ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, February 25, 2012 | 4:13 PM | 0 Comments

    TNI AL Berencana Beli Kapal Ragam Class Ex- Brunai Merupakan Solusi Instan Dalam Pengadaan Kapal Perang

    Jakarta - Besarnya wilayah laut Indonesia membuat TNI Angkatan Laut (TNI AL) terus berbenah diri dengan menambah armada tempurnya. Salah satunya adalah dengan membeli kapal perang dari negara lain.

    Tersiar kabar bahwasanya TNI AL sedang mengincar kapal perang Nakhoda Ragam Class, sebuah kapal perang kelas corvete buatan BAe System Marine, Inggris, yang tidak jadi dibeli AL Brunei Darussalam karena suatu masalah.

    Menanggapi kabar tersebut, kepada itoday, pengamat pertahanan Muradi mengatakan, jika memang kapal yang akan dibeli adalah kapal kelas patroli, maka tidak akan menjadi masalah. Tetapi jika yang dibeli adalah kapal perang yang berukuran besar, maka itu menjadi masalah. Sebab kebutuhannya berbeda dengan apa yang dibutuhkan Indonesia.

    Pembelian alat utama sistem senjata memang bukan seperti membeli kacang goreng, setiap negara memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh sebab itu, walaupun kapal yang dibelui sama kelasnya, tetapi masalah “jeroan” kapal bisa berbeda. Karena setiap negara memiliki spesifikasi dan kebutuhan menghadapi tantangan yang berbeda.

    “Perairan Brunei itu sangat sempit. saking sempitnya, perairan Brunei mungkin bisa dikelilingi dengan kapal patroli kecil dalam waktu tiga jam saja. Bandingkan dengan perairan Indonesia,” jelas Muradi.

    Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan itu, Muradi menganggap, rencana pembelian kapal perang buatan Inggris yang tidak jadi dibeli Brunei, adalah solusi instan untuk jangka pendek saja, karena untuk mengakali anggaran pertahanan Indonesia yang terbilang kecil.

    Dari informasi yang diterima itoday, rencana pembelian kapal perang Nakhoda Ragam Class ini sudah mencapai 70 persen, sudah mencapai tahapan MoU. Namun TNI AL tetap membuka kemungkinan untuk membeli kapal perang lainnya untuk memperkuat armada tempurnya.

    Nakhoda Ragam Class sendiri adalah kapal perang kelas corvete buatan Inggris yang dibuat berdasarkan seri F2000, yang memiliki kecepatan maksimal 30 knot.

    Kapal perang ini dilengkapi sensor radar dan avionik buatan Thales, dipersenjatai dengan satu meriam 76 mm, dua meriam penangkis serangan udara kaliber 30 mm, torpedo, Thales Sensors Cutlass 22, rudal permukaan-udara Seawolf, rudal Exocet MM40 Block II dan dilengkapi dengan hanggar yang mampu menampung satu S-70 Seahawk.

    Sumber : ITODAY
    Readmore --> TNI AL Berencana Beli Kapal Ragam Class Ex- Brunai Merupakan Solusi Instan Dalam Pengadaan Kapal Perang

    Menhan : Leopard Tidak Akan Di Tempatkan Di Papua

    Jakarta - Untuk menjaga integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Indonesia membutuhkan tank kelas berat (main battle tank/MBT). Karenanya diperlukan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), salah satunya pengadaan Tank Leopard 26A. Hal tersebut dikatakan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro di kantor Kementerian Pertahanan, Jumat (24/2).

    Purnomo menjelaskan, rencananya Tank Leopard tidak akan ditempatkan di wilayah Papua. Karena kondisi geografis di Papua tidak memungkinkan untuk dilalui jenis kendaraan tempur tank kelas berat. Meski begitu, pihaknya menyatakan pembangunan batalyon tank dalam pembangunan modernisasi alutsista mendesak dilakukan TNI AD.

    “Indonesia membutuhkan MBT, karena yang dimiliki selama ini hanya Light Battle Tank alias tank ringan, seperti Scorpion dan AMX 13,” kata Purnomo dalam siaran pers yang diterima Republika.

    Menurut Purnomo, Leopard 26A merupakan jenis alutsista tank yang memiliki teknologi terbaik saat ini. Walaupun tank tersebut berukuran besar, imbuhnya, namun tetap dapat melalui lokasi jalur tanpa infrastruktur, termasuk melewati sungai sedalam empat meter.

    Purnomo melanjutkan, pemerintah telah mempersiapkan anggaran pengadaan 100 unit Leopard 26A, sesuai dengan kebutuhan dari TNI AD. Ini lantaran kondisi ekonomi Indonesia sedang membaik, sehingga moderinisasi TNI dimungkinkan dilakukan. “Pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen yang menjadi alasan untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI,” kata Purnomo.

    Sumber : Republika
    Readmore --> Menhan : Leopard Tidak Akan Di Tempatkan Di Papua

    Pemerintah Kaji Pengadaan Alutsista Dengan SUN

    Jakarta - Pemerintah kini sedang mengkaji pembiayaan pembelian Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dengan dana tunai lewat penerbitan Surat Utang Negara (SUN) di dalam atau di luar negeri . Dengan demikian, pembiayaan Alutsista tidak tergantung pada pinjaman komersial bank luar negeri yang bunganya lebih mahal, prosesnya lebih lama dan persyaratannya banyak.

    Hal ini ditegaskan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto, kemarin (23/2) di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta.

    “Kalau pinjaman dari bank komersal lebih tinggi biayanya dibandingkan dari capital market. Kemudian prosesnya juga lama, karena harus negosiasi dan kita harus memenuhi kondisi yang disyaratkan. Prosesnya lebih lama,” tutur Rahmat.

    Karena itu, kata dia, kini sedang dikaji untuk mendanai pembelian Alutsista dengan cara tunai. “Kita bisa melalui dana tunai. Artinya, kita terbitkan SUN di pasar luar negeri mau pun menerbitkan SBN dalam rupiah untuk membeli Alutsista. Ini breakthrough yang perlu kami sampaikan,” tambah Rahmat.

    Januari lalu, Pemerintah dan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat memperbesar porsi pinjaman dalam negeri untuk mendukung pendanaan pengadaan Alutsista. Dalam rencana strategis nasional (renstra) untuk mendukung minimum essensial force (MEF), Pemerintah dan DPR sepakat menetapkan batas pinjaman untuk pendanaan pengadaan Alutsista sebesar US$6,5 miliar. Dari nilai tersebut, yang sudah berhasil dipenuhi sebesar US$5,7 miliar. Sisanya sebesar US$793 juta kini sedang diupayakan pendanaannya.

    Lebih lanjut Rahmat mengatakan Pemerintah juga kini mempertimbangkan mengganti pinjaman luar negeri dengan obligasi dalam negeri karena yield obligasi yang murah saat ini. Obligasi 10 tahun, misalnya, yieldnya cuma 5,2 persen, bandingkan dengan kredit perbankan yang 8 persen. “Artinya kita lebih fleksibel sekarang, kita dapat menggunakan berbagai alternatif pembiayaan yang ada. Mana yang paling murah dan paling cepat prosesnya.”

