ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Wednesday, March 16, 2011 | 8:24 PM | 0 Comments

    Dubes Korsel : Korsel Akan Memfasilitasi Tae Kwon Do Untuk TNI AD

    JAKARTA – Pangdam Jaya/Jayakarta, Mayor Jenderal TNI Marciano Norman, melakukan kunjungan silaturahmi ke Duta Besar Korea Selatan Kim Ho Young di Plaza Office Tower lantai 30 Jl. MH. Thamrin Kav 28-30 Jakarta Pusat, Rabu (16/3).

    Kedua pejabat yang kebetulan akan sama-sama berakhir masa tugasnya sebagai Duta Besar dan Pangdam Jaya/Jayakarta tersebut, disamping membahas masalah hubungan AD Korea Selatan dan TNI AD juga banyak membahas masalah perkembangan Tae Kwon Do Indonesia yang saat ini dipimpin oleh Pangdam Jaya/Jayakarta.

    Kim Ho Young mengatakan bahwa pemerintah Korea Selatan sangat menaruh perhatian besar terhadap kemajuan olah raga Tae Kwon Do Indonesia yang mana olah raga Tae Kwon Do merupakan olah raga Nasional bangsa Korea Selatan. Oleh karena itu Duta Besar Korea Selatan berjanji akan membantu fasilitas seperti pelatih demi kemajuan olah raga Tae Kwon Do di Indonesia termasuk Beladiri Yong Moodo yang saat ini dikembangkan dilingkungan TNI AD.

    Pada kesempatan tersebut Pangdam Jaya juga menyampaikan bahwa begitu terpilih menjadi Ketua Umum Tae Kwon Do Indonesia bertekad akan membina olah raga ini sampai ke pelosok tanah air, oleh karena itu perlu dukungan pemerintah Korea Selatan.

    Dalam menerima tamunya Duta Besar Korea Selatan didampingi oleh Atase Pertahanan Kolonel Moon Dae Chcol dan Pangdam Jaya didampingi oleh Kapendam Jaya Letkol Inf Ruminta dan Kaspri Pangdam Jaya Letkol Inf Robert Dona.

    Sumber: POS KOTA
    Readmore --> Dubes Korsel : Korsel Akan Memfasilitasi Tae Kwon Do Untuk TNI AD

    Panglima TNI Tinjau Gelar Kekuatan Marinir

    JAKARTA – Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Soeparno, Wakil Kepala Staf Angakatan Laut Laksmana Madya Marsetio,M.M dan Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin melaksanakan kunjungan kerja di Kesatrian Marinir Cilandak, Jakarta Selatan dalam rangka melihat secara langsung gelar kekuatan Batalyon Tim Pendarat 2 Korps Marinir dan satu Batalyon Pengamanan Khusus Ibukota, Rabu (16/3).

    Gelar kekuatan diawali dengan simulasi operasi amfibi yang merupakan suatu bentuk serbuan Pasukan Pendarat Marinir yang dilancarkan dari laut ke darat, dan pasukan pendarat yang di muat dalam kapal perang Landing Ship Tank serta sarana amfibi lainnya yang didaratkan di pantai musuh untuk menguasai tumpuan pantai dan serangan darat lanjutan. Simulasi tersebut melibatkan satu batalyon tim pendarat yang diperkuat oleh unsur-unsur kesenjataan Marinir lainnya, baik infantri, kavaleri, artileri serta unsur-unsur satuan bantuan tempur (Banpur) dari Korp Marinir TNI AL.

    Dalam rangkaian acara tersebut selain menghadirkan puluhan kendaraan tempur dari berbagai jenis, juga diwarnai dengan demonstrasi dari satuan anti teror Detasemen Jalamangkara, demonstrasi Tarzan Cros dari satuan Intai Amfibi Pasmar-2, Demonstrasi tembak Sniper, peninjauan Rumah Sakit Lapangan dan meninjau Dapur Lapangan (Purlap) dari Pasmar-2 jakarta.

    Acara peninjaun gelar kekuatan Pasukan Marinir ini juga dihadiri Kapuspen TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul S.E, para Pejabat teras Mabes TNI dan Mabes TNI AL serta para Pangkotama TNI AL.

    Sumber: POS KOTA
    Readmore --> Panglima TNI Tinjau Gelar Kekuatan Marinir

    Australia Sumbang 3 Kapal Patroli untuk Polri

    Ilustrasi.

    Jakarta - Pemerintah Australia menyumbang tiga kapal patroli senilai US$ 5 juta untuk menanggulangi penyelundupan manusia yang melewati jalur Indonesia-Australia. "Kapal patroli berkecepatan tinggi ini akan ditempatkan di berbagai lokasi strategis di Indonesia," kata Menteri Dalam Negeri Australia, Brendan O'Connor usai bertemu Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo di Markas Besar Polri, Rabu 16 Maret 2011.

    Saat ini tiga kapal sumbangan itu masih digarap oleh perusahaan Australia, serta dirakit secara bertahap di Perth,Vietnam dan Singapura. Selain kapal, negeri Kangguru itu juga menyumbang dana sebesar US$ 4,8 juta untuk melengkapi peralatan di tempat konstruksi Pusat Kejahatan Dunia Maya (Cyber Crime Center) di kompleks Markas Besar Polri di Jakarta.

    Fasilitas yang diperbarui itu adalah komputer forensik dan teknik penyelidikan kejahatan teknologi tinggi untuk menyelidiki pendanaan penyelundupan manusia serta kejahatan lintas batas lainnya.

    Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo berharap bantuan yang diberikan pihak Australia ini dapat segera dimanfaatkan pada Mei mendatang. Fokus Australia, kata dia, adalah memberikan bantuan khusus untuk pembangunan laboratorium forensik.

    Laboratorium forensik ini, menurut Timur, untuk upaya penanggulangan kejahatan trans nasional seperti pencucian uang, penyelundupan manusia dan peredaran narkotika serta obat-obatan terlarang.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Australia Sumbang 3 Kapal Patroli untuk Polri

    PT DI raih sertifikat organisasi rancang bangun

    BANDUNG : PT Dirgantara Indonesia hari ini menerima sertifikat organisasi rancang bangun dari Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Sertifikat ini merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki oleh industri pembuat pesawat udara.

    Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Dita Ardonni Jafri mengatakan dengan diterima sertifikat ini berarti BUMN itu telah memenuhi semua persyaratan yang harus dimiliki industri pesawat udara.

    Sebelumnya, perusahaan telah memiliki production certificate, approved maintenance organization, dan distrubutor certificate of approva, disamping berbagai personnel certification dan types certificates.

