ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Tuesday, October 4, 2011 | 5:29 PM | 0 Comments

    Imparsial : HUT ke-66 TNI, Armada Angkatan Laut Masih Memprihatinkan

    Jakarta - Kekuatan armada militer Angkatan Laut Indonesia memprihatinkan. Dengan luas teritorial laut sebesar 7,9 juta kilometer persegi, Indonesia hanya memiliki 148 KRI. Itu pun 50 persennya berusia di atas 20 tahun bahkan mencapai 60 tahun.

    Hal itu diungkapkan, Direktur Program Imparsial, Al Araf, saat jumpa pers '66 Tahun TNI' di Sekertariat Imparsial, Jl Slamet Riyadi, Jakarta, Selasa (4/10/2011).

    "Dengan kekuatan seperti itu, TNI AL kita hanya mampu meng-cover 30 persen teritorial laut. Data tersebut diperoleh dari laporan TNI pada tahun 2011," jelas Al Araf.

    Untuk mencakup seluruh wilayah laut Indonesia, Al Araf menyarankan, agar TNI AL memiliki minimal 300 KRI dalam kondisi baik. Ia juga mengatakan, sampai saat ini zona perbatasan Indonesia masih menjadi titik rawan sengketa.

    "Di Ambalat masih terdapat sepuluh titik bermasalah, di Kalimantan merupakan titik api yang berpotensi menjadi sumber sengketa," ucapnya.

    Selain itu, lanjut Al Araf, infrastruktur TNI AL di wilayah perbatasan laut Indonesia masih minim. Al Araf, yang baru saja melakukan pengamatan langsung di perairan Sebatik, Kalimantan, mengatakan radar TNI AL sudah tidak bisa digunakan.

    "Baru saja 2 hari yang lalu, saya menuju Sebatik. Saya lihat sendiri, radar Pangkalan Angkatan Laut di sana sudah tidak aktif selama 9 bulan, padahal radar tersebut masih dalam golongan baru dan hibah dari Amerika," tuturnya pria lulusan Manajemen Pertahanan ITB ini.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Imparsial : HUT ke-66 TNI, Armada Angkatan Laut Masih Memprihatinkan

    KSAL : Indonesia Perlu Kapal Selam dan Fregat Baru

    Jakarta - Indonesia sedang menjajaki pembelian kapal selam dan kapal perang baru jenis fregat.

    "Kemungkinan besar kita membeli dari negara Asia. Saat ini sudah dijajaki kapal selam buatan Korea Selatan," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Suparno, Selasa (4/10/2011) di Jakarta.

    Suparno menjelaskan, pihaknya tidak memilih kapal selam buatan Eropa Barat karena disesuaikan kemampuan keuangan. Menurut dia, tidak tertutup kemungkinan untuk membeli dari produsen lain di Asia, selaian Korea Selatan.

    Korea Selatan kini sedang memperbaiki kapal selam KRI Nanggala yang akan kembali beroperasi awal tahun depan di Indonesia. Sedangkan pengadaan fregat, menurut Suparno, diharapkan bisa diwujudkan sebanyak tiga unit.

    "Pembangunan fregat direncanakan dalam bentuk kerja sama asing dan dalam negeri. Sebagian modul dibuat di dalam negeri," kata Suparno.

    Selain persenjataan, Suparno menegaskan, sangat penting menyediakan perumahan dan perbaikan kesejahteraan prajurit TNI AL. Dengan memenuhi kebutuhan dasar prajurit, mereka akan lebih fokus dalam bertugas.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> KSAL : Indonesia Perlu Kapal Selam dan Fregat Baru

    TNI AL Sedang Menjajaki Pengadaan Helikopter Anti Kapal Selam

    Jakarta - TNI Angkatan Laut mengincar helikopter tempur Sea Wolf untuk masuk jajaran tempur memperkuat armada laut Indonesia.

    Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Suparno di Jakarta, Selasa (4/10/2011), mengatakan, helikopter tersebut memiliki fungsi perang antikapal selam. "Kami merencanakan membeli satu skuadron Sea Wolf untuk mendukung operasi pengamanan laut dan juga mampu menggelar peran antikapal selam," kata Suparno.

    Helikopter Sea Wolf buatan Amerika Serikat diketahui juga dapat berperan sebagai gunship atau dilengkapi senjata berat untuk memberi dukungan tembakan udara-permukaan.

    Sebelumnya, sempat dikabarkan adanya rencana pembelian helikopter Lynx atau Super Lynx.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> TNI AL Sedang Menjajaki Pengadaan Helikopter Anti Kapal Selam

    Pesawat A400M Mendarat Di Bandara Halim Perdana Kusuma

    Jakarta - Pesawat angkut militer modern buatan Airbus tipe A400M mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (4/10/2011).

    Kepala Dinas Penerangan Lanud Halim Mayor (Sus) Gerardus Maliti menjelaskan, pesawat singgah beberapa hari di Jakarta. "Pesawat tersebut akan mengadakan demonstrasi dan joy flight yang dapat diikuti media yang dijadwalkan Kamis atau Jumat. Pesawat tersebut kini berada di Skuadron Udara 2 di Lanud Halim," kata Maliti.

    Kementerian Pertahanan RI, siang ini, akan menandatangani kerja sama dengan pihak Airbus terkait rencana pengembangan pesawat transport militer yang mungkin dibangun bersama antara Airbus dan Indonesia. Saat ini, Airbus tipe A400M dioperasikan di banyak negara Eropa Barat sebagai pengganti pesawat angkut C-130 Hercules dan C-160 Transall yang sudah beroperasi sejak tahun 1960-an. Daya angkut A400M adalah dua kali kemampuan Hercules dan Transall.

    Airbus A400M dapat terbang hingga ketinggian 37.000 kaki dengan kecepatan maksimum 0,72 kecepatan suara. A400M bermesin turboprop dengan penggerak delapan bilah di tiap baling-baling pesawat bermesin empat itu. A400M dapat mengangkut 116 pasukan para dan mampu mengisi bahan bakar di udara (air refueling).

