ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, January 21, 2012 | 5:37 PM | 0 Comments

    Menhan : Kemhan Dan DPR Bahas Pembelian Tank Leopard Pekan Depan

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan rencana pembelian 100 unit tank Leopard dari Belanda akan dibicarakan oleh pemerintah dan DPR pada rapat kerja antara Kementerian Pertahanan dan Komisi I DPR pada Selasa 24 Januari 2012.

    "Kita mau bicarakan hari Selasa jam 10.00 ada rapat antara Kementerian Pertahanan denan DPR Komisi I," kata Purnomo usai pengarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada rapat pimpinan TNI dan Polri Tahun 2012 di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta, Jumat.

    Purnomo mengatakan rencana pembelian tank leopard adalah usulan dari TNI Angkatan Darat sebagai pengguna. Usulan tersebut kemudian diajukan kepada Mabes TNI yang kemudian dinaikkan ke Kementerian Pertahanan.

    Kementerian Pertahanan, lanjut Purnomo, tidak pernah mengubah spesifikasi teknis dari yang diajukan oleh usulan TNI AD.

    "Kita sebagai Kementerian Pertahanan tidak akan mengubah spesifikasi teknis. Kita mengikuti apa yang diusulkan angkatan sebagai `user`. Usulan itu naik ke Mabes TNI, kemudian naik ke kita," tuturnya.

    Menurut dia, TNI AD telah mempertimbangkan pembelian tank leopard karena termasuk kategori `mean battle tank` yang bisa dimiliki dengan dana terbatas.

    "Karena ada `light battle tank`, ada `medium battle tank, ada heavy battle tank. Sebenarnya yang paling cocok itu tiga-tiganya kalau kita punya uang. Tetapi karena kita terbatas makanya kita ambil yang `mean battle tank`," jelasnya.

    Purnomo mengakui rencana pembelian tank leopard itu belum selesai karena selain urusan antarpemerintah juga melibatkan parlemen kedua negara.

    Sebelumnya, Ketua Komisi I DPR Mahfuz Sidiq menyatakan Komisi I DPR memang belum memiliki sikap resmi tentang rencana pemerintah untuk membeli tank jenis Leopard buatan Jerman milik Belanda.

    Namun, Mahfuz menegaskan mayoritas anggota Komisi I DPR menolak rencana pembelian tersebut dengan alasan tidak sesuai kondisi geografis Indonesia.

    Sedangkan mayoritas parlemen Belanda juga menolak rencana penjualan 100 unit tank bekas itu ke Indonesia dengan alasan jejak rekam "pelanggaran" Hak Asasi Manusia yang masih terus terjadi sampai saat ini.

    Parlemen Belanda khawatir tank yang dijual ke Indonesia itu nantinya justru digunakan untuk" melawan "rakyat dalam aksi-aksi unjuk rasa.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Menhan : Kemhan Dan DPR Bahas Pembelian Tank Leopard Pekan Depan

    Indonesia Akan Produksi Ratusan Roket Balistik

    Jakarta - Konsorsium Roket Nasional akan kembali memproduksi 200 unit roket balistik R Han 122 kaliber 122 mm dengan jarak jangkau 15 km sebagai bagian dari program 1.000 roket Kementerian Pertahanan sepanjang 2012-2014. "Ini melanjutkan 100 unit roket R Han 122 yang telah diproduksi pada 2011," kata Deputi Menristek bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek Dr Teguh Rahardjo usai kunjungan Menristek Gusti Mohammad Hatta ke pabrik bahan berenergi tinggi PT Dahana.

    Teguh yang juga Kepala Bidang Pokja Litbangyasa Komite Kebijakan Industri Pertahanan itu mengatakan, sebanyak 32 dari 100 unit roket produksi 2011 sudah ditembakkan untuk keperluan pelatihan militer TNI. "Sisanya 68 unit juga akan ditembakkan di tahap berikutnya pada Februari ini," katanya.

    Produksi 1.000 roket nasional, lanjut dia, merupakan kerja sama antara PT Dirgantara Indonesia yang memproduksi struktur roketnya, Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang membuatkan motor roketnya, PT Pindad memproduksi hulu ledaknya (forehead), serta bahan bakarnya (propelan) oleh PT Dahana.

    Tim ini, ia mengatakan, juga sedang mengembangkan roket balistik kaliber 200 mm yang jarak jangkaunya lebih dari 20 km dan roket kendali kaliber 200 mm yang sudah diujicobakan sebanyak tiga unit.

    Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Dr Ing Soewarto Hardhienata mengatakan, pihaknya sudah menguasai pengembangan roket dasar, karena itu jika kemampuan pendanaan tidak masalah maka program roket nasional bisa lebih cepat.

    Sumber : REPUBLIKA
    Readmore --> Indonesia Akan Produksi Ratusan Roket Balistik

    Friday, January 20, 2012 | 4:17 PM | 4 Comments

    Deputi Menristek : Jika Ada ToT Leopard, 5 -10 Tahun Kedepan Bisa Buat MBT Sejenis

    Subang - Jika mendapat pengetahuan memadai, Indonesia mampu mengembangkan sendiri tank canggih sekelas Leopard . Deputi Menristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo, menyatakan, "Pembelian Leopard ini akan jadi kesempatan bagi peneliti untuk ikut belajar meningkatkan kemampuan."

    Dia katakan, Jumat, spesifikasi teknologi tank Leopard sangat canggih misalnya dari tingkat akurasi penembakannya. Sampai saat ini teknologi yang baru dikuasai Indonesia adalah jenis panser, belum jenis yang beroda rantai yang mampu melewati berbagai medan sangat berat.

    Pihaknya, lanjut dia, siap membantu PT Pindad untuk mengkaji teknologi apa saja yang ada di dalam tank tersebut dan membantu mengembangkannya.

    "Kalau ini jadi program alih teknologi yang akan dikembangkan secara nasional, kita akan targetkan 5-10 tahun kita sudah bisa kuasai, tapi tentu tergantung kesiapan industri persenjataan dan mesin juga," katanya.

    Ia juga mengatakan, TNI sudah lama tidak meregenerasi tank-tank-nya yang kini sudah berusia cukup tua dan kurang layak digunakan sebagai sarana pertahanan.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan pengadaan tank Leopard dari Belanda sudah melalui penelitian dan pengkajian yang matang, tidak diputuskan secara tiba-tiba.

    Sedangkan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, "Kementerian Pertahanan memandang secara strategi perlu memodernisasi peralatan militer dalam rangka dua hal yakni memenuhi strategi pertahanan dan untuk memenuhi varian teknologi sebagai tuntutan dari revolusi militer di ASEAN."

    Sebelumnya, rencana pembelian tank Leopard ditolak Parlemen Belanda. Mereka menilai Indonesia masih melakukan berbagai pelanggaran HAM.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Deputi Menristek : Jika Ada ToT Leopard, 5 -10 Tahun Kedepan Bisa Buat MBT Sejenis

    Wiranto : Pengadaan Leopard Harus Sesuai Kemampuan Ekonomi Indonesia

    Jakarta - Kementerian Pertahanan berencana membeli 100 buah tank Leopard bekas angkatan bersenjata Belanda dengan anggaran 280 juta dollar AS. Sejumlah kalangan dan Dewan Perwakilan Rakyat menentang rencana pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut.

    Menanggapi hal tersebut, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto menyatakan, sebaiknya pembelian tersebut ditunda dulu jika sampai mengganggu perekonomian nasional. Apalagi, harga tersebut terbilang fantastis di saat negara sedang membutuhkan anggaran untuk masyarakatnya.

    "Problemnya sekarang apakah pengadaan alutsista yang memerlukan biaya besar ini mengganggu perekonomian nasional. Kalau mengganggu perekonomian nasional ditunda dulu. Kalau tidak mengganggu go ahead lanjutkan saja," ujar Wiranto saat menghadiri diskusi di PP Muhammadiyah, Kamis (19/1/2012) di Jakarta.

    Namun, Wiranto tak menampik bahwa TNI memang membutuhkan alutsista baru. Hal ini karena perlengkapan TNI, kata dia, telah ketinggalan zaman. Persenjataan yang baru, menurutnya, turut membangkitkan kepercayaan diri bangsa maupun TNI sendiri.

    "Memang ada suatu kebutuhan di sana. Kebutuhan bahwa kekuatan TNI yang menyangkut alutsista itu harus kuat dan modern, itu harapan semua negara karena tatkala negara ketinggalan dalam pengadaan alutsista dan dianggap TNI-nya lemah, tentaranya lemah. Tidak hanya untuk perang, tetapi agar tidak mudah digertak dan disepelekan negara lain," tegasnya.

    Ia menyatakan, pembelian senjata-senjata untuk TNI harus ini sesuai dengan prosedur di mana ada survei mengenai harga dan kecocokannya untuk dipakai oleh angkatan bersenjata RI atau tidak, termasuk dicocokkan dengan kondisi di lapangan.

    "Pasti pengadaannya harus melalui syarat-syarat yang lebih terbuka sehingga uang rakyat yang ratusan triliun itu jangan sampai mubazir. Jangan sampai bumerang bagi kita jadi lahan untuk dikorupsi. Sehingga, kita seakan-akan membeli yang bagus, tetapi kenyataannya buruk," pungkasnya.

    Sebelumnya diberitakan, tank buatan Jerman ini rencananya akan digunakan untuk memperkuat armada TNI Angkatan Darat di wilayah perbatasan Kalimantan.

    Namun, niatan itu tampaknya akan sulit mengingat tak hanya sebagian publik yang menolak, sebagian orang dari parlemen Belanda juga tak menyetujui pembelian tank ini.

    Mereka menilai Indonesia masih melakukan berbagai pelanggaran HAM. Belanda tak mau tank-tank itu dipakai untuk pelanggaran HAM.

    Di dalam negeri, beberapa anggota Komisi I DPR tegas-tegas menolak rencana itu. DPR menilai spesifikasi tank Leopard tak cocok dengan kondisi medan Indonesia.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Wiranto : Pengadaan Leopard Harus Sesuai Kemampuan Ekonomi Indonesia

    KSAD : Tank Leopard Diharapkan Meningkatkan Kemampuan Industri Pertahanan

    Jakarta - Pembelian tank berat atau Main Battle Tank (MBT) jenis Leopard milik militer Belanda diharapkan dapat menjadi sarana memeroleh teknologi pembuatan MBT. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo ini merupakan hal penting karena industri dalam negeri belum mampu memproduksi.

    “Tank beratnya Indonesia belum mampu. Sehingga kami berharap ada harapan teknologi andai membeli tank berat. Dengan persyaratan TOT bisa mentransfer, sehingga Indonesia bisa membuat sendiri,” kata KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo usai Rapim TNI di Mabes TNI Jakarta, Rabu (18/1).

    Menurutnya, kemampuan industri pertahanan nasional saat ini baru sampai pada retrovit tank tringan. Untuk tank sedang dan tank berat, KSAD menyatakan Indonesia belum mampu. “Sehingga kalau ada TOT, kami bisa kirim orang agar bisa meningkatkan kemampuan,” ujarnya.

    Pengadaan MBT ini, tutur KSAD, bertujuan untuk menyamakan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) dengan negara lain, karena Indonesia telah tertinggal jauh. Di Asia Tenggara, negara tetangga sudah memiliki tank jenis ini seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Negara-negara tersebut, jelas KSAD, juga merupakan negara kepulauan seperti Indonesia sehingga alasan penolakan pembelian tank berat dengan alasan Indonesia negara kepulauan tidak tepat. “Jalannya sama, hutannya sama, kondisinya juga sama. Apakah struktur jalan kita tidak lebih baik dari negara itu,” imbuhnya.

