ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, April 3, 2010 | 6:41 PM | 0 Comments

    Negara Maritim Tapi Minim Kekuatan Lautnya


    Kupang (ANTARA News) - Senin itu (29/3), KRI Soetanto berlabuh sendirian di Markas Komando Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) VII/Kupang di Bilangan Bolok, 15 km arah barat ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Kapal perang ukuran sedang ini tengah "opname" sambil menunggu pelaksanaan Operasi Arung Hiu 2010 di wilayah timur Indonesia.

    "Kita punya KRI Weling berbasis di Lantamal Kupang, namun saat ini sedang bertugas di tempat lain," kata Kepala Bagian Penerangan Lantamal VII/Kupang Mayor (KH) Abdul Rohim.

    Wilayah operasi Lantamal VII tidak hanya Nusa Tenggara Timur, tetapi juga Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Maluku Tenggara.

    "Wilayah operasional kita sangat luas, tetapi minim sekali dengan armada pendukung operasional seperti kapal perang untuk memantau pulau-pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor Leste maupun Australia," katanya.

    Satu lagi yang dimiliki Lantamal VII, Kapal Angkatan Laut (KAL) Kembang, namun daya jelajahnya hanya sampai 40 mil, sehingga tidak bisa mencapai pulau terluar seperti Pulau Batek di Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, yang berbatasan langsung dengan Oecusse, kantung (enclave) Timor Leste.

    Pulau kecil yang di bibir pantai Oepoli, Kecamatan Kupang Timur itu, sempat diklaim Timor Leste sebagai teritorinya, karena letaknya dekat ke Oecusse.

    Indonesia kukuh mengklaim pulau ini adalah bagian tak terpisahkan dari kepulauan nusantara, karena di sana sudah dibangun sebuah mercusuar jauh sebelum Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia pada 1976.

    Langkah politik ini dipertegas dengan latihan perang TNI-AL di wilayah kepulauan itubeberapa tahun lalu yang membuat gerah Ramos Horta yang ketika itu masih menjabat Perdana Menteri Timor Leste.

    TNI-AD langsung menggelar pasukan di pulau itu dengan menempatkan personel organik dari Batalyon Infanteri 743/Pradnya Samapta Yudha, pasukan organik di bawah Korem 161/Wirasakti Kupang.

    Ketika tanggungjawab pengamanan wilayah perbatasan NTT-Timor Leste diserahkan sepenuhnya kepada Yonif 744/Satya Yudha Bhakti, juga pasukan organik dari Korem 161/Wirasakti Kupang, maka semua pasukan organik Yonif 743 ditarik dari pulau-pulau terluar.

    Selain Pulau Batek, pulau terluar lainnya di NTT adalah Pulau Dana Rote yang berbatasan langsung dengan Australia, serta Pulau Manggudu di bagian selatan Sumba Timur, juga berbatasan langsung dengan Australia.

    Kedua pulau ini sempat dikelola sebagai objek wisata oleh pengusaha Australia.

    Modus operandi yang mereka gunakan adalah mengawini putri tuan tanah setempat, kemudian perlahan-lahan menguasainya.

    Bisnis pariwisata di kedua pulau terluar itu pun berhenti total begitu TNI-AD menerjunkan pasukan untuk menjaga kedaulatan NKRI dari pengambilalihan diam-diam oleh asing.

    "Untuk beroperasi ke pulau-pulau terluar dan wilayah perairan perbatasan antara Indonesia-Australia dan Timor Leste, masih jarang dilakukan karena terbentur minimnya sarana pendukung operasional seperti kapal perang untuk patroli," ujar Abdul Rohim.

    Menurutnya, jangankan mengamankan wilayah perbatasan laut RI-Australia, pulau-pulau terluar saja sulit dijangkau. KAL Kembang, saja hanya mampu menjangkau Pulau Rote di selatan Indonesia yang berjarak sekitar 40 mil dari Kupang.

    "Para nelayan kita sering mengeluhkan ulah patroli AL Australia yang menangkap mereka dalam wilayah perairan kita. Kami belum bisa berbuat banyak untuk menjawab keluhan para nelayan kita," akunya.

