ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, June 4, 2011 | 4:58 PM | 0 Comments

    Kohanudnas Usulkan Kembali Membeli Lima Sukhoi

    Pesawat Tempur Sukhoi Milik TNI AU Di Bandara Halim Perdana Kusuma.

    Makassar - Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Indonesia mengusulkan pembelian pesawat tempur Sukhoi kepada pemerintah Indonesia. Penambahan pesawat tempur buatan Rusia tersebut dianggap perlu mengingat wilayah NKRI yang cukup luas dan harus dipantau oleh Komando Pertahanan Udara Nasional.

    Demikian dikatakan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto usai bertindak sebagai inspektur upacara pada serah terima jabatan Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Pangkosek) II Makassar, Jumat 4 Mei.

    Eddy mengatakan seperti di negara-negara berkembang lainnya, jumlah pesawat tempur ada yang mencapai ratusan buah sementara luas wilayahnya di bandingkan Indonesia masih lebih kecil. Tetapi hal tersebut juga harus dikondisikan dengan keuangan negara, yang lebih penting saat ini adalah kesejahteraan rakyat," ucapnya.

    Eddy mengatakan saat ini jumlah pesawat tempur Sukhoi yang dimiliki Indonesia sebanyak 11 buah. Semuanya ditempatkan di skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin. Untuk satu skuadron, layaknya memiliki 16 buah pesawat tempur, sehingga Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia akan menambah pesawat suhkoi sebanyak lima buah pesawat lagi. "Kami mengusulkan tambahan lima pesawat baru lagi tahun ini," katanya.

    Untuk keadaan wilayah udara Indonesia khususnya wilayah timur, Eddy mengatakan secara umum kondisi tersebut aman dari gangguan pihak asing yang ingin mengacaukan pertahanan negara. Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia senantiasa bekerja keras guna pengamanan tersebut. "Ini tentunya tidak telepas dari kerjasama yang baik dengan semua pihak," paparnya.

    Upacara serah terima jabatan berlangsung di markas Kosek Hanudnas Jumat, 4 Mei. Kolonel Agoes Haryadi menduduki jabatan Pangkosek Hanudnas II yang baru menggantikan Marsekal Pertama TNI Abdul Muis yang selanjutnya akan menduduki jabatan barunya sebagai Komandan Landasan Udara (Lanud) Adi Sucipto Yogyakarta. Upacara dihadiri Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, tokoh masyarakat serta unsur muspida.

    Sumber: Fajar
    Readmore --> Kohanudnas Usulkan Kembali Membeli Lima Sukhoi

    10 Industri Pertahanan AS Was-was Dengan Pemotongan Anggaran Pertahanan


    ki-ka (atas): Sikorsky's UH-60 Black Hawk helicopter, Raytheon's Phalanx CIWS anti-ship missile system, General Dynamics Abrams M1A1 Main Battle Tankki-ka (bawah):Northrop Grumman's B2-Spirit stealth bomber, Boeing's NewGen Tanker, Lockheed Martin's F-35.

    Washington - Pemangkasan anggaran, terutama di sektor pertahanan, kembali menggema di Washington. Beberapa perusahaan besar yang tergantung dana ini pun terancam kolaps.

    Kementrian Pertahanan AS menghabiskan US$ 367,1 miliar untuk kontraktor di tahun fiskal 2010, 14 kali lipat lebih banyak ketimbang Kementrian Energi, lembaga kedua tertinggi untuk pendanaan dengan nilai sebesar US$ 25,7 miliar.

    Jika pemerintah memutuskan memotong anggaran secara signifikan untuk kontrak federal, maka perusahaan yang mengandalkan sejumlah besar uang pemerintah pun akan mengalami gancangan.

    Berikut 10 kontraktor pemerintah federal terbesar, berdasarkan kewajiban dolar dari semua kementrian pemerintah pada tahun fiskal 2010, yang diambil dari Federal Procurement Data System.

    10. BAE

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 6,6 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 36,1 miliar

    Industri: Aerospace & Pertahanan

    BAE adalah kontraktor militer raksasa berbasis di Inggris yang mengembangkan pesawat elektronik dan pertahanan. Mereka kebanyakan melakukan bisnis dengan AS, Inggris, Australia, India, dan Arab Saudi.

    Perusahaan ini mengalami kesulitan dalam kasus penyuapan 2010, mengaku bersalah untuk konspirasi karena menipu pemerintah AS, sehingga harus membayar Kementrian Kehakiman AS dan KPK Inggris senilai US$ 400 juta denda pidana.

    9. SAIC

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 6,8 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 11,1 miliar

    Industri: Rekayasa & Teknologi

    SAIC aktif dalam keamanan nasional AS, menyediakan jasa rekayasa untuk Kementrian Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri. Selain berkecimpung di industri energi, kesehatan, dan infrastruktur.

    NASA memilih perusahaan ini pada Mei untuk mendukung komunikasi misi untuk agen. Nilai potensi maksimum kontrak adalah US$ 1,3 miliar.

    8. Oshkosh Corp

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 7,2 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 9,8 miliar

    Industri: Otomotif

    Oshkosh mendesain dan memproduksi truk khusus, dan menjualnya di 130 negara seluruh dunia. Ini adalah pemasok terbesar truk angkutan muatan berat tentara AS dan Inggris. Selain membuat sejumlah besar kendaraan militer berbeda, seperti truk taktis, kendaraan perintah, dan peralatan transporter besar.

    7. L-3 Communications


    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 7,4 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 15,7 miliar

    Industri: Komunikasi

    Terutama kontraktor pertahanan, L-3 mengkhususkan diri dalam sistem komunikasi yang aman, intelijen, pengawasan, pengintaian, dan pelatihan dan simulasi. L-3 memenangkan kontrak pemerintah lain yang cukup besar pada November lalu, senilai maksimum US$ 976 juta. Perusahaan akan mengawasi aircrew dan sistem pemeliharaan pelatihan bagi Angkatan Udara C-17, pesawat angkut militer raksasa.

    6. United Technologies


    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 7,7 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 54,3 miliar

    Industri: Gedung & Aerospace

    UTC adalah konglomerat besar dengan kepemilikan terkenal, seperti produsen helikopter Sikorsky, pembuat mesin pesawat Pratt & Whitney, dan perusahaan kedirgantaraan Hamilton Sundstrand. Selain memiliki Carrier, pemanas terbesar dunia, ventilasi, dan perusahaan AC, dan lift Otis.

    Sikorsky terutama terlibat dalam kontrak pemerintah, membuat helikopter untuk negara-negara seluruh dunia termasuk Kanada, Turki, Arab Saudi, Thailand, dan India. Karya yang paling dikenal adalah helikopter UH-60 Black Hawk.

    5. Raytheon

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 15,2 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 25,2 miliar

    Industri: Aerospace & Pertahanan

    Raytheon adalah produsen terbesar dunia untuk peluru kendali. Selain merancang dan membuat sistem pertahanan udara dan rudal. Raytheon juga bersaing dengan Lockheed Martin untuk kontrak US$ 5 miliar dari US Army Aviation and Missile Command untuk membangun lebih dari 33 ribu rudal bagi militer.

    4. General Dymanics


    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 15,2 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 32,5 miliar

    Industri: Pertahanan

    General Dynamics memproduksi semua jenis unit dan sistem tempur militer, termasuk tank, kapal, artileri, dan berbagai jenis amunisi. Salah satu produk yang paling terkenal adalah M1A2 Abrams Main Battle Tank dan pendahulunya M1 dan M1A1, yang melihat layanan yang luas untuk Angkatan Darat AS selama Perang Teluk dan Perang Irak.

    3. Northrop Grumman

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 16,8 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 34,8 miliar

    Industri: Aerospace & Pertahanan

    Northrop Grumman adalah pembangun kapal induk terbesar dunia, hingga mengalihkan bisnis pembuatan kapal pada Maret. Sebelumnya, Northrop memproduksi semua kapal AS, termasuk kelas supercarriers Nimitz dan Gerald R. kelas Ford terbarunya. Sekarang perusahaan fokus pada proyek kedirgantaraan dan sistem elektronik. Northrop memproduksi pembom siluman B2-Spirit legendaris dengan Boeing, dan armada 20 masih beroperasi hingga kini.

    2. Boeing

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 19,5 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 63,3 miliar

    Industri: Aerospace & Pertahanan

    Sebagai salah satu raksasa manufaktur dirgantara, pesawat dan satelit Boeing dapat ditemukan di seluruh militer AS. Boeing juga terikat dalam pekerjaan NASA, membantu mengoperasikan kedua kendaraan luar angkasa (Space Shuttle) dan stasiun luar angkasa internasionl (International Space Station). Boeing menang besar pada Februari ketika mereka mendapat kontrak US$ 35 miliar untuk membuat 179 kapal tanker pengisian bahan bakar udara untuk US Air Force.

    1. Lockheed Martin

    Nilai kontrak pemerintah (2010): US$ 35,8 miliar

    Total Pendapatan (2010): US$ 45,8 miliar

    Industri: Aerospace & Pertahanan

    Lockheed Martin adalah kontraktor pemimpin bagi pemerintah AS dan bekerja dengan puluhan kementrian dan badan-badan, walaupun sebagian besar kontrak besar dengan Kementrian Pertahanan.

    Antara empat unit usahanya, Penerbangan, Sistem Elektronik, Sistem Informasi, dan Sistems Ruang Angkasa, perusahaan melahap 6,8% dari total dolar yang dibelanjakan kontraktor oleh pemerintah AS pada 2010.

    Sumber: INILAH
    Readmore --> 10 Industri Pertahanan AS Was-was Dengan Pemotongan Anggaran Pertahanan

    Anggaran Litbang Indonesia Sangat Minim

    Ilham Habibie.

