Russia." "Therefore I make the conclusion that our cooperation has a future."

    Dzirkaln also confirmed that Russia will finish delivering Pantsir-S1 short-range air defense systems to the United Arab Emirates by late 2010.

    "This year the delivery will be completed. Two more shipments of these vehicles will be delivered and the contract on the delivery will be fulfilled," he said.

    Russian media reports said Moscow had signed a $734-million contract with the United Arab Emirates in 2000 on purchasing 50 Pantsir-S1s.

    Pantsir-S1 is a short-to-medium range combined surface-to-air missile and antiaircraft artillery system manufactured by the Tula-based Instrument Making Design Bureau (KPB).

    It is designed to protect point and area targets and carries up to 12 two-stage solid-fuel surface-to-air missiles in sealed ready-to-launch containers.

    The system also has two dual 30 mm automatic cannons that can engage targets at a range of up to 4 km.

    The Russian official said it was too early to speak about the prospects of further delivery of Pantsir-S1s to the UAE.

    "Further development will consist of providing service maintenance and continuing training UAE specialists in the aspects of operation, repair and service maintenance," he said.

    From: RIA
    Readmore --> Russia, UAE hold talks on modernizing BMP-3 infantry vehicles

    Algeria, Libya set to buy Russian Pantsir-S1 short-range air defense systems


    Pantsir-S1


    Algeria and Libya are ready to buy Russian Pantsir-S1 short-range air defense systems, deputy head of the Russian Military-Technical Cooperation Service Vyacheslav Dzirkaln said on Wednesday.

    "The new system has shown high efficiency. Algeria and Libya have shown interest. Syria has already bought these systems in the past," Dzirkaln said, adding that other potential customers were likely to appear.

    Earlier in March the Russian press said Algeria was planning to buy 40 Pantsir-S1s for $500 million.

    Several Russian papers also reported that Russia had signed a $734-million contract with the United Arab Emirates (UAE) in 2000 on purchasing 50 Pantsir-S1s.

    Dzirkaln confirmed the reports and said Russia would finish delivering the Pantsir-S1's to the UAE this year.

    Pantsir-S1 is a short-to-medium range combined surface-to-air missile and antiaircraft artillery system manufactured by the Tula-based Instrument Making Design Bureau (KPB).

    It is designed to protect point and area targets and carries up to 12 two-stage solid-fuel surface-to-air missiles in sealed ready-to-launch containers.

    The system also has two dual 30 mm automatic cannons that can engage targets at a range of up to 4 km.

    FROM: RIA
    Readmore --> Algeria, Libya set to buy Russian Pantsir-S1 short-range air defense systems

    AS-Korsel Gelar Latihan Militer


    SEOUL, KOMPAS.com - Amerika Serikat dan Korea Selatan akan menggelar latihan angkatan laut skala besar di Laut Kuning pekan depan, untuk mengirim "isyarat kuat" kepada Pyongyang, kata kantor berita Yonhap yang mengutip pejabat pertahanan Korea Selatan.

    Latihan itu, akan diselenggarakan 8-11 Juni, dimaksudkan untuk menunjukkan kepada Korea Utara postur pertahanan gabungan Washington dan Seoul, kata pejabat yang tak bersedia disebut namanya itu. Hubungan-hubungan antara Korea Utara dan Selatan memburuk setelah Seoul menuduh Pyongyang menenggelamkan korvet Cheonan berbobot 1,200 ton. Kapal tersebut tenggelam di dekat Garis Batas Utara yang disengketakan pada 26 Maret, yang menyebabkan 46 pelaut Korea Selatan tewas.

    Suatu investigasi internasional kemudian membenarkan kecurigaan-kecurigaan, bahwa kapal tersebut dihantam torpedo yang diluncurkan dari kapal selam Korea Utara.

