ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Tuesday, September 20, 2011 | 3:42 PM | 0 Comments

    Rusia Ajak Indonesia Untuk ToT Dan Joint Production Alutsista

    Jakarta - RI-Rusia akan melakukan kerja sama dibidang pertahanan dengan melakukan join production alat utama sistem persenjataan (Alutsista). Rencana kerja sama ini sudah disusun dalam draft perencanaan untuk ditindak lanjuti dengan negosiasi industri pertahanan Indonesia.

    Kerja sama ini salah satunya akan dilakukan dengan PT Pindad. "Kami sedang melakukan negosiasi dengan PT Pindad dan akan segera menandatangani MoU. Kami juga akan bekerja sama dengan industri pertahanan lainnya yang ada di Indonesia, tapi sekarang baru sekadar draf. Negosiasi satu langkah, dan kami berharap segera ada deal,"kata Duta Besar Rusia Alexander A. Ivanov usai penyematan medali kehormatan yang diberikan pemerintah Rusia pada Menteri Pertahanan RI di Wisma Kedutaan Besar Rusia di Jakarta,Senin (20/9).

    Selain itu, tutur Ivanov, Rusia sedang melakukan negosiasi dengan PT PAL dan PT DI untuk melakukan overwhole Helikopter Mi-35.

    Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengaku kaget atas rencana Rusia tersebut. Karenanya dia mengagumi keputusan tersebut dan menyambut dengan baik. "Saya kaget mereka mau berbicara transfer of technology dengan Pindad. Saya cukup kagum mereka ingin memproduksi bersama,"katanya.

    Menhan mengharapkan, kerja sama kedua negara bisa terjalin tidak hanya dalam bidang pengadaan alutsista. Harapan terjadinya pertukaran perwira dalam bidang pendidikan dan pelatihan dalam waktu dekat akan terealisasi. "Mereka akan menerima taruna akademi militer kita. Kedua, kita akan kerja sama dalam bidang latihan bersama,"kata Menhan.

    Menhan menambahkan, Rusia meminta secara khusus kerja sama dalam bidang pemberantasan terorisme. Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan (wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama join production pembangunan rudal C-705 China-indonesia melalui PT Pindad akan terealisasi tahun ini. "Tahun ini realisasinya produksi bersama,"kata dia.

    Sumber : Jurnas
    Readmore --> Rusia Ajak Indonesia Untuk ToT Dan Joint Production Alutsista

    Kemenhan : Anggaran Alutsista Jangan Sampai Memberatkan APBN

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menuturkan jangan sampai anggaran yang akan dipergunakan untuk alutsista jangan sampai memberatkan.

    "Prinsipnya pinjaman jangan memberatkan kita, jadi tadi dibahas walau kami departemen teknis, kami juga memberikan usulan pemikiran bahwa bagaimana cita-cita dari tim ekonomi kita tercapai yaitu nanti ada struktur budjet di 2014 atau paling sedikit defisit itu tidak terjadi atau balance budjet," kata Menhan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Senin (19/9/2011).

    Dia menyebutkan, dari anggaran sebesar Rp99 triliun hingga tahun 2014, ada dana dari analisis pinjaman luar negeri (APLN) sebesar Rp66,5 triliun.

    "Tidak semuanya Rp66,5 triliun itu terpakai semua, kan sekarangsudah maju anggaran tahun 2012, 2013, 2014. Kira-kira efektif terpakai kurang dari itu. Itu sudah dihitung oleh Bappenas dan menkeu bilang sekitar USD4 miliar. Jadi pembelajaan kita akan berkurang sekitar USD4,4 miliar. Tentu dari USD4,4 miliar ini kita berharap bisa menanfaatkan dana dalam negeri atau dari SUN. Walau kami bukan masuk tim ekonomi tentu berharap tidak membebani APBN," terang dia.

    Menteri PPN/Kepala Bapenas Armida Alisjahbana menambahkan, pihaknya akan segera merekomendasikan list yang sudah dihasilkan oleh pemerintah kepada menkeu.

    "Mengenai pendanaan dan sumbernya pendaan katakanlah komersial kredit dan sumber pendanaan lain itu kewenangan Menkeu. jadi yang penting list alustsitas yang kurang lebih fix di sidang kabinet selanjutnya kewenangan menkeu, Kemudian menkeu menetapkan APP (alokasi pinjaman pemerintah)," tukas Armida.

    Sumber : Okezone
    Readmore --> Kemenhan : Anggaran Alutsista Jangan Sampai Memberatkan APBN

    Mengenal Pesawat Tempur Latih T-50 Golden Eagle

    Jakarta - Keinginan Indonesia untuk kembali disegani di dalam pertahanan udara, seperti halnya pada dasawarsa 60-an, tampaknya benar-benar akan terwujud, meski untuk melangkah ke sana perlu banyak pertimbangan yang sangat matang, terutama masalah anggaran.

    Kala itu, AURI menjadi kekuatan udara terkuat di belahan selatan dunia. Apalagi saat itu, pemerintahan Bung Karno mengerahkan 29 persen APBN Indonesia untuk belanja militer.

    Guna mengganti pesawat yang dinilai sudah tergolong tua, TNI-AU mengambil beberapa langkah untuk memodernisasi alutsistanya. Ini juga sebagai wujud dari kebijakan Presiden SBY untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan alutsista, khususnya untuk mengganti pesawat-pesawat yang berusia di atas 30 tahun.

    Jenis dan tipe pesawat yang akan dibeli dengan berbagai skema pengadaan itu sangat beragam. Mulai dari EMB-314 Super Tucano dari Brazil pengganti OV-10 F Bronco, enam Sukhoi Su-27/30 MKI Flanker yang juga dilengkapi sistem kesenjataan dan avionik, serta jet latih lanjut-serang ringan T-50 Eagle dari Korea Utara menggantikan Hawk MK-53 buatan Inggris yang akan segera dipensiunkan.

    Super Tucano tinggal menunggu realiasinya. Kedatangan tim Korea Aerospace Industry ke Pangkalan Udara Iswahjudi belum lama ini, merupakan bukti konkret bahwa hal ini bukan sekadar janji tapi bukti. Survei yang dilakukan tim Korea Aerospace Industry (KAI) yang dipimpin oleh Gyoung MM Kim, dimaksudkan untuk menyesuaikan persiapan yang perlu dilakukan antara Korea dan Indonesia berkaitan dengan pesawat T-50 Golden Eagle.

    Selain mengadakan kunjungan ke Skuadron Udara 15, Tim KAI juga melihat ACMI (Air Combat Manuvering Instrument) dan dilanjutkan ke Skuadron teknik 042.

    Kedatangan tim tersebut sebagai tindak lanjut dari kepastian TNI-AU membeli satu skuadron (16 unit) pesawat T50 Golden Eagle dari Korea Selatan pada tahun depan. Pesawat latih tempur itu untuk meningkatkan kemampuan pengendalian pesawat tempur para penerbang TNI AU.

    Semula ada beberapa pilihan, di antaranya jet tempur latih buatan Rusia Yakovlev Yak-130 dan buatan Ceko Aero L-159Alca. Bahkan DAPA (Defense Acquisition Program Administration) mengumumkan, pesawat T-50 menjadi salah satu alternatif yang dipilih Indonesia.

