ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, January 28, 2012 | 12:55 PM | 0 Comments

    Diam-diam, Nasution-Kennedy Bertemu Buka Tabir Agenda Politik Indonesia Dan AS

    Jakarta - Rencana pertemuan antara Jenderal AH Nasution dengan Presiden Amerika Serikat John F Kennedy (JFK) medio November 1963 mengemuka di sebuah jurnal. Beragam analisis menggambarkan agenda politik antara Indonesia dan negara adidaya untuk membangun kekuatan.

    “Jenderal AH Nasution memang menjadi tulang punggung Presiden Soekarno saat itu. Dia berperan untuk meyakinkan JFK agar komunisme dibendung,” ungkap ahli kajian wilayah Amerika dari Universitas Indonesia Retno Sukardan Mamoto, PhD, Rabu (25/1).

    Menurutnya wajar jika Nasution-lah yang menemui langsung sang pemimpin karismatik itu sebagai Kepala Satuan Angkatan Darat. Selain sebagai pemangku kekuasaan militer tertinggi, Nasution dikenal sebagai sosok yang anti komunis.

    Retno menjelaskan, peranannya menumpas bibit separatis juga terlihat dari keseriusannya menumpas pemberontakan PRRI/Permesta. Melihat kondisi itu, Nasution tak ingin ketenangan Pulau Jawa terusik. Pasalnya, menurut Retno, Nasution melihat bibit ideologi komunis mulai menggejala sejak awal zaman pergerakan pemuda Indonesia.

    Nasution juga berusaha menggalang kekuatan di saat Sorkarno mulai terjepit dengan politik Nasakom. “Dialah prajurit terhebat yang anti-komunis dengan rasa nasionalis tinggi,”ucap Retno.
    Sang jenderal mulai menyusun strategi pendekatan ke berbagai pihak, termasuk terhadap AS.
    Bentuk militansi terhadap Soekarno ditunjukkan dengan semangat anti-kolonialisme. JFK, dalam penilaian Retno, juga mencari peluang mendekati sekelompok panglima tinggi Angkatan Darat yang tak menganut komunisme. Lantaran dirinya tahu Presiden Soekarno dikenal berideologi tinggi. Sosoknya dikenal sebagai anti-Barat sekaligus menyetujui komunis hanya dari sisi anti-kolonialnya.

    Nampaknya orisinalitas pemikiran Soekarno menarik perhatian JFK. Presiden AS ke 35 itu mendukung penuh atas perjuangan RI saat merebut Irian Barat (kini Papua Barat) dari tangan Belanda. Semula JFK amat mendukung posisi Belanda karena AS membutuhkan dukungan Belanda sebagai anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

    JFK takut, keengganan Belanda untuk meninggalkan Irian Barat akan mengundang perlawanan militer pihak Indonesia yang pada gilirannya dapat melibatkan negara-negara Barat lainnya, termasuk AS. Sementara itu, keterlibatan AS di Irian dikhawatirkan akan merangsang Uni Soviet terlibat pula.
    "Karena itu, setelah mempelajari situasi lebih lanjut, JFK kian condong membela kepentingan RI," pungkas Retno.

    Ganyang Malaysia

    Di sisi lain dalam soal Malaysia, Retno juga mempunyai kesimpulan tentang pandangan Soekarno. Menurutnya, ketegasan Soekarno soal Malaysia karena Soekarno melihat pembentukan Malaysia merupakan upaya kekuatan lama kolonial (Oldefos) untuk mengeroyok Indonesia. 'Pengeroyokan' itu dipelopori Inggris.

    Kata Retno, semula JFK mati-matian membela Inggris, sekutu dekat AS, tetapi sedikit demi sedikit mulai berusaha memahami posisi Presiden Soekarno.
    Sejarawan LIPI, Taufik Abdullah juga mengindikasikan rencana kedatangan Nasution langsung di bawah komando Presiden Soekarno. "Saat itu Soekarno bersiap-siap menyatakan perang," terang Taufik.

    Perang yang dimaksudnya terkait konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia dengan jargon Ganyang Malaysia!

    Konsekuensi dari ultimatum Soekarno itu, Nasution berusaha mencari kelengkapan senjata perang hingga ke Uni Soviet. “Hal ini yang membuat JFK ketakutan sehingga mendukung penuh Indonesia di Konferensi Middleburg dan Formula Bunker serat mengirim adiknya, Robert Kennedy,”ungkap Taufik.
    Berkat lobi itu, Irian Barat berstatus di bawah kekuasaan PBB, namun dipercayakan pemerintahannya pada Indonesia.

    Taufik memastikan, rencana kepergian Nasution ke Gedung Putih semata berusaha mencari senjata. Tapi, secara dukungan politik baik Soekarno maupun Nasution tak mendukung AS. Dibuktikan pula dengan banyaknya tentara lulusan AS yang berjaya di Indonesia, tapi spesifikasi itu tak dipunyai Nasution. Ia tetaplah prajurit dengan nasionalisme membara.

    Dugaan adanya rencana pendongkelan kekuatan PKI di tanah air pun belum menguat. “Tak ada hubungannya dengan mendongkel PKI, pusat perhatian TNI saat itu hanya ke Irian Barat. Meskipun hubungan tentara-TNI saat itu sangat buruk,”cetus Taufik.

    Sumber : Yahoo
    Readmore --> Diam-diam, Nasution-Kennedy Bertemu Buka Tabir Agenda Politik Indonesia Dan AS

    Pangkostrad : Pembelian Alutsista untuk Mengganti, Bukan Menambah

    Tasikmalaya - Panglima Komando Strategi Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Asmyn Yusri menegaskan, pengajuan pembelian alutsista yang mencuat sejak akhir tahun lalu bukanlah untuk menambah perangkat persenjataan yang ada. Pada kenyataannya, alutsista milik Indonesia tidak hanya kurang melainkan usianya pun sudah tua.

    "Kita hanya ingin mengganti alat-alat yang sudah tua bukannya menambah," ujarnya saat ditemui seusai meresmikan Gedung Tembak Visual dan Sarana Sekolah di Mako Brigif 13 Galuh, Jln. Nyantong, Kec. Tawang, Kota Tasikmalaya, Jumat (27/1/12).

    Menurut dia, alasan TNI mengajukan penggantian alutsista yang sudah tua tersebut guna mendukung kinerja dan profesionalitas TNI. Tentara yang profesional tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Di samping itu butuh peralatan atau alutsista yang memadai.

    "Kita ini tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, tentara profesional. Untuk itu harus didukung. Bagaimana mau profesional kalau hanya fisiknya saja jadi harus ada alat-alatnya," katanya.

    Terkait penilaian terhadap besarnya anggaran yang diajukan oleh Kementerian Pertahanan tersebut, Asmyn menilai hal itu merupakan upaya yang positif dalam rangka mengkritisi dan kontrol. Namun yang paling penting pengajuan penggantian alutsista tersebut disetujui. "Kalau disetujui kan enggak apa-apa," ucapnya.

    Asmyn pun menuturkan, adapun jumlah alutsista yang diajukan tidak lagi menjadi masalah. Hal itu jangan lagi dibesar-besarkan termasuk penambahan tank Leopard, yang sempat di pertanyakan DPR. Kebutuhan alutsista akan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan seberapa jauh organisasi tersebut berkembang.

    Ia menambahkan, alutsista angkatan darat TNI masih sangat kurang dibanding dengan angkatan bersenjata lainnya di wilayah Asia Selatan.

    Sumber : Pikiran Rakyat
    Readmore --> Pangkostrad : Pembelian Alutsista untuk Mengganti, Bukan Menambah

    Friday, January 27, 2012 | 5:43 PM | 3 Comments

    Komisi I Sarankan Kemhan Membeli T-90 Dari Rusia

    Jakarta - Ketua Komisi I DPR Mahufdz Siddiq mengingatkan kepada pemerintah, besar kemungkinan parlemen Belanda tetap menolak penjualan Tank Leopard ke Indonesia. Meskipun dipaksakan beli akan ada prakondisi politik yang akan rugikan Indonesia.

    "Pengalaman F-16 yang pernah diembargo dan tank scorpion harus jadi pelajaran. Mabes TNI harus membuka opsi luas soal pengadaan MBT Leopard. Untuk spec setara Leopard tapi dengan bobot lebih ringan yaitu sekitar 40 ton ada T-90 dari Rusia. Bahkan pihak rusia tawarkan kerjasama dengan PT Pindad dan fasilitas state credit yang masih tersedia," kata Mahfudz, Jumat (27/01/2012).

    Yang lebih penting, katanya, Rusia tidak tetapkan prakondisi politis sehingga lebih aman dan leluasa.

    Rencana modernisasi alutsista dengan dukungan anggaran PLN 6.5 miliar dollar Amerika, harus dibarengi dengan skema revitalisasi industri pertahanan nasional. Jadi, lanjutnya lagi, skema TOT dan joint-production harus mengikuti kontrak pembelian.

    "Saat ini, pihak TNI masih jajaki kemungkinan beli MBT Leopard dan akan membahas dengan Komisi 1 jika sudah ada kejelasan. Sikap komisi 1 tergantung pada hasil proses tersebut. Tapi saya minta TNI buka opsi luas dengan pertimbangkan hal-hal di atas tadi. Soal kebutuhan mbt itu realistis, selain memodernisasi light dan medium tank TNI yang sudah tua," jelas Mahfudz Siddiq.

    Sumber : Tribun
    Readmore --> Komisi I Sarankan Kemhan Membeli T-90 Dari Rusia

    Komisi I : TNI Juga Perlu Cermati Produk Alutsista Turki

    Jakarta - Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq berpendapat, alutsista TNI, khususnya untuk kebutuhan tank, jangan hanya berkiblat pada Belanda. Masih ada negara lain yang bisa dijadikan pilihan. Turki adalah salah satunya, mengingat sistem persenjataan Turki berstandar NATO.