    “Ini tentu menjadi kabar baik bagi perusahaan dalam menjalankan bisnis,” katanya dalam sambutannya hari ini.

    Penyerahan sertifikat organisasi rancang bangun atau design organization approval dilakukan oleh Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubud Kemenhub Yurlis Hasibuan.

    Yurlis meminta perusahaan terus meningkatkan kinerja dengan penerapan proses dan pelatihan pekerja yang baik. “Ini diperlukan untuk meningkatkan daya asing industri pesawat dalam negeri,” katanya.

    Sumber: BISNIS JABAR
    Readmore --> PT DI raih sertifikat organisasi rancang bangun

    Kemhan Adakan Pertemuan Ke-2 RI-Turki Dalam Bidang Kerjasama Industri Pertahanan

    Ilustrasi.

    Jakarta - Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Teknologi dan Industri Pertahanan Ditjen Pothan Kemhan, Kamis (16/3), di Kantor Kemhan, Jakarta, menjadi tuan rumah dalam pertemuan ke-2 kerjasama industri pertahanan antara RI – Turki. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini akan membahas kelanjutan realisasi rencana kerjasama antar industri pertahanan kedua negara. Delegasi Turki yang dipimpin oleh Deputy under secretary of Defence, MG Mihak.

    Dalam amanat pembukanya Direktur Teknologi dan Industri Pertahanan Brigjen TNI Agus Suyarso yang mewakili Dirjen Pothan Kemhan Dr Ir Pos M Hutabarat MA, dijelaskan bahwa untuk meningkatkan hubungan bilateral pertahanan kedua negara, pertemuan ini adalah pertemuan lanjutan dalam bidang peningkatan kerjasama di bidang industri pertahanan yang pertemuan pertamanya diadakan pada bulan 19 dan 20 Januari tahun 2011 ini.

    Pada tahap pertama kedua negara telah menyetujui kerjasama industri pertahanan dan menuangkannya dalam MoU antara industri pertahanan kedua negara yaitu kerjasama dalam membangun beberapa alutsita bersama. Dalam pertemuan ini diharapkan dapat mencapai kesepakatan untuk membangun target-target alutsista yang diharapkan. Target-target tersebut dapat tercapai dengan keseriusan kedua belah pihak dalam membangun komunikasi yang efisien dan menghasilkan keuntungan di kedua belah pihak.

    Dengan adanya kesepakatan antara kedua negara dalam bidang industri pertahanan yangtelah ditandatangani oleh menteri pertahanan kedua negara, kerjasama antara kedua negara akan meliputi antara lain ; peningkatan kemampuan fasilitas penting dalam hal kerjasama penelitian, pengembangan produksi dan modernisasi proyek, serta perbaikan dan perawatan alutsista. Dalam bidang kerjasama penelitian, produksi dan desain oleh industri pertahanan dan masing-masing angkatan.

    Dirtekind Ditjen Pothan berharap, pertemuan dua hari ini dapat menghasilkan proyek-proyek konkret dalam hal kerjasama industri pertahanan kedua negara untuk jangka menengah dan jangka panjang. Diharapkan, pada kunjungan Menteri Pertahanan Turki pada bulan April mendatang, proyek-proyek bersama itu sudah terumuskan.

    Sumber: DMC
    Readmore --> Kemhan Adakan Pertemuan Ke-2 RI-Turki Dalam Bidang Kerjasama Industri Pertahanan

    TNI AL Siapkan 100 Prajurit Jago Tembak di Bangka Belitung

    Marinir TNI AL Sedang Melakukan Simulasi.

    SUNGAILIAT -- Sekurangnya 100 personel TNI Angkatan Laut (AL) Provinsi Bangka Belitung (Babel), memperketat penjagaan kawasan utara laut Bangka karena dianggap titik rawan tindak pelanggaran hukum.

    "Pelanggaran hukum yang terjadi di utara laut Bangka yang berbatasan dengan Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau cenderung lebih banyak pelanggaran dibandingkan dengan kawasan laut lainnya di Bangka Belitung," kata Komandan Lanal Babel, Kolonel Laut (P), Umar Arief di Sungailiat, Rabu.

    Ia mengatakan, tingginya pelanggaran hukum di kawasan perbatasan karena lebih banyak dipergunakan sebagai lintasan kapal yang beraktivitas melakukan kegiatan penangkapan ikan maupun kapal angkutan barang.

    "Pelanggaran yang sering terjadi di kawasan perbatasan adalah penangkapan ikan yang dilakukan nelayan asing yang tidak dilengkapi dengan dokumen resmi dari instansi berwenang," katanya.

    Umar mengatakan, dalam melakukan penjagaan di kawasan perbatasan tersebut, pihaknya telah menyiapkan sekitar 100 personel prajurit TNI AL yang sudah terlatih dan berpengalaman. "Prajurit yang melakukan penjagaan semuanya sudah terlatih baik menembak maupun memburu penjahat," katanya.

    Dari data 2010 kata dia, jumlah kasus pencurian ikan yang dilakukan nelayan asing terutama dari Thailand tercatat tiga kasus yang semuanya sudah diproses secara hukum. "Sedangkan untuk kasus penyelundupan bijih timah dari Pulau Bangka ke pulau lain tidak terjadi dan saya berharap selamanya tidak akan terjadi," ujarnya.

    Sumber: REPUBLIKA
    Readmore --> TNI AL Siapkan 100 Prajurit Jago Tembak di Bangka Belitung

    Radar Merauke Perkuat Pengamanan Wilayah Timur Indonesia

    Ilustrasi.

    Merauke - Satuan Radar 244 Merauke yang memperkuat pengamanan wilayah udara nasional di Timur Indonesia diresmikan lewat upacara militer yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Merauke, Rabu.

    Radar yang digunakan Satuan Radar 244 adalah peralatan "Master T" buatan Prancis yang memiliki jangkauan 240 mil laut.

    Selama ini keamanan wilayah udara Timur Indonesia dipantau oleh tiga satuan radar yakni Satuan Radar 241 di Buraen, Kupang (NTT), dan Satuan Radar 242 Tanjung Warari (Biak).

    Satuan Radar 244 Meurauke menjadikan wilayah udara Timur Indonesia telah diawasi dan diamankan dengan tiga Satuan Radar dari lima yang direncanakan.

    Satuan Radar 244 dikomandani Letkol Lek Budi Santoso dengan 30 personel.

    TNI Angkatan Udara berencana menambah dua satuan radar yakni Satuan Radar 243 di Timika (Papua) dan Satuan Radar 245 di Saumlaki (Maluku Tenggara Barat).