    Dalam kunjungannya ke Indonesia pada 11 Agustus lalu, Menteri Pertahanan Korsel Kim Tae-Young membawa misi di antaranya adalah menawarkan T-50 ke Indonesia.

    Akan Dikirim


    Menurut KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat, pengadaan pesawat tersebut sudah masuk dalam anggaran Kementerian Pertahanan. Proses pengadaan T-50 sudah ditetapkan oleh Dephan. Proses pengadaan sudah dimulai. Untuk membeli satu skuadron T-50, pemerintah harus menyiapkan biaya 400 juta dolar AS.

    Pesawat rencananya akan mulai dikirim ke Indonesia pada 2012 mendatang. Normalnya sebenarnya 18 bulan, tapi pemerintah Indonesia minta perusahaannya untuk mempercepat.

    Pesawat T-50 cocok untuk latihan pilot pesawat Sukhoi dan memiliki kemampuan mirip F 16. Menjadi sangat menarik dari kegunaan T-50 ini, sebelum pilot menerbangkan Sukhoi, mereka akan dilatih menggunakan T-50 lebih dulu. Alasannya, kalau latihannya pakai Sukhoi, biaya operasionalnya cukup besar. Pesawat buatan Korea itu selain untuk latihan, juga bisa digunakan untuk operasi penyerangan ringan.

    Jet tempur latih T-50 dikembangkan hasil kerja sama Korea Aerospace Industries (KAI) dan Lockheed Martin dari Amerika Serikat. T-50 dikalahkan M-346 Master buatan Alenia Aermacchi Italia dalam kontes di Uni Emirat Arab dan Singapura. Meski demikian, T-50 sedang berkompetisi dengan M-346 di Israel, Polandia dan Irak.
    Kecepatan maksimum T-50 dapat mencapai Mach 1,5 dan mesin dorong 30 ribu tenaga kuda yang di suplai mesin General Electric Turbofan F404-102. Dimensi keseluruhan dari pesawat T-50 ini mempunyai panjang 13,13 meter, lebar 9,45 meter, dan tinggi hampir 5 meter. Berat pesawat ini adalah 6.480 kilogram, hampir menyamai 77% dari beratnya pesawat F-16 Amerika .

    Pesawat T-50 ini dilengkapi dengan radar multiguna, sistem navigasi inersial, dan sistem identifikasi musuh secara terpadu (IFF), serta rudal Air to Air Massile System (AAMS) dan Air to Ground Massile System (AGMS) yang siap di tempatkan di sayapnya.

    Dalam waktu biasa, T-50 dapat digunakan sebagai jet pelatihan lanjutan, tetapi bilamana mendesak T50 ini bisa diandalkan dalam pertempuran.

    T-50 Golden Eagle jet tempur bermesin tunggal dilengkapi sistem data penerbangan dan pelatihan darat modern, membantu para pilot baru yang akan menggunakan jet tempur generasi 5 dan 4.5 dengan mudah.

    Pesawat mempunyai kecepatan maksimal 1,5 Mach, termasuk jenis pesawat supersonic atau berkecepatan tinggi, menempatkan T-50 berbeda dari Yak-130 yang masuk dalam golongan subsonic.

    Dilengkapi dengan multimode radar, close air support dan kunci senjata A/A dan A/G, pesawat ini disebut juga mampu memenuhi kebutuhan sebagai Light Combat Aircraft jika dibutuhkan. Di Korea sendiri, sedikitnya 57 unit T-50 telah digunakan.

    Hubungan Indonesia - Korea sudah lama terjalin di bidang kedirgantaraan,d iantaranya dengan membeli jet latih KT-1 buatan KAI pada 2001 dan 2005, yang salah satunya jatuh di Bandara Ngurah Rai, Bali, saat pesawat ini menggelar joy flight. Selain itu, Indonesia dan Korsel telah menandatangani kerja sama pengembangan jet tempur KF-X.

    Bagi pemerintah Korea Selatan, pembelian T-50 oleh Indonesia menjadi catatan tersendiri, karena Indonesia merupakan negara pertama di luar Korsel yang mengoperasikan T-50. Pesawat tempur ini pernah ditampilkan di Ajang Indo Defense 2010 2 November 2010. Ada versi jenis lain yang sudah dilengkapi dengan persenjataan lengkap bagi yang telah siap mengoperasikan.

    Tapi pesawat T-50 ini pun bisa dimodifikasi dengan menginstall persenjataan yang dibutuhkan tanpa perlu membeli jenis baru yang telah dilengkapi senjata.

    Sumber : Suara Merdeka
    Readmore --> Mengenal Pesawat Tempur Latih T-50 Golden Eagle

    Update : Bangun Skuadron Udara di Kaltim

    Jakarta - Kementerian Pertahanan mencanangkan untuk membangun sedikitnya tiga skuadron udara baru menyusul akan ada penambahan pesawat tempur dalam jumlah besar.

    Salah satu daerah yang diproyeksikan adalah di wilayah Kalimantan Timur. Saat ini Kemhan telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung program tersebut serta sejumlah perencanaan lain menyangkut penguatan pertahanan di perbatasan. Nota kerja sama ditandatangani antara Sekjen Kemhan Marsekal Madya (Marsdya) TNI Erris Heryanto dan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak di Kantor Kemhan,Jakarta,kemarin.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, besar kemungkinan akan dibangun satu skuadron udara di wilayah Kalimantan Timur. Saat ini Indonesia telah memiliki skuadron Hawk di Pekan Baru dan Kalimantan Barat, Sukhoi di Makassar,dan F-16 di Madiun.“Kita akan punya baby F-16 yaitu T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan, kemudian Super Tucano untuk counter insurgency.

    Ini akan kita tata karena memang salah satu flash point yang kita waspadai adalah daerah perbatasan,” ungkapnya seusai penandatanganan nota kerja sama kemarin. Meskipun akan fokus di daerah perbatasan, skuadron itu tidak akan berada pada jarak yang terlalu dekat dengan negara lain.“Kalau terlalu dekat juga tidak baik.Tapi,kita bisa menjangkau dengan cepat.

    Seperti tadi di lapangan terbang yang terletak di tengah antara Kalimantan Barat dengan Kalimantan Timur yang setiap saat bisa dipakai tidak hanya pesawat tempur, tapi juga pesawat transportasi untuk pembangunan infrastruktur,” urainya. Purnomo mengaku telah memperhitungkan berapa jumlah skuadron udara yang akan dibangun dan di mana saja lokasinya. Namun, mantan Menteri ESDM ini enggan untuk menerangkan secara lebih detail.“Tidak pas untuk disebutkan di sini.

    Cukup banyak, lebih dari tiga skuadron,” kata dia. Gubernur Awang Faroek mengungkapkan, pihaknya siap dan merasa wajib untuk membantu penguatan pertahanan di Kalimantan Timur karena wilayah ini berbatasan langsung dengan negara lain, Malaysia. Ada tiga kabupaten dengan total 15 kecamatan di provinsi tersebut yang berbatasan dengan luar negeri.

    “Panjang perbatasan 1.038 kilo meter. Sudah menjadi tekad kita bersama daerah perbatasan itu menjadi beranda NKRI.Namanya beranda, harus dibuat bagus,” katanya. Awang menyebut ada tiga landasan yang dibenahi agar bisa digunakan untuk mendaratkan pesawat dengan ukuran besar seperti Hercules milik TNI.Landasan itu juga diharapkan bisa mencapai panjang 2.500-3.000 meter agar dapat dijadikan landasan bagi pesawat tempur TNI Angkatan Udara.