    Komando Lantamal VII membawahi tiga Pangkalan TNI-AL (Lanal), yakni Lanal Maumere di Pulau Flores bagi tengah, Lanal Mataram di Nusa Tenggara Barat dan Lanal Rote di Kabupaten Rote Ndao.

    Ketiganya membawahi 24 Pos AL, menyebar dari Maluku Tenggara, Kepulauan Alor, NTB, sampai beberapa tempat di NTT.

    Baik Lanal maupun Pos AL, tidak dilengkapi sarana operasional memadai, sehingga menghambat tugas menjaga wilayah perairan perbatasan dan pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

    Bayangkan saja, penerangan pos AL yang menyebar di berbagai pulau dalam wilayah operasional Lantamal VII itu, masih menggunakan lampu pelita.

    "Memang ada genset, namun hanya digunakan pada saat mengirim laporan melalui radio atau faksimili dari pos tersebut," papar Abdul Rohim.

    Abdul Rohim tidak berbicara banyak mengenai kekuatan armada yang harus dimiliki Lantamal VII/Kupang yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia, karena kewenangan mengenai ini ada di tangan Mabes TNI.

    "Wilayah operasional kita sangat luas, namun peralatan utama dan sistem persenjataan (Alustita) kita masih sangat terbatas untuk menjangkau pulau-pulau terluar dan wilayah perbatasan RI-Timor Leste dan Australia," katanya.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Negara Maritim Tapi Minim Kekuatan Lautnya

    Rusia akan Terus Pasok Senjata ke Venezuela

    SU-30 Venezuela
    CARACAS--MI: Rusia akan terus memasok peralatan militer kepada Venezuela guna membantu negara Amerika Latin itu meningkatkan pertahanan nasionalnya. Hal itu ditegaskan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Sabtu (3/4).

    "Kami akan terus mendukung pembangunan angkatan bersenjata Venezuela. Seperti anda ketahui, Rusia telah mengirim pesawat tempur berat Su-30 yang paling efisien, dan perlengkapan militer lainnya ke Venezuela," kata Putin dalam konferensi pers bersama setelah bertemu dengan Presiden Venezuela, Hugo Chavez, di Caracas.

    Perdana menteri Rusia tiba di Venezuela, Jumat, untuk melakukan pembicaraan mengenai berbagai masalah termasuk kerjasama teknik-militer dan proyek-proyek bisnis gabungan terutama di bidang energi. Putin mengatakan Rusia siap untuk memberikan bantuan hibah kepada Venezuela senilai 2,2 miliar dolar, yang Chavez ajukan dalam kunjungannya ke Moskow tahun lalu.

    Tank T-72

    Paling tidak, bagian dari pinjaman ini akan digunakan untuk pembelian tank-tank 90 T-72 dan sejumlah peluncur roket multiguna Smerch, atau bahkan kapal selam bertenaga disel serta sistem pertahanan udara S-300. Sejak 2005, Venezuela telah membeli senjata Rusia senilai empat miliar dolar, termasuk pesawat-pesawat terbang, helikopter dan senjata Kalashnikov.

    Helikopter Mi-17
    Tidak ada perjanjian teknik-militer baru yang ditandatangani dalam pertemuan Jumat itu. Namun Rusia mengirimkan empat dari 38 helikopter transportasi militer Mi-17, yang dibeli sebelumnya oleh Venezuela. Chavez, yang kebijakan dalam negeri dan internasionalnya belakangan dikecam oleh negara-negara musuhnya, mengatakan, Venezuela ingin meningkatkan kemampuan pertahanannya.

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Rusia akan Terus Pasok Senjata ke Venezuela

    Pakai Helikopter, Menhan Tinjau Pulau Batek


    ATAMBUA, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meninjau keberadaan Pulau Batek yang berada di perbatasan RI-Timor Leste melalui udara menggunakan helikopter Mi-17 dari Skadron Udara Serbu 31 TNI Angkatan Darat, Sabtu (3/4/2010) siang. Pemantauan dilakukan mulai dengan menyisir ke arah utara barat laut dari Atambua di atas ketinggian 3.000 kaki.

    Saya juga ingin melihat langsung kondisi para prajurit TNI yang bertugas di perbatasan.

