ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4794) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (447) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (225) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Wednesday, September 29, 2010 | 12:34 PM | 0 Comments

    Dua Korea Bersatu

    SEOUL, KOMPAS.com — Delegasi Pemerintah Korea Selatan dan Utara akan bertemu pekan ini dalam perundingan militer yang pertama kalinya digelar dalam 2 tahun terakhir dan ditujukan untuk meredakan ketegangan antarperbatasan kedua negara. Perundingan ini akan melibatkan tiga pejabat pemerintah dari masing-masing negara dan berlangsung Kamis (30/9/2010) di dusun wilayah gencatan senjata perbatasan Panmunjom.

    Hubungan kedua negara memburuk setelah Korsel menuduh Korut menembakkan torpedo ke arah salah satu kapal perangnya pada Maret sehingga menewaskan 46 orang. Korea Utara yang membantah terlibat dalam insiden tersebut berupaya memulihkan hubungan bulan ini.

    Korut mengembalikan sebuah kapal penangkap ikan Korsel dan tujuh awaknya seperti yang diusulkan dalam kelanjutan reuni keluarga kedua Korea serta menerima aliran bantuan pangan dari negara tetangganya itu.

    Pada 24 September, Korut mengusulkan perundingan militer untuk membahas konflik perbatasan Laut Kuning serta propaganda penyebaran selebaran berisi seruan anti-Pyongyang di sepanjang perbatasan oleh sejumlah aktivis. Sementara Korsel menyarankan agar pertemuan besok mencakup agenda tentang dugaan keterlibatan Pyongyang dalam insiden penenggelaman kapal perang Seoul.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Dua Korea Bersatu

    WAMENHAN: INDONESIA TERUS BENAHI INDUSTRI PERTAHANAN

    Galangan Kapal PT. PAL

    Beijing - Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan Indonesia terus membenahi industri pertahanannya, tidak saja untuk bermitra di dalam, tetapi juga bermitra dengan luar negeri.

    "Kita terus melakukan pembenahan, baik dari sisi sumber daya manusia, modal, maupun teknologi," katanya kepada ANTARA serangkaian kunjungannya ke China, Selasa.

    Dari sisi sumber daya manusia (SDM), lanjut Sjafrie, sebenarnya Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain, termasuk dalam penguasaan teknologi.

    Namun, karena kesempatan tidak ada di dalam negeri maka sebagian besar mereka ke luar negeri, katanya.

    Karena itu, pemerintah berupaya memberikan modal bagi Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP) agar mampu operasional maksimal.

    "Dengan begitu, sumber daya manusia kita yang berada di luar bisa kembali dan mengabdikan kemampuan dan pengetahuan mereka untuk membangkitkan kembali industri pertahanan dalam negeri," kata Sjafrie.

    Terkait dengan itu, pemerintah secara umum telah menetapkan revitalisasi indsutri pertahanan nasional dengan modal perbankan nasional sebesar Rp800 miliar.

    Tak hanya itu, lanjut Sjafrie, Indonesia juga telah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang diketuai Menteri Pertahanan dan beranggotakan Menteri Perindustrian, Menteri Ristek, Panglima TNI, dan Kapolri.

    Komite tersebut, kata dia, bertanggung jawab kepada Presiden, yakni merumuskan kebijakan industri pertahanan untuk mendukung kebutuhan di dalam negeri.

    "Di samping KKIP itu merumuskan kebijakan kerja sama luar negeri di antara negara-negara yang memiliki kemampuan industri pertahanan," kata Sjafrie.

    Untuk dapat membangun industri pertahanan nasional yang mandiri di dalam negeri dan mampu bersaing di luar negeri, menurut dia, diperlukan SDM, modal, dan penguasaan teknologi yang memadai.

    "Karena itu, pembenahan terus dilakukan pemerintah untuk membangun industri pertahanan nasional, terutama di bidang SDM, modal, dan teknologi, karena sebenarnya industri kita mampu beroperasi maksimal untuk memenuhi kebutuhan di dalam dan luar negeri," tutur Sjafrie.

    Dalam kunjungan kerjanya ke China, Wamenhan berkesempatan menyaksikan Shanghai Expo, dan bertemu Direktur BUMNIP China (Sastind) terkait dengan industri pertahanan kedua negara.

    Sumber: DEPHAN
    Readmore --> WAMENHAN: INDONESIA TERUS BENAHI INDUSTRI PERTAHANAN

    Menhan : Penata Pertahanan

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sangat dikenal sebagai figur tegas dan berani mengambil risiko. Senin (28/9), di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, suami Sri Murniati Sachro ini ikut terbang selama 25 menit dalam uji coba jet tempur Sukhoi SU-300 double seat yang baru dibeli Indonesia dari Rusia. Meski tidak menjadi pilot utama, keikutsertaan Purnomo terbang menggambarkan bahwa ia pemimpin tegas yang berani mengambil risiko.

    Berbicara mengenai pertahanan, pria kelahiran Semarang, 16 Juni 1951, ini punya konsep pemikiran jangka panjang dalam rangka mewujudkan pertahanan negara Indonesia yang kuat. Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini menjadi inisiator pembangunan kapal perang besar dan canggih serta berteknologi tinggi, yakni Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) senilai 220 juta dolar AS di PT PAL Indonesia, Surabaya.

    Tak hanya itu, lulusan Fakultas Perminyakan ITB ini juga merencanakan membangun kapal selam berteknologi tinggi di tempat sama. Dua kapal perang ini akan menjadi simbol kekuatan Angkatan Laut RI serta kebangkitan industri pertahanan dalam negeri.