    "Dimana Turki pun telah menawarkan skema kerja sama dengan industri pertahanan nasional. Sayangnya, Kemhan belum serius menindaklanjutinya, meski sudah ada MoU di level Presiden dan Menhan," tegasnya.

    Menurut Mahfudz, prioritas modernisasi alutsista harus diberikan ke penguatan kemampuan pengamanan wilayah maritim dengan prinsip matra terpadu. Selain untuk memperkuat keamanan nasional, modernisasi alutsista juga mesti memberi dampak ekonomi, yaitu menekan potensi kerugikan ekonomi akibat lalu-lintas ilegal di kawasan maritim Indonesia, termasuk di tiga jalur ALKI.

    "Jadi, modernisasi alutsista Rp 150 triliun tidak akan punya nilai tambah, tanpa diikuti kebijakan revitalisasi industri pertahanan nasional. SDM BUMNIP (Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan) kita pun saat ini banyak dan sekarang tersebar di banyak negara. Karena itu, saatnya kita berdayakan mereka. End-user produk BUMNIP banyak. Ada TNI, Polri, Kemhub, KKP, BNPT, BNPB, Kemenkominfo, ddan lainnya. Total belanja modal mereka tiap tahun besar," ujarnya.

    Secara ekonomi dan politik,kata Mahfudz, posisi Rusia, Cina, dan Turki akan terus menguat. Sehingga Indonesia perlu kembangkan kerja sama dengan negara-negara ini, selain tetap melanjutkan kerja sama dengan AS, Eopa, dan Korsel. Ini implementasi dynamic equilibrium yang digagas Presiden SBY. Kalau tidak, maka itu hanya sekadar retorika.

    Kebijakan politik luar negeri dari Kemlu juga harus jadi bagian integral dari kebijakan pengadaan alutsista TNI dan juga bagi Polri.

    "Sayang selama ini Kemlu belum banyak terlibat atau dilibatkan. Fenomena menguatnya Asia, khususnya Asia Timur harus dikaji dan ditindaklanjuti secara khusus," tegasnya.

    Di Asean misalnya, neraca perdagangan RI dengan Singapura dan Thailand defisit sangat besar. Secara total Indonesia pun mengalami defisit dengan Asean.

    "Belum lagi Asean plus tiga dan plus enam. Makin berat defisitnya. Cina sudah berhasil ikat Asean dengan CAFTA. Sementara Indonesia masih belum mampu identifikasi aktor-aktor kekuatan yang harus jadi mitra strategis secara ekonomi dan politik. Kita pun masih asyik dengan panggung diplomasi politik di arena regional dan multilateral.Kalo saja kapasitas ekonomi kita belum bisa jadi leverage, minimal kita tidak boleh defisit dalam national self-pride," pungkasnya.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Komisi I : TNI Juga Perlu Cermati Produk Alutsista Turki

    Wamenhan : Jerman Tawarkan Leopard Yang Sudah Direfurnishment

    Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan tidak khawatir dengan penolakan parlemen Belanda atas penjualan tank Leopard ke Indonesia. Menurutnya, jika memang Belanda tidak mau menjual, sudah ada negara lain yang juga menawarkan pada Indonesia. “Jerman sebagai negara produsen juga menawarkan pada Indonesia,” kata Sjafrie usai meninjau kesiapan produksi perdana PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (25/1).

    Dikatakan Sjafrie, tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi dibeli oleh Indonesia akan diupgrade kemampuannya. Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman adalah refurnishment, “Jadi bukan bekas, karena sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya,” jelasnya.

    Namun begitu, Sjafrie menegaskan Indonesia akan lebih diuntungkan dengan membeli pada Belanda. Dengan dana US$280 juta, Indonesia akan mendapat 100 unit tank Leopard. “Kalau di tempat lain tidak bisa. Dana itu kami alokasikan untuk 44 tank, tapi bisa mendapat 100 unit,” imbuhnya.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan penolakan yang muncul dari kalangan parlemen Belanda bukanlah sikap resmi parlemen maunpun Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda sendiri telah mendesak kepastian Indonesia dalam membeli tank mereka.

    Purnomo juga mengatakan, kebutuhan Indonesia sebenarnya pada main battle tank (MBT), bukan pada Leopard. Bisa saja MBT yang dibeli Indonesia bukan jenis Leopard. Sementara itu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan, Jerman yang juga menawarkan Leopard-nya akan segera melakukan pertemuan dengan Indonesia.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Wamenhan : Jerman Tawarkan Leopard Yang Sudah Direfurnishment

    Panglima TNI: Pembelian Leopard Sesuai Prosedur

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengungkapkan pembelian tank Leopard tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Menurutnya, pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) termasuk main battle tank (MBT) Leopard dilakukan melalui sejumlah prosedur. “Pembelian alutsista ada prosedurnya. Proses pertama kami minta persetujuan alokasi, dananya memungkinkan atau tidak,” kata Panglima TNI usai upacara pembukaan Operasi Kepolisian Militer 2012 di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Kamis (26/1).

    Jika alokasi dana yang diajukan TNI mendapat persetujuan pemerintah dan DPR, pengguna alutsista harus menentukan spesifikasi teknis alutsista yang dibutuhkan. Selanjutnya, dilakukan tender bebas kepada pihak-pihak yang dapat menyediakan kebutuhan alutsista tersebut, “Baru kemudian dipilih yang sesuai dengan standar yang ditentukan,” papar Panglima.

    Proses pengadaan tank Leopard, jelas dia, baru sampai pada tahap penjajakan atas tawaran yang diterima TNI untuk memenuhi kebutuhannya terhadap MBT. TNI, khususnya Angkatan Darat, hingga saat ini baru memiliki light dan medium tank. “Belum ada kesepakatan, baru pilihan dan opsi-opsi, Leopard hanya salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan kami,” ujarnya.

    Menurut Agus, modernisasi alutsista TNI dilakukan dengan tiga cara. Bagi alutsista yang sudah tua, akan dihapus dan dinonaktifkan. Alutsista yang masih bisa ditingkatkan kemampuannya, akan ditingkatkan. Cara terakhir adalah dengan melakukan pembelian. “Leopard ini masuk dalam pengadaan baru,” imbuhnya. Modernisasi alutsista ini dilakukan, selain karena alutsista yang dimiliki saat ini sudah berusia tua, teknologinya pun sudah tertinggal jauh oleh yang dimiliki negara tetangga.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Panglima TNI: Pembelian Leopard Sesuai Prosedur

    Dubes Rusia Dan AS Dipanggil Komisi I Untuk Membahas Alutsista Dan Pertahanan

    Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia mempertanyakan Kredit Ekspor (KE) US$ satu miliar yang diberikan Pemerintah Rusia kepada Indonesia, ketika bertemu dengan Komisi I DPR RI. yang seharusnya digunakan untuk membeli berbagai peralatan militer dari negara Beruang Merah tersebut. Padahal sudah ada penandatangan Menteri Keuangan Indonesia dengan Rusia.

    “Rusia mempertanyakan mengapa Indonesia tidak melanjutkan pembelian peralatan militer dari Rusia, Ini preseden buruk bagi Indonesia” Kata Lili Wahid yang mengaku, jika Komisi I baru tahu ada masalah seperti itu.

    Kepada itoday, adik Alm. Gus Dur ini juga mengatakan, Komisi I akan meminta keterangan dari pemerintah, dalam hal ini kementerian pertahanan. Dan Komisi I juga akan memberitahukan ke komisi yang berhubungan dengan kementerian keuangan.

    Kerjasama pertahanan antara Rusia-Indonesia menghangat kembali sejak Pemerintahan Megawati, yang membeli berbagai peralatan militer dari Rusia. Sejak saat itu, Rusia semakin intensif berhubungan dengan Indonesia dengan memberikan KE untuk mempermudah Indonesia mendapatkan peralatan militer negara Beruang Merah tersebut.

    Indonesia sendiri berencana akan menambah lagi armada Sukhoinya, dengan memesan pesawat tempur sejenis dengan nilai kontrak sebesar US$ 200 juta.

    Komisi I Panggil Dubes AS

    Selain dengan Dubes Rusia untuk Indonesia, siang tadi Komisi I DPR RI juga bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia.

    Kepada itoday, anggota Komisi I DPR RI, Lili Wahid mengatakan, kedatangan Dubes AS ke Komisi I hanya untuk memberitahukan, AS akan merampingkan angkatan bersenjatanya, dan menaruh perhatian terhadap perkembangan Indonesia dalam skala hubungan bilateral kedua negara.

    Namun Lili tidak menjelaskan lebih lanjut, mengenai hal apa yang akan diperhatikan Pemerintah AS dalam rangka hubungan dua negara. Hal ini menjadi pertanyaan besar, sebab AS memiliki banyak kepentingan di Indonesia, salah satunya masalah Freeport dan HAM di Papua.

    Sejak AS diterpa krisis ekonomi, Pemerintah AS memang berencana untuk melakukan efisiensi di segala ini, termasuk militernya. Salah satunya dengan merampingkan jenis Alutsista yang digunakan angkatan bersenjatanya.

    Sumber : ITODAY/ITODAY
    Readmore --> Dubes Rusia Dan AS Dipanggil Komisi I Untuk Membahas Alutsista Dan Pertahanan

    Thursday, January 26, 2012 | 5:17 PM | 0 Comments

    KSAL : Marinir Akan Kedatangan 34 BMP-3F Tahun Ini

    Jakarta - Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Soeparno mengatakan pengembangan Armada RI menjadi tiga Komando Wilayah Laut diharapkan selesai pada 2014. Pengembangan akan berjalan sesuai tahapan skala prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI AL hingga 2024.

    "Masih dikaji dan jika perlu pengembangan Armada RI juga sejalan dengan pengembangan organisasi di TNI AU dan TNI AD sehingga kita bersama-sama," kata Kasal ketika dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (24/1).

    Ditemui seusai membuka Rapat Pimpinan TNI AL 2012, Soeparno mengatakan pengembangan Armada RI menjadi tiga komando wilayah didasarkan pada luas wilayah perairan nasional yang cukup luas dan kondisi lingkungan strategis yang tengah berkembang.

