ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Friday, November 16, 2012 | 8:07 AM | 2 Comments

    Endriartono: Indonesia Harus Bangun Industri Pertahanan Supaya Disegani

    Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto mengatakan Indonesia harus memprioritaskan pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista) agar disegani negara lain.

    "Indonesia memiliki potensi untuk membangun alutsista, paling tidak memenuhi standar minimal essential force, asalkan ada kemauan politik yang kuat," kata Endriartono di hadapan sekitar seratus mahasiswa peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) di Depok, Jawa Barat, Kamis (15/11).

    Endriartono menjadi pembicara utama pada pelatihan PPSDMS yang diikuti mahasiswa perguruan tinggi negeri dari Jakarta, Depok dan Bogor atas undangan pimpinan lembaga tersebut.

    Ia menjelaskan, Indonesia adalah negara besar dengan penduduk sekitar 243 juta jiwa, memiliki sekitar 17.000 pulau besar dan kecil dari Sabang sampai Merauke serta wilayah laut terpanjang di dunia. "Namun Indonesia sering dilecehkan oleh negara-negara lain, termasuk oleh negara tetangga," katanya.

    Endriartono yang menduduki jabatan sebagai Panglima TNI pada 2002-2006 ini menjelaskan, ketika terjadi Tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004, ia memerintahkan untuk mengerahkan tank Scorpion milik TNI ke lokasi bencana.

    Menurut dia, pengerahan tank Scorpion produksi Inggris ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan kepada korban hidup yang terisolasi. "Namun hal ini dilarang Inggris dengan alasan melanggar kontrak kerja sama," katanya.

    Endriartono kemudian memerintahkan PT Pindad untuk memproduksi panser yang bisa dioperasikan di lokasi bencana. Dia memberikan tenggat waktu hanya tiga bulan. "Dalam kondisi terdesak PT Pindad mampu merealisasikannya, meskipun hasilnya masih seadanya. Panser tersebut dibuat dengan bahan baku antara lain dari sasis produksi Jepang," katanya.

    Endriartono menilai, jika hanya dalam waktu tiga bulan PT Pindad mampu memproduksi panser meskipun masih sekadarnya, maka jika diberi waktu lebih lama tentu bisa memproduksi panser yang lebih baik. Ia kemudian memerintahkan lagi PT Pindad untuk memproduksi panser yang baik tanpa batasan waktu.

    "Hasilnya PT Pindad mampu memproduksi panser Anoa, yang kemudian diminati oleh sejumlah negara," katanya.

    Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengakui panser Anoa produksi PT Pindad memenuhi persyaratan untuk operasional PBB. Endriartono menambahkan, demikian juga untuk senjata serbu, semula PT Pindad memproduksi senjata jenis SP1 yang digunakan ketika perang melawan Fretilin di Timor-Timur.

    "Setelah diketahui banyak kelemahan, PT Pindad memperbaikinya dengan memproduksi senjata jenis SS1 dan kemudian SS2, yang memiliki tingkat akurasi sangat tinggi," katanya.

    Endriartono menegaskan, dari pengalaman-pengalaman tersebut, sesungguhnya mampu memproduksi alutsista secara mandiri, paling tidak untuk memenuhi standar minimal "essensial force". Jika Indonesia memprioritaskan pembangunan alutsista, menurut dia, maka disegani negara lain.

    Sumber : Metrotvnews
    Readmore --> Endriartono: Indonesia Harus Bangun Industri Pertahanan Supaya Disegani

    Brasil Setujui Melatih Personel TNI Dalam Operasional Astros MLRS Dan Super Tucano

    Jakarta - Pimpinan tentara Brasil menyetujui untuk memberi pelatihan kepada personel TNI, terutama dalam meningkatkan kemampuan penggunaan senjata. Hal itu terkait antara lain dengam pembelian pesawat Super Tucano dan roket Astros buatan Brasil.

    Kesediaan tukarantar prajurit itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Brasil, Jenderal Jose Carlos de Nardi, menanggapi permintaan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, dalam pertemuan di Brasilia, Brasil, Senin (12/11/2012) lalu.

    Wartawan Kompas, Subhan SD, melaporkan dari Brasil, sepekan ini Sjafrie melakukan kunjungan kerja ke Brasil, untuk membicarakan pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan Brasil.