    Pada pertahanan udara, mantan Gubernur OPEC Wina, Austria (1996-1998), ini kembali membuat gebrakan besar membangun skuadron udara. Tak tanggung-tanggung, ia menargetkan hingga tahun 2024 Indonesia sudah memiliki 180 jet tempur Sukhoi buatan Rusia, di luar jet tempur F-16 dan F-15 Tiger yang sudah dimiliki Indonesia.

    Sumber: SUARA KARYA
    Readmore --> Menhan : Penata Pertahanan

    Pemerintah Terus lengkapi Sistem Senjata Sukhoi

    Hangar Sukhoi Di Lanud Hassanudin, Makasar(Foto:adiewicaksono.files)

    Jakarta -- Pemerintah terus berupaya melengkapi sistem persenjataan sepuluh pesawat tempur Sukhoi yang telah dibeli dari Rusia, kata Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro.

    Ketika ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, Poernomo mengatakan pihaknya masih mendalami produsen senjata dan sumber dana yang akan digunakan untuk membeli senjata tersebut.

    Poernomo mengatakan, produsen senjata tidak harus berasal dari Rusia. Pesawat tempur Sukhoi, katanya, bisa dipersenjatai dengan senjata yang diproduksi oleh produsen lain.

    "Sebetulnya senjata itu bisa dibeli dan tidak harus buatan Rusia," katanya.

    Namun demikian, Kementerian Pertahanan sudah memulai kerjasama dengan pihak Kedutaan Besar Rusia dan Rosoboronexport sebagai produsen untuk pengadaan sistem persenjataan Sukhoi.

    Poernomo menegaskan, Indonesia bisa bekerjasama dengan produsen lain untuk melengkapi sistem persenjataan itu. Bahkan, katanya, pesawat Sukhoi bisa dilengkapi dengan sistem persenjataan buatan dalam negeri, seperti bom P100.

    "Itu kita lihat untuk latihan bombingnya itu di Takalar, itu dengan buatan dalam negeri sudah bisa," katanya.

    Terkait pendanaan, Poernomo mengatakan ada tiga pilihan sumber dana untuk membiayai pembelian sistem persenjataan Sukhoi, yaitu pinjaman dalam negeri melalui sindikasi perbankan nasional, pinjaman luar negeri, dan APBN.

    Namun demikian, Poernomo belum bisa memastikan jumlah dana yang dibutuhkan untuk mempersenjatai Sukhoi yang nantinya akan ditingkatkan jumlahnya menjadi satu skadron atau 16 unit pesawat.

    "Nilainya memang mahal, tapi untuk mempertahankan negara ini kan memang mahal," katanya.

    Indonesia menegaskan akan menambah enam unit pesawat jet tempur Sukhoi guna menggenapkan sepuluh unit yang ada menjadi satu skuadron.

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat kepada ANTARA menyatakan, rencana penambahan enam Sukhoi itu telah mendapat persetujuan presiden.

    Ia mengatakan, keberadaan sepuluh pesawat Sukhoi yang bermarkas di Skadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, belum memadai untuk memberikan daya tangkal.

    "Dibandingkan dengan wilayah udara nasional yang begitu luas, sepuluh unit Sukhoi yang ada belum memadai," tutur Imam.

    Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki 18 Sukhoi meski luas wilayah udaranya lebih kecil. Sementara itu, berdasar catatan, Singapura memiliki 24 pesawat F15.

    Sejak 2003 Indonesia telah memiliki sepuluh pesawat tempur Sukhoi yang dibeli dari Rusia. Pada 2003 Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

    Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007. Perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur kepada Indonesia tersebut bernilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

    Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009. Dan tiga unit Sukhoi SU-27SKM masing-masing tiba pada Jumat (10/9) dan Kamis (16/9).

    TNI Angkatan Udara juga telah mengirimkan calon penerbang dan teknisi Sukhoi ke Rusia dan Cina untuk belajar.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Pemerintah Terus lengkapi Sistem Senjata Sukhoi

    Sukhoi Baru Itu Untuk Patroli

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Duta Besar Rusia untuk RI Alexander Ivanov saat acara serah terima pesawat Sukhoi 27 SKM Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin, Makassar. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pertahanan, Tb Hasanudin mengatakan Sukhoi yang saat ini dimiliki oleh Indonesia ini memang bukan diperuntukan untuk perang, melainkan hanya untuk menjalankan tugas patroli. "Kami pahami memang persenjataannya sangat mahal," ujar Hasanudin kepada TEMPO di Jakarta, Selasa 28 September 2010.

    Hasanudin mengungkapkan mahalnya harga persenjataan yang harus dibeli untuk melengkapi pesawat Sukhoi yang telah dimiliki. "Harga misilnya dikabarkan 20 persen dari harga pesawat," ujarnya.

    Oleh karenanya, dia berpendapat perlu kiranya ada dana tambahan untuk bisa mempersenjatai Sukhoi yang Indonesia miliki. "Itu sudah dimintakan terkait anggaran pertahanan dan sedang dibahas oleh Komisi Pertahanan soa,' ujarnya.

    Seperti diketahui, tiga pesawat Sukhoi asal Rusia yang diserahkan ke Indonesia ternyata dibeli tanpa persenjataan. Tak ada peluru kendali yang biasanya melengkapi pesawat tempur. Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro mengatakan, dalam kontrak pembelian memang tidak dilengkapi dengan persenjataan. Kontrak pembelian Sukhoi, memang tidak bisa satu paket dengan senjatanya. Soalnya, pabrik pembuat Sukhoi, Komsomolsk Amure Aircraft Production Association, berbeda dengan pabrik pembuat senjata rudalnya. itu.