    Jakarta - Minimnya anggaran penelitian dan pengembangan (Litbang) bagi institusi baik pemerintah maupun swasta membuat pembangunan teknologi di Indonesia tertinggal dari negara lain.

    Menurut Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Ilham A.Habibie, anggaran Litbang di Indonesia hanya 0,07% dari PDB. Jumlah ini jauh dibanding negara-negara lain.

    "Anggaran negara Indonesia untuk Litbang sebesar 0,07% dari PDB, padahal anjuran UNESCO, 0,2%," kata Ilham saat menjadi pembicara seminar nasional "Inovasi Teknologi dan Perubahan Sosial", dalam Dies Natalis Ikatan Sarjana Katolik Indonesia ke-53, Jumat (3/6) di Jakarta.

    Sebagai pembanding, tambahnya, anggaran litbang di China sebesar 1,3% dari PDB sementara di Israel sebesar 4,95% dari PDB.Tingginya anggaran litbang Israel ini membuat negara ini bisa memajukan industrinya dan beberapa bidang.

    Ditambahkannya, swasta memiliki kontribusi yang sangat kecil dalam litbang di Indonesia. "Kalau swasta terlalu mengandalkan pemerintah, seringkali terjdi apa yang dilitbangkan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan," ujar dia.

    Dari hasil perbincangan dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi, tidak hanya anggaran litbang yang minim, tetapi komunikasi antara pemerintah dengan swasta juga harus diperbaiki. Oleh karena itu, katanya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan Menristek untuk memperbaiki inovasi teknologi.

    Peran serta masyarakat dalam pembangunan riset dan teknologi juga masih minim. Padahal dengan teknologi bisa membantu memberdayakan masyarakat. "Masyarakat belum seluruhnya bisa berpartisipasi, mereka lebih menjadi pengamat atau orang yang lebih tertinggal," ujar dia.

    Karena itu, masyarakat Indonesia diharapkan tidak terlena dengan kondisi industri saat ini yang dikuasasi oleh orang asing. Masyarakat utamanya pengusaha harus mulai membuat inovasi membangun industri nasional seperti halnya India dan China.

    Sumber: JURNAS
    Readmore --> Anggaran Litbang Indonesia Sangat Minim

    Friday, June 3, 2011 | 7:18 PM | 1 Comments

    Analisis : Australia Harus Waspada Dengan Pengadaan Alutsista AS Ke Indonesia

    Canberra (WDN/MIK)- LSM Fitra Indonesia akan memaksa Komisi I DPR RI untuk membeberkan transparansi besarnya anggaran untuk pertahanan dalam kunjungannya selama enam hari ke AS pada bulan mei. Menurut LSM ,rombongan komisi I tersebut melakukan kunjungannya ke AS untuk melakukan negosiasi pengadaan pesawat tempur F-16 A/B dan alutsista dari AS kepada TNI.

    Pengadaan pesawat tempur tersebut sebenarnya tidak masalah, tetapi kunjungan tersebut menandai peristiwa hubungan militer antar kedua negara terus meningkat. Dengan hubungan diplomatik Obama yang dekat dengan Indonesia akan menyebabkan peningkatan pengadaan alutsista dari AS yang menyebabkan ancaman serius bagi Australia.

    Seharusnya Australia tidak terkejut menanggapi meningkatnya Indonesia untuk melakukan pengadaan alutsista AS dengan begitu cepat setelah AS menandatangani bilateral kemitraan komprehensif pada bulan november 2010. Pada tahun 1999 Kongres AS telah melakukan embargo terhadap pengadaan alutsista ke Indonesia yang sekarang AS telah mencabut embargo terhadap Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sejak tahun 2001, AS memberikan bantuan kepada Indonesia untuk kerjasama kontra-terorisme,anti perompakan, tanggap bencana dan penjaga perdamaian PBB.

    Tranformasi demokrasi yang dilakukan Indonesia dan upaya untuk memperbaiki catatan hak asasi manusia yang dilakukan TNI membuat pembaharuan pada tahun 2010 dengan adanya peningkatan hibungan pertahanan AS dengan Kopassus dan ditandai dengan melakukan latgab bersama dengan pasukan AS. Hal ini juga membuka kembali pasar alutsista AS ke Indonesia.

    Dengan semakin meningkatnya kekuatan diplomatik dan ekonomi membuat Indonesia berusahan untuk meningkatkan pengaruh regional dengan melakukan pengadaan alutsista dari AS. Selain itu Indonesia melakukan pengadaan alutsista AS merupakan ujian utama dalam komitmen AS untuk melaksanakan CPA yang menyebabkan TNI AU memiliki kombinasi alutsista dari AS, Inggris, Rusia dan China sebagai langkah awal.

    Indonesia saat ini yang merupakan ketua ASEAN, menyebabkan AS tidak mungkin menahan permintaaan Indonesia yang relatif wajar. AS memiliki alasan tersendiri untuk menjadikan Indonesia sebagai pangsa utama AS. AS sadar peran pentingnya Indonesia dikawasan dan kemampuannya untuk memberikan pengaruh AS di Asia Pasifik. Keberhasilan ekonomi Indonesia, membuat Indonesia sebagai mitra penting AS untuk mengembangkan diplomatik AS di kawasan regional.

    Sebaiknya Australia mempersiapkan diri dengan adanya peningkatan pengadaan alutsista AS ke Indonesia, meskipun pengadaan F-16 A/B bukanlah ancaman serius bagi Australia tetapi muncul pertanyaan apakah AS memilih Australia atau Indonesia untuk menjadi pangsa pasar alutsistanya.

    Dengan terus membina hubungan kerjasama pertahanan antara AS dan Indonesia dapat ditorelir oleh Australia. AS dan Australia ingin Indonesia menjadi lebih kuat dalam rangka untuk melakukan pengamanan dikawasan regional. Namun tidak seperti AS, kedekatan geografis dengan Indonesia membuat Australia harus menerima untuk menjadikan Indonesia kuat dalam kekuatan udara maupun maritim.

    Sumber: Lowyinterprete
    Readmore --> Analisis : Australia Harus Waspada Dengan Pengadaan Alutsista AS Ke Indonesia

    Pemerintah Dianggap Diskriminatif Dalam Pembagian Alutsista Untuk Tiga Jajaran TNI

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI (bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri) asal Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi menilai, pemerintah terkesan diskriminatif dalam pengembangan dan penguatan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) nasional.

    "Dalam kenyataannya porsi belanja (anggaran pertahanan) lebih besar untuk biaya angkatan darat, sementara biaya untuk angkatan laut dan udara lebih kecil, padahal dua pertiga wilayah kita laut," ujarnya di Jakarta, Jumat (3/6/2011).

    Rendahnya keberpihakan pemerintah bukan hanya dari segi anggaran, tetapi juga di bidang regulasi. "Selama ini Indonesia telah memiliki regulasi berupa Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Bahwasanya pertahanan negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan (pasal 3 ayat 2)," ungkapnya.

    Kenyataannya, menurut dia, porsi belanja itu lebih besar untuk biaya angkatan darat. "Sementara biaya untuk angkatan laut dan udara lebih kecil, dengan alasan kedua angkatan terakhir ini membutuhkan biaya dalam jumlah besar untuk pengadaan dan perawatan Alutsista," ujar Fayakhun.

    Padahal, belum lama ini Indonesia mengekspor pesawat CN 235 jenis angkut militer VIP ke negara Senegal Afrika. "Sebelumnya juga mengirimkan pesawat yang sama ke negara Burkina Faso, Afrika Barat," ungkapnya.

    Menyusul kiriman pesawat ke Senegal itu, lanjutnya, Indonesia juga mengirimkan pesawat CN 235 jenis 'Maritime Patrol Aircraft' (MPA) ke 'Korean Coast Guard' pada hari berikutnya. Fayakhun mengatakan, selain jenis pesawat, Indonesia juga mengekspor persenjataan dan peralatan militer lainnya ke sejumlah negara seperti Timor Leste, Korea Selatan dan beberapa negara ASEAN, yaitu Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam).

    "Khusus Timor Leste mendapatkan kredit ekspor (KE) 40 juta dollar dari pemerintah Indonesia untuk pembelian dua kapal patrol cepat ('fast patrol boat')," katanya.

    Dua kenyataan tersebut, menurutnya, membuktikan Indonesia masih dapat berjaya di dunia internasional dengan hasil-hasil produk Alutsista, terutama dari gatra, udara, dan laut. "Dalam pengertian lain, fakta ini juga isyarat bahwa sumberdaya manusia dan mutu produk Indonesia dapat diunggulkan dan bersaing dengan yang dihasilkan oleh negara-negara lain di dunia," tandasnya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Pemerintah Dianggap Diskriminatif Dalam Pembagian Alutsista Untuk Tiga Jajaran TNI

    Indonesia Rancang Kembali Pesawat N250 R dan N-219

    Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) saat ini tengah merancang dua buah pesawat berjenis N250R dan N-219.

    "Pesawat N250R, pesawat dengan kelas 50 penumpang yang mempunyai keunggulan performa lepas landas dan mendarat yang kompetitif serta kenyamanan penumpang pada tempat duduk lapang serta kebisingan yang rendah," ungkap Sekjen Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Heru Dewano, dalam keterangan persnya kepada okezone, Jumat (3/6/3011).

    Heru menambahkan, pesawat tersebut disertifikasi di Indonesia untuk segera memasuki pasar domestik, yang kemudian disertifikasi Federal Aviation Administration (FAA) dan Joint Aviation Authorities (JAA).

    Selain pesawat jenis tersebut, BPPT dan PTDI juga tengah merancang pesawat lain jenis N-219. Pesawat ini dirancang untuk memenuhi tantangan kondisi geografis Indonesia seperti kepulauan, pegunungan dan perbukitan, serta keterbatasan infrastruktur di daerah yang relatif terpencil pada landasan pendek dan minim fasilitas.