    Saat ini, lanjut KSAD, dukungan tank bagi TNI AD hanya jenis tank ringan. Tank ringan yang dimiliki saat ini diantaranya Scorpion, dan AMX 13 yang merupakan produk tahun 1950-an. “Kalau dilihat cukup lama kita tertinggal dalam teknologi tank. Padahal tank itu ada tiga kelas, ringan, sedang dan berat,” paparnya. Untuk tank AMX 13, TNI AD saat ini melakukan kerja sama dengan PT Pindad untuk meretrofit 13 unit tank tersebut.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> KSAD : Tank Leopard Diharapkan Meningkatkan Kemampuan Industri Pertahanan

    Strategi Pertahanan Indonesia Memiliki Kesamaan Dengan Korsel Dan China

    Jakarta - Memiliki persamaan dalam strategi pertahanan, TNI masih melirik pengadaan Alat Sistem Pertahanan (Alutsista) dari Korea Selatan dan China.

    Hal itu diungkapkan, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dalam konfrensi pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/1/2012) kemarin. "Karena kita memiliki kecocokan dalam strategi pertahanan dengan dua negara itu, " kata Agus.

    "Banyak negara yang bisa kita lakukan, tapi saat ini yang sudah kita jajaki dan kita bisa ajak pengembangannya, yang pertama untuk pesawat temput Korea Selatan, untuk kapal selam juga dengan Korea Selatan. Untuk peluru kendali kita mencoba bekerjasama dengan China," ujar Agus.

    Meski begitu, tambah Agus, TNI saat ini TNI juga tengah menjajaki kerjasama dibidang pertahanan dengan beberapa negara lain seperti eropa. "Untuk pengembangan yang lain memang sedang kita susun komunikasi dengan Turki," imbuhnya.

    Agus mengatakan, TNI sudah melakukan beberapa proses pengembangan di bidang Alutsista dengan beberapa negara. Namun TNI tak mengambil keseluruhannya karena mempertimangkan kecocokan sistem. "Jadi sebernarnya negara yang mau kerjasama dengan kita itu banyak. Kita benar-benar memilih mana yang tepat untuk kita ajak kerja sama," jelasnya.

    Lebih lanjut, jenderal bintang empat ini menambahkan, dengan anggaran yang disetujui oleh Kementerian Keuangan sebesar Rp156 Triliun, nantikan akan dialokasi ketiga anggkatan yang ada di TNI yang nantinya digunakan untuk pengembangan kekuatan pertahanan TNI dalam menjaga keamanan di seluruh wilayah perbatasan.

    Untuk itu, TNI sudah memiliki daftar belanja dalam rangka penguatan sistem ketahanan selama 2010-2014 mendatang. "Yang jelas dari Rp156 Triliun itu ada yang untuk pengadaan alutsista baru sebagai pengganti alutsista yang sudah didispuse atau yang lama. Yang kedua juga untuk peningkatan kemampuan, peningkatan kemampuan ini alutsista yang memadai tapi senjatanya sudah ketinggalan, kita lakukan modernisasi," pungkasnya.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> Strategi Pertahanan Indonesia Memiliki Kesamaan Dengan Korsel Dan China

    Thursday, January 19, 2012 | 12:59 PM | 0 Comments

    Kapal Perang Armada Pasifik Rusia Mampir ke Surabaya

    Jakarta - Iring-iringan kapal militer dari Armada Pasifik Rusia dijadwalkan merapat di Surabaya, Kamis (19/1/2012) ini. Konvoi dipimpin kapal perusak Admiral Panteleyev.

    Demikian dinyatakan juru bicara Armada Pasifik Rusia di Vladivostok, Kamis, seperti dikutip kantor berita RIA Novosti. Admiral Panteleyev akan diiringi kapal tunda penyelamat Fotiy Krylov dan kapal tanker Boris Butoma.

    Kapal-kapal tersebut mampir di Indonesia dalam perjalanan pulang menuju pangkalan mereka di Vladivostok, Rusia timur jauh, setelah sebelumnya menjalankan misi antiperompak di Teluk Aden, dekat perairan Somalia.

    Seperti diberitakan sebelumnya, tugas Admiral Panteleyev di Teluk Aden sudah digantikan kapal perusak Admiral Tributs.

    Selama di Surabaya, para perwira dan pelaut dari tiga kapal ini akan bertemu dengan para perwira dan prajurit TNI AL, dan berjalan-jalan keliling kota.

    Menurut siaran pers Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Surabaya, Rabu (18/1/2012), tiga kapal Rusia tersebut akan berada di Surabaya selama sekitar empat hari, dan dijadwalkan baru bertolak pada Minggu (22/1/2012).

    Selain berkunjung ke Panglima Armada Timur TNI AL dan Wali Kota Surabaya, para perwira dan personel AL Rusia akan melakukan berbagai latihan bersama dengan kolega mereka dari TNI AL.

    Admiral Panteleyev adalah salah satu dari kapal perusak kelas Udaloy yang dioperasikan AL Rusia. Kapal sepanjang 163 meter ini dirancang untuk misi antikapal selam dan dianggap setara dengan kapal perusak kelas Spruance dari AL Amerika Serikat.

    Kapal ini dipersenjatai dengan rudal antikapal selam SS-N-14, rudal antipesawat SA-N-9 Kinzhal, dan rudal antikapal permukaan SS-N-22 Sunburn.

    Di samping itu juga ada meriam 100 mm berlaras ganda, empat senapan mesin gatling 30 mm, sistem pertahanan jarak dekat CIWS Altair CADS-N-1, dan dua peluncur roket kaliber 213 mm antikapal selam RBU 6000, serta dua tabung peluncur torpedo Type-53.

    Kapal perang ini juga dilengkapi hangar dan dek pendaratan helikopter untuk membawa dua helikopter Kamov Ka-27 Helix.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Kapal Perang Armada Pasifik Rusia Mampir ke Surabaya

    KSAD Siap Menjelaskan Pengadaan Tank Leopard Kepada DPR

    Jakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan siap menjelaskan kepada DPR terkait rencana pengadaan 100 unit tank Leopard dari Belanda. "Kami memang belum memberikan penjelasan yang rinci, tetapi kami siap untuk berikan penjelasan yang rinci kepada DPR," katanya, di sela Rapat Pimpinan TNI di Jakarta, Rabu (18/1/2012).

    KSAD menjelaskan tim teknis akan dikirim kembali ke Belanda untuk melihat dan memastikan kembali kondisi dari tank-tank tersebut. "Tim juga akan melihat kondisi tank dengan harga yang ditawarkan, apakah layak atau tidak," kata Pramono.

    KSAD menegaskan keinginannya untuk membeli 100 unit tank Leopard itu guna menyamai teknologi persenjataan Indonesia, khususnya tank dengan sejumlah negara lain seperti Malaysia dan Singapura. "Indonesia saat ini baru bisa me-retrofit tank ringan, jenis tank sedang saja belum. Padahal negara-negara lain, khususnya di ASEAN seperti Malaysia dan Singapura telah memiliki tiga jenis tank ringan, sedang hingga berat dengan teknologi terbaru," katanya.

    Pramono memaparkan, tank-tank yang digunakan TNI merupakan produksi tahun 1950-an. "Jadi, secara teknologi saja sudah jauh ketinggalan dengan negara-negara tetangga," ujarnya.

    "Sehingga kita berharap ada peningkatan teknologi. Andaikata kita memiliki tank jenis berat dari negara lain, disertai alih teknologi, maka ke depan kita akan bisa membuat sendiri," sambungnya.

    Sebelumnya, rencana pembelian tank Leopard telah ditolak oleh parlemen Belanda. Mereka menilai Indonesia masih melakukan berbagai pelanggaran HAM. Belanda tak mau tank-tank itu dipakai untuk pelanggaran HAM. Di dalam negeri, beberapa anggota Komisi I DPR tegas-tegas menolak rencana itu. DPR menilai spesifikasi tank Leopard tak cocok dengan kondisi medan Indonesia.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> KSAD Siap Menjelaskan Pengadaan Tank Leopard Kepada DPR

    Daftar Negara - Negara Pengguna Tank Leopard

    Jakarta - Indonesia berencana melengkapi alat pertahanannya dengan menambah armada tank. Rencananya, 100 unit tank jenis Leopard 2A6 akan dibeli pemerintah dari Belanda.

    Rencana pemerintah ini menuai pro dan kontra. Namun, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo menyatakan tank Leopard asal Belanda cocok untuk kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

    Menurut Edhie, untuk menentukan tank kelas berat jenis Leopard, pihaknya sudah melakukan penelitian, termasuk menanyakan kepada pihak-pihak yang mumpuni soal alutsista. Apalagi kebutuhan akan Leopard juga merupakan permintaan si pemakai yakni Batalyon Kavaleri.

    Tank tempur utama andalan Jerman ini juga banyak digunakan sejumlah negara. Dan sebagian besar digunakan oleh negara-negara Eropa. Hanya Singapura, negara di luar Eropa yang menggunakan tank yang dapat menyelam di lautan dangkal ini.

    Berdasarkan catatan, Jerman memiliki 2.350 buah tank Leopard dari berbagai varian. Namun, dari jumlah itu, 408 Leopard yang aktif digunakan. Sedangkan sisanya disimpan dan dijual paska perang dingin.

    Belanda sendiri pun memiliki 445 Tank Leopard. Namun, dari jumlah itu hanya 82 yang aktif dan 26 masih di gudang penyimpanan, serta 1 buah tank rusak. Belanda juga banyak menjual tank jenis ini paska perang dingin.

    Negara-negara lain yang memiliki Leopard 2 adalah Austria yang memiliki 114 tank bekas Belanda. Kanada juga memiliki 20 buah, dimana 20 di antaranya disewa dari Jerman untuk perang Afganistan dan 5 dibeli dari Jerman untuk suku cadang.

    Chili memiliki 132 buah tank bekas Jerman. Denmark (51 tank eks Jerman), Finlandia (124 tank eks Jerman), Norwegia (52 tank eks Belanda), Polandia (128 tank eks Jerman), Portugal (37 tank eks Belanda), Singapura (96 tank bekas Jerman termasuk 30 tank sebagai suku cadang), Spanyol (327 tank, 108 diantaranya bekas Jerman dan sisanya baru), Turki (339 tank eks Jerman), dan Yunani yang memiliki 353 tank.

    Sumber : VIVANEWS
    Readmore --> Daftar Negara - Negara Pengguna Tank Leopard

    Komisi I Pertanyakan Pengadaan Tiga Kapal Selam Dari Korsel

    Jakarta - DPR telah mendengar adanya kontrak kerjasama dalam pengadaan tiga Kapal selam antara pihak Kemenhan RI dengan Perusahaan Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME), untuk memperkuat TNI AL. Karena itu, Komisi I DPR akan segera memanggil Kemenhan dan Kasal untuk membahas soal telah tercapainya kontrak kerjasama ini.

    Demikian dikatakan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com di DPR, kemarin (Rabu/18/1).

    “Mungkin sekitar awal Februari nanti kita akan panggil Kemenhan dan Kasal untuk membahas kontrak pengadaaan tiga kapal selam dengan Korsel tersebut. Ini perlu agar menjadi jelas persoalannya.Karena sejuah ini pihak pemerintah belum secara resmi menyampaikan informasi ke DPR. Sehingga saat masyarakat dan media masa menanyakan hal ini, dan DPR sulit menjelaskan, karena informasi yang dimiliki DPR dalam masalah ini masih bersifat informasi informal dan pemberitaan dari media masa itu sendiri,” ujar Mahfudz.

    Wakil Sekjen PKS ini menjelaskan, memang sebelumnya Komisi I DPR telah menyatakan atas dukungan untuk pembelian dua kapal selam, berikut anggarannya. Saat itu, spesifikasi dan kualifikasi yang disetujui dalam pembelian dua kapal selam itu, setara dengan kemampuan kapal selam yang dimiliki oleh Kapal selam Singapura.

    Mahfudz mengaku senang, jika dari anggaran sebelumnya untuk pengadaan dua unit kapal selam itu, justru saat ini bisa untuk membeli tiga unit. Tetapi pertanyaannya, apakah kemampuannya sama dengan kemampuan dua kapal selam yang disetujui oleh DPR sebelumnya?

    “Karena yang saya dengar dari beberapa sumber, spek dan kemampuan tiga kapal selam yang akan dibeli dari perusahaan Korsel itu tidak setara dengan kapal selam milik Singapura, dibawahnya sedikit, namun setara dengan kapal selam milik Malaysia,” tegasnya.