    “Dana untuk tiga landasan itu lebih dari Rp40 miliar di Kerayan, Rp8 miliar di Long Nawan, dan nilai serupa di Datah Dawai,”ungkap dia. Selain untuk mendukung pesawat-pesawat milik TNI Angkatan Udara, landasan itu juga diharapkan dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi wilayah setempat. Selama ini minimnya infrastruktur membuat harga-harga di sana melambung tinggi dan banyak komoditi yang akhirnya dijual ke Malaysia karena akses ke negeri jiran itu lebih baik.

    “Jadi, arus barang dan jasa bisa semakin baik. Proses sudah dimulai tahun ini kita sudah anggarkan melalui APBD dan usulkan ada TMMD (tentara manunggal membangun desa) berskala besar,”paparnya. Selain landasan, Pemprov Kalimantan Timur juga akan membeli sejumlah helikopter yang akan dihibahkan bagi TNI.

    “Untuk helikopter saja dananya Rp120 miliar. Jenis helikopter yang dibeli kita sesuaikan dengan standar kepentingan TNI.Tim sudah memilih Heli Bell-412 sesuai standar TNI.Kebetulan TNI juga pesan helikopter sejenis,”urai Awang.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Update : Bangun Skuadron Udara di Kaltim

    Monday, September 19, 2011 | 10:53 PM | 0 Comments

    Pemkab Kaltim Hibahkan Heli dan Lahan untuk Kemenhan

    Jakarta - Pemerintah Kabupaten Kalimantan Timur menghibahkan helikopter dan lahan untuk pembangunan markas dan landasan pesawat TNI di wilayah perbatasan Kalimantan.

    Hari ini, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro dan Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak menandatangani nota kesepahaman tentang Hibah dan Pinjam Pakai Barang Milik Negara atau Daerah untuk memenuhi kebutuhan markas komando, daerah latihan TNI serta landasan helikopter, dan bandara. Total nilai investasi pemda ini mencapai Rp. 56 miliar.

    Infrastruktur tersebut akan dibangun di daerah dekat perbatasan Indonesia-Malaysia, yaitu Nunukan, Malinau, dan Kutai Barat yang berbatasan langsung dengan Sabah dan Serawak. Wilayah perbatasan ini sepanjang 1038 kilometer dengan 15 kecamatan.

    Tidak hanya lahan, pemda Kaltim juga menghibahkan Rp. 120 miliar bagi pembelian helicopter TNI jenis Bel-412. Jumlah helikopter yang dibeli dipasrahkan pemda pada Kemenhan.

    Pemda Kaltim bertekad menjadikan wilayah perbatasan sebagai beranda Indonesia dengan pendekatan pertahanan keamanan. “Namanya beranda kan harus dibuat bagus,” kata Awang usai penandatanganan MoU di kantor Kemenhan.

    Selain itu, motif ekonomi juga jadi latar belakang pemberian hibah ini. Dengan bertambahnya infrastruktur, pemda Kaltim berharap lalu lintas orang dan barang ke wilayah perbatasan tadi akan meningkat. Saat ini citra kawasan perbatasan identik dengan daerah tertinggal dan terpencil.

    Padahal, menurut Awang, wilayah itu punya potensi. Misalnya, masyarakat memiliki surplus beras yang akhirnya dibawa ke Malaysia karena kendala distribusi ke dalam negeri. “Semen sekarang di sana harganya satu juta rupiah per sak,” tambahnya. Dengan adanya infrastruktur bandara nantinya, ia ingin menekan harga-harga barang di Kaltim.

    Purnomo menimpali soal pengembangan wilayah perbatasan ini. “Yang berani berangkat ke sana kan biasanya TNI. Uji coba dulu oleh kami dengan pesawat tempur dan Hercules,” ujar dia terbahak. Pihaknya mendukung upaya kerjasama pemda Kaltim ini. Purnomo menyebut, Kemenhan akan menggunakan dana rupiah murni tahunan milik kementerian guna menindaklanjuti inisiatif pemda tersebut.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Pemkab Kaltim Hibahkan Heli dan Lahan untuk Kemenhan

    English News : Indonesian win launches Grob's G120TP

    Jakarta - Grob Aircraft has secured a launch customer for its G120TP design, with Indonesia's air force to operate the type as an elementary and basic trainer.

    Announcing its selection on 19 September, Grob said the turboprop-powered G120TP had been selected "in the face of fierce competition from the Finmeccanica [Alenia Aermacchi] SF-260TP and the Pacific Aerospace CT-4".

    Deliveries will commence in 2012, with the company also providing a computer-based ground training system, mission briefing and debriefing equipment, embedded cockpit simulation and a full package of maintenance support. The deal is likely to be for around 18 aircraft, with Grob expecting a contract signature to occur within the next few weeks.

    "Asia is seen by Grob as a key region, with the potential for several other air forces to follow the example set by Indonesia," the company said. It is also offering the G120TP to several other nations, including the UK.

    Indonesia also will begin fielding a new fleet of eight Embraer EMB-314 Super Tucanos from next year, following the signature of a contract in June 2011.

    The Brazilian-built turboprops will be used for tasks including light attack, surveillance, air-to-air interception and counter-insurgency.

    Source : Flight Global
    Readmore --> English News : Indonesian win launches Grob's G120TP

    Panglima TNI : Utang Pembelian Alutsista 2005 - 2009 Sebesar US$2,5 Miliar Segera Dibayar

    Jakarta - Mabes TNI lega mendapatkan kepastian pembayaran tunggakan pembayaran alat utama sistem senjata (alutsista) periode 2005-2009 sebesar US$2,5 miliar.

    Penglima TNI Agus Suhartono mengatakan alokasi dana itu sudah pasti dari Menkeu Agus Martowardojo yang kini tinggal proses pencairannya.

    "Itu ada juga pembiayaan 2005-2009 yang belum selesai. Itu harus dibayar dan tadi sudah ditetapkan US$2,5 miliar," ujarnya di Istana Presiden, hari ini.

    Dia menambahkan pemerintah telah menetapkan pula dukungan dana pembelian alutsista baru untuk periode 2010-2014 dengan nilai mencapai US$4,5 miliar.

    Dalam hal ini, ungkapnya, dana itu digunakan untuk berbagai peralatan militer, diantaranya tambahan pesawat tempur Sukhoi dan F16.

    "Untuk kapal laut mulai dari kapal pengganti Dewa Ruci, yang sudah tua. Itu mau diganti dengan kelas yang sama, tapi agak lebih besar sedikit. Terus kapal perusak," ujarnya.

    Sumber : Bisnis Indonesia
    Readmore --> Panglima TNI : Utang Pembelian Alutsista 2005 - 2009 Sebesar US$2,5 Miliar Segera Dibayar

    Menhan: Pemerintah Bentuk High Level Comittee Untuk Modernisasi Alutsista

    Jakarta - Pemerintah akan mengalokasikan Rp 99 triliun hingga tahun 2014 untuk program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Untuk memastikan transparansi dan akuntabilitasnya, pemerintah membentuk lembaga pengawas.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana menyampaikan hal ini dalam keterangan pers, usai sidang kabinet terbatas bidang polhukam, di Kantor Presiden, Senin (19/9) siang. Sidang yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini merupakan finalisasi dari keseluruhan empat rapat membahas pengembangan alutsista sebelumnya.