    Satuan Radar 243 akan diresmikan pada Agustus 2011 sedangkan Satuan Radar 245 Saumlaki akan diresmikan pada awal 2012.

    Lima satuan radar wilayah Indonesia Timur berada di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudna) IV yang bermarkas di Biak.

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, relatif tingginya tingkat pelanggaran wilayah udara nasional di wilayah Timur Indonesia maka penambahan satuan radar di wilayah itu sangat penting.

    "Dengan satuan radar yang akan dikembangkan di wilayah Timur Indonesia akan mampu menjadi mata dan telinga baik sebagai sarana dan bagian sistem pertahanan udara nasional, maupun sebagai media untuk melakukan deteksi dini dan intersep setiap pelanggaran wilayah udara nasional yang terjadi," katanya.

    Imam menambahkan, pendirian satuan radar di wilayah Timur Indonesia sangat penting mengingat adanya beberapa obyek vital nasional dan sebagai bagian dari jalur penerbangan internasional.

    Satuan Radar 244 Merauke dibangun sejak 2008 dan berdiri diatas lahan seluas 17,5 hektare.

    Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional Marsekal Pertama TNI M Syaugi mengatakan, penambahan radar di wilayah Timur Indonesia juga dilandasi pertimbangan sebagian wilayah berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini dan Australia.

    "Jadi radar ini penting untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di wilayah di Timur," katanya.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Radar Merauke Perkuat Pengamanan Wilayah Timur Indonesia

    Bangkai Kapal Perang Belanda Ditemukan di Perairan Madura

    Ilustrasi.

    Sisa-sisa sejarah invansi Belanda ke Tanah Air kembali terkuak. Sebuah bangkai kapal yang ditemukan nelayan di perairan Kepulauan Giliraja, Kabupaten Sumenep,Jawa Timur,pada Januari 2011 mulai diteliti para arkeolog dan TNI Angkatan Laut, kemarin.

    Hasil sementara penelitian menyebutkan bahwa bangkai kapal itu diperkirakan kapal perang milik Belanda yang karam di perairan Sumenep. Setelah terlihat nelayan Kepulauan Giliraja secara tidak sengaja awal tahun ini, penemuan tersebut dilaporkan ke kepala desa Banmaleng,Kepulauan Giliraja,dan diteruskan ke Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sumenep.Atas permintaan Pemkab Sumenep,TNI AL dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim di Trowulan,Mojokerto, akhirnya menyelam untuk meneliti dan membersihkan bangkai kapal.

    Dari penyelaman itu diketahui pada dinding bangkai kapal terdapat pelat bertuliskan ”Fyenoord 1914”. Diduga kuat,tulisan ini merupakan nama kapal sekaligus tahun pembuatannya.Sedangkan di bagian pinggir kapal, juga tertera lengkap angka 455-456.Kemungkinan besar angka ini adalah nomor lambung kapal.TNI AL sudah membersihkan angka tersebut dari karat dan lumut. Saat diteliti kemarin,kapal buatan Belanda itu diperkirakan memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar 6,5 meter.

    Peneliti belum berhasil memastikan panjangnya karena setengah lebih badan kapal terbenam dalam pasir danlumpur di dasar laut.Sejauh ini yang baru berhasil diukur sepanjang 1,5 meter. ”Kami telah menyelam sekaligus mendata ciri-ciri dari bangkai kapal tersebut,” ujar salah satu anggota Basarnas TNI AL Serma Muhadi kemarin. Dia mengakui,identitas kapal diketahui setelah petugas menemukan pelat yang berisi informasi tahun pembuatan serta asal kapal.

    Sedangkan di ruang mesin kapal terdapat tulisan dalam bahasa Belanda. Isinya,kurang lebih berupa peringatan terhadap awak kapal,”Apabila terjadi panas lebih dari 90 derajat,mesin harus dimatikan”.Kapal perang tersebut masih menggunakan ketel uap. ”Jenis kapal kurang lebih sama dengan kapal perang milik AL tahun 1980-an,yakni jenis kapal torpedo dengan menggunakan ketel uap,” imbuh dia. Muhadi menyatakan,proses pembersihan lumpur dari dalam bangkai kapal masih berlangsung.

    ”Untuk sementara, kami fokus pada pembersihan saja.Barang-barang yang memungkinkan untuk diangkat,kita amankan ke daratan,”tegasnya Pelaksana Tugas Kepala BP3 Jatim di Trowulan Aris Soviani menegaskan,kapal tersebut adalah kapal perang milik Belanda yang dibuat pada tahun 1914.”Kapal itu dibuat di Rotterdam dengan nomor lambung 455 – 456,”terang Aris saat dihubungi SINDO,kemarin. Dia menambahkan,temuan kapal perang bersejarah ini akan dilaporkan ke Direktorat Peninggalan Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar).

    Aris menyarankan agar kapal tersebut berada di posisi semula dan dijadikan objek wisata air.”Laporan lisan saja.Untuk laporan tertulis sedang kami susun,” tutur Aris. Jika usulan kapal kuno ini disetujui Kemenbudpar, secara otomatis posisi kapal tak akan digeser.Hanya, dibutuhkan waktu untuk mengangkat lumpur agar semua badan kapal tampak jelas.

    Dengan demikian, keindahan dan desain kapal bisa dinikmati utuh dengan cara menyelam.”Ini akan menjadi objek wisata bawah air yang menarik,”cetusnya. Mengenai kapan keputusan tindak lanjut atas temuan itu sendiri,Aris tak bisa memastikan.Langkah lanjutan,sambung dia,baru akan dilakukan jika sudah ada perintah selanjutnya dari Kemenbudpar.

    Sumber: SINDO
    Readmore --> Bangkai Kapal Perang Belanda Ditemukan di Perairan Madura

    ARF DiREx : Kerja Sama Sipil-Militer


    Kesiapan ARF DiREx 2011 Di Manado (Foto: Detik).

    MANADO - Bencana alam harus menjadi perhatian dan persoalan seluruh komunitas internasional. Kerja sama antara sipil dan militer serta multipihak perlu dipererat dalam manajemen penanggulangan bencana alam. Militer memiliki kemampuan respons cepat dan dapat dimobilisasi dalam jumlah besar dalam penanggulangan bencana.

    Demikian benang merah pidato pembukaan ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF DiREx) oleh Wakil Presiden Boediono, Selasa (15/3) di Manado, Sulawesi Utara. Acara ini merupakan pelatihan penanggulangan bencana alam yang diikuti sekitar 5.000 peserta dari 20 negara dengan tuan rumah bersama antara Indonesia dan Jepang.