    Mengingat informasi dalam pengadaan kapal selam ini terus berkembang dan simpang siur, terutama dari kemungkinan dari spek dan kemampuan yang sebelumnya disampaiakan ke DPR dan Komisi I menyetujui, kata Mahfudz, maka DPR hanya mengingatkan agar pihak pemerintah tidak keluar dari kesepakatan itu.

    “Karena setiap perubahan spek dan kualikasi dalam pembelian alutsita dari yang sebelumnya yang telah disepakati dengan DPR, jelas itu akan menimbulkan permasalahan baru. Karena kemudian hal itu akan memunculkan perubahan dari anggota Dewan, mana kala ternyata di tengah jalan pemerintah memutuskan sepihak dalam hal spek alutsita yang di beli tersebut,” tegasnya.

    Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia pada akhir Desember 2011 lalu menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME). Tiga kapal selam ini akan segera melengkapi armada tempur TNI Angkatan Laut.

    Kontrak pengadaan tiga unit kapal selam tersebut ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan President & CEO DSME Sang-Tae Nam.

    Kemenhan berharap, kehadiran tiga kapal selam baru ini dapat memperkuat daya tempur dan daya tangkal TNI Angkatan Laut. Sebelumnya, RI menjajaki beberapa negara untuk pengadaan kapal selam bagi TNI AL. Negara-negara yang sempat dipertimbangkan RI untuk memproduksi kapal selam tersebut adalah Jerman (U-209), Korea Selatan (Changbogo), Rusia (Kelas Kilo), dan Prancis (Scorpen).

    Sumber : JURNAL PARLEMEN
    Readmore --> Komisi I Pertanyakan Pengadaan Tiga Kapal Selam Dari Korsel

    PT. Infoglobal Teknologi Semesta Akan Mengupgrade F-5 TNI AU

    Jakarta - Untuk mencapai Minimum Essential Forces (MEF), TNI berupaya meningkatkan kemampuan daya tangkal Alutsistanya dengan membeli Alutsista baru guna menggantikan yang lama, dan meningkatkan kemampuan Alutsista yang ada dengan mencangkokan teknologi terkini di Alutsista yang masih laik.

    Salah satu Alutsista lama TNI yang masih beroperasi namun perlu peningkatan teknologi, adalah pesawat tempur TNI AU, jenis F-5 E/F Tiger II.

    Walau sempat diisukan F-5 E/F TNI AU akan digantikan dengan F-16, namun dengan telah dibukanya embargo militer Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia, pesawat tempur yang dibeli tahun 1980 dapat lebih maksimal menjalankan tugasnya.

    Kepada itoday, PT. Infoglobal Teknologi Semesta mengatakan, rencananya perusahaan asal Surabaya inilah yang akan meningkatkan kemampuan avionik sang Macan TNI AU. Sehingga pesawat tempur yang dibeli untuk menggantikan Mig-21 TNI AU ini bisa tetap beroperasi di masa depan.

    Pesawat tempur F-5 E/F TNI AU sendiri sebenarnya pernah ditingkatkan kemampuannya di 1995 oleh SABCA, perusahaan asal Belgia dalam proyek Modernization of Avionics and Navigation (MACAN).

    Kesempatan yang didapatkan perusahaan lokal untuk meningkatkan kemampuan pesawat tempur TNI AU ini, disebabkan karena SABCA, Belgia yang menjalankan proyek MACAN dahulu sudah tidak ada lagi.

    Hal tersebut dianggap sebagai sebuah peluang bagi PT. Infoglobal Teknologi Semesta untuk membuktikan diri, bahwa perusahaan lokalpun mampu meningkatkan kemampuan avionik pesawat tempur TNI AU. Apalagi, Infoglobal sudah berpengalaman mengganti avionik pesawat tempur jenis Hawk TNI AU.

    Salah satu avionik F-5 E/F TNI AU yang akan ditingkatkan kemampuannya, adalah perangkat Inertial Navigation Unit (INU). Infoglobal sendiri sudah mampu membuat perangkat INU untuk F-5 yang juga bisa dipasangkan di F-16 milik AU.

    Dan perangkat INU buatan Infoglobal sendiri bukanlah produk sembarangan. Alat navigasi lokal ini menyabet penghargaan Indigo Fellow 2010 untuk bidang pengembangan industri kreatif digital nasional.

    Sumber : IToday
    Readmore --> PT. Infoglobal Teknologi Semesta Akan Mengupgrade F-5 TNI AU

    Panglima TNI : TNI Butuh Alutsista Demi Melindungi Keamanan Masyarakat

    Jakarta - Program percepatan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) merupakan suatu bentuk tanggung jawab TNI terhadap keamanan masyarakat. Keamanan itu tercipta apabila yang melindungi memiliki peralatan yang cukup.

    "Tidak mungkin masyarakat kita merasa aman manakala yang melindungi tidak punya apa-apa. Makanya kita perlu peralatan alutsista," kata Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Soehartono, dalam jumpa pers di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/01/2012).

    Menurut Agus, akibat krisis moneter 1998 hampir tidak pernah ada peremajaan terlebih pengadaan alutsista baru. Sementara, saat ini perhatian kepada TNI lebih baik dalam kondisi ekonomi negara yang juga semakin baik, sehingga mendapatkan alokasi anggaran untuk pengadaan tersebut.

    "Jadi, sekarang ini waktunya," tutur Agus.

    Dijelaskan Agus, pembangunan alutsista itu membutuhkan waktu yang panjang dan perencanaan yang matang. Untuk itu, urgensi pengadaan ini agar alutsista itu sudah ada pada saat dibutuhkan nanti.

    "Kalau tidak direncanakan dengan matang, maka pada saat alutsista itu dibutuhkan, maka alutsista ini belum datang," ujar Agus.

    Selain itu, pengadaan ini terkait kebutuhan negara akan penangkalan. Hal itu dapat tercipta jika negara memiliki alutsista yang memadai.

    "Memadai kalau dibandingkan negara lain, syukur-syukur lebih tinggi maka memiliki penangkalan yang lebih," tandas Agus.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Panglima TNI : TNI Butuh Alutsista Demi Melindungi Keamanan Masyarakat

    KSAD : TNI Dekati Belanda dan Jerman Guna Dapatkan Tank

    Jakarta - TNI tidak hanya melakukan pendekatan dengan Belanda terkait rencana pembelian tank leopard. Bahkan TNI juga juga tengah mendekati Jerman selaku produsen tank leopard.

    Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengakui jika sampai saat ini pihaknya masih terus bernegosiasi dengan kedua negara tersebut. Dengan harapan bisa mendapatkan harga yang cocok untuk mendatangkan tank kelas berat tersebut.

    "Sebetulnya pembuat leopard itu adalah Jerman, jadi kita juga mengambil beberapa leopard yang ditingkatkan kemampuannya yang dimiliki oleh Jerman," ujar Pramono, Rabu (18/1/2012).

    Menurutnya, selain rencana pembelian tank leopard itu, TNI juga berencana mengirimkan ahlinya ke Jerman sehingga nantinya jika tank tersebut jadi didatangkan, TNI memiliki tenaga ahli yang paham dengan teknologi tank yang dimiliki Jerman itu.

    "Sehingga nanti kita menginginkan ahli teknologi tidak hanya membeli barang saja itu dilakukan oleh Jerman, kita kirim anggota untuk ikut serta, sehingga memiliki kemampuan untuk membuat pd suatu saat. Jadi sebetulnya ada dua negara, Jerman dan Belanda," jelasnya.

    Lebih lanjut, Pramono mengatakan, pihaknya berharap dalam pendekatan dengan kedua negara ini bisa menghasilkan sebuah keputusan yang baik, khususnya mengenai harga dari tank tersebut.

    "Jumlah (harga) dan segalanya kita masih mengadakan negosiasi, insyaallah kalau kita terus menawar dengan kedua negara ini akan menawarkan kepada kita," pungkasnya.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> KSAD : TNI Dekati Belanda dan Jerman Guna Dapatkan Tank

    Daftar Alutsista TNI Untuk 2010-2014

    Jakarta - Mabes TNI mendapat anggaran Rp 156 triliun untuk kurun waktu 2010-2014. Lalu untuk belanja apa saja anggaran itu?

    "Dalam hal pembelanjaan kita sudah punya shopping list 2010-2014, dengan anggaran Rp 156 triliun tadi masing-masing angkatan sudah memiliki," kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, dalam jumpa pers di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/01/2012).

    Dijelaskan Agus, dariRp 156 triliun itu ada yang untuk pengadaan alutsista baru sebagai pengganti yang sudah didispuse atau yang lama. Selain itu, juga untuk peningkatan kemampuan. Artinya alutsista yang masih memadai tetapi senjatanya masih ketinggalan sehingga dilakukan modernisasi.

    "Itu bagian upaya kita memenuhi bagian pertahanan," lanjut Agus.

    Pada kesempatan yang sama, para kepala staf angkatan yang turut hadir pun membeberkan rencana belanja dari masing-masing angkatannya.

    "Shoping list dari Rp 14 triliun yang dialokasikan untuk Angkatan Darat (AD) yang mengemuka adalah tentang leopard. Jadi, kita ingin membeli 1 batalion tank berat, kita tidak punya," kata Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Purnomo Edhie Wibowo.

    Selain itu, AD juga berencana membeli 1 batalion multiple launcher rocket system yang bisa melintas sampai 7 km, heli serang, meriam 155 dengan jarak tembak 40 km, heli serbu, serta memodernisasi alutsista penangkal udara berupa roket atau rudal untuk menembak pesawat.

    "Alat kita sudah 20 tahun tidak dimodernisasi," tutur Pramono.

    Sementara itu, Angkatan Laut (AL) dalam hal kapal melakukan pengadaan di antaranya kapal selam, kapal cepat rudal, kapal PKR, serta kapal latih. Untuk pesawat, AL akan mengadakan pesawat patroli maritim, pesawat anti kapal selam, pesawat angkut, dan pesawat anti kapal permukaan.

    Dalam hal pangkalan, AL akan meningkatkan pembentukan komando wilayah laut (Kowila) RI dari 2 menjadi 3 armada, juga mengadakan beberapa pos angkatan laut (Posal). Peningkatan di bidang marinir di antaranya dilakukan dengan menambah 1 divisi marinir, pengadaan Tank Amphibi TMP 3F, amunisi roket, dan meriam.

    "Jadi semuanya itu tidak ada pilih kasih semuanya kita tingkatkan secara pararel," kata Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Soeparno.

    Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Supaat, juga menuturkan pengadaan dari angkatannya. Menurutnya, ada 4 yang pokok dalam pengadaan di Angkatan Udara (AU).

    Pertama adalah air priority atau Counter R dengan mengadakan pesawat sukhoi, menerima hibah F16 sebanyak 30 dengan 24-nya di-upgrade dan 6 sebagai cadangan. Selain itu, untuk Air Strike akan mendapatkan Pesawat T/A-50 dari Korea sebanyak 16 unit, kemudian mengganti Obitent dengan supertocano dari brazil. Untuk air mobility akan ditambah 9 pesawat Hercules, di mana 4 di antaranya merupakan hibah dan 5 dibeli dari negara lain dengan tipe H.

    "Kemudian dari dalam negeri kita akan mendapatkan 9 pesawat C295 di mana pesawat ini buatan PT DI join dengan Airbus dan kemampuannya sekitar 9 ton barang yang akan diangkut," kata Imam.

    Kedua, untuk air sar atau recognition AU akan meng-upgrade boing 737 yang saat ini ada 3, kemudian akan mendapatkan CN 235 untuk patroli maritim, helicopter coguard atau EC 275.

    Ketiga, untuk pesawat latih, AL akan membeli pesawat LOB dari Jerman sebanyak 24 buah. Lalu menambah KT one yang sekarang dipakai untuk aerobatic menjadi 24.

    Terakhir, untuk pertahanan udara, AL akan membeli rudal orlicon, pertahanan udara jarak menengah, serta membeli asram atau air to air shoot ring missile.