    Selain itu, tambah Kasal, pengembangan komando wilayah laut dari saat ini dua komando, Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim) menjadi tiga komando wilayah laut merupakan penjabaran dari renstra TNI AL hingga 2024 untuk mewujudkan TNI AL yang besar, kuat, dan profesional.

    Terkait pergeseran fokus kekuatan Amerika Serikat ke Asia Pasifik, salah satunya dengan penempatan pasukan Marinirnya di Darwin yang berdampak meningkatnya pelayaran kapal-kapal militer asing, terutama melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia II dan III, Kasal menilai masih bisa diantisipasi dengan pengamanan oleh Koarmabar dan Koarmatim.

    "Kekuatan di dua komando armada yang telah ada itu kan bisa dimobilisasi, sesuai kebutuhan. Dengan tercapainya kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Forces/MEF), maka semua bisa dikoordinasikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat ancaman yang dihadapi dan perkembangan lingkungan strategis yang ada," kata Kasal menambahkan.

    Tetapi, lanjut Soeparno, pihaknya berharap pengembangan armada tersebut dapat diselesaikan pada 2014. Direncanakan, Komando Wilayah Laut Barat akan berkedudukan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Komando Wilayah Tengah di Makassar (Sulawesi Selatan), dan Komando Wilayah Laut Timur berpusat di Sorong, Papua.

    Dalam Rapat Pimpinan TNI AL 2012, dibahas beberapa agenda utama, yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan, pembinaan personel, kesejahteraan prajurit, dan reformasi birokrasi.

    Sebelumnya, Kasal mengatakan Korps Marinir akan memiliki divisi baru, yakni Divisi III Sorong, Papua, pada tahun 2012 untuk melengkapi Divisi I (Pasmar-1) di Surabaya dan Divisi II (Pasmar-2) di Jakarta. "Embrionya sudah lama ada di Sorong, yakni satu batalyon di Papua, tapi nantinya akan ditingkatkan menjadi brigade dan akhirnya divisi," katanya.

    Dengan begitu, pengamanan kawasan perbatasan Indonesia dan negara lain tidak akan ditambah karena sudah dianggap cukup. Apalagi Marinir memang bukan untuk pengamanan perbatasan laut. Selain itu, Korps Marinir juga akan menambah tank BMP-3 F sebanyak 54 unit tank dengan 34 tank baru akan direalisasikan pada tahun 2012, sedangkan sisanya menyusul.

    "Ke-54 tank baru itu akan ditempatkan di wilayah barat dan timur dengan sebagian tank merupakan produksi dalam negeri. Yang jelas, kalau alat tempur kita bisa dibuat di dalam negeri, ya kita beli di sini," ujarnya.

    Sumber : Koran Jakarta
    Readmore --> KSAL : Marinir Akan Kedatangan 34 BMP-3F Tahun Ini

    KSAU : TNI AU Lakukan Peremajaan Pesawat yang Sudah Tua

    Yogyakarta - Banyak pesawat milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) yang sudah tua atau berusia di atas 30 tahun. Karena itu, TNI AU secara bertahap dalam jangka panjang mulai melakukan peremajaan pesawat dan alat utama sistem pertahanan (alutsista).

    Hal itu diungkapkan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP seusai Rapat Pimpinan TNI AU dan Apel Dansat 2012 di Gedung Serba Guna Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Kamis (26/1/2012).

    Menurut Imam hingga tahun 2014, TNI AU akan menambah empat pesawat tempur jenis Sukhoi dari Rusia dan pesawat tempur jenis Volcano dari Brazil. Hingga tahun 2024, Indonesia akan memiliki 180 pesawat tempur.

    Untuk pesawat Sukhoi juga terus ditambah skuadronnya. Super Volcano dari Brazil sebanyak 16 unit, MK 53 dari Korea pengganti T-50 sebanyak 16 unit, Fighting Falcon sebanyak 8 unit serta pesawat F-16 sebanyak 30 unit.

    "Penambahan pesawat tempur ini untuk memperkuat tujuh skuadron tempur TNI untuk menjaga wilayah NKRI," kata Imam.

    Selain pesawat tempur lanjut Imam, TNI AU juga akan menambah pesawat jenis transport C 259, Hercules dan helikopter C 725 sebanyak 80 pesawat. Dalam pengadaan itu, TNI AU telah bekerjasama dengan Korea Selatan hingga 2024.

    Menurut Imam, banyak pesawat TNI AU sudah tua atau berumur di atas 30 tahun sehingga perlu peremajaan. Namun dalam peremajaan tersebut dilakukan secara bertahap. Peremajaan tidak hanya dilakukan pada pesawat saja tapi juga mencakup sistem persenjataan seperti bom, roket dan peluru.

    "Kalau ada satu skuadron yang perlu segara diganti, ya harus diganti segera. Kalau tidak diganti biaya perawatannya sangat tinggi. Ada beberapa suku cadang pesawat yang sudah tidak dibuat lagi karena pabrik sudah tidak beroperasi lagi. Pemerintah, TNI dan Dephan sudah memikirkan semua itu," katanya.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> KSAU : TNI AU Lakukan Peremajaan Pesawat yang Sudah Tua

    Panglima TNI : DPR Tak Tolak Pengadaan Alutsista

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono membantah ada penolakan dari Dewan Perwakilan Rakyat terkait rencana pengadaan sejumlah alat utama sistem pertahanan (alutsista). Proses pembahasan di antara kedua lembaga masih berlanjut. Sejumlah peralatan militer keinginan TNI masih dalan tahap penjajakan. "Jadi, jangan seolah-olah pemerintah dan Dewan tidak saling setuju," kata Agus di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Kamis, 26 Januari 2012.

    Agus menjelaskan pembelian alutsista memiliki proses yang cukup panjang. Melalui Kementerian Pertahanan, TNI harus mendapat persetujuan alokasi anggaran dari Dewan. Setelah anggaran disetujui, kemudian TNI akan mencari alutsista berdasarkan spesifikasinya. "Setelah itu baru ditender," kata Agus.

    Saat ini, kata Agus, TNI AD membutuhkan jenis main battle tank seperti tank Leopard. Rencana pembelian tank ini belum final. Tank semcam ini belum dimiliki TNI yang hanya memiliki tank ringan dan medium. "Leopard belum final dan baru pilihan-pilihan saja," Agus menjelaskan.

    Sejak satu tahun lalu, TNI berencana melakukan pengadaan alutsista. Pengadaan dilakukan karena alutsista Indonesia sudah ketinggalan dari negara lain. Agus juga mengakui kebutuhan alutsista cukup mendesak karena peralatan yang dimiliki TNI saat ini sudah tertinggal dalam hal teknologi dan sudah tua. Oleh karena itu, TNI akan memenuhi kebutuhan TNI dengan target pencapaian kebutuhan pokok minimal. "Kami paham karena modernisasi alutsista memerlukan waktu yang panjang," kata Agus.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Panglima TNI : DPR Tak Tolak Pengadaan Alutsista

    Danpusenkav : TNI AD Belum Melirik Tank Merkava Israel

    Jakarta - Pembelian tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard 2A6 dianggap paling menguntungkan ketimbang memborong MBT jenis lain.Negosiasi dilakukan tim dari TNI Angkatan Darat dengan pihak penjual, yakni Belanda dan Jerman.

    Menurut Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Danpusenkav) Kodiklat TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Purwadi Mukson, ada beberapa keuntungan yang didapat jika pemerintah membeli MBT Leopard, di antaranya transfer of technology (ToT) sehingga dapat membantu pembangunan industri tank di dalam negeri. “Ada jaminan purna jual sampai sekian puluh tahun,” ujarnya di Jakarta kemarin.

    Dia mengakui,ada berbagai jenis MBT lain dengan kualitas yang mumpuni, seperti Merkava dari Israel, Abrams dari Amerika Serikat,ataupun T-90 asal Rusia. Pemerintah tidak melirik Merkava karena ToT sulit didapat, lagi pula belum tentu Israel bersedia melego. “Buat apa kita beli kalau tidak ada ToT,kita ini kan tidak hanya beli,”katanya. Begitu juga dengan Abrams dan T-90 masih kalah memikat,setidaknya berdasarkan segi penggunaan bahan bakar dan harga yang lebih mahal.

    Kedua MBT tersebut memakai satu jenis bahan bakar, sedangkan Leopard multifuel. Dari segi kemampuan, lanjut dia, Leopard 2A6 memiliki keunggulan jarak tembak dibandingkan dengan tank buatan Rusia yang kini dipakai Malaysia, PT-91M, yakni 6 km untuk Leopard dan 5 km untuk PT- 91M. Leopard juga mampu menyelam dalam air berkedalaman tak lebih dari empat meter dan mampu menembak siang dan malam. Namun,PT- 91M memiliki kaliber lebih besar, yakni 125 mm berbanding 120 mm.

    Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menuturkan, pada21 Desember 2011lalu dirinya melakukan komunikasi dengan tim dari Belanda terkait rencana pembelian Leopard di Jakarta.“Besok 30 Januari mereka mengundang secara resmi kepada saya untuk meninjau ke sana. Mereka membutuhkan untuk menjual tank itu,”ujarnya.

    Meski demikian, proses penjajakan tidak hanya dilakukan dengan pihak Belanda, tapi juga dari Jerman selaku negara produsen Leopard. “Tanggal 26 esok, tim dari Jerman datang kepada saya. Saya akan bandingkan apakah lebih baik dari Jerman atau dari Belanda,”katanya. Dia mengaku tidak menentukan jenis MBT yang akan dibeli. Semuanya diserahkan kepada prajurit di lapangan yang nantinya menggunakan alutsista tersebut.