    Sebelumnya kepada TEMPO di awal pekan ini,Ketua Komisi Pertahanan, Mahfudz Shiddiq setuju jika ada langkah untuk melakukan modernisasi alutsista. DPR, kata Mahfudz jelas akan mendukung langkah pemutakhiran senjata dan alat pertahanan lainnya tersebut. "Kami jelas akan dukung," ujarnya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Sukhoi Baru Itu Untuk Patroli

    Sukhoi Malaysia Lebih Lengkap, Pilot RI Lebih Hebat

    INILAH.COM, Jakarta - Pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia menjadi primadona bagi TNI AU Indonesia dan TUDM Malaysia.

    Indonesia memiliki 10 Sukhoi jenis Su-27SK dan Su-30MK sedangkan Malaysia memiliki 18 Sukhoi jenis Su-30MKM. Apa perbedaan kedua Sukhoi tersebut?

    Menurut pengamat dirgantara Dudi Sudibyo, antara Sukhoi milik Indonesia dan Malaysia hampir tak ada bedanya. Kedua tipe pesawat tersebut sama canggihnya.

    “Tidak ada perbedaan yang menjadikan Sukoi Malaysia lebih canggih daripada Sukhoi kita, sama saja,” ujar Dudi kepada INILAH.COM, Selasa (28/9) malam.

    Satu-satunya yang membedakan menurut Dudi adalah kelengkapan rudal atau misilnya. Misil milik Sukhoi Malaysia lebih lengkap ketimbang Shukoi Indonesia.

    Dudi mengatakan, Shukoi milik Malaysia telah dilengkapi berbagai misil, sedangkan Shukoi milik Indonesia masih belum dilengkapi misil.

    “Pesawat Shukoi kita cukup walau misil kita minim namun kita punya pilot-pilot yang memadai dan cakap, apalagi Amerika mengakui kalau pilot kita memang terampil dalam berbagai pelatihan bersama,” ujar Dudi.

    Sebagaimana diberitakan, Kementerian Pertahanan berencana menambah pembelian 6 Sukhoi tipe Su-30MK mulai 2010 hingga 2014. Dengan demikian pada 2014 TNI AU akan memiliki 1 Skadron Sukhoi berjumlah 16 pesawat.

    Sumber: INILAH
    Readmore --> Sukhoi Malaysia Lebih Lengkap, Pilot RI Lebih Hebat

    Tuesday, September 28, 2010 | 9:49 PM | 0 Comments

    Menhan : Penyelesaian Kontrak Kapal Selam Di Penghujung Tahun 2010

    Kapal Selam U-214 yang telah ditawarkan HDW Jerman

    JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk pengadaan enam pesawat tempur jenis Sukhoi yang dibeli dari Rusia, pemerintah harus merogoh dana sekitar 300 juta dollar Amerika Serikat.
    Memang, harganya jadi cukup mahal. Akan tetapi, mempertahankan negara ini, kan,

    Dengan demikian, harga per satu unit pesawat Sukhoi mencapai sekitar 50 juta dollar AS. Namun, pembelian pesawat tempur tersebut, tidak termasuk kontrak pembelian jenis senjata tempurnya. Sebab, pengadaan senjata harus dilakukan dengan kontrak berbeda.

    Hal itu diakui Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menjawab pers, seusai menghadiri pelantikan Panglima TNI yang baru Laksamana TNI Agus Suhartono dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksdya TNI Poernomo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/9).

    "Memang, harganya jadi cukup mahal. Akan tetapi, mempertahankan negara ini, kan, memang tidak murah. Namun, devisa yang kita miliki, kan, juga cukup besar, yaitu sampai 78 juta dollar AS," tandas Purnomo.

    Menurut Purnomo, dana yang digunakan untuk enamm pesawat Sukhoi itu melalui fasilitas kredit ekspor (KE) yang berasal dari dana sindikasi tiga bank dalam negeri, yaitu Bank Mandiri, Bank BNI 46 dan Bank Rakyat Indonesia. "Dana APBN-nya hanya sebesar 15 persen, yakni untuk lokal content-nya saja," tambahnya.

    Adapun, kata Purnomo, penggunaan dana devisa negara yang mencapai 78 juta dollar AS, harus seizin Menteri Keuangan terlebih dulu. Diakui Purnomo, harga per unit pesawat jenis Sukhoi sekitar 50 juta dollar AS itu baru termasuk rak untuk pemasangan senjata dan bom yang akan melengkapinya.

    "Jadi, kalau mau pasang senjata dan bom-nya, harus cari sendiri. Kita bisa mencarinya dari mana saja. Tidak harus dari Rusia," lanjutnya.

    Purnomo mengakui, setiap jenis pesawat Sukhoi dilengkapi dengan empat rak untuk penempatan senjata dan pembom-nya. Sukhoi bisa digunakan untuk pertempuran udara maupun aksi pemboman wilayah musuh.

    Target dua kapal selam


    Lebih jauh, Purnomo mengakui dari enam kapal fregat yang dicita-citakan TNI Angkatan Lau, akan dibangun PT PAL, Surabaya, Jawa Timur, ternyata pemerintah baru mampu merealisasi satu unit saja.

    Sementara, di tempat yang sama, Laksdya TNI Poernomo mengakui kepada Kompas, akhir tahun ini korpsnya berusaha menyelesaikan kontrak bagi pembangunan dua kapal selam samudra. Jika terwujud, pihaknya akan mengajukan kepada Kementerian Kehutanan.

