ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, September 17, 2011 | 8:33 PM | 0 Comments

    Wamenhan Dijadwalkan Berkunjung Ke Nexter Dan Eurocopter

    Paris - Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menjajaki kerja sama bidang pertahanan dengan tiga negara Eropa yaitu Jerman, Prancis, dan Spanyol untuk kepentingan produksi dan pemasaran bersama beberapa persenjataan.

    "Jumat (16/9), Wamenhan dan rombongan berkunjung ke perusahaan Eurocopter Group, perusahaan manufaktur helikopter yang terbesar di industri turbin helikopter di kota Marseille," ujar Atase Pertahanan KBRI Paris Kolonel Erwin Buana Utama, Sabtu (17/9).

    Kantor pusat perusahaan itu terletak di milik Marseille-Provence Bandara Internasional di Marignane, Prancis, dekat Marseille yang memiliki fasilitas utama Eurocopter di kantor pusat grup itu di Marignane dan Eurocopter Deutschland GmbH di Donauworth, Jerman serta Eurocopter Espa'a di Albacete, Spanyol.

    Dalam kunjungan kerja di Prancis dari tanggal 16 hingga 18 September, Wamenhan RI dijadwalkan bertemu dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis dan mengadakan pertemuan dengan CEO Mistral MBDA dan kunjungan ke Nexter (Meriam 155) di Canjeur.

    Sebelumnya, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakasad Letjen TNI Budiman dan Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Puguh Santoso mengunjungi test range pabrik senjata Heckler and Koch di Oberndorf, dekat Stuttgart, Jerman.

    Sebelum ke Prancis, Wamenhan didampingi Dirut PT Pindad, Adik Avianto S dan Dirut PTDI Budi Santoso dan Dirut Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq mengadakan kunjungan ke Airbus Military di Spanyol dan menghadiri jamuan makan malam dengan Presiden Airbus Military.

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> Wamenhan Dijadwalkan Berkunjung Ke Nexter Dan Eurocopter

    Wamenhan : Alutsista TNI Harus Mandiri Karya Anak Bangsa Sendiri

    Madrid - Alat utama sistem senjata (alutsista) TNI harus dipoduksi mandiri. Jika kebutuhan itu berteknologi tinggi yang belum bisa dibuat sendiri, maka ditempuh produksi bersama dengan mitra asing.

    Hal itu disampaikan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin kepada detikcom melalui kontak Atase Pertahanan RI di Madrid, Kol. Caj. Erry Herman, Jumat (16/9/2011).

    Wamenhan melakukan kunjungan kerja ke Spanyol dalam rangka meningkatkan kerjasama bilateral Kementerian Pertahanan kedua negara, didampingi antara lainWakasad Letjen TNI Budiman, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan P, Asrena Kasau Marsda TNI Rodi Suprasodjo.

    Selain itu juga Dubes RI Madrid Adiyatwidi Adiwoso, Athan Kol. Caj. Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq, Kasubdit Perjanjian Kelautan Ditjen HPI Kemlu Rizal R, Kol. Tek Sujatmiko dan May. Laut (KH) Isam Adi.

    Selepas kunjungan kehormatan kepada Deputi Menhan Spanyol Constantino Mendez Martinez di kantornya, Wamenhan selanjutnya melakukan pertemuan dengan manajemen Airbus Military (AB) dan meninjau industri pertahanan Spanyol.

    Menurut Wamenhan, presiden telah menggarisbawahi bahwa wajib bagi TNI untuk menggunakan alutsista yang mampu didukung oleh produksi industri pertahanan sendiri.

    "Garis kebijakan presiden ini jelas dan tegas. Kebijakan ini juga akan mendorong industri dalam negeri, berkontribusi pada pertumbuhan perekonomian nasional dan menambah lapangan kerja," jelas Wamenhan.

    Jika kebutuhan pertahanan nasional belum sepenuhnya bisa didukung oleh industri pertahanan dalam negeri, maka presiden mengarahkan agar dilakukan upaya produksi bersama dengan luar negeri.

    "Kemudian diobservasi bagaimana peluangnya jika dilakukan joint investment antara industri pertahanan dalam negeri dengan luar negeri. Contoh yang sudah berjalan adalah dengan Airbus Military ini," jelas Wamenhan.

    Lanjut Wamenhan, jika kebutuhan pertahanan itu terlalu tinggi teknologinya, sedangkan industri pertahanan nasional belum mempunyai kemampuan, maka terpaksa Indonesia harus membeli dari luar, tetapi dengan mendapatkan transfer teknologinya.

    "Target kita adalah membangun kemandirian industri pertahanan. Itulah sebetulnya sasaran strategis pemerintah untuk melihat sejauh mana industri pertahanan kita itu bisa berkolaborasi dengan industri pertahanan Spanyol ini," pungkas Wamenhan.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Wamenhan : Alutsista TNI Harus Mandiri Karya Anak Bangsa Sendiri

    PT DI Optimis Mampu Produksi Pesawat Sekelas Super Tucano

    Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (DI) optimistis mampu memproduksi pesawat latih ringan sekelas Super Tucano EMB-314 buatan Brasil yang akan didatangkan oleh pemerintah. Untuk pesawat berkapasitas dua orang itu, PT DI memerlukan waktu paling cepat tiga bulan untuk menyelesaikan satu unit pertama.

    "Untuk membuat pesawat Super Tucano itu, kami harus mendesain dari nol. Produksi selanjutnya, paling hanya membutuhkan waktu perakitan selama dua bulan untuk setiap unitnya," kata Direktur Aerostruktur PT DI Andi Alisjahbana, Jumat (16/9).

    Andi menambahkan, hingga saat ini, Embraer sebagai perusahaan yang memproduksi pesawat itu belum memberikan sinyal kerja sama dengan PT DI. "Kami pun ingin dilibatkan dalam pengadaan pesawat itu, misalnya dalam modifikasi, ataupun membantu kelengkapan dan persenjataannya," ujarnya.

    Pada 2012, Pemerintah akan mendatangkan 16 unit pesawat serang ringan Super Tucano EMB-314 buatan Brasil. Pembelian pesawat tersebut rencananya untuk menggantikan pesawat OV-10 Bronco buatan tahun 1976.

    Sumber : KONTAN
    Readmore --> PT DI Optimis Mampu Produksi Pesawat Sekelas Super Tucano

    Kerjasama Pertahanan Indonesia Dan Spanyol Akan Ditandatangani Pada Awal 2012

    Madrid - Kementerian Pertahanan RI terus berusaha meningkatkan kemampuan pertahanan sekaligus berkontribusi untuk ekonomi nasional, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan di Madrid.

    Hal itu dikatakan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin seusai kunjungan kehormatan kepada Deputi Menteri Pertahanan Spanyol Constantino Mendez Martinez dan staf lengkap, sebelum meninjau industri pertahanan Spanyol (15/9/2011).

    Dalam pertemuan, Wamenhan didampingi Wakasad Letjen TNI Budiman, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan P, Asrena Kasau Marsda TNI Rodi Suprasodjo.

    Selain itu juga Dubes RI Madrid Adiyatwidi Adiwoso, Athan Kol. Caj. Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq, Kasubdit Perjanjian Kelautan Ditjen HPI Kemlu Rizal R, Kol. Tek Sujatmiko dan May. Laut (KH) Isam Adi.

    Wamenhan menyampaikan kepada Martinez maksud kunjungannya, yakni untuk meningkatkan kerjasama bilateral Kementerian Pertahanan kedua negara, kemudian meninjau industri pertahanan Spanyol.

    Dalam pertemuan itu Wamenhan menjelaskan bahwa Kementerian Pertahanan RI siap meningkatkan kerjasama dengan Kementerian Pertahanan Spanyol, sekaligus mengapresiasi isi protokol yang telah dibahas kedua pihak.

    "Berkaitan dengan industri pertahahan, Indonesia mendukung kerjasama saling menguntungkan," ujar Wamenhan.

    Bersama Martinez, Wamenhan memastikan kerjasama RI-Spanyol di bidang pertahanan bisa difinalisasikan dan berharap agar dokumen kesepakatan bisa segera ditandatangani oleh Menteri Pertahanan kedua negara pada awal 2012.

    Disebutkan, dokumen tersebut mencakup empat substansi. Pertama, kerjasama bidang pertahanan menyangkut kebijakan pembangunan kekuatan pertahanan. Kedua, kerjasama antar-militer kedua negara. Ketiga, kerjasama sains dan teknologi. Keempat, kerjasama industri pertahanan.

    "Empat hal ini perlu kita ikat di dalam satu simpul dokumen kesepakatan antara kedua negara, sehingga koridor government to government (G to G) itu menjadi acuan dan dasar bagi para implementator kedua pihak," tegas Wamenhan.

    Menurut Wamenhan, Spanyol menanggapi sangat positif dan antusias. Mereka sepakat dengan keinginan Indonesia untuk mempercepat proses menuju kesepakatan kerjasama bidang pertahanan tersebut.

    Sebelumnya Wamenhan menyampaikan salam dari Menteri Pertahanan RI dan ucapan terimakasih atas peranan pemerintah dan Angkatan Bersenjata (AB) Spanyol dalam membantu korban tsunami di Aceh.

    Disampaikan pula apresiasi atas kerjasama yang baik antara AB Spanyol dan TNI dalam operasi menjaga perdamaian di Lebanon di bawah bendera Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Kerjasama Pertahanan Indonesia Dan Spanyol Akan Ditandatangani Pada Awal 2012

    Wamenhan : TNI Perkokoh Postur Sebagai Penjaga Perdamaian Dunia

    Madrid - Postur TNI terus diperkokoh dalam berkontribusi menjaga perdamaian dunia. TNI bahkan sedang membangun peacekeeping center, sebuah pusat simulasi sebelum pasukan diterjunkan ke kawasan konflik.

    Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin kepada Deputi Menhan Spanyol Constantino Mendez Martinez dalam kunjungan kehormatan sebelum melakukan pertemuan dengan manajemen Airbus Military (AB), (15/9/2011).

    Peran signifikan TNI dan rekam jejaknya dalam misi-misi menjaga perdamaian dunia di bawah payung PBB telah mencapai catatan meyakinkan, yakni dari Kontingen Garuda (Konga) I sampai dengan XXVI di berbagai medan konflik bersenjata.

    Atas kekayaan pengalamannya itu TNI kini sedang membangun sebuah peacekeeping center sekaligus sebagai center of excellence di kawasan.

    " Peacekeeping center ini tidak hanya dikhususkan untuk latihan pasukan TNI, namun juga negara-negara lain yang memerlukan sebelum mereka mengirimkan pasukannya dalam misi- misi PBB," jelas Wamenhan.

    Direncanakan, pembangunan peacekeeping center selesai pada akhir tahun 2011 ini dan akan ditinjau oleh Sekjen PBB. Dalam rangka pembukaan peacekeeping center tersebut, Wamenhan atas nama Menhan RI mengundang Menhan Spanyol untuk hadir.

    Wamenhan juga memaparkan peran regional RI di ASEAN. Selain sebagai salah satu negara inisiator dan pendiri, Indonesia juga menjadi Ketua ASEAN tahun ini.

    Sementara TNI menjalin banyak kerjasama internasional, tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, juga dengan AS dan Australia.

    "Bahkan Menhan RI saat ini menjabat Ketua Pertemuan Menhan ASEAN dan Ketua Pertemuan Menhan ASEAN Plus, termasuk di dalamnya AS, Australia, India, Jepang dan Cina," pungkas Menhan.

    Dalam pertemuan itu Wamenhan didampingi Wakasad Letjen TNI Budiman, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan P, Asrena Kasau Marsda TNI Rodi Suprasodjo.