    “Saya wajib memenuhi permintaan prajurit. Jangan sampai yang dibutuhkan tidak dibeli,yang dibeli tidak digunakan,”tuturnya. Pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie menyatakan, pengadaan alutsista sebaiknya memang diserahkan kepada pengguna, bukan oleh elite politik. Merekalah yang mengetahui senjata seperti apa yang dibutuhkan.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Danpusenkav : TNI AD Belum Melirik Tank Merkava Israel

    Mafia Alutsista Banyak Melobi DPR Untuk Menentang MBT

    Jakarta - Ribut mengenai rencana pembelian tank Leopard 2 dari Belanda ternyata didalangi mafia Alutsista, karena rencana pembelian tersebut sifatnya G to G, tidak melibatkan perantara sama sekali. Oleh sebab itu, mafia-mafia Alutsista itu melobi DPR agar menolak rencana tersebut, sebab merasa dirugikan. Menurut sumber yang dekat dengan kalangan politisi di DPR kepada itoday.

    Sudah menjadi menjadi rahasia umum bahwa setiap pembelian senjata dari luar negeri, mafia Alutsista selalu ikut-ikutan dan mengatur semua kontrak yang dapat merugikan negara. Mafia Alutsista ini biasanya mark up harga senjata yang dibeli, menyuap oknum pejabat di kemhan dan DPR.

    Berbeda dengan pembelian tank Leopard 2 dan pembelian senjata untuk kebutuhan TNI AD lainnya, KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menegaskan tidak akan menggunakan jasa perantara, dan tidak akan ada satu sen pun uang negara yang terbuang percuma. Akibatnya rencana pembelian tank oleh KSAD ditentang habis-habisan.

    Hal senada juga diungkap RE. Baringbing. Kepada itoday, Minggu (22/1). Mantan perwira Badan Intelijen Strategis (Bais) ini mengatakan, setiap pembelian peralatan militer memang selalu ada “calo.”
    Intinya, TNI tidak bisa mendapatkan senjata sesuai dengan keingginannya, tetapi harus sesuai dengan kemauan mafia Alutsista.

    Kejadian hampir serupa juga pernah terjadi di pertengahan dekade 1990-an, dimana TNI sudah melakukan kajian untuk membeli tank berat. Namun yang terjadi, TNI justru mendapatkan tank ringan Scorpio buatan buatan Alvis Vickers, Inggris.

    Dikemudian hari baru diketahui, ternyata tank ringan Scorpio buatan Inggris ini dibeli seharga tank berat Challanger 2. Diduga kasus mark up tersebut melibatkan keluarga Cendana.

    Sumber: Indonesia Today
    Readmore --> Mafia Alutsista Banyak Melobi DPR Untuk Menentang MBT

    Panglima TNI :TNI Ingin Sesegera Mungkin Hapuskan Alat Perang Usang

    Jakarta - Panglima TNI Agus Suhartono menyebut pembelian tank Leopard asal Belanda belum menjadi opsi final. TNI masih belum mengambil keputusan, pembelian tank itu masih terus dipelajari. Namun TNI memastikan peremajaan alutsista terus digeber.

    "Yang sudah tua tidak produktif kita hapus, yang masih bisa kita tingkatkan kemampuannya kita tingkatkan, dan pengadaan yang baru," jelas Agus di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Kamis (26/1/2012).

    Agus melanjutkan, untuk melakukan peremajaan alutsista membutuhkan persiapan dan waktu yang panjang. Saat ini TNI memenuhi kebutuhan alutsista untuk kebutuhan pokok minimal.

    "Kekuatan pokok minimal ini dapat dicapai dalam waktu yang lama. Kita capai dalam 3 tahapan, tahap pertama 2010-2014, kedua 2015 dan seterusnya, kita harapkan 3 tahapan itu bisa memenuhi kekuatan pokok kita," jelasnya.

    Agus mengaku pada anggaran tahun-tahun belakangan ini, hingga 2014 ada anggaran yang cukup untuk melakukan perbaikan alutsista TNI.

    "Untuk 2010-2014 Alhmdulillah pemerintah memberikan anggaran yang lebih banyak, semua itu kita gunakan untuk perbaikan alutsista," jelasnya.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Panglima TNI :TNI Ingin Sesegera Mungkin Hapuskan Alat Perang Usang

    Wednesday, January 25, 2012 | 4:39 PM | 0 Comments

    KSAD Paparkan 6 Prioritas Program Kerja Selama Tahun 2012

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menggelar rapat dengan pimpinan TNI AD di Markas Besar TNI Angkat Darat (MabesAD), di Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (25/1).

    Rapat yang dihadiri pejabat utama di lingkungan TNI Angkatan Darat itu, mengusung tema 'Dengan Komitmen dan Konsistensi yang Tinggi, TNI Angkatan Darat Bertekad Melanjutkan Reformasi dan Birokrasi dan Pembangunan Kekuatan Pokok Minimun (MEF)'.

    Rapat pimpinan ini akan membahas enam prioritas program kerja TNI Angkatan Darat 2012.

    Dijelaskan Jendral Prmono Edhie keenam program prioritas tersebut, pertama di Bidang Intelijen, yakni tercapainya tingkat kesiapan kemampuan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan dalam rangka mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

    Kemudian, bidang operasi dan latihan. Diharapkan tercapainya kesiapan dan kemampuan TNI AD guna melaksanakan tugas operasi baik di dalam maupun luar negeri, serta didukung penguasaan teknik dan taktik militer baik per orangan maupun satuan, agar terwujudnya kemahiran dan keterampilan prjurit.

    Ketiga, kata Jendral Pramono Edhie, di bidang personel, tertatanya kekuatan personol untuk memenuhi kebutuhan personel guna mewujudkan kekuatan personel yang ideal sejalan dengan Minimum Essetial Force (MEF).

    Selajutnya, yang menjadi program prioritas adalah di bidang logistik dengan terpeliharanya seluruh Alut dan Alutsista yang masih layak dipertahankan serta pengadaan baru yang mengutamakan produksi dalam negeri.

    Kemudian di bidang tertorial, yakni tersinkronisasinya penyusunan RTRW pertahan darat dengan pemda serta terpadunya program teritorial guna mewujudkan keselarasan pembangunan aspek kesejahteraan dan pertahanan.

    Terakhir, lanjut Jendral Pramono, tercapainya upaya penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

    "Dengan Rapim TNI Angkatan Darat 2012 ini, diharapkan pelaksanaan program kerja dan anggaran TNI Angkatan Darat 2012 tercapai sasaran dan keberhasilan sesuai arahan kebijakan TNI AD 2012," kata Jendral Pramono.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> KSAD Paparkan 6 Prioritas Program Kerja Selama Tahun 2012

    TNI AD Lirik Peluncur Roket Canggih, HIMARS Buatan Lockheed Martin

    Jakarta - Selain pengadaan main battle tank, TNI AD juga melirik multiple launch rocket system (MLRS) untuk penguatan pertahanan darat. MLRS ini juga dapat difungsikan sebagai antipesawat tempur.

    Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo dalam paparannya saat raker antara Komisi I dan Kementerian Pertahanan mengungkapkan, rencana pengadaan MLRS ini sudah dimasukkan dalam shopping list alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AD. Salah satu yang menjadi incaran adalah rudal tangguh High Mobility Artilery Rocket System (HIMARS). “Untuk penangkis serangan udara karena yang kami punya saat ini kelahiran tahun 1960-an. Setelah tahu harganya akan kami sampaikan,”kata KSAD di gedung DPR RI, Selasa (24/1).

    Dengan memiliki senjata canggih semacam ini, KSAD yakin, Indonesia akan memiliki efek gentar terhadap negara-negara lain sehingga tidak akan mengganggu kedaulatan negara. Tidak kalah dengan tank Leopard yang mampu merontokkan beberapa tank dengan hanya satu tank Leopard, HIMARS ini memiliki jarak tembak sejauh 70 km dengan akurasi 10 meter.

    “Bahkan jarak tembaknya bisa ditingkatkan menjadi 300 km. Sehingga negara lain akan gentar. Tak akan ada lagi patok Indonesia diusik. Lu cabut patok, gue sikat," selorohnya.

    Peluncur roket HIMARS yang dikembangkan Lockheed Martin pada 1996 adalah senjata mobile dengan setiap peluncur yang mampu menembakkan enam roket dalam waktu 45 detik. Selain Amerika Serikat, yang merupakan negara produsen, Uni Emirat Arab dan Singapura juga telah memiliki rudal canggih ini. HIMARS baru diproduksi secara resmi melalui kontrak yang ditanda tangani pada Desember 2005.

    Sebelumnya, KSAD menyebutkan telah menyusun daftar belanja (shopping list) pengadaan alutsista untuk mencapai Minimum Essential Forces. Selain MBT dan MLRS, TNI AD juga akan melakukan pengadaan helikopter serang, meriam 155 dengan jarak tembak 40 km, dan helikopter serbu.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> TNI AD Lirik Peluncur Roket Canggih, HIMARS Buatan Lockheed Martin

    KSAL : TNI AL Fokuskan Amankan Laut Timur

    Jakarta - Pengamanan jalur pelayanan internasional yang sangat strategis, yakni di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan III, akan ditingkatkan seiring pengembangan armada dan penambahan alat utama sistem senjata (alutsista).

    Jalur yang berada di wilayah Indonesia bagian timur itu menghubungkan beberapa negara seperti Australia. Di jalur tersebut terdapat dua selat yang sangat strategis, karena menghubungkan Australia dan Timor Leste.Jalur ini semakin strategis karena pulau- pulau di kawasan tersebut kaya dengan sumber daya alam tak terbarui.

    Apalagi, ditambah dengan adanya penempatan pasukan marinir Amerika Serikat di Darwin,Australia. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno mengungkapkan, jalur ALKI tersebut sangat panjang dengan kondisi laut yang berbeda dari ALKI I di barat.“Laut di sana dalam,ombaknya besar, sehingga pengamanan kita gunakan kapal-kapal besar dan hal itu sudah kita lakukan sekarang,” tegas Soeparno di Jakarta kemarin.