    Namun, ia belum mau merinci dengan negara mana pembangunan dua kapal selam samudra tersebut dilakukan. "Kalau akhir tahun ini kontraknya sudah ditandatangani, pembuatan kapal selamnya bisa berlangsung selama tiga tahun," kata Poernomo.

    Poernomo menambahkan, sebagai KSAL yang baru, ia akan melanjutkan program yang dirintis oleh KSAL sebelumnya, yaitu Agus Suhartono. "Program Pak Agus kan belum selesai. Jadi, saya harus melanjutkan program alat utama sistem kesenjataan (alutsista), peningkatan profesionalisme, kesejahteraan anggota dan efisiensi anggara," demikian Poernomo.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Menhan : Penyelesaian Kontrak Kapal Selam Di Penghujung Tahun 2010

    English News : Russian Navy to get fifth generation carrier fighter after 2020

    Russia's 5G fighter

    The appearance of a fifth generation fighter in Russian naval aviation will not happen before 2020, the outgoing head of the air forces and air defense forces of the Russian Navy, Lt. General Valery Uvarov told RIA Novosti on Tuesday.

    Previously, representatives of the armed forces command and Defense Ministry had said a new naval fighter based on the Sukhoi T.50 design could enter service around 2016.

    "It's difficult to say when this aircraft will enter naval service. First it will go into service with the air force, and then be 'navalised.' To build a new aircraft from scratch costs huge money, it's irrational and not competent. Conditions might be suitable by 2020," he said.

    Uvarov stressed, however, that any new naval fighter would enter service only following a competition in which other designs would participate, including from the MiG, Yakovlev and Sukhoi design bureaus.

    A new generation carrier fighter should enter service with the fleet not long before any new aircraft carrier on which it would be based, Uvarov said, so pilots would be ready. "The aircraft should come before a ship entering service, so pilots can train first on land, then on a special training area, then on deck," he said.

    He stressed that the service was still waiting to take delivery of the naval MiG-29K, which is being exported to India.

    "The first two MiG-29Ks will soon be purchased in order to carry out development of their functions," he said. "I think there should be two squadrons, that is 24 MiG-29Ks and one squadron of Su-33s."

    The Russian navy is currently reforming its structure, with naval air forces and naval air defense being merged into one branch. Lt. General Uvarov is leaving his post as commander of both branches.

    From: RIA
    Readmore --> English News : Russian Navy to get fifth generation carrier fighter after 2020

    Pilot Sukhoi TNI-AU Latihan di China

    BEIJING, KOMPAS.com - Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, Indonesia akan melanjutkan pelatihan bagi para pilot Sukhoi TNI AU di China.

    "Ya itu kan sudah menjadi bagian dari pembinaan di TNI AU jadi, akan tetap dilanjutkan," katanya, di sela-sela kunjungan kerjanya ke China, Selasa (28/9/2010).

    China telah memiliki simulator bagi para pilot-pilot pesawat jet tempur Sukhoi, mengingat China merupakan salah satu pengguna dan kini juga mulai memproduksi pesawat tempur asal Rusia itu.

    "Indonesia sebagai pengguna Sukhoi, tentu sangat berkepentingan untuk membina para penerbangnya. Kebetulan China memiliki fasilitas simulator, jadi kita bisa gunakan itu," kata Sjafrie.

    Pada kesempatan terpisah, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Erry Biatmoko mengemukakan, TNI Angkatan Udara belum berencana mengirimkan kembali para pilot Sukhoinya untuk belajar ke Negeri Tirai Bambu itu.

    "Belum, kita belum akan kirim pilot kita ke China lagi untuk mengasah dan meningkatkan kemampuannya mengoperasikan Sukhoi," katanya.

    Indonesia pada awal September 2010 telah memperkuat Angkatan Udaranya dengan tambahan tiga Sukhoi SU-27SKM.

    Dengan kedatangan tiga Sukhoi itu, Indonesia kini telah memiliki 10 unit Sukhoi jenis SU-30MK, SU-27SK, SU-30MKM dan SU-27SKM.

    Dua jenis terakhir merupakan pesawat Sukhoi generasi keempat. Namun, dengan penambahan tiga unit Sukhoi tersebut TNI Angkatan Udara belum akan menambah penerbangnya.

    Sebelumnya, TNI Angkatan Udara telah mengirimkan 16 penerbang Sukhoinya untuk memperdalam kemampuannya di China.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Pilot Sukhoi TNI-AU Latihan di China

    Presiden Lantik Agus Suhartono

    Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Selasa, melantik Laksamana TNI Agus Suhartono sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang baru.

    Presiden Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono tiba di tempat pelantikan tepat pada pukul 15.00 WIB.

    Sejumlah pejabat tinggi negara yang hadir dalam acara itu antara lain, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua Mahkamah Konstitusi Mafud MD, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo, dan para pimpinan DPR.

    Para menteri koordinator dan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II juga hadir dalam acara pelantikan itu.

    Pelantikan diawali dengan pembacaan Keppres Nomor 51/TNI/2010 tentang pengangkatan Laksamana TNI Agus Suhartono sebagai Panglima TNI, dan Keppres Nomor 52/TNI/2010 tentang pengangkatan Laksamana Madya TNI Soeparno sebagai Kepala Staf Angkatan Laut.

    Setelah itu, Presiden memimpin pembacaan sumpah dan janji jabatan yang diikuti oleh Agus dan Soeparno. Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berkas pelantikan.

    Sidang paripurna DPR pada Senin 27 September 2010 secara bulat menyetujui pengangkatan Agus Suhartono sebagai Panglima TNI.