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Pesawat A400M Mendarat Di Bandara Halim Perdana Kusuma

    Direktur PT DI : KF-X / IF-X Memiliki Kemampuan 4,5 Jam Terbang Dan Daya Angkut 6000 Kg

    Jakarta - PT Dirgantara Indonesia ( PT DI) siap menggarap proyek pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 dengan Korea Selatan. Sebanyak 35 staf PT DI kini sudah berada di Seoul buat mematangkan proyek ini.

    "Mereka dikirimkan dalam tugas negara yang diberikan kepada PT DI oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis PT DI, Dita Ardonni Jafri di Jakarta, Senin (3/10).

    Kementerian Pertahanan menjadi koordinator program dengan melibatkan TNI-AU, PT DI, ITB, Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

    Persiapan untuk pembuatan pesawat tempur masa depan yang sementara ini diberi kode KF-X/IF-X (Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment) tersebut akan berjalan panjang dan sertifikasi baru akan keluar sekitar tahun 2021.

    Pesawat tempur akan berkelas di atas F-16 atau Sukhoi-30, namun masih di bawah F-35 Amerika Serikat yang sudah masuk generasi 5.

    Di luar Amerika Serikat, baru Indonesia dan Korea Selatan yang serius mempersiapkan pesawat tempur sekelas ini dan dirancang terbang berdaya tahan terbang 4,5 jam dan berdaya angkut 6.000 kg, termasuk sistem persenjataan.

    Dalam program ini, Indonesia berusaha memajukan industri nasional dengan aktif merancang, memproduksi, mengintegrasi dan mengujikan pesawat tempur ini.

    Rancangannya diarahkan memenuhi persyaratan operasi jangka pendek, menengah dan jangka panjang TNI AU, disamping guna meningkatkan kemampuan industri, pengembangan teknologi nasional, dan kemandirian sistem pertahanan nasional di masa datang.

    Kedua pemerintah telah menandatangani Letter of Intent proyek ini pada 6 Maret 2009 dan Nota Kesepahaman (MOU) pada 15 Juli 2010, lalu Kesepakatan Penjagaan Kerahasiaan pada 20 November 2010 serta Hak Kekayaan Intelektual dan Persetujuan Proyek pada 11 Maret 2011.

    Program KF-X/IF-X memasuki fase pengembangan teknologi selama setahun (2011-2012), kemudian akan memasuki fase pengembangan rekayasa manufaktur mulai 2013 sampai 2020, dan produksi pada 2021.

    Sumber : MetroTV News
    Readmore --> Direktur PT DI : KF-X / IF-X Memiliki Kemampuan 4,5 Jam Terbang Dan Daya Angkut 6000 Kg

    PT Dirgantara Indonesia Akan Terus Tingkatkan Kerjasama Dengan Airbus Military

    Jakarta - Setelah sempat "putus hubungan", PT Dirgantara Indonesia (PT DI) akan kembali menjalin kerja sama dengan Airbus Military untuk meningkatkan daya saing PT DI.

    Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Senin, mengatakan, "Sudah 10 tahun lebih kami ketinggalan. Oleh sebab itu, kita akan tingkatkan kerjasama lagi dengan Airbus Military guna meng-`improve` PT DI lagi."

    Pada kesempatan itu, Budi juga mengungkapkan bahwa sebagian besar produk Airbus Military, yang sebelumnya bernama CASA, merupakan buatan PT DI. Untuk itu, menurut Budi, tanpa kehadiran PT DI, Airbus Military diperkirakan juga akan kesulitan.

    "Agar membuat PT DI lebih kompetitif lagi, mereka mengajak kita mengenal teknologi yang mereka terapkan sekarang seperti apa. Mereka akan ajarkan kepada kita," ulasnya.

    Rencana kerja sama itu, katanya, akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT DI dengan Airbus Military pada pekan depan.

    Adapun langkah nyata dari kerjasama ini meliputi peningkatan produksi dan kerja sama produk.

    Budi mencontohkan beberapa produk kerja sama itu, di antaranya pesawat jenis CN235, CASA 212, NC295, dan CN235.

    Keuntungan lain dari adanya kerja sama ini adalah perseroan dapat mengetahui produksi industri kedirgantaraan dan bagaimana bisnis di sektor ini, ucapnya.

    "Yang penting buat kami juga bukan angkanya, tapi di sini kemampuan untuk bisa `survive`. Tanpa meng-`upgrade` kemampuan kami, lima tahun lagi PT DI tidak akan kompetitif lagi," pungkasnya.

    Sebenarnya, PT DI sudah pernah melakukan kerja sama dengan Airbus Military sejak 35 tahun lalu.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> PT Dirgantara Indonesia Akan Terus Tingkatkan Kerjasama Dengan Airbus Military

    Tank Terbang TNI AD Akan Semarakkan HUT Ke 66 TNI

    MI-35P Milik TNI AD(Foto: Kaskus)

    Jakarta - Satu helikopter berkelir hijau gelap diparkir di halaman rumput Markas Besar TNI, Cilangkap, sebagai komponen upacara hari jadi ke-66 TNI pada 5 Oktober nanti. Dua kanon 30 milimeter dan dua selongsong besar peluncur roket menambah sangar penampilan.

    Helikopter itu adalah Mil Mi-35P adalah helikopter serang buatan Rusia dan merupakan turunan dari helikopter militer sebelumnya yaitu Mi-24. Dia mengombinasikan kemampuan tembak sekaligus mengangkut tentara, dan julukannya adalah tank terbang.

    Ada beberapa versi Mi-35, salah satunya adalah Mi-35P yang dimiliki TNI Angkatan Darat sejak Oktober 2010. Terdapat lima unit Mi-35P yang bermarkas di Skuadron 31/Serbu Pusat Penerbangan TNI-AD.

    Pembelian helikopter tersebut merupakan realisasi perjanjian pemerintah RI dan Rusia pada September 2007 menggunakan fasilitas kredit pembelian luar negeri dari pemerintahan Rusia sebesar 56,1 juta dolar AS atau setara dengan 64,5 miliar rupiah. Harga itu termasuk pencakupan persenjataan dan amunisi serta pelatihan bagi para calon awak pesawat.