    Hadir dalam acara pembukaan, antara lain, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Menteri Sosial Salim Segaf Al'jufrie, dan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kikuta.

    Menurut Boediono, untuk merespons bencana alam yang datang tiba-tiba, perlu kesiapan multipihak, baik sipil ataupun militer, maupun instansi pemerintah lain. Karena bencana alam memiliki dimensi internasional, pihak imigrasi, kepabeanan, dan hal-hal yang terkait dengan keamanan perlu dilibatkan. ”Melalui pelatihan inilah, kita dapat menguji dan menyiapkan prosedur operasional standar penanggulangan bencana,” kata Boediono.

    Sebelum pidato pembukaan, Boediono mengajak mengheningkan cipta atas musibah tsunami yang terjadi di Jepang dan banjir di Aceh. Boediono juga menyampaikan ucapan dukacita untuk rakyat Jepang yang menjadi korban tsunami.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyampaikan, ARF DiREx merupakan kegiatan bersama antaranggota ARF yang meliputi kerja sama bidang politik dan keamanan. Ia berharap, ada sinergisme antara sipil dan militer dalam hal penanggulangan bencana. ”Kegiatan ini sekaligus untuk memupuk kerja sama sipil dan militer dalam menanggulangi bencana. Sipil dan militer harus bahu-membahu untuk menanggulangi bencana yang sedang terjadi,” kata Purnomo.

    Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menambahkan, militer memiliki prosedur operasional standar penanggulangan bencana. Selain itu, militer merupakan unsur yang paling mudah digerakkan dalam jumlah besar saat bencana terjadi. Pelibatan militer dalam penanggulangan bencana sangat penting. ”Masyarakat sipil perlu juga belajar kepada militer dalam hal penanggulangan bencana,” kata Tifatul.

    Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kikuta mengatakan, keputusannya berada di Indonesia merupakan keputusan yang sulit karena Jepang saat ini tengah dilanda bencana tsunami. Namun, komitmen Jepang sebagai salah satu tuan rumah kegiatan ini membuat dirinya tetap bertahan di Indonesia.

    ARF adalah forum yang dibentuk ASEAN pada tahun 1994 dan kini beranggotakan 27 negara. Kegiatan pada ARF Direx 2011 di Manado berupa latihan penanggulangan bencana alam, seperti tsunami, banjir, dan gempa bumi. Kegiatan ini direncanakan berakhir pada 19 Maret nanti.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> ARF DiREx : Kerja Sama Sipil-Militer

    Update : Pindad Siapkan Kendaraan Tempur Yang Rampung 2013

    Pindad Sedang Merancang Tank K-21 Dari Korea Yang Rampung 2013.

    BANDUNG - PT Pindad mempersiapkan desain kendaraan tempur untuk memenuhi keterbatasan persenjataan yang dimiliki TNI. Rencananya purwarupa kendaraan itu rampung 2013 dan produksi sudah dimulai tahun berikutnya.

    Demikian pernyataan Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Sudarsono dalam pertemuan di Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav), Bandung, Senin (14/3).

    Pindad mulai menggarap pasar kendaraan tempur setelah perakitan tank jenis Scorpion pada 1997. Saat ini, Pindad juga belajar banyak dari perakitan 11 unit tank jenis Tarantula dari Korea Selatan dan diperkirakan rampung 2012.

    ”Pindad sebetulnya sudah memproduksi 154 kendaraan untuk TNI tapi untuk membawa personel,” ujar Adik. Produksi kendaraan tempur buatan sendiri ini diharapkan menjadi solusi sebagai pasar kendaraan tempur yang 90 persen dari luar negeri.

    Komandan Pussenkav Brigadir Jenderal Burhanuddin Siagian melanjutkan, saat ini pihaknya memiliki 1.025 unit kendaraan tempur yang diproduksi berbagai negara, seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Rusia, dan Korsel. Hanya saja, kebanyakan kendaraan miliknya sudah berumur 50 tahunan. Contohnya kendaraan jenis AMX-13 buatan Perancis yang dibuat 1952. ”Kesiapan operasional kendaran tempur kami hanya 65 persen bila meliputi komponen otomotif, senjata, dan komunikasi,” ujar Siagian.

    Anggota Komisi I DPR, Tri Tamtomo, menuturkan, Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan diharapkan mendorong industri dalam negeri. Kalaupun harus membeli dari luar negeri, diusahakan seminimal mungkin dan dengan syarat ketat seperti harus ada transfer teknologi dan ada imbal dagang.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Update : Pindad Siapkan Kendaraan Tempur Yang Rampung 2013

    WIKILEAKS : Perang Asimetri, Perang Tanpa Mesiu


    Wajah koran The Age edisi Jumat (11/3/2011)

    Setelah teknologi perang nuklir, dunia mengenal istilah baru, perang asimetri atau assimetric warfare. Perang asimetri berlangsung dalam pelbagai mandala, seperti pemberitaan media massa, jejaring sosial dunia maya, tanpa satuan tempur, dan terkadang tanpa aktor negara sebagai belligerent atau pihak yang bertempur.

    Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoedin yang ditemui di Jakarta, Senin (14/3) malam, mengatakan, dunia strategi dan pertahanan sedang memasuki babakan baru, yakni perang asimetris. ”Kita harus menanggalkan cara berpikir perang konvensional. Banyak hal yang terjadi tanpa disadari adalah dampak perang asimetri. Media digunakan sedemikian rupa mengumbar sensasi. Perang asimetri itu bukan menghadapkan senjata dengan senjata atau tentara melawan tentara,” ujarnya.

    Ia mengingatkan, negara yang secara ekonomi dan kesenjataan lemah adalah sasaran utama perang asimetris. Sebagai contoh, media internet atau media massa tanpa sadar dipakai untuk memengaruhi cara berpikir atau melemahkan bangsa.

    Tayangan sinetron yang menjadi candu bagi warga menengah ke bawah, dengan cerita tentang bagaimana orang miskin mendadak kaya serta perselingkuhan, adalah contoh dari memengaruhi cara berpikir. ”Salah satu cara yang dipakai dalam perang asimetris adalah merusak nalar berpikir,” tegas Sjafrie.

    Dalam kondisi pikiran yang diracuni tayangan audiovisual yang memberi pesan hidup dapat berubah seperti disulap tanpa harus kerja-keras, tak heran generasi muda Indonesia lebih memilih menjadi pemain sinetron dibandingkan belajar menjadi cendekiawan kelas dunia!

    Terkait pemikiran strategis dan nonkonvensional, anggota DPR, Gandjar Pranowo, dalam Seminar Perbatasan Indonesia, beberapa waktu lalu, membenarkan pentingnya membangun strategi berpikir asimetris.