    "Seperti yang anda ketahui bahwa modernisasi alutsista TNI ini merupakan salah satu program nasional yang langsung di bawah koordinasi bapak Presiden dan hari ini, alhamdulillah, sudah dapat kita selesaikan," ujar Menhan Purnomo Yusgiantoro.

    Dalam modernisasi alutsista ini, lanjut Purnomo, ada tiga hal yang harus dilihat, yaitu produsen, prioritas, dan pendanaan. Pemerintah akan membentuk sebuah komite tingkat tinggi yang dipimpin Wakil Menhan Sjafrie Syamsudin. Komite akan mengawasi dan memastikan jalannya program ini. "High Level Comittee ini terdiri atas berbagai instansi, utamanya Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, Bappenas, dan melibatkan lembaga-lembaga pengawasan dan pengendalian," Purnomo menjelaskan.

    Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappena Armida Alisjahbana menambahkan, pemerintah mengalokasikan anggaran modernisasi alutsista ini Rp 99 triliun yang sudah masuk dalam baseline RPJMN 2010-2014. "Rp 99 triliun ini khusus untuk alutsista, terdiri dari Rp 32,5 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan dan sisanya Rp 66,5 triliun untuk belanja modal," kata Armida.

    Penganggaran ini ditetapkan mulai sekarang hingga tahun 2014 dan akan dialokasikan melalui mekanisme RAPBN dan APBN. Ratas hari ini telah memfinalisasi daftar dari alutsista tersebut. "Pendanaannya adalah kewenangan dari Menteri Keuangan, jadi yang akan ditetapkan setelah ini oleh Menteri Keuangan adalah yang namanya APT, alokasi pinjaman pemerintah," ujar Armida.

    Sumber : Presiden RI
    Readmore --> Menhan: Pemerintah Bentuk High Level Comittee Untuk Modernisasi Alutsista

    Bappenas : Indonesia Siapkan Rp 99 T untuk Alutsista TNI

    Jakarta - Pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 99 triliun untuk percepatan peremajaan dan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI yang sebagian berasal dari pinjaman luar negeri. Penggunaannya antara lain pengadaan tiga kapal selam TNI AL, tank TNI AD serta pesawat tempur Sukhoi TNI AU.

    Demikian keputusan rapat kabinet terbatas rencana pengadaan alutsista TNI dengan pembelanjaan pinjaman luar negeri 2010-2014. Rapat berlangsung di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (19/9/2011).

    "Sampai 2014 yang dibicarakan menyangkut anggaran sekitar Rp 99 triliun sebagai anggaran yang sudah masuk kedalam dateline dari RPJMN 2010-2014," ujar Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

    Dana sebesar Rp 99 trilyun itu terdiri dari Rp 32,5 trilyun untuk pemeliharaan dan perawatan. Sedangkan Rp 66,5 trilyun sisanya untuk belanja modal. Pencairan dana untuk pelaksanaan proyek tersebut akan berlangsung secara bertahap mulai tahun ini hingga 2014 mendatang.

    "Penetapan mulai sekarang, sehingga tiap tahun dialokasikan melalui mekanisme RAPBN dan APBN. Itu akan dimulai tentu mulai tahun ini, 2012 sampai 2014," ujar Armida.

    Untuk keperluan pengawasan sekaligus percepatan pelaksaan proyeknya dibentuk High Level Commission (HLC) yang terdiri dari BPKP, Kemenkeu, LKPP, Kemenhan dan Bappenas. Komisi tersebut akan dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan, Syafrie Syamsuddin.

    "HLC itu akan ditetapkan melalui keputusan presiden dalam waktu dekat ini," papar Menhan Poernomo Yosgiantoro pada kesempatan sama.

    Apa saja alutsista baru yang akan dibeli untuk TNI?

    "Misal kapal selam, kita pesan 3 dan akan dibuat di PT PAL. Untuk udara, seperti helikoper angkut, helkopter serbu, pesawat sukhoi dan pengganti pesawat Bronco. Untuk darat, seperti tank. Kita juga lihat untuk kondisi di Kalimantan dan Papua cocoknya alutsista yang bagaimana," jawab Menhan.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Bappenas : Indonesia Siapkan Rp 99 T untuk Alutsista TNI

    Waksal : TNI AL Segera Tambah Tank Amfibi BMP-3F

    Jakarta - Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio mengatakan TNI Angkatan Laut segera menambah armada tempurnya yakni tank amfibi BMP-3F dari Rusia hingga menjadi satu batalyon.

    "Akan segera kita tambah armadanya hingga menjadi satu kekuatan penuh, sekitar 54 unit," katanya ketika dikonfirmasi ANTARA usai membuka Lomba Pembinaan Satuan Korps Marinir di Markas Komando Brigif-2 Marinir, Cilandak, Jakarta, Senin.

    Laksamana Madya Marsetio mengemukakan penambahan tank BMP-3F itu akan dilakukan secara bertahap sesuai rencana srategis TNI Angkatan Laut hingga 2024 dalam kerangka pembangunan kekuatan pokok minimum.

    "Tentu kita lakukan bertahap pengadaannya, sesuai rencana strategis TNI Angkatan Laut," katanya.

    Wakasal menuturkan Korps Marinir merupakan salah satu komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) selain kapal perang, pesawat udara dan pangkalan TNI Angkatan Laut.

    "Karena itu, Korps Marinir juga memerlukan perkuatan baik dari segi personel maupun persenjataan," katanya.

    "Pembinaan SDM terus dilakukan baik secara fisik maupun jasmani. Persenjataannya pun perlu terus ditingkatkan. Sehingga prajurit-prajurit marinir siap ditempatkan di mana pun, dalam waktu relatif singkat dalam kondisi apapun," ujar Marsetio.

    Korps Marinir Indonesia telah mengoperasikan 17 unit tank amfibi BMP-3F dari Rusia sejak 11 Desember 2010. Kendaraan tempur infantri itu bahkan ikut dikerahkan pada operasi pembebasan kapal MV Sinar Kudus di Somalia pada April 2011. BMP-3F merupakan ranpur terkuat yang dimiliki angkatan bersenjata Indonesia dibandingkan PT-76 dan BVP-2 bahkan lebih mematikan dari tank yang dimiliki Angkatan Darat.

    Semula Indonesia pada tahap pertama akan membeli 20 unit tank amfibi BMP-3F dengan anggaran Rp445 miliar pada 2009. Namun karena penyusutan nilai kurs rupiah maka dengan anggaran sebesar itu, Indonesia baru bisa membeli 17 unit.

    Sumber: Yahoo
    Readmore --> Waksal : TNI AL Segera Tambah Tank Amfibi BMP-3F

    Menhan : TNI Akan Membeli 1 Skuadron Su-27 Baru Dan Main Battle Tank

    Jakarta - Pemerintah terus memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) tanah air. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendatangkan pesawat tempur buatan Rusia yaitu Sukhoi.

    "Setidaknya kami akan mendatangkan satu skuadron Sukhoi," ungkap Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoto seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (19/9).

    Satu skuadron tersebut terdiri dari 16 pesawat Sukhoi baru jenis Su27. Selain pesawat Sukhoi, pesawat tempur yang bakal didatangkan kembali yakni pesawat F16 buatan Amerika Serikat (AS).