    Berdasarkan nomenklatur helikopter militer yang dilansir Jane's Defence, Mi-35P memiliki kesamaan fungsi dengan jenis helikopter AH-1 Cobra, UH-60 Black Hawk, AH-64 Apache atau pun Mangusta A129. Masih ada lagi yang cukup sekelas, yaitu Kaman Ka-50 Alligator, juga buatan Rusia.

    Di Indonesia, Mi-35P itu dimodifikasi dengan menambahkan senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan senjata laras ganda dengan kaliber 30mm. Bersanding di antara dua NAS-332 Super Puma, jelas keganasan helikopter berkursi duduk ganda model tandem itu bertambah-tambah.

    Helikopter tersebut juga dilengkapi dengan sistem AT-6 tank anti rudal yang berguna dalam operasi kontra kendaraan lapis baja. Masih ada dudukan meriam dan sistem tembak untuk target udara yang bergerak lambat; yang semuanya demi mendukung transportasi pasukan.

    Rusia sudah mengekspor beberapa varian helikopter Mi-35 ke sejumlah negara selain ke Indonesia di antaranya Republik Ceko yang memesan 10 helikopter pada 2005-2006, Venezuela dengan 10 Mi-35M pada 2006, serta Brazil yang memesan 12 helikopter Mi-35M pada 2008.

    Varian helikopter Mi-35 tersebut banyak dipakai di Afghanistan sejak perang 2001 dan biasanya terbang membawa 1.470 peluru, 128 roket dan dua rudal anti tank. Jadi bisa dibayangkan bobot maksimal helikopter serang yang mampu pula membawa enam personel itu.

    Model awal dari helikopter Mi-35P adalah jenis Mi-24, bisa dibilang tipe ini menjadi model paling mudah untuk dikonversi menjadi model-model lain lebih letal. Dari tipe inilah lalu lahir tipe Mi-35P yang pertama muncul perdana di muka umum pada peresmian batalion-batalion infantri raiders di Jakarta pada 2004.

    Mi-35P merupakan helikopter bermesin ganda yang ditujukan untuk memberikan dukungan bagi tentara darat dari jarak dekat, menghancurkan kendaraan lapis baja serta sebagai alat transportasi pasukan atau barang; artinya helikopter ini merupakan alat tempur pasukan infantri yang terbang.

    Oleh pilot Soviet yang berbahasa Rusia, Mi-35P dijuluki letayushiy tank atau tank terbang. Konon tubuh dan kanopi kacanya mampu menahan tembakan hingga kaliber 20 milimeter dari jarak cukup dekat. Nama lainnya adalah buaya karena kemiripan bentuk.

    Karakteristik lainnya adalah kabin barang dan kokpit terhubung dengan ukuran panjang 2,83 meter, lebar 1,46 meter dan tinggi 1,2 meter sehingga mampu mengangkut delapan tentara yang dapat menembakkan senjata mereka dari jendela samping yang dapat dibuka.

    Jumlah baling-baling atas helikopter itu berjumlah lima dengan panjang 17,3 meter sedangkan baling-baling ekor berjumlah tiga dengan panjang 3,9 meter. Panjang sayap adalah 6,5 meter. Helikopter itu dapat terbang hingga kecepatan 335 kilometer per jam dengan jumlah kebutuhan bahan bakar 360 liter avtur per jam.

    Bobot di darat helikopter tersebut tanpa muatan adalah 8,5 ton dan mampu mebawa delapan tentara ditambah senjata eksternal berbobot 1,5 ton.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Tank Terbang TNI AD Akan Semarakkan HUT Ke 66 TNI

    Komisi I DPR : Anggaran Pertahanan belum Prioritaskan Kebutuhan Nusantara

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR Effendy Choirie menilai pembagian anggaran pertahanan bagi tiga angkatan dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) belum mencerminkan kebutuhan pertahanan wilayah Indonesia yang notabene berupa kepulauan.

    Pasalnya, akomodasi pertahanan masih dititikberatkan di Angkatan Darat (AD).

    "(Anggaran pertahanan) enggak bisa dibagi rata (antara tiga angkatan). Kan harus sesuai prioritas. Kalau menurut saya prioritas sekarang ini AL dan AU. AD jangan prioritas. Negara kita ini negara kepulauan," ujarnya saat ditemui usai Rapat Kerja Komisi DPR dengan Menhan, tentang kebutuhan anggaran Kemhan/TNI 2012-2014, di Gedung DPR RI, Jakarta (3/10).

    Effendy yang akrab dipanggil Gus Choi itu menjelaskan, kecenderungan dari Kementerian Pertahanan menyebutkan adanya prioritas anggaran bagi TNI AD. Meskipun sebenarnya anggaran itu lebih banyak dihabiskan untuk gaji prajurit, yang memang jumlahnya jauh lebih besar dari TNI AU maupun TNI AL. Sementara, pembiayaan bagi modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista)-nya tak begitu signifikan.

    "AD itu gajinya terlalu besar. Peralatannya tidak terlalu besar, karena (Angkatan) Darat itu menggantungkan fisik."

    Sedangkan, AL dan AU yang semestinya diutamakan justru tak begitu mendapat perhatian. Kebutuhan anggaran besar dari kedua angkatan ini, kata Gus Choi, lebih karena mahalnya teknologi yang menjadi tumpuan keduanya.

    "Belum bergeser (prioritas anggaranya). Masih heavy (kepada Angkatan) Darat," imbuhnya.

    Di lain pihak, Wakil Menteri Pertahanan Syafrie Syamsudin yang juga ditemui usai rapat menuturkan, anggaran pertahanan akan dibagi rata kepada tiga angkatan. Asumsinya, modernisasi sama-sama diperlukan di ketiganya, terutama dari segi varian teknologi.

    "Sekarang sama, akan berimbang (anggarannya). Jadi pada masa yang lalu AD itu hanya stabilisasi, AL dan AU itu modernisasi. Sekarang Laut dan Udara dengan Darat levelnya sama-sama modernisasi," jelasnya.