    Selain itu juga Dubes RI Madrid Adiyatwidi Adiwoso, Athan Kol. Caj. Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq, Kasubdit Perjanjian Kelautan Ditjen HPI Kemlu Rizal R, Kol. Tek Sujatmiko dan May. Laut (KH) Isam Adi.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Wamenhan : TNI Perkokoh Postur Sebagai Penjaga Perdamaian Dunia

    Friday, September 16, 2011 | 1:24 PM | 0 Comments

    Sekjen Kemhan : Jika Industri Pertahanan Nasional Belum Sepenuhnya Mampu Harus Dikejar Dengan Kolaborasi Negara Lain

    Jakarta – Dalam rangka untuk memodernisasi peralatan pertahanan bagi TNI, pemerintah menetapkan kebijakannya yang sangat strategis untuk mendukung kemandirian industri pertahanan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada negara-negara lain. Selain itu secara simultan, industri pertahanan nasional saat ini tengah didorong untuk terus meningkatkan kualitas produksi untuk peralatan pertahanan dan kemampuan untuk meningkatkan daya saing.

    Meski pemerintah telah berkomitmen dan berupaya untuk memberdayakan Industri pertahanan dalam negeri baik Badan Usaha Milik Pemerintah ataupun Swasta, jika didalam pelaksanaannya belum sepenuhnya mampu, harus dikejar melalui kolaborasi, produksi dan pengembangan bersama negara lain.

    Hal tersebut diungkapkan Sekjen Kemhan RI, Marsdya TNI Eris Heriyanto saat membuka Lokakarya Kerjasama Pertahanan RI dan Pemerintah Republik Serbia, Kamis (15/9) di Kantor Kemhan RI.



    Selain dihadiri oleh Menteri Pertahanan Republik Serbia Dragan Sutanovac beserta delegasinya, lokakarya Kerjasama Pertahanan kedua negara ini juga di isi dengan presentasi Direktur Eksekutif Persenjataan dan Peralatan Pertahanan Perusahaan YUGOIMPORT – SDPR J.P. Industri Pertahanan Republik Serbia, Nenad Miloradovic, Ph.D.

    Sehubungan dengan hal tersebut dengan adanya lokakarya kerjasama pertahanan ini, Sekjen berpendapat merupakan forum diskusi untuk membahas beberapa peluang kerjasama bidang industri pertahanan antara Indonesia dan Republik Serbia juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam membangun industri pertahanan Indonesia di masa depan.

    Menurut Sekjen, dipahami bahwa teknologi dan kualitas industri pertahanan Serbia telah sesuai dengan standar internasional NATO. Hal ini terbukti secara teknis kemampuan industri pertahanan Serbia memiliki keuntungan dan kualitas dalam hal persenjataan, amunisi ringan, peralatan individu, mesin senjata, kapal patroli cepat dan beberapa lainnya yang diakui oleh banyak negara.

    Namun, Sekjen menuturkan seluruh potensi kerjasama dengan beberapa negara akan tetap dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan serta postur pertahanan TNI. “ Pihak Indonesia akan membuka peluang kerjasama jika didalamnya terdapat kemungkinan program Transfer of Tecnology, dan Joint Production,” Ujar, Marsdya TNI Eris Heriyanto.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Sekjen Kemhan : Jika Industri Pertahanan Nasional Belum Sepenuhnya Mampu Harus Dikejar Dengan Kolaborasi Negara Lain

    KRI Nanggala Akan Perkuat TNI AL Kembali

    Jakarta - Kapal selam KRI Nanggala-402 dalam waktu beberapa bulan lagi segera bergabung dalam kekuatan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL.

    Sekarang ini, kapal selam itu sedang menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul) di perusahaan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Ockpo, Korea Selatan. "KRI Nanggala sedang melaksanakan overhaul.

    Dalam beberapa bulan lagi sudah bisa bergabung kembali dalam kekuatan (TNI AL-red) kita," ujar Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Soeparno di Jakarta, Kamis (15/9).

    Sumber : Suara Karya
    Readmore --> KRI Nanggala Akan Perkuat TNI AL Kembali

    Watum Komisi I Pertanyakan Dana Rp485 Miliar di Kemenhan

    Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan Kementerian Pertahanan telah melakukan pelanggaran Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.

    Hal tersebut menurut Hasanuddin, terungkap dalam Repat Kerja Komisi I dengan Kemhan dan Mabes TNI pada Rabu (14/9). Hasanuddin menjelaskkan bahwa Kemenhan telah menggunakan APBN-P 2011 tanpa berkonsultasi dengan DPR.

    Menurut Hasanuddin, pada awal Juli 2011 Kemenhan mendapatkan dana APBN-P sebesar Rp2,485 triliun. "Jadi pada tanggal 21 Juli kita melakukan rapat maraton dengan Kemenhan mengenai penggunaan dana tersebut," katanya.

    Rincian penggunaa dana tersebut adalah Rp2 triliun untuk alutsista dengan rincian Rp1,3 triliun alutsista dari dalam negeri serta Rp700 miliar untuk alutsista luar negeri dan perusahaan swasta, dan Rp485 miliar untuk keperluan nonalutsista.

    Hasanudiin menjelaskan, setelah diajukan ke Kementerian Keuangan, Kemenhan mendapat tambahan dana Rp50 miliar, sehingga jumlahnya menjadi Rp2,535 miliar. "Tapi di raker ternyata realisasi anggarannya hanya Rp2,050 miliar," Jelas Hasanuddin.

    Ketika ditanyakan keDirektorat Jenderal Perencanaan Pertahanan tentang sisa dana sebesar Rp485 miliar, ternyata tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. "Mereka bilang untuk membeli barang," ujar Hasanuddin.

    Sumber : Media Indonesia
    Readmore --> Watum Komisi I Pertanyakan Dana Rp485 Miliar di Kemenhan

    Indonesia Tertarik Kerjasama Munisi Kaliber Besar Serbia

    Jakarta - Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) diperkirakan akan membeli Munisi Kaliber Besar (MKB) buatan Serbia. Siang ini, produsen senjata Serbia Yugoimport SDRP J.P melakukan presentasi produk industri pertahanan mereka dalam acara Lokakarya Kerjasama Indonesia-Serbia di Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan, Kamis (15/9).

    “Kita nggak bisa bandingkan dengan negara lain karena masing-masing punya beberapa keunggulan.

    Tapi dibanding yang lain, Serbia unggul di bidang munisi,”kata Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto.

    Menurut Eris, senjata buatan Serbia memiliki daya jangkau yang tinggi disebabkan faktor munisi yang baik. “Tapi masih akan kami kaji. Saya sampaikan pada Dirtekind untuk dikumpulkan apa saja yang kita mau dan inginkan, yang ada pada mereka,”katanya.

    “Untuk produk lain ada saingan misalnya Korea, Turki, Prancis. Tapi munisi besar mereka unggul,”kata Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Brigjen TNI Agus Suyarso.

    Namun begitu, kata Agus, Perlu dilakukan kajian mengenai fungsi, kebutuhan, dan biaya yang harus dikeluarkan Indonesia. “Nanti kita bilang, bikin munisi sama dia. Tapi nantinya Pindad harus investasi. Jadi harus dibicarakan,”katanya.

    Dia menambahkan, Indonesia sudah pernah membeli munisi berat Serbia, ketika negara ini masih bernama Yugoslavia,T 105 mm. Agus berharap, RI- Serbia tidak hanya melakukan jual beli, tapi kerjasama dalam bentuk join production. “Kalau bisa ada transfer teknologinya, jangan cuma beli doang. Kita ingin ini betul-betul terealisasi,”katanya.

    Jika ini dapat terwujud, lanjut Agus, kedua negara bisa melakukan kerjasama lebih lanjut. “Teknologi-teknologi lain yang merupakan turunannya, propelant, selongsong, komponen tank, komponen pesawat bisa saja dilakukan kalau dia sebagai original productnya,”tambah Agus.

    Sumber : Jurnas
    Readmore --> Indonesia Tertarik Kerjasama Munisi Kaliber Besar Serbia

    Sekjen Kemhan: Kerja Sama Indonesia Dan Serbia Harus Sesuai Kebutuhan

    Jakarta - Indonesia dan Serbia sepakat untuk melakukan kerja sama produksi dibidang pertahanan. Hal ini akan ditindaklanjuti setelah Kementerian Pertahanan melakukan studi kelayakan terhadap industri pertahanan Serbia.

    Menurut Sekjen Kemhan, Marsekal Madya TNI Eris Herryanto, Kemhan akan mempelajari kemungkinan kerja sama sesuai kebutuhan Indonesia. Kerja sama produksi itu, kata dia, harus sejalan dengan postur dan agenda penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai Minimal Essential Forces (MEF) Indonesia. “Saya lihat mereka sangat memberi kesempatan pada kita untuk memberikan teknologi,”katanya usai menghadiri Lokakarya Kerja sama Indonesia-Serbia di Gedung Urip Sumoharjo kementerian Pertahanan, Kamis (15/9).

    Menurut dia, kebijakan untuk melakukan kerja sama produksi dilakukan setelah evaluasi diantara negara yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan Indonesia. Kebutuhan itu disesuaikan dengan keinginan, dan keuntungan teknologi yang bisa didapatkan Indonesia. “Jika itu terpenuhi, itu yang akan ditindak lanjuti,”kata Eris.

    Presentasi Alutsista oleh YugoImport SDPR J.P dari Serbia yang dilakukan siang ini, kata Eris, untuk menjajaki keinginan Indonesia di bidang senjata dengan apa yang bisa dipenuhi Serbia. “Saya sampaikan pada Direktur Teknologi Industri Pertahanan, untuk dikumpulkan apa saja yang kita mau dan inginkan yang ada pada mereka,”jelasnya.

    Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Brigjen TNI Agus Suyarso mengatakan, Direktorat Teknologi dan Industri Pertahanan Kemhan akan melakukan studi kelayakan agar dapat membandingkannya dengan tawaran negara lain. “Kita harus menghimpun datanya, hingga punya bandingan dengan negara lain, biayanya berapa, investasi industrinya berapa, jumlah yang bisa kita produksi, itu harus dibanding-bandingkan dengan yang lain,”kata Agus.

    Sumber : Jurnas
    Readmore --> Sekjen Kemhan: Kerja Sama Indonesia Dan Serbia Harus Sesuai Kebutuhan

    Thursday, September 15, 2011 | 9:42 PM | 0 Comments

    PT PAL Butuh Ribuan Tukang Las Untuk Mengejar Target

    Jakarta - PT PAL Indonesia (Persero) membutuhkan 2.023 tukang las atau welder hingga 2014 untuk mengejar target produksi kapal niaga tahun 2011-2015 yang mencapai puncaknya pada tahun 2014. Di samping tukas las, PT PAL juga membutuhkan tenaga instalatur atau fitter sebanyak 3.756 orang hingga tahun 2014.

    Demikian terungkap dalam dokumen Rencana Bisnis PT PAL 2011-2015 yang diterima Kompas di Jakarta, Kamis (15/9/2011). Dokumen ini telah dipaparkan secara resmi oleh direksi PT PAL dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR pada 8 September 2011.

    Dalam dokumen tersebut dipaparkan bahwa kebutuhan tukang las dan instalatur akan meningkat setiap tahun. Pada tahun 2011, kebutuhan tukang las masih sebanyak 852 orang dan 1.583 instalatur. Tahun 2012 bertambah menjadi 1.243 tukang las dan 2.309 instalatur. Tahun 2013 meningkat lagi menjadi 1.752 tukang las dan 3.255 instalatur. Tahun 2014, kebutuhan itu mencapai puncaknya, yakni sebanyak 2.023 tukang las dan 3.756 instalatur.

    Kebutuhan tukang las akan berkurang pada tahun 2015 menjadi 1.820 orang dan 3.380 instalatur. PT PAL memperkirakan tenaga tukang las dan instalatur terbanyak akan diambil dari subkontraktor.