    Panglima TNI baru itu oleh DPR diharapkan mampu menuntaskan agenda reformasi di tubuh TNI secara menyeluruh.

    Semua fraksi di DPR menyetujui Agus sebagai satu-satunya calon yang diajukan oleh Presiden Yudhoyono itu, setelah uji kelayakan dan kepatutan yang digelar pada 23 September 2010.

    Agus Suhartono menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso yang memasuki masa pensiun.

    Agus yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Angkatan Laut itu, mengawali pendidikan militer di Akademi Angkatan Laut pada 1978.

    Pria kelahiran Blitar, Jatim, 25 Agustus 1995, itu kemudian mengenyam sedikitnya sepuluh pendidikan militer tingkat lanjut. Pendidikan militer terakhir yang dia dalami adalah "Maritime Force Commander" pada 2006.

    Sebelum menjadi Kepala Staf Angkatan Laut, Agus mengemban sejumlah jabatan strategis di lingkungan Angkatan Laut.

    Beberapa jabatan yang pernah dia emban, antara lain komandan sejumlah kapal perang, staf ahli Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar), dan Irjen Departemen Pertahanan.

    Karena pengabdian dan prestasinya, Agus mendapatkan sedikitnya sepuluh tanda jasa.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Presiden Lantik Agus Suhartono

    Sukhoi TNI AU Belum Bisa Dipakai Perang

    INILAH.COM, Jakarta - Meski telah ditambah 3 pesawat Shukoi, Kekuatan TNI AU saat ini belum memadai untuk berperang. Namun hanya cukup untuk gagah-gagahan saja.

    Pendapat itu dikatakan oleh Direktur Eksekutif Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS) Mufti Makarim menanggapi serah terima tiga pesawat tempur Sukhoi SU-27 SKM dari Rusia kepada Indonesia yang diwakili Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

    Penambahan tiga unit pesawat tempur tersebut, melengkapi dan menambah kekuatan Skadron Udara 11 Wing 5 Landasan Udara Sultan Hasanuddin dengan 10 pesawat jet tempur Sukhoi dengan tipe SU-30 MK2, SU-27 SK dan SU-27 SKM yang datang secara bertahap 2003, akhir 2008, awal 2009 dan September 2010 ini.

    "Cita-cita untuk membangun kekuatan udara itu hitungannya harus squadron. Jika diukur dengan shukoi yang baru ada 3 buah, itu masih jauh. Bukan soal kurang atau labih, tapi untuk melakukan gelar tempur hal itu tidak memadai," ujar Mufti kepada INILAH.COM saat dihubungi Selasa (28/9).

    "Saya lihat sekarang itu cuma untuk gagah-gagahan saja. Tapi kalau untuk dipake perang belum bisa," tegasnya.

    Menurut Mufti idealnya kekuatan TNI angkatan Udara harus bisa mengkombinaskna empat elemen pertahanan udara, yaitu unsur tempur, logistik, manusia, dan radar. Unsur tempur terdiri dari pesawat dan senjata untuk bertempur, pesawat logistik untuk pengisian bahan bakar dan persenjataan di udara, unsur manusia adalah prajurit penerbang dan penerjun, dan sistem radar untuk membaca gerakan musuh.

    "Apalagi jika dibanding dengan rancang bangun persenjataaan negara-negara NATO, negara kita sangat jauh tertinggal," kata Mufti.

    Negara-negara anggota NATO, menurut Mufti telah berhasil memngintegrasikan pertahanan udara mereka di smua unsur itu. "Karena itu sistem pertahanan udara harus terintegrasi, bukan gado-gado. Tidak hanya canggih, tapi juga harus holistik," tandasnya.

    Sumber: INILAH
    Readmore --> Sukhoi TNI AU Belum Bisa Dipakai Perang

    Puluhan Agen FBI Ketahuan Menyontek

    VIVAnews - Tidak hanya anak sekolahan, menyontek ternyata juga menjadi kebiasaan para agen intelijen sekelas Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, beberapa agen setingkat supervisor ketahuan menyontek.

    Hal ini terungkap berkat investigasi yang dilakukan Departemen Kehakiman AS. Menurut inspektur jenderal departemen kehakiman, Glenn Fine, para agen FBI tersebut kedapatan menyontek saat ikut tes kebijakan biro terkait pengawasan warga Amerika.

    Fine pada Senin, 27 September 2010, mengungkapkan, dari penyelidikannya, para agen FBI telah bekerja sama saat mengerjakan soal-soal ujian dan membagikan kunci jawaban kepada yang lainnya. Bahkan berdasarkan investigasi kantor FBI di seluruh AS, ditemukan sebuah program komputer yang dapat mengeluarkan kunci jawaban pada ujian.

    Seperti yang dilansir Assosiated Press, menurut laporan tersebut, sedikitnya 22 agen FBI terlibat aksi menyontek massal ini.

    Fine menyerukan kepada biro penyidik pemerintah tersebut mendisiplinkan agen-agennya dengan menganulir hasil ujian dan mengulang ujian yang sama. Hal ini untuk mengetahui apakah para agen sudah paham betul mengenai peraturan baru FBI. Aturan itu mengatur tata cara pengawasan dan investigasi terhadap warga AS tanpa melanggar hukum.

    Kasus ini bukanlah yang pertama kalinya terungkap di tubuh FBI. Tahun lalu, Kepala FBI Washington, Joseph Persichini, yang merupakan penyidik pada tubuh kongres dan kejahatan lain di ibukota AS, terpaksa pensiun dini setelah kedapatan menyontek pada sebuah ujian.