    Dalam peninjauan itu, Menhan didampingi Panglima Kodam IX/Udayana Mayjen TNI Hotma Mangaraja Pandjaitan, Komandan Korem 161/Wirasakti Kolonel Dody, Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Syarifuddin Tippe, dan Dirjen Perencanaan Pertahanan Laksamana Muda TNI Gunadi.

    Dalam peninjauan udara itu, Menhan mendapat penghormatan dari prajurit Batalyon 744 Korem 161/Wirasakti yang bertugas menjaga pulau tersebut. Di atas ketinggian 500 kaki, Menhan menjawab penghormatan 26 prajurit di Pulau Batek tersebut.

    Tak jauh dari Pulau Batek, sebuah kapal perang TNI Angkatan Laut KRI Slamet Riyadi-352 sedang melintas melakukan patroli rutin di wilayah perbatasan laut RI-Timor Leste. Komandan dan para awak kapal pun turut memberikan penghormatan kepada Menhan Purnomo yang membalasnya dengan mencondongkan kepalanya sedikit ke jendela helikopter dan melambaikan tangannya.

    Pulau Batek merupakan salah satu dari 10 pulau yang berada di perbatasan laut RI-Timor Leste. Pulau dengan luas tiga kali lapangan bola itu memiliki potensi rawan keamanan.

    Sebelum meninjau Pulau Batek melalui udara, Menhan Purnomo meninjau salah satu pintu perbatasan darat utama RI-Timor Leste di Mota’ain, Atambua.

    Menhan mengatakan, kunjungannya untuk melihat langsung kondisi wilayah perbatasan RI dengan sejumlah negara termasuk Timor Leste, baik perbatasan darat maupun laut.

    Tak hanya itu, lanjut Purnomo, pihaknya juga tengah mendata apa saja yang dibutuhkan prajurit, sarana dan prasarana untuk mendukung tugas pengamanan perbatasan RI dengan sejumlah negara.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Pakai Helikopter, Menhan Tinjau Pulau Batek

    Russia's Black Sea Fleet may lose all warships by 2015


    The majority of warships in the Russian Black Sea Fleet have been in service for over 30 years and would not be fit for sea missions by 2015, a Russian newspaper said.
    "The crews will certainly try to keep their ships in decent condition until the last moment, but the "iron" has its service life. Nobody would dare to set sail on a ship whose bottom has rotten away," the Gazeta newspaper said on Friday citing a Navy source.
    Earlier reports indicated that the Black Sea Fleet is set to decommission the Ochakov destroyer and a diesel submarine built in 1982. Next on the "scrap" list are the Kerch destroyer and several large support ships.
    The fleet does not expect any additions in 2010 and the prospects of new deliveries in the next few years are also quite slim, the source said.
    The official said the only solution for the looming crisis would be the construction of at least a dozen of Project 20380 corvettes which have been designed to protect Russia's coastal waters and oil and gas sea transportation routes, especially in the Baltic Sea and the Black Sea.
    The first Project 20380 corvette, the Steregushchy, was put into service with Russia's Baltic Fleet in October 2008. The second, the Soobrazitelny, was floated out on March 31, and two other ships of the same series, the Boyky and the Stoyky, are under construction.
    The source said that the Russian shipbuilding industry simply does not have the capacity to build the sufficient number of warships and submarines to satisfy the needs of the fleet.
    "All shipbuilding yards are swamped with foreign orders years ahead, and it is difficult to raise the production capacity even with sufficient financing because they do not have enough skilled workers," the source said.
    He expressed hope that Russia would be able to order some warships to be built at Ukrainian shipyards now that Moscow and Kiev have set step on the way to improve relations that soured during the presidency of Viktor Yushchenko.

    From: http://en.rian.ru/mlitary_news/20100403/158417122.html
    Readmore --> Russia's Black Sea Fleet may lose all warships by 2015

    Ranjau Darat Ancam Bosnia dan Herzegovina


    BEOGRAD--MI: Meskipun permusuhan di Bosnia dan Herzegovina berakhir 15 tahun lalu, hampir 3,5 persen wilayah negeri itu tetap dipenuhi ranjau darat, demikian keterangan Pusat Aksi Ranjau (MAC) di Sarajevo, Jumat (2/4).