    "Itu yang akan kita rencanakan di samping menghidupkan kekuatan yang sekarang ini ada," tutur Imam.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Daftar Alutsista TNI Untuk 2010-2014

    Wednesday, January 18, 2012 | 4:52 PM | 1 Comments

    TNI AL Dan PT Wirajayadi Bahari Pamerkan APC Amphibi Dalam Rapim TNI 2012

    Jakarta - Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2012 yang berlangsung di Markas Besar (Mabes) TNI diwarnai acara gelar Static Show Alat Perlengkapan Pertahanan (Alpahan) Produksi Industri Dalam Negeri. Di dalam tenda, terdapat 38 stand yang menampilkan sejumlah peralatan dan perlengkapan militer.

    Sementara di luar tenda, memamerkan berbagai kendaraan tempur serta alat berat militer. APC Amphibi merupakan kendaraan tempur untuk mengangkut pasukan pendarat marinir produksi TNI Angkatan Laut (AL) dan PT Wirajayadi Bahari.

    "Hasil produksi telah diuji coba dan memenuhi standar dan keselamatan TNI AL serta ergonomis sebagai kendaraan tempur amphibi, yang memenuhi standar operasional TNI AL," kata Owner PT Wirajayadi Bahari, Bintoro, di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/1).

    Dia menjelaskan, proses pembangunan dilakukan di Denhar Lanmar Surabaya. APC Amphibi yang diproduksi juga dapat disejajarkan dengan produk sejenis dari negara lain. "APC Amphibi ini tidak kalah dengan negara luar," jelas Bintoro.

    Dia berharap, alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri dapat diandalkan di kemudian hari. "Alutsista dalam negeri harus jadi andalan dan kebanggaan Indonesia," tandasnya.

    Sumber : Suara Pembaruan
    Readmore --> TNI AL Dan PT Wirajayadi Bahari Pamerkan APC Amphibi Dalam Rapim TNI 2012

    Menhan : Inilah Kaidah Penguatan Alutsista TNI

    Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan dalam kebijakan pemerintah, TNI harus memprioritaskan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) dari dalam negeri.

    "Kebijakan dasar pengadaan alutsista untuk meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri. Prioritas pengadaan alutsista dari dalam negeri," ujar Purnomo dalam Rapim TNI, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/1/2012).

    Menurutnya, apabila dari produksi dari dalam negeri belum mungkin, maka pengadaan Alutsista bisa dilakukan dengan produksi bersama (joint production). Namun jika hal itu dinyatakan belum memungkinkan juga untuk menyerap permintaan dalam kebutuhan TNI, maka dimungkinkan memungkinkan melakukan pembelian dari luar negeri.

    "Apabila dari dalam negeri dan produksi bersama belum mungkin pengadaan dilakukan dari luar negeri dengan meminta offset," imbuhnya.

    Meski begitu, jika Indonesia melakukan impor Alutsista, maka hal yang diharapkan, jual beli tersebut tidak terikat. "Dalam hal impor alutsista, maka sedapat mungkin dilakukan dengan kompensasi trade off," jelasnya.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> Menhan : Inilah Kaidah Penguatan Alutsista TNI

    KSAD : Pembelian Tank Leopard Belum Final

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edy Wibowo mengatakan, pembelian kendaraan lapis baja (tank) Leopard dari Belanda belum sepenuhnya final. Menurutnya, rencana pembelian tank tersebut masih dalam tahap pembahasan.

    "Jadi sekarang belum final. Kita akan kesana lagi dan meninjau lagi," ujar Edy Wibowo usai meninjau pameran alat pertahanan TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/1/2012).

    Edy mengatakan, pada dasarnya, tank Leopard tersebut merupakan salah satu divisi tank di Belanda yang akan dihapuskan. Oleh karenanya Indonesia mendapat kesempatan untuk meninjau dan bernegosiasi soal harga.

    "Mereka punya cadangan sekitar 150 tank. Selanjutnya kita diberi kesempatan untuk melihat dan memilih serta untuk melihat harganya," kata dia.

    Dia menambahkan, hingga saat ini belum ada kesepakatan soal harga. Namun, dirinya berharap agar kendaraan tempur tersebut bisa dibeli dan segera tiba di Tanah Air.

    "Jadi, penentuan harga itu belum, tapi karena barangnya sudah ada di gudang (Belanda), semakin cepat disetujui pembelian, juga akan cepat ke Indonesia," tandasnya.

    Sumber : OKEZONE
    Readmore --> KSAD : Pembelian Tank Leopard Belum Final

    KSAD : PT Pindad Belum Mampu Produksi Tank Berat

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan rencana pembelian 100 tank Leopard dari Belanda karena kebutuhan Batalyon Kavaleri Angkatan Darat (AD).

    Saat ini, tank yang dimiliki batalyon tersebut yakni tank Scorpio produk tahun 50-an, dianggap tidak layak dari segi usia.

    "Ada 11 batalyon kavaleri, dua batalyon (memiliki tank) yang namanya Scorpio. Itu tank ringan dan lain-lain. Itu semua produk tahun 50-an," ujar Pramono di sela-sela Rapat Pimpinan TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (18/1/2012).

    Selain itu, Batalyon Kavaleri membutuhkan tank jenis berat. Menurutnya, Indonesia ketinggalan jauh dengan negara lain soal tank.

    "Jadi kalau dilihat itu kita sudah jauh ketinggalan untuk soal tank, tank itu ada tiga kelas ringan, sedang, berat, Leopard termasuk yang berat," jelasnya.

    Meski begitu, bukan berarti TNI tidak melirik produksi di Indonesia yakni produksi PT Pindad. Namun, PT Pindad masih melakukan pembaruan pada tank jenis AMF 13 dari segi teknologi tank untuk kelas biasa menjadi kelas sedang.

    "Untuk tank berat kita belum mampu. Sehingga kita berharap ada peningkatan teknologi, andaikata kita memiliki yang berat dengan sarat TOT (perjanjian) bisa mentransfer (ilmu) sehingga bisa membuat sendiri," katanya.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> KSAD : PT Pindad Belum Mampu Produksi Tank Berat

    Wamenhan : Pengadaan Alutsista Telah Diaudit Tiga Kali

    Jakarta - Pemerintah Indonesia menyiapkan dana Rp150 triliun hingga 2014 untuk revitalisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).

    Untuk menghindari terjadinya korupsi dalam pengadaan, maka audit akan dilakukan tiga kali dalam setiap program oleh tim konsultasi pencegahan penyimpangan pembelian barang dan jasa (TKP3B).

    Hal itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Pertahanan Syafrie Syamsuddin dalam acara silaturahmi Kementerian Pertahanan dengan pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Selasa (17/1).

    "Tambahan anggaran besar ini menjadi gula untuk pengembangan bisnis militer, namun juga ternyata menjadi pil pahit bagi kami. Yakni bagaimana untuk menghindari adanya penyimpangan," ujar Syafrie.

    Oleh karena itu, lanjut Syafrie, tim konsultasi pencegahan penyimpangan pembelian (TKP3B) yang akan melakukan pengendalian. Salah satunya yakni dengan melakukan tiga kali audit terhadap setiap pengadaan yang dilakukan.

    "Kalau sekarang, auditnya di ujung, namun nantinya akan ada audit awal, current audit dan post audit. Kalau masih lolos, udah keterlaluan. Kita akan upayakan cermat dan teliti," ujar Syafrie.

    Saat ini untuk revitalisasi alutsista dianggarkan Rp150 triliun. Yakni Rp55 triliun untuk alutsista berasal dari pinjaman luar negeri/dalam negeri, kemudian Rp45 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan, serta Rp50 triliun untuk pengembangan produksi dalam negeri. Dengan adanya alokasi besar tersebut, dibentuk TKP3B yang anggotanya selain dari Irjen Kemenham, juga LKPP dan BPKP.

    Permasalahan lainnya yang dihadapi dalam reviltalisasi alutsista, lanjut Syafrie, yakni ajang bisnis peralatan militer oleh beberapa negara produsen alutsista.

    "Seluruh dubes datang. Tapi kita punya parameter, kita tidak hanya membeli, tapi harus transfer teknologi. Harus dalam koridor pengawasan," ujarnya.

    Sementara itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia sudah melakukan kerja sama dengan Korea untuk pembuatan pesawat fighter generasi 4,5.

    "Pembangunan pesawat dengan generasi yang lebih dari sukhoi dan F16 hasil kerja sama dengan korea. Kita kirim berpuluh teknisi dari ITB dan beberapa instansi lainnya. Kalau itu terjadi dan sukses, 20% dari 250 pesawat akan diproduksi (di dalam negeri)," ujarnya.

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> Wamenhan : Pengadaan Alutsista Telah Diaudit Tiga Kali

    Menhan : Anggaran Pertahanan Tidak Membebani APBN

    Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Karena itulah, sudah sewajarnya Indonesia membangun kekuatan pertahanan dengan melakukan modernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista).

    Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat Rapat Pimpinan TNI 2012 di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/1). "Dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik, maka sudah sewajarnya Indonesia menyisihkan dana untuk membangun kekuatan pertanahan," kata Purnomo.

    Menurutnya, anggaran besar yang diberikan pemerintah dan DPR RI kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan) tidak akan membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

    Pasalnya, proyeksi ekonomi Indonesia ke depan akan semakin membaik. Hal tersebut tentu berpengaruh positif juga terhadap APBN. "Saya sering ditanya, kalau Kemhan dapat anggaran tinggi, apa tidak bebankan APBN? Saya katakan tidak, karena keputusan ini memiliki dasar yang cukup kuat yakni proyeksi ekonomi ke depan akan tumbuh dengan baik," jelasnya.

    Purnomo menyampaikan terima kasih atas dukungan dari pemerintah dan DPR RI atas anggaran yang diberikan terhadap Kemhan. Anggaran Kemhan menjadi yang tertinggi dari 10 kementerian dan lembaga negara. Alokasi anggaran Kemhan pada 2012 mencapai Rp 72, 5 triliun. "Kita patut berterima kasih pada pemerintah dan DPR," ucapnya.

    Artinya, lanjut Purnomo, pemerintah telah memberikan satu dukungan untuk membangun reformasi jilid II atau modernisasi alutsista. "Kita punya kesempatan sekarang. Dengan dukungan Panglima TNI dan seluruh Kepala Staf, kita bisa manfaatkan dana itu untuk bangun kekuatan. Kekuatan kita akan luar biasa kalau bisa dimanfaatkan dengan baik," ungkapnya.

    Sumber : Suara Pembaruan
    Readmore --> Menhan : Anggaran Pertahanan Tidak Membebani APBN

    Menhan : Delapan Tahun Mendatang, Indonesia Bakal Miliki Puluhan Jet Canggih

    Jakarta - Kekuatan pertahanan Indonesia di masa akan datang bakal disegani bangsa lain, kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Selain pemenuhan satu skuadron Shukoi yang terdiri enam unit Sukhoi jenis Su-27 SKM dan 10 unit Sukhoi jenis Su-30 MK2 pada 2014 dan puluhan jet tempur F-16, pihaknya menegaskan pada 2020, Indonesia bakal memiliki jet tempur super canggih jenis KF-X/IF-X yang dibuat bersama (joint production) antara Korea Selatan dan Indonesia.

    "Proses pembuatan bersama jet tempur mirip pesawat siluman Amerika Serikat tersebut sudah dimulai dan sembilan tahun mendatang ditargetkan mampu diproduksi hingga 200 unit," katanya.

    Sebagai kompensasi pengiriman tenaga ahli dalam yang terlibat perakitan dan pembuatan teknologi terbaru dalam dunia penerbangan, imbuh Purnomo, Indonesia mendapat kompensasi 20 persen dari total pengerjaan jet tempur.