    Mantan Pangdam Jaya ini pun memastikan, anggaran AD, AL, dan AU itu sama-sama mengalami kenaikan. Meskipun belum ada kesepakatan dengan DPR tentang berapa angka pasti yang akan dibagi kepada ketiganya, pagu anggaran Rp 64 triliun telah merefleksikannya.

    "Tapi anggaran belanja modal yang di dalamnya alutsiasta itu hanya Rp25 triliun. Itulah yang kita bagi berimbang (antara ketiga angkatan)," tutupnya.

    Dalam postur RAPBN 2012, Kementerian Pertahanan mendapat alokasi Rp64,4 triliun. Jumlah itu adalah kenaikan anggaran paling besar di antara Kementerian/Lembaga, yang mencapai Rp16,9 triliun atau 35,7%. Tahun sebelumnya, kementerian ini mendapatkan dana Rp47,5 triliun.

    Sebesar 40,1% dari anggaran itu atau Rp25,84 triliun di antaranya untuk belanja alutsista. Selain itu, belanja pegawai Rp27,18 triliun (42,2%) dan belanja barang Rp11,41 triliun (17,7%).

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> Komisi I DPR : Anggaran Pertahanan belum Prioritaskan Kebutuhan Nusantara

    Hasil Beberapa Teknologi Yang Dihasilkan Balitbang Kemhan Pada Tahun 2011

    Jakarta - Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan (Kemhan), bisa disebut salah satu motor kemajuan Kemhan. Lembaga yang diawaki Prof Dr Ir Eddy Sumarno Siradj MSc Eng sebagai Kepala Balitbang ini, dinilai banyak memberi inspirasi dan spirit bagi kebangkitan industri pertahanan.

    "Kebijakan Rencana Strategis (Renstra) Balitbang 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan visi Kemhan yaitu membangun pertahanan negara yang tangguh dengan misi menjaga kedaulatan wilayah NKRI serta keselamatan bangsa," kata profesor kelahiran Tarempa, Kepulauan Riau 8 Maret 1956, di Jakarta baru-baru ini. Karena itu, tutur suami Anniyati serta ayah dari Ichsan Mardani, dan Puri Bestari Mardani ini, renstra ke depan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan strategi pertahanan negara.

    Realisasi Program 2011

    Untuk mendukung Program Kerja Balitbang Kemhan TA 2011, Puslitbang Strahan yang merupakan bagian dari Balitbang Kemhan melaksanakan sejumlah kegiatan Litjianbang, antara lain mengenai pembangunan infra struktur dan program pemberdayaan masyarakat di daerah perbatasan. Secara khusus, Puslitbang Strahan membuat sejumlah program. Yakni, pertama, untuk mewujudkan kemampuan pertahanan nirmiliter dalam lingkup peran dan fungsi kementerian/LPNK di luar bidang pertahanan dalam rangka meningkatkan strategi pertahanan nirmiliter dalam konteks pertahanan sipil (civil defence).

    Kedua, peningkatan pembinaan batas wilayah dalam rangka fungsi pertahanan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI. Ketiga, dampak pemanasan global dan potensi ancaman terhadap pertahanan negara baik bersifat fisik dan nonfisik. Selanjutnya, juga pengamanan batas maritim RI dengan negara jiran (pihak terlibat), pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan, dan konsepsi pengamanan wilayah udara RI.

    Meski demikian, ada sejumlah masalah aktual yang sedang dikaji Puslitbang Strahan. Yaitu, pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan. Di mana, arahnya adalah mewujudkan daerah perbatasan sebagai beranda depan negara yang terintegrasi dengan daerah pusat pertumbuhan. Untuk itu, perlu kebijakan yang jelas, perencanaan yang sistematis, dan orientasi jangka panjang, serta pelaksanaan secara terpadu dan pengendalian yang efektif.

    "Pembangunan infrastruktur dan program pemberdayaan masyarakat di daerah perbatasan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah, karena alasan otonomi daerah, jika dijadikan beranda depan bangsa, maka semestinya infrastruktur di daerah-daerah itu harus cukup tersedia, seperti jalan, jembatan, akses informasi yang semuanya sangat bermanfaat dari aspek pertahanan keamanan," ucapnya.

    Puslitbang Sumber Daya Pertahanan (Sumdahan) memiliki sejumlah program kerja. Antara lain, pemberdayaan perempuan dalam PKBN di wilayah perbatasan; analisis kesiapan sumber daya manusia (SDM) komponen pendukung dalam rangka pertahanan negara.

    Kemudian, peran aparat pemerintah daerah dan TNI dalam menanggulangi bencana alam guna membangun pertahanan negara; persepsi masyarakat atas pelaksanaan peran TNI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; dan peran seni dan budaya nasional untuk meningkatkan rasa cinta Tanah Air dalam mendukung pertahanan negara.

    Untuk tahun 2011, Balitbang Kemhan berupaya merealisasikan program di bidang material. Yaitu, desain/ rancang bangun dan konstruksi dasar badan kapal patroli cepat (FPB); desain tentang pembuatan tank ringan APC; prototipe alat komunikasi (alkom) Manpack VHF/FM Ground to Air (GTA); dan prototipe munisi tajam high explosive (HE) kaliber 90 mm.

    Meski demikian, ada sejumlah masalah yang sedang dikaji Puslitbang Sumdahan. Yakni, melakukan penelitian dan pengkajian tentang penyediaan air bersih bagi prajurit di perbatasan. Di mana, keberadaan prajurit TNI di daerah perbatasan sangat penting dalam menjaga kedaulatan negara dari ancaman negara lain. "Agar prajurit dapat melaksanakan tugas dan fungsinya, mereka seyogianya didukung perlengkapan dan bekal yang memadai," ujarnya.

    Salah satu bekal yang vital bagi prajurit TNI adalah ketersediaan air bersih. Prof Dr Ir Eddy Sumarno Siradj MSc Eng mencontohkan, wilayah perbatasan Pulau Miangas dan Pulau Rote merupakan wilayah dengan sumber daya air tawar yang minimal. "Dihadapkan pada perkembangan teknologi manufaktur dan kesehatan, telah ditemukan inovasi teknologi pembersihan air melalui sistem osmosis, penukar ion, pengembangan uap air. Ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi air bersih dan air minum prajurit TNI yang bertugas di daerah perbatasan yang sumber daya airnya terbatas," katanya.