    Medan ranjau darat yang dicurigai dan diidentifikasi berada di wilayah seluas 1.573 kilometer persegi di negeri tersebut, secara keseluruhan sedikit lebih dari separuh massa lahan di negara bagian Rhode Island. Sebanyak 220.000 ranjau dan "bom yang tak meledak" di 13.077 lokasi diidentifikasi ketika strategi 10 tahun digagas pada 2009.

    Menurut MAC, strategi saat ini bertujuan untuk memindahkan seluruh ranjau darat paling lambat sampai 2019. Sasaran itu ialah untuk menjadikan Bosnia dan Herzegovina sebagai "negara yang bebas ranjau darat, dan tanpa kejadian ranjau serta korban ranjau berbaur dengan masyarakat".

    Beberapa tim pembersih ranjau di Bosnia telah mengidentifikasi dan menghancurkan lebih dari 26.000 ranjau dan bermacam bahan peledak anti-personil sejak 1996. Selama perang saudara, 495 orang tewas oleh ranjau dan lebih dari 1.200 orang cedera, demikian keterangan MAC.

    Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/03/133499/39/6/Ranjau-Darat-Ancam-Bosnia-dan-Herzegovina
    Readmore --> Ranjau Darat Ancam Bosnia dan Herzegovina

    Gaji TNI Harus Naik


    JAKARTA--MI: Pengamat masalah pertahanan dan politik luar negeri, Dr Yusron Ihza Mahendra menilai, gaji maupun tunjangan kesejahteraan bagi prajurit TNI harus dinaikkan demi peningkatan kualitas dan profesionalitas TNI dalam menjalankan tugasnya.

    "Program remunerasi (peningkatan gaji dan tunjangan) seperti ini bahkan perlu dilakukan pemerintah terhadap PNS lainnya, sejalan dengan amanat konstitusi untuk melakukan reformasi birokrasi, demi mengubah wajah pelayanan publik kita," katanya, Sabtu (3/4).

    Ia mengatakan hal itu terkait Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro yang menyatakan bahwa program remunerasi TNI jangan dikaitkan dengan kasus penggelapan pajak yang dilakukan pegawai Ditjen Pajak Depkeu, Gayus Tambunan.

    Karena itu, lanjut Yusron Ihza Mahendra, program remunerasi tidak boleh berhenti hanya karena hal yang kasuistis seperti kasus Gayus Tambunan itu. Mantan Wakil Ketua Komisi I DPR RI periode 2004-2009 dari Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) itu menambahkan, dalam kaitan program itu, seyogianya standar upah minimum di perusahaan swasta pun perlu ditinjau pula.

    "Berharap orang bekerja dengan baik, tapi dengan upah dan tunjangan yang murah, adalah tidak fair," tegas doktor ilmu politik lulusan Universitas Tsukuba Jepang itu.

    Malah, kata Yusron Ihza Mahendara, gaji murah akan membuat daya beli masyarakat menjadi rendah. "Dan ini menyulitkan untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," katanya mengingatkan.

    Khusus untuk prajurit TNI, menurutnya, kenaikan gaji dan tunjangan itu sebelumnya sudah amat terlambat. "Tetapi tentu ini masih lebih baik, ketimbang tidak," imbuh Yusron.

    Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/03/133528/18/1/Gaji-TNI-Harus-Naik
    Readmore --> Gaji TNI Harus Naik

    Rusia Perluas Jejak di Amerika Latin


    Caracas, Jumat - Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Bolivia Evo Morales, Jumat (2/4), untuk menandatangani kerja sama energi dan militer. Kerja sama itu memperluas jejak Rusia di Amerika Latin.

    Kunjungan Putin untuk pertama kalinya ke Venezuela menegaskan mendalamnya hubungan Rusia dan Amerika Latin. Rusia dan Venezuela pernah menandatangani 12 kesepakatan militer tahun 2005 dan 2007 senilai sekitar 4,4 miliar dollar AS yang memicu kekhawatiran para pembuat kebijakan di AS.

    Presiden Hugo Chavez, Kamis malam, mengatakan, kunjungan Putin merupakan hari penting bagi Amerika Latin. ”Kita membangun dunia yang baru dan multipolar,” katanya.