    Dalam pertemuan di Kementerian PertahananBrasil di ibu kota Brasilia, Sjafrie didampingi Kepala Staf AD Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo. Selain itu, Dubes RI untuk Brasil Sudaryomo Hartosudarmo, serta Kepala Badan Diklat Kemhan Mayjen TNI Suwarno, Kelapa Badan Sarana Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

    "Saat ini juga saya mengundang para perwira artileri TNI untuk belajar mengoperasikan (roket) Astros. Kirim dua orang ke sini, maka kami alan kirim dua orang ke sana (Indonesia)," kata Jenderal Jose Carlos de Nardi.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Brasil Setujui Melatih Personel TNI Dalam Operasional Astros MLRS Dan Super Tucano

    Wednesday, November 14, 2012 | 10:50 AM | 0 Comments

    ST Kinetics Dan PT Pindad Kembangkan Terrex RSTA

    Jakarta - Produksi dan pengembangan perangkat militer terus dilakukan Indonesia, baik secara mandiri maupun kerjasama. Ini diantaranya dilakukan dengan Singapura melalui PT Pindad (Persero) Bandung dan Singapore Techologies Kinetics Ltd.(ST Kinetics) Singapura, mengembangkan kerjsama produksi perangkat pembidik dan pelindungan individu penembak untuk kendaraan lapis baja atau tank bernama Terrex RSTA.

    Perangkat semacam Terrex RSTA adalah system pendukung yang dilengkapi perangkat elektronik, baik untuk mengintip maupun memperjelas sasaran serta situasi sekitar. Prajurit penembak tak perlu lagi nongol dari pintu Turrent atau pintu penembak, cukup menembak dari dalam ruangan kendali kendaraan tempur lapis baja atau tank. .

    Ini membuat keamanan personel terlindungi dari risiko serangan musuhnya, dan penglihatan sasaran cukup dilihat dari tampilan layar monitor. Perangkat seperti ang dipasang pada sejumlah kendaraan tempur mariner Amerika. .

    Menurut seorang pimpinan ST Kinetics Lim Miah Wee didampingi Presdir PT Inter Korana Indi Adi Sunaryo, selaku mitra, di sela-sela Pameran Industri Pertahanan Indo Defence, di Jakarta, Kamis (8/11) lalu, rencananya Terrex akan diujicoba dipasangkan pada panser buatan PT Pindad, pekan ini. Ini sebagai optimalisasi system penembakan sekaligus pengamanan individual pada kendaraan lapis baja 6x6 Anoa, produksi PT Pindad.

    Terrex yang digunakan memang pas ukurannya untuk melengkapi senapan mesin berat (SMB) caliber 12,7 mm x 99 (.50 Browning) produksi PT Pindad yang mengikuti model ST Kinetics, yaitu CIS 50 MG. Panser 6x6 Anoa produksi PT Pindad tengah diuji apakah dapat dioptimalkan dengan dilengkapi perangkat Terrex.

    Humas PT Pindad, Tuning Rudiyati yang dikonfirmasi, Minggu (11/11), belum memberikan keterangan.

    Sumber : KOMPAS CETAK/MIK
    Readmore --> ST Kinetics Dan PT Pindad Kembangkan Terrex RSTA

    Rusia Tawarkan kerjasama Pembuatan Tank Ringan Kepada Indonesia

    Moskow - Rusia akan membantu Indonesia untuk membuat tank ringan, seperti yang telah dilansir oleh Interfax pada waktu mewawancari direktur Rosoboronexport Nicholas Dimidyuk.

    “Kami tentu saja akan membantu Indonesia, saat ini kami sedang melakukan negosiasi serta mengumpulkan industri pertahanan kedua negara untuk mencari solusi dalam pembuatan tank ringan tersebut.” Kata Dimidyuk.

    Menurut pihak Rosoboronexport telah mengirim degelasi melakukan negosiasi selama kunjungannya ke Indonesia. Namum pihaknya belum memberikan secara detail jenis tank ringan apa yang ditawarkan kepada Indonesia.

    Saat ini Kurganmashzavod adalah satu-satunya perusahan produksi dan pengembang kendaraan lapis baja dengan sebutan Kurganets-25.

    Tujuan utama pihak Rosoboronexport sendiri membahas pengadaan kendaraan lapis baja 37 unit BMP-3F yang telah ditandatangani pada mei 2012 dengan nilai kontrak diperkirakan sekitar 114 juta dollar.