    Fine mengatakan ujian tersebut melibatkan Persichini dan dua orang manajer senior FBI. Mereka kedapatan bekerja sama dalam menjawab soal ujian. Dengan santainya mereka berdiskusi mengenai pertanyaan dan jawaban atas soal yang diberikan.

    “Laporan ini menunjukkan bahwa FBI pun tidak bisa mengawasi dirinya sendiri. Harus ada pengawasan dan kendali yang lebih ketat atas hal ini,” ujar penasihat kebijakan pada American Civil Liberties Union, Michael German.

    Sumber: VIVA NEWS
    Readmore --> Puluhan Agen FBI Ketahuan Menyontek

    Indonesia Pesan Lagi 6 Sukhoi Rp2,7 Triliun

    VIVAnews - Pemerintah akan menambah enam pesawat Sukhoi dari yang sudah ada saat ini 10 pesawat, sehingga menjadi satu skuadron atau 16 buah pesawat.

    Penambahan pesawat menghabiskan dana US$200-300 juta (sekitar Rp2,7 triliun) akan dilakukan dalam lima tahun ke depan.

    Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, pembelian pesawat tersebut terpisah dari missil-nya. Untuk perlengkapan senjata di pesawat, bisa dibeli terpisah dan tidak harus buatan Rusia, seperti rudal buatan China.

    Meski tidak menggunakan missil China, namun ia menjamin sistem komputasi yang dimiliki Sukhoi dapat digunakan walau bukan buatan Rusia.

    Ia mencontohkan, dua pesawat Sukhoi yang berhasil melakukan seluruh uji coba bom latih P-100 di Kabupaten, Takalar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. "Itu dengan (rudal) buatan dalam negeri sudah bisa," katanya di Istana Negara, Selasa 28 September 2010.

    Dia menuturkan, yang terpenting dari kontrak pembelian pesawat itu adalah rak untuk senjata. Namun sayangnya, Purnomo tak bisa merinci berapa penghematan dari pembelian pesawat tanpa senjata tersebut.
    "Ini seperti kalau membangun rumah, yang di depan memakai kayu mahal, untuk yang belakang tidak," ujarnya.

    Saat ini, pembelian Sukhoi tambahan tengah diproses. Dia juga telah berbicara dengan Dubes Rusia."Karena kita mengikuti proses di birokrasi," kata Purnomo.

    Sumber: VIVA NEWS
    Readmore --> Indonesia Pesan Lagi 6 Sukhoi Rp2,7 Triliun

    Jangan Hanya Anggaran Densus yang Dinaikkan



    JAKARTA - Usulan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie soal kenaikan anggaran Densus 88 Antiteror dari Rp9 miliar menjadi Rp60 miliar, menuai pro kontra. Pihak Kepolisian menyambut baik usulan ini, namun sebagian pihak justru tidak sepakat.

    Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar berpendapat, kenaikan anggaran operasional kepolisian memang diperlukan, namun anggaran ini harus bersifat umum. Sebab tugas kepolisian tidak hanya memberangus terorisme.

    “Jangan lupakan kejahatan jalanan seperti pencurian, penjabretan. Itu juga cukup meresahkan masyarakat,” ujar Bambang saat berbincang dengan okezone, Selasa (28/9/2010).

    Menurut Bambang, polisi jangan terlena mengatasi kejahatan besar, namun menganggap enteng kejahatan kelas teri. “Kalau anggarannya mau dinaikan, harus menyentuh semua lini di Kepolisian,” tegasnya.

    Sebelumnya Ical, sapaan Aburizal, mendorong kenaikan anggaran Densus 88 Antiteror Mabes Polri hampir 700 persen dari Rp9 miliar menjadi Rp60 miliar dalam RAPBN 2011 mendatang.

    Menurut Ical, keamanan nasional adalah hal yang sangat strategis sehingga tidak boleh terkendala dana. Sekretaris Setgab partai koalisi ini juga mengaku terhenyak mendengar curhat Mabes Polri, khususnya Densus 88, yang menyebut jumlah dana yang diadakan untuk pasukan antiteror sangat minim.

    Sumber: OKEZONE
    Readmore --> Jangan Hanya Anggaran Densus yang Dinaikkan

    English News : Russia's newest nuclear sub completes sea trials


    The trials were part of the manufacturer's tests and the sub is now ready for final inspection by a state commission before it enters service with the Russian Navy

    Russia's newest Borey class strategic nuclear-powered submarine, the Yury Dolgoruky, has completed sea trials in the White Sea and returned to its base in northern Russia, the Sevmash shipyard said.

    The trials were part of the manufacturer's tests and the sub is now ready for final inspection by a state commission before it enters service with the Russian Navy.

    "All systems of the submarine performed well, and the problems revealed during previous tests have been resolved," a Sevmash spokesman said.

    The Yury Dolgoruky is 170 meters (580 feet) long, has a hull diameter of 13 meters (42 feet), a crew of 107, including 55 officers, a maximum depth of 450 meters (about 1,500 feet) and a submerged speed of about 29 knots. It can carry up to 16 ballistic missiles and torpedoes.

    Construction costs totaled some $713 mln, including $280 mln for research and development.

    Three other Borey class nuclear submarines, the Alexander Nevsky, the Vladimir Monomakh, and Svyatitel Nikolai (St. Nicholas) are in different stages of completion. Russia is planning to build eight of these subs by 2015.

    Fourth-generation Borey class nuclear-powered submarines are expected to constitute the core of Russia's modern strategic submarine fleet.

    The submarine's entry into service could be delayed however by a series of setbacks in the development of the troubled Bulava submarine-launched ballistic missile (SLBM), which has officially suffered seven failures in 12 tests.