    Putin dan Chavez akan menandatangani kesepakatan yang tidak sebatas pada soal militer dan energi, tetapi juga isu sosial, kebudayaan, dan kesehatan. Puncak agenda adalah pembentukan bank pembangunan Rusia-Venezuela untuk membiayai perusahaan patungan eksplorasi minyak dan gas di Orinoco, wilayah timur Venezuela yang kaya minyak.

    Perusahaan patungan itu—60 persen dimiliki Venezuela dan 40 persen dimiliki sebuah konsorsium perusahaan Rusia—diperkirakan akan menghasilkan 450.000 barrel minyak per hari.

    Hubungan

    Hubungan Rusia-Venezuela meningkat belakangan ini. Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengunjungi Venezuela pada akhir tahun 2008 dalam sebuah latihan bersama angkatan laut, sementara Chavez mengunjungi Moskwa, September tahun lalu.

    Adapun Putin dan Morales akan membahas perusahaan patungan kedua negara untuk eksplorasi minyak dan gas di Bolivia, yang merupakan pemilik cadangan gas alam terbesar kedua di Amerika Latin. Saat berkunjung ke Moskwa pada Februari lalu, Morales dan Medvedev menandatangani memorandum kerja sama energi untuk mengembangkan jaringan pipa gas di Bolivia.

    Morales juga diperkirakan akan mencari pinjaman sebesar 100 juta dollar AS dari Rusia untuk membeli perangkat militer, termasuk pesawat Antonov untuk dipergunakan presiden. Kepala Badan Kerja Sama Militer Rusia Mikhail Dmitriyev mengatakan, Moskwa siap memberikan Bolivia pinjaman tersebut.

    Rusia adalah pengekspor minyak terbesar kedua di dunia dan produsen gas terbesar dunia. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di Amerika Latin dan 7,9 persen cadangan minyak dunia.

    Perdagangan antara Rusia dan Venezuela mencapai 957,8 juta dollar AS (2008), turun 15 persen dari 1,13 miliar dollar AS pada tahun sebelumnya. Ekspor Rusia ke Venezuela, kebanyakan pesawat militer, menjadi bagian terbesar dalam perdagangan itu dengan nilai 957,4 juta dollar AS. Ekspor Venezuela ke Rusia hanya 400.000 dollar AS.

    Di bidang kerja sama militer, Rusia mengirim dua pengebom berkapasitas nuklir jarak jauh Tu-160 ke Venezuela pada September 2008 dalam sebuah ”misi pelatihan”. Pada tahun yang sama, Moskwa juga mengirim kapal penjelajah berkemampuan nuklir, Peter the Great; sebuah kapal perusak; dan kapal-kapal lain ke perairan Karibia dalam latihan gabungan dengan Angkatan Laut Venezuela.

    Pada Maret 2009, Chavez mengatakan kepada Medvedev bahwa dia memperbolehkan pesawat-pesawat Rusia menggunakan pangkalan udara di salah satu pulau Venezuela, La Orchila.

    Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/03/0512089/rusia.perluas.jejak.di.amerika.latin
    Readmore --> Rusia Perluas Jejak di Amerika Latin

    Friday, April 2, 2010 | 7:08 PM | 0 Comments

    China Akan Beli Sistem Pertahanan Udara Dari Rusia

    Moskow (ANTARA/Reuters) - China telah sepakat untuk membeli dalam jumlah besar sistem rudal anti-pesawat S-300 dari Rusia, kantor berita Rusia, Interfax melaporkan, Jumat.

    Rudal S-300 yang diangkut truk, di Barat dikenal dengan SA-20, dapat menembak jatuh rudal-rudal dan pesawat terbang.

    Interfax mengutip Igor Ashurbeili, Direktur Jenderal Almaz Antei, yang membuat rudal canggih tersebut, mengutarakan bahwa China akan menerima 15 baterei rudal S-300.

    Igor Ashurbeili tidak mengungkapkan nilai penjualan dalam perjanjian tersebut.

    Di Angkatan Bersenjata Rusia, satu baterei S-300 secara normal berisi empat truk pengangkut, setiap truk terdapat empat rudal yang diikat dengan pipa logam.

    Moskow mengatakan pihaknya merencanakan akan memenuhi kontrak guna memasok S-300, yang di Rusia bernama "favorit" kepada Iran.