    Kebutuhan tenaga tukang las dan instalatur itu searah dengan perkiraan lepasan produk antara 2011-2015. Pada tahun 2011, kebutuhan tenaga tukang las dan instalatur masih sedikit karena target lepasan konstruksi badan kapal niaga yang dikejar adalah 9.633 ton. Lalu, pada tahun 2012 sebanyak 14.053 ton, tahun 2013 sebanyak 19.810 ton, dan tahun 2014 sebanyak 22.865 ton. Dan, pada tahun 2015 diharapkan berproduksi 20.575 ton.

    Kebutuhan tukang las dan instalatur di Divisi Kapal Niaga PT PAL merupakan yang terbanyak dibandingkan divis lain, baik Divisi Rekayasa Umum maupun Divisi Kapal Perang. Namun, khusus di Divisi Kapal Perang ada kebutuhan spesifik, yakni harus ada 198 tukang las baja dan 107 instalatur baja, serta satu instalatur aluminium pada tahun 2014.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> PT PAL Butuh Ribuan Tukang Las Untuk Mengejar Target

    Indonesia Dan Thailand Waspadai Ketegangan Di Laut China Selatan

    Jakarta - Tentara Nasional Indonesia dan Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand sepakat mewaspadai perkembangan politik di Laut China Selatan.

    Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Bangkok, Kamis (15/9/2011), menjelaskan, Indonesia-Thailand sepakat meningkatkan kerja sama intelijen, operasi, dan latihan bersama.

    Menghangatnya suasana keamanan di Laut China Selatan dengan tampilnya kekuatan China, serta kerusuhan di negara yang telah maju sekalipun, secara tidak langsung akan berdampak pada situasi keamanan di kawasan ASEAN.

    "Sebagai dua negara anggota ASEAN yang memiliki perbatasan maritim perlu waspada dan senantiasa siaga dengan kemungkinan terkena imbas dampak buruk dari bergejolaknya situasi keamanan di beberapa wilayah tersebut," kata Agus seusai pertemuan Sidang ke-5 Indonesia Thailand High Level Committee (ITHLC) tahun 2011 di Bangkok, Thailand, 13-15 September 2011.

    Panglima TNI menyatakan, Indonesia dan Thailand tidak mungkin terlepas dari fenomena perkembangan lingkungan global yang dinamis, perkembangan dinamika keamanan di berbagai negara, seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, Suriah dan Libia, ditambah situasi keamanan di Pakistan dan Afganistan, juga di Semenanjung Korea.

    Indonesia dan Thailand memiliki sejumlah agenda latihan dan patroli bersama.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Indonesia Dan Thailand Waspadai Ketegangan Di Laut China Selatan

    KSAU Dan Dubes Korsel Bahas Program Pesawat Tempur KFX/IFX

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat membahas proyek pesawat tempur RI-Korea Selatan dengan Duta Besar Korea HE Young Sun-kim dalam kunjungan perkenalan di Mabes TNI AU di Cilangkap, Kamis (15/9/2011).

    "Agar kerja sama terus berlangsung baik, khususnya pada program KF-X yang merupakan pesawat tempur untuk generasi yang akan datang," kata KSAU.

    KF-X merupakan peswat tempur modern dengan spesifikasi di atas F-16 dan di bawah F-35. Duta Besar Korea Selatan menyampaikan bahwa industri pertahanan Korea akan mengembangkan kerja sama dalam industri pembangunan perkapalan sehingga nantinya kerja sama tersebut akan saling menguntungkan bagi kedua negara.

    KSAU pada kesempatan tersebut menyampaikan ucapan selamat atas jabatan sebagai Duta Besar Korea di Indonesia.

    KSAU didampingi Aspam Kasau Marsda TNI Gunpanadi, Asops Kasau Marsda TNI Agus Munandar, Aslog Kasau Marsma TNI Mulyono, Waasrena Kasau Marsma TNI M Syafii, dan Kadispenau Marsma TNI Azman Yunus. Adapun Duta Besar Korea HE Young Sun-kim didampingi Atase Pertahanan Moon Dae Cheol.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> KSAU Dan Dubes Korsel Bahas Program Pesawat Tempur KFX/IFX

    KSAU Berharap Proyek Pesawat Tempur KFX/IFX Berjalan Lancar

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU ), Marsekal TNI Imam Sufaat, mengharapkan kerja sama yang sudah dirintis sekarang ini dengan Korea Selatan, dapat berjalan baik di waktu yang akan datang, khususnya pada program KF-X yang merupakan pesawat tempur untuk generasi akan datang.

    Hal ini disampaikan Imam saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Korea, HE Young Sun Kim, dalam rangka kunjungan perkenalan, di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (15/9/2011).

    Imam pada kesempatan itu menyampaikan ucapan selamat atas jabatan sebagai Duta Besar Korea di Indonesia.

    Young Sun Kim menyampaikan bahwa industri pertahanan Korea akan mengembangkan kerja sama dalam industri pembangunan perkapalan, sehingga nantinya kerja sama itu akan saling menguntungkan bagi kedua negara.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> KSAU Berharap Proyek Pesawat Tempur KFX/IFX Berjalan Lancar

    TNI AU Dan RSAF Lakukan Latgab Di Pekanbaru

    Pekanbaru - Skadron Tempur (Skapur) TNI AU dan Republic of Singapore Air Force (RSAF) berlatih bersama di Pekanbaru, Riau, Kamis (15/9/2011).

    Latihan Joint Fighter Weapon Course (JFWC) TNI AU - RSAF diikuti Skadron F-5 dan F-16 RSAF, serta Skadron Hawk-109/209, Skadron F-5 dan Skadron F-16 TNI AU.

    Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Azman Yunus mengatakan, latihan itu merupakan salah satu kegiatan latihan bersama terbesar, dari yang pernah dilaksanakan TNI AU dan RSAF.

    Rencananya latihan tersebut akan berlangsung sampai tanggal 11 November 2011 dan akan ditutup oleh KASAU dan CAF RSAF. Latihan itu merupakan lanjutan kegiatan serupa pada tanggal 11 Agustus 2011 di Singapura.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> TNI AU Dan RSAF Lakukan Latgab Di Pekanbaru

    DPR RI Tawarkan Kerjasama Ekspor Senjata Dan Baju Militer Ke Irak

    Jakarta - Ketua DPR RI, Marzuki Alie dalam pertemuannya dengan Duta Besar Irak, Ismeal Shafiq Muhsin menyatakan keinginannya untuk dapat mengekspor senjata api dan pakainan militer ke Irak. Hal tersebut disampaikannya di Ruang Pimpinan, Nusantara III, Kamis (15/9).

    “Alangkah baiknya jika nanti Perdana Menteri Irak dapat mengunjungi Indonesia dan dapat langsung meninjau perusahaan senjata api dan pakaian militer di Bandung, tentunya kami akan sangat senang jika Indonesia dapat mengekspornya ke Irak,”jelas Marzuki.

    Mengenai penawaran tersebut, Duta Besar Irak menyambut baik keinginan Marzuki, Dia berharap agar Indonesia dapat segera mengirimkan Undangan yang ditujukan kepada Perdana Menteri Irak agar dapat segera berkunjung ke Indonesia.

    “Kami sangat senang dengan penawaran yang diajukan, dan kami menunggu undangan dari pihak Indonesia, agar Perdana Menteri kami dapat segera berkinjung ke Indonesia,”terangnya.

    Dalam pertemuan itu Marzuki juga menanyakan mengenai kondisi keamanan Irak saat ini dan tentara Amerika yang masih menetap di Irak.

    Menanggapi hal tersebut, Ismeal mengatakan, Kondisi Irak saat ini sudah membaik dan tentara Amerika yang berada di Irak, berdasarkan kesepakatan akan meninggalkan irak akhir taun ini. “ Kondisi keamanan Negara kami sudah cukup membaik, salah satunya bisa ditandai dengan kemenangan salah satu tim sepak bola kami FC Arbil yang melawan Persipura dengan angka 2-1,”jawabnya.

    Sumber : DPR
    Readmore --> DPR RI Tawarkan Kerjasama Ekspor Senjata Dan Baju Militer Ke Irak

    Panglima TNI Terima Bintang Jasa Dari Kamboja

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menerima anugerah bintang kehormatan The Royal Order of Sahametrei Mohaserevadh (Grand Cross) dari Pemerintah Kerajaan Kamboja, Kamis (15/9/2011). Penghargaan disematkan oleh Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Kamboja YM Jenderal Tea Banh mewakili Raja Kamboja di Kementerian Kamboja, Phnom Penh, Kamboja.

    Dalam acara tersebut, beberapa perwira staf pendamping TNI juga menerima tanda kehormatan yang lain dari Kerajaan Kamboja.

    Dalam sambutannya, Panglima TNI menyatakan bahwa tanda kehormatan kerajaan tersebut, khususnya Sahametrei Mohaserevadh, merupakan suatu penghargaan yang sangat mulia dan memiliki nilai sangat tinggi bagi Panglima TNI serta segenap anggota TNI untuk terus meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Kamboja.

    ”Untuk lebih lanjut memperkokoh kerja sama antara TNI dan Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja pada bidang kegiatan yang lebih produktif atas dasar kemitraan strategis yang saling menghormati, saling menghargai, dan memberikan manfaat bersama bagi kedua negara,” kata Panglima TNI.

    Secara khusus hubungan kedua angkatan bersenjata diharapkan akan memberi dampak positif bagi lingkungan kawasan regional dan global yang lebih bermartabat.

    Indonesia sejak tahun 1960-an hingga sekarang telah melatih pasukan khusus Kamboja di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdik Passus) di Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Panglima TNI Terima Bintang Jasa Dari Kamboja

    Kopassus dan Pasukan Khusus SOCOMD Australia 'Bekuk teroris'

    Ilustrasi

    Jakarta - Operasi gabungan antara Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD dan pasukan khusus Australia, Spesial Operations Command (SOCOMD) berhasil membekuk dan melumpuhkan kelompok teroris yang menyandera wartawan dari Bogor dan Australia.

    Hal itu terungkap ketika operasi gabungan dengan sandi 'Dawn Komodo XI/2011' melakukan latihan bersama di Pulau Kotok Kecil, di Kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Kamis pagi (15/9).

    Dalam skenario latihan itu, operasi gabungan berhasil menyusup dan melumpuhkan kelompok teroris di markasnya dalam waktu semalam guna membebaskan dua orang sandera yang ditahan.

    Para teroris menculik wartawan sebagai aksi balasan pascatewasnya aktor intelektual teroris di Pakistan. Tak hanya itu, mereka juga meminta tebusan agar kawan mereka yang tertangkap, Ali bin Bahar, dibebaskan.

    Bertindak sebagai komandan 'Operasi Dawn Komodo' adalah Letkol (Inf) Tri Budi Utomo. Gabungan pasukan ini tak lain untuk mengamankan kedua negara dari serangan teroris.

    Dalam aksi penyergapan ini, operasi membagi dua unit, yakni tim intelijen dan tim penanggulangan terorisme (Gultor). Tim intelijen yang dipercayakan pada Pasukan Sandha yang merupakan pasukan intelijen dari Kopassus dan juga melibatkan pasukan dari pasukan khusus Australia.

    Tugas intelijen, yakni mengumpulkan data awal untuk menemukan lokasi musuh menyandera wartawan. Mereka juga melakukan penyadapan teknik, foto intelijen, pengintaian terhadap musuh, dan mencari jejak melalui sistem GPS.

    Intelijen juga melakukan infiltrasi (penyusupan) mulai dari Bogor, ke Serang, Cilegon, Merak, dan memantau pulau yang diduga sebagai tempat teroris menyembunyikan sandera.

    Setelah data lengkap, informasi itu kemudian diberikan pada pasukan Gultor atau pasukan inti yang terdiri atas 48 orang, dengan rincian 30 pasukan Kopassus dan 18 pasukan pasukan khusus Australia. Namun, yang benar-benar merangsek ke tempat penyanderaan adalah 20 pasukan.

    Mereka menggunakan taktik penyerbuan di laut dan bangunan. Ada pun untuk bisa mencapai lokasi tanpa diketahui musuh, mereka menggunakan empat unit kapal LCR. Begitu mendekati target, mereka mencapai lokasi dengan berenang, baik di atas maupun di bawah air.