    ”Perbatasan tak bisa dipagar dengan tembok atau tentara. Strategi menjaga daerah terluar adalah dengan membangun kedaulatan ekonomi demi mendukung kedaulatan negara. Cara berpikir itulah yang harus diterapkan dalam mengelola wilayah terluar dan membangun kedaulatan Republik Indonesia,” kata Ganjar.

    Negara makmur disegani dan menjadi idola bagi rakyat yang miskin dan terabaikan. Fenomena itu terlihat di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat, Polandia-Jerman, dan Indonesia-Malaysia. Rakyat di negara terbelakang selalu kagum pada wilayah yang dianggap makmur.

    Direktur Institute for Defense Security and Peace Studies Mufti Makarim mengatakan, belajar dari kasus WikiLeaks dan pemberitaan tentang pejabat Indonesia di media Australia, masyarakat harus belajar tentang fungsi diplomatik. Semua korps diplomatik suatu negara harus mencari tahu data strategis di negara penempatan. Ini adalah bagian dari perang asimetris itu.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> WIKILEAKS : Perang Asimetri, Perang Tanpa Mesiu

    Tuesday, March 15, 2011 | 9:47 PM | 0 Comments

    Pangarmabar Bekali Cawak Kapal Waspada Class

    Jakarta - Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Hari Bowo M.Sc., memberikan pembekalan kepada calon pengawak (cawak) Kapal Eks Waspada Class Brunai di Aula Gedung Yos Sudarso, Markas Komando (Mako) Koarmabar, Jl. Gunung Sahari No. 67, Jakarta Pusat, Selasa (15/3).

    Dalam arahannya Pangarmabar mengatakan cawak yang akan diberangkatkan ke Brunai agar mempersiapkan mental dan fisik, serta menambah wawasan dan profesional pelaut yang diberikan di Komando Latihan (Kolat) Koarmabar. Keberadaan cawak di Brunai bukan hanya mewakili TNI AL tetapi juga Indonesia, sehingga diharapkan dapat menjaga nama baik Bangsa Indonesia.

    Lebih lanjut Pangarmabar mengharapkan agar seluruh cawak mengikuti pelatihan di Brunai dengan baik, menjaga kekompakan / team work dan memanfaatkan waktu selama di Brunai untuk mempelajari segala pengetahuan terkait data teknis, pengoperasian kapal dan perencanaan navigasi penyebrangan, serta menjaga keselamatan personel dan material.

    Cawak Kapal Eks Waspada Class Brunai yang berjumlah 94 orang terdiri dari 14 perwira dan 80 Bintara dan Tamtama rencananya akana di berangkatakan menuju Brunei pada tanggal 20 Maret 2011 yang akan datang.

    Sumber: POS KOTA
    Readmore --> Pangarmabar Bekali Cawak Kapal Waspada Class

    Pemerintah Usulkan Nama FAF untuk Jet Tempur Kolaborasi RI-Korsel

    Ilustrasi.


    Jakarta - Setelah kerjasama pembuatan pesawat jet tempur KFX antara RI dan Korea Selatan dimulai, Pemerintah Indonesia akan mengajukan usulan perubahan nama pesawat jet tempur hasil kolaborasi dua negara itu.

    "Soal nama masih akan dibahas, kita inginkan ada nama Indonesia di dalamnya," kata Direktur Teknik Industri Pertahanan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso kepada Tempo, kemarin, Senin 14 Maret 2011.

    Awalnya, pihak Indonesia mengajukan nama pesawat tempur KFX (Korea Fighter Xperiment) itu diubah menjadi KIFX atau Korea-Indonesia Fighter Xperiment. Namun pihak Korea Selatan kurang setuju. "Akhirnya kita sepakat nama akan diubah, dan Indonesia mengusulkan pesawat tempur FFA atau Future Fighter Aircraft."

    Penggabungan nama dua pihak yang berkolaborasi ini, menurut Agus, pernah diterapkan saat Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Spanyol membuat pesawat angkut jenis CN 235 di era Presiden Soeharto.

    Nama kode 'CN' dibelakang seri pesawat itu adalah inisial dua perusahaan yang berkolaborasi, yakni Casa, perusahaan pesawat terbang Spanyol dan Nurtanio atau Industri Pesawat terbang Nusantara (IPTN) yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia. "Saat itu Casa menyumbang 50 persen dan Nurtanio 50 persennya," kata Agus, yang juga menjabat Kepala Sekretariat Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini. .

    Kerjasama pembuatan pesawat tempur dengan Korsel kali ini juga akan melibatkan industri pesawat terbang masing-masing negara. Pemerintah Indonesia kembali akan melibatkan PT Dirgantara Indonesia.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Pemerintah Usulkan Nama FAF untuk Jet Tempur Kolaborasi RI-Korsel

    RI-Korsel Tandatangani Perjanjian Kerjasama Jet Tempur KFX

    Ilustrasi.

    Jakarta - Setelah dijajaki sejak tahun lalu, Pemerintah akhirnya menandatangani perjanjian proyek kerjasama atau Project Agreement dengan Pemerintah Korea Selatan untuk membuat pesawat tempur KFX. Proyek bersama pembuatan jet tempur.

    KFX atau Korea Fighter Xperiment ini akan berlangsung selama 10 tahun.

    Penandatanganan perjanjian proyek telah dilakukan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (11/3) pekan lalu. Setelah Project Agreement, pada pertengahan April mendatang Pemerintah RI dan Korsel kemudian akan menandatangani kontrak kerjasama atau Contract Agreement.

    "Kalau sudah contract agreement April nanti, baru kita (RI dan Korsel) mulai berbagi rancang bangun, share pembuatan prototipenya," kata Direktur Teknik Industri Pertahanan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso kepada Tempo, kemarin, Senin 14 Maret 2011.

    Pembagian rancang bangun prototipe pesawat tempur ini adalah, 20 persen bagian Indonesia dan 80 persennya menjadi bagian Korea. Agus berharap Indonesia akan mendapat bagian membuat air frame atau struktur kerangka pesawat. "Minimal kita dapat 20 persen, syukur-syukur dapat 40 persen untuk air frame-nya nggak masalah," kata Agus, yang juga menjabat Kepala Sekretariat Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini.

    Agus menambahkan, proyek jangka panjang ini terdiri dari beberapa fase. Setelah penandatanganan kontrak kerjasama pada April mendatang, dua negara akan memasuki fase Technical Development atau pengembangan teknis dalam kurun waktu setahun (2011-2012). Setelah itu, pada awal 2013 kerjasama akan masuk dalam fase Engineering Development. "Pengembangan teknologi ini akan berlangsung selama 8 tahun sampai tahun 2020," katanya.