    "Pesawat jenis ini kelasnya di atas Sukhoi dan F-16. Indonesia nanti bakal mendapat alokasi 50 unit," ujar Purnomo di Jakarta. Menurut Purnomo, jet tempur jenis KF-X/IF-X merupakan tipe baru yang dikembangkan anak pribumi dan dirakit di Negeri Ginseng tersebut. Pihaknya menyatakan, kerjasama dengan Korea Selatan sangat menguntungkan sebab diikuti dengan transfer teknologi antar kedua negara.

    Sumber : Republika
    Readmore --> Menhan : Delapan Tahun Mendatang, Indonesia Bakal Miliki Puluhan Jet Canggih

    Su-35 Kembali Menjalanin Ujicoba Sistem Propulsi Dan Kendali

    Moskow - Produsen pesawat Rusia, Sukhoi, mulai melakukan uji terbang pesawat tempur generasi terbaru Sukhoi Su-35S (Flanker-E). Pesawat ketiga dari seri tersebut diterbangkan dari pangkalan udara milik Asosiasi Produksi Pesawat Komsomolsk-on-Amur di Rusia timur jauh, Selasa (17/1/2012).

    Pesawat itu terbang selama lebih dari dua jam untuk menguji sistem propulsi dan sistem kendali pesawat yang baru. Pesawat tempur multiperan dengan misi keunggulan udara ini dilengkapi generasi terbaru mesin turbofan Saturn 117S (AL-41-F1S) dengan kontrol pengarah daya dorong mesin (thrust vectoring control/TVC), yang membuat pesawat tersebut memiliki manuverabilitas tinggi.

    Oleh pembuatnya, Su-35S disebut sebagai pesawat generasi 4++ yang menggunakan teknologi pesawat generasi kelima. Dalam laman resmi Sukhoi disebutkan, pesawat itu bisa melesat dengan kecepatan maksimum 1.400 km per jam (Mach 1,1) pada ketinggian rendah dan hingga 2.400 km per jam (mendekati Mach 2) pada batas tertinggi ketinggian operasional pesawat pada 18.000 meter.

    Pesawat tersebut dilengkapi radar generasi terbaru yang mampu mendeteksi sasaran di udara dari jarak 400 kilometer dan mampu melacak serta menyerang beberapa sasaran sekaligus (melacak 30 sasaran sekaligus dan menyerang 8 sasaran secara simultan di udara, ditambah melacak empat sasaran dan menyerang dua sasaran di darat secara bersamaan) dari jarak 30 kilometer dengan perangkat OLS (optical locator station) di kokpit.

    Su-35 adalah pengembangan tingkat lanjut dari pesawat Su-27 Flanker. TNI AU saat ini sudah mengoperasikan beberapa varian Su-27 dan Su-30, dan dikabarkan berminat membeli sedikitnya satu skuadron Su-35BM (versi ekspor dari Su-35S) di masa depan.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Su-35 Kembali Menjalanin Ujicoba Sistem Propulsi Dan Kendali

    Pengamat : Ada Aroma Politik Jegal Pramono di Balik Penolakan Tank Leopard?

    Jakarta - Sejumlah anggota Komisi I DPR menolak pembelian Tank Leopard eks Belanda. Diduga ada aroma politik dalam kasus ini, bukan hanya sekadar masalah alutsista.

    "Saya menduga ada upaya menjegal KSAD Jenderal Pramono Edhie. Ini bukan sekadar teknis masalah Alutsista saja, ada kepentingan politik dari oposisi," ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Selasa (17/1/2011).

    Aris menjelaskan sudah tradisi setiap Kepala Staf TNI AD ingin meninggalkan jejak saat kepemimpinannya. Mantan KSAD Jenderal Ryamirard Ryacudu misalnya meninggalkan jejak setelah membangun Batalyon Raider di setiap Kodam. Sementara Djoko Santoso menghidupkan kembali brigade infanteri di beberapa Kodam.

    "Nah, Pramono sepertinya ingin menjadikan tank ini sebagai jejaknya kelak," tutur Aris.

    Aris menduga serangan dari oposisi wajar terjadi, apalagi Pramono disebut-sebut akan diusung Partai Demokrat sebagai Capres di 2014.

    "Ada upaya politik untuk mengagalkan jejak fenomenal Pramono Edhie. Padahal kan proyek ini dananya sudah ada," jelas dia.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Pengamat : Ada Aroma Politik Jegal Pramono di Balik Penolakan Tank Leopard?

    Pengamat : Indonesia Butuh Monster Lapis Baja Sekelas Tank Leopard 2A6

    Jakarta - Rencana pembelian 100 buah Tank Leopard 2A6 eks Belanda menjadi Polemik di tanah air. Namun dengan perkembangan teknologi saat ini, sudah saatnya Indonesia memiliki tank kelas berat sekelas main battle tank (MBT).

    "Ini penting untuk TNI. Untuk mengejar ketinggalan Korps Kavaleri dari negara lain. Sekarang ini kan Kavaleri kita mandek hanya mengandalkan tank-tank ringan. Tidak ada pengembangan untuk mempelajari MBT," ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Selasa (17/1/2011).

    Aris menambahkan Singapura saja yang negara metropolitan sudah punya tank kelas berat sejak tahun 1980an. Tank itu ditaruh di Taiwan, sehingga mereka berlatih di sana. Hal itu menunjukkan keseriusan Singapura untuk membangun angkatan perangnya. Demikian juga negara-negara ASEAN lain.

    "Masa Indonesia tidak punya MBT," kata dia.

    Mengenai kondisi geografi Indonesia yang dinilai tidak cocok bagi MBT, Aris menilai hanya bagaimana masalah taktik penggunaannya. Misalnya apakah nanti monster lapis baja ini dipakai untuk menyerang, atau bertahan, tentunya sesuai taktik. Jadi bukan sama sekali tank ini tidak bisa dipakai.

    "Tank ini juga penting untuk daya getar Indonesia," katanya.

    Indonesia saat ini memang hanya mengandalkan tank ringan sekelas Scorpion dan AMX 13. Tentu saja tank-tank ringan yang hanya berbobot 15-25 ton ini bukan tandingan tank kelas berat yang berbobot 50 ton keatas. Dari segi persenjataan pun jelas berbeda. Scorpion misalnya, hanya mengandalkan kanon 76 mm. Bandingkan dengan MBT yang memiliki kanon 120 mm. Demikian pula daya perusak dan proteksi lapis baja, tank ringan tentu bukan tandingan tank kelas berat.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Pengamat : Indonesia Butuh Monster Lapis Baja Sekelas Tank Leopard 2A6

    Menhan : Pelaksanaan Pertahanan Negara Tetap Menghormati HAM

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan Indonesia berkomitmen untuk menghormati Hak Asasi Manusia (HAM) dalam pelaksanaan pertahanan negara.

    "Seluruh prajurit kita mulai dari taruna hingga perwira tinggi, sudah kita bekali dengan pemahaman mengenai HAM," katanya dalam ramah tamah dengan para pimpinan media massa di Jakarta, Selasa malam.

    Meski begitu, Purnomo tidak menampik jika ada pelanggaran HAM oleh aparat di beberapa waktu silam.

    "Namanya pelanggaran oleh oknum, kan bisa saja terjadi. Tetapi secara umum kita sangat komitmen dengan penegakan HAM," katanya, terkait dugaan penolakan parlemen Belanda terkait rencana pembelian 100 unit Main Battle Tank "Leopard" oleh Indonesia.

    Parlemen Belanda menolak rencana pembelian itu karena menilai Indonesia sebagai pelanggar HAM.

    Sementara itu, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan baik Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Belanda telah sepakat untuk memproses pembelian Main Battle Tank Leopard.

    "Bahkan tim teknis Kementerian Pertahanan akan berangkat ke Belanda akhir Januari untuk melihat langsung kondisi tank dimaksud, termasuk kemungkinan harga yang akan disepakati apakah layak atau tidak, " ujarnya.

    TNI AD akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp14 triliun itu dipastikan produk baru.

    Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain, Leopard 2A6 yang berbobot 62 ton yang juga dipakai Angkatan Darat Kerajaan Belanda.

    Indonesia akan membeli 100 unit tank yang sudah dipakai di 15 negara itu dengan harga per unit 280 juta dollar AS; namun dengan serangkaian negosiasi berkurang jauh menjadi 100 juta dolar Amerika Serikat per unit.

    "Ini semua proses G to G, tidak melalui agen atau perantara," tegasnya.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Menhan : Pelaksanaan Pertahanan Negara Tetap Menghormati HAM

    Menhan : Silahkan KPK Pantau Pengadaan "Leopard"

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memantau proses pengadaan 100 unit Main Battle Tank "Leopard".

    "Kita sudah ada kerja sama dengan KPK dan sistem pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kementerian Pertahanan sudah berjalan baik," katanya, usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa di Jakarta, Selasa malam.

    Purnomo menjelaskan dalam pengadaan barang dan jasa di Kementerian Pertahanan ada sistem pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Tertinggi Kemhan yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan dan Tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa yang dipimpin Irjen.

    "Khusus proses pengadaan barang dan jasa dilakukan oleh Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, jadi sistem pengawasan, pencegahan, penyimpangan pengadaan barang dan jasa sudah berjalan baik," katanya.

    Hal senada dilontarkan Irjen Kementerian Pertahanan Laksamana Madya Gunadi yang mengatakan pihaknya ingin BPK dan KPK masuk dalam Tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa.

    "Namun aturannya kan tidak memperbolehkan seperti itu, namun kita sudah ada kerja sama dengan kedua instansi tersebut. Kerja sama itulah yang menjadi saluran positif antara Kemhan, BPK dan KPK," ungkapnya.

    Jadi, tambah Gunadi, silakan saja jika KPK atau BPK ingin bertanya segala sesuatu tentang proses pengadaan barang dan jasa di Kementerian Pertahanan termasuk dalam pengadaan 100 unit Main Battle Tank "Leopard".

    TNI AD akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp 14 triliun itu dipastikan produk baru.

    Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain, Leopard 2A6 yang berbobot 62 ton yang juga dipakai Angkatan Darat Kerajaan Belanda.

    Indonesia akan membeli 100 unit tank yang sudah dipakai di 15 negara itu dengan harga per unit 280 juta dollar AS; namun dengan serangkaian negosiasi berkurang jauh menjadi 100 juta dolar Amerika Serikat per unit. TNI AD juga akan membeli multiple launch rocket system untuk kekuatan 2,5 batalyon.

    Untuk meriam 155 buatan Perancis dan helikopter serang darat AH-64 Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, TNI-AD juga mendapatkan harga khusus yang relatif murah. Khusus untuk delapan helikopter, Amerika Serikat memberikan diskon lima juta dollar AS sehingga harganya turun menjadi 25 juta dollar AS.

    Terkait pengadaan sejumlah alutsista tersebut, sebelumnya Indonesia Police Watch mengingatkan agar dilakukan pengawasan ketat agar dalam proses pengadaannya tidak terjadi "permainan", korupsi, atau gratifikasi antarpihak terkait atau dengan perusahaan produsen.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Menhan : Silahkan KPK Pantau Pengadaan "Leopard"

    Menhan : Peningkatan Alutsista Indonesia Sudah Mengkhawatirkan Negara Lain

    Jakarta - Penguatan pertahanan negara lewat peningkatan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) terus dilakukan pemerintah. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahkan kekuatan militer Indonesia sudah banyak membuat khawatir banyak negara.

    "Saya buka saja, kita sudah banyak mengkhawatirkan negara lain," kata Menhan saat silaturahmi dengan pemimpin redaksi media massa di Gedung Jenderal TNI M Yusuf, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/1/2012).

    Menhan mengatakan kekhawatiran negara lain itu tidak pas. Sebab, sama seperti China, RI membangun kekuatan militer karena pertumbuhan ekonomi dan pembangunan teknologi yang semakin membaik.

    "Pembangunan kesejahteraan dan selalu diikuti dengan pembangunan keamanan," kata Menhan.

    Dia menegaskan pengadaan alutsista yang terus dilakukan pemerintah saat ini adalah bukan untuk menyerang negara lain. "Bukan untuk offense, tapi defense. Menjaga kedaulatan kita," ujarnya.