    "Penyergapan berjalan lancar, semua teroris bisa dilumpuhkan dan kami bisa menyelamatkan semua sandera," kata Komandan Satuan 81 Kopassus, Kolonel (Inf) I Nyoman Cantiasa sebagai penanggung jawab latihan penanggulangan teroris di Kepulauan Seribu, Kamis.

    Penyerbuan teroris itu memang hanya latihan, namun Tri menyatakan, selain mempererat hubungan bilateral , latihan ini juga sebagai ajang latihan bersama antara Kopassus dan pasukan khusus Australia.

    "Operasi Dawn Komodo kali ini adalah yang ke-11 kali bersama Australia. Dengam fokus latihan kami kali ini adalah menangkal terorisme di wilayah maritim," katanya seraya

    mengatakan pada latihan sebelumnya, operasi dikhususkan pada pengamanan di bandara. Menurut Kolonel Cantiasa, latihan ini dilakukan untuk menguji teknik dan taktik militer di jajaran intelijen dan gultor pada pasukan khusus kedua negara.

    "Latihan melibatkan sebanyak 74 prajurit yang terdiri atas 40 prajurit pasukan Indonesia dan 34 prajurit Australia. Total waktu latihan adalah 11 hari dari 6 hingga 15 September 2011," ujarnya.

    Latihan ini juga dipantau Wakil Danjen Kopassus Brigjen TNI Doni Monardo dan Komandan Pasukan Khusus Australia Mayor Jenderal P.W (Gus) Gilmore.

    Sumber : Republika
    Readmore --> Kopassus dan Pasukan Khusus SOCOMD Australia 'Bekuk teroris'

    Menhan Mendapatkan Mendali Kehormatan Dari Rusia

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menerima penghargaan dari pemerintah Rusia. Purnomo dinilai berjasa dalam membina hubungan pertahanan Indonesia-Russia.

    Atase Pers Kedutaan Rusia Dmitry A Solodov, Rabu (14/9/2011), menjelaskan bahwa Menhan Purnomo dianugerahi medali karena memperkuat persaudaraan di bidang pertahanan. Penganugerahan akan dilakukan Selasa (20/9/2011) di Kedutaan Besar Rusia di Kuningan, Jakarta.

    Indonesia sejak masa tahun 1990-an mulai kembali membeli persenjataan berupa panser angkut pasukan (Armoured Personel Carrier-APC) dari Rusia dan bekas Uni Soviet seperti BTR-50 dan pelbagai variannya.

    Hubungan semakin meningkat setelah Indonesia membeli pesawat tempur Sukhoi 27 dan Sukhoi 30 pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dan dilanjutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pembelian pesawat tempur Sukhoi, Helikopter Mi-17 hingga peluru kendali Yakhont.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Menhan Mendapatkan Mendali Kehormatan Dari Rusia

    Polri Diminta di Bawah Kemhan

    Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) diminta untuk dikembalikan di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan (Kemhan), bukan lagi langsung di bawah presiden.

    Dengan posisi di bawah presiden, terbuka besar peluang intervensi dari kalangan eksekutif, bahkan partai penguasa. “Penempatan polisi di bawah presiden adalah inkonstitusional. Dalam sejarahnya, dari zaman Hindia Belanda sampai Orde Baru tidak ada polisi di bawah presiden,” tegas praktisi hukum Andi Muhammad Asrun di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, kemarin.

    Andi bersama dua orang rekannya, Dorel Almir dan Merlina, mengajukan uji materi UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri ke MK kemarin. Pasal yang diuji konstitusionalitasnya adalah pasal 8 yang menyebut Polri berada di bawah presiden dan pasal 11 tentang pengangkatan dan pemberhentian kapolri oleh presiden.

    Menurut Andi, tidak ada satu pun pasal dari UUD 1945 yang memberikan dasar hukum bahwa kepolisian di bawah presiden langsung. Selain itu, kedudukan Polri di bawah presiden juga menimbulkan adanya bias politik kekuasaan dalam penegakan hukum.

    Sumber : Seputar Indonesia
    Readmore --> Polri Diminta di Bawah Kemhan

    Indonesia Dan Vietnam Tingkatkan Kerjasama Pertahanan

    Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Vietnam menyepakati peningkatan kerja sama di bidang politik, hukum, dan keamanan (polhukam). Kerja sama itu akan dilakukan dalam bentuk dialog bilateral, hubungan diplomatik, patroli perairan, serta upaya memerangi kejahatan lintas batas negara.

    Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada keterangan pers bersama dengan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/9). Keterangan pers disampaikan seusai Presiden melakukan melakukan observasi bersama atas kerja sama yang telah dilakukan.

    "Keadaan umum, keadaan bilateral Vietnam - Indonesia dewasa ini dalam keadaan baik, kuat, dan terus berkembang. Kita bersepakat untuk lebih meningkatkannya lagi di waktu yang akan datang," kata Yudhoyono.

    Presiden menambahkan kedua pemerintahan akan meningkatkan dialog bilateral dan hubungan diplomatik. "Joint cooperation pada tingkat Menlu akan lebih kita aktifkan di masa mendatang," kata Yudhoyono.

    Selain itu, kerja sama di bidang pertahanan menjadi perhatian utama kedua kepala pemerintahan. "Kita akan tingkatkan kerja sama di bidang pendidikan, pelatihan, dan saling kunjung di antara perwira militer," kata dia.

    Kerja sama pertahanan juga akan dilakukan dalam bentuk patroli bersama di wilayah perairan kedua negara. "Untuk mencegah insiden-insiden yang tidak perlu," lanjut Yudhoyono seraya mengatakan akan meningkatkan kerja sama di bidang hukum, utamanya memerangi kejahatan transnasional.

    Kunjungan PM Vietnam ini merupakan kunjungan perdana setelah terpilih kembali menjadi Perdana Menteri Vietnam. Sebelumnya, Nguyen juga pernah ke Indonesia pada masa jabatannya yang pertama, yaitu pada 8 Agustus 2007. Pada kunjungan kali ini, Nguyen datang bersama istrinya, Tran Ran Kim, serta beberapa delegasi.

    Sementara itu, PM Nguyen mengatakan kerja sama bidang Polhukam ditujukan agar perdamaian dan stabilitas di kawasan ASEAN tetap terjaga. "Kami sepakat pengembangan hubungan kerja dua negara dilakukan demi perdamaian, stabilitas kerja sama, dan perkembangan di kawasan," kata Nguyen.


    Perbatasan

    Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan pemerintah Indonesia dan Vietnam berkomitmen untuk segera menyelesaikan pembahasan mengenai perbatasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kedua negara. ZEE adalah kawasan dalam lingkup 200 mil dari pangkal pantai sebuah negara.

    "Sudah ada tekad dari kedua negara untuk mengintensifkan perundingan perbatasan laut, dalam hal ini adalah ZEE kedua negara. Sudah berjalan beberapa kali putaran, dan seperti diarahkan Presiden dan PM ini sekiranya bisa dituntaskan secepat mungkin," kata Marty.

    Komitmen pembahasan ZEE ini sudah dimulai sejak kunjungan Presiden Yudhoyono ke Vietnam pada 2010. Percepatan pembahasan tentang hal itu mungkin akan dilakukan dalam empat bulan ke depan.

    "Ini penting, dalam arti konteks yang lebih luas karena kita ingin bisa agar keberhasilan perundingan ini akan menunjukkan kepada negara-negara kawasan bahwa masalah perbatasan bisa diselesaikan lewat perundingan," kata Marty.
    Menurut dia, kesepakatan tentang batas maritim antarnegara tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat karena ada prosedur dan forum-forum khusus yang harus dilalui.

    Sumber : Koran Jakarta
    Readmore --> Indonesia Dan Vietnam Tingkatkan Kerjasama Pertahanan

    KSAU : Kekuatan Alutsista Merupakan Komponen Utama

    Bandung - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan, kekuatan alat utama sistem senjata (alutsista) sangat menentukan kredibilitas pertahanan negara. Itu artinya, alutsista kategori komponen utama pertahanan.

    "Dasarnya, pertahanan suatu negara ditentukan oleh kekuatan alutsista yang dimiliki," ujar KSAU pada upacara serah terima jabatan Komandan Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara (Dankoharmatau) dari Marsda TNI Ferdinand Alex Myne kepada Marsda TNI Waliyo, M.Sc. di Bandung, Selasa (13/9).

    Era teknologi seperti sekarang ini, dikatakan KSAU, pertahanan negara akan mencapai hasil maksimal jika didukung alutsista yang andal serta terpenuhinya logistik serta sistem pemeliharaan yang mumpuni. "Sebagai matra yang sangat mengandalkan sistem persenjataan, unit pemeliharaan seperti Koharmatau yang tugas dan fungsinya melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiil TNI Angkatan Udara, pemeliharaan dan pembekalan senjata amunisi serta menyelenggarakan pembinaan alat perbengkelan dan peralatan produksi serta publikasi teknik, akan sangat besar perannya dalam mewujudkan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara," tegas Imam.

    Sasaran pembinaan yang telah ditetapkan dalam jangka pendek, yaitu mengantisipasi accident dalam satu tahun kedepan maupun sasaran jangka panjang untuk menjadikan TNI Angkatan Udara sebagai the first class air force, membutuhkan dedikasi, loyalitas, komitmen dan kerja keras serta personel yang memiliki disiplin tinggi serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    KSAU mengatakan, peran Koharmatau serta tantangan tugas yang dihadapi sudah sepantasnya jika personel yang mengawaki dipersyaratkan memiliki kualitas mumpuni, berdisiplin serta memiliki kecepatan dan ketepatan berolah pikir. "Ini sejalan dengan semboyan Koharmatau 'Sewana Karya Budhi Sakti', yaitu akal dan kecerdasan menjadi andalan suksesnya embanan tugas yang dibebankan, akan senantiasa terpelihara dan bersemayam di setiap personel Koharmatau jika kadar intelektual terus terasah dengan sebaik-baiknya," jelas dia.

    Sebagai komando pemelihara yang syarat pengalaman didukung personel yang terlatih dan profesional, ujar KSAU, Koharmatau akan tetap menunjukkan eksistensinya sebagai unit pemeliharaan yang dapat diandalkan dalam situasi dan kondisi apapun. "Koharmatau jadi ujung tombak pemelihara alutsista TNI Angkatan Udara," ujar Imam.

    Kembangkan Kepedulian

    Sementara itu, Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsekal Pertama TNI M Nurullah meminta prajurit TNI AU menumbuhkembangkan kepedulian merawat alutsista. "Tumbuh dan kembangkan sifat kepedulian dari setiap personel Skadron Udara 31 khususnya terhadap alusista yang dioperasionalkan," ujar M Nurullah saat melantik Letkol (Pnb) Eko Sujatmiko sebagai Komandan Skadron Udara 31 menggantikan Letkol (Pnb) Iman Handojo dalam upacara militer di Apron Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta.

    Danlanud mengatakan, kepedulian personel terhadap alutsista) harus diiringgi dengan peningkatan kepekaan terhadap disiplin dan patuh hukum. Hindari perbuatan menimbulkan suasana negatif. "Tidak kalah pentingnya adalah jaga soliditas satuan dan kerjasama serta koordinasi kelompok yang harmonis, guna mewujudkan suasana kerja yang kondusif sehingga produktifitas kerja satuan dapat meningkat," jelas Danlanud.

    Sumber : Suara Karya
    Readmore --> KSAU : Kekuatan Alutsista Merupakan Komponen Utama

    Sesko TNI Pelajari Pertahanan Udara Wilayah Indonesia Timur

    Makassar - Sebanyak 100 perwira siswa (Pasis) Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI belajar pertahanan udara wilayah timur Indonesia di Makassar, Rabu (14/9/2011). Rombongan belajar di Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudnas) II di Makassar, Sulawesi Selatan.