    Pasca 2020, dua negara baru akan melakukan persiapan produksi pesawat jet tempur tersebut. "Baru kemudian masing-masing negara mau beli berapa unit. Misalnya Indonesia 50 unit, Korsel berapa unit."

    Meski tahap produksi masih jauh alias 10 tahun lagi, kedua negara sudah berbagi modal kerjasama. Anggaran awal yang dibutuhkan dalam kerjasama pengembangan pesawat jet tempur ini adalah US$ 50 juta untuk 2 tahun ke depan. "Saat ini sudah share 20 persen Indonesia atau US$ 10 juta dan 80 persen Korea atau US$ 40 juta," kata Agus. "Ini diluar (anggaran) untuk infrastruktur yang akan dibangun."

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> RI-Korsel Tandatangani Perjanjian Kerjasama Jet Tempur KFX

    Komitmen Bersama Dalam Pengembangan Kapal Perang



    Kementerian Riset dan Teknologi memprakarsai lahirnya sebuah komitmen dalam bingkai konsorsium pengembangan Kapal Perang. Dengan dukungan dari Kementerian pertahanan dan TNI AL, telah diselenggarakan diskusi untuk membangun sinergi antara lembaga kebijakan, Lembaga penelitian dan akademisi, industri serta pihak user di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI Diponegoro).

    Diskusi yang dihadiri oleh Asdep Produktivitas iptek Strategis (Kementerian Riset dan Teknologi), Kementerian Pertahanan, BPPT, Nasdec (National Ship Desain Center) – ITS, PENS, ITB, Ka Div Teknologi PT PAL, Dirut PT Dumas, Dirut PT Terafulk dan Komandan KRI Diponegoro serta Asisten Operasi Panglima Armada Timur –TNI AL menghasilkan sebuah pernyataan bahwa dengan seluruh kekuatan komponen bangsa, layak kalau Kapal Perang dibangun di Indonesia. Sebagai industri Utama PT PAL akan didukung oleh seluruh potensi dalam negeri, yaitu : BPPT, Nasdec ITS, PT Dumas dan PT Terafulk dalam pembangunan konstruksi kapal serta PT LEN, PENS-ITS dan ITB dalam pengembangan CMS.

    Komitmen itu terbangun setelah tim melakukan diskusi dengan pihak Komandan angkatan laut dan Asisten operasi Panglima Armatim serta melakukan kunjungan ke dalam KRI Dipenegoro – Sigma Class buatan Damen Schalde Nabal Shipbuilding. Kunjungan dilakukan baik untuk mengamati konstruksi Kapal Perang maupun Sistem Manajemen Kombat.

    Diharapkan konsorsium yang ada dapat berkontribusi baik dalam mendukung proyek pengembangan Kapal Perang Kementerian Pertahanan/ TNI AL maupun dalam proses updating dan maintenance Kapal Perang yang telah ada.

    Sumber: RISTEK
    Readmore --> Komitmen Bersama Dalam Pengembangan Kapal Perang

    Anggota Komisi : 'Masa TNI Tempur Pakai Pesawat Bekas?'

    JAKARTA -- Anggota Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi menegaskan, pihaknya sejak awal telah menolak pembelian pesawat bekas untuk kepentingan militer oleh TNI dan Kemenhan, yakni dua unit Boeing 737 eks Garuda tanpa persetujuan DPR RI.

    "Ketika itu Komisi I mempertanyakan, mana lebih tinggi, standar militer atau standar sipil? Dijawab bahwa standar militer lebih tinggi dan lebih 'sophisticated' dari standar penerbangan sipil biasa," katanya, Selasa.

    Lalu, lanjut Fayakhun Andriadi, dari situlah Komisi I menolak pembelian dua pesawat bekas tersebut. "Dengan pertimbangan, pesawat itu hendak digunakan untuk kepentingan VIP, VVIP TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan)," tandasnya.

    Selain itu, ujarnya, pesawat tersebut akan menjadi cadangan bagi pesawat kepresidenan bila diperlukan mendesak. "Masa TNI katakanlah akan tempur, pakai pesawat bekas? Di mana letak harga diri dan profesionalisme militer," kritik dia.

    Politisi muda Partai Golkar ini menambahkan, berdasar dua pertimbangan tadi, Komisi I DPR RI meminta agar TNI Angkatan Udara (AU) dan Kemenhan lebih baik membeli dua unit pesawat terbaru, daripada 'barang bekas' Garuda.

    "Dengan pertimbangan, bahwa sebaiknya belilah yang terbaru dengan 'spek' khusus VIP, VVIP militer. Bila perlu pesan khusus dari pabrik," tegasnya. Jika yang dibeli pesawat baru, menurutnya, umur teknisnya akan lebih lama.

    Sumber: REPUBLIKA
    Readmore --> Anggota Komisi : 'Masa TNI Tempur Pakai Pesawat Bekas?'

    Vnesheconom bank Akan Memberikan Pinjaman Kepada Indonesia Untuk Membeli Alutsista Dari Rusia

    Sukhoi TNI AU.

    Rusia(MIK/WDN) - Vnesheconom bank (VEB dalam Bahasa Inggris :Bank of Foreign Economic Activity) telah memberikan pinjaman ke pemerintah Indonesia sebesar $ 5,95 juta dollar untuk membeli alutsista dari Rusia, yang dikutip oleh Interfax. Sesuai perjanjian KE (Kredit Ekspor) dari pemerintah Rusia dengan Indonesia, Departemen Keuangan Indonesia berniat menggunakan sisa kontrak kredit ekspor untuk membeli alusista dari Rosoboronexport, tetapi tidak dijelaskan secara detail pengadaan alutsista tersebut.

    Indonesia bukan pertama kali nya melakukan pinjaman melalui kredit ekspor dari Rusia untuk melakukan pengadaan alutsista Indonesia. Pada bulan September 2007, Rusia setuju untuk memberikan pinjaman sebesar $ 1 Millyar dollar kepada pemerintah Indonesia untuk pengadaan kendaraan lapis baja BMP-3F untuk Korps Marinir, Helikopter angkut Mi-17, helikopter tempur Mi-35m, dan kapal selam jenis kilo (project 877). Dan tahun ini pemerintah Indonesia akan menentukan pemenang untuk tender kapal selam.