    Sumber : Jaring News
    Readmore --> Pemerintah Kaji Pengadaan Alutsista Dengan SUN

    Friday, February 24, 2012 | 1:04 PM | 3 Comments

    Indonesia Tertarik Israel Untuk Mengintegrasikan Airborne Early Warning Di Pesawat C-295

    Tel Aviv (MIK/WDN) - IAI merupakan salah satu perusahaan pesawat yang dipilih Pemerintah Indonesia dalam acara Singapore Airshow.

    Indonesia menginginkan jenis sistem peringatan udara dini untuk diaplikasikan pada pesawatnya. Sejauh ini sistem peringatan udara dini buatan IAI telah digunakan beberapa negara antara lain Chili, India, dan Singapura.

    Indonesia menginginkan sistem tersebut dirakit sendiri oleh pihak Indonesia. TNI AU akan memperoleh pesawat angkut C-295 yang dibuat oleh Airbus. Dari sebuah sumber menyebutkan bahwa Indonesia menginginkan jenis pesawat yang lebih canggih yang dilengkapi dengan sistem peringatan udara dini (AEWS).

    Baru-baru ini Departemen Pertahanan Israel telah memberikan lampu hijau kepada industri pertahanan Israel untuk menawarkan beberapa sistem militer ke Indonesia yang merupakan negara muslim terbesar di dunia. Di ajang pameran kedirgantaraan yang diadakan di Singapura pada minggu lalu, perwakilan dari industri pertahanan Israel bertemu dengan wakil dari Departemen Pertahanan Indonesia untuk membahas beberapa negosiasi yang saling menguntungkan.

    Menurut laporan dari media mancanegara, Israel telah menjual 30 pesawat tempur Skyhawk kepada Indonesia pada tahun 80-an. Sejak dipublikasikan ke media asing yang diperoleh dari Indonesia. Negara dengan muslim terbesar didunia tersebut banyak menggunakan persenjataan yang dibeli dari Israel.

    Baru-baru ini Industri pertahanan Israel menyetujui untuk menawarkan produk mereka ke Indonesia antara lain UAV, Sistem pengindraan, sistem elektronik Z dan masih banyak lagi. Hal ini dilihat karena Anggaran pertahanan Indonesia naik dengan pesat dan TNI akan melakukan modernisasi alutsistanya yang antara lain dibeli dari Israel.

    Sumber : Israel Defense
    Readmore --> Indonesia Tertarik Israel Untuk Mengintegrasikan Airborne Early Warning Di Pesawat C-295

    PTDI Medapatkan Pinjaman Rp 1 Triliun dari BRI

    Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mendapat pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp 1 triliun. Dana sebesar itu akan dipakai untuk modal pembuatan pesawat-pesawat pesanan dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

    Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan, pinjaman PTDI itu atas sepengetahuan dan izinnya. Menurut Dahlan, ia menyetujui pinjaman tersebut karena pinjaman tersebut akan dipakai untuk modal operasional pengerjaan pesanan pesawat dari Kemenhan. Tanpa pinjaman tersebut, justru PTDI tidak bisa memenuhi pesanan dari Kemenhan.

    "Saya izinkan PT DI pinjam uang dari BRI Rp 1 triliun. Supaya dapat kerja. Toh, dana itu nantinya akan dapat penggantian dari APBN kalau sudah turun," ujar Dahlan Iskan, Kamis (23/2/2012).

    Ditegaskan Dahlan, selain memberi restu pinjaman dana, ia juga akan melakukan restrukturisasi jajaran direksi PTDI dalam waktu dekat. Menurutnya, jajaran direksi PT DI sejauh ini belum mencerminkan direksi dream team. Pergantian direksi ini dilakukan agar PTDI dapat melakukan banyak pekerjaan yang diberikan oleh Kemenhan.

    "Jajaran direksi akan saya rombak, kalau untuk Dirutnya tidak, tapi selain Dirut akan saya rombak," ungkapnya.

    Setelah direksi PTDI dirombak, Dahlan akan membimbing PTD, dan seluruh perusahaan BUMN strategis lainnya, seperti PT PAL, Pindad, dan Dahana. Seluruh BUMN tersebut, diizinkan untuk meminjam modal ke bank sebagai modal dana operasional menjalankan pesanan Kemenhan.

    "Industri strategis dalam 1-2 tahun ini melayani Kemenhan yang anggarannya tahun ini sangat banyak dan pasti turun," tutur Dahlan.

    Dalam kesempatan itu, Dahlan Iskan, melarang melarang PT Penataran Angkatan Laut (PAL) untuk menerima order pembuatan kapal-kapal niaga. Dahlan meminta PAL tetap fokus untuk menggarap industri perkapalan militer. Alasanya, mulai tahun ini hingga beberapa tahun yang akan datang, Kementerian Pertahanan banyak memberikan order pembuatan kapal ke PT PAL.

    "Di masa lalu, order kapal niaga membuat PAL kesulitan luar biasa. Sebab, ada order kontrak kurang bagus, kapal hampir jadi dibatalkan," kata Dahlan.
    Yang terpenting bagi Dahlan adalah PT PAL harus hidup dahulu dari pesanan pembuatan kapal militer oleh Kementerian Pertahanan. Apalagi, anggaran dari Kementerian Pertahanan sangat besar dan pasti turun.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> PTDI Medapatkan Pinjaman Rp 1 Triliun dari BRI

    Menhan : Namanya Tetangga Selalu Buat Masalah

    Semarang - Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro, mempunyai sudut pandang tentang persoalan di wilayah perbatasan yang terus terjadi. Menurutnya masalah akan terus terjadi, karena merupakan fitrah dari relasi tetangga.

    "Yang namanya tetangga ya selalu membuat masalah, kalau tidak ada masalah bukan tetangga namanya," katanya dengan nada tawa, di sela-sela kunjungan ke Undip Semarang, belum lama ini.
    Persoalan yang sering muncul adalah isu pergeseran perbatasan melalui patok. Menurutnya, persoalan tersebut dapat diselesaikan dalam forum Joint Border Committee (JBC) untuk membicarakan antarmenteri pertahanan. Forum digelar akhir tahun, termasuk meluruskan persoalan patok yang kadang diberitakan bergeser yang berujung kerugian kepada Indonesia.

    Penggunaan teknologi Global Posisioting System (GPS) juga dilakukan untuk memantau patok perbatasan dengan Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste. Meskipun patok digeser atau dipindah tidak akan berpengaruh terhadap penyempitan wilayah Indonesia.

    Indonesia dan Malaysia, katanya, telah menyepakati batas wilayah perbatasan melalui teknologi GPS dan dipantau melalui pengindraan jarak jauh. Sehingga selisih paham yang muncul terkait pergeseran patok dapat segera diatasi. "Kalau ada patok bergeser bukan dari pihak Indonesia atau Malaysia," ujarnya.

    Pembakuan kesepakatan perbatasan dengan teknologi pengindraan jauh, kata Purnomo, telah dilakukan beberapa tahun lalu. Cara itu ditempuh untuk meredam konflik yang menghangat ketika ada isu penggeseran patok oleh Malaysia.

    Sumber : Suara Merdeka
    Readmore --> Menhan : Namanya Tetangga Selalu Buat Masalah

    Rudal C-705 Batu Loncatan Menuju Kemandirian Rudal Nasional

    Jakarta - Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali (guided missiles/rudal) C-705.