    Purnomo menegaskan pembelian pesawat tempur mutakhir tersebut merupakan rangkaian program modernisasi alutsista 2010 sampai 2014. Pemerintah sudah menetapkan alokasi anggaran mencapai Rp 99 triliun yang terdiri dari Rp 32,5 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan (harwat)dan sisanya Rp66,5 triliun untuk belanja modal alutsista.

    Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menambahkan beberapa persenjataan yang bakal dibeli di antaranya main battle tank. "Ini tank-tank utama yang mempunyai kaliber 120 mm," katanya.

    Pemerintah juga bakal menambah jumlah tank amphibi serta sejumlah kapal perang untuk memperkuat TNI Angkatan Laut. "Kita juga mempersiapkan untuk membeli kapal pengganti Dewa Ruci karena sudah tua. Diganti dengan kapal kelas yang sama tetapi lebih besar," katanya.

    Sumber : Kontan
    Readmore --> Menhan : TNI Akan Membeli 1 Skuadron Su-27 Baru Dan Main Battle Tank

    Panglima TNI: Semua Angkatan Butuh Modernisasi Alutsista

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Senin (19/9/2011), menyatakan, semua angkatan di TNI memerlukan modernisasi. Alat utama sistem senjata yang dimiliki Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara sudah berusia tua.

    "Setiap angkatan butuh modernisasi. Tank A ngkatan Darat tua-tua . Angkatan Laut juga sama," ujar Agus sebelum mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden.

    Rapat yang dimulai pukul 11.00 itu membahas rencana pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista). Dalam rapat, Presiden Susilo Bambang Yudh oyono dan sejumlah menteri terkait, seperti Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, akan mengambil keputusan pengadaan alutsista yang menggunakan kredit ekspor. "Mana yang akan disetujui Pak Presiden untuk kredit ekspor," ucap Agus.

    Menurut Pangima TNI, saat ini Indonesia berupaya mengurangi pembiayaan dari kredit ekspor. Maka, pengadaan alutsista pun diarahkan pada industri dalam negeri. "Jadi, dari anggaran yg ada, mana yang bisa diadakan di dalam negeri, akan kita alihkan ke dalam negeri. Sedangkan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri akan diarahkan ke kredit ekspor," ujarnya.

    Dalam RAPBN 2012, Kementerian Pertahanan merupakan satu dari tujuh kementerian/ lembaga yang mendapat alokasi anggaran sangat besar, yakni di atas Rp 20 triliun. Alokasi tersebut diprioritaskan bagi upaya modernisasi alutsista.

    Saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2012 beserta Nota Keuangannya, Agustus lalu , Presiden mengumumkan, Kementerian Pertahanan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 64,4 triliun.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Panglima TNI: Semua Angkatan Butuh Modernisasi Alutsista

    Wamenkeu : Pencairan Anggaran Kemhan Ditinjau Ulang

    Jakarta - Mekanisme pencairan anggaran kepada Kementerian Pertahanan dilaporkan unik dan menyalahi prosedur umum yang diterapkan dalam pencairan anggaran kepada kementerian dan lembaga yang lain. Atas dasar itu, prosedur pencairan anggaran kepada Kementerian Pertahanan akan ditinjau ulang oleh Kementerian Keuangan.

    Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Senin (19/9/2011) saat berbicara dalam Rapat Kerja dengan Komisi 1 DPR RI.

    Menurut Anny, pencairan anggaran pada Kementerian Pertahanan dilakukan secara bulanan dan rutin sebesar 1/12 kali total pagu anggaran yang dialokasikan untuk Kementerian Pertahanan. Ini jauh berbeda dengan pencairan anggaran kepada kementerian dan lembaga lain yang harus berjuang mendapatkan anggaran setelah melaporkan hasil kinerja penggunaan anggaran sebelumnya.

    "Kementerian lain mendapatkan pencairan anggaran tergantung pada kinerja. Sementara Kementerian Pertahanan mendapatkan otomatis anggaran 1/12 setiap bulan," ujarnya.

    Dana yang dialokasikan untuk Kementerian Pertahanan yang ditetapkan pada APBN 2011 mencapai Rp 47,987 triliun. Lalu dengan adanya anggaran belanja tambahan sebesar Rp 2,05 triliun, maka dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2011 akan mencapai Rp 50,033 triliun.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Wamenkeu : Pencairan Anggaran Kemhan Ditinjau Ulang

    Wamenkeu : Anggaran Rp 2 Triliun untuk Pertahanan Belum Jelas

    Jakarta - Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk Kementerian Pertahanan sebesar Rp 2,05 triliun hingga saat ini belum memiliki status yang jelas.

    Kementerian Keuangan masih menunggu kelengkapan dokumen sebelum menetapkan anggaran tersebut dijadikan sebagai anggaran belanja tambahan Kementerian Pertahanan dalam APBN Perubahan atau APBN Perubahan atau APBN-P 2011.

    Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Senin (19/9/2011), saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi I DPR.

    Menurut Anny, dana yang dialokasikan untuk Kementerian Pertahanan yang ditetapkan pada APBN 2011 mencapai Rp 47,987 triliun. Lalu dengan adanya anggaran belanja tambahan sebesar Rp 2,05 triliun, maka dalam APBN-P 2011 akan mencapai Rp 50,033 triliun.

    "Pada saat kami membahas anggaran belanja tambahan untuk APBN-P 2011, kami menerima usul tambahan anggaran dari kementerian dan lembaga sebesar Rp 20 triliun," ujarnya.

    Anny mengatakan, Kementerian Keuangan sudah mendapatkan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Pertahanan sebesar Rp 50,033 triliun. Namun, surat RKA itu belum dilampiri persetujuan Komisi I DPR. Dengan demikian, RKA dan termasuk tambahan anggaran Rp 2,05 triliun sama sekali belum diproses Kementerian Keuangan.

    "Jadi, kami masih menunggu kesepakatan antara Kementerian Pertahanan, TNI, dan Komisi I DPR," ujarnya.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Wamenkeu : Anggaran Rp 2 Triliun untuk Pertahanan Belum Jelas

    Panglima TNI : Pinjaman luar negeri alutsista capai US$6,5 juta

    Jakarta - Panglima TNI Agus Suhartono mengatakan Tentara Nasional Indonesia membutuhkan sekitar US$6,5 juta pendanaan dari pinjaman luar negeri berupa kredit ekspor, untuk membeli alat utama sistem persenjataan selama periode 2010-2014.

    Agus mengatakan dalam rapat terbatas mengenai alutsista yang akan dipimpim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono siang ini, akan membahas peralatan mana saja yang pengadaannya dilakukan dengan cara kredit ekspor tersebut.

    ”Tergantung dari mana peralatan disetujui, baru akan dihitung. Sementara ini kalau tak salah , kemarin memang US$6,5 juta, tapi itu belum pasti,baru siang ini [dirapatkan],” kata Agus menjawab pertanyaan wartawan di Istana Presiden hari ini.

    Panglima TNI mengatakan pemerintah akan berupaya melakukan pengurangan pembiayaan dari kredit ekspor untuk alutsista, dan diarahkan pengadaannya ke industri dalam negeri.