    Pada bulan september 2010, Departemen Pertahanan Indonesia telah mengumumkan bahwa Indonesia berniat untuk membeli sekitar 180 sukhoi dalam waktu 20 tahun kedepan. Dari jumlah tersebut, maka Indonesia akan memiliki 10 skuadron pesawat tempur sukhoi. Saat ini Indonesia memiliki pesawat tempur sukhoi jenis dua Su-30MK, tiga Su-30MK2, Su-27SK dua dan tiga Su-27SKM. Untuk Sukhoi versi SK dan MK akan diupgrade menjadi versi SKM dan MK2. Selain itu, pada tahun 2011 pemerintah Indonesia berencana untuk menambah 6 unit pesawat tempur Su-30MK2 dari Rusia.

    Sumber: Lenta/MIK/WDN
    Readmore --> Vnesheconom bank Akan Memberikan Pinjaman Kepada Indonesia Untuk Membeli Alutsista Dari Rusia

    Media Asing : ARF DiREx Tak Ubahnya Dengan Parade Militer


    MANADO - KAPAL BANTALAN UDARA . Sejumlah warga mengamati kapal bantalan udara atau Hovercraft milik TNI Angkatan Laut yang telah disiagakan di pantai Manado, Sulawesi Utara.(Foto: ANT)

    MANADO : Di balik terik matahari dan angin yang berhembus kencang, Wakil Presiden Boediono membuka ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF-DiREx) secara resmi di kawasan Megamas, Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (15/3).

    Acara pembukaan itu dihadiri para menteri dan pejabat negara seperti, Menkes Endang rahayu Sedyaninghsih, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menko kesra Agung Laksono, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Mensos Salim Segaff, Menristek Suharna Surapranata, Kepala BNPB Syamsul Maarif serta Gubernur Sulut SH Sarundajang. Jepang selaku tuan rumah bersama mengirimkan wakil Menlu Makiko Kikuta. Sementara negara-negara lainnya diwakili oleh para duta besar.

    "Penanganan bencana merupakan kerja yang kompleks dan multi dimensional. Tidak hanya kerja sama dan koordinasi, akan tetapi penanganan bencana juga berkaitan dengan logistik, sumber daya, mobilisasi, komando dan kontrol, penanganan bencana alam itu sendiri, selain harus memberikan informasi kepada media," ujar Boediono dalam pidato sambutannya.

    Menurutnya, belajar dari pengalaman Tsunami Aceh di tahun 2004 serta bencana tsunami yang baru terjadi beberapa hari silam di Jepang menjadi tolak ukur untuk memperkuat kerjasama dalam penanganan bencana.

    Setelah membuka acara, para tamu dari berbagai negara disuguhkan oleh atraksi latihan penanganan bencana alam. Simulasi tersebut melibatkan banyak peralatan mulai dari sepeda motor hingga pesawat terbang dan beberapa peralatan milik TNI lainnya seperti Hovercraft. Akan tetapi, beberapa tamu asing yang hadir sedikit merasa kecewa dengan simulasi latihan ini. Beberapa wartawan asal berkulit putih tersebut menilai simulasi yang seharusnya melibatkan koordinasi TNI-sipil ini tidak ubahnya seperti pameran peragaan peralatan militer.

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Media Asing : ARF DiREx Tak Ubahnya Dengan Parade Militer

    Pengamat : Mengejar PIA dengan Sukhoi

    Jakarta - Dalam bukunya yang berjudul Pertahanan Indonesia, angkatan perang negara kepulauan, Marsekal TNI (purn) Chappy Hakim menguraikan ada dua perang udara yang bisa dijadikan dan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi sistem pertahanan negara untuk mempertahankan wilayah atau pangkalan udaranya, yaitu Battle of Britain dan Pearl Harbor.

    Kedua pelajaran itu adalah, pertama, pentingnya fungsi radar. Dengan radar, Inggris dapat memantau pesawat-pesawat Jerman yang ancang-ancang siap menyerbu. Selain itu, dengan radar, AU Inggris, Royal Force, dapat memantau di mana posisi pesawat AU Jerman. Dengan radar tersebut, Inggris sukses membendung serangan udara besar-besaran Jerman. Kedua, seluruh kekuatan peperangan, harus siap siaga selama 24 jam. Hancurnya pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor terjadi akibat lengahnya sistem pertahanan militer. Amerika Serikat sebenarnya memiliki armada laut dan udara yang cukup banyak, namun lengah dan menganggap sepele ancaman serangan Jepang, akibatnya serangan dadakan itu membuat Amerika Serikat malu. Dari peristiwa itu membuat doktrin bagi sistem pertahanan Blok Barat dan Blok Timur, saat terjadi Perang Dingin, bahwa mereka harus selalu siaga satu atau maintain 24 hours in alert.

    Pelajaran tersebut juga menjadi acuan bagi TNI AU, buktinya di masa damai, TNI AU berhasil mencegah dan memaksa beberapa penerbangan ilegal. Ketika Pakistan Internasional Airlines (PIA), jenis Boeing 737 seri 300, melintas wilayah udara Indonesia tanpa izin, dan gerak pesawat terdeteksi oleh radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, serta merta dua Sukhoi yang ada di Skuadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanuddin langsung terbang dan memberikan peringatan pesawat asing itu mendarat darurat. Disebutkan dua pesawat milik TNI AU itu mengejar pesawat dan berhasil memaksa pesawat PIA mendarat di Lanud Hasanuddin.

    Langkah yang dilakukan oleh TNIAU dalam menjaga wilayah udara Indonesia itu patut diapresiasi. Di tengah minimnya anggaran TNI, TNI AU masih setia dan siaga mengawal wilayah udara. Penerbangan ilegal lain yang juga pernah digagalkan oleh TNI adalah ketika pesawat jenis BAE 146-200 yang membawa rombongan keluarga Kerajaan Melaka dari Dili menuju Kuala Lumpur, Malaysia, mendarat darurat untuk isi bahan bakar. Menjadi masalah karena pesawat tersebut hanya mengantongi izin melintas bukan izin mendarat. Karena pendaratan ilegal di Bandara Internasional Djuanda Surabaya itu maka TNI sempat menahannya, sama seperti PIA yang ditahan beberapa jam.

    Menjadi pertanyaan, jika TNI AU sukses menahan pesawat-pesawat sipil yang terbang atau mendarat secara ilegal di wilayah udara Indonesia, lalu bagaimana ketika yang melakukan itu pesawat tempur, apalagi pesawat tempur itu dari negara yang mempunyai pengalaman perang yang hebat dan handal? Sepertinya kita, pemerintah Indonesia dan TNI tidak bisa berbuat banyak. Perdebatannya bukan pada pelanggaran penerbangan namun pada masalah hukum internasional mengenai alur bebas bagi pelayaran internasional.