    Dengan kesepakatan itu, Indonesia mendapat kewenangan untuk memproduksi rudal yang mempunyai jangkauan lintas cakrawala (over the horizon). Sekilas, ini merupakan kabar biasa.Tapi, bagi kepentingan pertahanan bangsa ini, langkah ini merupakan milestone bagi pembangunan kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) sekaligus menguatkan derajat kapabilitas pertahanan Indonesia. Bangsa ini pun patut berbangga karena tidak banyak negara yang mampu menguasai teknologi rudal atau berkesempatan mendapat alih teknologi senjata strategis tersebut. Pentingnya penguasaan teknologi rudal disadari betul bangsa ini.

    Ini terlihat dari rangkaian program roket nasional hingga pembangunan material pendukung. Sudah jauh hari Indonesia memulai tahap awal pembangunan rudal dengan memproduksi roket udara ke darat, folding fin aerial rockets (FFAR), yang diaplikasikan pada helikopter dan pesawat milik TNI. Sejumlah BUMN,yakni PT Dahana,PT Dirgantara Indonesia,PT Pindad,dan PT Krakatau Steel, juga membangun roket R-Han yang mempunyai jangkauan 15-20 kilometer. Untuk material pendukung, awal tahun ini pemerintah meresmikan dua industri strategis,yakni PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang,Kalimantan Timur dan pabrik bahan berenergi tinggi di areal PT Dahana di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

    Dengan pengoperasian kedua pabrik tersebut,kebutuhan bahan baku peledak dan propelan sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri. Dengan demikian,kerja sama dengan China merupakan lanjutan dari tahapan penguasaan teknologi rudal.Melalui kerja sama ini Indonesia mendapatkan limpahan teknologi (technology spillover) yang selama ini dikunci rapat-rapat oleh segelintir negara seperti teknologi telemetri,propulsi,tracking-and guidance,dan sebagainya.

    Jika menguasai rahasia teknologi rudal ini,bisa jadi suatu saat Indonesia memproduksi rudal C-705,tapi juga memanfaatkannya untuk mendongkrak kapasitas roket pertahanan (R-Han) atau bahkan menyulap roket pengorbit satelit (RPS) yang tengah dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadi rudal balistik. Dalam pertahanan, kemampuan penguasaan rudal sangat strategis untuk meningkatkan kekuatan militer suatu negara. Rudal merupakan bagian dari kesenjataan artileri dengan daya jangkau yang mampu mencapai garis belakang pertahanan dan menembus jantung pertahanan lawan.

    Ditilik dari kemampuan yang dimiliki––yakni daya jangkau (range), daya ketelitian (precision), dan daya hancur (destruction capability), rudal adalah instrumen paling efektif untuk memenangkan sebuah perang. Bagi TNI, rudal C-705 akan menjadi bagian dari sistem kesenjataan strategis. Rudal yang pertama diperlihatkan ke publik pada ajang Zhuhai Airshow Ke-7 pada 2008 direncanakan akan menempati posisi utama sistem senjata kapal cepat rudal (KCR) yang dimiliki TNI Angkatan Laut.

    C-705 akan bahu-membahu dengan rudal Yakhont buatan Rusia yang dipasang di KRI kelas Van Speijk menjadi tulang punggung matra laut Indonesia, terutama di wilayah laut dangkal. Si vis pacem,para bellum.Jika mendambakan perdamaian,bersiap- siaplah untuk perang.Dalam konteks pemahaman inilah,penguatan, modernisasi, dan pembangunan kemandirian alutsista dilakukan oleh pemerintah.Penguasaan teknologi rudal menjadi instrumen penting membangun sistem pertahanan nasional yang mandiri dan berdaya getar tinggi––high level of deterrence.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Rudal C-705 Batu Loncatan Menuju Kemandirian Rudal Nasional

    ITS Kembangkan Hovercraft Berstandar Internasional

    Surabaya - Hovercraft atau kapal melayang kini bisa diproduksi di Indonesia. Kapal amphibi yang dulu hanya dimiliki negara-negara adikuasa seperti Amerika dan Jepang, kini juga dimiliki Singapura, Malaysia dan tentu saja Indonesia yang dikembangkan oleh Ship Designer asal ITS.

    Bentuk Hovercraft yang diproduksi di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) ini tak beda jauh dengan yang telah dipakai pasukan Angkatan Darat di Amerika. Kendaraan yang berjalan di atas bantalan udara (air cushion) ini juga sengaja difungsikan untuk mengangkut penumpang dan mengakses dari kapal menuju daratan dengan speed khusus.

    Kendaraan atau kapal amphibi berdimensi 14,2 x 7 meter ini memiliki 25 knot ground speed dan 30 knot air speed. Kapal yang mampu bermanuver di perairan maupun di darat tersebut menunjukkan kemampuan bangsa memproduksi perlengkapan pertahanan sendiri.

    "Ground speed-nya 25 knot, air speed 30 knot," kata Marine Engineer & Ship Designer ITS, Ir H Agoes Santoso kepada detiksurabaya.com, Kamis (23/2/2012).

    Seperti Hovercraft di negara-negara lain, kapal amphibi ini memiliki bantalan udara yang ditimbulkan dengan cara meniupkan udara ke ruang bawah kapal (plenum chamber). Proses ini berlangsung melalui skirt (sekat yang lentur) sehingga tekanan udara di dalam plenum chamber lebih tinggi daripada tekanan udara luar sehingga timbul gaya angkat

    Untuk menggerakkan kapal bantalan udara, digunakan gaya dorong yang diperoleh dari baling-baling (propeller). Gaya angkat kapal ini bekerja pada penampang yang luas, sehingga tekanan terhadap tanah atau air (ground pressure) yang ditimbulkan tidak besar.

    Dengan demikian, kendaraan ini dapat berjalan di atas lumpur, air maupun daratan dengan membawa beban yang cukup berat. Maksimal, Hovercraft ini berkapasitas hingga 5 ton muatan.

    Muatan berupa penumpang atau bahkan kendaraan bisa sangat efektif diangkut menggunakan kapal amphibi ini. Dan lagi, dengan 1000 liter bensin, hovercraft buatan ITS ini mampu mengakses perjalanan ke darat dengan cepat.

    "Maksimal dikendarai selama 2 jam," tuturnya.

    Kini, satu unit hovercraft produksi ITS telah diambil fungsi oleh Direktorat Perbekalan Angkutan TNI Angkatan Darat di Jakarta. Sayangnya, kapal amphibi yang diproduksi dengan dana tak lebih dari Rp 50 Miliar ini belum ada lagi yang memesan. Padahal, alat angkut penumpang semacam ini sering digunakan anggota TNI di luar negeri untuk pertolongan kali pertama saat terjadi bencana di laut.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> ITS Kembangkan Hovercraft Berstandar Internasional

    Industri Pertahanan Diminta Fokus Penuhi Pesanan Kemenhan

    Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan meminta BUMN industri strategis agar fokus memproduksi arsenal dan arsenal pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

    "BUMN industri strategis seperti PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Dahana, PT Pindad, termasuk PT Industri Kapal Indonesia kita arahkan agar fokus memenuhi permintaan Kementerian Pertahanan," kata Iskan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (23/2).

    Menurut dia, dalam kondisi seperti sekarang ini perusahaan-perusahaan itu seharusnya lebih mengutamakan kapal perang, kapal angkutan militer atau produk lain pesanan-pesanan Kementerian Pertahanan ketimbang memproduksi kapal komersial.