    The future development of the Bulava has been questioned by some lawmakers and defense industry officials, who have suggested that all efforts should be focused on the existing Sineva SLBM.

    But the Russian military has insisted that there is no alternative to the Bulava and pledged to continue testing the missile until it is ready to be put into service with the Navy.

    FROM : RIA
    Readmore --> English News : Russia's newest nuclear sub completes sea trials

    Foto News: Kopassus dan SAS Latihan Antiteror


    Latihan bersama ini juga melibatkan peralatan tempur, salah satunya helikopter. Kopassus dan SAS dengan sigap turun dari helikopter.


    Kopassus dan SAS yang membawa senjata laras panjang dan mengenakan rompi anti peluru berlari untuk membebaskan para penumpang uang disandera teroris.


    Latihan bersama bertajuk Dawn Komodo-10 ini melibatkan 50 personel Kopassus dan 20 personel SAS.


    Robot penjinak bom juga dihadirkan dalam latihan bersama di Bandara Ngurah Rai ini.

    Sumber: DETIK FOTO
    Readmore --> Foto News: Kopassus dan SAS Latihan Antiteror

    Bahas Perbatasan, Malaysia - Indonesia Bertemu di New York

    TEMPO Interaktif, NEW YORK - - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa bertemu dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman di New York, Senin 27 September malam waktu setempat atau Selasa 28 September 2010 pagi waktu Indonesia. Pertemuan membahas masalah perbatasan laut, menyusul insiden saling tangkap nelayan Malaysia dan petugas Indonesia beberapa waktu lalu di perairan Kepulauan Riau.

    Dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela Sidang ke-65 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, kedua menteri sepakat memprioritaskan perundingan perbatasan laut Indonesia-Malaysia di wilayah Selat Singapura dan Laut Sulawesi.

    Kedua Menlu juga sepakat membentuk sebuah forum baru yang dinamai Forum Pengelolaan Perbatasan dan akan melibatkan berbagai kementerian-kementerian terkait kedua negara.

    "Kita sepakati perlu adanya semacam hasil yang kita bisa cepat raih. Dalam kaitan ini kita memprioritaskan terutama dua segmen, yaitu segmen Selat Singapura --di mana insiden kemarin terakhir terjadi-- dan juga segmen di Laut Sulawesi," kata Marty.

    Menyangkut proses perundingan, kata Marty, pendekatan yang akan dilakukan adalah dengan menggarisbawahi posisi prinsipil masing-masing negara.

    "Juga akan ada upaya khusus, upaya keras agar di mana ada titik temu, itu bisa betul-betul dipresentasikan kepada pemerntah masing-masing untuk disikapi.

    Pertemuan Menlu Indonesia dan Malaysia di New York itu merupakan salah satu kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan keduanya di Kota Kinabalu, Malaysia, pada 6 September lalu, saat situasi panas antar kedua negara masih berlangsung terkait insiden penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan di Kepulauan Riau 13 Agustus oleh aparat Malaysia.

    Pertemuan Kinabalu itu juga menjadwalkan perundingan perbatasan tingkat teknis yang akan dilakukan pada 11-12 Oktober di Malaysia serta 23-24 November di Indonesia.

    Pertemuan teknis itu akan diikuti dengan pertemuan tingkat menteri luar negeri pada bulan Desember di Indonesia.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Bahas Perbatasan, Malaysia - Indonesia Bertemu di New York

    Nanti Sore, Presiden Juga Lantik KSAL Baru

    Personel TNI AL pada salah satu kapal dalam jajaran Armada RI Kawasan Timur.

    JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (28/9/2010) sore ini di Istana Negara, selain melantik Panglima TNI yang baru Laksamana TNI Agus Suhartono, juga akan sekaligus melantik Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) yang baru, Laksamana Madya (Laksdya) TNI Soeparno.

    Soeparno yang kini menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AL (Wakasal) akan menggantikan posisi Agus Suhartono sebagai KSAL yang baru.

    Konfirmasi itu dibenarkan oleh Menteri Koordintor Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto kepada Kompas, Selasa pagi ini saat dihubungi lewat telepon di Jakarta. "Ya, sekarang Wakasal," tandas Djoko.

    Tercatat Soeparno menjadi Wakasal sejak 11 Januria lalu. Ia diangkat beradasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/7/I/2010. Keputusan tersebut menyangkut pemberhentian dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI dan Mabes TNI.

    Sebelum diangkat menjadi Wakasal, Soeparno tercatat Asisten Operasi KSAL.

    Spesialisasi kapal selam

    Dari data Dinas Penerangan Angkatan Laut Armada Timur , Soeparno tercatat pernah menjadi Kepala Staf Armatim. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Asisten Kasal Bidang Pengamanan.

    Soeparno juga bukanlah orang baru di lingkungan Koarmatim. Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-24 tahun 1978 ini pernah menjabat Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim. Usai menjabat Danguspurlatim, selanjutnya, pati bintang satu kelahiran Surabaya, 28 September 1955 ini berdinas di Mabes TNI AL sebagai Kepala Dinas Potensi Maritim. Kemudian jabatan terakhir sebelum diangkat sebagai Kasarmatim adalah Waaspam Kasal.