    Pengamananjugadilakukan sejumlah Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) yang tersebar di sepanjang jalur itu. Sejauh ini, pengamanan dilakukan dengan koordinasi antara Armada Timur dan Armada Barat.“ Sekarangkitamenggilirkapal- kapal yang patroli,misalnya tiga kapal patroli nanti diganti tiga kapal lainnya,”paparnya. Menurut dia, pengamanan jalur tersebut dapat ditingkatkan setelah program pengembangan armada dan minimum essential force (MEF) tercapai.

    “Kita belum bicara ideal, yang kita bicarakan baru MEF. Jika itu bisa dicapai, semua bisa dikoordinasikan sesuai dengan tingkat ancaman dan perkembangan lingkungan strategis yang ada,”ujarnya. Program pengembangan armada dari dua menjadi tiga Komando Wilayah Laut (Kowila) tersebut sekarang ini masih terus dikaji dan diharapkan selesai pada 2014 mendatang.

    Pengembangan ini juga disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan pada luas wilayah perairan dan perkembangan konstelasi politik yang ada. Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyebut, dengan adanya tiga ALKI maka menjadi kewajiban Indonesia untuk menjamin kelancaran arus pelayaran di ketiga wilayah tersebut. Jalur-jalur itu tidak saja dilewati kapal niaga, tapi juga kapal perang atas seizin pemerintah.

    Pengamat militer Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie menuturkan, selama ini pemerintah masih mengabaikan pengamanan Selat Leti dan Wetar di ALKI III,sebaliknya terlalu memperhatikan Selat Malaka di ALKI I.Padahal, Selat Leti dan Wetar sekarang lebih strategis ketimbang Selat Malaka yang sudah dalam pengamanan bersama dengan beberapa negara tetangga.

    Dua selat tersebut strategis karena menghubungkan Australia dan Timor Leste. Selain itu,di sana juga terdapat 19 pulau terdepan yang kaya dengan sumber daya alam. Namun, pengamanan wilayah strategis ini dinilai Connie belum memadai. Akibatnya, jalur ini sering bobol karena dilintasi kapal militer negara lain. Menurut dia, perkembangan geopolitik sekarang ini seharusnya disikapi pemerintah dengan memperkuat angkatan laut.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> KSAL : TNI AL Fokuskan Amankan Laut Timur

    Akhirnya Komisi I DPR RI Menyetujui Pengadaan MBT

    Jakarta - Niat pemerintah untuk membeli tank tempur utama (main battle tank/ MBT) agaknya mendapat angin segar setelah Komisi I DPR menyetujui pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) bagi TNI itu.

    Namun, jenis MBT yang akan dibeli masih belum disepakati. Sejauh ini,TNI Angkatan Darat selaku pengguna (user) telah menyiapkan beberapa opsi jenis MBT, salah satunya Leopard 2A6 dari Belanda dan Jerman. Proses untuk pembelian Leopard dinilai paling menguntungkan dari berbagai opsi yang ada. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menegaskan, dirinya tidak pernah menentukan bahwa jenis MBT yang akan dibeli adalah Leopard.

    “ Kami minta pengguna di lapangan untuk mempelajarinya. Saya tidak akan menentukan mana yang akan digunakan karena saya tidak mau yang diminta tidak dibelikan, yang dibelikan tidak dibutuhkan. Saya ingin mengubah itu,” tegas Pramono dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR di Jakarta kemarin. Pramono menerangkan, pembelian MBT sudah sesuai dengan kajian yang dilakukan TNI Angkatan Darat dengan mempertimbangkan berbagai aspek, di antaranya kondisi geografis dan kekuatan angkatan darat negara tetangga.

    “Bukan Rp14 triliun itu semua untuk MBT, tapi dari Rp14 triliun itu, kita breakdown apa saja yang dibutuhkan,”jelasnya. Kajian juga melibatkan masukan dari para atase pertahanan di negara-negara tetangga. Begitu juga dengan proses pencarian alternatif MBT.Adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mengaku telah menerima laporan dari berbagai atase pertahanan negara asing seperti Belanda,Jerman, Prancis, Korea Selatan, Rusia,dan Inggris.

    Atase pertahanan itu juga memberikan masukan-masukan terkait MBT yang diproduksi negara yang bersangkutan. “Masukan-masukan itulah yang kemudian kami pelajari,” tandasnya. Dari proses ini,ungkap Pramono, kemudian muncul opsi untuk membeli MBT Leopard 2A6 dibandingkan opsi lain.Pertimbangan ini didasarkan tank MBT Leopard 2A6 dinilai lebih unggul secara kemampuan dan teknologinya.Begitu pula dari segi transfer teknologi, jaminan suku cadang, serta harga yang relatif lebih murah.

    “Sebetulnya saya tidak mengatakan Leopard. MBT itu banyak macamnya,”tegasnya. Pramono mengungkapkan, sejauh ini pihaknya masih terus melakukan negosiasi untuk menyukseskan rencana pembelian Leopard dari Belanda tersebut. Beberapa kali pertemuan dengan tim dari Belanda pernah dilakukan dan ke depan masih akan digelar lagi. “Mereka tanya, jenderal mau beli MBT?

    Sebelum saya jawab pertanyaannya, saya tanya dulu, Belanda menjual atau tidak, karena parlemen Anda (Belanda) mengatakan tidak memberi dukungan.Mereka jawab, Belanda jual. Lalu saya jawab, kalau Belanda jual, aku beli. Belandatidakjual,akupergi.Lalu mereka bilang,oke akan kami usahakan,”ungkap KSAD. Meski demikian, Pramono menyatakan jika nantinya ada kesulitan mendatangkan MBT dari Belanda maka pihaknya akan membuka komunikasi dengan Jerman.

    “Namun, bisa juga dengan dua-duanya,” tandasnya. Sementara itu, baik Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro maupun Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengaku menyerahkan rencana pembelian ini kepada TNI Angkatan Darat selaku pengguna untuk menentukan pilihannya.“Kita tunggu mereka, kan masih mau melakukan negosiasi. Leopard ini bukan satu-satunya opsi,” tegas Purnomo.

    Kepala Danpusenkav Kodiklat TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Purwadi mengungkapkan, tank Leopard sudah sesuai dengan kebutuhan prajurit, karena tank ini terbukti tangguh.Selain itu,tank ini memiliki keunggulan dibandingkan alternatif lain seperti dari Amerika Serikat maupun Rusia.“Leopard ini bahan bakar-nya bisa memakai solar, bensin, bisa juga minyak tanah.

    Kita juga mendapat transfer teknologi,”jelasnya. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan, DPR memang menyetujui adanya penambahan alutsista jenis MBT untuk TNI Angkatan Darat.Namun, ujarnya, pembicaraan belum sampai pada kata sepakat untuk rencana pembelian tank Leopard.“Tapi kalau MBT,itu kita oke.Sedangkan Leopard itu salah satu opsi, kita tunggu laporannya karena mereka masih akan melakukan negosiasi lagi,”tegasnya.

    Hasanuddin mengingatkan, pembelian MBT harus disesuaikan dengan rencana strategis, ancaman yang ada, serta kemampuan anggaran. Sejauh ini belum ada kesepakatan mengenai berapa jumlah anggaran yang digunakan untuk membeli MBT. Anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi mengatakan, pemerintah harus memahami dinamika politik di Belanda,

    sebab pada pertengahan tahun 2011 lalu Belanda justru heran dengan sikap ngotot pemerintah Indonesia untuk mendatangkan Leopard yang jelas-jelas sudah ditolak parlemennya. Lagi pula masih ada beragam opsi lain di samping Leopard Belanda, seperti dari Jerman atau MBT jenis berbeda.

    Sumber : Seputar Indonesia
    Readmore --> Akhirnya Komisi I DPR RI Menyetujui Pengadaan MBT

    Tuesday, January 24, 2012 | 8:28 PM | 0 Comments

    KSAD menyatakan tak akan mencampuri urusan internal Belanda soal tank Leopard

    Jakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo menyatakan tak akan mencampuri urusan internal Belanda soal tank Leopard. "Saya tidak mau melobi parlemen Belanda. Saya meminta agar pemerintah Belanda sendiri yang melobi parlemennya karena itu bukan urusan saya," katanya dalam rapat dengar pendapat di Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 24 Januari 2012.

    Rencana pembelian tank bongsor Leopard sempat diberitakan ditolak parlemen Belanda. Kementerian Pertahanan awalnya memang berencana membeli 100 tank Leopard bekas angkatan bersenjata Kerajaan Belanda. Tank buatan Jerman ini rencananya akan digunakan untuk memperkuat armada TNI Angkatan Darat di wilayah perbatasan Kalimantan. Anggaran US$ 280 juta pun sudah disiapkan untuk membeli 100 tank berdaya tembak 6 kilometer itu.

    Dalam perkembangannya, tank Leopard itu juga ditawarkan langsung oleh negara produsennya, Jerman. Pramono Edhie menegaskan hingga saat ini belum ada keputusan final soal pembelian tersebut. Dia menjelaskan pihaknya masih berada dalam tahap negosiasi untuk mendapatkan penawaran terbaik.

    Masalah pembelian tank Leopard itu sempat dipertanyakan juga oleh para anggota Komisi Pertahanan DPR. Mereka mempertanyakan spesifikasi tank berat itu yang dianggap tidak cocok dengan kondisi geografis dan geologis Indonesia. Wakil Ketua Komisi Pertahanan, T.B. Hasanuddin, menyatakan dengan adanya rapat ini setidaknya pertanyaan soal itu bisa terjawab. "Kami sudah mendapatkan penjelasan yang lebih baik sekarang," kata dia.

    Meski demikian politikus PDI-Perjuangan itu tetap menekankan jangan sampai anggaran yang dikeluarkan juga terlalu besar. Menurutnya DPR belum menyetujui pinjaman luar negeri yang direncanakan TNI. "Itu memang tidak dibahas secara mendalam, tapi saya kira DPR perlu mengawasi masalah seperti itu," ujarnya.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> KSAD menyatakan tak akan mencampuri urusan internal Belanda soal tank Leopard

    Tanggal 26 nanti tim Jerman akan datang ke Indonesia

    Jakarta - Selain Belanda, ternyata Jerman juga menawarkan tank Leopard pada Indonesia. Perwakilan negara pembuat tank tempur (MBT) itu bahkan akan datang ke Indonesia untuk melakukan pembicaraan terkait rencana jual beli ini.