    Penjualan rudal S-300 kepada Iran ini membingungkan Israel dan sekutu dekat negara Zionis Yahudi, Amerika Serikat.

    Kemungkinan Rusia menjual S-300 kepada Teheran, yang dapat melindungi fasilitas nuklir Iran dari serangan udara, menjadi isu sensitif dalam hubungan Rusia dan Israel.

    Sumber: YAHOO/ANTARA
    Readmore --> China Akan Beli Sistem Pertahanan Udara Dari Rusia

    France Orders 8 CN-235 Transports Pending A400M Deliveries


    Paris - France's Direction Générale pour l'Armement (DGA) has ordered eight Casa CN-235 transport aircraft for 225 million euros ($305 million) as a stopgap measure pending delivery of the larger A400M airlifter, the procurement office said April 1.

    "In line with the decision of the Ministry of Defense taken at the end of last year at a ministerial investment committee, the Direction Générale pour l'Armement has ordered 8 light transport aircraft of the Casa CN-235 type," the DGA said in a statement The contract, signed March 25, includes initial service support from EADS Casa, with deliveries to the French Air Force scheduled between 2011 and 2013.

    The eight new aircraft will join the 19 CN-235 planes in service and allow missions to be better distributed among the Transall C-160, Hercules C-130 and Casa CN-235s flown by the Air Force.

    DGA chief Laurent Collet-Billion told a parliamentary hearing March 24 that the present fleet of aging transports met only about 25 percent of the cargo mission set out in the white paper on defense and national security. Some aircraft are more than 40 years old and are costly to maintain.

    A major concern of the service is the difficulty in maintaining pilot skills and flight hours with the present fleet.

    The twin-engine propeller Casa CN-235 performs logistical supply and parachute drops. The plane has a range of 3,500 kilometers and carries 5 tons of cargo or 40 passengers.

    A first delivery of the A400M aircraft in its basic cargo-carrying configuration is due in 2013, with an expected entry into service the following year.

    from: defense news
    Readmore --> France Orders 8 CN-235 Transports Pending A400M Deliveries

    Latihan Militer Indonesia-Malaysia Digelar


    TEMPO Interaktif, Jakarta - Latihan Gabungan Bersama Malaysia-Indonesia Darat Samudera Angkasa (Latgabma Malindo Darsasa) dibuka Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dan Panglima Angkatan Tentara Malaysia (ATM) Jenderal Tan Sri Dato Sri Azazan Arifin, hari ini. Latihan gabungan akan berlangsung hingga 10 April.

    Pusat Penerangan Mabes TNI mengabarkan itu melalui surat elektronik, Jumat (2/4). Para peserta dari TNI terdiri dari unsur-unsur Detasemen-81 Gultor Kopasus TNI AD, Denjaka TNI AL dan Denbravo TNI AU. Latihan mengambil tempat di lokasi strategis di Malaysia seperti Everly Resort Hotel, Selat Malaka dan Bandara Batu Berendam.

    Latihan ini dilaksanakan berdasarkan hasil keputusan sidang High Level Committe (HLC) ke-3 pada tanggal 10 Mei 2007 di Jakarta tentang persetujuan Direktif Malindo Latgabma Darsasa-7AB/2010. Latihan gabungan bersama antara ATM dan TNI tahun ini bertujuan melatih Combine Joint Task Forces – Counter Terorism (CJTF-CT) yang dibentuk dalam rangka meningkatkan kerjasama, pengertian dan profesionalisme.

    Sebelumnya Asisten Operasi (ASOPS) Panglima TNI Mayjen TNI Supiadin AS bersama Asisten Ketua Staf Operasi dan Latihan Pertahanan Malaysia (MATM) Laksda Dato Abdul Hadi Bin A. Rashid kemarin Senin (1/4) meninjau pelaksanaan pembangunan Madrasah di daerah Masjid Tanah Malaka. Pembangunan Madrasah ini merupakan satu diantara kegiatan bakti sosial bagi masyarakat setempat oleh TNI dan ATM.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Latihan Militer Indonesia-Malaysia Digelar

    Menhan akan Tinjau Kawasan Perbatasan RI-Timor Leste

    KUPANG--MI: Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro dijadwalkan memantau perbatasan RI-Timor Leste dan Pulau Batek, Sabtu (3/4) setelah mengikuti prosesi perayaan Paskah di Larantuka, ibu kota Flrores Timur, Nusa Tenggara Timur.