    Penjagaan kedaulatan itu, kata Menhan, bisa dilihat saat pesawat Sukhoi TNI AU menghimpit pesawat Wakil Perdana Menteri Papua Nugini. Hal itu dilakukan karena memang pesawat negara tetangga itu tidak mempunyai clearance.

    "Kalau saya di lapangan, tidak ada clearance, ya saya perintahkan untuk terbang," ujarnya.

    Menhan memaparkan, di darat TNI AD sudah memiliki batalyon infantri terbesar se-ASEAN, yakni 100 batalyon lebih. Di laut, TNI AL memiliki frigad, dan di udara TNI AU akan memiliki dua skuadron Sukhoi.

    Kementerian Pertahanan selama tahun 2009-2014 memiliki anggaran Rp 150 triliun untuk pengadaan alutsista. Rinciannya, Rp 50 triliun untuk pengadaan, Rp 45 triliun untuk perawatan, dan Rp 50 triliun untuk produksi dalam negeri.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Menhan : Peningkatan Alutsista Indonesia Sudah Mengkhawatirkan Negara Lain

    Tuesday, January 17, 2012 | 1:33 PM | 0 Comments

    Menhan : Pembangunan Pertahanan Negara Harus Pro Kesejahteraan

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan penyelenggaraan pertahanan negara pada tahun 2012 ini diarahkan untuk mempercepat pembangunan sistem pertahanan negara yang pro kesejahteraan melalui peningkatan kinerja yang akuntabel dan terintegrasi.

    "Kemhan tidak hanya memperhatikan aspek pembangunan pertahanan negara tetapi juga harus pro kesejahteraan," kata Menhan Purnomo Yusgiantoro saat jumpa pers usai Rapat Pimpinan Kemhan dan TNI di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin (16/1).

    Turut hadir mendampingi Menhan adalah Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Heriyanto, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat.

    Menhan menyebutkan enam kebijakan pembangunan sistem pertahanan negara pada tahun 2012. Pertama, mensinkronkan kebijakan pertahanan dalam one gate policy guna dijadikan pedoman bagi TNI dan komponen kekuatan pertahanan lainnya. Kedua, mengakselerasi dan menyalaraskan perumusan, penetapan dan implementasi legislasi, regulasi dan kebijakan strategis yang berkaitan dengan bidang pertahanan negara.

    Ketiga adalah memantapkan pembangunan sistem pertahanan negara dan meningkatkan kerja sama regional dan internasional. Keempat, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia pertahanan yang sinergi dengan peran kementerian dan lembaga pemerintah nonkementerian di dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pertahanan negara.

    Kelima, meningkatkan pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan militer untuk merealisasikan minimum essential forces (MEF) atau kekuatan pokok minimum khususnya pembangunan Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan) dan fasilitas pendukung yang didukung oleh industri pertahanan dalam negeri. Terakhir adalah meningkatkan pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan nirmiliter yang bersinergi dengan pertahanan militer melalui pemberdayaan wilayah pertahanan dengan kementerian/lembaga terkait.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> Menhan : Pembangunan Pertahanan Negara Harus Pro Kesejahteraan

    China Ingin Tingkatkan Kerjasama Pertahanan Dengan Indonesia

    Jakarta - Pemerintah China, tertarik memperkuat kerjasama di bidang militer dengan Pemerintah Indonesia, yang sudah berjalan selama ini.

    Menurut Menteri Pertahanan China, Liang Guanglie, selama beberapa tahun terakhir, militer China, dan Indonesia, berhasil mencapai kesepakatan kontrak tinggi di bidang militer, seperti konsultasi pertahanan, peralatan, pelatihan personil, latihan bersama, dan patroli keamanan maritim dan keamanan multilateral.

    Liang mengatakan hal tersebut, saat bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Cina, Imron Cotan, di Beijing, China, Senin (16/1/2012).

    Dalam kesempatan itu, Ia juga mengatakan, China siap memajukan kemitraan strategis dengan Indonesia untuk perdamaian dan pembangunan wilayah dan dunia.

    Sementara itu, Imron Cotan, mengatakan Indonesia ingin memperkuat komunikasi strategis dan memperluas kerjasama pertahanan bilateral dengan Cina, untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional.

    Ia mengatakan, kerjasama militer diantara China dengan Indonesia, merupakan sebagai kesempatan daripada sebuah tantangan.

    Hubungan militer diiantara China dan Indonesia terasa sangat mesra, baru-baru ini Liang melakukan kunjungan resmi ke Indonesia, atas undangan Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro.

    Kedua menteri pertahanan tersebut, juga bertemu di sela-sela Pertemuan ASEAN Plus Menteri Pertahanan, di Hanoi, Vietnam, Oktober, 2010.

    Sumber : Tribun
    Readmore --> China Ingin Tingkatkan Kerjasama Pertahanan Dengan Indonesia

    Mantan KSAL : Mending Beli KS Dari Rusia Daripada Kapal Selam Buatan Korsel

    Jakarta - Pembelian tiga kapal selam dari Korea Selatan tidak bermanfaat bagi pertahanan maritim Indonesia karena jenisnya tidak mempunyai efek deterrence bagi negara tetangga.

    Demikian dikatakan Mantan KSAL Laksamana (Purn) Slamet Soebijanto kepada itoday, Selasa (17/1).

    Menurut Slamet, pembelian kapal selam teknologinya harus lebih tinggi dari kepunyaan negara tetangga. "Sekarang ini, kapal selam negara tetangga yang paling berbahaya dari Australia, harusnya Indonesia beli kapal selam yang tingkatannya sama atau melebihi dari Australia itu," kata Slamet.

    Kata Slamet, negara Korea tidak mempunyai pengalaman dalam memproduksi kapal selam yang mempunyai teknologi canggih. "Saya kira membeli kapal selam dari Korea Selatan kurang tepat dan menghamburkan anggaran negara," paparnya.

    Slamet mengusulkan, Indonesia lebih baik membeli kapal selam dari Rusia karena dari segi teknologi sangat baik serta diberi suku cadang dalam perawatannya. "Kalau kita membeli kapal selam Rusia pasti tuntas, disediakan suku cadang. Hal ini berbeda dengan AS, yang motifnya lebih bisnis, misalnya kita membeli produk A, tetapi AS sudah tidak memproduksi lagi suku cadangnya dan kita harus membeli produk barunya," jelas Slamet.

    Ia juga mempertanyakan, Komisi I DPR tidak kritis terhadap pemerintah yang telah membeli tiga kapal selam dari Korea tersebut. "Mereka yang duduk di komisi I itu bukan mewakili rakyat, tetapi partai, harusnya mereka memikirkan pertahanan secara serius," pungkasnya.

    Sumber : Itoday
    Readmore --> Mantan KSAL : Mending Beli KS Dari Rusia Daripada Kapal Selam Buatan Korsel

    Monday, January 16, 2012 | 7:58 PM | 0 Comments

    Pengamat : Alutsista dan Belanda Obralan Senjata

    Jakarta - Alutsista, singkatan alat utama sistem senjata, bisa dikatakan merupakan kesatuan persenjataan TNI. Walaupun sekarang program itu tidak melulu menyangkut pengadaan senjata, tapi tidak lama lagi Alutsista akan juga berarti penambahan tank Leopard milik Belanda. Maklum negeri bekas penjajah itu sekarang sedang obralan senjata.

    Pemerhati militer Tjipta Lesmana berpendapat pada dasarnya Alutsista hanya konsep jangka pendek, paling jauh jangka menengah. Tujuannya menggantikan sejumlah tank yang sudah tua sekali, sudah berusia 40 sampai 50 tahun. Sudah saatnya, demikian Tjipta, tank itu dibesituakan.

    Untuk jangka panjang, misalnya 10 tahun atau 20 tahun ke depan, Tjipta Lesmana menilai TNI atau Kemhan belum memiliki konsep yang matang. Dengan citra terpuruk pada masa Orde Baru, TNI jelas kesulitan. Perlawanan di dalam negeri tetap besar, baik dari parlemen maupun dari LSM.

    Membina hubungan
    Sebuah juklak Kementerian Pertahanan menegaskan sekarang Alutsista lebih memprioritaskan pemeliharaan daripada pengadaan senjata. Maklum, demikian juklak itu, anggaran pemerintah terbatas. “Ini berarti Kemhan mengambil langkah yang pragmatis, memelihara, baru mengganti yang sudah tua,” demikian Tjipta Lesmana.

    Untuk periode 2010 sampai 2014, TNI memperoleh anggaran sebesar Rp. 14 triliun yang jelas juga bisa digunakan untuk belanja senjata.

    Salah satu tujuan belanja senjata itu adalah Belanda. Maklum Belanda yang dilanda kesulitan ekonomi sedang melakukan penghematan besar-besaran dengan, antara lain, merampingkan angkatan bersenjatanya.

    Den Haag mengobral banyak peralatan militernya. Dan Indonesia tertarik pada paling sedikit dua jenis, tank Leopard serta pesawat tempur F16.

    Belanda sebagai tujuan belanja militer ini tidaklah mengherankan, paling sedikit bagi Haryo Adjie, penulis buku tentang kavaleri Indonesia. “Indonesia Belanda sudah membina hubungan di bidang militer cukup lama,” katanya.

    Menurut Adjie banyak juga peralatan militer Indonesia yang berasal dari Belanda. Pada tahun 1980an dan 1990an Indonesia membeli fregat Belanda yang kemudian digunakan TNIAL. Karena itu Haryo Adjie tidak melihat ada masalah dengan Belanda.

    Mahzab tank ringan
    Yang baginya merupakan pertanyaan besar adalah seberapa jauh belanja senjata di Belanda ini akan cocok dengan Alutsista. Haryo Adjie cenderung berpendapat faktor-faktor luar negerilah yang menyebabkan Indonesia berniat membeli senjata di Belanda.

    Pertama ada kesempatan beli tank murah ketika Belanda mengobral tank Leopardnya. Kedua, negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga sudah memiliki tank moderen dan berat. Malaysia misalnya sudah punya tank berat PT 91 buatan Polandia.

    Dua faktor luar negeri ini memang belum tentu sejalan dengan keperluan persenjataan Indonesia.

    Dalam soal tank Haryo Adjie tegas: Indonesia menganut mahzab tank ringan. Tank-tank Indonesia, misalnya PT 76, AMX 13, dan Scorpion termasuk tank kecil yang beratnya tidak lebih dari 15 ton. Sementara tank Leopard mencapai 60 ton, empat kali lipat tank Indonesia sekarang.

    Hal ini ditekankan oleh Edward Lukman, pengamat persenjataan dari Universitas Indonesia. Kalau nanti Indonesia akhirnya membeli tank Leopard juga, maka akan harus ada penyesuaian yang tidak kecil.

    Edward juga menunjuk pada maraknya perdebatan mengenai cocok tidaknya tank Leopard ini untuk alam Indonesia. “Indonesia jelas bukan Irak atau Afghanistan yang dianggap ideal bagi Leopard,” kata dosen Universitas Indonesia ini.

    Skenario Scorpion
    Di luar pelbagai faktor kemiliteran itu, Haryo Adjie masih menunjuk satu faktor politik yang juga layak diperhitungkan. Itulah larangan Inggris untuk mengerahkan tank Scorpion di Aceh, sewaktu di Serambi Mekah ini masih belum dicapai perjanjian perdamaian. Kena larangan itu akhirnya tank Scorpion memang tidak dikerahkan di Aceh.

    Sekarang parlemen Belanda sudah meloloskan mosi yang melarang penjualan tank Leopard ke Indonesia. Pemerintah Belanda belum mengambil keputusan apakah penjualan ke Indonesia itu akan diteruskan.

    Perundingan kedua negara mengenai rencana penjualan ini konon juga masih terus berlangsung. Kalau kelak penjualan itu benar-benar berlangsung, Haryo Adjie tidak menutup kemungkinan skenario Scorpion di Aceh akan kembali berulang bagi Leopard.