    “Tanggal 26 nanti tim Jerman akan datang ke Indonesia. Jadi kami bisa membandingkan apakah lebih baik membeli di Jerman atau Belanda,” kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo dalam raker antara Komisi I dengan Kemhan dan Panglima TNI di gedung DPR, Selasa (24/1).

    Menurut KSAD, persoalan ketidaksetujuan parlemen Belanda terhadap penjualan Leopard pada Indonesia sudah disampaikan pada pemerintah Belanda. Dalam pertemuan dengan Belanda, 21 Desember 2011 lalu, KSAD telah mempertanyakan keseriusan Belanda dalam menjual Leopard-nya.

    “Mereka tanya, kami jadi mau beli atau tidak. Sebelum saya jawab saya tanya, Belanda jadi jual atau tidak,” katanya.

    Pengadaan MBT ini, kata Pramono, untuk menyamakan teknologi alutsista dengan negara-negara lain. Di wilayah Asia Tenggara, mayoritas negara telah memilikinya, bahkan di seluruh dunia.

    Selain Indonesia, negara yang belum memiliki MBT adalah Timor Leste dan Papua Nugini.

    Saat ini ada beberapa varian tank Leopard. Varian yang diklaim terbaik adalah Leopard 2A6. Varian bermesin disel ini pengembangan dari Lopard 2A5. Leopard 2A6 diklaim melebihi Abrams M1A2, Challenger 2 dan Leclerc dalam hal perlindungan, daya tembak dan mobilitas.

    Leopard 2A6 dan variannya digunakan militer Jerman, Kanada, Yunani, Belanda, Portugal dan Spanyol. Tank tangguh ini diproduksi Jerman dan Spanyol.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Tanggal 26 nanti tim Jerman akan datang ke Indonesia

    Anggaran Pertahanan 2012 Dipastikan Rp72,5 Triliun

    Jakarta - Pada tahun 2011, Tentara Nasional Indonesia sudah masuk jajaran 10 lembaga dengan anggaran terbesar. Tahun 2012 ini, dengan kenaikan anggaran yang mencapai 27 persen, predikat ini dipastikan bertahan.

    Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Mahfudz Siddiq menyatakan, anggaran untuk 2012 mencapai Rp72,5 triliun. Di samping itu, masih ada anggaran untuk penambahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) US$6,6 miliar.

    "Yaitu Angkatan Darat (AD) mendapat sekitar US$1,4 miliar, Angkatan Laut (AL) mendapat US$2,1 miliar, Angkatan Udara (AU) mendapat US$2,6 miliar dan Mabes TNI sekitar US$328 juta," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera itu dalam rapat kerja dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Selasa 24 Januari 2012.

    Namun Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyampaikan, anggaran TNI untuk 2012 hanya mencapai Rp53,53 triliun. Agus tak memasukkan anggaran remunerasi Rp8 triliun dan anggaran untuk Kementerian Pertahanan.

    Anggaran Rp53 triliun itu dibagi Agus sebagai berikut:
    - Markas Besar TNI Rp6,27 triliun
    - Angkatan Darat Rp30,297 triliun
    - Angkatan Laut Rp9,204 triliun
    - Angkatan Udara Rp8,010 triliun.

    Anggaran itu terdiri atas belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal. "Anggaran untuk Mabes TNI akan digunakan dalam operasi militer dan yustisi, pemeliharaan alutsista dan non-alutsista," kata Agus.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> Anggaran Pertahanan 2012 Dipastikan Rp72,5 Triliun

    Panglima TNI: Pengadaan Tank Leopard Hanya Opsi

    Jakarta - Rencana pembelian tank Leopard bekas dari Belanda masih dibahas DPR dan Kementerian Pertahanan. Kedua pihak belum bersepakat atas pembelian salah satu alat utama sistem petahanan (alutsista) itu.

    "Soal Leopard sedang dibahas. Yang jelas pembelian itu baru satu opsi untuk pengadaan alutsista. Belum final, dan kita masih mengkaji mana yang lebih tepat," terang Panglima TNI Agus Suhartono di DPR, Jakarta, Selasa (24/1).

    Agus menerangkan, TNI tengah membenahi alutsistanya. Opsi tersebut jelas mengetengahkan main battle tank. "Memang program kita adakan main battle tank, salah satunya Leopard. Tapi itu salah satunya, belum final."

    Ia tidak ingin rencana pembelian Leopard seolah membuat pertentangan antara DPR dan Pemerintah. "Tapi tidak hanya Leopard. Mohon tidak dijadikan isu seolah pemerintah dan DPR tidak cocok, kita sedang mencari solusi terbaik sehingga kebutuhan mana main battle tank yang paling tepat," tandas Agus.

    Sumber : Metro TV
    Readmore --> Panglima TNI: Pengadaan Tank Leopard Hanya Opsi

    Kemhan Meminta APBN-P 2012 Alokasikan Biaya Hibah Hercules

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meminta Komisi I DPR dapat mendukung penerimaan hibah pesawat angkut militer Hercules jenis C130 seri H dari Australia sebanyak empat unit. Biaya upgrade dan retrofit pesawat Hercules dari Australia sekitar Rp 350 miliar diharapkan dapat dialokasikan dalam APBN-P 2012.

    "Kami berharap (alokasi dana) terkait rencana Kemhan menerima hibah empat unit pesawat Hercules bekas dari Australia itu dalam APBN–P 2012 ini. Mengingat dalam APBN 2012 dalam semester I ini, belum ada alokasi untuk kepentingan itu," kata Purnomo dalam raker dengan Komisi I DPR, Selasa (24/1).

    Menhan mengatakan, bahwa keputusan Australia memberikan hibah 4 unit Hercules ini setelah mendapat persetujuan dari AS, sebagai negara produsen pesawat tersebut. "Di mana dalam pertemuan Presiden RI dengan PM Australia dan Presiden AS di Bali tahun lalu, pihak Australia secara resmi menyampaikan pada Presiden SBY, bahwa telah ada persetujuan dari AS," ungkapnya.

    Sebelum Menhan memberikan penjelasan, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin sempat mempertanyakan soal kebenaran rencana Pemerintah RI menerima hibah pesawat Hercules bekas dari Austrlia tersebut. Mengingat sebelumnya pemerintah tidak pernah memberikan informasi dan kepastian untuk menerima hibah pesawat tersebut. Meski tahun sebelumnya sesungguhnya DPR telah menyetuji alokasi anggaran sebesar Rp 450 miliar untuk kepentingan itu.

    "Namun kan informasi yang berkembang, batal hibah pesawat itu," tanya Hasanuddin.

    Purnomo menambahkan kehadiran empat unit pesawat Hercules itu nantinya akan menambah kekuatan pertahanan Indonesia termasuk untuk membantu akomodasi penanggulangan bencana.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Kemhan Meminta APBN-P 2012 Alokasikan Biaya Hibah Hercules

    Komisi I Meminta Kemhan Gunakan Peningkatan Anggaran Secara Tepat Sasaran

    Jakarta - Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq meminta Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Mabes TNI dapat menggunakan peningkatan anggaran 2012 yang sangat signifikan, di antaranya untuk kepentingan belanja alutsista yang tepat sasaran dan sesuai rencana strategis (renstra) postur pertahanan yang ideal, serta telah disetujui Komisi I.

    "Pada anggaran 2012 ini, Kemhan mendapat alokasi pagu definitif sebesar Rp 72,5 triliun. Pembahasan awal hanya sekitar Rp 64 triliun," ujar Mahfudz Siddiq dalam raker dengan Menhan Purnomo Yusgiantoro dan jajarannya di Ruang Komisi I DPR, Selasa (24/1).

    Menurut Mahfudz, pagu definitif sebesar itu masih ditambah Rp 8 triliun. "Dana tambahan Rp 8 triliun itu khusus ditujukan untuk program remunerasi di jajaran prajurit TNI, Kemhan, dan Mabes TNI," tegas Wasekjen DPP PKS ini.

    Besaran dan peningkatan anggaran bagi Kemhan 2012 itu masih belum cukup sampai di situ, karena masih ada tambahan sebesar 6,5 miliar dolar AS dari pinjaman luar negeri, khusus untuk belanja alutsista TNI.

    "Dari tambahan pinjaman luar negeri untuk belanja alutsista bagi TNI ini, saya rasa pembagiannya juga sudah proporsional yakni 1,4 miliar dolar AS di antarannya untuk belanja alutsista bagi TNI AD, 2,1 miliar dolar AS untuk TNI AL, dan 2,6 miliar dolar AS untuk TNI AU," tegasnya.

    Dalam kesempatan ini, Mahfudz juga menyampaikan apresiasinya atas penyerapan anggaran Kemhan tahun 2011, yang paling tinggi di antara kementerian lainnya, yaitu mencapai angka 94,7 persen. "Ini perlu kita apresiasi di tengah kondisi kementerian lainnya yang kemampuan serapannya tidak sampai sebesar itu atau belum optimal," tegasnya.

    Namun, Komisi I mengingatkan, hasil audit anggaran Kemhan 2010 oleh BPK, adalah wajar tanpa pengecualian. "Ini tentu menjadi PR bagi Pak Menteri agar hasil audit BPK dalam anggaran Kemhan di 2010 lalu itu menjadi perhatian dan terus diperbaiki agar pada 2012 ini perbaikan itu tercapai," tegasnya.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Komisi I Meminta Kemhan Gunakan Peningkatan Anggaran Secara Tepat Sasaran

    Panglima TNI : Personel Intelijen TNI Tangguh Tapi Minim Sarana

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, intelijen TNI disokong oleh personel tangguh di lapangan. Namun, operasi personel di lapangan mengalami kebuntuan karena persoalan mendasar.