    Sementara itu, Prof Eddy menyebutkan, Puslitbang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan (Iptekhan) juga terus merealisasikan sejumlah program. Antara lain, pembuatan prototipe body armour yang meneliti alumunium dan paduannya untuk substitusi sebagian peranan baja untuk rantis; pembuatan Model Warhead dan Impact Fuze Rocket kaliber 200 mm; pembuatan prototipe Gliding Smart Bomb; pembuatan prototipe radar; litbang pembuatan naskah kajian antiradar (nonferro) untuk coating pada alutsista TNI yang meneliti tentang cara memperoleh anti radar pada alut sista.

    Peralatan Matra Darat


    Pembuatan Prototipe Munisi Tajam High Explosive (HE) Kal 90 mm untuk Tank Scorpion, pada Tahun Anggaran 2011 sebagai lanjutan dari pembuatan Munisi Kal 90 mm untuk latihan (exercise) untuk Tank Scorpion di mana Munisi Kaliber Besar (MKB), sangat diperlukan namun buatan luar negeri.

    Sehingga TNI selalu membeli dari luar negeri dengan harga mahal. "Untuk itu, Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan melalui penelitian TA 2011 mencoba membuat sendiri melalui reverse engineering bekerja sama dengan industri dalam negeri, meski belum seluruhnya buatan dalam negeri, misalnya fuze dan TNT, diharapkan pada tahun anggaran 2013 sudah dapat dibuat di dalam negeri," ujar Prof Eddy.

    Dia menjelaskan, Kementerian Pertahanan telah melaksanakan kerja sama dengan Korea Selatan dalam pembuatan pesawat KFX/ IFX. Ini merupakan program pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 yang ditawarkan pemerintah Korsel kepada Indonesia untuk dikembangkan bersama.

    Selain untuk meningkatkan kemampuan pertahanan, keikutsertaan Indonesia dalam program ini adalah guna mengoptimalkan kemampuan industri nasional dalam merancang dan memproduksi pesawat tempur dan meningkatkan kemampuan dalam menguasai teknologi militer.

    Sumber : Suara Karya
    Readmore --> Hasil Beberapa Teknologi Yang Dihasilkan Balitbang Kemhan Pada Tahun 2011

    Monday, October 3, 2011 | 8:01 PM | 0 Comments

    Panglima TNI : Indonesia Dan Korsel Akan Joint Production Pembuatan Kapal Perang Jenis Korvet

    Jakarta - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Laksamana TNI Agus Suhartono, menyatakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) apabila sudah dapat diproduksi dari dalam negeri, maka dilarang untuk melakukan pembelian dari negara lain.

    Paradigma sekarang yang lebih menitikberatkan pada pembelian dari luar negeri, adalah untuk melakukan transfer of technology. "Makanya bentuknya joint production," ujar Panglima TNI di Jakarta, Senin (3/10).

    Panglima TNI menambahkan, joint production saat ini dilakukan dengan Korea dalam pembuatan kapal korvet.

    Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno menyatakan industri strategis Indonesia masih belum mampu untuk memproduksi kapal selam. "Makanya kita kirim tenaga ahli ke Korea untuk melakukan transfer or knowledge," tambahnya.

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> Panglima TNI : Indonesia Dan Korsel Akan Joint Production Pembuatan Kapal Perang Jenis Korvet

    Panglima TNI : Mabes TNI Tetap Memilih Hibah F-16

    Jakarta - Sikap itu disampaikan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dalam keterangan pers di Markas TNI Cilangkap, Jakarta Timur. "Dengan membeli, alokasi anggaran lebih besar dibanding meretrofit pesawat hibah, jadi kita arahnya ke sana," ujar Agus kepada wartawan.

    Panglima TNI menjelaskan, anggaran yang diberikan untuk pengadaan alut sista pesawat telah disetujui DPR sebesar 430 juta Dollar. Namun jauh itu jauh dari harga 6 pesawat baru F-16 blok 52 asal Amerika yang berkisar 700 juta Dollar.

    Dengan perhitungan anggaran yang diberikan DPR, menurut Panglima TNI, memungkinkan untuk meretrofit 24 pesawat F-16 blok 24 hibah dari Amerika. "Angaran yang disetujui DPR, bisa meretrofit pesawat hibah menjadi setara dengan pesawat F-16 blok 32," kata Agus.

    Kepala Staff Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat di tempat sama membenarkan keinginan TNI untuk tetap memilih menerima hibah F-16 dari Amerika. "Jauh hasil yang akan didapat dari membeli dengan menerima hibah, meski harus meretrofit pesawat F-16 dulu, kemampuan dari hibah bisa menambah jumlah pesawat lebih besar jumlahnya,' ujar Imam

    Sebelumnya Komisi I DPR memberikan opsi kepada mabes TNI dalam menerima atau membeli pesaawat F-16 dalam pengadaan alutsista TNI AU setelah adanya tawaran dari Amerika Serikat. Pertama, pemerintah diminta membeli enam pesawat tempur F-16 Block 52 yang merupakan pesawat jenis baru untuk menampilkan efek getar dan daya tangkal yang cukup. Kedua, menerima hibah dengan syarat bisa di-up grade dengan melibatkan BUMN industri pertahanan.

    Sumber : INDOSIAR
    Readmore --> Panglima TNI : Mabes TNI Tetap Memilih Hibah F-16

    PT DI Gandeng Airbus Military Untuk Membuat CN 295 Pesanan TNI AU

    Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (DI) kembali melakukan kerja sama dengan perusahaan manufaktur pesawat Airbus S.A.S. Salah satu bentuk kerja sama tersebut yakni dalam produksi pesawat pesanan TNI AU Airbus Military’s CN 295.

    "Kita lakukan lagi kerja sama dengan Airbus karena kan sebenarnya sudah sejak dahulu kita bekerjasama karena krisis 1998 sempat terhenti," ungkap Direktur Utama Dirgantara Indonesia Budi Santoso ketika ditemui di Kantor Menteri Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (3/10/2011).