    Bagi Edward Lukman, pengamat kemiliteran Universitas Indonesia, Alutsista sebaiknya diarahkan pada pembinaan Angkatan Laut dan pengembangan Angkatan Udara. Baginya itulah yang benar-benar dibutuhkan oleh Indonesia dan juga tidaklah berarti bahwa Angkatan Darat ditinggalkan.

    Kalau apa yang disebutnya sebagai dua matra itu menjadi moderen, maka Angkatan Darat juga akan punya ruang gerak. “Jadi saya pikir tidak salah kalau ke depan itu diberi fokus pada dua matra tadi, AL dan AU,” demikian Edward Lukman.

    Sumber: RNW
    Readmore --> Pengamat : Alutsista dan Belanda Obralan Senjata

    TNI AU Segera Memodernisasi Pesawat Latih

    Jakarta - TNI terus melakukan modernisasi seluruh alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) yang dimiliki. Tidak terkecuali pesawat latih yang biasa digunakan untuk meningkatkan skill para penerbang dari TNI AL

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufa'at mengatakan, TNI AU saat ini tengah memodernisasi pesawat-pesawat latihnya.

    "Sebagian penggantian pesawat latih TNI Angkatan Udara dilakukan dengan pesawat produksi Korea Selatan," ujar Imam ditemui di sela Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan di Jakarta, Senin (16/1).

    Imam mengemukakan mayoritas pesawat latih milik TNI AU ternyata buatan 1976-1977. Ia menambahkan dengan penggantian itu, seluruh pesawat yang akan dipakai siswa penerbang ialah pesawat baru. Pesawat semakin tua akan semakin susah suku cadang dan perawatannya.

    "Sudah saatnya kami modernisasi alutsista Angkatan Udara," ujar Imam.

    TNI-AU memiliki sejumlah pesawat latih. Pesawat latih legendaris pada 1950-an adalah T-6 Harvard, yang merupakan pesawat latih pada era-Perang Dunia II.

    Pada masa akhir Orde Lama, pesawat latih yang digunakan adalah L-29 Dolphin buatan Blok Timur.

    Selanjutnya, pada era 1970-an AS memberikan bantuan T-33 Thunderbird. Namun, T-33 di Indonesia justru digunakan sebagai pesawat tempur udara-permukaan. T-33 Thunderbird terlibat dalam operasi militer di Timor Timur.

    Pada kurun 1980-an TNI AU mengoperasikan T-34 Charlie dan AS 202 Bravo. Sedangkan pada kurun 2000-an dioperasikan KT-1 Wong Bee buatan Korea Selatan.

    Pesawat-pesawat latih tersebut juga dapat dipersenjatai untuk serangan udara-permukaan yang penting dalam operasi anti-gerilya.

    Untuk mengganti T-34 Charlie dan AS 202 Bravo, TNI AU telah menetapkan pesawat latih "Grobb" buatan Jerman.

    TNI-AU telah memesan satu skuadron "Grobb" dan telah mendapat persetujuan Kementerian Pertahanan dan diharapkan tiba secara bertahap di Indonesia mulai 2012 atau 2013. Selain Grobb, TNI-AU juga sudah memesan satu skuadron pesawat T-50 buatan Korea Selatan.

    Sumber: Republika
    Readmore --> TNI AU Segera Memodernisasi Pesawat Latih

    Tahun Ini TNI AU Kedatangan Dua Sukhoi

    Jakarta - Dua jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 dari Rusia akan tiba tahun ini untuk melengkapi kekuatan alutsista TNI AU. Kedua jet tempur tersebut merupakan bagian dari pembelian enam unit pesawat yang sudah ditandatangani kontrak secara resmi antara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan produsen pesawat Rusia, JSC Rosoboronexport senilai 470 juta US dolar.

    Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat mengatakan, penambahan dua unit Sukhoi itu dilakukan secara bertahap mulai tahun ini sampai pada 2014. "Pada tahun 2012, tahun 2013, dan tahun 2014, masing-masing didatangkan dua pesawat," katanya di kantor Kemenhan, Senin (16/1).

    Saat ini, TNI AU memiliki 10 unit jet tempur Sukhoi, yang terdiri enam Sukhoi jenis Su-27 SKM dan empat Sukhoi jenis Su-30 MK2. Rencananya, TNI AU menempatkan satu skuadron Sukhoi tersebut di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memaparkan, penambahan Sukhoi itu merupakan bagian dari rencana untuk bisa membangun kekuatan TNI AU yang disegani negara lain. Dia menyatakan bahwa penambahan alutsista jet tempur tersebut tidak hanya dilakukan dengan memanfaatkan produksi luar negeri. Melainkan juga mempercayakan industri dalam negeri.

    Salah satunya adalah kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI) dalam pembuatan helikopter jenis Bell 412 dan Puma untuk TNI AD dan TNI AU. Selain itu PT DI juga mengupayakan pembuatan sembilan unit pesawat CN 295 dengan produsen pesawat Airbus Millitary yang berbasis di Spanyol. "Ini semua sedang digarap PT DI," tandasnya.

    Sumber : Republika
    Readmore --> Tahun Ini TNI AU Kedatangan Dua Sukhoi

    Nurhayati Assegaf : Pembelian Tank Dilakukan Setelah Ada Kajian

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR Nurhayati Assegaf mengatakan, pembelian tank tersebut dilakukan setelah ada kajian dari TNI Angkatan Darat, sehingga, pembelian itu tentunya memiliki alasan yang kuat. “Yang akan menggunakan adalah TNI AD. Tentunya, pembelian itu disesuaikan dengan kebutuhan. Seharusnya tidak ada penolakan,” ucapnya.

    Wakil ketua Fraksi Partai Demokrat itu menambahkan, sistem pengadaan alutsista lebih baik. Sebab, pengadaan tersebut tidak lagi ditentukan oleh Kemenhan, melainkan langsung diajukan oleh tiap-tiap angkatan. Sebab bila dipasok dari atas, belum tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing angkatan.

    Selain itu, pertanggungjawabannya juga dilakukan oleh masing-masing angkatan. Untuk itu, dia mengaku tidak habis pikir mengapa penolakannya begitu kencang. “Dengan model government to government antara RI dengan Belanda, akan meminimalisir adanya rekanan atau calo. Dengan demikian, maka diharapkan tidak ada mark up terhadap pengadaan alutsista,” imbuhnya.

    Dia menambahkan, penolakan terhadap tank tersebut bersifat politis. Apalagi, DPR tidak melakukan kajian terhadap tank tersebut. “Saya tidak tahu apa dasar penolakan itu. Yang jelas, Komisi I masih akan melakukan pendalaman,” tukasnya.
    Sumber : Suara Merdeka
    Readmore --> Nurhayati Assegaf : Pembelian Tank Dilakukan Setelah Ada Kajian

    KSAL : Teknologi Tiga Kapal Selam Korsel Sebesar $ 1,08 M

    Jakarta - Indonesia berencana melakukan transfer teknologi kapal selam dengan Korea. Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno mengatakan, untuk proses transfer teknologi tiga kapal selam ini, pemerintah menganggarkan sebesar Rp1,080 miliar.

    "Kapal selam itu istilah lainnya adalah silent killer. Jadi kalau kapal selam sepi itu lumrah. Kalau ramai namanya kapal kobong (terbakar). Jadi jangan tanya-tanya terus, karena kapal selam itu senjata rahasia. Kalau setiap perkembangannya ditanya terus sama dengan mengekspos kemana-mana," ujarnya di usai Rapat Pimpinan Tahun 2012 di Gedung Kemenhan, Jakarta, Senin, 16 Januari 2012.

    Menurut Soeparno, proses transfer teknologi ini sudah berjalan sesuai prosedur dan sudah memasuki proses tanda tangan.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsdya TNI Eris Herryanto mengatakan ada tiga manfaat yang didapat dari transfer teknologi kapal selam dengan Korea.

    Untuk kapal selam yang pertama diharapkan kita mengirimkan orang guna mempelajari dan ikut dalam pembangunan kapal selam. Kapal selam yang kedua, diharapkan kita sudah bekerjasama dengan ahli-ahli dari Korea mengerjakan kelanjutan dari kapal pertama. Sedangkan yang ketiga, diharapkan pekerjaannya ada di Indonesia dan kita sebagai pekerjanya, bukan disupervisi oleh Korea.

    "Sekarang permasalahannya kita harus menyiapkan sumber daya manusianya," ujarnya.

    Untuk SDM, pemerintah akan menggandeng akademisi, BPPT, dan Ristek. "Jadi tidak hanya dari PT PAL, tetapi kami juga akan meminta kepada akademisi seperti universitas ITS yang menguasai perkapalan dan kapal selam, dan juga dari BPPT dan Ristek," jelasnya.

    Sementara itu, dari segi peralatan, kata dia, memang akan banyak yang harus dipersiapkan khususnya di PT PAL.

    "Sampai saat ini belum ada survei. Nanti kami akan ada audit teknologi seberapa besar kemampuan teknologi kami, baru di dalamnya sarana dan prasarana, kemudian baru ditentukan anggaran," ungkapnya.

    Eris mengungkapkan ada hal yang ingin dicapai dari transter teknologi kapal selam dengan Korea. Paling tidak kita sudah mempunyai SDM yang dapat memelihara kapal selam kita di kemudian hari sehingga perawatan dan lainnya tidak perlu ke luar negeri.

    "SDM sangat dibutuhkan, karena satu kapal selam setiap 4-5 tahun harus masuk overhaul yang harus dikerjakan secara periodik dengan membongkar semuanya," tuturnya.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> KSAL : Teknologi Tiga Kapal Selam Korsel Sebesar $ 1,08 M

    Kadispen TNI : TNI Persilakan KPK Usut Pembelian Tank Leopard

    Jakarta - Jajaran TNI mempersilahkan dilakukan penyelidikan terhadap proses pembelian 100 tank Leopard eks Belanda dalam proyek pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Sehingga dugaan korupsi yang dilontarkan Indonesia Police Watch (IPW) bisa dijawab.

    "Selama ini kan kita diaudit oleh BPK. Kalau nanti aturannya oleh KPK, ya silakan saja jika ada kejanggalan. Tapi selama ini kan tidak ada," ujar Kapuspen TNI Laksda Iskandar Sitompul di Wisma Elang Laut, Jl Diponegoro, Jakarta, Senin (16/1/2011).

    Iskandar menjelaskan, tank Leopard tersebut sesuai kebutuhan TNI AD dan medan di Indonesia. Pengadaan 100 unit tank tersebut memperkuat pertahanan di perbatasan, jadi bukan hanya di Jawa saja.

    "Nanti yang mengatur penempatan itu KSAD," sambung Iskandar.

    Mengenai polemik di Parlemen Belanda dan DPR RI yang tidak menyetujui pembelian tank ini, TNI memandang hal tersebut sah-sah saja. Menurut Iskandar pengadaan 100 tank Leopard, 6 unit pesawat tempur Sukhoi tambahan dan 3 kapal selam sudah ada persetujuan dari Kementerian Pertahanan.

    "Sama kayak kita juga, ada pro ada konra, mereka masih terus berdialog, arahnya sudah mulai mengkrucut," tutup Iskandar.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Kadispen TNI : TNI Persilakan KPK Usut Pembelian Tank Leopard

    Update : Tiga Kapal Selam Baru Nanti Akan Di Tempatkan Di ALKI II

    Balikpapan - Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro menyatakan militer Indonesia dijamin makin kuat pada akhir masa kabinet Indonesia Bersatu II.

    Saat ini Kementerian Pertahanan mendapat alokasi anggaran yang kian besar yakni Rp150 triliun. Anggaran ini dialokasikan untuk kejahtraan prajurit dan pengadaan alat utama sistem persenjataan TNI (alutsista)

    Purnomo mengakui pemerintah terlambat dalam melaksanakan modernisasi alutista serta perbaikan kesejahteraan prajurit. Awal era reformasi lalu, pemerintah saat itu masih memfokuskan pada sektor perekonomian pasca krisis moneter tahun 2007 silam.