    Selanjutnya, dalam memenuhi amanat undang-undang nomor 1 tahun 2009 mengenai pemberdayaan industri dan pengembangan teknologi penerbangan, UU tersebut menyerukan perlu adanya pengembangan standarisasi dan komponen penerbangan dengan menggunakan sebanyak-banyaknya muatan lokal dan alih teknologi.

    Sumber: OKEZONE
    Readmore --> Indonesia Rancang Kembali Pesawat N250 R dan N-219

    Thursday, June 2, 2011 | 11:09 PM | 1 Comments

    Update : TNI AU Akan Membeli Tiga Radar Tambahan Dari Perancis Tahun Ini

    Jakarta - Pemerintah berencana membeli tiga radar tahun ini untuk meningkatkan sistem pertahanan.

    "Radar tersebut akan ditempatkan di Jayapura, Manokwari dan Tual [Maluku Utara]," kata Direktur Kementerian Pertahanan Jenderal Perencanaan Pertahanan Udara Marsekal Bonggas S. Silaen Rabu di Jakarta.

    Antara 2010 dan 2014, TNI AU berencana untuk membeli empat unit radar baru.

    "Pengadaan tiga [radar tambahan] sekitar $ 114 juta dollar," kata Bonggas.

    Dia menambahkan radar tersebut dibeli dari Perancis dan saat ini masih proses produksi.

    Sebagian besar daerah selatan Indonesia tidak memiliki infrastruktur radar, katanya.

    Bonggas menambahkan bahwa saat ini TNI AU masih menggunakan radar di bandara sipil.

    TNI AU saat ini memiliki kurang dari 20 radar, meskipun jumlah ideal 32, ia menambahkan.

    Sumber: TheJakartaPost/WDN/MIK
    Readmore --> Update : TNI AU Akan Membeli Tiga Radar Tambahan Dari Perancis Tahun Ini

    Dephan Mengusulkan Anggaran Pertahanan Sebesar Rp. 80 T Untuk 2012

    Jakarta - Departemen Pertahanan berencana untuk meminta Rp 80 triliun (US $ 8,5 miliar) dalam anggaran pertahanan untuk tahun 2012, Ujar Pejabat Dephan.

    Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Udara Marsekal Bonggas S. Silaen mengatakan pada hari Rabu bahwa pemerintah saat ini mengalokasikan 0,69 persen dari Produk Domestik Bruto untuk pertahanan negara.

    Dia mengatakan tingkat kesiapan untuk persenjataan negara itu rata-rata di bawah 30 persen.

    "Jika anggaran bisa meningkat menjadi antara 1,8 persen dan 2,2 persen dari PDB, kesiapan tersebut dapat diperbaiki antara 80 dan 90 persen," kata Bonggas.

    Dia mengatakan dia berharap anggaran pertahanan yang diproyeksikan untuk dua sampai tiga tahun mendatang akan berada diatas 1 persen dari PDB dan peningkatan secara bertahap dalam 10 tahun mendatang.

    Sumber: KONTAN/WDN/MIK
    Readmore --> Dephan Mengusulkan Anggaran Pertahanan Sebesar Rp. 80 T Untuk 2012

    China Bantah Tuduhan Petinggi Militer Dunia Sebagai Dalangi Pembobolan Gmail

    Jakarta - Pemerintah China membantah keras keterlibatan pemerintah negeri itu dalam serangan meretas layanan surat elektronik milik Google, Gmail. Pernyataan ini keluar sehari setelah Google menyatakan pembobolan kemungkinan dilakukan peretas dari Jinan, China.

    Google menemukan sejumlah akun pejabat senior Amerika Serikat serta ratusan figur penting dibobol peretas. Para korban, termasuk juga petinggi militer, birokrat Asia, aktivis, dan jurnalis. Mereka terperdaya memberikan kata sandi akun Gmail kepada para penjahat dunia maya.

    Seperti dilansir laman International Business Times, Kamis 2 Juni 2011, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, megatakan, pihaknya tidak dapat menerima jika semua kesalahan hanya dialamatkan kepada pemerintahan China.

    "China sendiri telah menjadi korban serangan peretas ini, dan pemerintah telah memberikan perhatian besar pada keamanan dunia maya," ujarnya. "Pernyataan yang menyebutkan bahwa pemerintah China mendukung serangan pembajakan, memiliki motif tersembunyi."

    Di lain pihak, Google mengungkapkan motif para peretas tersebut ingin memantau isi surat elektronik, dengan modus menggunakan kata sandi curian lalu mengubah pengaturan terusan email.

    Salah satu perusahaan internet terbesar di dunia itu mengatakan bahwa serangan invasi berbasis komputer terbaru diarahkan pada berbagai perusahaan Barat. Kantor berita Guardian dari Inggris melaporkan bahwa "Kecanggihan serangan dan sifat mereka yang sangat bertarget, memiliki motif menghilangkan keuntungan finansial langsung."

    Google mengatakan, tidak menutup kemungkinan serangan pembajakan tersebut disponsori satu negara.

    Serangan pembajakan ini muncul ke permukaan sehari setelah pemerintah Amerika Serikat berencana membuat undang-undang yang menyatakan serangan peretas merupakan salah satu bentuk perang.

    Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan bahwa militer siap menggunakan kekerasan dalam menanggapi ancaman peretas. Operasi dunia maya ini baru akan mulai aktif bulan depan.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> China Bantah Tuduhan Petinggi Militer Dunia Sebagai Dalangi Pembobolan Gmail

    Radar IMSS Hibah Dari AS Sudah Terpasang 18 Unit


    Ilustrasi.

    Jakarta - Indonesia yang memiliki wilayah laut luas sudah seharusnya memiliki pasukan tangguh untuk mengamankan wilayah perairannya. Selain itu, perlu pengamanan untuk kapal-kapal yang melakukan perjalanan ke wilayah berbahaya. "Masih dibahas dengan instansi terkait, apakah bergabung dengan komunitas internasional atau ada tim pengawal yang terlibat di dalam kapal,"kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tri Prasodjo di Jakarta, Rabu (1/6).

    Pengamanan ini, kata Kadispenal, butuh perhatian serius karena menyangkut berbagai kepentingan masyarakat dan negara. Dia menambahkan, keamanan laut tidak hanya menyangkut penegakan hukum di laut. "Tujuan lebih luas adalah tercapainya situasi dan kondisi laut yang bebas dari ancaman kekerasan, navigasi, sumberdaya laut, dan ancaman pelanggaran hukum,"katanya.

    Dia juga mengatakan, untuk penanganan dini pengamanan wilayah laut Indonesia perlu penguatan sistem radar. "Hibah IMSS dari amerika sudah dibangun di beberapa titik,"tambahnya.

    Tri mengatakan, Integrated Multi Sensor System (IMSS) yang merupakan hibah AS sudah terpasang sebanyak 18 buah. Selain radar, kata Tri, pengamanan dilakukan dengan melakukan patroli secara rutin. "Perairan penting seperti Selat Malaka kami lakukan patroli bersama dengan Malaysia dan Singapura,"katanya.

    Selain radar, kata Tri, pengamanan dilakukan dengan melakukan patroli secara rutin. "Perairan penting seperti Selat Malaka kami lakukan patroli bersama dengan Malaysia dan Singapura,"katanya.

    Sumber: JURNAS
    Readmore --> Radar IMSS Hibah Dari AS Sudah Terpasang 18 Unit

    Indonesia Masih Jajaki Beli Kapal Selam

    Jakarta - Pemerintah masih menjajaki pembelian kapal selam untuk memonitor wilayah perbatasan laut seperti blok Ambalat. Padahal, Malaysia telah mengonfirmasi pengoperasian dua kapal selam buatan Prancis di perairan mereka pada tahun ini.

    "Pembelian kapal selam masih dijajaki. Belum diputuskan spesifikasi kapal itu dari negara mana. Kami masih menunggu hasil kajian dari TNI AL," ujar Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Marsekal Muda Bonggas S Silaen yang ditemui di kantor Kemenhan, Jakarta, Rabu (1/6).

    Bonggas menambahkan beberapa negara produsen kapal yang ada saat ini antara lain Belanda, Rusia, dan Jerman. Adapun perakitan dua unit kapal perusak rudal saat ini tengah masuk ke dalam proses negosiasi dengan pihak pabrik. Meski begitu, pihak Kemenhan belum mau membuka negara produsen kapal selam itu.

    Dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno mengatakan pembelian kapal selam masih berada dalam proses. Tim evalusi pengadaan dari Pemerintah masih menjajaki pembelian tersebut. Kasal mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir atas rencana 'Negeri Jiran' itu.

    "Sebetulnya rencana pembelian dua kapal selam sudah dari 2004, tapi karena tertunda-tunda, baru tahun ini. Saya kan dulu orang kapal selam, saya dianggap ahlinya. Mudah-mudahan tahun ini terealisasi," ujar Kasal Laksamana TNI Soeparno.

    Secara terpisah, pakar pertahanan Universitas Indonesia Andi Widjajanto mengatakan Indonesia harus merealisasikan pembelian empat kapal selam itu. Selain itu, Pemerintah juga harus mendesak Malaysia untuk tidak melakukan gelaran kapal selam di perbatasan yang memprovokasi.

    Menurut dia, perencanaan strategis (renstra) Malaysia pada tahap kedua yang mencakup gelaran kekuatan maritim memang berpusat di Kalimantan Utara. Hampir bisa dipastikan kapal selam itu akan beroperasi di perairan Filipina, Laut China Selatan, Laut Sulawesi, dan blok Ambalat.

    "Daerah itu ideal untuk menggelar kapal selam karena itu laut dalam. Hampir bisa dipastikan, 90%, manuver-manuver itu akan ada juga di blok Ambalat," ucap Andi.