    "Jumlah kapal perang pesanan TNI/Polri cukup banyak, jadi sebaiknya produksi kapal niaga dihentikan sementara agar dapat memenuhi order tersebut," ujarnya.

    Meski begitu, mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara tersebut tidak merinci jenis kapal apa saja yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan. Ia hanya menjelaskan, pemerintah saat ini mengalokasikan dana anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN yang cukup besar untuk membiayai pengadaan alustista (alat utama sistem senjata) nasional.

    Iskan mengakui kondisi keuangan BUMN industri strategis tersebut cukup memprihatinkan karena dampak krisis dan situasi ekonomi di masa lalu.

    "Mereka sesungguhnya banyak mendapat pesanan kapal dari luar negeri, namun karena krisis mengakibatkan perusahaan pemesan kapal tidak mampu menebus kapal ketika sudah selesai dikerjakan atau dibangun," katanya.

    Menurut dia, saat ini merupakan momentum bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi terkait alutsista untuk bangkit kembali.

    PT Pal Indonesia yang selama ini produksinya didominasi pesanan kapal komersial, kini mau tidak mau harus memproduksi pesanan Kementerian Pertahanan yang memang pendanaan dan ordernya sudah jelas.

    Merujuk catatan, PT Pal dan PT Dirgantara Indonesia memiliki sejarah buruk dalam kinerja keuangannya sehingga memaksa Kementerian BUMN untuk melakukan restrukturisasi terhadap perusahaan itu dengan melakukan penyuntikan dana.

    Untuk itu, imbuh Dahlan, langkah untuk memprioritaskan pemenuhan permintaan TNI/Polri tersebut merupakan yang terbaik. "Yang penting saat ini perusahaan hidup dulu dari order-order Kementerian Pertahanan. Baru dua tahun kemudian setelah kondisi keuangan perusahaan stabil bisa mengincar pesanan kapal komersial," katanya.

    Sumber : Liputan 6
    Readmore --> Industri Pertahanan Diminta Fokus Penuhi Pesanan Kemenhan

    Menteri BUMN Meminta PT PAL Fokus Untuk Pengadaan Kapal Perang

    Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan melarang PT PAL untuk membuat kapal niaga setelah mendapatkan order besar dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) membuat kapal perang.

    "PT PAL hanya boleh buat kapal-kapal militer sesuai pesanan Kemenhan, tidak boleh buat kapal niaga," kata Dahlan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

    Alasan Dahlan tidak lain karena pembuatan kapal niaga tersebut membuat PT PAL mengalami kesulitan. "Dulu gara-gara buat kapal niaga PT PAL sempat susah, karena order sudah hampir selesai ternyata dibatalkan," ungkap Dahlan.

    Ini juga merupakan salah satu persyaratan yang diminta Kemenhan. Adalagi syarat lainnya, Dahlan bilang, Kemenhan meminta manajemen PT PAL harus andal.

    "Makanya, untuk menyikapi persyaratan Kemenhan tersebut saya merombak manajemen PT PAL, salah satunya dengan mengganti Dirut PT PAL yakni mengangkat Dirut DPS (Dek Perkapalan Surabaya) Firmansyah," kata Dahlan.

    Alasan Dahlan mengangkat Firmansyah sebagai Dirut PT PAL tidak lain karena keberhasilannya dalam menjalankan DPS.

    "Salah satunya, menghidupkan kembali Industri Kapal Indonesia (IKI) yang berkedudukan di Makasar. Kasus IKI sendiri hampir mirip dengan Djakarta Lloyd dan saat ini sudah hidup kembali setelah manajemen DPS masuk ke IKI," tandasnya.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Menteri BUMN Meminta PT PAL Fokus Untuk Pengadaan Kapal Perang

    Thursday, February 23, 2012 | 7:57 AM | 0 Comments

    Lapan Akan Luncurkan Satelit A2 Akhir Tahun Ini

    Bogor - Setelah berhasil meluncurkan satelit mikro jenis Lapan-Tubsat pada 2007 lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berencana meluncurkan satelit jenis Lapan A2 di India akhir tahun ini.

    Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejakusuma mengungkapkan, keberhasilan mengorbitkan satelit Lapan-Tubsat memberi semangat bagi pengembangan satelit berikutnya di Indonesia. Dalam hal ini Lapan telah mengembangkan dua satelit, yakni Lapan A2 yang berorbit ekuatorial dan Lapan A3 berorbit polar. “Karena orbitnya yang ekuatorial, Lapan A2 akan melewati wilayah Indonesia 14 kali per hari.Peluncuran A2 dilakukan menggunakan roket India,”ujar Bambang di Bogor kemarin.

    Bambang mengaku belum dapat menentukan kepastian tanggal peluncuran A2 karena menunggu India. Ini terkait dengan posisi satelit yang hanya sebagai penumpang di roket India yang lebih besar.Perkiraan peluncuran dilakukan pada akhir tahun. “Ditargetkan antara September hingga Desember 2012 meluncur ke orbit,” ujarnya. Satelit A2 merupakan satelit kedua bikinan Lapan yang akan diluncurkan ke orbit setelah satelit Lapan-Tubsat (A1) diluncurkan lima tahun lalu dan saat ini masih mengorbit. Satelit A2 membawa misi utama untuk melakukan observasi bumi dan alat komunikasi penanganan bencana.

    Satelit ini dimuati video RGB camera surveilance,sistem deteksi kapal laut automatic identifiction system (AIS), dan alat komunikasi Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia (Orari) untuk penanganan bencana. A2 juga bisa dipakai sebagai alat pertahanan negara. Bambang mengungkapkan, satelit Lapan-Tubsat yang diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Sriharikota, India, merupakan keberhasilan bagi bangsa Indonesia. “Indonesia patut berbangga karena satelit pertama buatan anak bangsa ini sudah lima tahun mengorbit. Banyak satelit mikro sejenis Lapan-Tubsat hanya mampu bertahan mengorbit di angkasa selama dua tahun,” paparnya.

    Menurut Bambang, satelit eksperimen berukuran kecil dengan bobot 57 kg itu mampu mengorbit di ketinggian 650 km.“Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub dan melintasi wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari,”jelasnya. Satelit Lapan-Tubsatini telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana seperti gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan permukaan bumi. “Keberhasilan ini merupakan bukti keandalan para peneliti dan perekayasa Lapan,” imbuhnya.

    Ketua Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia Indradi mengaku bangga dan mengapresiasi program Lapan yang akan kembali meluncurkan satelit andalannya untuk kepentingan bangsa. Sebab, selama ini Indonesia masih bergantung pada negara luar untuk pengambilan video dan foto dari angkasa.

    “Kami mendukung sekali upaya Lapan dalam mengembangkan sejumlah satelitnya. Ini merupakan lokomotif untuk menyatukan semua kemampuan yang dibutuhkan bangsa semisal pertanian, kehutanan, penataan ruang, mitigasi bencana,dan banyak lagi manfaatnya,”jelasnya.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Lapan Akan Luncurkan Satelit A2 Akhir Tahun Ini

    Menhan : Ekonomi Negara Baik Wajar Alutsista Diperkuat

    Semarang - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menilai wajar kondisi perekonomian negara yang membaik akan memperkuat dan meningkatkan sistem pertahanannya sebagaimana dilakukan Indonesia.

    "Selama 2010-2014, kita memang mendapatkan anggaran pertahanan dalam jumlah cukup besar yakni Rp150 triliun, dan Rp50 triliun untuk pembelian alutsista dalam negeri dalam kurun lima tahun," katanya di Semarang, Rabu.