    Menurutnya, kalaupun dilakukan kredit ekspor, hanya untuk alutsista yang belum bisa diproduksi di dalam negeri, seperti helikopter AKS, F-16, dan Sukhoi. Sementara untuk suku cadangnya ada yang sudah bisa diadakan dari dalam negeri, tergantung lisensi yang diberikan pabrik pembuatnya.

    ”Kredit ekspor tentunya apa-apa yang belum bisa dirpoduksi di dalam negeri,” kata Agus.

    Agus mengatakan saat ini semua angkatan di TNI membutuhkan modernisasi peralatan, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut dan angkatan lainnya.

    Sementara untuk pengadaan kapal, ujarnya, pemerintah . cenderung mendorong produksi bersama.

    Sumber : Bisnis Indonesia
    Readmore --> Panglima TNI : Pinjaman luar negeri alutsista capai US$6,5 juta

    Hari Ini, Presiden Rapat Bahas Pengadaan Alutsista TNI

    Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari ini di jadwalkan kembali memimpin rapat terbatas di bidang politik dan hukum dan keamanan (Polhukam).

    Dalam rapat tersebut, salah satunya akan dibahas tentang rencana pengadaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Pembelanjaan Pinjaman Luar Negeri Tahun 2010-2014.

    Berdasarkan informasi dari Biro Pers Kepresidenan, Senin (19/9/2011), rapat terbatas akan di gelar di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, pada pukul 11.00 WIB.

    Dalam pembukaan rapat terbatas bidang Polhukam sebelumnya, Kamis 8 September lalu, Presiden meminta agar dalam pengadaan peremajaan Alutsista untuk TNI dan Polri, tidak ada penyimpangan dan korupsi.

    Orang nomor satu negeri ini juga meminta agar pengadaan alutsista dapat tepat sasaran.

    Sumber : Okezone
    Readmore --> Hari Ini, Presiden Rapat Bahas Pengadaan Alutsista TNI

    Wamenhan: Prancis Siap Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Dengan Indonesia

    Paris - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin mengakui Prancis sangat bersemangat dalam meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Indonesia

    "Prancis siap menandatangani kesepakatan antara kedua Menteri Pertahanan pada bulan November," ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai mengadakan pertemuan dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis, Marc Laffineur, di London, Minggu .

    Dalam pertemuan dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis Marc Laffineur, Wamenhan didampingi Kepala Badan Sarana pertahanan Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Asisten Perencanaan dan Anggaran Angkatan Udara Marsda TNI Rodi Suprasodjo dan Atase Pertahanan KBRI Paris Kolonel PNB Erwin B Utama.

    Kunjungan mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan itu ke Prancis adalah dalam rangkaian kunjungan kerjanya di tiga kota Berlin, Madrid dan Paris dalam upaya memantapkan kerja sama pertahanan dengan ketiga negara Eropa, yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol selama seminggu dari tanggal 12 hingga 18 September 2011.

    Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa latar belakang kunjungannya ke tiga negara khususnya ke Prancis adalah menindaklanjuti dari kunjungan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy ke Indonesia tahun 2009 dan Perdana Menteri Perancis Francois Fillion.

    Menurut Sjafrie Sjamsoeddin, kunjungannya ke Paris intinya adalah meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Prancis dan memastikan konsep dari kesepakatan yang dilakukan antara kedua kepala negara dalam Partnership Cooperation Agreement dalam waktu dekat bisa ditandatangani antara Menteri Pertahanan kedua negara.


    Tidak Bisa Bertemu Langsung

    Dikatakannya hal itu menjadi pembahasannya dengan Marc Laffineur, yang berlangsung pada Minggu pagi, yang dalam pertemuannya itu Menteri Pertahanan Prancis tidak bisa bertemu langsung dengannya menulis surat pribadi untuk Sjafrie Sjamsoeddin, dan menyampaikan pesan agar kesepakatan itu bisa segera terlaksana.

    Dari hasil pertemuan antara Wamenhan dengan Marc Laffineur, yang dilakukan pada hari libur, Minggu disepakati dokumen perjanjian kerja sama dapat dilakukan pada bulan November 2011.

    Wamenhan menghargai kesungguhan dari pihak Prancis yang bersedia menerima rombongan dari Indonesia meskipun pada saat hari libur, Minggu sekalipun. Hal ini memberikan arti bahwa Prancis menilai hubungan pertahananya dengan Indonesia sangat penting, ujar mantan Panglima Kodam Jakarta Raya .

    Menurut mantan pengawal pribadi Presiden Soeharto, hasil dari pertemuan itu ada lima bagian yang mendapat penekanan penting yaitu dalam dokumen kesepakatan yang akan ditandatangani tersebut yaitu dialog strategi pertahanan, "exchange intelligent", "capacity building", "peacekeeping" dan "defence industry".

    Sjafrie Sjamsoeddin yang ikut dalam operasi Flamboyan di Timor Timur mengatakan kelima poin tersebut menjadi substansi dari kesepakatan yang akan ditindaklanjuti diantara kedua Negara yang mendapat respon positif dari Menteri Muda Pertahanan Perancis melalui suratnya.

    Dalam pembahasan kesepakatan kerja sama pertahanan Defence Cooperation Agreement/DCA antara Prancis dan Indonesia itu disepakati untuk mengikutsertakan pihak swasta seperti dari Indonesia seperti PT Pindad , perusahaan Industri Manufaktur Indonesia yang bergerak dalam bidang Produk Militer dan Produk Komersial serta PT. Dirgantara Indonesia (PTDI).

    Menurut mantan Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI , kehadiran Dirut PT Pindad dan PTDI dalam kunjungannya ke tiga Negara di Eropa itu juga dalam rangkaian modernisasi peralatan militer Indonesia.

    Hal ini sejalan dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menginginkan agar peralatan militer Indonesia perlu diperbaharui dalam rangka memenuhi kebutuhan modernisasi.

    Untuk itu pemerintah meningkatkan anggaran pertahanan dalam upaya modernisasi, tidak luput dari ketelitian manajemen dan kecermatan serta pembelian berbagai alat dengan tepat guna dan sesuai dengan sasaran dan kebutuhan TNI.

    Mengenai arah kebijaksanaan industry pertahanan Indonesia, Kepala Staf Garnisun I DKI Jakarta mengatakan kebijaksanaan industri pertahanan Indonesia diharapkan akan menuju kemandirian sehingga perlu dilakukan berbagai langkah diantaranya transfer teknologi dengan melibatkan industri pertahanan yang saling menguntungkan baik dalam skala menengah yang didukung industri dalam dan luar negeri.

    Menurut mantan Panglima Kodam Jakarta Raya, banyak negara mengakui keunggulan produk pertahanan Indonesia dan bahkan saat kunjungannya ke Airbus Militery di Sevilla, Spanyol , disebutkan bahwa saat ia menyaksikan perusahaan itu menyelesaikan berbagai pesanan banyak komponen pesawat yang dibuat di Airbus tersebut sekitar 40 sampai 60 persen diproduksi Indonesia.

    Bahkan untuk CN 212, selain mesin, hampir 100 persen mengunakan suku cadang yang diproduksi oleh PTDI di Bandung. Ia menyatakan bangga suku cadang Indonesia digunakan oleh berbagai Negara dalam memproduksi pesawat semacam CN 235, NC295 dan CN212.