    Panglima Kosek Hanudnas II Marsekal Pertama (Marsma) TNI Agoes Haryadi menjelaskan kondisi wilayah, konsep strategi penyelenggaraan pertahanan Negara dan merumuskan strategi pertahanan kotama operasional.

    Wilayah kerja Kosek Hanudnas II berbatasan dengan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Australia dan Papua Nugini.

    "Semoga kunjungan menambah pengetahuan khususnya tugas Kosek Hanudnas II dan satuan jajaran," kata Agoes Haryadi. Kosek Hanudnas membawahi sejumlah satuan di wilayah timur Indonesia.

    Sejumlah satuan radar di wilayah timur seperti Tarakan, Kalimantan Timur, Kuandang di Sulawesi Utara hingga Biak menjadi wilayah kerja untuk menjaga ruang udara Republik Indonesia. Dalam sambutan Komandan Sesko TNI, Laksamana Madya TNI Mochamad Jurianto yang dibacakan oleh ketua rombongan menyampaikan

    "Tujuan Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) dan Pertahanan Wilayah (Hanwil) adalah untuk meningkatkan analisis srategis terhadap pengelolaan komponen-komponen sumber daya nasional guna kepentingan pertahanan wilayah yang dikaitkan dengan kemungkinan berbagai ancaman dan permasalahan yang dihadapi," kata Komandan Sesko TNI.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Sesko TNI Pelajari Pertahanan Udara Wilayah Indonesia Timur

    Wakil PM Singpura Kagum Akan Proyek KFX/IFX Antara Indonesia - Korsel

    Jakarta - Wakil Perdana Menteri Singapura Theo Chee Hean menyatakan kagum terhadap pengembangan proyek pesawat jet tempur K-FX/I-FX antara Indonesia dan Korea Selatan.

    "Itu adalah program sangat luar biasa....," katanya, saat diterima Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Rabu.

    Dalam kunjungan kehormatannya selama sekitar 15 menit itu, Wakil PM Chee Hean menyatakan sangat kagum dengan pembangunan pertahanan Indonesia yang cukup maju belakangan ini.

    "Saya perhatikan kemajuan pembangunan pertahanan, alustsista, sangat meningkat," katanya.

    Menanggapi itu, Menteri Purnomo mengatakan kemajuan pembangunan pertahanan Indonesia belakangan ini tak terlepas dari kenaikan anggaran pertahanan yang diberikan pemerintah.

    "Sebagian kenaikan anggaran pertahanan itu digunakan untuk mengganti beberapa pesawat jet tempur seperti F-5 dan Hawk-MK53 dengan Super Tucano," katanya.

    Tak hanya itu, tambah Purnomo, Indonesia juga melakukan kerja sama pembuatan alat utama sistem senjata seperti pesawat jet tempur dengan Kora Selatan yakni K-FX/I-IFX yang merupakan jet latih tempur generasi 4,5.

    Kesepakatan pengembangan bersama pesawat tempur KFX disepakati kedua negara pada 15 Juli 2010 di Seoul, Korsel. Pesawat jet tempur KFX sendiri sebetulnya merupakan proyek lama Republic of Korea Air Force (ROKAF) yang baru bisa terlaksana sekarang.

    Proyek ini digagas Presiden Korea Kim Dae Jung pada bulan Maret 2001 untuk menggantikan pesawat-pesawat yang lebih tua seperti F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger.

    Dibandingkan F-16, KFX diproyeksi untuk memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionic yang lebih baik serta kemampuan anti radar (stealth). Menhan Purnomo menambahkan Indonesia berupaya memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata secara mandiri, termasuk dalam pengembangan pesawat tempur.

    Karena itu, Indonesia sepakat untuk bekerja sama dengan Korsel, katanya, menambahkan.

    Selain pesawat tempur, Indonesia sudah lama menjalin kerja sama industri pertahanan dengan Korea Selatan antara lain dengan pembuatan kapal jenis landing plaform dock (LPD).

    Dalam kunjungannya ke Indonesia, Wakil PM Theo Chee Hean juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

    Sumber : DEPHAN
    Readmore --> Wakil PM Singpura Kagum Akan Proyek KFX/IFX Antara Indonesia - Korsel

    Menhan : Tidak ada lagi kesepakatan pertahanan RI - Singapura

    Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, menegaskan bahwa tidak ada lagi pembahasan kesepakatan kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) antara RI dengan Singapura yang ditandatangani kedua pemerintahan pada 2007.

    Sesaat sebelum menerima kunjungan kehormatan Wakil Perdana Menteri (PM) Singapura, Theo Chee Hean, di Jakarta, Rabu, Punomo mengatakan kepada ANTARA News: "Tidak ada lagi pembahasan tentang itu."

    Purnomo Yusgiantoro menuturkan, setiap kerja sama pertahanan yang dilakukan dengan sejumlah pihak harus ada kesepakatan pelaksanaannya (implementing arrangement).

    "Ini kita belum menyepakati apa-apa. Jadi, tidak ada lagi kerja sama kesepakatan pertahanan itu," katanya.

    Perundingan DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia dan Singapura telah berlangsung sejak Juli 2005 selama tujuh kali putaran. Putaran terakhir dilaksanakan pada 5 - 6 Desember 2006 dengan menyepakati 13 pasal, dan empat pasal lainnya belum tercapai kesepakatan.

    Pembahasan tersebut dilakukan paralel dengan pembicaraan mengenai ekstradisi antara dua negara dan selalu dikoordinasikan dengan pihak Departemen Luar Negeri, sehingga nantinya kerja sama pertahanan kedua negara dapat benar-benar mendukung kepentingan nasional Indonesia.

    DCA akhirnya ditandatangani pada 27 April 2007 oleh Menhan kedua negara disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong.

    Dalam perjalanannya, kedua negara tidak dapat melaksanakan kesepakatan kerja sama itu secara mulus karena menuai kontroversi di masing-masing pihak, terutama menyangkut Implementing Arrangement (IA) Military Training Area (MTA) di Area Bravo yang berada di Kepulauan Natuna.

    Kebuntuan terhadap beberapa pasal dalam DCA antara RI dan Singapura, antara lain berdampak pihak Singapura mengabaikannya dan tidak membahas lebih lanjut, terutama menyangkut ekstradisi.

    Dalam pertemuan bilateral sekira 15 menit di Kantor Kementerian Pertahanan RI pada Rabu ini, wakil pemerintahan kedua negara itu juga tidak membahas tentang kemungkinan DCA dibahas kembali.

    Para pihak hanya berbincang tentang perkembangan kerja sama yang telah dijalin kedua negara selama ini, khususnya dalam bidang pertahanan.

    Bahkan, Chee Hean mengaku kagum dengan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia dalam industri pertahanan, baik yang dilakukan secara mandiri maupun yang bekerjasama dengan sejumlah negara, seperti Korea Selatan dan Serbia.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Menhan : Tidak ada lagi kesepakatan pertahanan RI - Singapura

    Wednesday, September 14, 2011 | 9:09 AM | 0 Comments

    KSAU: Pemeliharaan Alutsista Tak Kalah Penting

    Jakarta - Kekuatan ertahanan suatu negara ditentukan oleh kekuatan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang dimiliki. Karenanya, pengadaan alutsista menjadi penting. Selain itu, pemeliharaan atas aset-aset itu tak boleh dikesampingkan. “Dalam era serba berbobot teknologi seperti sekarang ini, upaya pertahanan negara akan mencapai hasil jauh lebih baik jika didukung dengan alat utama sistem senjata yang andal, terpenuhinya logistik serta sistem pemeliharaan yang mumpuni,”kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat dalam sambutannya pada serah terima jabatan Komandan Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara dari Marsda TNI Ferdinand Alex Myne kepada Marsda TNI Waliyo di Lanud Husein Sastranegara Bandung, Selasa (13/9).

    Dijelaskan KSAU, Koharmatau memiliki tugas dan fungsi melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiil TNI Angkatan Udara. Pemeliharaan dan pembekalan senjata amunisi, serta menyelenggarakan pembinaan alat perbengkelan dan peralatan produksi serta publikasi teknik. “Sebagai matra yang sangat mengandalkan sistem persenjataan, unit pemeliharaan seperti ini akan sangat besar perannya dalam mewujudkan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara,”katanya.

    Sasaran jangka pendek Koharmatau adalah mewujudkan tidak terjadinya kecelakaan satu tahun kedepan, dan menjadikan TNI Angkatan Udara sebagai the first class air force sebagai sasaran jangka panjangnya. “Untuk itu, membutuhkan dedikasi, loyalitas, komitmen dan kerja keras serta personel yang memiliki disiplin tinggi serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,”katanya.

    Dikatakan KSAU, personel Koharmatau harus memiliki sikap yang sejalan dengan semboyan Koharmatau “Sewana Karya Budhi Sakti”, yaitu akal dan kecerdasan menjadi andalan suksesnya embanan tugas yang dibebankan.

    Sumber : JURNAS
    Readmore --> KSAU: Pemeliharaan Alutsista Tak Kalah Penting

    Rusia Undang Indonesia Dalam Ujicoba S-400 Di The Comradeship in Arms 2011

    Moskow (WDN/MIK) - Dalam acara The Comradeship in Arms 2011 yang berlangsung sebelum hari ini, Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdiukov mengatakan untuk pertama kalinya Rusia menggunakan sistem rudal pertahanan udara S-400.

    Ujicoba tersebut dibuktikan di daerah Ashuluk, yang merupakan daerah selatan Rusia, lebih dari 2000 pasukan CIS yang terdiri dari AU Rusia, Armenia, Belarusia, Kirgistan, dan Tajikistan melakukan prosedur operasi bersama dalam simulasi dimana teroris dapat dipukul mundur di daerah konflik bersenjata di dekat perbatasan.

    Dalam ujicoba tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Rusia, Belarusia, Tajikistan, Armenia dan Ukraina, turut juga dihadiri oleh pengamat dari Aljazair, Malaysia, India, Indonesia Dan Suriah.

    Menhan Serdiukov mengatakan puas atas unit militernya, "Interaksi tersebut menunjukkan semua menhan yang hadir puas atas kinerja unit tersebut".

    Sumber : The Voice Of Rusia
    Readmore --> Rusia Undang Indonesia Dalam Ujicoba S-400 Di The Comradeship in Arms 2011

    Tuesday, September 13, 2011 | 8:51 PM | 0 Comments

    Indonesia Akan Mendapatkan Hibah C-130 H Dari Australia

    Jakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat menegaskan, tidak ada toleransi untuk kecelakaan udara sebagai wujud profesionalisme TNI Angkatan Udara. "Harus zero accident untuk mencapai the first class air force," kata KSAU dalam serah terima jabatan Komandan Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara (Dankoharmatau) dari Marsekal Muda (Marsda) TNI Ferdinand Alex Myne kepada Marsda TNI Waliyo di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Selasa (13/9/2011).

    "Sebagai matra yang sangat mengandalkan sistem persenjataan canggih, unit pemeliharaan seperti Koharmatau—yang tugas dan fungsinya melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiil TNI Angkatan Udara, pemeliharaan dan pembekalan senjata amunisi, serta menyelenggarakan pembinaan alat perbengkelan berikut peralatan produksi serta publikasi teknik—akan sangat besar perannya dalam mewujudkan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara," papar KSAU.

    Beberapa sasaran pembinaan telah ditetapkan, baik sasaran jangka pendek, yaitu mewujudkan tidak terjadinya kecelakaan satu tahun ke depan, maupun sasaran jangka panjang, yaitu untuk menjadikan TNI Angkatan Udara sebagai the first class air force

    Untuk itu, dibutuhkan dedikasi, loyalitas, komitmen, dan kerja keras serta personel yang memiliki disiplin tinggi serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam waktu dekat, TNI AU akan kedatangan sejumlah pesawat baru, seperti Super Tucano buatan Embraer, Brasil, Hercules C-130 seri H dari Royal Australian Air Force (RAAF) Australia, dua skadron F-16 seri A dan B dari Amerika Serikat dan persenjataan lain.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Indonesia Akan Mendapatkan Hibah C-130 H Dari Australia

    Indonesia Dan Serbia Melakukan Penjajakan Alih Teknologi Roket Dan Mortir

    Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Serbia sepakat meningkatkan kerja sama bidang pertahanan yang meliputi kebijakan strategis, dukungan logistik, kerja sama industri pertahanan, pendidikan dan pelatihan.

    Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan mitranya Menteri Pertahanan Serbia Dragan Sutanovac di Jakarta, Selasa.

    Purnomo menambahkan, dalam bentuk konkretnya kerja sama kedua negara dilakukan dalam bentuk dialog pertahanan strategis, pertukaran intelijen, pertukaran pengalaman dan konsultasi, program pelatihan dan pendidikan, partisipasi dalam konferensi, simposium dan seminar serta pengadaan alutsista yang meliputi teknologi dan bantuan teknis kerja sama industri pertahanan.

    Ia menambahkan, faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dengan peningkatan kerja sama pertahanan kedua negara antara lain teknologi dan mutu hasil industri pertahanan Serbia sesuai dengan standar internasional yaitu NATO maupun standar bekas Uni Soviet.

    "Kemudian beberapa produsen amunisi dari negara-negara lain seperti Belgia, Spanyol, dan Malaysia membeli komponen-komponen tertentu terutama 'raw material' dari Industri pertahanan Serbia, termasuk yang telah dibeli Indonesia dari Belgia dan Afrika," kata Purnomo.

    Lebih lanjut ia mengatakan ke depan, peningkatan kerja sama militer bidang pertahanan dengan Republik Serbia, dapat dikatakan memiliki prospek yang cukup menjanjikan berupa kelebihan kemampuan atau keunggulan pabrik-pabrik senjata dan munisi Serbia, yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif penjajakan kerja sama alih teknologi dengan industri pertahanan RI.

    "Penjajakan kerja sama alih teknologi dengan industri pertahanan itu antara lain dapat menyempurnakan uji coba peluncuran roket LAPAN dan penyempurnaan uji coba mortir buatan Pindad yang masih belum stabil," katanya.

    Sumber : Suara Karya
    Readmore --> Indonesia Dan Serbia Melakukan Penjajakan Alih Teknologi Roket Dan Mortir

    Indonesia Dan Serbia Teken Kerja Sama Pertahanan

    Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Serbia sepakat meningkatkan hubungan bilateral di bidang pertahanan. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Menteri Pertahanan kedua negara Purnomo Yusgiantoro dan Dragan Sutanovac.

    "Kerja sama ini merupakan lanjutan kerja sama yang sudah ditandatangani pada 2005 lalu. Namun ada beberapa item perbaikan yang disetujui dan ditandatangni ulang," ujar Pramono di kantornya, Selasa 13 September 2011.

    Kesepakatan yang ditandatangani di antaranya di bidang kebijakan strategis pertahanan, logistik, kerja sama industri pertahanan, pendidikan, dan pelatihan militer. Dalam bentuk konkretnya kerja sama kedua negara, menurut Purnomo, di antaranya pertukaran intelijen, pertukaran pengalaman dan konsultasi, program pelatihan dan pendidikan.

    Hal lain yang menurut Pramono dinilai sangat penting adalah pengadaan alutsista yang meliputi teknologi dan bantuan teknis kerja sama industri pertahanan. "Kerjaama ini untuk mengembangkan alutista kita yang sudah 13 tahun ketinggalan dan jadi bagian reformasi jilid dua," ujar Purnomo.

    Menurut Purnomo, peningkatan kerja sama dengan Serbia didasarkan pada teknologi dan mutu hasil industri pertahanan negara pecahan Uni Soviet itu sesuai dengan standar internasional, yaitu NATO. Terbukti dengan adanya beberapa produsen amunisi dari negara-negara lain seperti Belgia, Spanyol, dan Malaysia yang membeli komponen tertentu dari industri pertahanan Serbia. "Keunggulan pabrik senjata dan amunisi Serbia dapat dimanfaatkan sebagai alternatif penjajakan kerja sama alih teknologi dengan industri pertahanan RI," ujarnya.

    Menteri Pertahanan Serbia Dragan Sutanovac menyatakan sangat menyambut positif kerja sama ini. Sejak dilakukan kerja sama militer pada 1946, dia menyebutkan hubungan kerja sama militer RI-Serbia sudah berjalan baik. "Kami percaya dengan kerja sama ini akan hubungan kedua negara akan lebih baik," lanjutnya.

    Menurut Dragan, selain soal industri pertahanan, Serbia juga akan fokus pada pengembangan rumah sakit militer. Apalagi, kata Dragan, rumah sakit militer di Serbia termasuk yang terbaik di dunia. "Kami juga ingin bekerja sama dalam pengembangan industri kesehatan militer di Indonesia," ujarnya.

    Kerja sama bidang kesehatan ini dibenarkan oleh Purnomo. Kerja sama nantinya bisa berupa pelatihan dokter.

    Sumber : TEMPO
    Readmore --> Indonesia Dan Serbia Teken Kerja Sama Pertahanan

    Pengamat : Indonesia Membangun Industri Alutsista

    Jakarta - Klaim Malaysia atas blok konsesi Ambalat di Provinsi Kalimantan Timur lima tahun lalu dengan menggerakkan kapal perangnya di sekitar Karang Unarang membuat marah petinggi TNI. Cilangkap menganggap ini merupakan penghinaan teritorial NKRI terbesar sepanjang 40 tahun terakhir karena berkaitan dengan manuver kapal perang asing yang melakukan provokasi terang-terangan sampai menyandera pekerja pembuatan mercusuar Karang Unarang.

    Mabes TNI kemudian melakukan operasi militer dan intelijen dengan mengerahkan gugus tempur laut berupa kapal perang jenis fregat dan korvet serta satuan tugas pasukan marinir ke lokasi Ambalat, Sebatik, Nunukan dan Tarakan. TNI juga menempatkan sejumlah pesawat tempur di Balikpapan dan Tarakan, kemudian mengusir tegas kapal perang Malaysia dari perairan Ambalat sekaligus memastikan kehadiran permanen 5-6 kapal perang yang siap siaga 24 jam dalam sehari di perairan itu.

    Kondisi ini tentu bukan untuk hangat-hangat tahi ayam. Petinggi TNI pasti tahu bahwa urusan klaim teritorial memerlukan waktu penyelesaian bertahun-tahun dan selama waktu itu TNI harus terus melakukan pengawasan penuh atas wilayah konflik perbatasan.

    Dalam perjalanan waktu itu tentu saja pemikir strategis TNI bersama Kementerian Pertahanan melakukan olah pikir dan olah daya sembari menginventarisasi kekuatan alutsista yang dimiliki dan lalu dibandingkan dengan kekuatan alutsista milik tetangga.

    Sebagai negara kepulauan terbesar, tentu saja kekuatan angkatan laut dan udara merupakan kekuatan pukul utama manakala negara dalam keadaan diserang negara lain, baik skala terbatas maupun skala luas. Nah, setelah dihitung-hitung dengan cermat, maka dimulailah program peremajaan alutsista dengan membeli ke berbagai negara.
    Beberapa jenis alutsista yang dibeli bisa disebut beli murni, misalnya jet tempur Sukhoi, namun beberapa jenis lain dibeli dengan metode ToT (transfer of technology), contohnya kapal perang jenis LPD dari Korea Selatan.

    Selama kurun waktu tahun 2007 sampai 2011 ini, berbagai alutsista strategis sudah ada dalam genggaman TNI bersama perkuatan personel. Bisa disebut 4 korvet Sigma buatan Belanda, 4 LPD (Landing Platform Dock) kerja sama Korsel-PAL, integrasi sistem tempur dengan rudal Yakhont pada KRI Fregat Ahmad Yani Class, pasang rudal C802 di sejumlah Kapal Cepat Rudal, dan kerja sama pembuatan rudal C705 dengan China.
    Kemudian overhaul Kapal Selam KRI Nanggala di Korsel (bonusnya hibah 10 tank amfibi LVT-77 ), pembuatan puluhan kapal cepat rudal di PAL dan galangan kapal nasional, pembuatan kapal perang jenis LST. Tambahan 6 Sukhoi, 17 tank amfibi BMP-3F sudah memasuki pangkalan arsenal TNI, juga instalasi radar militer di Indonesia Timur yaitu di Biak, Merauke, Timika dan Saumlaki.

    Langkah Berani

    Saat ini, TNI juga sedang mempersiapkan pembentukan skuadron UAV di Pontianak dan Pekan Baru, menunggu kedatangan 16 Super Tucano, menanti kedatangan 16 jet latih / tempur T-50 dari Korsel dan menambah kembali pesanan 6 Sukhoi untuk melengkapi jumlah yang ada saat ini, yaitu 10 unit, menjadi kekuatan penuh satu skuadron (16 unit).

    Yang menggembirakan tentu saja adanya hibah 30 unit F16 blok 32 dari Amerika Serikat yang sudah disetujui, kemudian melakukan upgrade 8 Hercules, pesan 4 heli Cougar dari Prancis, pesan 4 CN 235 ASW dari PT DI. Tak ketinggalan juga menambah inventory tank amphibi dengan memesan kembali 56 unit BMP-3F dari Rusia.

    Kekuatan lima heli tempur serbu jenis MI35 dan 12 Mi17 buatan Rusia sudah hadir di skuadron Penerbad. Kemudian pengadaan ratusan rudal QW3 untuk Marinir dan Paskhas, pembelian rudal Exocet terbaru untuk 4 KRI Sigma, pembuatan 154 panser Pindad, kerja sama pembuatan 44 panser Canon dengan Korsel, pengadaan rudal antitank.

    Perluasan pangkalan TNI AL di Padang, Tarakan, Kupang dan Merauke sudah selesai, pembangunan pangkalan TNI AU di Tarakan untuk menampung segala jenis pesawat tempur, penambahan puluhan batalyon infantri, mekanis, marinir dan Paskhas, pembentukan divisi 3 Kostrad. Setidaknya ini yang tampak di depan mata.

    Pada 2010, program alutsista dipertajam dengan membangun industri hankam dalam negeri dengan memberdayakan PT PAL, PT DI, Pindad, Lapan dan industri alutsista swasta untuk menghasilkan produksi dalam negeri, termasuk kerja sama dengan LN membangun alutsista di Tanah Air.

    Senjata SS2, mortir, amunisi, bom Sukhoi, kapal cepat rudal, kapal trimaran, kapal jenis LST, helikopter, pesawat angkut dan patroli CN235, roket Lapan, panser Anoa adalah buah pemberdayaan industri alutsista dalam negeri yang sudah menampakkan hasil. Kerja sama melalui transfer teknologi dengan Korsel adalah 4 kapal LPD, dua dibuat di Korsel dan dua lainnya di PAL Surabaya. Demikian juga dengan pembuatan 40 panser Canon, separo di Korsel sisanya di Pindad. Langkah berani Kemhan adalah melakukan terobosan besar di bawah kepemimpinan Menhan Purnomo Yusgiantoro dengan melakukan kerja sama strategis pembuatan pesawat tempur KFX bersama Korsel. Kualitas jet tempur ini di atas F16 dan hasil kerja sama ini nantinya Indonesia akan menerima 50 unit jet tempur generasi 4,5 dan bisa memproduksi sendiri.

    Kerja Sama


    Kemudian Kemhan juga meluncurkan pembuatan 10 kapal perang jenis PKR kerja sama dengan Damen Schelde Belanda. Akhir tahun 2010 sudah dimulai pengerjaannya dengan membuat 2 PKR Light Fregat. Perusahaan swasta Lundin yang berlokasi di Banyuwangi sedang mempersiapkan beberapa kapal perang jenis trimaran.