    Ia menjelaskan, pembelian alutsista yang diprogramkan dalam kurun waktu lima tahun itu memang untuk pembelian pada industri pertahanan dalam negeri seperti PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia.

    Setelah itu, kata dia, Rp32,5 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan seperti pembenahan tank-tank dan kapal tempur, sedangkan sisanya untuk pembelian alutsista baru untuk memperkuat persenjataan TNI.

    Menurut dia, pembelian alutsista baru untuk memperkuat sistem pertahanan negara itu memang berimplikasi dari membaiknya perekonomian Indonesia yang baik, bahkan cadangan devisa cukup besar sekitar 140 miliar dolar AS.

    Untuk pembelian alutsista baru, ia mengatakan, salah satunya memang berencana menganggarkan sekitar tiga triliun rupiah untuk pembelian tank berat atau "main battle tank" sebanyak 100 unit dari luar negeri.

    "Kami tidak menyebut jenis Leopard, namun yang jelas ada anggaran tiga triliun rupiah untuk pembelian `main battle tank` sebanyak 100 unit. Sebab, yang kita miliki sekarang ini tank-tank kecil," katanya.

    Namun, kata dia, pembelian alutsista buatan Jerman itu harus melalui sejumlah tahapan, termasuk persetujuan pemerintah dan parlemen kedua negara, terutama Belanda sebagai negara yang selama ini memakai tank itu.

    "Masih dijajaki, terutama negara yang menggunakannya, seperti Belanda dan pabriknya di Jerman. Pembelian alutsista itu harus melalui persetujuan kedua negara, baik pemerintah dan DPR masing-masing," katanya.

    Ia menjelaskan, saat ini rencana pembelian tank itu sudah masuk pembahasan parlemen Belanda, dan perlu diyakinkan bahwa persenjataan yang dibeli nantinya tidak untuk ekspansi, namun untuk pertahanan diri.

    Ditanya jenis tank Leopard yang dinilai tidak sesuai topografis Indonesia, ia meyakinkan Indonesia membutuhkan tank berat untuk menunjang pertahanan, sebab yang dimiliki selama ini masih jenis tank ringan.

    "Malaysia saja memiliki tank berat yang ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan. Meski berukuran besar, tank berat ini bisa melalui lokasi yang belum ada infrastrukturnya, termasuk sungai," katanya.

    Tank berat tersebut, kata Purnomo, beratnya mencapai 40 ton, lebih besar dibandingkan dengan jenis tank ringan yang beratnya antara 15-20 ton, namun jenis tank itu bisa melalui sungai yang berkedalaman 4-5 meter.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Menhan : Ekonomi Negara Baik Wajar Alutsista Diperkuat

    Tiga Sukhoi TNI AU Ujicoba BTN-250 Dan BLA P-50 Buatan Pindad

    Jakarta - Tiga Pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan, melaksanakan uji dinamis Bom Tajam buatan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) bekerja sama dengan PT Pindad. Uji coba dilakukan di Lanud Iswahjudi dengan sasaran Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (22/2/2012).

    Dalam siaran persnya, TNI AU menyatakan, ketiga pesawat Sukhoi tersebut menguji Bom Tajam Nasional (BTN)-250 dan Bom Latih Asap Practice (BLA P)-50, dengan tujuan untuk mengetahui daya ledak serta ketepatan sasaran. Kepala Penerangan dan Perpustakan (Kapentak) Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sutrisno, menuturkan jika uji coba Bom Tajam Nasional (BTN)-250 tersebut sukses sesuai dengan yang diharapkan, serta mendapat sertifikat kelaikan dari Dislitbangau, kemandirian di bidang alat utama sistem senjata atau alutsista akan terwujud.

    "Sehingga pesawat TNI-AU, khususnya Sukhoi memiliki bom sendiri tanpa tergantung dari luar negeri," katanya.

    Uji coba disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsekal Pertama TNI Basuki Purwanto, mulai dari pemasangan bom di body maupun wing pesawat Sukhoi hingga pelaksanaan pengeboman di AWR Pandanwangi, Lumajang.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Tiga Sukhoi TNI AU Ujicoba BTN-250 Dan BLA P-50 Buatan Pindad

    Wednesday, February 22, 2012 | 12:37 PM | 0 Comments

    Ukraina Tertarik Rakit Tank Bulat di Indonesia

    Jakarta - Perusahaan Ukraina berminat untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam industri strategis, terutama dalam produksi alat utama sistem senjata untuk TNI. Untuk tahap pertama, mereka menawarkan perakitan tank tempur buatan Ukraina di Indonesia.

    Minat itu diutarakan Ukrspecexport, perusahaan milik pemerintah Ukraina yang menangani ekspor dan impor produk-produk militer. "Perusahaan kami tertarik dalam mengembangkan hubungan bilateral dengan Indonesia, tidak saja dengan penjualan namun juga melalui kemitraan startegis," demikian pernyataan dari Ukrspecexport, yang diwakili direktur departemen Denys Voronkov, 21 Februari 2012.

    "Produksi alat-alat perang di wilayah Indonesia jauh lebih penting bagi kami ketimbang hanya mengirim barang. Kami ingin mitra kami mendapat keuntungan yang besar dari kerjasama itu," lanjut Ukrspecexport.

    Pada langkah awal, perusahaan itu menawarkan perakitan tank tempur utama (MBT) buatan Ukraina, yang dikenal dengan sebutan "Bulat." Perakitan itu bisa berlangsung di pabrik PT Pindad. Perakitan Tank Bulat ini bisa dikelola secara patungan antara Pindad dan Ukrspecexport.

    "Kami menganggap proyek ini lebih dari sekadar alih teknologi, namun juga kerjasama bilateral dalam memproduksi tank yang dimaksud. Namun, tentu saja, bila mitra kami belum siap atas langkah itu, kami bisa memasok MBT Bulat yang diproduksi penuh di Ukraina dalam waktu dekat," demikian perwakilan dari Ukrspecexport.

    Kendati tidak dirinci secara jelas, biaya tank itu relatif lebih murah dari MBT sejenis. Berbobot 45 ton, Bulat dianggap lebih ringan dari tank-tank tempur lain.
    Tank Bulat digunakan Angkatan Darat Ukraina pada 2004 dan sejak 2005 dibuat produk lanjutan. Saat ini Angkatan Darat Ukraina - yang merupakan pecahan Uni Soviet - mengoperasikan lebih dari 80 unit tank Bulat dan jumlahnya akan bertambah.

    Pihak Ukrspecexport menjamin jual beli tank ini tidak akan diganggu oleh kepentingan politik, sehingga Indonesia tidak perlu khawatir karena Ukraina tidak akan menerapkan ancaman embargo di kemudian hari.

    Perusahaan itu pun mengundang para petinggi TNI untuk datang ke Ukraina dan mengunjungi produksi Tank Bulat sekaligus bisa menyaksikan demonstrasi kendaraan tempur itu di Brigade Lapis Baja Ukraina.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> Ukraina Tertarik Rakit Tank Bulat di Indonesia

    Militer Turki Anugerahi Bintang Kehormatan kepada Panglima TNI

    Ankara - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mendapat anugerah Bintang Kehormatan Order of Merit Liyakat Nisani dari Turki. Bintang Kehormatan itu diberikan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya dalam meningkatkan hubungan Militer dan Pertahanan RI-Turki.

    Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Turki, Jenderal Necdet Ozel menyematkan Order of Merit Liyakat Nisani kepada Laksamana Agus di Ankara, Turki (12/2/2012).

    “Pemberian Bintang Kehormatan ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa dan negara Indonesia, khususnya Tentara Nasional Indonesia,” tutur Agus.

    Pada kesempatan ke Turki (11-13/2/2012), Agus melakukan serangkaian pertemuan dengan petinggi militer di Turki guna membahas peningkatan hubungan di bidang militer dan pertahanan. Diantaranya, Kasum AB Turki dan Menteri Pertahanan Nasional Turki Ismet Yilmaz.

    Dari rangkaian pertemuan tersebut, Agus menuturkan RI-Turki sepakat untuk terus meningkatkan hubungan militer dan pertahanan.

    Kerjasama itu akan digarap mulai dari penyusunan rencana pertukaran personil militer di bidang pendidikan maupun bidang khusus lainnya seperti counter-terrorism hingga peningkatan kerjasama bidang industri pertahanan.

    Ia juga melakukan peninjauan ke Akademi Militer, Pusat Pasukan Khusus Angkatan Bersenjata Turki dan beberapa industri pertahanan seperti pabrik alat komunikasi dan roket.
    Selama kunjungan di Turki, ia didampingi Duta Besar RI Ankara Nahari Agustini dan Atase Pertahanan RI Ankara Kolonel Cpm Chandra W Sukotjo.

    Sumber : Kemlu
    Readmore --> Militer Turki Anugerahi Bintang Kehormatan kepada Panglima TNI

    Simulasi : Dua F-16 Paksa Hercules Force Down

    Biak - Masih ingat kejadian pesawat tempur TNI Angkatan Udara yang meng-interceptpesawat sipil yang mengangkut pejabat Papua New Guinea? Peristiwa intercept seperti itu kembali terjadi di Biak,Papua.

    Pesawat yang melakukan adalah dua F-16 yang ber-home base di Lanud Iswahjudi, Madiun.Sedangkan yang jadi korban interceptyaitu pesawat Hercules A-1303,yang juga milik TNI Angkatan Udara. Peristiwa ini bukan kesalahan komunikasi,namun sudah dirancang sebagai bagian dalam latihan Cakra. Simulasi pada Senin (20/2) itu merupakan salah satu agenda dari penerbangan jelajah pesawat tempur F-16 di Indonesia bagian timur, sekaligus dalam rangka pengamanan wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

    Keterangan dari Pentak Lanud Manuhua Biak menyebutkan pesawat A-1303 Hercules yang dipiloti Mayor Penerbang Reza itu mengangkut 12 orang kru. Dalam penerbangan di wilayah udara Biak,pesawat tertangkap radar yang ada di Satuan Radar (Satrad) 242 Tanjung Warari dan diasumsikan sebagai pesawat asing yang melanggar batas wilayah udara. Selanjutnya,hal ini dilaporkan kepada Pangkosekhanudnas IV. laporan lantas ditindaklanjuti dengan memerintahkan dua pesawat F-16 untuk melakukan interceptdan memaksa pesawat asing itu mendarat (force down) di Bandara Frans Kaisiepo Biak,Papua.

    Misi pengamanan ALKI ini dilakukan oleh satu flight pesawat tempur F-16 dari Skuadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun,Jawa Timur sejak 14 Februari lalu dan dijadwalkan berlangsung selama 14 hari.“Wilayah terbang meliputi sejumlah pangkalan udara,yakni Lanud Balikpapan (Kaltim), Samratulangi (Manado),Biak (Papua),Patimura (Ambon), dan Rembiga (NTB),”kata Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sus Sutrisno,saat pelepasan. Penuturan Sutrisno menyebutkan misi ini melibatkan delapan penerbang tempur F- 16/Fighting Falcon,46 teknisi (ground crew),serta Tim Brigan dari Satpon Lanud Iswahjudi dengan di dukung pesawat C- 130 Hercules.

    Ada beberapa latihan dalam misi ini,yaitu tangkis petir,Hanud Cakra dan Hanud Kilat.Sekaligus juga untuk menjajal kemampuan radar di Satuan Radar 245 Saumlaki dan 243 Timika yang masih baru.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Simulasi : Dua F-16 Paksa Hercules Force Down

    Turki Tawarkan Kapal Selam U-214 Kepada Indonesia Untuk Tahap Kedua

    Ankara (MIK/WDN) - Indonesia mengambil tawaran dari Korsel untuk pengadaan tiga kapal selam tipe U209 seperti yang ditawarkan Turki-Jerman. Namun kedua negara tersebut mengajukan tawaran untuk tender teknologi kapal selam yang lebih maju yaitu U214, Seperti yang dikatakan di Jakarta.

    Indonesia telah memberitahukan kepada Jerman-Turki bahwa Korsel telah memenangkan pengadaan kapal selam U-209 Indonesia dan kedua negara tersebut akan fokus untuk pengadaan kapal selam yang lebih canggih U-214 kepada raksasa Asia Tenggara, kata pejabat senior Turki.

    Dia telah menyampaikan pesan kepada Panglima TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI saat kunjungannya ke Turki pekan lalu, kata pejabat Turki pada akhir pekan ini.

    Pihak Turki yang dipimpin oleh Undersecretariat for Defense Industries, SSM, dan Jerman diwakili galangan kapal ThyssenKrupp, HDW yang ikut berkompetisi dalam pengadaan kapal selam TNI AL senilai lebih dari $ 1 Milyar tersebut telah dimenangkan oleh Korsel.

    Pihak Korsel melalui Daewoo Shipbuilding dan Marine Engineering mengumumkan pada 22 Desember bahwa mereka telah memenangkan pengadaan tiga kapal selam lebih dari $ 1.1 Milyar untuk Indonesia.

    Adapun pihak Turki, mengelontorkan $ 2 Milyar untuk pengadaan enam kapal selam U-214 yang telah disepakati HDW yang akan dibuat bersama Turki yang akan diresmikan pada bulan Juli, kata pejabat senior tersebut.

    Kesepakatan tersebut dilakukan melalui pinjaman antara bank terkemukan Jerman dan Depkeu Turki pada akhir 2010.

    "Kami akan bekerja keras untuk memenuhi persyaratan pengadaan kapal selam Indonesia untuk tahap kedua bila sepakat kami akan menawarkan U-214," kata pejabat pengadaan Turki.

    Pihak Indonesia menawarkan kerjasama yang menarik bagi Turki. Pihak Indonesia mengajukan kontrak senilai $ 100 juta kepada Turki untuk membuat pengadaan radio militer dibuat oleh Aselsan, kata pejabat pengadaan tersebut.

    Secara terpisah pihak Indonesia berencana mengusulkan fasilitas untuk memproduksi rudal buatan Roketsan setelah merekan menandatangai kontrak dengan perusahaan tersebut.

    Indonesia juga akan memproduksi kendaraan 8x8 buatan FNSS'

    Turki dan Indonesia sendiri merupakan dua negara muslim terbesar dan tertarik untuk mengembangkan industri pertahanan mereka.