    "Saya merasa bangga dan sebagai bangsa Indonesia meliat produki komponen yang diproduksi oleh perusahaan dari dalam negeri digunakan untuk membuat pesawat yang dilakukan Airbus itu merupakan suatu kehormatan dan membuat martabat kita meningkat," demikian Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Wamenhan: Prancis Siap Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Dengan Indonesia

    Sunday, September 18, 2011 | 9:50 PM | 0 Comments

    Airbus Military : Kerjasama Bersifat Jangka Panjang Karena PT DI Kompeten

    Madrid - Kolaborasi Airbus Military (AM), sebelumnya CASA, dengan PTDI telah melahirkan produk NC- 295, sebuah pesawat angkut militer taktis bermesin turboprop ganda.

    Hal itu disampaikan Wamenhan RI Sjafrie Sjamsoeddin kepada detikcom melalui kontak Atase Pertahanan RI di Madrid, Kol. Caj. Erry Herman, Jumat (16/9/2011).

    Dalam peninjauan ke Airbus Military yang terletak di Sevilla, Wamenhan didampingi oleh Wakasad Letjen TNI Budiman, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan P, Asrena Kasau Marsda TNI Rodi Suprasodjo, Athan Kol. Caj. Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq, Kol. Tek Sujatmiko dan May. Laut (KH) Isam Adi.

    Seusai pertemuan dengan manajemen AM, Wamenhan menjelaskan bahwa kerjasama AM dengan PTDI sekurangnya memberi empat manfaat bagi kepentingan nasional.

    "Pertama, tambahan penyerapan tenaga kerja 2000 orang. Kedua, prosentase kandungan lokal PTDI mencapai 40%-60%. Ketiga, peningkatan kemampuan produksi. Keempat, PTDI menjadi capture market di Asia Tenggara," papar Wamenhan.

    Menurut Wamenhan, contoh produk AM yang dipasarkan ke Amerika dan Nigeria sudah menggunakan komponen PTDI, rinciannya CN-212 100%, CN-235 40-60% dan NC-295 40%- 60%.

    "Perlu saya tegaskan di sini sesuai pembicaraan saya dengan AM bahwa PTDI bukan sebagai subkontraktor tetapi menjadi mitra sejajar. AM menganggap kerjasama dengan PTDI sebagai win- win solution," tandas Wamenhan.

    Lanjut Wamenhan, pihak AM dalam hal ini Senior Vice President Asia Pasific Ignacio Alonso juga telah meyakinkan ke pemerintah RI bahwa PTDI mempunyai kemampuan untuk berkolaborasi dengan AM.

    Versi militer 295 adalah pengembangan lebih lanjut dari pesawat angkut sipil Spanyol-Indonesia, yang dinilai sukses secara komersial di pasar internasional dari seri CN-235.

    Patut dicatat, bahwa pesanan pertama seri 295 versi militer ini datang dari Angkatan Bersenjata Spanyol, yang menunjukkan keberpihakan mereka pada teknologi nasional.

    C-295 dikembangkan dalam versi pengangkut militer dengan kapasitas 73 pasukan, 48 pasukan para, 27 brankar, 5 palet ukuran 2,24 x 2,74 meter atau 3 truk militer. Kemudian versi patroli kelautan/anti kapal selam serta versi peringatan dini udara dan pengendalian dengan kubah radar 360 derajat.

    Saat ini C-295 dipakai oleh Angkatan Udara di 13 negara, yakni Finlandia, Ceko, Portugal, Spanyol, Polandia, Brazil, Aljazair, Chili, Kolombia, Mesir, Ghana, Yordania, dan Meksiko, dengan total jumlah ada 75 pesawat dan kontrak produksi per 4/8/2011 sebanyak 85 pesawat.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Airbus Military : Kerjasama Bersifat Jangka Panjang Karena PT DI Kompeten

    Yonif 621 Manuntung Jaga Perbatasan Indonesia - Malaysia

    Balikpapan - Batalyon Infanteri 621 Manuntung (Yonif 621/Mtg) Kodam VI Mulawarman menggantikan Yonif 631/Antang Kodam XII Tanjungpura menjaga perbatasan langsung RI-Malaysia di Kalimantan bagian utara.

    "Lebih tepatnya Kalimantan Timur, Indonesia, dengan negara bagian Sabah dan sedikit dengan Sarawak," jelas Panglima Kodam VI Mulawarman, Mayjen TNI Tan Aspan, di Pelabuhan Semayang, Balikpapan.

    Panglima Tan Aspan memimpin upacara singkat pemberangkatan pasukan ke perbatasan. Yonif 621 Manuntung yang dipimpin Mayor Infanteri Sulaiman Amiruddin kemudian segera menaiki Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Parigi yang akan membawa mereka ke Pelabuhan Tunon Taka, Tarakan.

    KRI Teluk Parigi dijadwalkan tiba di Tarakan Senin (19/9/2011). "Baru dari Tarakan mereka akan menyebar ke pos-posnya masing-masing," sambung Panglima Tan Aspan.

    Yonif 621/Manuntung bermarkas di Barabai, Kalimantan Selatan, 350 km tenggara Balikpapan. Mereka akan berada di perbatasan selama setahun atau sampai September 2012 nanti. Pasukan yang digantikannya, Yonif 631/Antang yang bermarkas di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur sejak September 2010.

    Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan membentang sepanjang 1.996 km jarak udara dari barat ke timur, dari Kabupaten Sambas hingga Taman Nasional Betung Kerihun, Kapuas Hulu, di Kalimantan Barat, lalu berbelok ke utara hingga Gunung Teladan dan kembali ke timur sampai Nunukan.

    Ada 57 pos milik Indonesia di sepanjang perbatasan. 30 pos ada di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Sarawak, dan 27 di Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Sabah.

    Di Kaltim, perbatasan menyisiri tiga kabupaten, yaitu Kutai Barat, Malinau, dan Nunukan. Ada satu pos di Kutai Barat, 5 di Malinau, dan 20 di Nunukan. "Termasuk di Nunukan, satu pos pengamanan bersama Indonesia-Malaysia di Simenggaris," kata Panglima Tan.

    Pos ini adalah pos perbatasan yang terkenal sebab sering diliput media karena sering disinggahi pejabat dari kedua negara karena dekat dari kota Nunukan dan unik, karena militer kedua negara membangun markas persis bersisian di wilayah negara masing-masing.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Yonif 621 Manuntung Jaga Perbatasan Indonesia - Malaysia

    Pengamat : Momentum Membangun Alutsista Tangguh

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mendapat angin segar.Dalam Rencana Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (RAPBN) 2012, kementerian yang dipimpin Purnomo Yusgiantoro ini mendapat kenaikan anggaran paling besar, Rp16,9 triliun atau sebesar 35,7%.

    Sebelumnya, kementerian ini mendapatkan dana Rp47,5 triliun. Peningkatan anggaran pertahanan tentu berfokus pada satu hal, yakni untuk peningkatan kemampuan alat utama sistem senjata (alutsista) di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI).Dengan demikian, tahun 2012 akan menjadi momen krusial bagi bangsa ini untuk kembali membangun kekuatan pertahanan.

    Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto menyebutkan bahwa kali ini masa peralihan yang cukup menentukan dalam keberhasilan mencapai target MEF. ”Postur anggaran 2012 memang relatif terasa dampaknya untuk pemeliharaan atau perbaikan dan pengadaan dari dalam negeri.Tapi,kalau untuk pengadaan dari luar negeri belum ada,”terangnya.