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Indonesia Masih Jajaki Beli Kapal Selam

    Perusahaan Pelayaran Indonesia Membayar Pasukan Khusus Untuk Mengawal Kapal Mereka

    Jakarta - Perusahaan pelayaran Indonesia membayar US$ 26 Ribu atau sekitar Rp 230 juta pada tentara bayaran dari Sri Lanka untuk mengawal kapal dagang RI saat melewati perairan Somalia. Peranan para pengawal bersenjata ini mutlak diminta perusahaan asuransi pelayaran. Selain itu kehadiran mereka diperlukan untuk menjamin keamanan awak kapal.

    "Biaya itu untuk satu kali pelayaran. Biasanya 20 hari berlayar. Itu untuk 4 orang tentara bayaran," ujar Manager Safety and Nautical PT Arpeni Pratama Ocean Line, Samuel Sampe Lobo dalam pertemuan Masyarakat Maritim dengan TNI AL di Wisma Elang Laut, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (1/6).

    Di Indonesia, memang tidak ada perusahaan yang khusus menyediakan tentara bayaran. Tapi di luar negeri, perusahaan jasa keamanan seperti ini banyak ditemui. Mereka dinamakan PMC atau private military company. PMC merupakan lembaga sipil yang diberi wewenang kerjasama dengan unit-unit militer di dalam negerinya atau bahkan negara lain yang disetujui oleh departemen pertahanan.

    Sebenarnya istilah tentara bayaran bisa dikatakan kurang tepat, karena pengertian tentara bayaran adalah kekuatan atau orang-orang tertentu yang sengaja dibayar untuk bertempur. Sementara PMC ini menyediakan jasa pengawalan bersenjata, menyediakan pelatihan militer, atau membangun fasilitas militer di daerah konflik. Mereka juga bisa diorder untuk mendrop logistik di daerah konflik. Tidak khusus disewa untuk bertempur.

    Pemerintah Amerika Serikat (AS) sering menggunakan jasa mereka secara resmi. Nama-nama PMC yang cukup terkenal di AS adalah Blackwater (sekarang bernama Xe), DynCorp, Military Professional Resources Inc (MPRI), Titan Corporation, dan Vinnell Corporation. Di Inggris ada Erinys International, sementara di Israel ada IPIH dan Levdan.

    Rata-rata para personel kontraktor militer itu diambil dari mantan anggota pasukan khusus. Sebut saja Delta Force, Navy Seal, Ranger, Special Air Service hingga Green Berets. Personel yang pernah bertugas di daerah konflik lebih disukai. Gajinya? Rata-rata mencapai US$ 100 ribu per tahun atau Rp 870 juta per tahun.

    Persenjataannya pun standar pasukan elite. Dijamin, pasukan khusus negara-negara berkembang pun akan iri kalau melihat gudang senjata milik PMC besar semisal Blackwater ini.

    Wajar saja, penugasan mereka pun memiliki resiko tinggi. Namanya saja kontraktor militer, jangan harap mereka akan diorder untuk tugas-tugas yang mudah. Di Afganistan dan Irak, kontraktor militer ini ikut berperan.

    Blackwater misalnya, tahun 2004 lalu, mereka kebagian kontrak dari Departemen Pertahanan AS mengantarkan bahan makanan untuk prajurit AS di Fallujah. Misi mereka tidak selalu mulus. Tanggal 31 Maret 2004, 4 pegawai kontraktor bersenjata ini diserang, mereka dibakar dalam mobilnya. Setelah itu mayat mereka digantung di jembatan Fallujah. Ini disebut salah satu peristiwa paling mengerikan dalam peperangan di Irak.

    Sementara itu DynCorp diorder pemerintah AS untuk memberikan pengawalan pada Presiden Hamid Karzai di Afganistan. Mereka juga memberikan pengawalan pada bersenjata pada diplomat AS yang bepergian ke luar negeri. Saat sedang melakukan pengawalan di Jalur Gaza, 3 personel Dyncorp tewas tahun 2003.

    Mungkin membuat heran, mengapa pemerintah AS sampai mengorder PMC? Masyarakat Indonesia memang terbiasa melihat TNI melakukan semua pekerjaan mulai dari mengawal VIP, membantu bencana alam, membangun fasilitas untuk umum, hingga memberikan penyuluhan soal keluarga berencana. Tapi bagi negara barat, tugas militer di medan konflik hanya bertempur. Mereka tidak mau direpoti oleh hal-hal semisal mengamankan kunjungan anggota dewan ke daerah konflik. Atau mengantarkan peralatan makan dari bandara ke markas mereka. Untuk itulah ada kontraktor militer.

    Kadang kehadiran PMC juga dibutuhkan jika kehadiran militer secara resmi dianggap kurang menguntungkan. Misalnya untuk mendrop dukungan logistik atau persenjataan di Amerika Selatan. Termasuk memberi pelatihan militer pada milisi setempat. Jika yang hadir pasukan resmi AS, tentunya tidak menguntungkan secara politis dan diplomatis bagi negara Paman Sam ini.

    Di daerah konflik, aturan umum tidak memperbolehkan mereka menembak kecuali untuk membela diri. Mereka juga wajib diperlakukan sebagai tawanan perang jika tertangkap, asal bisa menunjukkan kartu identitasnya. Hal ini berbeda dengan tentara bayaran yang tidak mempunyai hak untuk diperlakukan sebagai tawanan perang jika tertangkap.

    Tahun 2007 lalu, USA Today melaporkan 990 kontraktor bersenjata asal AS tewas di Irak dan Afganistan. Perbandingannya dengan tentara AS yang tewas adalah 4 berbanding 1. Ini membuktikan resiko pekerjaan mereka sama besarnya dengan gaji yang diterima.

    Namun tidak semua penugasan mereka dilakukan di daerah konflik. Order untuk menjadi bodyguard atau pengawal pribadi pun oke-oke saja.

    Nah, jika berminat dikawal mantan pasukan khusus bersenjata M4 carbine, lengkap dengan rompi antipelurunya, kontak saja agen-agen PMC di atas. Harganya? silakan nego sendiri.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Perusahaan Pelayaran Indonesia Membayar Pasukan Khusus Untuk Mengawal Kapal Mereka

    Wednesday, June 1, 2011 | 4:33 PM | 1 Comments

    Pengawalan Kapal Oleh TNI Jangan Disalah Artikan Bisnis TNI

    Jakarta - TNI AL siap melakukan pengawalan pada kapal-kapal dagang RI yang melewati Somalia. Pengawalan ini diakui bukan sebagai bagian bisnis TNI.

    "Ini jangan dipandang sebagai bisnis TNI," ujar Kadispen TNI AL, Laksamana Pertama Tri Prasodjo pada wartawan di Wisma Elang Laut, Jl Dipomegoro, Jakarta Pusat, Rabu (1/6/2011).

    Menurut Tri, jika nanti TNI AL jadi dilibatkan untuk mengawal kapal-kapal dagang, maka uang yang dibayarkan perusahaan akan masuk ke kas negara. Hal ini diperbolehkan sebagai pendapatan negara di luar pajak.

    "Jadi dijamin nanti tidak akan memperkaya kantong per kantong. Uangnya akan masuk ke kas negara sebagai pendapatan negara bukan pajak," tegasnya.

    Tri pun berharap uang hasil pengawalan itu bisa kembali untuk memperkuat institusi TNI AL. Tentunya setelah pendapatan negara itu masuk ke dalam APBN.

    "Tentunya karena kita yang melakukan, dari APBN berharap bisa kembali lagi," jelasnya.

    Menurut Tri saat ini pemerintah dan TNI AL masih merumuskan kebijakan untuk pengawalan ini. "Kita terus meminta masukan terutama dari pengguna pelayaran," tutupnya.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Pengawalan Kapal Oleh TNI Jangan Disalah Artikan Bisnis TNI

    Kesiapan Alutsista Yang Dimiliki TNI Tak Sampai 50 Persen


    Kesiapan Alutsista TNI AL Hanya Sekitar 30%.

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) menilai kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki oleh TNI masih di bawah rata-rata 50 persen.

    "Jumlah dan kualitas alutsista yang ada masih minim, baik dari segi umur maupun teknologi," kata Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan, Marsda TNI Bonggas S Silaen, saat jumpa pers di Kemhan, Jakarta, Rabu.

    Menurut dia, persenjataan yang dimiliki TNI saat ini rata-rata berusia 25-40 tahun dengan kesiapan persenjataan untuk TNI Angkatan Darat sekitar 35 persen, TNI Angkatan Laut sekitar 30 persen dan TNI Angkatan Udara sekitar 30 persen.

    "Itu merupakan persiapan persenjataan tahun 2005, namun saat ini naik tidak tinggi. Kesiapan persenjataan disebabkan oleh kurangnya anggaran," katanya.

    Bonggas mengatakan, anggaran yang diberikan pemerintah kepada Kemhan yang kemudian dibagikan kepada empat unit organisasi, yakni Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Kemhan sendiri sejak tahun 2006 terus mengalami peningkatan hingga saat ini.

    Dijelaskan oleh Bonggas, pada tahun 2006 anggaran yang didapat oleh Kemhan sebesar Rp28 triliun, 2007 sebesar Rp32,6 triliun, 2008 sebesar Rp32,8 triliun, 2009 sebesar Rp33,6 triliun dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan yang signifikan hingga mencapai Rp42,8 triliun. Sementara tahun 2011 ini mencapai Rp47,4 triliun.

    Namun, lanjut dia, anggaran yang diberikan oleh pemerintah itu lebih banyak digunakan untuk belanja pegawai, sementara untuk belanja modal atau pembelian alutsista tidak terlalu tinggi.

    Untuk menghadapi tantangan tugas pertahanan, pembangunan pertahanan yang diprioritaskan kepada pembangunan kekuatan dan profesionalisme prajurit dengan ketersediaan alutsista, maka ia berharap proyeksi anggaran pertahanan dalam tiga tahun ke depan bisa berada di rasio 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    "Alokasi anggaran pertahanan saat ini masih 0,69 persen dari PDB," katanya.