    Secara keseluruhan, Indonesia akan memiliki 60 unit BMP-3F dalam dua tahun kedepan. Pada tahun 2007, Indonesia mendapatkan pinjaman kredit sebesar 1 milyar dollar dari Rusia. Saat ini Indonesia baru menggunakan untuk pengadaan 18 unit helicopter Mi-17, 5 unit Mi-35 dan 20 unit BMP-3F. Sumber : Lenta/MIK
    Readmore --> Rusia Tawarkan kerjasama Pembuatan Tank Ringan Kepada Indonesia

    Tuesday, November 13, 2012 | 9:21 AM | 3 Comments

    Pengamat : Bila Ingin Damai, Bersiaplah untuk Perang

    Jakarta - Di tengah sinar matahari memanggang kulit, tua-muda mengerumuni peralatan tempur. Ada yang mengagumi meriam buatan Prancis yang larasnya menyundul langit. Lainnya berfoto dengan latar belakang tank Leopard, lalu bergeser ke kendaraan taktis Komodo buatan Pindad. Tak sedikit yang melihat kendaraan berpeluncur roket buatan Brasil.

    Agak ke tengah sedikit pengunjung antre menaiki kendaraan pengangkut pasukan bikinan Rusia. Para pemuda apalagi anak kecil antusias menikmati perjalanan keliling lapangan. Seorang asing yang mengenakan stelan jas lengkap sibuk memotret kendaraan tempur (Ranpur) yang datang ke Indonesia tahun lalu itu. Tak dinyana, saya pernah bertemu dengannya ketika masih bertugas di kedutaan Jerman di Jakarta. Kolonel Bruno Hasenpusch, atase pertahanan Jerman untuk Indonesia.

    “Saya sudah pension,” katanya sambil bersalaman. Sekilas terlihat pakaiannya basah kuyup. Dulu ikut Seskoad? Benar-benar, jawabnya dalam bahasa Indonesia beraksen Jerman.

    Dia bertutur, Leopard itu dapat berjalan di lahan gambut atau rawa karena di Jerman juga ada lahan berkarakteristik serupa itu. Tambahan lagi, Leopard buatan Jerman sehingga Indonesia dapat langsung melakukan alih teknologi dan berbagai bentuk kerjasama lainnya. Juga lebih modern dari milik Singapura.

    Penembak runduk

    Di dalam gedung, lebih banyak peralatan dan kendaraan militer serta jenis senjata yang dipamerkan. Tak semua untuk maksud-maksud perang, tak sedikit yang dapat dipakai untuk tujuan-tujuan damai.

    Ruangan yang mirip hangar ini disesaki lebih dari 600 perusahaan dari 55 negara, termasuk Belarusia dan negara yang lebih terkenal dengan kuda Karabakh, Azerbaijan. Agak di sudut, seorang bapak setengah memaksa anaknya supaya mengangkat senapan yang beratnya 4,5 kg. “Ayo bu foto iu dengan HP saja,” katanya.

    Di tempat lain, seorang anak tiarap ala penembak merunduk sambil membidik dengan menggunakan senapan mesin, yang larasnya sepanjang satu meteran. Dia mau tiarap saja walaupun lantai karpetnya sudah diinjak-injak ribuan pengunjung.

    Pameran IndoDefense ke 4 yang ditutup Sabtu (10/11/2012) memang berwarna warni. Anak-anak itu tidak sadar kalau senjata dan meriam sudah menyalak serta roket telah melesat, mereka bakal menjerit-jerit. Apa yang mereka kagumi itu tak lebih dari penyabut nyawa, memporak porandakan keluarga.

    Kesan bahwa benda-benda yang dipamerkan berbahaya memang nyaris tidak tampak, bahkan lebih seperti mainan. Apalagi para penjaga stand berpakaian rapih, suka memberi permen dan cindera mata. Brosurnya juga bagus-bagus.

    Industri militer penuh kontradiksi. Di sana berkumpul kaum cerdik pandai untuk membuat peralatan yang makin ringan, jangkauan efektif yang makin jauh dan makin akurat. Mereka juga membuat amunisi yang makin lama makin canggih. Lebih kecil namun berdaya ledak lebih hebat, serta bisa mencari sasaran sendiri.