    Sumber : Hurriyet/MIK
    Readmore --> Turki Tawarkan Kapal Selam U-214 Kepada Indonesia Untuk Tahap Kedua

    Tuesday, February 21, 2012 | 7:57 AM | 0 Comments

    Wakasal : Kita Akan Kerjasama Rudal Ground to ground, Ground to air Dan Air to ground Dengan China

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama pejabat lainnya melakukan kunjungan ke Cina pada 19-21 Februari dalam rangka memenuhi undangan Menteri Pertahanan Cina Jenderal Liang Guanglie.

    "Segera setelah mendarat di Beijing, pada hari pertama Menhan melakukan kunjungan, menggelar diskusi, serta meninjau dua kompleks industri pertahanan Cina yang terkait dengan produksi peluru kendali," tulis siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing yang diterima Republika, Senin (20/2).

    Dalam kunjungan dinas tersebut, Purnomo didampingi oleh Wakil KSAL Lakdsya TNI Marsetio, Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, serta Karo TU Kemhan Laksmana TNI Yuhastiar.

    Di akhir pertemuan tersebut, dicapai kesepakatan untuk kerja sama industri pertahanan, yang meliputi alih teknologi yang diharapkan menguntungkan kedua negara.

    "Kerja sama industri pertahanan tersebut terkait dengan produksi peluru kendali darat ke darat (ground to ground), darat ke udara (ground to air), serta udara ke darat (air to ground)," kata siaran pers itu.

    Delegasi Kemhan hari ini dijadwalkan melakukan pertemuan dan perundingan dengan Menhan Cina Jenderal Liang Guanglie, kemudian bertukar pikiran dengan salah satu lembaga riset/ produksi industri pertahanan terkemuka lainnya di Cina.

    Pertemuan lain yang merupakan bagian dari kunjungan itu adalah pertemuan dengan Wakil Kepala Komite Sentral Militer Cina, Jenderal Guo Boxiong, yang merupakan orang pertama di Angkatan Perang China (PLA).

    Punomo dijadwalkan mengakhiri kunjungannya dengan menemui Wakil Perdama Menteri Li Keqiang, Selasa (21/2). Wakil Perdana Menteri Li Keqiang merupakan kandidat kuat Perdana Menteri Cina berikutnya.

    Sebelum bertolak ke Negeri Tirai Bambu, pada pekan lalu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro telah meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642, di Dermaga Batu Ampar Kota Batam yang merupakan hasil karya putera-puteri Indonesia.

    Sumber : Republika
    Readmore --> Wakasal : Kita Akan Kerjasama Rudal Ground to ground, Ground to air Dan Air to ground Dengan China

    KCR Akan Menggunakan C-705 Karena Jangkauan Dan Akurasinya Lebih Baik

    Jakarta - Kapal Cepat Rudal (KCR) TNI Angkatan Laut akan dipersenjatai dengan peluru kendali C-705 yang akan diproduksi bersama Pemerintah Indonesia dan China.

    Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muda TNI Soemartono di Jakarta, Senin (20/2), mengatakan saat ini kedua pemerintah tengah menjajaki produksi bersama peluru kendali tersebut. "Kami sudah melakukan uji coba terhadap rudal C-705 sebanyak dua kali, dan hasilnya sangat bagus untuk melengkapi persenjataan KCR-KCR TNI Angkatan Laut," ungkapnya.

    Soemartono mengemukakan sebelumnya TNI Angkatan Laut pernah menggunakan rudal buatan China C-802 untuk mempersenjatai beberapa kapal kelas van speijk dan kapal patroli cepat.

    "Namun, jarak jangkaunya masih kurang dibandingkan C-705 yang bisa mencapai 100 meter lebih, dengan tingkat akurasi yang baik," ujarnya menambahkan.

    Karena itu, kedepan untuk kapal-kapal cepat berpeluru kendali TNI Angkatan Laut akan menggunakan C-705, kata Soemartono menegaskan. TNI Angkatan Laut kini tengah memiliki dua unit KCR yakni KRI Clurit dan KRI Kujang. "Kami telah memesan 40 unit KCR untuk ditempatkan di beberapa wilayah laut Indonesia yang rawan kejahatan laut," ungkapnya. Saat ini, Kementerian Pertahanan sedang menyusun rencana terkait dengan proses alih teknologi peluru kendali C-705.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam kunjungan kerjanya ke China awal pekan ini juga mengunjungi Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

    Selama di China, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

    Tak hanya itu, Menhan juga meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co Ltd).

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> KCR Akan Menggunakan C-705 Karena Jangkauan Dan Akurasinya Lebih Baik

    Indonesia Dan China Mantapkan Alih Teknologi Rudal

    Jakarta - Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705.

    Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta Senin mengatakan, proses alih teknologi menjadi syarat utama dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, termasuk peluru kendali dari China.

    "Selain itu, kita juga telah menjajaki kerja sama produksi bersama rudal tersebut sebagai produk nasional," kata Brigjen Hartind Asrin menambahkan.

    Rangkaian proses alih teknologi itu antara lain ditandai dengan kunjungan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ke China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

    Sebelumnya, kedua pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan kedua negara. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

    Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

    Kedua, alih teknologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, upgrade dan pelatihan.

    Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing.

    Selama di China, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Menhan Purnomo Yusgiantoro juga berencana melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

    Tak hanya itu, Menhan juga berencana meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd) .

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Indonesia Dan China Mantapkan Alih Teknologi Rudal

    Monday, February 20, 2012 | 4:12 PM | 0 Comments

    ACAB Ditunjuk LIG Nex1 Untuk Membuat Kubah Radar KFX

    Seoul (MIK/WDN) - Perusahaan Volvo Aero ditunjuk oleh anak perusahaan dari LIG Group yaitu LIG Nex 1 yang untuk membuat bahan komposit AB-ACAB yang akan dikembangan sebuah radome yang memiliki kemampuan siluman untuk prototipe pesawat KFX.

    ACAB sendiri diakui sebagai salah satu perusahaan terkemuka Eropa untuk memasok komponen komposit canggih untuk peralatan militer. Antara lain, ACAB digunakan khusus untuk teknologi radome modern, termasuk teknologi generasi terbaru. ACAB sendiri telah mendukung dan memasok peralatan untuk SAAB lebih dari setengah abad untuk teknologi radome dalam program pesawat tempur SAAB. ACAB sendiri merupakan pemasok utama radome pesawat tempur Gripen.

    LIG Nex1 merupakan perusahaan nomor satu di Korsel untuk produk militer negara tersebut. LIG Nex1 telah memiliki kerjasama yang sangat erat dengan perusahaan-perusahaan internasional yang lebih maju. LIG Nex1 sedang melakukan pengembangan berbagai senjata, termasuk radar dan sistem untuk pengawasan.

    Radome (Kubah Radar) merupakan bagian dari struktural yang efisien dalam hidung pesawat yang digunakan untuk melindungi antena radar dari angin dan cuaca. Hal ini memerlukan kehati-hatian dalam merancang untuk menahan beban mekanik tanpa mengorbankan kinerja radar. Selain itu, juga berfungsi untuk meningkatkan daya jangkauan jelajah dari pesawat karena memiliki beragam fitur siluman yang canggih.

    Pesawat tempur KFX digunakan untuk mengganti pesawat tempur F-4 Phantom II dan F-5 Tiger II Korsel yang sudah uzur. Pesawat ini akan diproduksi diperkirakan melebihi 250 pesawat tempur. Kontrak ini meliputi pengembangan dan memproduksi prototipe yang nilai kontrak dirahasiakan. Hal ini karena masih terlalu dini untuk menentukan jumlah orang ACAB yang akan dilibatkan untuk pengembangan hingga fase produksi.