    Soeparno juga dikenal sebagai perwira dengan spesialisasi kapal selam, mengingat ia pernah mengomandani 3 kapal perang. Yaitu, Komandan KRI Badik-623, KRI Nala-363 dan KRI Oswald Siahaan-354. Pada tahun 1999, ia juga pernah menjabat Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Nanti Sore, Presiden Juga Lantik KSAL Baru

    Peningkatan kerjasama Angkatan Bersenjata RI - Afsel


    Afrika Selatan sangat berkeinginan untuk meningkatkan hubungan kerjasama militernya dengan Indonesia, antara lain dalam bentuk pertukaran saling kunjungi pejabat-pejabat militer dan pelatihan, demikian inti statement yang disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat Afsel, Letnan Jenderal Solly Shoke kepada Kasad TNI Jenderal George Toisutta pada pertemuan bilateral yang diadakan di Cape Town tanggal 21 September 2010. Dalam pertemuan tersebut Kasad TNI Jenderal George Toisutta didampingi oleh Dubes RI Sjahril Sabruddin, Pangkostrad Letnan Jenderal Burhanudin Amin, Irjenad Mayor Jenderal Djoko Susilo Utomo dan Aster Kasad Mayor Jenderal Jul Effendi serta Athan KBRI Pretoria.

    Pada pertemuan itu juga disampaikan oleh Kasad Afsel Letnan Jenderal Solly Shoke bahwa hubungan bilateral yang cukup baik dan dinamis antara kedua Negara telah menjadi modal utama untuk peningkatan kerjasama militer kedua Negara khususnya antara angkatan darat Afsel dengan Indonesia. Kasad TNI menyambut baik hal tersebut dengan menyampaikan undangan agar Jenderal Shoke dapat berkunjung ke Indonesia guna pembicaraan kerjasama lebih lanjut dan mengharapkan pula agar tawaran Indonesia kepada militer Afsel untuk mengikuti Lemhannas di tahun 2011 kiranya dapat segera di respon. Jenderal Shoke sangat menyambut baik undangan Kasad TNI untuk kunjungan ke Indonesia dan juga menjanjikan akan mengupayakan agar perwira AD Afsel dapat ikut dalam Lemhannas 2011.

    Selanjutnya pada kesempatan pertemuan dengan Brigadir Jenderal Mpanya, Komandan Pasukan Khusus (Special Force) Afsel, Kasad Jenderal George Toisutta dan rombongan telah mendapatkan persentasi komprehensif tentang tata cara rekrutmen dan pelatihan untuk special forces Afsel, diakhir persentasinya, Brigadir Jenderal Mpanya menyampaikan pula keinginan pasukan khusus Afsel untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan pihak pasukan khusus Indonesia. Kasad Jenderal George Toisutta menyambut baik pemikiran tersebut, termasuk juga kerjasama di bidang pasukan lintas udara (airborne forces).

    Pada kesempatan kunjungan di Afsel tersebut, Kasad dan rombongan juga telah mengikuti Pameran Internasional Alat-alat Milter di Air Force Base Ysterplaat serta menghadiri pertemuan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia di Cape Town dan sekitarnya di Konsulat Jenderal Cape Town.

    Sumber: DEPLU
    Readmore --> Peningkatan kerjasama Angkatan Bersenjata RI - Afsel

    Monday, September 27, 2010 | 11:52 PM | 0 Comments

    Alex Supeli Ahli Design Pesawat N-250


    N250 Desain Dari Alex Supeli

    VIVAnews - Kehilangan sosok seperti Alexander Supeli merupakan kehilangan yang amat besar bagi dunia dirgantara Indonesia. Selain bisa mengemudikan pesawat, almarhum memilki kemampuan dalam merancang struktur dan design pesawat.

    Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Off Aero Struktur PT Dirgantara Indonesia, Andi Ali Syahbana. Menurutnya, almarhum merupakan sosok yang multitalent yang sulit dicari bandingannya.

    "Semasa hidup ia menjadi sepervisor manager, tapi keahlian utamanya design dan struktur pesawat terbang," kata Andi di rumah duka, Jalan Sumbersari No 10, Bandung, Jawa Barat, Senin 27 September 2010.

    Bahkan, diakui Andi, almarhum juga pernah menjadi pemimpin pembuatan pesawat N 250. "Orang yang seperti almarhum yang bisa memimpin sambil punya keahlian struktur belum ada sampai saat ini, PT DI akan sulit mencari penggantinya," ujarnya.

    Rekan terbang atraksi almarhum, Pnb Kapten Ester mengatakan Alex adalah rekan sekaligus guru penerbangnya. "Beliau memiliki semangat kedirgantaraan yang tinggi, beliau juga berharap supaya generasi muda juga bisa mencintai dunia dirgantara," ujarnya.

    Ester mengaku, sesaat sebelum terjadi kecelakaan, ia tidak mempunyai firasat apapun. "Saya sangat merasa sedih, karena komunikasi terakhir, hanya pada saat terbang, leadingnya dari Pak Alex," ujar Ester yang mengaku telah mengenal almarhum sejak 1984.

    Rencananya, jenazah Alex akan dimakamkan di Desa Bojong, Kecamatan Majalaya, sekitar pukul 12.00 WIB. Sementara Route yang dilalui adalah Rumah Duka - Tol Pasir Koja, Cileunyi - Rancaekek - Warung Peuteuy, Desa Bojong, Majalaya.

    Alex mengalami luka parah ketika pesawat yang dipilotinya jatuh dan terbakar saat sedang melakukan atraksi head-on atau terbang saling mendekat dan berhadapan, dengan satu pesawat lainnya. Pilot yang kecelakaan di hari kedua Bandung Air Show itu sudah berkali-kali melakukan atraksi sejenis.

    Alex menghembuskan nafas terakhir pada dini hari tadi pukul 05.30 di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Almarhum meninggalkan istri, dua putra dan seorang putri.

    Sumber: VIVA
    Readmore --> Alex Supeli Ahli Design Pesawat N-250

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.