    Kalau dulu bom ‘Fat Albert’ yang dikendalikan komputer atau laser sangat dikagumi, sekarang sudah dianggap biasa. Bila sebelumnya bom hanya dapat meledak di permukaan, sekarang mampu menembus benteng dan meledak di dalam.

    Meriam buatan Prancis itu, kalau sudah ditekan tombolnya maka mereka yang sedang makan toge goreng jauh di Bogor sana bisa jadi korbannya. Kalau tipe amunisinya seperti pacar wutah, maka ibu-ibu yang sedang membeli tas di Tajur turut terkena dampaknya. Amunisi serupa ini terurai menjadi makin kecil dan makin kecil lagi lalu kemudian masing-masing meledak hingga radius ledakan meluas, yang terkena makin banyak.

    Industri militer memiliki pula nuansa-nuansa ekonomis. AS mengekspor peralatan militer senilai US$10 miliar pada tahun lalu. Perekonomian negara bagian Washington, Missouri dan Maryland akan terpengaruh jika proses produksi Boeing dan Lockheed Martin melesu.

    Produk-produk militer kendati penuh kontradiksi tetap diperlukan sebagai kekuatan penjera. Meskipun dalam konteks daya tahan nasional, kekuatan militer hanya merupakan salah satu di samping unsur kelekatan nasional, kekuatan ekonomi, sosial dan lain-lain.

    Wajib militer

    Indonesia perlu memiliki kemampuan militer yang tangguh sebab dikelilingi dengan negara-negara yang suka menekan jika Indonesia lemah. Sikap Australia misalnya, suka berubah-ubah sebagaimana ditunjukkan dalam masalah Timor Timur. Bandingkan antara kebijakan Perdana Menteri Gough Whitlam dengan John Howard.

    Begitu juga dengan Malaysia dan Singapura terhadap Indonesia. Bila Kapal Malaysia berani berhadapan dengan kapal Indonesia, maka Singapura cerdik dalam berunding dan menjerat dengan pasal-pasal yang mengikat. Contohnya dalam soal gas. Indonesia harus terus mengekspor ke negara itu meski Indonesia kekurangan gas.

    Maka dari itu terasa aneh bila ada para pihak di dalam negeri yang tidak ingin militer Indonesia kuat atau keberatan dengan industri militer domestik yang mampu mencukupi keperluan. Apalagi kalau diingat bahwa negara-negara yang maju perekonomiannya itu, rata-rata menerapkan wajib militer bagi warganegaranya.

    Melalui wajib militer mereka menjadi warganegara yang disiplin dan tak kenal menyerah. Karakter yang diperlukan buat menghasilkan produk ekspor yang laris dan tidak begitu peka dengan gejolak nilai tukar mata uang. Mereka juga tak mungkin menjual tanah dan air, sekalipun bujukan globalisasi bertubi-tubi sebab merasa bertanggung jawab atas masa depan bangsa dan negaranya.

    Kekuatan militer Indonesia boleh dibilang tertinggal dilihat dari aspek jumlah dan kualitasnya. Bila terjadi perang, mungkin saja Indonesia hanya dapat bertahan tiga bulan lalu kabur ke hutan. Itupun hutan sawit.

    Sebenarnya tak satu negara pun yang ingin terlibat secara langsung dalam peperangan karena dampaknya sangat merusak. Defisit yang dialami AS dewasa ini, awalnya antara lain lantaran anggaran tidak dipakai kegiatan ekonomi yang produktif, namun digelontorkan bagi industri militer.

    Bagi Indonesia, penambahan kekuatan militer perlu sebagai kekuatan penjera dan pembangkit rasa bangga. Sebagaimana diketahui kebanggaan nasional tengah melorot karena ketidakberdayaan birokrasi dan demokrasi yang kebablasan. Bayangkan, orang perorang bisa memaki atau menilai lambang negara dengan seenaknya.

    Kekuatan militer juga dapat dipakai untuk keperluan damai mengatasi dampak bencana alam. Jangan sampai pengalaman menangani dampak tsunami di Aceh terulang lagi. Ketika itu, negara-negara asing lebih banyak membantu karena Indonesia kekurangan pesawat angkut akibat embargo AS dan juga tak punya peralatan komunikasi lapangan hingga menggunakan peralatan milik Singapura.

    Keharusan memilih

    Para pejabat tengah dihadapkan kepada keharusan memilih. Membiarkan Indonesia lemah atau kuat. Tampaknya yang dipilih adalah alternatif kedua. Anggaran militer Indonesia pada 2012 mencapai Rp64,4 triliun.