    Asisten II Setda NTT Ansgerius Takalapeta, Jumat (2/4) mengatakan Menhan tiba dengan pesawat Hercules di Bandara Wai Oti, Maumere, yang berbatasan dengan Flores Timur pada Jumat pagi, sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju Larantuka.

    Dari Larantuka, kata Ansgerius, Menhan kembali ke Maumere untuk kemudian menuju Kupang, selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan helikopter menuju Atambua, Kabupaten Belu.

    Titik perbatasan yang bakal dikunjungi antara lain pos perlintasan Mota Ain di bagian barat Belu. Pos ini telah mengunakan pelayanan satu atap untuk memudahkan pelayanan kepada pelintas batas menuju Timor Leste maupun ke Indonesia. Pelayanan satu atap mencakup imigrasi, polisi, TNI, dan karantina.

    Selanjutnya Menhan akan memantau pos-pos di sepanjang perbatasan Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang dengan Distrik Oekusi. Di wilayah ini, Menhan meneruskan perjalanan ke Pulau Batek yang hanya berjarak sekitar lima mil dari lepas pantai. Pulau yang terletak di perbatasan laut RI-Timor Leste ini sudah ditempati prajurit TNI dari Korem 161 Wirasakti Kupang.

    Selain Mota Ain dan Pulau Batek, menurutnya, sejumlah tiitk juga akan dikunjungi Menhan hanya saja tidak diumumkan karena berkaitan dengan aspek keamanan. "Semua unit di perbatasan dan Atambua sudah siap mengamankan kunjungan Menhan," katanya. Dari Pulau Batek, Menhan kembali ke Kupang guna mengadakan pertemuan dengan muspida Nusa Tenggara Timur sebelum kembali ke Jakarta

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Menhan akan Tinjau Kawasan Perbatasan RI-Timor Leste

    Thursday, April 1, 2010 | 10:16 PM | 0 Comments

    Kementerian Pertahanan Mau Tangani Badan Usaha

    Depok, Kompas - Kementerian Pertahanan ingin menangani badan usaha milik negara industri pertahanan berpasangan dengan Kementerian BUMN. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan industri pertahanan.

    Demikian diutarakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro seusai simposium nasional tentang kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (30/3).

    Purnomo menjelaskan, dalam struktur pemerintahan, BUMN selalu berada di bawah Kementerian BUMN yang menangani kinerja korporat dan satu kementerian lagi untuk teknis. Ini seperti PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia yang juga berada di bawah koordinasi tiga kementerian, yakni Kementerian Perindustrian, Riset dan Teknologi, serta Keuangan. ”Kita ingin jangan banyak tangan,” katanya.

    Purnomo mengatakan, banyak pertanyaan, apakah setelah berada di bawah Kementerian Pertahanan industri strategis itu bisa dibesarkan? Kementerian Pertahanan bisa menjamin pemenuhan beban dasar hingga 40 persen. Untuk skala keekonomian yang mencapai 60 persen, instansi Bea dan Cukai, Perhubungan, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan didorong menggunakan hasil industri pertahanan itu, sisanya diekspor.

    Purnomo juga mengakui, Kementerian Pertahanan tengah menggodok Rancangan Undang- Undang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Tujuan pembentukan RUU ini adalah agar KKIP mendapat payung hukum yang lebih kuat.

    Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan Erris Herryanto mengatakan, pada 22 Juni 2010 pihaknya mempersiapkan daftar belanja sebesar Rp 800 miliar dari TNI dan Polri, sebagaimana disetujui Kementerian Keuangan, untuk revitalisasi industri pertahanan.

    Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/01/04050567/kementerian.pertahanan.mau.tangani.badan.usaha..
    Readmore --> Kementerian Pertahanan Mau Tangani Badan Usaha

    TNI AL Buka Tender Pengganti KRI Dewaruci

    JAKARTA--MI: Mabes TNI Angkatan Laut segera membuka tender untuk mencari pengganti kapal latih KRI Dewaruci yang telah berusia lebih dari 50 tahun.