    Dijelaskan Budi, kerja sama tersebut dalam hal produksi bagian-bagian pesawat, teknologi hingga lisensi pemesanan pesawat untuk di ekspor keluar. Adapun khusus pesanan TNI AU dimana berupa CN 235 juga akan dikerjakan Dirgantara dengan menggunakan lisensi Airbus.

    "TNI AU memesan 9 pesawat pengganti Fokker 27 yakni CN 295 lisensi khusus dari Airbuss. Jadi kita akan memproduksi pesawat tersebut," terangnya.

    Ia menambahkan, untuk pesawat yang akan diekspor antara lain CN 212 untuk Thailand dan CN 320 berupa komponennya. "Masih banyak yang lainnya tapi pada intinya kerjasama ini akan mendorong peningkatan kinerja PT DI untuk menguasai market share Asia Pasifik," tegas Budi.

    Untuk itu, Budi menambahkan restrukturisasi kinerja keuangan perusahaan akan dilakukan terlebih dahulu dengan menunggu kucuran skema Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui PPA sebesar Rp 700 miliar.

    "Jadi sudah pas, untuk pengembangan teknologi dan lisensi itu dari Airbus sedangkan untuk restrukturisasi dari PMN melalui PPA sebesar Rp 700 miliar," tukasnya.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> PT DI Gandeng Airbus Military Untuk Membuat CN 295 Pesanan TNI AU

    Panglima TNI : TNI Akan Membuat Satu Armada Baru Untuk TNI AL Dan Empat Skuadron Baru Untuk TNI AU

    Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan berfokus mengembangkan sumber daya manusia dan pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sampai 2014 mendatang. Panglima TNI Agus Suhartono mengatakan dua hal itu menjadi agenda yang mendesak dilaksanakan. Untuk mewujudkan hal tersebut ketiga matra TNI akan menambah divisi dan batalion.

    "Postur dan struktur TNI yang dikembangkan ke depan bercirikan peningkatan profesionalisme TNI. Itu diwujudkan dengan memusatkan diri pada tugas-tugas pertahanan," katanya usai memimpin gladi resik upacara peringatan HUT ke-66 TNI di Markas Besar TNI Cilangkap Jakarta Timur, Senin 3 Oktober 2011.

    Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) akan menambah satu divisi linud, satu batalion armed, dua brigade infanteri, dan dua batalion infanteri. Satuan tempur setingkat brigade dan batalion juga akan dibangun di beberapa Komando Daerah Militer (Kodam).

    Sementara itu, di bawah koordinasi TNI Angkatan Laut juga akan dikembangkan tiga armada, dari sebelumnya hanya dua armada dan tiga pasukan marinir. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Suparno mengatakan Armada RI Kawasan Tengah akan dibentuk melengkapi armada kawasan timur dan barat.

    "Karena ada tiga alur laut Indonesia dan tiga daerah rawan di setiap armada yang memerlukan pengawasan," kata dia. Pembentukan armada baru juga bertujuan agar alutsista lebih merata. Sedangkan pelaksanaan pembentukan armada akan dilakukan bertahap.

    Tak ketinggalan, TNI Angkatan Udara juga akan membentuk empat skadron baru, terdiri dari berbagai pesawat dan helikopter serta tiga satuan radar dan tiga detasemen khusus. "Juga mengembangkan pasukan khas (paskhas) dan pembentukan beberapa pangkalan udara," kata Panglima Agus.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Panglima TNI : TNI Akan Membuat Satu Armada Baru Untuk TNI AL Dan Empat Skuadron Baru Untuk TNI AU

    KSAL : Kapal Selam Akan Menggunakan Body Tipe U-209 Rasa U-214

    Jakarta - Kapal selam untuk mendukung pelaksanaan tugas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dalam mengamankan wilayah laut Indonesia akan memiliki sistem senjata paling mutakhir.

    Kapal selam ini merupakan buatan Korea Selatan yang dilakukan dalam bentuk joint production Indonesia-Korsel. "Kapal selam yang paling canggih saat ini tipe 214. TNI AL akan memadukannya dengan mengambil bodi kapal tipe 209 1.500 ton, tapi dengan sistem persenjataan 214," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno kepada wartawan usai menghadiri gladi bersih upacara peringatan HUT TNI di Markas Besar (Mabes) TNI di Cilangkap Jakarta, Senin (3/10). KSAL menambahkan, Indonesia telah memiliki kapal selam jenis 209 berbobot 1.300 ton.

    KSAL menuturkan, saat ini kemampuan industri pertahanan dalam negeri belum mampu untuk membangun kapal selam. Karenanya pengadaan kapal selam ini dilakukan dalam bentuk joint production dengan Korsel. Kerja sama yang akan menghasilkan tiga unit kapal selam ini akan dilakukan di kedua negara.

    Pembangunan kapal selam pertama dilakukan di Korea disertai pengiriman ahli dari Indonesia untuk mempelajari teknologinya. "Yang kedua separuh-separuh oleh kedua negara, dan yang ketiga baru di bangun di Indonesia," jelas KSAL.

    Dijelaskan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di tempat yang sama, pengadaan alat utama sistem senjata (Alutsista) harus dibeli dari produksi dalam negeri. "Kalau belum bisa, kita lakukan joint production. Kalau joint production pun tidak bisa, boleh membeli, seperti kapal selam ini," kata Panglima. Namun demikian, kata Panglima, pembelian kapal selam buatan Korsel ini menguntungkan Indonesia karena dapat dilanjutkan dengan joint production sehingga terjadi transfer teknologi.

    Pada Jumat (30/9) lalu KSAL mengatakan, biaya pembangunan tiga kapal selam ini menghabiskan dana Rp9,5 triliun. Pengadaan kapal selam untuk TNI AL ini menjadi prioritas setelah pengadaannya terlambat 2-3 tahun. Untuk menyusul keterlambatan ini, pengadaan kapal Selam tersebut akan dipercepat dari 30 bulan menjadi hanya 1,5 tahun.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> KSAL : Kapal Selam Akan Menggunakan Body Tipe U-209 Rasa U-214

    Panglima TNI : Tak Semua Info BaIS TNI Perlu Dibagi ke BIN

    Jakarta - Dalam RUU intelijen, Badan Intelijen Negara (BIN) akan menjadi koordinator lembaga-lembaga intelijen, termasuk Badan Intelijen Strategis (BaIS) TNI. Menanggapi hal ini, Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono menilai tidak semua info dari BaIS pelu dibagi ke BIN.