    "Kami sangat bangga dan senang melakukan kotrak dengan LIG Nex1 karena ini merupakan komitmen dalam posisi kami sebagai pemimpin kubah radar (radome) kelas dunia," kata Torgny Stenholm, Presiden ACAB.

    Sumber : Defpro/MIK
    Readmore --> ACAB Ditunjuk LIG Nex1 Untuk Membuat Kubah Radar KFX

    Menhan RI Kunjungi Industri Rudal China

    Beijing - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertahanan China Jenderal Liang Guanglie, Senin (20/2) di Beijing, China. Kunjungan ini dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama pertahanan kedua negara yang telah terjalin baik, utamanya dalam bidang industri pertahanan.

    Kunjungan Menhan RI kali ini juga merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Menhan China ke Kemhan RI pada bulan Mei tahun lalu. Komitmen memperkuat kerja sama industri pertahanan kedua negara menjadi salah satu topik utama bahasan dalam pertemuan antara Menhan RI dengan Menhan China tersebut.

    Dalam kunjungan ini, Menhan RI didampingi Delegasi Indonesia antara lain Wakasal Laksdya TNI Marsetio, Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Karo TU Setjen Kemhan Laksma TNI Yuhastihar dan Dirkersin Ditjen Strahan Kemhan Kolonel Cpl. Jan Pieter Ate, M.Bus, MA.

    Usai melakukan kunjungan kepada Menhan China, pada hari yang sama Menhan RI juga menghadiri pertemuan dengan Wakil Ketua CMC Jenderal Guo Boxiong, dan dilanjutkan pertemuan dengan Kepala State Administration for Science, technology and Industry for National Defence (SASTIND) Mr. Chen Qiufa.

    Kunjungan Menhan ke China ini dilakukan selama tiga hari. Selain melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Menhan RI juga berencana melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang, Selasa (21/2).

    Sebelumnya, Minggu (19/2) Menhan RI berkesempatan mengunjungi dan meninjau Aerospace Long March International Trade & co., Ltd. (ALIT), salah satu perusahaan berada di bawah SASTIND yang memproduksi roket dan rudal serta ruang angkasa termasuk ICBM dan Roket peluncur satelit Long March.

    Menhan RI juga mengunjungi China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMIEC) terkait dengan proyek Rudal C-705 yang akan dibeli oleh TNI AL serta menjadi proyek Transfer of Technology (ToT).

    Kerjasama Pertahanan RI-China

    Kerjasama pertahanan kedua negara sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, hingga pada tahun 2006 telah dirintis forum konsultasi bersama yang pertama di Jakarta dan dilanjutkan dengan forum konsultasi bilateral kedua pada tahun 2007 di Beijing.

    Forum tersebut sangat baik dan dapat membantu dalam meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan kedua negara, yang telah dibuktikan dengan dilakukannya penandatangan Defence Cooperation Agreement (DCA) antara Indonesia-China pada tahun 2007.

    Meskipun DCA tersebut masih dalam proses ratifikasi di Indonesia dan belum dapat diimplementasikan, namun forum konsultasi bilateral kedua negara akan terus dilaksanakan sebagai wahana untuk meningkatkan hubungan bilateral bidang pertahanan kedua negara, sambil menunggu selesainya proses ratifikasi.

    Sampai dengan saat ini, banyak kemajuan dalam hubungan kerjasama pertahanan yang dilakukan kedua negara terutama dalam hal pertukaran pendidikan, pelatihan maupun dalam pengadaan Alutsista.

    Khusus mengenai kerjasama di bidang industri pertahanan, telah ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemhan RI dengan SASTIND pada tanggal 22 Maret 2011 yang lalu di Jakarta.

    Penandatanganan MoU bidang industri pertahanan dan LoI yang menyertainya, diharapkan dapat meningkat kerjasama bidang pengadaan Alutsista khususnya, maupun kerjasama bidang logistic secara umum.

    Demikian Siaran Press Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Menhan RI Kunjungi Industri Rudal China

    Pengamat : Dukung TNI Lengkapi Alutsista

    Jakarta - Perlu disadari bahwa Indonesia tercinta ini punya tentara yang sedang merana, alat utama sistem pertahanan (Alutsista) kita bisa dikatakan usang dan ketinggalan zaman. Tak usah jauh-jauh, lihat saja senjata yang ada di Kodim, dari tahun berapa M16 itu setia dirawat oleh tentara kita? Kalau bukan TNI yang telaten memelihara, bisa jadi senjata itu sudah jadi barang rongsokan.

    Indonesia di zaman Presiden Soekarno sempat dapat julukan ’’Macan Asia’’, karena tentara kita di semua lini kuat, indikatornya kita punya KRI Irian yang sebenarnya adalah kapal penjelajah Ordzhonikidze dari armada Baltik AL Soviet yang dibeli oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962.

    Pada saat itu KRI Irian merupakan kapal terbesar di belahan bumi selatan. Kapal ini digunakan secara aktif dalam operasi Trikora untuk persiapan merebut Irian Barat (kini Papua).

    Di lain pihak kehadiran kapal ini memberikan efek psikologis bagi kapal perang AL Belanda terutama kapal induk Belanda Kareel Doorman dan membuat AL Belanda secara drastis mengurangi kehadirannya di perairan Irian Barat. Apalagi pada saat itu TNI AU juga mengoperasikan Bomber Tu-16 Badger yang bisa menggendong dua rudal antikapal perang AS-1 Kennel.

    Konon rudal ini besarnya sama dengan pesawat pemburu Mig 15. Terbukti dengan tentara dan alutsista yang kuat Indonesia punya daya diplomasi tinggi di mata internasional.

    Cerita lalu itu nampaknya sulit terulang sekarang, TNI dibombardir dari segala arah hanya karena ingin memperkuat Alutsistanya dengan pembelian tank Leopard. Alasan penolakan dari DPR adalah tank itu tak cocok dengan medan Indonesia, alasan yang naif mengingat negara tetangga kita Singapura dan Malaysia juga punya tank ini.

    Ada lagi alasan pembelian tank Leopard mematikan industri pertahanan dalam negeri. Jika menunggu bangsa ini bisa membuat Alutsista secanggih Eropa, sampai kapan? Sementara negara tetangga semakin canggih Alutsistanya, kita masih ’’eker-ekeran’’ sendiri.

    Adalah hal yang lucu mengingat yang mengetahui spesifikasi dan kebutuhan Alutsista tentara adalah TNI lalu ketika berbagai kalangan sipil dan seorang anggota DPR yang konon juga mantan tentara tapi dari Korps Artileri (spesialisasinya peluru, rudal dan meriam, bukan ahli tank yang merupakan bidangnya kecabangan Kavaleri), dia berkomentar di berbagai media menentang pembelian Leopard. Seolah dia tahu betul seluk-beluk tentang tank.

    TNI tak akan maju kalau selalu dikerdilkan dan dianggap sebagai dosa masa lalu. Sadarilah bahwa TNI adalah benteng bangsa milik rakyat. Dukung TNI untuk maju setara dengan tentara negara lain yang lebih maju.

    Sumber : Suara Merdeka
    Readmore --> Pengamat : Dukung TNI Lengkapi Alutsista

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.