    Ia menambahkan, bila kebutuhan anggaran pertahanan diproyeksikan minimal 2 persen dari PDB dalam 15-20 tahun, maka kesiapan alutsista yang dimiliki oleh TNI bisa mencapai 70 hingga 90 persen.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Kesiapan Alutsista Yang Dimiliki TNI Tak Sampai 50 Persen

    TNI AU Kekurangan Radar Pantau Pesawat Asing

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyebutkan, TNI Angkatan Udara masih kekurangan radar untuk memonitor pesawat-pesawat yang masuk ke wilayah Indonesia.

    "Saat ini jumlah radar yang telah dimiliki baru mencapai 21 unit, sementara idealnya untuk menjaga wilayah Indonesia kita butuh 42 unit," kata Dirjen Perencanaan Pertahanan (Renhan) Kemhan, Marsda TNI Bonggas S Silaen, saat jumpa pers di Kemhan, Jakarta, Rabu.

    Menurut Bonggas, untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan sudah cukup memadai, sementara untuk wilayah selatan seperti Sulawesi hingga Papua masih kurang untuk ketersediaan radar.

    Saat ini, lanjut dia, Kemhan terus menyiapkan pengadaan radar untuk melakukan pemantauan wilayah-wilayah Indonesia yang sangat luas ini.

    "Pada tahun ini, Kemhan akan menyediakan sekitar empat unit radar untuk ditempatkan di empat lokasi, antara lain, Jayapura, Manokwari, dan Tual (Maluku Tenggara)," paparnya.

    Bonggas memaparkan untuk menyediakan satu unit radar dibutuhkan biaya yang cukup besar, yakni sekitar 30 juta dolar Amerika, setara dengan Rp255 miliar.

    "Untuk empat unit radar ini, disiapkan dana sekitar 114 juta dolar Amerika. Jadi, harga satu unit radar sekitar 30 juta dollar Amerika," tuturnya.

    Ia menambahkan untuk mengatasi kekurangan radar dalam melakukan pengawasan udara, maka TNI AU bekerjasama dengan penerbangan sipil.

    "Jatuhnya sebuah pesawat yang ditemukan beberapa waktu lalu merupakan hasil kerja sama dengan penerbangan sipil," ucap Bonggas S Silaen.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI AU Kekurangan Radar Pantau Pesawat Asing

    TNI AL Siapkan Dua Opsi Pengawalan Untuk Mengatasi Perompakan

    Jakarta - TNI AL menyiapkan dua opsi pengawalan untuk kapal-kapal dagang RI yang melewati laut Arab dan Somalia. Bergabung dengan task forces di perairan Somalia atau menempatkan personel TNI di kapal-kapal dagang RI

    "Yang paling penting adalah menjamin keselamatan," ujar Kepala Staf TNI AL, Laksamana Soeparno di sela-sela pertemuan dengan masyarakat maritim di Wisma Elang Laut, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (1/6/2011).

    Soeparno menambahkan, pihaknya siap untuk melakukan dua opsi ini. Menurutnya masalah ini masih dibahas di Mabes TNI.

    "Butuh izin dari Panglima sampai presiden untuk ini," terangnya.

    Tatap muka antara TNI AL dan masyarakat Maritim ini dilakukan untuk memberikan gambaran pentingnya keselamatan bagi kapal-kapan niaga saat melakukan pelayaran. Harapannya, tidak ada lagi kapal RI yang dibajak seperti kapal MV Sinar Kudus.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> TNI AL Siapkan Dua Opsi Pengawalan Untuk Mengatasi Perompakan

    Kementerian Pertahanan Incar Rp 9 Triliun Lagi Untuk Memodernisasi Alutsista

    Jakarta - Kementerian Pertahanan mengincar tambahan alokasi Rp 9 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun ini. Dana itu dibutuhkan untuk memenuhi persenjataan minimum, atau kerap disebut minimum essential forces.

    "Untuk minimum essential forces tahun ini kami memerlukan Rp 11 triliun, tapi baru diberikan Rp 2 triliun, mudah-mudahan Rp 9 triliun bisa didapat dari APBN-P," kata Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Marsekal Muda Bonggas S. Silaen di Kementerian Pertahanan, Rabu, 1 Juni 2011.

    Tahun ini, Kementerian Pertahanan telah mendapat kucuran dana Rp 47,5 triliun dalam anggaran negara. Namun, jumlah itu masih kurang, apalagi pemerintah punya rencana mempercepat pemenuhan persenjataan minimum.

    Menurut Bonggas, kondisi peralatan pertahanan yang kini ada masih jauh dari ideal, dari sisi jumlah maupun kualitasnya. Mayoritas persenjataan berusia uzur, 25 tahun hingga 40 tahun. Sistem persenjataan darat di awal 2005 tingkat kesiapan rata-ratanya di bawah 35 persen, senjata udara 30 persen, dan persenjataan laut malah di bawah 30 persen.

    Kementerian Pertahanan sudah menghemat dan menetapkan sistem rekrutmen tanpa pertumbuhan. Artinya, jumlah personel yang pensiun tiap tahun sama dengan jumlah orang yang direkrut. "Kami beranggapan untuk lima tahun ke depan komposisi personel sudah cukup memadai," kata Bonggas.

    Belum lagi tantangan di sektor pertahanan yang kini makin kompleks. Bukan saja keutuhan wilayah yang harus dijaga, tapi juga perlu upaya ekstra untuk mencegah terorisme dan menanggulangi bencana, yang lazimnya dilakukan pula oleh tentara.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Kementerian Pertahanan Incar Rp 9 Triliun Lagi Untuk Memodernisasi Alutsista

    Helikopter TNI AL Mendarat Darurat Di Tegal

    Slawi - Dua helikopter milik TNI Angkatan Laut (AL) terpaksa melakukan pendaratan darurat di Lapangan Maribaya, Kabupaten Tegal,kemarin. Helikopter Bolkow bernomor penerbangan NV-410 dan NV-412 itu berangkat dari Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) Jakarta untuk menuju Pusat Penerbangan AL (Pusnerbal) Surabaya.

    Namun di tengah perjalanan, diduga salah satu helikopter mengalami kerusakan mesin sehingga terpaksa mendarat darurat. Sontak warga sekitar dan para pengguna jalan geger lantaran ingin melihat dari jarak dekat. Menurut salah satu warga Maribaya, Solikin, 60, helikopter yang mendarat di lapangan desa itu baru kali pertama terjadi.

    Dia menduga helikopter itu mengalami kerusakan, sehingga melakukan pendaratan darurat. ”Kami pikir pesawatnya (helikopter) rusak,” ungkapnya. Setelah mendarat selama setengah jam,pesawat helikopter NV-410 kembali lepas landas. Di lapangan yang biasa dipakai bermain sepak bola warga kampung itu, ratusan warga tampak mengerumuni sebuah helikopter dengan nomor lambung NV-412 yang masih diperbaiki oleh tim teknisi dan dikelilingi police line.

    ”Lumayan dapat tontonan gratis,” ungkap Mahmud, 39, warga setempat sambil mengabadikan gambar helikopter melalui kamera ponselnya. Sejumlah petugas Pangkalan AL Tegal tampak berjaga- jaga di sekitar helikopter yang dikemudikan oleh Pilot Kapten Laut (P) Mursidi.

    Komandan Pangkalan AL (Danlanal) Tegal Friche Flack mengatakan, pendaratan darurat helikopter tersebut merupakan bagian dari latihan pendaratan TNI AL. ”Kami saja tidak tahu kalau akan ada helikopter yang mendarat di Maribaya,” katanya di Lapangan Maribaya. Dia menjelaskan bahwa helikopter NV-412 itu merupakan salah satu heli yang turut serta dalam pembebasan KM Sinar Kudus yang disandera di Somalia.

    Sumber: SEPUTAR INDONESIA
    Readmore --> Helikopter TNI AL Mendarat Darurat Di Tegal

    Tuesday, May 31, 2011 | 8:30 PM | 0 Comments

    Kasal : Kapal Selam Nanggala Akan Tiba Januari Tahun Depan

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan, pemeliharaan menyeluruh kapal selam KRI Nanggala-402 di Korea Selatan segera usai.

    "Diperkirakan Januari tahun depan tiba di Indonesia," katanya, menjawab ANTARA seusai membuka Pekan Olahraga TNI Angkatan Laut 2011 di Jakarta, Selasa.

    KRI Nanggala-402 menjalani perbaikan dan perawatan total di perusahaan galangan kapal "Marine Engineering Co Ltd" (DSME) dari Korea Selatan.

    Pemeliharaan total itu bertujuan meningkatkan kemampuan tempur kapal selam tersebut untuk mendukung kekuatan pemukul TNI Angkatan Laut.

    KRI Nanggala diberangkatkan ke Korea Selatan pada Desember 2009 dan langsung menjalani pemeliharaan total untuk dapat memulihkan kekuatannya hingga 90 persen.

    Sebelumnya, TNI Angkatan Laut telah meng-"overhaul" kapal selam KRI Cakra-401 di "Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd" (DSME).

    KRI Cakra telah diganti perangkat teknologinya dari buatan 1970-an dengan teknologi 1990-an.

    "Ya diharapkan segera selesai," katanya menegaskan.

    Kedua kapal selama TNI Angkatan Laut itu merupakan buatan Jerman tipe U-209.

    Tentang proses pengadaan dua kapal selam baru, Soeparno mengatakan masih dalam proses dengan Kementerian Pertahanan.

    Sumber: YAHOO
    Readmore --> Kasal : Kapal Selam Nanggala Akan Tiba Januari Tahun Depan

    Pengamat RSIS : Analisis Efek Dari Rudal Yakhont Milik Indonesia Di Asean

    Rudal Yakhont Diluncurkan dari KRI Oswald Siahaan.