    Pilihan ini sejalan prinsip, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Atau seperti yang dikatakan Zbigniew Brezezinski…bila tercetus perang nuklir maka dampaknya sudah diketahui. Jadi yang terpenting adalah sebelum terjadinya perang nuklir tersebut.

    Bagi Indonesia yang tak memiliki senjata nuklir, kekuatan militer merupakan kekuatan penjera, pembangkit kebanggaan nasional dan penopang lahirnya masyarakat yang sejahtera. Bukankah Hercules juga dipakai buat membawa beras dan terkadang kambing, bukan hanya untuk terjun HAHO (high altitude high opening) dan HALO (high altitude low opening)?

    Sumber : INILAH
    Readmore --> Pengamat : Bila Ingin Damai, Bersiaplah untuk Perang

    Monday, November 12, 2012 | 8:37 PM | 1 Comments

    Panglima TNI : Radar RI Sulit Deteksi Benda Dengan Terbang Rendah

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, mengaku belum menerima laporan penemuan pesawat "target drone" di perairan Pulau Pucung, Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, Kepulauan Riau, Senin pagi 12 November 2012. TNI Angkatan Udara belum melaporkan penemuan itu.

    Menurut Agus, pesawat tersebut belum tentu milik TNI AU. Bisa saja pesawat itu berasal dari luar wilayah Indonesia. "Mungkin (pesawat itu) dari negara lain. Nanti saya cek dulu pokoknya," kata Agus.

    Agus menjelaskan, pertahanan Indonesia memang harus mewaspadai pesawat-pesawat tanpa awak seperti ini. Apalagi jika pesawat tanpa awak itu difungsikan untuk mata-mata. Tentu akan berbahaya untuk keamanan negara.

    Namun sayangnya, upaya untuk mendeteksi pesawat-pesawat tanpa awak di wilayah Indonesia sedikit terhambat. Radar pertahanan Indonesia tidak bisa mendeteksi pesawat-pesawat yang terbang sangat rendah. "Radar kita ketinggian. Kalau pesawat tanpa awak itu diterbangkan hanya 100 meter di atas permukaan laut, pasti tidak akan terdeteksi. Oleh karena itu pesawat-pesawat seperti ini harus kita waspadai terus," kata Agus.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Maskal Madya Azman Yunus, memastikan pesawat yang ditemukan itu bukanlah pesawat mata-mata. Pesawat ini merupakan pesawat target. Biasanya, pesawat ini dijatuhkan dari pesawat dan kemudian dijadikan sasaran tembak dari bawah.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> Panglima TNI : Radar RI Sulit Deteksi Benda Dengan Terbang Rendah

    Infogobal : Kami Berharap Pemerintah Berperan Dalam Pengembangan Avionik

    Jakarta - Sebuah industri swasta yang bergerak dalam bidang sistem pertahanan militer unjuk gigi dalam pameran Indodefence 2012. Perusahaan ini memproduksi peralatan pesawat tempur lokal yang diharapkan mampu membuat Indonesia mandiri, dalam kebutuhan alutsista.

    Siapa sangka jika sistem avionik pesawat tempur ini merupakan hasil produksi dalam negeri? Namun ini merupakan hasil karya sebuah perusahaan asal Surabaya, Infoglobal. Avionik merupakan peralatan di sebuah pesawat tempur yang berhubungan dengan sistem navigasi, komunikasi, dan persenjataan.

    Peralatan inilah yang ada di dalam kokpit pesawat yang akan menjadi indikator, dan dikontrol oleh seorang pilot pesawat tempur. Adi sasongko adalah orang yang berada dibalik perusahaan yang memproduksi sistem avionik ini. Ia mengaku bukan hal mudah untuk mendapatkan kepercayaan sebuah negara, terutama dalam bidang sistem pertahanan.

    Kesempatanlah yang membuat Adi akhirnya memutuskan untuk mengembangkan peralatan avionik ini 12 tahun yang lalu. Kini perusahaan yang ia pimpin sudah memiliki 200 karyawan di Surabaya.

    Peralatan yang dimiliki perusahaan lokal ini sudah menjadi perlengkapan untuk pesawat tempur Hawk 100, 200, dan F5. Cukup membanggakan bagi Indonesia, namun Adi berharap pemerintah dapat berperan aktif lagi.