    Menurut dia, anggaran Rp64,4 triliun yang akan dikucurkan pada 2012 menegaskan keseriusan pemerintah untuk membangun alutsista TNI yang andal.Tapi,tetap saja angka itu masih jauh dari cukup untuk bisa mengejar target minimum essential force (MEF) 2024.Jika hal ini terus terjadi tiap tahunnya, Andi yakin MEF tidak akan tercapai sesuai target. Mengacu pada target MEF 2024, maka pada 2012 mendatang mestinya tersedia alokasi Rp80 triliun.

    Bahkan, kalau bisa mencapai Rp90 triliun agar pada 2014 (akhir pemerintahan SBY periode kedua) tercapai Rp120 triliun. Jadi, secara perbandingan dengan GDP,pada 2014 tercapai 1,25% dan 2012 sebesar 1%.

    Lebih jauh lulusan Industrial College of Armed Forces National Defense University di Washington DC, Amerika Serikat, ini menyatakan alutsista- alutsista tua itu idealnya memang tidak dipakai lagi dan harus diganti dengan yang baru.Apalagi beban perbaikan alutsista yang sudah usang juga cukup berat.

    Namun, kondisi sekarang belum memungkin- kan untuk mencapai hal itu. ”Harusnya jika 10 dibuang, maka yang beli baru lagi 10. Tapi,yang terjadi sekarang adalah 10 dibuang, tapi beli barunya cuma 2,yang 6 diperbaiki, 4 benar - benar dibuang,” tutur Andi. Andi membeberkan usia alutsista yang dipakai TNI sekarang ini banyak yang telah tua,yakni 25–40 tahun.

    Bahkan dia menyebut alutsista yang telanjur uzur dan harus diganti mencapai sekitar separuh dari yang ada. Dengan kondisi tersebut, tingkatkesiapannya ratarata hanya sekitar 40%. Dalam postur RAPBN 2012, Kemenhan seperti yang disampaikan Dirjen Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan Marsda TNI Bonggas S Silaen, dari besaran alokasi sebesar Rp64,4 triliun, 40,1%-nya atauRp25,84 triliun diantaranya untuk belanja, yakni alutsista.

    Sisanya belanja pegawai Rp27,18 triliun (42,2%) dan belanja barang Rp11,41 triliun (17,7%). Pemerintah tampaknya memahami kekurangan tersebut. Melalui Menteri Keuangan Agus Martowardojo, pemerintah tengah mengkaji usulan penambahan anggaran sebesar Rp50 triliun untuk sektor pertahanan.

    Sebelumnya, untuk 2011–2014 telah dialokasikan anggaran alutsista mencapai Rp100 triliun. Penambahan ini dimaksudkan untuk menambah kemampuan sistem pertahanan TNI dan Polri. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, membangun militer tergantung pada dua hal,yakni seberapa besar ancaman yang ada dan bagaimana standar penangkalan yang hendak diciptakan.

    Dua hal itu masih dipengaruhi kondisi keuangan negara. Dalam proyek MEF, pemerintah menetapkan standar penangkalan pada level menengah.Target penguatannya adalah kawasan barat,timur,dan tenggara.”Jadi target MEF itu bukan penangkalan yang levelnya rendah,tapi juga bukan yang level tinggi,” ungkap purnawirawan TNI itu.

    Melihat alokasi anggaran yang sejauh ini dikucurkan, target itu diakuinya sulit untuk dicapai sesuai rencana. ”Dengan anggaran Rp60 triliun–65 triliun per tahun, maka pada 2014 kapasitas yang tercapai baru sekitar 28% dari yang diinginkan,”ujarnya. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, ada tiga pilihan untuk mencapai MEF, yakni memaksimalkan kemampuan produksi dalam negeri sambil tetap mendatangkan dari luar negeri, melakukan joint venture dengan negara asing, serta sepenuhnya menunggu industri pertahanan nasional mampu menyuplaikebutuhanalutsista.

    Dia menyebut, negara seperti Korea Selatan (Korsel) dan Serbia memiliki industri pertahanan yang bagus dan bersedia untuk bekerja sama yang disertai dengan transfer of technology (ToT). Dia juga menegaskan bahwa tidak ada alasan meragukan kemampuan Korsel dalam memproduksi alutsista.

    Apalagi selama ini kerja sama industri pertahanan dengan Korsel cukup berhasil seperti pembuatan kapal LPD dan pesawat latih KT-1 Wong Bee. Alasan kuat lainnya adalah kesediaan Korsel untuk melakukan ToT dalam kerja sama produksi alutsista. Serbia pun memberikan dukungan terhadap pengembangan alutsista.Pangsa pasar alutsista di ASEAN yang cukup besar juga menjadi pertimbangan tersendiri dalam kerja sama bidang ini.

    Selain dengan Korsel dan Serbia,Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Turki dan tiga negara di Eropa, yakni Prancis, Spanyol, dan Jerman. Dengan Turki, kerja sama diteken saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke negara itu Juni tahun lalu. Kesepakatan tersebut lebih dimatangkan lagi saat Presiden Turki Abdullah Gul melakukan kunjungan balasan ke Jakarta,April 2011 lalu.

    Salah satu bentuk kerja sama yang diproyeksikan adalah pembuatan tank ringan (light tank) berbobot sekitar 13–14 ton dan akan dilengkapi meriam kaliber 90–105 mm. Adapun kerja sama pertahanan dengan Prancis, Spanyol, dan Jerman saat ini tengah dalam pemantapan.Wakil Menhan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin saat ini tengah berkunjung ke tiga negara tersebut.

    Prioritaskan Produk Dalam Negeri

    Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq berharap Kemenhan memanfaatkan keterbatasan anggaran untuk membeli produk dalam negeri. Dia mengungkapkan, saat ini BUMNIP (Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan) maupun BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis) menunggu komitmen dari pemerintah untuk membeli produk-produk mereka.

    ” Peningkatan alutsista harus tetap meningkatkan kontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat dan menciptakan lapangan kerja,”tutur Mahfudz. PT Dirgantara Indonesia (DI), misalnya,mengharapkan pemerintah mengalihkan pembelian seluruh anggaran pesawat militernya ke PT DI sehingga perusahaan penerbangan tersebut dapat menyabet peluang pasar domestik senilai Rp 9,23 triliun.

    Dalam dokumen Supplement Business Plan PT DI Tahun 2011–2015 yang secara resmi telah dipublikasikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada 8 September 2011, PT DI merayu agar Kemenhan membeli CN235 MPA, helikopter BELL 412 EP tipe serbu, BELL 412 EP tipe angkut, EC- 725 Cougar Combat SAR, dan NAS-332 Super Puma.

    Terkait persoalan tersebut, Purnomo Yusgiantoro sebelumnya sudah berjanji untuk meningkatkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.Dia pun mengaku BUMNIP sudah mulai bangkit seperti PT DI yang sudah mengekspor CN235 dan PT Pindad yang banyak menerima pesanan senjata maupun panser Anoa 6x6. PT PAL dan Palindo (industri galangan kapal swasta) juga sudah mampu memproduksi kapal untuk TNI AL.

    Sumber : Seputar Indonesia
    Readmore --> Pengamat : Momentum Membangun Alutsista Tangguh

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.