    "Saat ini sarana dan prasarana intelijen masih belum memadai," terang Agus saat RDPU dengan Komisi I DPR, Jakarta, Selasa (24/1/2012). Tanpa sarana dan prasarana memadai, kata Agus, personil tangguh menjadi kurang berarti.

    Agus berharap agar sarana dan prasarana untuk menunjang kinerja personil intelijen maksimal. Ia menegaskan, operasi intelijen tetap berjalan seperti biasa kendati sarana dan prasarana kekurangan.

    Hal itu terjadi untuk semua personel intelijen TNI yang tergabung dalam Badan Intelijen Strategis (BAIS), dan juga intelijen di setiap angkatan, tetap terlaksana. "Personel intelijen kita tangguh," paparnya.

    Operasi intelijen TNI dilaksanakan guna memantau kondisi pertahanan negara. Personil intelijen ini disebar, utamanya di wilayah perbatasan. Informasi ini lalu ditindaklanjuti dalam proses pengamanan perbatasan dan pertahanan negara.

    Dalam RDPU ini, selain dihadiri Panglima TNI beserta jajarannya dari Mabes TNI, ikut juga hadir Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Wakil Menteri Pertahanan Syafrie Syamsuddin. Satu yang ditanyakan Komisi I kepada mereka adalah alat utama sistem senjata.

    Sumber : Tribunnews
    Readmore --> Panglima TNI : Personel Intelijen TNI Tangguh Tapi Minim Sarana

    KASAL: Pengembangan Armada TNI AL Diharapkan Selesai 2014

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno mengatakan, pengembangan Armada RI menjadi tiga Komando Wilayah Laut (Kowila), diharapkan selesai pada 2014.

    "Masih dikaji dan jika perlu pengembangan Armada RI juga sejalan dengan pengembangan organisasi di TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat sehingga kita bersama-sama," katanya seperti dikutip dari Lembaga Kantor Berita Antara di Jakarta, Selasa (24/1/2012).

    Ditemui usai membuka Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut 2012, Soeparno mengatakan pengembangan armada RI itu akan berjalan sesuai tahapan skala prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI Angkatan Laut (AL) hingga 2024.

    Ia mengatakan, pengembangan Armada RI menjadi tiga komando wilayah didasarkan pada luas wilayah perairan nasional yang cukup luas dan kondisi lingkungan strategis yang tengah berkembang.

    Selain itu, pengembangan komando wilayah laut dari saat ini dua komando, Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim), menjadi tiga komando wilayah laut, merupakan penjabaran dari renstra TNI AL hingga 2024 untuk mewujudkan TNI AL yang besar, kuat dan profesional, lanjutnya.

    Terkait pergeseran fokus kekuatan Amerika Serikat ke Asia Pasifik, salah satunya dengan penempatan pasukan Marinirnya di Darwin yang berdampak meningkatnya pelayaran kapal-kapal militer asing terutama melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia II dan III, Kasal menilai masih bisa diantisipasi dengan pengamanan oleg Komando Armada RI Kawasan Barat dan Komando Armada RI Kawasan Timur.

    "Kekuatan di dua komando armada yang telah ada itu kan bisa dimobilisasi, sesuai kebutuhan. Dan dengan tercapainya kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Forces/MEF) maka semua bisa dikoordinasikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat ancaman yang dihadapi, dan perkembangan lingkungan strategis yang ada," kata kasal menambahkan.

    Tetapi, lanjut Soeparno, pihaknya berharap pengembangan armada tersebut dapat diselesaikan pada 2014.

    Direncanakan, Komando Wilayah Laut (Kowilla) Barat akan berkedudukan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Kowilla Tengah di Makassar (Sulawesi Selatan), dan Kowila Timur berpusat di Sorong, Papua.

    Dalam Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut 2012, dibahas beberapa agenda utama yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan, pembinaan personel, kesejahteraan prajurit dan reformasi birokrasi.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> KASAL: Pengembangan Armada TNI AL Diharapkan Selesai 2014

    Anggota Komisi I : Kapal Selam Yang Dibeli Dari Korsel Setara Dengan Kapal Selam Malaysia

    Jakarta- Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo mendukung pengadaan tiga kapal selam yang dibeli dari Korea Selatan (Korsel) untuk memperkuat TNI AL.

    "Kita memang sesungguhnya sangat butuh kapal selam mendesak paling tidak empat unit. Karenanya atas tercapainya kontrak pengadaan pengadaan kapal selam dengan Korsel, kita akan mendukungnya," ujar Tjahjo Kumolo di sela-sela raker dengan Menhan Purnomo Yusgiantoro di Komisi I DPR, Selasa (24/1).

    Sebelumnya, Komisi I DPR telah menyetujui anggaran untuk membelian dua unit kapal selam. Dua kapal selam yang harus dimiliki RI itu memiliki kemampuan setera dengan kemampuan kapal selam yang dimiliki Singapura. Namun, pemerintah dengan alokasi anggaran yang telah disetujui DPR, membeli tiga kapal selam dari Korsel, meski kemampuan kapal selam yang nantinya akan dimiliki itu kemampuannya di bawah dari kemampuan kapal selam milik Singapura, namun setara dengan kapal selam yang dimiliki oleh Malaysia.

    "Saya kira kita tidak akan mempermasalahkan itu. Karena pembelian kapal selam itu dalam kondisi baru. Yang penting tidak barang bekas," tegas Tjahjo.

    Sekjen DPP PDIP ini juga menjelaskan, dalam raker dengan Menhan dan jajarannya ini, ia dan anggota Komisi I lainnya akan mengkritisi soal pengadaan alutsista untuk TNI, yang belakangan melenceng dari tujuan semula. Misalnya, rencana pembelian tank Leopard bekas dari Belanda, yang tiba-tiba muncul dan tidak dibahas lebih dahulu di Komisi I. "Termasuk rencana menerima hibah pesawat Hercules bekas dari Australia, yang ini juga belum disepakati di DPR," tegasnya.

    Tjahjo mengatakan, Komisi I memliki kepentingan untuk meluruskan rencana modernisasi alutsista bagi TNI yang ideal dalam jangka pendek, menegah dan panjang, agar sesuai rencana awal. Di antaranya mengedepankan produksi dalam negeri. "Karenanya kita akan pertanyakan pengadaan-pengadaan alutsista yang belakangan ini muncul mendadak dan terkesan tidak sesuai rencana awal."

    Sumber : JURNAL PARLEMEN
    Readmore --> Anggota Komisi I : Kapal Selam Yang Dibeli Dari Korsel Setara Dengan Kapal Selam Malaysia

    Monday, January 23, 2012 | 4:02 PM | 0 Comments

    Ketua Komisi I : Sebelum Beli Leopard, Perkuat Dulu Armada TNI AL Dan TNI AU

    Jakarta - Dalam memperkuat alat utama sistem pertahanan (Alutsista), pemerintah harus modernisasi tiga kekuatan yaitu darat, laut dan udara.

    Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Sidiq mengatakan, pembelian 100 tank Leopard bekas Belanda tidak akan berfungsi dengan baik jika tidak didukung dengan pertahanan di laut dan udara.

    "Kalau program modernisasi sendiri ada tiga wilayah, darat, laut dan udara. Dimana ketiga pertahanan wilayah itu harus saling melengkapi," kata Mahfudz ketika dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Senin (23/1/2012).

    Dikatakannya, pertahanan laut juga harus menjadi pusat perhatian pemerintah. Menurutnya, laut sangat mendukung perekonomian di tanah air. Pasalnya, pertahanan laut Indonesia masih sangat lemah. Tindak kejahatan melalui laut masih tinggi.

    "Porsi pertahanan laut itu memang masih kecil, untuk prioritas sendiri sangat besar. Sementara laut itu sendiri sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perekonomian kita," kata

    Mahfudz mengatakan, Komisi I sudah menyampaikan saran kepada Mabes TNI untuk menambah alutsista di laut, namun belum mendapat respon yang signifikan. Menurutnya, yang berwenang untuk memutuskan ada di tangan Mabes TNI. "Kalau secara pemikiran sudah kita sampaikan. Proporsi anggaran itu, Mabes itu domainnya," ujar politisi PKS itu.

    Walau demikian, Komisi I sampai saat ini masih menunggu hasil dari tim teknis TNI yang sedang melakukan komunikasi dengan pihak Belanda untuk meneliti kelaikan tank Leopard.

    "Ini soal pilihan, tim teknis mereka (Menhan dan TNI) masih ke Belanda. Nanti akan kita dengarkan penjelasan secara utuh, kalau penjelasan itu sesuai akan kita terima, tapi kalau tidak sesuai akan kita tolak," jelasnya

    Sumber : INILAH
    Readmore --> Ketua Komisi I : Sebelum Beli Leopard, Perkuat Dulu Armada TNI AL Dan TNI AU

    KSAD : Yang Minta Leopard Itu Anak Buah Saya

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, menegaskan yang meminta tank Leopard bukanlah dirinya. Anak buah yang meminta diadakannya Leopard untuk memperkuat Alutsista TNI AD. "Karena diminta maka saya wajib memenuhinya," jelas Pramono, beberapa waktu lalu.

    Dia mengatakan ketika anak buahnya disodorkan daftar Alutsista baru yang diinginkan, kebanyakan menyepakati tank Leopard. Lagi pula, usia tank di Indonesia sudah cukup tua. Sampai saat ini baru bisa diretrofit ringan hingga sedang, belum bisa berat.

    Tank Leopard dinilainya sebagai tank berat yang sangat dibutuhkan untuk penguatan pertahanan. Tank tersebut nantinya akan disebar ke seluruh batalyon TNI AD. Saat ini pihaknya masih terus mendorong proses pengadaannya agar ada kesepakatan sehingga tank yang didatangkan dari Belanda tersebut dalam dilaksanakan.