    "Pada dasarnya badan intelijennya TNI itu adalah pengumpulan data untuk kepentingan tugas pokok TNI. Jadi masing-masing badan intelijen memiliki peran masing-masing, memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Nah untuk BaIS TNI adalah penyuplai informasi data intelijen yang digunakan untuk mendukung tugas pokok TNI," ujar Agus di sela-sela acara Gladi bersih HUT TNI di mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (3/10/2011).

    Agus menambahkan selain informasi untuk tugas pokok TNI, ada info yang harus terus dibagikan ke BIN. Informasi seperti terorisme contohnya. Namun Agus menambahkan sebagai lembaga intelijen TNI, kendali BaIS tetap akan berada di tangan TNI.

    "Tentu ada suatu tataran tertentu, misalkan masalah informasi tentang terorisme, itu yang bisa dikoordinasikan. tetapi tentang peran dan fungsinya masing-masing itu tentu tetap akan menginduk pada
    organisasinya masing-masing. Karena pada dasarnya intelijen itu digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok," lanjut Agus.

    TNI mengaku masih menunggu hasil akhir UU intelijen ini. Setelah itu baru TNI akan melakukan pendalaman dan pembahasan terkait koordinasi intelijen dengan BIN.

    "Tapi dalam persepsi saya yang dikoordinasikan adalah masalah sharing informasi dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya harus terkoordinasi," tutupnya.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Panglima TNI : Tak Semua Info BaIS TNI Perlu Dibagi ke BIN

    KASAD Coba Kehandalan Pesawat Tempur Sukhoi

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mencoba kehandalan pesawat jet tempur Sukhoi TNI Angkatan Udara di Jakarta, Senin.
    Sebelum menjajal kehandalan pesawat tempur buatan Rusia itu, Kasad Pramono Edhie mendapat pengarahan serta menjalani uji kesehatan dan tekanan darah oleh tim Kedokteran Penerbangan TNI Angkatan Udara.

    Usai beristirahat beberapa saat putra mantan Komandan Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus), Sarwo Edhie Wibowo (almarhum), yang juga adik Ibu Negara Hj. Ani Susilo Susilo Bambang Yudhoyono itu langsung menuju pesawat Sukhoi SU-30MK2 yang akan membawanya terbang.

    Dalam penerbangan sekitar 45 menit itu, Kasad didampingi penerbang Letkol Pnb Untung Suropati yang sehari-hari menjabat Komandan Skuadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Turut mendampingi di pesawat sejenis lainnya Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat yang terbang didampingi Mayor Pnb Vincent.

    Kasad dan Kasau terbang diatas ketinggian 10 hingga 15 ribu kaki selama 45 menit meliputi wilayah Jakarta hingga ke Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

    Usai merasakan kehandalan Sukhoi, Kasau Marsekal Imam Sufaat menyematkan Wing Kehormatan Penerbang kepada Kasad Pramono Edhie, karena yang bersangkutan telah memberikan kontribusi berarti bagi kemajuan TNI Angkatan Udara.

    Sementara Kasad Pramono Edhie kepada ANTARA menyatakan sangat bangga mendapat Wing Kehormatan Penerbang tersebut. Penghargaan Wing Kehormatan Penerbang sebelumnya telah diberikan kepada beberapa petinggi militer dan polri lainnya seperti Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno dan Kepala Polri Jenderal Pol Timur Pradopo.

    Sumber : Harian Analisa
    Readmore --> KASAD Coba Kehandalan Pesawat Tempur Sukhoi

    TNI Gelar Gladi Resik Upacara HUT TNI Ke 66 Di Mabes TNI

    Jakarta - Dalam rangka menyambut HUT ke-66, TNI mengadakan upacara gladeresik menjelang upacara peringatan HUT TNI, yang dipusatkan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

    Acara gladeresik yang dimulai pada pukul 08.30 WIB, Senin (3/10/2011), dibuka dengan acara defile pasukan yang memasuki tempat upacara.

    Pantauan okezone, pasukan yang mengikuti upacara ini berasal dari seluruh kesatuan yang ada ditubuh TNI AD, AL dan AU. Komandan Upacara yang memimpin pasukan upacara kali ini berasal dari TNI AU.

    Sumber : OKEZONE
    Readmore --> TNI Gelar Gladi Resik Upacara HUT TNI Ke 66 Di Mabes TNI

    Pangkostrad : Walaupun Meriam Sudah Tua Tapi Masih Layak Pakai

    Batu Jajar - Setiap menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) TNI, persoalan alat utama sistem persenjataan (alutsista) selalu menjadi topik pembicaraan dan keprihatinan. Persenjataan berat yang digunakan Komando Cadangan Staregis Angkatan Darat (Kostrad) misalnya, meriam yang ada merupakan type 76 produksi 1942 dan 1948.

    Meriam dengan jarak tembak 14 kilometer itulah yang digunakan Yonarmed 10/2/1 Kostrad saat menggelar latihan menembak di Lapangan Tembak Armed, Pusdikpassus, Batujajar, Jabar, sejak 28 September dan berakhir hari ini (3/10).

    Meski demikian, sebanyak 826 personil Kostrad yang ikut latihan tetap semangat, saat ditinjau langsung Pangkostrad Letjen TNI Azmyn Yusri Nasution, akhir pekan lalu. Dalam arahannya di depan pasukan, AY Nasution mengatakan, meski senjata-senjata berat yang digunakan sudah berumur tua, namun lantaran bagus perawatannya, meriam itu masih layak digunakan di pertempuran.