    Galangan kapal swasta di Batam sudah menghasilkan 1 kapal cepat rudal yaitu KRI Clurit dan sedang membuat beberapa KCR lainnya. Proyek rudal strategis Lapan-Pindad sedang berjalan, bahkan Lapan-Pindad saat ini sedang memproduksi massal ribuan roket Rhan setelah dilakukan uji tembak di pusat latihan tempur Baturaja Sumatera Selatan beberapa waktu yang lalu.

    Untuk jangka panjang, memproduksi alutsista buatan negeri sendiri sesungguhnya memberikan nilai yang tinggi bagi generasi bangsa. Betapa tidak, mereka yang diwarisi dengan industri hankam strategis akan merasa sangat bangga bahwa tanah airnya yang bernama Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat angkut, pesawat tempur, helikopter, kapal perang, kapal selam, tank, rudal dan lainnya. Kondisi ini akan memberikan semangat bertanah air yang tinggi.
    Ingat cara Soekarno membuat proyek bernilai nasionalis tinggi, Masjid Istiqlal, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monas, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera. Itu semua dibangun ketika ekonomi rakyat berkategori sangat miskin, namun sekarang menjadi kebanggaan bangsa dan rakyat kita.

    Kita berharap pembangunan industri alutsista dalam negeri ini berjalan konsisten, terpadu, terarah dan transparan tanpa benturan konflik kepentingan.

    Soalnya musuh terbesar dalam program ini adalah ketidakkonsistenan itu sendiri dan intelijen makelar senjata yang selalu merayu petinggi Kemhan dengan berbagai cara, dengan iming-iming komisi menggiurkan untuk memakai alutsista buatan pabrik kapitalis ini dan itu. Mudah-mudahan Menhan Purnomo yang enerjik, lincah dan berakal cerdik itu bersama pengambil keputusan di Kemhan dan Mabes TNI mampu berjalan seiring, seia sekata untuk menghasilkan alutsista strategis buatan anak bangsa, mewariskan kehormatan dan kebanggaan pada generasi bangsa.

    Sumber : Suara Merdeka
    Readmore --> Pengamat : Indonesia Membangun Industri Alutsista

    KSAL : TNI AL Tumbuhkan "Maritime Domain Awareness"

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno yang diwakili oleh Wakil kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Marsetio, M.M memimpin upacara peringatan hari lahir ke-66 TNI Angkatan Laut di lapangan Apel Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur, (12/9).

    Tanggal 10 September memiliki arti yang sangat penting bagi TNI Angkatan Laut, karena berdasarkan fakta sejarah, pada tanggal tersebut, tepatnya pada 10 September 1945 merupakan tonggak berdirinya TNI Angkatan Laut.

    Pada tanggal itu Pemerintah Indonesia mendirikan Badan Keamanan Rakyat Bagian Laut (BKR Laut) yang diprakarsai oleh mantan anggota Koninklijke Marine guru dan murid Sekolah Pelayaran Tinggi, Sekolah Pelayaran Rendah, pegawai dari Jawa Unko Kaisha, Kaigun Heiho dan pemuda pecinta laut lainnya. Pembentukan BKR Laut inilah yang akhirnya menggetarkan organisasi dan perkumpulan kemaritiman di Tanah Air untuk membentuk BKR Laut di daerah-daerah. Oleh karena itu, untuk menghormati jasa para pendiri BKR Bagian Laut, maka tanggal 10 September 1945 ditetapkan sebagai hari lahirnya Angkatan Laut, yang selanjutnya diperingati sebagai hari lahir TNI Angkatan Laut.

    Dalam sambutan Kasal yang dibacakan oleh Wakil kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Marsetio,M.M, mengatakan bahwa maksud dan tujuan memperingati kelahiran ini tak lain agar para prajurit yang saat ini berdinas yang sebagai sebagai generasi penerus tetap dapat mengingat dan menghargai jasa para pendahulu serta terus mempertahankan nilai heroik yang terkandung didalamnya, sesuai dengan pepatah yang mengatakan, “bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya“.

    “Dengan hari lahirnya TNI Angkatan Laut yang kita peringati saat ini, harus kita laksanakan introspeksi dan evaluasi sehingga kita harus bersama-sama menumbuhkan Maritime Domain Awareness, merumuskan kembali jawaban terhadap Who We Are, What We Do, dan How Do We Fight, karena semua ini akan menentukan implementasi di lapangan antara lain seperti pola pendidikan dan latihan, penentuan kebutuhan Alutsista, pengembangan organisasi dan proyeksi gelar kekuatan,” kata Kasal.

    Dalam memperingati hari jadinya kali ini, TNI Angkatan Laut merayakannya dengan upacara yang berlangsung secara sederhana yang melibatkan segenap personel baik Perwira, Bintara, Tamtama serta Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Mabesal. Di akhir amanatnya, Wakasal menyampaikan kepada seluruh warga Mabesal untuk memantapkan soliditas antar komponen TNI menuju terwujudnya TNI Angkatan Laut yang Handal dan Disegani.

    Sumber : Pikiran Rakyat
    Readmore --> KSAL : TNI AL Tumbuhkan "Maritime Domain Awareness"

    Update : Indonesia Mantapkan Produksi Bersama Persenjataan Dengan Eropa

    Jakarta - Pemerintah Indonesia akan menjajaki kerja sama pertahanan berupa produksi dan pemasaran bersama beberapa persenjataan dengan tiga negara Eropa yakni Jerman, Spanyol dan Prancis.

    Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada ANTARA di Jakarta, sesaat sebelum memulai kunjungannya ke Eropa, Senin [12/09] , mengatakan kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Jerman, Indonesia-Spanyol dan Indonesia-Prancis telah lama terjalin.

    “Namun, Indonesia ingin memantapkan kembali bentuk kerja sama itu kearah produksi dan pemasaran bersama sehingga dapat mendukung kemandirian industri pertahanan nasional,” katanya.

    Dicontohkannya, PT Dirgantara Indonesia telah menjalin kerja sama dengan European Aeronatic Defense and Space Company (EADS), sebuah perusahaan dirgantara besar Eropa dalam kerja sama memproduksi alat utama sistem senjata (alutsista) untuk pembuatan pesawat angkut ringan C-295.

    “Pesawat angkut ringan C-295 ini memiliki kapabilitas dan kapasitas yang melebihi CN-235. Nah..kita ingin jajaki kemungkinan produksi bersama, pemasaran bersama dan investasi bersama antara Indonesia dengan Spanyol, Jerman, Prancis yang terlibat dalam EADS,” katanya.

    Sjafrie mengemukakan pada kesepakatan awal PT DI memperoleh porsi 40 persen untuk “local content” komponen pesawat tersebut.

    “Kedepan kita ingin mendapat porsi lebih besar dan mendapat lisensi untuk pembuatan pesawat itu dan menjadi pemasok utama untuk pangsa pasar Asia Tenggara.Kemungkinan ini yang akan kita mantapkan,” tutur Wamenhan.

    Tak hanya pesawat angkut ringan C-295, hal serupa juga akan diberlakukan dalam produksi helikopter serang khususnya dengan perusahaan Eurocopter, Prancis, kata Sjafrie menambahkan.

    Untuk pertahanan darat, Indonesia juga akan menjajaki produksi dan pemasaran bersama meriam 155 mm, mistral dan persenjataan individu pasukan khusus dengan Jerman.

    “Jadi itu beberapa persenjataan atau alat utama sistem persenjataan yang akan kita kerja samakan produksi dan pemasarannya dengan tiga negara itu yakni Jerman, Spanyol dan Prancis,” kata Wamenhan.

    Sumber : BERITA SORE
    Readmore --> Update : Indonesia Mantapkan Produksi Bersama Persenjataan Dengan Eropa

    Monday, September 12, 2011 | 6:58 PM | 0 Comments

    KSAL : Tahun 2014, TNI AL Minimal Butuh Enam Kapal Selam

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan minimum Indonesia memiliki enam kapal selam sebagai alat utama sistem senjata strategis, sekaligus memberikan efek tangkal.

    "Ya minimum kita bisa punya enam," katanya, usai melantik Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat dan Panglima Komando Lintas Laut Militer di Jakarta, Senin.

    Ia mengatakan, pihaknya telah mengajukan pengadaan dua kapal selam baru untuk menambah kekuatan strategis matra laut. "Prosesnya kini masih terus berjalan di Kementerian Pertahanan, dan diharapkan pada 2014 kapal itu sudah kami terima," ujar Kasal, menambahkan.

    Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai 700 juta dolar Amerika Serikat yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009.

    Pada tender pertama, dari empat negara produsen kapal selam yang mengajukan tawaran produk mereka, seperti Jerman, Prancis, Korea Selatan, dan Rusia, TNI Angkatan Laut telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia.

    Kasal Soeparno memastikan pengadaan dua kapal selam tersebut akan dilengkapi langsung oleh perlengkapan dan persenjataannya. "Jadi tidak sekadar kapal selam saja, tanpa persenjataan atau perlengkapan yang mendukung," katanya, menegaskan.

    Indonesia saat ini memiliki KRI Cakra dan KRI Nanggala yang merupakan hasil produksi Jerman kelas U 209/1300 pada 1981.

    Sumber : REPUBLIKA
    Readmore --> KSAL : Tahun 2014, TNI AL Minimal Butuh Enam Kapal Selam

    TNI AU Tampilkan Atraksi "Jupiter Aerobatic Team" Di Makassar

    Makassar - Setelah pembukaan secara resmi Festival Bahari dan Budaya di Anjungan Pantai Losari oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng, TNI AU menghibur warga Makassar dengan atraksi "Jupiter Aerobatics Team" (JAT).

    "Atraksi Jupiter Aerobatics Team ini sengaja kami tampilkan untuk memeriahkan festival bahari dan budaya yang terselenggara di Anjungan Pantai Losari Makassar," ujar Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Sulawesi Selatan Marsekal Pertama Bahrim di Makassar, Minggu.

    Enam pesawat latih KT-1B Wong Bee yang dikemudikan perwira-perwira penerbang Angkatan Udara itu memukau pengunjung dengan sejumlah atraksi dan formasi yang diperagakannya.

    Para pilot pesawat latih KT-1B Wong Bee itu piawai membentuk sejumlah manuver yang membutuhkan kemampuan teknis tingkat tinggi. Misalnya, manuver heart (hati), jupiter roll, mata panah, cermin, dan daun semanggi.

    Atraksi yang benar-benar membuat penonton menahan napas adalah manuver cermin. Jupiter lima dan enam tiba-tiba muncul dari kanan panggung dengan posisi cermin alias terbang beriringan.

    Ira, salah seorang pengunjung yang sejak pagi berada di Anjungan Pantai Losari Makassar sengaja meluangkan waktunya untuk melihat atraksi-atraksi dari para pilot pesawat tempur Indonesia itu.

    "Saya sangat takjub melihat atraksi-atraksi yang dipertontonkan oleh pilot-pilot Angkatan Udara ini karena atraksi yang seperti ini sangat jarang kita lihat langsung bahkan saya pun baru melihatnya langsung di langit Makassar ini," takjubnya.

    Setelah itu empat pesawat yang awalnya membentuk wajik melintas kembali di depan podium. Namun, kali ini Jupiter empat terbang melingkari tiga pesawat lain, bagaikan sekrup yang berputar. Inilah manuver screw roll.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> TNI AU Tampilkan Atraksi "Jupiter Aerobatic Team" Di Makassar

    TNI AL Lakukan Simulasi Jalayudha Di Makassar

    Makassar - Kota Makassar sebagai salah satu kota besar di Indonesia, dalam kondisi menegangkan. Kelompok separatis menguasai semua alat-alat vital. Pasukan TNI yang ada di darat semua telah dilumpuhkan. Tak bisa berkutik dan menemui jalan buntu.