    Dengan dukungan penuh dari pemerintah kepada perusahaan lokal, seharusnya Indonesia sudah bisa mandiri dalam pengembangan alutsista tanpa harus membeli peralatan dari luar negeri.

    Sumber : MetroTV
    Readmore --> Infogobal : Kami Berharap Pemerintah Berperan Dalam Pengembangan Avionik

    Sunday, November 11, 2012 | 8:21 AM | 0 Comments

    Indonesia Dan Avibras Tandatangani Kontrak Pengadaan 36 Unit Astros MRLS

    Jakarta - Perusahaan Avibras Asal Brasil menandatangani kontrak pengadaaan dua unit MLRS Astros II Mk6 dari jumlah total 36 unit.

    Menurut “Majalah Pertahanan Mingguan Jane” yang meliput pameran pertahanan Indo Defence 2012 di Jakarta, mengatakan bahwa perwakilan dari Avibras melakukan penandatanganan kontrak pengadaan MRLS Astros dengan Departemen Pertahanan Indonesia dengan mengirim dua unit Astros untuk tahap pertama serta alih teknologi dan mendirikan pusat perbaikan di Indonesia. Sebelumnya, media online Indonesia melaporkan bahwa salah satu MLRS Astros II Mk.6 ikut hadir dalam rangka HUT TNI AD.

    Berdasarkan perjanjian kontrak, Indonesia akan melakukan pengadaaan 36 unit Astros dan alutsista pendukung seperti pemasangan mesin, pemadam, bengkel taktis, pemantau cuaca taktis, dan kendaraan kontrol komando Astros yang masing-masing jumlahnya 36 unit. Pihak Avibras juga akan menyediakan fasilitas pelatihan, simulator termasuk satu paket suku cadang.

    Terlepas dari nilai kontrak yang tidak disebutkan, kemungkinan pengadaan Astros tersebut sekitar $ 350 juta USD. Pada bulan Juni ini, Angkatan Darat Brasil telah menandatangani kontrak pengadaan Astros sampai 2020 dengan nilai total $ 525 juta USD.

    Menurut MoU penandatanganan kontrak antara Indonesia dan Avibras, Avibras akan melakukan kerjasama dengan PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia dan LAPAN. Menurut pertanyataan dari Direktur Eksekutif Avibras Sami Youssef Hassuami dalam kontrak tersebut terdiri dari perjanjian alih teknologi untuk memperkuat kerjasama antara Brasil dan Indonesia dalam bidang pertahanan.

    Sebelumnya Indonesia telah melakukan penandatanganan kontrak 16 unit Super Tucano dari Brasil dan empat pesawat Super Tucano telah dikirim ke Indonesia pada bulan Agustus 2012.

    Sumber : Armstrade/MIK
    Readmore --> Indonesia Dan Avibras Tandatangani Kontrak Pengadaan 36 Unit Astros MRLS

    Dubes AS : Kami Senang Bisa Ikut Dalam Indo Defence 2012

    Jakarta - Sebanyak 50 negara berpartisipasi dalam pameran internasional industri peralatan pertahanan Indonesia ke-5 tahun 2012 atau Indodefence 2012 Expo and Forum di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran Jakarta, pada 7-10 November 2012.

    Ada 600 perusahaan dari berbagai dunia yang berpartisipasi di pameran ini. Salah satunya perusahaan dari Amerika Serikat.

    Konon, jarang sekali bagi AS untuk memamerkan teknologi militernya di negara lain. Tapi, di Indodefence 2012 ini, negara adidaya ini ikut serta memeriahkan pameran.

    Wakil Duta Besar AS, Kristen F Bauer mengaku gembira bisa berpartisipasi dalam pameran ini. "Kami sangat senang bisa ikut pameran ini. perusahaan-perusahaan kami ingin bermitra dengan perusahaan indonesia. Perusahaan kami menghasilkan perangkat militer terbaik di dunia. Mereka ingin berbagi produk dan bermitra dengan Indonesia dalam industri pertahanan", katanya.

    Menurut Bauer, peralatan pertahanan yang disajikan AS sangat beragam. "Produk industri pertahanan kami sangat beragam, dari helikopter, sistem radio. pokoknya kami punya bermacam peralatan yang bisa ditawarkan. itu sebabnya kami senang bisa berpartisipasi", tambahnya.