    Kedua negara secara teknis masih dalam keadaan perang karena konflik mereka pada tahun 1950-1953 hanya diakhiri dengan gencatan senjata. Pejabat Korea Selatan mengatakan kepada Yonhap, bahwa AS akan mengerahkan kapal induk nuklir berbobot 97.000 ton USS George Washington bersama dengan sebuah kapa perusak tipe aegis dan satu kapal selam nuklir.

    Korea Selatan dilaporkan akan mengerahkan sebuah destroyer 4.500 ton, sebuah kapal selam dan jet-jet tempur F-15K.

    Pejabat tersebut mengatakan, meriam-meriam akan ditembakkan, bom-bom anti-kapal selam dijatuhkan dan komunikasi musuh dicegat dalam latihan yang diduga nyaris sama dengan perang sebenarnya.

    Pekan lalu, Angkatan Laut Korea Selatan mengadakan latihan-latihan anti-kapal selam mandiri di Laut Kuning, sebagai bagian tindakan-tindakan untuk menghadapi serangan-serangan yang dilakukan Korea Utara. Latihan-latihan itu melibatkan sekitar 10 kapal perang, yang mempraktekkan tembakan peluru tajam serta menjatuhkan bom-bom anti-kapal selam.

    Korea Utara, yang marah oleh tuduhan-tuduhan Seoul, telah mengumumkan bahwa pihaknya memutus semua hubungan dengan Korea Selatan, dan mengancam menggagalkan perjanjian mengenai pencegahan bentrokan angkatan laut dengan tetangganya di selatan.

    Korea Selatan mengupayakan sanksi-sanksi baru terhadap Korea Utara berkaitan dengan serangan atas kapal perangnya.

    Tindakan itu akan menjadi pukulan lain bagi ekonomi Korea Utara yang rusak oleh sanksi-sanksi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebelumnya sebagaiupaya untuk menekan Pyongyang agar melepas program nuklirnya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> AS-Korsel Gelar Latihan Militer

    Kemandirian Persenjataan


    Jakarta - Pertahanan negara adalah sistem keamanan terhadap kegiatan yang bersumber kekuatan luar negeri dan umumnya bersifat serangan dengan kekuatan militer oleh negara lain (Suryohadiprojo, 2005: 6)

    Pernyataan di atas secara tegas menunjukkan bahwa kekuatan militer mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap sebuah pertahanan negara. Kekuatan militer dalam dunia pertahanan dapat memberikan dua dampak yang saling bertolak belakang.

    Di satu sisi dia dapat mengancam pertahanan dan kedaulatan negara lain. Sedangkan di sisi lainnya dengan adanya kekuatan militer dapat membantu memberikan rasa aman bagi terciptanya stabilitas pertahanan negara dan kawasan.

    Meskipun tatanan dunia sudah mulai berubah pasca berakhirnya perang dingin namun bukan berarti ancaman terhadap pertahanan negara dengan penggunaan kekuatan militer lenyap begitu saja dari permukaan bumi. Seiring dengan perkembangan dunia teknologi justru eskalasi ancaman dengan penggunaan kekuatan militer dapat saja semakin meningkat. Mengingat banyaknya negara-negara di dunia saat ini yang telah mengalokasikan anggaran pertahanan untuk meningkatkan dan membangun kekuatan militernya baik dengan cara melakukan riset teknologi persenjataan maupun dengan pembelian peralatan militer berteknologi tinggi dari negara lain.

    Potensi Ancaman Terhadap Indonesia
    Tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan di bidang pertahanan sangat begitu kompleks. Kesalahan kecil dalam mengantisipasi permasalahan di sektor ini dapat berdampak pada terganggunya roda pemerintahan, stabilitas negara, serta kehidupan masyarakat. Banyak contoh kasus terjadinya gangguan atau ancaman terhadap pertahanan negara kita yang bisa dijadikan pelajaran untuk membangun dan memperkuat sistem pertahanan yang tangguh.