    Namun, tiba-tiba dari arah laut lepas, KRI Mandar - 514 nampak melepas lima unit kendaraan amfibi berpenumpang masing-masing limaorang, melakukan pendaratan di tanah tumbu Losari Makassar.

    Dari sini, pasukan dari Korps Marinir akan mengambil alih ibu kota. Dua tank amfibi mendarat lebih awal dan melakukan serentetan tembakan. Gunanya, untuk mengacaukan musuh.

    Setelah merasa kondusif, tiga tank lainnya ikut merangsek ke darat. Sebanyak 24 personil Marinir dengan identitas penyamaran menyerbu masuk ke kota dan melumpuhkan separatis. Alhasil, kota segera dapat diambil alih.

    Tentu saja kejadian itu bukan benar-benar serangan dari kelompok separatis asli. Serangkaian serangan di atas adalah praktek Jalayudha yang dilakukan oleh Kadet Tingkat III Akademi Angkatan Laut (AAL) Korps Marinir Angkatan 58 di tanah tumbuh Losari, Kota Makassar.

    Dibawah komandan Latihan Mayor Marinir Arif Handono, calon perwira ini beraksi di depan umum. Ia mengatakan tujuan latihan pendaratan terbatas bagi kadet tingkat III Korps Marinir ini agar para kadet dapat mengaplikasikan teori amfibi yang diterima di kelas.

    " Teori yang didapatkan dikelas dipraktekkan di lapangana. Sasarannya,Diharapkan kadet memiliki mental, pengetahuan dan pengalaman profesi
    untuk melaksanakan tugas-tugas dalam pendaratan amfibi sebagai komandan Satuan Marinir," jelas Arif Handono.

    Pasukan amfibi dikenal sebagai pasukan yang dapat diandalkan setelah pasukan TNI lainnya yang berada di darat atau di suatu tempat telahlumpuh. Ciri khasnya, masuk dari laut dengan menggunakan seperti namanya, bisa beraksi di air termasuk di laut maupun darat.

    Aksi para kadet TNI AL ini menjadi perhatian khusus masyarakat Makassar yang kebetulan di hari Minggu kebanyakan berkonsentrasi di daerah pantai Losari. Kendaraan yang biasanya mereka hanya lihat di layar televisi, kini mereka bisa menyaksikan langsung, lengkap dengan pasukannya.

    Sumber : INILAH
    Readmore --> TNI AL Lakukan Simulasi Jalayudha Di Makassar

    Sunday, September 11, 2011 | 7:53 PM | 0 Comments

    Perbatasan Papua Nugini Dan Malaysia Sangat Rawan

    Banjarmasin - Anggota Komisi I DPR-RI dari Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid, menilai perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan Papua Nugini (PNG) adalah yang paling rawan dan mengancam disintegrasi bangsa.

    "Namun kerawanan perbatasan Indonesia dengan dua negara tetangga tersebut berbeda," katanya menjawab ANTARA, usai halal bihalal keluarga besar PKS se Kalimantan Selatan, di Banjarmasin.

    Ia menerangkan, kalau yang menonjol dari perbatasan Indonesia dengan Malaysia adalah soal sosial ekonomi di mann tingkat kesejahteraan rakyat negeri jiran terlebih lebih baik, maka kerawanan perbatasan Indonesia dengan PNG terletak pada segi keamanan.

    Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia harus terus berupaya menghilangkan kerawanan-kerawanan itu, diantaranya lewat pembinaan melalui pemberitaan.

    Dia menilai pemerintah Indonesia harus menambah jaringan dan siaran radioa dan televisi agar daerah-daerah perbatasan bisa menerimanya.

    "Dengan mendengar atau mengetahui siaran radio dan pemberitaan televisi Indonesia, warga perbatasan dapat pula mengetahui bagaimana perhatian serta upaya-upaya pemerintahnya," kata dia.

    Sedangkan pembinaan teritorial dilakukan dengan membuat tentara di daerah-daerah perbatasan menyatu dengan masyarakat setempat.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Perbatasan Papua Nugini Dan Malaysia Sangat Rawan

    Komisi I DPR Menyayangkan Kemhan Beli UAV Dari Israel

    Jakarta - Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyayangkan sikap ketidak terbukaan Kementerian Pertahanan yang membeli pesawat tanpa awak buatan Israel pada masa periode lalu. Meski pembelian pesawat tanpa awak itu dilakukan dengan menggunakan perantara negara ketiga dan tidak menggunakan anggaran APBN.

    "Ya memang dalam kunjungan kerja Komisi I DPR sebelumnya, kami mendapat keterangan soal keberadaan pesawat tanpa awak buatan Israel beberapa unit, yang kini ditempatkan di Pontianak untuk tugas patroli dan pengintaian. Kami sudah cek, memang pengadaannya sepertinya tidak lewat anggaran APBN. Dimana DPR periode lalu pun tidak pengetahui soal pengadaan pesawat tersebut," ujar Mahfudz, pada Jurnalparlemen.com, Minggu (11/9).

    Mahfudz mengatakan, bahwa Kementerian Pertahanan kembali berencana untuk menambah pengadaan pesawat tanpa awak untuk kepentingan yang sama. Namun Komisi I DPR periode saat ini telah mengingatkan dan meminta agar pengadaan pesawat tanpa awak itu tidak dibeli dari Israel lagi, apapun alasan dan dalihnya, karena memang hingga kini Indonesia tidak mengakui negara Israel dan tidak memiliki hubungan diplomatik.

    "Kami (Komisi I DPR) telah menyarankan agar kalaupun harus membeli pesawat tanpa awak dari luar, agar membeli dari Turki misalnya. Di mana kemampuan pesawat tanpa awak Turki itu kini telah setara dengan pesawat yang dioperasikan oleh negara-negara NATO atau bisa membeli dari Korea atau Rusia. Yang penting tidak dari Israel. Kerena itu hanya akan menimbulkan kontroversi di dalam neegeri sendiri nantinya," tegas politisi PKS ini.

    Menurut Mahfudz, sebenarnya di dalam negeri sendiri seperti PI Dirgantara Indonesia juga sudah mampu mengembangkan pesawat tanpa awak. Dimana pesawat produksi PT DI itu juga sudah di pergunakan untuk tujuan yang sama, patroli dan pengintaian. Tinggal kini PT DI meningkatkan kemampuannya, agar pesawat tanpa awat produksi dalam negeri itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan bauatan luar negeri, yaitu tidak mampu terdekteksi dari radar dan mampu juga membawa senjata, untuk kepentingan militer.

    "Sekarang tinggal Kemhan sendiri, mau tidak memaksimalkan membali pesawat produksi dalam negeri sendiri untuk tujuan militer tersebut. Bahwa bebera negara saat ini juga telah bersedia melakukan alih teknologi dengan Indonesia untuk tujuan produksi alutsista tersebut," tegasnya.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Komisi I DPR Menyayangkan Kemhan Beli UAV Dari Israel

    Ketua Komisi I : Sistem Pengadaan Alutsista Harus Diperbaiki

    Jakarta - DPR meminta Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan untuk terus membenahi sistem pengadaan Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) TNI dalam rangka peremajaan dan modernisasi, yang berasal dari impor. Pasalnya, hingga kini Komisi I DPR masih menemukan kasus-kasus pengadaan alutsista tidak sesuai perencanaan awal.

    “Di dalam pengadaan alutsista, kami masih menemukan perangkat mutahir yang tidak lengkap,” ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com di Jakarta, Sabtu (10/9).

    Sebagai contoh, kata Politisi PKS ini, dalam hal pengadaan pesawat latih T-50 asal Korea Selatan, ternyata belum dilengkapi dengan teknologi canggih seperti radar dan JPS sebagai penunjang dan pelengkapnya.

    “Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Kasus pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia yang dibeli Indonesia pertama kali, tanpa dilengkapi senjata tidak seharusnya terulang kembali. DPR maunya pengadaan alutsista yang dilengkapi dengan perangkat tempur standar,” tegas Mahfudz.

    Dalam waktu dekat ini, Indonesia berencana membeli 16 pesawat T-50 dari Korsel. Menurut laman aircraftcompare.com, harga satuan pesawat ini mencapai US $ 21 juta atau sekitar Rp 179,9 miliar.

    Mahfudz mengatakan, bahwa DPR tetap menekankan bahwa dalam penggunaan peningkatan anggaran Kemenhan 2012 sebesar Rp 61 trilun tetap mengedepannya produksi Alutsista dari dalam negeri. Kalaupun terpaksa harus dari luar negeri, Pemerintah harus menggandeng negara produsen Alutsista yang bersedia mentrasfer teknologinya.

    “Karena itu, sebagian Alutsista yang dibeli, sebaiknyai diproduksi di dalam negeri,” ucapnya.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Ketua Komisi I : Sistem Pengadaan Alutsista Harus Diperbaiki

    Pemerintah Diharapkan Beli Pesawat PT DI Sebesar Rp 9,23 Triliun

    Jakarta - Pemerintah diharapkan menegaskan komitmennya dalam mendorong penggunaan produk dalam negeri pada semua lini, termasuk pada produk pesawat militer.

    Jika pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan, mengalihkan pembelian seluruh anggaran pesawat militernya ke dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia (Persero) yakin dapat menyabet peluang pasar domestik senilai Rp 9,23 triliun.

    "Target itu bisa dipenuhi jika pemerintah punya komitmen memakai produk dalam negeri," demikian kutipan isi dokumen Supplement Business Plan PT DI Tahun 2011-2015 halaman 44 yang diterima Kompas di Jakarta, Minggu (11/9/2011).

    Dokumen ini secara resmi telah dipublikasikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada 8 September 2011.

    Kebutuhan alat utama sistem persenjataan yang dapat dipenuhi PT DI dibagi dalam empat jenis. Pertama, produk pesawat terbang militer tipe CN235 MPA sebanyak 1 unit senilai Rp 350 miliar per unit pada 2012 untuk TNI Angkatan Udara.

    Selain itu, juga bisa dibuatkan CN235 Patroli Maritim sebanyak tiga unit seharga masing-masing 30 juta dollar AS untuk TNI Angkatan Laut. Terakhir, pesawat pengganti F-27 dan NC-212 sebanyak 8 unit senilai 325 juta dollar AS untuk TNI Angkatan Udara tahun 2011.

    Kedua, kelompok helikopter jenis BELL 412 EP tipe serbu sebanyak delapan unit bernilai 85 juta dollar AS pada tahun 2011 dan 2012 lalu BELL 412 EP tipe angkut delapan unit senilai 85 juta dollar AS. Selain itu, bisa juga dibuatkan helikopter jenis Fennec AS-550 sebanyak delapan unit seharga 90 juta dollar AS pada tahun 2011. Ketiganya ditawarkan kepada TNI Angkatan Darat.

    Adapun helikopter yang ditawarkan ke TNI Angkatan Udara adalah helikopter jenis EC-725 Cougar Combat SAR sebanyak enam unit bernilai 200 juta dollar AS dan helikopter NAS-332 Super Puma sebanyak dua unit senilai Rp 370 miliar.

    Sementara helikopter yang ditawarkan kepada TNI Angkatan Laut adalah tiga unit BELL 412 EP angkut sedang senilai 30 juta dollar AS dan satu unit AS-565 Panther AKS sebesar Rp 200 miliar.

    Ketiga, PT DI juga siap menyediakan dua unit SUT Torpedo tipe 364 MKO untuk TNI Angkatan Laut senilai Rp 60 miliar (untuk penjualan tahun 2013-2014). Keempat, PT DI juga bisa menyediakan satu paket simulator terjun payung untuk TNI Angkatan Darat senilai Rp 76 miliar.

    Dengan demikian, total potensi pasar dalam negeri yang ingin digaet PT DI antara 2011-2014 adalah 905 juta dollar AS plus Rp 1,087 triliun. Itu setara Rp 9,23 triliun.

    Sumber : KOMPAS
    Readmore --> Pemerintah Diharapkan Beli Pesawat PT DI Sebesar Rp 9,23 Triliun

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.