    “Sekarang kita bisa memperbarui alutsista TNI karena sekarang ekonominya kuat, TNI pun makin kuat. Dulu saat kita reformasi kita tidak memperkuat alutsista karena ekonomi belum terlalu kuat sekarang sudah kuat ekonomi kita,” tandasnya saat menyambut kepulangan rombongan gerakan pramuka Saka Bahari tingkat nasional dari perbatasan Sebatik di Balikpapan, Sabtu siang lalu (14/1).

    Anggaran ratusan triliun itu selain untuk kesejahteraan prajurti TNI, juga dialokasikan untuk pembelian alutsista. Di antaranya untuk penambahan 6 pesawat tempur jenis Sukhoi dan sejumlah pesawat F-16, kapal perang dan tiga kapal selam TNI AL.

    Pengadaan persenjataan baru tersebut untuk pengamanan kawasan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI )II di area Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan Denpasar. “Untuk tiga kapal selam ini nantinya kita peruntukan bagi pengamanan jalur ALKI II ini,” ujarnya.

    Seluruh kekuatan ini, termasuk kapal selam, bertugas di wilayah Timur Indonesia, terutama menjaga alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) II, yaitu dari utara perbatasan dengan Malaysia dan Filipina, Selat Makassar, hingga kepulauan Nusa Tenggara di selatan.

    Untuk memperkuat itu,dari pengaman udara selain terdapat terdapat pesawat tempur F-16, TNI AU sudah memiliki 10 pesawat Sukhoi yang pengadaannya dimulai sejak zaman Presiden Megawati. Saat itu pemerintah hanya menargetkan memiliki satu skuadron mini atau berkekuatan 12 pesawat Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30.

    “Dari Makassar hanya perlu sekitar satu jam bagi Sukhoi dengan terbang normal untuk mencapai perbatasan dengan Malaysia di Sabah. Sementara Sukhoi mampu terbang hingga mach-2 atau dua kali kecepatan suara,” katanya

    Di bidang kesejahraan prajurit, lanjut Menhan sebagai upaya peningkatan profesionalisme prajurit TNI, sedikitnya ada enam hal terkait peningkatan kesejahtraan prajurit TNI.

    “Pertama alokasi remunerasi 40 persen dari gaji, uang aluk pauk, kenaikan berkala, gaji 13, santunan cacat prajurit dan bea siswa putra – putrinya,” tambahnya.

    Dengan adanya alutista yang modern, dan makin profesionalnya TNI seiring meningkatnya kesejahtraan prajurit, Purnomo memastikan TNI akan mampu menangkal gangguan negara lain baik di udara, laut maupun daratan.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> Update : Tiga Kapal Selam Baru Nanti Akan Di Tempatkan Di ALKI II

    Sunday, January 15, 2012 | 3:23 PM | 0 Comments

    Komisi I DPR Sarankan Kapal Baru Tetap Bernama Dewaruci

    Jakarta - Tidak ada "keraguan politik" sedikitpun dari DPR untuk mendukung reinkarnasi Dewaruci. Sokongan itu dibuktikan dengan telah diberikannya persetujuan terhadap usulan pembelian kapal layar tipe tiang tinggi (tall ship) yang baru berikut anggarannya di APBN. Kalangan DPR berharap kapal latih TNI AL yang baru itu tetap diberi nama Dewaruci.

    "KSAL secara resmi sudah melaporkan ke komisi I. Kami sudah setuju dan merencanakan pembelian kapal yang baru," kata Wakil Ketua Komisi I (Pertahanan) DPR TB Hasanuddin di Jakarta, Sabtu (14/1).

    Sebelumnya, KSAL Laksamana TNI Soeparno juga telah menyampaikan bahwa TNI AL menganggarkan dana USD 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar untuk membeli kapal pengganti Dewaruci. "Saya lupa rinciannya. Tapi, penganggarannya multiyears. Yang jelas tahun 2014 diharapkan sudah selesai pembuatannya," kata Hasanuddin.

    Sampai saat ini, TNI AL masih belum memutuskan perusahaan yang akan mengerjakan pembuatan kapal layar tiang tinggi. Proses penjajakan masih dilakukan terhadap sejumlah negara. KRI Dewaruci sendiri dibuat di Jerman Barat oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg pada tahun 1952. Pertama diluncurkan dari pabrik pada 24 Januari 1953. Setengah tahun kemudian dilayarkan ke Indonesia oleh Taruna/Kadet Akademi Angkatan Laut.

    Sekalipun menyerahkan sepenuhnya kepada TNI AL untuk teknis pemesanannya, Hasanuddin meminta kapal baru ini memiliki fasilitas dan sarana yang lebih bagus dari Dewaruci. "Saya tidak paham soal teknis. Tapi, saya dengar untuk kapal layar tipe tiang tinggi itu yang legendaris justru dari Spanyol. Tapi, terserah yang tahu teknis," ujar politisi PDIP, itu.

    Dia menyarankan supaya kapal baru ini tetap diberi nama Dewaruci. Bahkan, sejumlah ornamen dari kapal Dewaruci "lama" perlu dipindahkan ke Dewaruci "baru".

    "Supaya kesannya di dunia, kapal baru ini tetap Dewaruci. Bagaimanapun Dewaruci ini sudah menjadi lambang dan identitas ini Angkatan Laut Indonesia," kata Hasanuddin.

    Bukan hanya itu, sebagai kapal latih, Dewaruci pernah melatih ribuan perwira dan melahirkan laksamana yang tak terhitung jumlahnya. "Saya sendiri sewaktu masih taruna Angkatan Darat pernah masuk ke sana, berlayar dengan teman "teman taruna dan kadet dari Angkatan Laut. Kapal ini melegendaris," ujar alumni AKABRI angkatan 1975, itu.

    Aspek historis inilah salah satu pertimbangan DPR untuk menyetujui "reinkarnasi" Dewaruci yang kini sudah berusia lanjut. Hasanuddin mengatakan Dewaruci telah menjadi kebanggaan para taruna/kadet Angkatan Laut dan pelaut di Indonesia pada umumnya.

    "Kapal ini bisa berlayar lintas dunia hanya dengan tiang tinggi dan layar. Sedikit dilengkapi sarana setengah modern," sanjungnya.

    Untuk pertempuran laut, kapal layar tipe tiang tinggi semacam Dewaruci jelas sudah ketinggalan zaman dan sangat tidak efektif. Tapi, Dewaruci memainkan peran diplomasi yang sangat strategis ke dunia internasional. Peran ini juga penting dalam konteks pertahanan secara keseluruhan.

    Hasanuddin menuturkan setiap tahun, Dewaruci melakukan misi "misi pelayaran keliling dunia. Sempat menjelajahi perairan Indonesia pada 2009, Dewaruci menempuh rute panjang ke Eropa pada 2010 dan berkeliling Asia pada 2011. Itu hanya sebagian contoh kecil saja. Saat singgah di negara asing, para taruna dan kader Angkatan Laut ini juga mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia.

    "Dewaruci ini multifungsi. Mulai misi "misi kelautan, pelatihan taruna dan kadet, sampai untuk promosi bangsa Indonesia. Makanya, perlu dicari gantinya," tegas Hasanuddin.

    Terhadap Dewaruci "lama", Hasanuddin menyarankan supaya tidak "diporsir" lagi fisiknya. Museum Angkata Laut menjadi tempat baru yang paling pas. "Para taruna dan generasi penerus harus tahu bahwa, di era modern, kapal ini pernah berkeliling dunia hanya dengan layar. Ini membuktikan eksistensi kita sebagai negara bahari," tandasnya.

    Sumber : JPNN
    Readmore --> Komisi I DPR Sarankan Kapal Baru Tetap Bernama Dewaruci

    IPW Desak KPK Untuk Berani Ungkap Kasus Pengadaan Alutsista TNI Dan Polri

    Jakarta - Kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah berganti tiga kali. Namun, hingga kapal pemberantasan korupsi itu dinahkodai oleh seorang anak muda bernama Abraham Samad, banyak proyek alat utama sistem persenjataan (alutsista) di TNI dan Polri yang belum juga berani disentuh.

    Indonesia Police Watch (IPW) yang juga Deklarator Komite Pengawas KPK mendesak agar Abraham Samad Cs berani mengusut dugaan korupsi di tubuh TNI dan Polri yang selama ini tidak tersentuh jua.

    Demikian disampaikan Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, dalam siaran persnya kepada Tribunnews.com, Minggu (15/1/2012).

    Untuk sekadar mengingatkan bahwa usia kepimpinan Abraham akan genap satu bulan pada Senin (16/1/2012) besok. Namun, belum ada tanda-tanda akan membongkar kasus-kasus korupsi baru, selain melanjutkan kasus lama. Padahal, Abraham berjanji akan mengundurkan diri jika dalam setahun tidak mampu menuntaskan PR pimpinan KPK Jilid II tersebut.

    Sebenarnya, banyak proyek di TNI dan Polri yang terindikasi korupsi dan bisa diselidiki Abraham Samad dan pasukannya.

    Di TNI, KPK bisa mengusut proyek-proyek pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang mangkrak, seperti 39 unit kapal perang bekas Jerman Timur yang menjadi besi tua, 3 dari 10 pesawat tempur Sukhoi yang tidak bisa terbang, 10 pesawat M17 yg tidak punya GPS, 5 pesawat M35 yang tidak punya rudal dan sudah rusak, 200 unit Jeep bekas Cina yang pernah ditolak Kostrad, puluhan mortir buatan Cina yang tidak bisa dipakai, belasan rudal Rapier yang tidak ada radar, belasan kendaraan tempur Panhard yang tidak ada radio, senjata serta kunci roda, dan lain-lain.
    Sementara di Polri, KPK bisa mengusut proyek Pusat Latihan Polri di Cikeas yang kini terlantar, kasus rekening gendut, pengadaan mobil patroli, alat komunikasi dan jaringan komunikasi (alkom-jarkom), proyek-proyek fasilitas di Direktorat Lalulintas, dan aksi tembak syarat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dalam perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang diduga merugikan pemasukan negara ratusan miliar.

    "Sudah saatnya KPK turun tangan untuk mengawasi proyek-proyek alutsista di Polri maupun TNI. Sebab, proyek-proyek ini menghabiskan dana puluhan triliun yang hasilnya terkadang tidak tepat guna dan mubazir," kata Neta.

    Menurut Neta, ada kebiasaan buruk di TNI dan Polri, yakni setiap pembelian alutsista tidak pernah lengkap. Akibatnya, setelah dibeli dan saat dioperasionalkan, alutsista itu tidak bisa digunakan, tidak tepat guna, bahkan tidak berguna sama sekali. Alhasil, alutsista dari uang rakyat itu itu ditelantarkan dan menjadi besi tua. Hal itu dikarenakan proses pembeliannya diduga sarat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan kebanyakan menjadi korban uang untuk komisi atau fee.

    IPW menyarankan dalam pengadaan alusista, KPK perlu mencermati sejauhmana proyek itu sesuai dengan Rencana Stretegis (Renstra), sejauhmana alutsista itu terukur, secara teknologi lebih tinggi atau minimal sama dengann negara tetangga, dan dalam pembelian alutsista ukurannya bukanlah kuantitas tetapi kualitas.

    Dalam pengadaan alutsista tidak melulu harus mengacu pada kuantitatif atau jumlah saja. Walau jumlahnya sedikit, akan lebih berguna dan bermafaat jika alutsista tersebut tepat guna dan tepat sasaran. "Dan mudah dipindah-pindahkan mengingat Republik Indonesia sebagai negara kepulauan, sehingga alutsista tersebut bisa efektif dan efisien," ujarnya.

    Adalah tidak berguna jika jumlah memiliki banyak alutsista, tapi tidak bisa digunakan dan justru menjadi besi tua seperti kapal perang bekas Jerman Timur dan 200 Jeep bekas Cina yang tidak diketahui nasibnya saat ini.

    "Sebab itu kebijakan Komisi I DPR yang menolak pembelian 100 tank Leopard dari Belanda patut didukung semua pihak," bebernya.

    Sumber : TriBUN
    Readmore --> IPW Desak KPK Untuk Berani Ungkap Kasus Pengadaan Alutsista TNI Dan Polri

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.