    Sebagai sebuah negara yang berlokasi di wilayah strategis dan dengan segala kekayaan yang dimilikinya maka ancaman kekuatan militer terhadap Indonesia dapat saja muncul kembali di suatu waktu. Meskipun keadaan saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif stabil namun tidak menutup kemungkinan konflik dengan negara-negara tetangga di wilayah perbatasan kembali memanas. Sebagaimana yang pernah terjadi antara Indonesia dengan Malaysia ketika terjadi persengketaan pulau (Ambalat, Sipadan, dan Ligitan) dan perbatasan beberapa waktu yang lalu yang berujung pada kontak senjata.

    Konflik militer memang bukan suatu hal yang diharapkan. Namun, terkadang hal ini terjadi sewaktu-waktu dengan tanpa diduga. Khususnya di daerah-daerah perbatasan seperti di Kalimantan, Papua, dan Pulau Timor. Ancaman terhadap kedaulatan wilayah juga tidak mengenal lokasi apakah dia terjadi di darat, udara, maupun laut. Sebab, banyak terjadi kasus pelanggaran perbatasan oleh kapal laut Tentara Diraja Malaysia di samping juga Pesawat F-18 Amerika Serikat yang melintasi wilayah teritorial udara Indonesia tanpa izin.

    Dari banyaknya potensi ancaman yang mengancam kedaulatan negara kita maka dapat diketahui bahwa pengamanan perbatasan yang dilakukan Indonesia masih lemah. Hal ini sebenarnya juga tidak terlepas dari minimnya alat utama sistem persenjataan (alutsista) negara kita.

    Postur Pertahanan
    Indonesia adalah negara yang berdaulat dan hal itu terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea kedua. Tetapi, dalam konteks isu pertahanan Indonesia beberapa terakhir ini cenderung bersikap lunak sehingga kedaulatannyapun kemudian dipertanyakan.

    Sekiranya kita ingin memiliki kembali visi dan cita-cita untuk menjadi 'pemain' terkuat dan disegani di oleh negara-negara lain dan bilamana pula kita sungguh-sungguh menganggap bahwa ancaman utama terhadap keselamatan nasional adalah dari luar adalah berbahaya, maka mengubah postur pertahanan tentu merupakan langkah yang tepat.

    Mengubah postur pertahanan yang ideal dapat dilakukan dengan mengubah kekuatan dari titik berat yang semula hanya pada Angkatan Darat kemudian merata ke seluruh angkatan (Darat, Laut, dan Udara). Dengan adanya pemerataan ini maka tentunya juga harus didukung dengan alutsista yang memadai untuk masing-masing angkatan, dan tidak dapat dipungkiri penggunaan alutsista dengan teknologi modern mutlak diperlukan.

    Tidak hanya oleh AD tetapi juga oleh AU dan AL. Untuk itu tentunya diperlukan anggaran yang besar terlebih membangun kekuatan persenjataan AU dan AL jauh lebih mahal dari AD itu sendiri.

    Sejauh ini postur pertahanan nasional yang dibuat Dephan untuk masa sampai tahun 2029 menyatakan bahwa pertahanan nasional kita mengacu kepada apa yang disebut sebagai 'minimal essential force' mengingat hingga saat ini masih adanya keterbatasan anggaran untuk pembelian alutsista. Sampai taraf tertentu hal ini pasti memang akan menyulitkan kita untuk membeli alat-alat pertahanan yang canggih atau sedikit bergengsi guna menciptakan deterrent effect atau 'memenangkan perang tanpa berperang'.

    Jika memang kesulitan mendapatkan alutsista berteknologi tinggi dikarenakan oleh masalah anggaran maka apakah anggaran yang memang harus menentukan postur pertahanan kita? Untuk mengatasi permasalah ini kita perlu mencoba membuat suatu sinergi antara persoalan tersebut maka apakah tidak mungkin kita menjadikan industri pertahanan nasional sebagai salah satu lokomotif untuk mengatasi permasalahan minimnya alutsista.