    Tak mau kalah, Rusia dan Jerman juga memamerkan peralatan militernya. Industri Pertahanan Rusia memperkenalkan roket penembak sasaran. Sementara, Jerman memperlihatkan alat pengintai berteknologi infra merah.

    Sumber : Kompas
    Readmore --> Dubes AS : Kami Senang Bisa Ikut Dalam Indo Defence 2012

    Indo Defence Expo 2012, Momentum Bagi Pertumbuhan Indhan Nasioanal

    Jakarta - Menurut Herman Wiriadipoetra selaku Presiden PT Napindo Media Ashatama yang menyelenggarakan event ini, pameran ini bisa menjadi momentum bagi pertumbuhan teknologi pertahanan dalam negeri dengan menerapkan konsep Transer of Technologi (TOT). Artinya teknologi peralatan dari luar yang lebih maju, bisa dipelajari oleh Indonesia agar bisa dikembangkan. “Konsep ini juga disetujui oleh pemerintah dengan penerapan UU industri pertahanan yang disetujui oleh DPR. Sehingga setiap perusahaan yang ingin menjual peralatan pertahanan di Indonesia, harus memberikan ilmunya” ujarnya Herman menjelaskan.

    Pameran teknologi pertahanan terbesar di Indonesia "Indodefence" sudah berlangsung selama dua hari. Pameran ini merupakan yang ke lima sejak tahun 2004, dan diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pameran yang berlangsung sejak 7 hingga 10 november diikuti oleh 600 perusahaan dari 45 negara dan official country pavilion dari 25 negara.

    Dalam acara ini, setiap perusahaan memamerkan teknologi pertahanan yang dimiliki berupa mobil truck dengan beragam spesifikasi, rudal, replika kapal, senjata otomatis, hingga masker dan peralatan selam. Terdapat juga lembaga keamanan dalam negeri yang ikut serta dalam pameran ini seperti Kepolisian dan TNI dari angkatan darat, laut dan udara. Peserta dari pameran ini didominasi oleh perusahaan luar negeri yang menampilkan, berbagai macam produk unggulan mereka.

    Herman berharap agar kedepannya, lebih banyak lagi perusahaan Indonesia yang ikut serta. Menurutnya, pameran ini bisa menjadi momentum bagi pengusaha lokal untuk bekerja sama dengan perusahaan asing dalam mengembangkan teknologi pertahanan. Dengan berkembangnya teknologi pertahanan dalam negeri, banyak manfaat yang bisa diambil. Salah satunya dengan menjual peralatan keamanan dalam negeri yang telah berkembang ke luar negeri. Sehingga bisa menambah devisa negara dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. “Dengan perekonomian pemerintah yang meningkat, maka pertumbuhan industri meningkat pula” tambahnya mengakhiri percakapan.

    Sumber : Gatra
    Readmore --> Indo Defence Expo 2012, Momentum Bagi Pertumbuhan Indhan Nasioanal

    Presiden Beri Nama Rantis Buatan Pindad Dengan Komodo

    Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi memberi nama salah satu kendaraan taktis atau rantis buatan PT Pindad. Rantis itu diberi nama Komodo, salah satu hewan asli Indonesia.

    Pemberian nama itu dilakukan disela-sela meninjau pameran Indo Defence Expo di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (10/11/2012). Ikut hadir Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan pejabat lainnya.

    "Komodo binatang perkasa. Semoga kendaraan taktis ini bisa bertempur membuat daya bagi Indonesia," kata Presiden ketika acara penandatanganan peresmian Rantis Komodo di halaman luar JIExpo.

    Dalam acara itu, Presiden mendapat penjelasan spesifikasi dan keunggulan Komodo. Selain Komodo, Presiden juga melihat langsung kendaraan tempur lain diantaranya tank buatan Jerman yang baru dibeli pemerintah Indonesia, yakni Leopard MBT Revolution. Mesin tank seberat 60 ton itu sempat dihidupkan dihadapan Presiden.

    Setelah itu, Presiden meninjau berbagai stand di dalam Gedung JIExpo. Presiden menerima penjelasan berbagai peralatan tempur terbaru, baik kendaraan, persenjataan, radar, dan lainnya buatan berbagai negara.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Presiden Beri Nama Rantis Buatan Pindad Dengan Komodo

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.