    Singapura (WDN/MIK) - Indonesia baru-baru ini menguji coba rudal yakhont oleh angkatan lautnya, hal ini menandai babak baru dalam kemampuan angkatan laut di Asia Tenggara. Rudal yakhont berpotensi mengubah persaingan di kawasan tersebut.

    Pada 20 april 2011, TNI AL melakukan uji coba rudal yakhont buatan Rusia oleh KRI Oswald Siahaan di samudra Hindia. Menurut TNI AL, rudal tersebut menempuh jarak 250 Km hanya membutuhkan waktu 6 menit untuk mencapai target. Peluncuran ini menandai kemampuan signifikan dalam persaingan angkatan laut di Asia Tenggara.

    Sebuah Kesetidak seimbangan senjata angkatan laut?

    Menurut David Mussington dan John Sislin dalam sebuah laporan Review Intelijen Jane pada tahun 1995, senjata yang dapat dianggap mengganggu stabilitas di kawasan yaitu memiliki semua atau beberapa dari enam karakteristik berikut:

    1. Mengakibatkan persaingan terlalu dini.
    2. Memberikan suatu negara 'terobosan dalam kemampuan militernya'
    3. Menyebabkan memperluas jangkauan target.
    4. Tindakan pencegahan yang efektif tanpa melakukan izin kedua negara.
    5. Memberikan efek penggetar mengenai persiapan militer.
    6. Menciptakan permusuhan.

    Berdasarkan beberapa kriteria, rudal Yakhont bisa dianggap sebagai ketidak seimbangan persaingan persenjataan di kawasan.

    Pertama, Yakhont bisa meluncur di ketinggian 5-15 meter di atas permukaan laut. Memiliki kemampuan 2,5 kali kecepatan suara sehingga mengurangi waktu peringatan untuk kapal yang terkena target, terutama kapal perang yang belum dilengkapi untuk peringatan dini. Memang benar bahwa angkatan laut Asia Tenggara semakin lebih baik dilengkapi dengan sensor modern untuk memberikan peringatan dini dari peluncuran rudal yang akan datang dan untuk melacak rudal subsonik diatas permukaaan laut. Namun profil penerbangan Yakhont itu unik karena memiliki kemampuan mendeteksi sensor yang lebih canggih untuk melakukan target kapal perang musuh.

    Kedua, meskipun Vietnam telah menggunakan Yakhont di angkatan lautnya, yaitu varian 'Bastion' untuk pertahanan pantai yang digunakan untuk mempertahanankan diri.

    Namun, ketika dipasang pada sebuah kapal perang yang pada dasarnya adalah sebuah platform yang sangat mobile, menyebabkan Yakhont itu dapat diluncurkan diluar daerah pertahanan pantai suatu negara.

    Sebelum yakhont dilahirkan, rudal anti kapal seperti Exocet buatan Barat dan Harpoon serta Styx buatan Rusia. Rudal-rudal tersebut sudah dipasang di kapal kapal perang Asia Tenggara yang memiliki jangkauan 200 Km.

    Sebaliknya, Yakhont memiliki jangkauan maksimum 300 kilometer ketika diluncurkan dengan kecepatan tinggi, dan kecepatan maksimum 2,5 Mach.
    Negara-negara diluar Asia Tenggara seperti di Pasifik Barat negara yang memiliki kemampuan setara yaitu Cina dengan kapal perang yang memiliki rudal Sunburn, dan Taiwan yang baru-baru ini telah memasang rudal Hsiung Feng III di atas kapal kapal perang tersebut.

    Ketiga, kemampuan rudal Yakhont juga tidak mungkin dilakukan tindakan pencegahan yang efektif bagi sebagian besar angkatan laut Asia Tenggara. Hanya angkatan laut Malaysia, Singapura dan Thailand memiliki kapal berkemampuan rudal anti-rudal modern (AMM). Malaysia memiliki dua frigat bersenjata dengan AMM Seawolf dan empat korvet dengan Aspide, sedangkan Singapura memiliki enam frigat bersenjata dengan AMM Aster dan enam korvet dengan-Barak 1. Thailand memiliki dua frigat dilengkapi dengan sistem Sea Sparrow dan dua korvet dengan Aspide.

    Tetapi dengan Rudal Yakhont merupakan mimpi buruk bagi angkatan laut di Asia Tenggara, karena kapal perang mereka hanya dilengkapi dengan rudal groud to air yang hanya efektif untuk target yang bergerak lambat sehingga sulit mencegah rudal tersebut.

    Berikutnya persaingan apa yang terjadi di Asia Tenggara?

    Selain masuknya rudal yakhont dalam arsenal senjata TNI AL, di kawasan Asia Tenggara terjadi persaingan pengadaan kapal selam yaitu Malaysia dengan kapal selam Scorpene dan Singapura dengan kapal selam Vastergotland yang memiliki kemampuan AIP. Hal ini memicu persaingan kapal selam di kawasan Asia Tenggara.

    Rudal Yakhont TNI AL yang miliki kemampuan lebih unggul atas rudal anti-kapal di kapal perang di kawasan Asia Tenggara.

    Sehingga rudal yakhont juga ditunjukan untuk mempertahankan wilayah-wilayah yang masih disengketakan antara Indonesia dan Malaysia.

    Dengan adanya rudal yakhont bisa menyebabkan reaksi dari angkatan laut di Asia tenggara untuk mengambil langkah-langkah pencegahan, terutama bagi angkatan laut negara-negara yang pulih dari krisis yang memicu untuk melakukan program modernisasi angkatan laut mereka, dengan alasan untuk menyetarakan kemampuan alutsista dengan Indonesia. Di pasar senjata internasional, senjata-senjata tersebut relatif mudah ditemukan karena rudal-rudal anti kapal banyak dijual oleh Rusia dan India yaitu Sunburn dan Brahmos. Sebelumnya India juga menawarkan Brahmos ke Indonesia tetapi Indonesia menolak tawaran tersebut karena lebih memilih Yakhont buatan Rusia.

    Kemudian reaksi kedua yaitu melakukan peningkatan kemampuan pencegahan dengan cara melakukan pengadaan Barak, Seawolf dan sistem Aster AMM untuk menetralisir ancaman rudal yakhont yang dimiliki Indonesia walaupun bersifat untuk mempertahankan diri.

    Kemudian reaksi ketiga dengan kapal perang yang dilengkapi dengan sistem AMM anti kapal sehingga bisa mengurangi ancaman dari rudal tersebut.

    Mengurangi ketegangan dari "Efek Yakhont"

    Apapun bentuknya, reaksi ketegangan yang dilakukan rudal Yakhont akan meningkatkan persaingan senjata dalam kawasan regional khususnya angkatan laut. Rudal Yakhont berpotensi mengganggu keseimbangan angkatan laut di Asia tenggara, meskipun Indonesia nyatakan bahwa rudal tersebut hanya dipasang sebatas kapal perang kelas frigat milik TNI AL.

    Wilayah ini mungkin memerlukan kepercayaan antar lembaga-lembaga angkatan laut di ASEAN untuk membangun mekanisme untuk mencegah atau mengurangi persaingan senjata yang dilakukan angkatan laut ASEAN. Tapi mungkin sudah saatnya negara-negara di ASEAN untuk mengontrol angkatan laut mereka yang bertujuan untuk meningkatkan transparasi dan membantu untuk memastikan bahwa pengadaaan alutsista angkatan laut di ASEAN tidak lepas kendali.

    Sumber: Eurasia Review/MIK/WDN
    Readmore --> Pengamat RSIS : Analisis Efek Dari Rudal Yakhont Milik Indonesia Di Asean

    TNI AL Minta US Navy Tingkatkan Materi Latihan

    Jakarta - TNI Angkatan Laut meminta Angkatan Laut Amerika Serikat untuk meningkatkan materi latihan bersama kedua pihak, sesuai dengan pola dan tingkat ancaman yang dihadapi di masa datang, terutama menyangkut keamanan maritim.

    Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno menjawab ANTARA di Jakarta, Selasa mengatakan, peningkatan materi antara lain menyangkut pertempuran antarkapal atas permukaan, kapal selam dan logistik.

    Ditemui usai membuka pekan olahraga TNI Angkatan Laut, ia mengatakan penambahan materi latihan itu penting untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan prajurit TNI Angkatan Laut di segala lini.

    "Angkatan Laut AS kan memiliki kelebihan di lini-lini tertentu, dan kami minta itu untuk diajarkan pada latihan-latihan bersama kedua pihak di masa datang," tutur Soeparno.

    Selama ini, TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut AS rutin melakukan latihan bersama dengan tajuk "Cooperation Afloat Readiness and Training" atau CARAT.

    Pada 2011 latihan dipusatkan di Laut Jawa untuk manuver lapangan, dan di beberapa titik di Jakarta dan sekitarnya untuk kegiatan di darat.

    Untuk kegiatan di darat, terdiri atas program pertukaran bidang keteknikan dan pengendalian kerusakan, bakti sosial pelayanan medis umum dan gigi.

    Sedangkan kegiatan di laut meliputi pengembangan kemampuan maritim dalam hal pengamanan maritim, pertukaran informasi, operasi laut gabungan, latihan patroli dan penggunaan meriam, serta latihan anti-perompakan dan anti-penyelundupan.

    Tentang tanggapan Angkatan Laut AS, atas permintaan TNI-AL tersebut, Kasal mengatakan,"mereka sangat setuju dan siap dilaksanakan pada latihan tahun depan. Bahkan mereka akan mengikutsertakan satu kapal selam mereka,".

    Pada latihan bersama "CARAT 2011" tercatat sekitar 1.600 personel Angkatan Laut AS dan Korps Marinir AS dilibatkan.