    Dengan dijadikannya industri pertahanan nasional sebagai lokomotif maka kita akan dapat mengatasi masalah minimnya alutsista di ketiga matra angkatan. Sebab, harga yang harus dibayar tentunya jauh lebih murah. Di samping itu besar kemungkinanan industri ini juga akan dapat membantu menarik gerbong ekonomi nasional Indonesia.

    Revitalisasi Industri Pertahanan
    Indonesia bukanlah negara yang tanpa potensi sumber daya untuk membangun kekuatan industri pertahanannya secara mandiri. Banyak sumber daya manusia Indonesia yang pada kenyataannya sudah mampu menghasilkan produk-produk alutsista dan itu sudah diakui oleh negara-negara lain.

    Akan tetapi karena ketidakpercayaan dan minimnya dukungan dari pemerintah hingga saat ini maka potensi tersebut menjadi mengendap dan tidak termanfaatkan. Bahkan, sudah banyak SDM kita yang lari ke negara-negara lain untuk bekerja dan mengembangkan riset teknologi persenjataan.

    Mengingat kebutuhan akan peremajaan alutsista sangatlah mendesak dan di sisi lain adanya keterbatasan anggaran dari pemerintah untuk membeli persenjataan dari luar negeri maka tidak salah apabila wacana revitalisasi industri pertahanan nasional kembali harus dicuatkan. Revitalisasi industri pertahanan nasional diharapkan mampu memotong besarnya biaya kebutuhan pembelian alutsista dari luar negeri yang begitu mahal. Di sisi lain hal ini juga diharapkan dapat kembali menggerakkan kondisi perekonomian nasional serta mengurangi angka pengangguran.

    Tentunya dengan revitalisasi industri pertahanan Indonesia juga dapat meneruskan dan mengembangkan berbagai proyek dan riset strategis yang pernah ada sebelumnya. Kita hingga saat ini masih mencatat bahwa PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan lain-lain pernah membuat suatu produk alutsista yang berkualitas dan diakui kehebatannya oleh negara-negara lain, dan tentunya ini perlu dukungan dari pemerintah beserta seluruh rakyat untuk memajukannya kembali.

    Sumber: DETIK COM
    Readmore --> Kemandirian Persenjataan

    Ledakan Terjadi di PT Pindad Malang


    illustrasi Pabrik meledak


    Malang - Terjadi ledakan di PT Pindad, Turen, Malang, perusahaan Industri Manufaktur Indonesia yang bergerak dalam bidang produk militer. Akibat ledakan itu, satu orang dikabarkan meninggal dunia.

    Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab ledakan yang menggegerkan warga Turen.

    Ledakan di divisi detonator PT Pindad di Jalan Jenderal Sudirman, Turen, Kabupaten Malang, Rabu (2/6/2010) terjadi sekitar pukul 13.30 WIB.

    Akibat ledakan itu, satu orang dikabarkan meninggal dunia. Sementar 3 korban lagi mengalami luka berat. Kini para korban dalam penangan intensif UGD RS dr. Syaiful Anwar, Malang.

    Kepala Departemen Umum PT Pindad, Teguh Joko, membenarkan adanya ledakan tersebut. tetapi dirinya belum tahu penyebab dan kronologinya.

    "Saya belum tahu dengan jelas kronologinya. Hubungi saja bagian Humas PT Pindad," kata Teguh.

    Sumber: DETIK COM
    Readmore --> Ledakan Terjadi di PT Pindad Malang

    Rudal Taiwan Bisa Menjangkau Beijing


    TAIPEI, KOMPAS.com — Taiwan, menurut sebuah laporan yang terbit Rabu (2/6/2010), akan menguji coba sebuah rudal yang dapat menghantam Beijing.

    Kementerian Pertahanan Taiwan segera membantah berita tentang rudal darat ke darat yang berjangkauan tembak menengah, tetapi mengatakan riset sedang dilakukan mengenai berbagai sistem senjata. Rudal yang didesain untuk mencapai sasaran sejauh 2.000 kilometer itu akan diluncurkan pada Kamis dan Jumat dari Chiupeng, satu pangkalan di Taiwan selatan yang dijaga ketat, kata majalah Next Magazine yang berpusat di Taipei.