    Sumber : Republika
    Readmore --> KSAD : Yang Minta Leopard Itu Anak Buah Saya

    Prabowo Kritik Sikap Parlemen Belanda soal Tank Leopard

    Jakarta - Prabowo Subianto mengecam parlemen Belanda yang tiba-tiba menolak penjualan tank Leopard ke Indonesia dengan alasan takut digunakan untuk tindakan pelanggaran hak asasi manusia. Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini menyatakan sikap pemerintah Belanda harus tegas apakah jadi menjual Leopard ke Indonesia atau membatalkannya.

    "Mereka mau jual ngga? Kalau mereka mau jual, kita beli. Kalau tidak, ya tidak (dibeli)," cetus Prabowo.

    Prabowo mendukung rencana Kementerian Pertahanan membeli 100 tank tempur utama Leopard dari pemerintah Belanda seharga 280 juta dollar AS. Pembelian tersebut tidak menjadi masalah jika harganya murah. "Kalau saya, asal harganya tidak terlalu mahal, saya kira oke-oke saja," ujar Prabowo.

    Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo, mengatakan hingga kini tidak ada perubahan rencana pembelian 100 tank Leopard. Karena itu, pihaknya berusaha merealisasikan pembelian itu sebagai wujud modernisasi alutsista setelah 20 tahun tidak melakukannya. Keunggulan MBT Leopard meliputi kemampuan daya gerak, tembak, daya kejut dan penghancuran.

    Sumber : Republika
    Readmore --> Prabowo Kritik Sikap Parlemen Belanda soal Tank Leopard

    Sunday, January 22, 2012 | 4:13 PM | 0 Comments

    Leopard Yang Dibeli Indonesia Lebih Murah Dari Kanada

    Jakarta - Indonesia jika dihitung-hitung mendapatkan harga sangat murah untuk membeli macan besi bekas Belanda yang terdiri dari 50 unit Leopard tipe 2A4 dan 50 unit Leopard tipe 2A6.

    TNI Angkatan Darat diketahui hanya membayar US$280 juta untuk 100 Main Battle Tank (MBT) bekas Leopard milik Koninklijke Landmacht (AD Belanda) yang selama ini nganggur di gudang.

    Bandingkan dengan Kanada yang pada 2007 mesti merogoh kocek hingga US$574 juta untuk menebus jumlah dan jenis tank yang sama. Tank bekas milik Belanda itu digunakan Kanada untuk menggantikan Leopard jenis 1C2 mereka, seperti dikutip dari Defence Update.

    Kanada sebagai negara kaya raya, tetangga Amerika Serikat dan tidak memiliki masalah dengan kepemilikan senjata milik NATO, memilih membeli Leopard bekas Belanda karena lebih murah dibandingkan beli produk baru. Tak hanya beli bekas, Kanada bahkan sempat menyewa 20 tank Leopard tipe 2A6 milik Jerman untuk diterjunkan di Afghanistan.

    Soal kenapa Kanada enggan beli baru, saat itu mereka memberi contoh Australia yang membeli 66 tank Abrams M-1A1/M88 dan peralatan pendukung (truk, pengangkut dan pelatih) senilai US$416 juta. Bandingkan dengan Kanada yang hanya bayar US$574 juta untuk tank dengan kualitas sama.

    Sayangnya, rencana pembelian 100 tank Leopard bekas milik Belanda oleh Indonesia itu ditentang luar dalam. Dari luar, parlemen Belanda dengan alasan HAM yang dimotori Fraksi Kiri Hijau, Arjan El Fassed.

    Sementara dari dalam, DPR menyebut Indonesia tak butuh Main Battle Tank. Maklum pembelian Leopard bekas ini tanpa melalui perantara alias tak ada 10% fulus buat broker yang beredar untuk memuluskan jalan.

    Sumber : Bisnis Jabar
    Readmore --> Leopard Yang Dibeli Indonesia Lebih Murah Dari Kanada

    Prabowo : Asal Harganya Kompetitif, Saya Setuju Pengadaan Leopard

    Jakarta - Mantan Danjen Komando Pasukan Khusus (Kopasus), Prabowo Subianto tak mempermasalahkan rencana pemerintah yang ingin membeli 100 Tank Leopard dari Pemerintah Belanda. Syaratnya pembelian ke 100 tank tidak dipatok dengan harga tingggi.

    ”Kalau harganya tidak terlalu mahal saya kira oke saja,” ujar Prabowo usai pelantikan Pengurus Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Raya (PP PIRA) di Kantor Sekretariat DPP Partai Gerindra di Jakarta, Sabtu (21/1).

    Namun Prabowo mengaku tak mengetahui apabila rencana pembelian tersebut ditentang oleh parlemen Belanda. Parlemen Belanda menentang lantaran khawatir ikut memberi andil dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

    ”Oh ya mereka menolak?” kata Ketua Pembina Partai Gerindra itu setengah bertanya kepada wartawan.

    Seperti diketahui, parlemen Belanda sampai saat ini masih belum menyetujui niat Pemerintah Indonesia yang ingin membeli 100 Tank Leopard dari pemerintah negara itu. Pasalnya, parlemen Belanda kawatir tank nantinya akan digunakan dalam aktivitas militer yang berpotensi menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM.

    Sementara Kementerian Pertahanan RI dikabarkan telah menyiapkan dana sebesar US$280 Juta untuk membeli 100 unit tank Leopard milik pemerintah Belanda. Dana tersebut diperoleh dari alokasi dana pertahanan periode 2010-2014.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Prabowo : Asal Harganya Kompetitif, Saya Setuju Pengadaan Leopard

    Connie : Jangan Terlalu Fokus Dalam Pengamanan Selat Malaka

    Jakarta - Pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI diharapkan lebih mengedepankan kualitas dan sejalan dengan strategi pertahanan yang dibutuhkan.

    Pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie menuturkan, pengadaan alutsista TNI untuk memperkuat pertahanan memang sangat diperlukan. Hal ini juga telah disadari pemerintah dan DPR. Namun, setiap rencana pembelian hampir selalu menjadi pro dan kontra.Munculnya polemik tersebut karena sejumlah kalangan menilai Kementerian Pertahanan tidak mengindahkan aspek-aspek tersebut.

    Pengadaan melalui hibah 24 unit F-16 dari Amerika Serikat dan rencana membeli 100 unit main battle tank (MBT) Leopard 2A6 milik Belanda adalah contoh polemik terhangatnya. Pengadaan itu ditentang karena baik F-16 maupun Leopard yang hendak dibeli sama- sama barang bekas sehingga kualitasnya diragukan. Pemerintah beralasan dengan membeli alutsista bekas, jumlah yang didapat bisa jauh lebih banyak ketimbang mendatangkan yang baru.

    “Tank Leopard ini memang bisa memberi efek deterrence besar.Tapi harus dilihat bagaimana masa gunanya, jangan hanya lihat kuantitas seperti ketika menerima hibah F-16,” ujar Conni saat dihubungi SINDOkemarin. Dia menerangkan,24 unit F- 16 bekas tersebut tidak lebih baik ketimbang apabila pemerintah membeli 10 pesawat tempur baru generasi anyar. “Pesawat itu bisa langsung habis dihancurkan musuh ketika (pesawat) masih di darat. Kita pasti kalah.Lebih baik sedikit tapi berkualitas,” sebutnya.

    Seharusnya setiap pengadaan alutsista diserahkan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Namun, tetap harus ada road mapyang utuh sebagai patokan dalam membangun pertahanan.“ Sekarang ini kita kelihatan sekali tidak punya arah. Anggaran naik sedikit,dimainkan politik,”ungkap dia. Menurut Conni, sekarang ini ada konstelasi politik kedua yang paling strategis, tapi masih luput dari perhatian pemerintah, yakni keberadaan Selat Leti dan Selat Wetar yang menghubungkan dua negara tetangga,Australia dan Timor Leste.

    Di sana juga ada 19 pulau kaya akan sumber daya alam tak terbarui. Tapi,blok strategis itu tidak diimbangi pertahanan yang kuat. Perhatian pemerintah masih terfokus pada Selat Malaka. “Kalau Anda berdiri di pantainya, tiap beberapa jam sekali bisa melihat punggung kapal selam bertenaga nuklir melintas. Itu milik Amerika Serikat dan Australia,” beber Conni.

    Padahal dalam sejarah peperangan, lanjut dia, ada tiga hal yang bisa memicu perang, yakni agama, resources (SDA), dan trade (perdagangan).Karenanya, dalam strategi pertahanan jangan memandangnya seolah-olah tidak ada perang. “Aneh kalau berpikir seperti itu (tidak ada perang). Kita itu kaya resources,jantungnya Asia itu kita,”Conni mengingatkan.

    Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin menuturkan, polemik rencana pembelian alutsista mencuat setelah muncul besaran anggaran yang diperlukan.“Karena (pengadaan) itu harus ada persetujuan DPR juga,”sebutnya. Dengan membeli Leopard bekas, lanjut dia, dengan anggaran yang sama pemerintah bisa mendapat tank lebih banyak.

    “Pengadaan Leopard juga sudah sesuai dengan defence strategy kita. User (TNI AD) juga sudah meninjau ke lapangan untuk melihat spesifikasi teknisnya,”kata Hartind. Hartind mengakui adanya kelemahan dalam pertahanan di jalur yang masuk dalam alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) III itu. “Semua ALKI kita prioritaskan. Di ALKI III ada selat yang ke Australia masih sering jebol,”imbuhnya.

    Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menegaskan, DPR setuju dilakukan pengadaan perlengkapan yang canggih untuk TNI. “Tapi pemilihannya harus selektif, memperhatikan jangka panjang, dan harus melibatkan (industri pertahanan) dalam negeri,”ujarnya. Menurut dia, hasil kajian Litbang Kementerian Pertahanan pada 2009–2010 menyebutkan Indonesia butuh tank medium, bukan heavy tank seperti MBT Leopard.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Connie : Jangan Terlalu Fokus Dalam Pengamanan Selat Malaka

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.