    Hal itu pernah terjadi ketika 5 pesawat F-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) terbang dan bermanuver di perairan Bawean, Juli 2003. Tindakan yang disebut sebagai provokasi itu sebenarnya terdeteksi oleh radar sipil maupun TNI. Sebagai pengaman wilayah udara Indonesia, maka TNI AU pun mengirim 3 pesawat F-16 untuk memantau pesawat itu. Akibatnya bersiteganglah 3 pesawat F-16 dan F-18 itu. Bahkan dua Air Born dari kapal induk US Navy siap membantu 5 F-18 bila dogfight terjadi.

    Karena merasa inferior, kalah jumlah, tidak mempunyai pengalaman dogfight, dan alutsista yang dimiliki Indonesia jauh tertinggal meski saat itu F-16 dilengkapi dengan misil, akhirnya kita tidak bisa berbuat banyak kepada pelanggaran penerbangan itu. Dan TNI AU pun tidak dapat memaksa pesawat-pesawar US Navy itu mendarat.

    Dalam bukunya, Chappy Hakim mengupas panjang lebar mengenai pentingnya pertahanan Indonesia yang bertumpu pada matra laut dan udara. Namun karena kebijakan saat Orde Baru yang lebih bertumpu pada darat, serta banyak faktor lainnya maka pertahanan Indonesia jauh dari ideal dan wajar sehingga rentan terhadap penyusupan atau penerbangan ilegal.

    Dalam sejarah pertempuran di Indonesia, selama ini mungkin belum menempatkan TNIAU pada posisi yang bagus. Kalau kita lihat AL dan AD sudah memberi catatan-catatan sejarah pertempuran membela NKRI. Dalam Pertempuran Laut Aru, misalnya terlihat betapa gagah beraninya TNIAL dalam bertempur melawan dua kapal destroyer dan pesawat Neptune dan Frely milik Belanda menyerang KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau. Dalam pertempuran itu akhirnya KRI Macan Tutul yang di pimpin Komodor Yos Sudarso tenggelam.

    Dalam pertempuran itu, ada beberapa pihak yang menyalahkan AURI (TNI AU) karena tidak terlibat dalam pertempuran. Akibatnya dari peristiwa itu maka membuat KSAU Suryadarma mengundurkan diri. Pertempuran itu sebenarnya momen bagi fighter pilots TNI AU menjadi war pilots. Akibat minimnya pertempuran udara yang diikuti oleh TNI AU, maka di jajaran TNI AU hanya Komodor Udara Ignatius Dewanto yang hanya pernah melakukan dogfight (War Pilots, Dari Perang Dunia I Hingga Perang Teluk, Angkasa Edisi Koleksi). Minimnya pengalaman pertempuran udara yang dimiliki membuat TNI AU tidak memiliki ace, sebutan pilot yang jago tempur, jago udara, jago tembak, dan jago terbang. Justru Vietnam yang memiliki banyak ace, seperti Mai Van Cuong dan Nguyen Van Bay. Selain Amerika Serikat yang memiliki banyak ace, Jerman, Rusia, Inggris, Jepang, dan negara-negara yang memiliki angkatan udara yang tangguh juga banyak memiliki ace.

    Bila di masa Orde Lama kekuatan TNI AU bisa dikatakan handal dengan jumlah pesawat mencapai 443 pesawat (pada tahun 1966) maka selepas pasca pemberontakan G 30 S, kekuatan TNI AU semakin melemah, tercatat pada tahun 2010 hanya 256 pesawat yang dimiliki. Kondisi yang demikianlah yang mungkin menyebabkan TNI AU tidak bisa memaksa mendarat penerbangan ilegal pesawat tempur US Navy.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Pengamat : Mengejar PIA dengan Sukhoi

    Boeing 737-400 TNI AU Melakukan Terbang Perdana



    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat melakukan penerbangan perdana menggunakan pesawat Boeing 737-400 yang baru saja dibeli dari maskapai Garuda Indonesia.

    Penerbangan perdana menggunakan pesawat Boeing 737-400 itu terkait kunjungan kerjanya ke Merauke, Papua, mulai Selasa (15/3) hingga Rabu (16/3).

    Sebelum tinggal landas dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, KSAU menyempatkan diri untuk melihat keseluruhan interior kabin pesawat yang masih dalam bentuk aslinya.

    Bahkan di setiap kursinya masih terdapat "flight magazine" Garuda Indonesia, begitu pula dengan petunjuk keselamatan penerbangannya yang masih berlogo Garuda Indonesia.

    "Masih bagus semua kondisinya, dan ini masih bisa dimodifikasi sebagai pesawat angkut VIP/VVIP TNI Angkatan Udara maupun pesawat angkut pasukan," katanya.

    Dalam kesempatan itu, ia sempat menyesalkan pernyataan DPR yang mengatakan pengadaan dua pesawat Boeing 747-400 TNI Angkatan Udara yang dibeli dari maskapai Garuda Indonesia menyalahi aturan.

    "Semua sudah sesuai aturan kok, masih dipertanyakan. Ini kan sesuai DIPA dan APBN 2011 dan disana sudah tercantum Rancangan anggaran," katanya, dengan nada menyayangkan.

    Dalam kunjungan kerjanya ke Merauke, Kasau mengundang Ketua Komisi I dan beberapa anggota Komisi I DPR.

    Namun, hingga mendekati batas akhir waktu tinggal landas ketua Komisi I dan beberapa orang anggota Komisi I tidak tampak tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

    Pesawat Boeing 737-400 dengan nomor registrasi A-7305 merupakan salah satu dari dua pesawat sejenis yang dibeli TNI Angkatan Udara dari perusahaan penerbangan Garuda Indonesia sesuai nota kesepahaman kedua pihak pada 8 November 2010.

    Kedua pesawat Boeing 747-400 itu diserahkan secara resmi dari PT Garuda Indonesia (Persero) kepada TNI Angkatan Udara pada 9 Maret 2011 dan dioperasionalkan Skuadron Udara 17 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

    Dalam penerbangan perdananya sebagai pesawat VIP/VVIP TNI Angkatan Udara, Boeing 737-400 diterbangkan pilot Letkol Pnb Aditya Permana dengan kopilot Letkol Pnb Ronald Siregar yang sehari-hari menjabat Komandan Skuadron 17 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

    Pesawat menempuh rute Jakarta-Makassar-Timika. Pada hari kedua pesawat akan terbang dengan rute Timika-Merauke-Kupang-Jakarta.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Boeing 737-400 TNI AU Melakukan Terbang Perdana

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.