    Jika berhasil, proyek senjata bersandi "Ching Sheng" itu akan memasuki tahap produksi massal, kata majalah yang biasanya mengutip dari sumber yang mengetahui dengan baik. Laporan tersebut melanjutkan, Kementerian Pertahanan berencana menggelar 150 rudal seperti itu, lebih dari 240 rudal jelajah yang ada sekarang, untuk membentuk satu dari penangkal-penangkal utama pulau itu menghadapi serangan China.

    Rudal jangkauan menengah itu juga bisa digunakan untuk menyerang kota-kota besar China lainnya, seperti Shanghai dan Chongqing serta pangkalan-pangkalan rudal balistik di China timur dan tenggara. "Riset dan pengembangan berbagai sistem senjata telah dilakukan sesuai rencana," kata seorang pejabat kementerian kepada AFP, tetapi menambahkan, "Isi berita itu tidak benar."

    Ketegangan di Selat Taiwan mereda sejak Presiden Taiwan, Ma Ying Jeou, dari Partai Kuomintang, yang bersahabat dengan China berkuasa tahun 2008, berjanji akan meningkatkan hubungan perdagangan dan mengizinkan lebih banyak wisatawan China mengunjungi pulau itu. Beijing masih menolak menghentikan penggunaan kekuatan militer terhadap Taiwan seandainya pulau itu mengumumkan kemerdekaan secara resmi, yang membuat pulau itu berusaha memiliki lebih banyak senjata pertahanan.

    Pulau itu memiliki pemerintah sendiri sejak melepaskan diri dari daratan China pada akhir perang saudara tahun 1949. Majalah itu memberitakan, China telah meningkatkan jumlah rudalnya yang diarahkan ke pulau itu dari 300 unit tahun 2001 menjadi 1.400 unit tahun 2008.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Rudal Taiwan Bisa Menjangkau Beijing

    Pesawat Logistik Obama Tiba di Bali


    Pesawat US Air Force, C-17 Globe Master mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Rabu (2/6/2010)


    TUBAN, KOMPAS.com — Sebuah pesawat US Air Force, C-17 Globe Master, mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Rabu (2/6/2010) pukul 17.00 Wita. Pesawat yang membawa keperluan logistik menjelang kedatangan Presiden AS Barack Obama itu parkir di Baseops Lanud Ngurah Rai.

    Menurut pengamatan Kompas, awak pesawat menurunkan sejumlah barang-barang dengan menggunakan alat berat.

    Komandan Lanud Ngurah Rai Letkol Pnb Aldrin P Mongan tidak bersedia memberikan komentar apa pun terkait kedatangan pesawat angkut berat itu. Aldrin hanya mengatakan akan memberi waktu khusus untuk menjelaskan perihal rencana kedatangan Presiden Obama. Namun, Aldrin tidak menyebut kapan waktunya untuk menjelaskan hal itu.

    Namun, sumber di Lanud Ngurah Rai menyebutkan, C-17 Globe Master akan kembali menurunkan peralatan logistik pada pukul 01.00 Wita, Kamis (3/6/2010).

    Kedatangan pesawat logistik jelang kedatangan Presiden Obama ini mendapat penjagaan sangat ketat. Lanud pun sempat ditutup, wartawan tidak boleh masuk ataupun mengambil gambar dari jarak dekat.

    Pada 18 Maret 2010, pesawat sejenis juga melakukan hal yang sama di Ngurah Rai. Presiden Obama sedianya berkunjung ke Indonesia pada 23-25 Maret. Namun, karena kesibukan Presiden Obama di dalam negeri maka kunjungan itu tertunda dan direncanakan tanggal 14 Juni mendatang.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Pesawat Logistik Obama Tiba di Bali

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.