    "Karena kita rawat dengan baik, maka masih layak dan ampuh untuk pertempuran," ujar alumni AKABRI 1977 itu. Dia juga mengingatkan para prajuritnya agar serius berlatih. Alasannya, latihan yang memakan biaya Rp4 miliar itu harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Pria kelahiran Medan itu menyebutkan, satu peluru yang diluncurkan dari meriam itu harganya Rp12 juta."Ingat, sekali tembak Rp12 juta. Duuung...Rp12 juta. Duung...Rp12 juta. Semua uang rakyat. Jadi tak boleh main-main, harus serius. Lakukan yang terbaik dan tetap semangat," pesannya.

    Meski senjata berat yang digunakan sudah uzur, kepada wartawan AY Nasution mengatakan, yang terpenting bukan soal umur senjata. "Tapi harus dilihat sasarannya. Hancur nggak" Mati nggak?. Kita nggak persoalkan tahun produksinya," kata Mantan Pangdam XVII/Cenderawasih itu.

    Kabar yang menggembirakan, dalam waktu dekat segera datang meriam type 105 dari Korea Selatan, yang jarak tembaknya bisa mencapai 14 kilometer. "Ke depan, TNI AD juga akan menyiapkan type 155, yang jarak tembaknya 5...

    Sumber : FAJAR
    Readmore --> Pangkostrad : Walaupun Meriam Sudah Tua Tapi Masih Layak Pakai

    Hyun Bin Akan Kunjungi Markas Marinir Cilandak Sebagai Duta Pertahanan Korsel

    Jakarta - Aktor dan model asal Korea Selatan, Hyun Bin, akan berkunjung ke Markas Komando Korps Marinir, Cilandak, awal pekan ini. Kepala Pusat Penerangan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hartind Asrin mengatakan Duta Industri Pertahanan Korea untuk Indonesia itu datang atas undangan Kedutaan Besar Korea di Indonesia.

    Hyun Bin dijadwalkan tiba di Jakarta, 4 Oktober, untuk tampil di Cilandak dua hari kemudian. Kedatangannya dalam rangka mempererat hubungan kerja sama Indonesia-Korea Selatan. "Korea Selatan kan sedang ancang-ancang untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Indonesia," katanya ketika dihubungi.

    Indonesia dan Korea Selatan memang sedang giat menjalin kerja sama di bidang pertahanan. Tahun ini, kerja sama pengembangan pesawat tempur Korean-Indonesia Fighter Xperiment (KIF-X) dimulai. Kedua negara juga sedang membicarakan rencana jual-beli pesawat latih T-50 Golden Eagle. Indonesia sendiri menawarkan pesawat angkut CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia.

    Delegasi Kementerian Pertahanan baru-baru ini juga berkunjung ke Korea Selatan untuk membicarakan rencana kerja sama lain di bidang jaringan sistem keamanan. Lawatan selama satu minggu itu dilakukan pada 19 September lalu. "Tapi kerja sama yang ini belum bisa diungkap," kata Hartind.

    Pemerintah Korea Selatan menunjuk Hyun Bin sebagai Duta Industri Pertahanan karena popularitasnya yang cukup tinggi di Tanah Air. Aktor berusia 29 tahun ini memperoleh beberapa penghargaan atas perannya dalam drama televisi Secret Garden yang disiarkan jaringan televisi SBS. Ia juga populer sebagai bintang iklan Samsung Smart TV.

    Hyun Bin yang lahir dengan nama Kim Tae Pyung bergabung dengan program wajib militer sejak Maret lalu. Ia ditempatkan di divisi infanteri tempur Korps Marinir di Pulau Baeknyeong dan akan bertugas di sana selama dua tahun.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Hyun Bin Akan Kunjungi Markas Marinir Cilandak Sebagai Duta Pertahanan Korsel

    Roy Suryo: TNI AU Butuh Helikopter Chinook Untuk Penanganan Bencana

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR Roy Suryo mengatakan TNI Angkatan Udara perlu memiliki helikopter jenis Chinook CH-47 untuk keperluan pertahanan dan keamanan termasuk penanganan bencana di daerah yang sulit terjangkau. Hal tersebut mengomentari lambannya penanganan evakuasi jatuhnya pesawar CASA 212 di Bahorok, Langkat, Sumatera Utara.

    "Selain perlu periksa CDR 18 penumpang dan awak Cassa-212 NBA untuk memastikan issue adanya Incoming/Outgoing Call, Tim SAR/TNI-AU perlu miliki heli jenis CH-47 Chinook," katanya kepada pers di Jakarta, Minggu, terkait jatuhnya pesawat komersil Cassa 212 di Sumatera Utara.

    Roy juga mendorong Badan SAR Nasional mendapat sarana dan prasarana yang lebih baik seperti helikopter jenis Boeing CH-47 Chinook yang bisa melakukan evakuasi langsung dengan terbang diam (stay) di atas objek. Helikopter berbaling-baling ganda itu tidak perlu harus terus bergerak memutar seperti heli-heli yang dimiliki SAR/TNI saat ini.

    Seperti diketahui, proses evakuasi korban pesawat CASA 212-200 milik Nusantara Buana Air terhambat karena faktor cuaca dan lokasi yang sulit dijangkau. Posisi bangkai pesawat sebenarnya sudah diketahui sejak hari pertama, namun tim evakuasi baru bisa turun di hari kedua karena hambatan tersebut. Itu pun hanya dua personel. Jumlah personel tim evakuasi yang diturunkan juga terbatas karena hanya bisa diangkut dengan helikopter-helikopter kecil. Sementara dengan jalur darat, sulit ditempuh karena medan yang berat.

    Pesawat dengan rute Medan-Kutacane itu jatuh di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Bahorok, Langkay, Sumut, pada Kamis (29/9/2011) lalu, sekitar pukul 08.00. Lokasi jatuhnya pesawat sulit dijangkau sehingga Tim SAR dan TNI AU baru mampu menjangkau lokasi pada hari ketiga pascakejadian. Akibat peristiwa ini, 14 orang penumpang dan 4 orang kru pesawat tewas. Diduga, akibat benturan keras saat pesawat jatuh.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Roy Suryo: TNI AU Butuh Helikopter Chinook Untuk Penanganan Bencana

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.