    Kapal perang AS yang mengikuti latihan tersebut kapal pendaratan USS Tortuga (LSD 46), kapal penghancur berpeluru kendali USS Howard (DDG 83), serta kapal frigat USS Reuben James (FFG 57).

    Selain itu, ada peserta tambahan seperti pasukan pendaratan amfibi Marinir, pasukan U.S. Navy Seabees, P-3C Orion, serta helikopter SH-60 Seahawk.

    Sementara itu TNI AL mengerahkan empat kapal perang, tiga helikopter dan lima sekoci pendarat.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI AL Minta US Navy Tingkatkan Materi Latihan

    RUU Industri Strategis Pertahanan : BUMN Bisa Kerjasama Dengan Negara Lain

    Jakarta - Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Industri Strategis untuk Pertahanan memperbolehkan badan usaha milik negara (BUMN) untuk kerja sama dengan negara lain. Langkah ini diharapkan bisa mendorong penghematan anggaran industri strategis. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, sebaiknya pemerintah menjalin kerja sama investasi dengan negara lain sebagai salah satu cara menekan biaya. Apalagi sekarang ini telah terjalin kesepakatan kolaborasi industri pertahanan antarnegara ASEAN.

    Menurut dia,model kerja sama dengan negara lain juga akan didukung undang-undang. “Di situ nanti,negara artinya pemerintah yang dalam hal ini BUMN, boleh bekerja sama dengan negara lain.Tentu dengan memerhatikan kepentingan RI,”ujarnya. Industri strategis nasional diakui berbagai kalangan memerlukan dukungan keuangan dan modal kerja yang tidak sedikit.Aspek ini bahkan menjadi salah satu kendala serius. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pun pernah menyatakan, butuh dana triliunan rupiah untuk menyehatkan perusahaan yang memproduksi alutsista seperti PT Dirgantara Indonesia dan PT PAL.

    Di dalam revitalisasi industri strategis nasional, sesuai RUU itu, ujung tombaknya adalah Komite Kebijakan Industri Strategis Pertahanan (KKIP). Mereka harus merumuskan dan mengevaluasi kebijakan mengenai masalah ini. Pakar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menuturkan, bentuk kolaborasi antarnegara ASEAN sebenarnya pernah dilakukan dalam produksi pupuk yang dipusatkan di Aceh.

    Kolaborasi itu bermodel investasi bersama untuk mendirikan sebuah perusahaan, namun upaya itu gagal. Karena itu, dia menyarankan agar model kerja sama seperti itu tidak diulangi dalam industri pertahanan. Apalagi masing-masing negara memiliki kebijakan yang berbeda dalam isu ini.“Sinergi saja untuk saling melengkapi. Tinggal diidentifikasi apa saja yang dibutuhkan,” ungkapnya. Menurut dia, tiap negara mestinya mampu memproduksi alutsista sendiri agar tidak mengalami ketergantungan terhadap negara lain.

    Sumber: SEPUTAR INDONESIA
    Readmore --> RUU Industri Strategis Pertahanan : BUMN Bisa Kerjasama Dengan Negara Lain

    Monday, May 30, 2011 | 8:03 PM | 0 Comments

    Bakorkamla : Setiap Patroli Udara Harus Senyap

    Medan - Kalakhar Bakorkamla RI, Laksdya Didik Heru Purnomo, mengatakan seandainya saja tidak ada patroli udara yang dilakukan, bisa jadi kapal patroli Malaysia masuk ke wilayah teritorial Indonesia.

    Untuk itu dijelaskannya, setiap menjalankan patroli harus tidak ada yang mengetahui agar setiap kapal yang masuk bisa diketahui.

    Sebelumnya, sekitar dua jam terbang di atas ketinggian kurang lebih 500 kaki sampai 700 kaki melintasi dan memantau Selat Malaka bersama jenderal bintang tiga tersebut, sangat terlihat jelas bahwa kapal patroli Malaysia melakukan provokasi.

    Awalnya, kapal berwarna dominan putih tersebut berlayar lurus, karena menangkap radar pesawat, tiba-tiba kapal tadi berbalik arah sebelah kiri dan langsung menghindar.

    "Itu membuktikan dia jenderal pintar. Dia mengintruksikan jangan menuju ke bawah dekat kapal Malaysia. Jika itu dilakukan, bisa pesawat Indonesia yang dituduh melakukan provokasi," ujar Konsultan Bakorkamla Putut Wijanarko, memuji Laksdya Didik Heru Purnomo, Senin (30/5/2011).

    Semantara itu, Kepala Seksi Pengawasan SOKP Belawan Mukhtar A.Pi, yang ikut pada patroli perbatasan menggunakan pesawat menjelaskan biasanya dominan kapal Malaysia yang masuk ke wilayah Indonesia berbentuk kapal-kapal besar.

    Kapal yang menggunakan jangkar-jangkar besar itu biasanya berlayar di kawasan Selat Malaka selama berhari-hari.

    "Tangkapan mereka bisa mencapai 10 ton lebih. Itu tergantung lama tidaknya mereka berlayar. Kalau untuk patroli sendiri, kapal-kapal Malaysia biasanya tertangkap berjarak satu sampai dua hari saja. Tidak pernah lama mereka di laut lepas sudah kita tangkap," ujarnya.

    Patroli Udara Tak Temukan Kapal Malaysia

    Di sela-sela penerbangan Laksdya Didik Heru Purnomo, menjelaskan bahwa patroli hari itu tidak beruntung. Pasalnya, tidak banyak ditemui kapal Malaysia.

    Hanya saja, dari pantauan di lapangan, di laut lepas milik Indonesia terdapat banyak kotoran berupa serpihan-serpihan kayu. Limbah kayu tadi, terlihat seperti bercak-bercak yang menyelimuti lautan berwarna biru.

    Hal itu dibenarkan Kepala Seksi Pengawasan SOKP Belawan Mukhtar A.Pi. Biasanya ada saja para pemilik pabrik yang nakal atau bisa jadi tidak sengaja limbahnya terjatuh ke lautan. Hal itu menyebabkan, laut menjadi kotor. "Kurang beruntung kita hari ini, sepi kapal Malaysia," ujar Laksdya Didik Heru Purnomo, Senin (30/5/2011).

    Ributnya dan goncangan yang membuat mual perut tak kala berada dalam pesawat Cassa TNI AL, akhirnya berakhir tak kala pesawat perlahan turun. Sesampainya tiba di Bandara Polonia, rombongan langsung dijemput oleh Pomal untuk menuju ke Hotel Grand Angkasa, melakukan seminar kembali.

    Sumber: TRIBUN
    Readmore --> Bakorkamla : Setiap Patroli Udara Harus Senyap

    Uni Emirat Arab Berniat Kembali Membeli Pesawat T-50 Golden Eagle

    T-50 Setelah Melakukan Demo Di UEA pada tahun 2009.

    Seoul (WDN/MIK) - Meskipun T-50 Golden Eagle kalah dalam pengadaan pesawat latih untuk UEA pada tahun 2009, tetapi Korsel masih memiliki kesempatan untuk melakukan negosiasi untuk mengekspor ke negara timur tengah tersebut, kata pejabat UEA yang bertanggung jawab dalam kedirgantaraan negara-negara arab.

    Menurut pernyataan oleh Homaid Al Shemmari, direktur eksekutif senior Mubadala Aerospace, kedatangan Korsel ke UEA dengan suasana yang optimis karena telah berhasil mengekspor pesawat tersebut ke Indonesia pekan lalu dan untuk pertama kalinya UEA membuka kembali untuk melakukan pembicaraan atas penjualan T-50.

    Al Shemmari dan para rombongannny mengunjungi Korsel untuk melakukan investasi di Korsel.

    Pada waktu tahun 2009 pihak UEA telah memilih M-346 sebagai pemenang tender pengadaan 48 pesawat latih yang menyingkirkan T-50.

    "saya yakin dalam dialog yang sedang berlangsung yaitu melakukan pembahasan pengadaan pesawat latih dengan Korsel karena T-50 merupakan kandidat yang cocok untuk memenuhi kebutuhan pesawat latih UEA", Ujarnya.

    Al Shemmari adalah seorang letnan kolonel di angkatan bersenjata UEA sebelum bergabung di Mubadala. Ia telah menolak untuk melakukan status pengadaaan pesawat latih dari Italia, karena adanya perselisihan tentang spesifikasi yang dilakukan oleh pemerintah UEA.

    Namun demikian UEA dan Italia belum mengumumkan kegagalan dalam negosiasi mereka.

    Selain itu Al Shemmari menambahkan pemeritahnya pernah melihat peluang untuk melakukan investasi dengan KAI untuk program kerjasama industri pada tahun 2008 namun UEA memutuskan untuk tidak mengikuti studi kelayakan.

    "Kami melihat perlunya penanganan serius UEA dalam mengembangkan industri kedirgantaraannya, tapi itu merupakan keputusan yang sulit", ujarnya.

    Sehari setelah melakukan dengan kontrak T-50 Indonesia pada 25 mei, KAI menerima persetujuan dari pasar bursa Korsel untuk meluarkan initial public offering (IPO) sebesar 576 milyar won ($523 juta).

    Korea Finance Corp memiliki saham sebesar 30,5 persen saham KAI dan tiga pemegang saham utama yaitu Samsung Techwin, Doosan Infracore dan Hyundai Motor yang masing-masing memegang saham sebesar 20,5 persen saham KAI.

    Sumber: KOREA TIMES/WDN/MIK
    Readmore --> Uni Emirat Arab Berniat Kembali Membeli Pesawat T-50 Golden Eagle

    Indonesia Dan Turki Melakukan Kerjasama Pembuatan Tank

    Ilustrasi.

    Jakarta - Indonesia dan Turki tengah menjajaki kerja sama pembuatan tank kelas ringan (light tank). Kerja sama itu masih dijajaki di tingkat perusahaan atau produsen (business to business), sebelum meningkat pada kerja sama dua pemerintahan (G to G). Saat ini penjajakan dilakukan oleh PT Pindad dengan FNSS Defence Systems Co., produsen alat pertahanan dari Turki.

    Tank ringan yang akan diproduksi bersama ini memiliki bobot sekitar 13-14 ton dan akan dilengkapi meriam kaliber 90-105 milimeter. "Tank jenis ini untuk memenuhi kebutuhan pasukan kavaleri TNI Angkatan Darat," kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Susilo, kepada Tempo di kantornya, akhir pekan lalu.

    Kerja sama ini merupakan tindak lanjut kesepakatan kerja sama Pemerintah RI dan Turki saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke negara itu, Juni tahun lalu. Kesepakatan tersebut lebih dimatangkan lagi saat Presiden Turki Abdullah Gul melakukan kunjungan balasan ke Jakarta, April 2011 lalu. "Kerja sama industri pertahanan dengan Turki saat ini sudah makin mengerucut," ujar Susilo.

    Produsen dari Turki, FNSS, bahkan sudah mengirimkan prototipe tank ringan itu untuk dijajal oleh TNI AD dan PT Pindad. "Tapi, tank yang akan dibuat nanti spesifikasinya akan diajukan oleh TNI AD," kata dia. "Mereka (Pindad dan FNSS) sudah menandatangani MoU (kesepakatan kerja sama)," kata dia.

    Kerja sama industri pertahanan dengan Turki ini dilakukan karena negara tersebut bisa memahami kepentingan Indonesia. Seperti diketahui, saat ini pemerintah tengah menggalakkan pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Karena itu, kerja sama industri pertahanan dengan luar negeri diprioritaskan pada negara-negara yang bisa memberikan transfer teknologi dan bersedia melakukan kerja sama produksi (joint production).

    "Kalau transfer teknologinya besar dan mereka mau joint production, ini yang kami utamakan," kata Susilo. "Jadi, kami mendapatkan banyak benefit (keuntungan), tidak hanya membeli."

    Tank ringan yang akan diproduksi bersama antara Indonesia dan Turki ini bakal memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang cukup besar. "Paling tidak bodinya kami (Indonesia) yang buat," kata dia. Instalasi, perakitan, dan desain juga menjadi porsi Indonesia.

    Sementara engine (mesin) serta rantai tank akan dibuat oleh produsen Turki. "Untuk rantai tank, Indonesia masih belum bisa buat sendiri," ujarnya. Demikian juga mesin. Menurut Susilo, masih belum efisien jika Indonesia membuat mesin tank sendiri. "Kalau engine, masih lebih murah membeli daripada harus membangun pabrik mesin di sini."

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Indonesia Dan Turki Melakukan Kerjasama Pembuatan Tank

    1600 Anggota US Navy Berguru Ke TNI AL

    Pasukan US Navy Melakukan Latihan Tembak.

    Jakarta - Personel personel terbaik Angkatan Laut Amerika Serikat menimba ilmu di Indonesia. TNI Angkatan Laut menjadi tuan rumah dalam latihan rutin yang sudah berlangsung selama dua hari ini.

    "Ini bagian dari kerjasama dua negara yang harmonis," ujar Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul di Jakarta, Minggu (29/05). Latihan bersama itu dinamakan Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) tahunan yang ke-17.

    "Amerika Serikat secara rutin berlatih dengan angkatan laut kita," ujar mantan komandan pangkalan utama TNI AL III ini. Tahap pertama CARAT dilakukan di darat, yaitu program pertukaran bidang keteknikan dan pengendalian kerusakan kapal, bakti sosial pelayanan medis umum dan gigi, serta program pelayanan masyarakat di sekolah-sekolah setempat.

    Tahap selanjutnya dilakukan di atas laut, yaitu mengembangkan kemampuan maritim dalam hal pengamanan maritim, pertukaran informasi, operasi laut gabungan, latihan patroli dan penggunaan meriam, serta latihan anti-perompakan dan anti-penyelundupan.

    Sekitar 1.600 personel angkatan laut AS dan Korps Marinir AS mengikuti CARAT Indonesia 2011. Kapal perang AS yang mengikuti latihan ini adalah kapal pendaratan USS Tortuga (LSD 46), kapal penghancur berpeluru kendali USS Howard (DDG 83), serta kapal frigat USS Reuben James (FFG 57). "

    Di samping itu, ada peserta tambahan seperti pasukan pendaratan amfibi Marinir, pasukan U.S. Navy Seabees, P-3C Orion, serta helikopter SH-60 Seahawk. Pihak Amerika Serikat juga bersemangat dalam latihan ini. "Kami sangat menantikan latihan bersama TNI AL tahun ini," ujar Laksamana Muda Thomas Carney, Komandan Gugus Tugas 73 dan Pejabat Pelaksana latihan ini, dalam keterangan pers yang dikirimkan oleh Kedubes AS ke media.

    Menurut Thomas, TNI-AL memiliki banyak pengalaman dalam operasi anti-perompakan dan patroli di beberapa perairan tersibuk di dunia. "Angkatan Laut AS dan TNI AL telah mengembangkan program pelatihan yang bagus dan kami berharap kedua angkatan laut akan saling belajar satu sama lain selama latihan, terutama di laut," katanya.

    Sumber: JPNN
    Readmore --> 1600 Anggota US Navy Berguru Ke TNI AL

    Latgab TNI AL-US Navy Kurang Maksimal

    Pelaut AS latihan tembak.

    Jakarta - Hasil pelatihan gabungan Indonesia dan Amerika Serikat (AS) berakhir tidak maksimal, Minggu (29/5). Pelatihan Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) ke-17 yang berlangsung 27-29 Mei di perairan Selat Sunda tidak sesuai seperti yang diharapkan karena beberapa agenda latihan dibatalkan.

    Padahal, Komodor (Kolonel) Gugus Pasukan 73.1 US Navy David Welch mengatakan rencana pelatihan sudah dirancang selama beberapa bulan.

    "Mungkin ada beberapa masalah, tetapi yang paling penting adalah pembangunan kerja sama antara TNI AL dan US Navy," ujar Welch pada konferensi pers di kapal perusak (destroyer) USS Howard, perairan Selat Sunda, Minggu (29/5).

    Salah satu masalah terlihat pada pelatihan tembakan kepada target di permukaan Selat Sunda. USS Howard menggunakan senapan mesin ringan kaliber 762, senapan mesin berat (SMB) Browning 50, dan meriam MK25 Chandler. Wartawan-wartawan di kapal USS Howard diperbolehkan merekam para prajurit US Navy menenggelamkan yang terbuat dari sejenis karet raksasa (disebut killer tomato).

    Akan tetapi, pasukan TNI AL di KRI Diponegoro tidak mengizinkan latihan penembakan itu diliput atau direkam. Menurut sumber Media Indonesia, senapan TNI AL sempat mengalami kesulitan teknis saat upaya penembakan.

    Berdasarkan pantauan Media Indonesia, rencana pelatihan pendaratan amfibi antara US Marine Corps dan Korp Marinir TNI AL di pesisir pantai Lampung dibatalkan. Welch tidak menjelaskan alasan pembatalan tersebut. Ia hanya mengatakan latihan pendaratan amfibi itu akan kembali diupayakan pada CARAT ke-18.

    Latihan gabungan antara TNI-AL dan US Navy juga mencakup latihan manuver bersama antara KRI Imam Bonjol, KRI Diponegoro, USS Howard, USS Ruben James, dan USS Tortuga saat melewati Teluk Banten. Pada Jumat (27/5), helikopter TNI AL direncanakan berlatih mendarat di USS Howard. Namun, rencana itu malah batal karena gangguan teknis helikopter setelah belasan personel US Navy menyiapkan tempat landas.

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Latgab TNI AL-US Navy Kurang Maksimal

    Sunday, May 29, 2011 | 6:02 PM | 0 Comments

    8 Pesawat latih TNI AU Ke Mataram

    Mataram - Bandara Selaparang, Mataram, kedatangan delapan pesawat latih TNI Angkatan Udara (AU), kemarin. Kedatangan pesawat-pesawat jenis T-34 Charlie ini merupakan bagian dari kegiatan navigasi jarak jauh (NJJ) siswa sekolah penerbangan Bandung. Mereka telah melalui tahapan pembelajaran sebelum melakukan NJJ.

    "Penerbang yang melakukan NJJ, telah melewati tahapan latihan akrobatik, instrumen, navigasi jarak dekat, hingga yang terakhir NJJ," kata Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Rembiga Letkol (Pnb) Antariksa Anondo.

    Antariksa menyampaikan, delapan pesawat tersebut sebelumnya telah mendarat di Lanud Adi Sucipto, Jogjakarata dan Abdurrahman Saleh di Malang. Pesawat-pesawat tersebut melakukan kegiatan NJJ dari 24 Mei hingga 1 Juni.

    "Setelah itu baru disematkan lencana wing (kepada penerbang). Nantinya para penerbang ini bisa menjadi penerbang pesawat tempur, pesawat angkut, atau helikopter," katanya pula.

    Kedatangan pesawat-pesawat latih ini, sambung Antariksa, sekaligus mengenalkan kepada masyarakat NTB pada pesawat latih TNI AU. Soalnya, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui pesawat-pesawat latih milik TNI AU.

    "Pernah saya bertanya tentang pesawat tempur Indonesia, tapi banyak yang tidak tahu. Padahal tinggal menjawab Sukhoi," katanya.

    Sejauh ini, minat masyarakat NTB untuk menjadi penerbang, kata Antariksa lagi, masih tergolong minim. Padahal dari sisi promosi sendiri, tak henti dilakukan. "Semoga kedatangan pesawat-pesawat ini bisa menjadi sarana untuk promosi," harapnya.

    Sumber: JPNN
    Readmore --> 8 Pesawat latih TNI AU Ke Mataram

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.