    "Pembukaan lelang dijadwalkan tahun ini, karena kami menargetkan penggantian Dewaruci akan berlangsung dalam dua tahun ke depan," kata juru bicara TNI Angkatan Laut Kolonel Laut (P) Herry Setianegara di Jakarta, Kamis (1/4).

    Ia menambahkan, pengganti Dewaruci tetap adalah kapal layar tiang tinggi namun lebih besar. Panjang kapal 105 meter, memiliki empat tiang pancang utama dan mampu mengangkut kadet AAL minimal 100 orang.

    Tentang kemungkinan kapal pengganti diadakan dari Jerman, seperti halnya Dewaruci, Herry mengemukakan, "Kami tidak menyebut negara mana, namun kami akan segera membuka lelang terbuka."

    Ia menambahkan, pembukaan lelang bagi KRI Dewaruci akan dikoordinasikan dengan Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan sesuai aturan berlaku.

    KRI Dewaruci dibuat pada 1952 oleh HC Stulchen dan Sohn Hamburg, Jerman dan pertama kali diluncurkan pada 24 Januari 1953. Pada Juli 1953, kapal tersebut dilayarkan dari Jerman ke Indonesia oleh taruna dan kadet AAL untuk menjadi kapal latih calon perwira TNI AL.

    Kapal dengan panjang 58,30 meter, lebar lambung 9,50 meter, draft 4,50 meter, dan bobot mati 847 ton itu, telah dilengkapi dengan sistem navigasi canggih dan komputerisasi. Kapal tipe barquentin ini memiliki tiga tiang utama dengan 16 layar. Selain itu, kapal tersebut dilengkapi mesin berkekuatan 986 PK diesel dengan kecepatan maksimal 10,5 knot.

    Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/01/133253/17/1/TNI-AL-Buka-Tender-Pengganti-KRI-Dewaruci
    Readmore --> TNI AL Buka Tender Pengganti KRI Dewaruci

    Pesawat Angkatan Laut Amerika Jatuh di Teluk Persia

    TEMPO Interaktif, Bahrain - Sebuah pesawat Angkatan Laut Amerika jatuh di kawasan Teluk Persia pada hari Rabu (31/3). Pejabat militer mengatakan, salah satu dari empat awak pesawat dinyatakan hilang.

    Angkatan Laut Amerika dalam pernyataannya mengungkapkan, pencarian dan upaya penyelamatan sedang berjalan. Tiga awak pesawat berhasil diselamatkan.

    Pesawat Hawkeye E-2C, yang terutama digunakan untuk mendeteksi pesawat masuk dalam radar diameter 24-kaki radar diameter, lalu jatuh di Laut Arab Utara. "Terdapat kerusakan mekanik," kata pernyataan itu.

    Pesawat ini digunakan sebagai pesawat pemberi perintah dan fungsi kontrol dan dioperasikan dari kapal induk Amerika, Dwight D. Eisenhower.

    Turut membantu dalam pencarian awak yang hilang selain Eisenhower adalah beberapa pesawat, helikopter dari rudal perusak yang dipandu USS Carney, dan penambahan beberapa kapal.

    Angkatan Laut sedang menyelidiki penyebab kejadian ini.

    E-2 Hawkeye adalah pesawat dengan mesin dan turboprop kembar yang dapat membawa sampai lima anggota awak. Hawkeye menyediakan informasi tentang cuaca dan peringatan dini kondisi udara, di samping untuk pengawasan, koordinasi tempur dan operasi pencarian dan penyelamatan.

    Pesawat ini menggunakan sistem radar komputerisasi dan sensor pengintaian elektronik untuk memberikan peringatan dini dan untuk mengidentifikasi udara dan potensi musuh dan target yang disasar.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Pesawat Angkatan Laut Amerika Jatuh di Teluk Persia

    Wednesday, March 31, 2010 | 10:35 AM | 0 Comments

    KRI KAREL SATSUITUBUN TAHAN KAPAL PENGANGKUT BBM ILEGAL


    ARMATIM (31/3),- Kapal Perang TNI Angkatan Laut KRI Satsuitubun (KST) – 356 dari unsur jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) yang sedang melaksanakan tugas patroli keamanan laut berhasil menahan sebuah kapal yang pengangkut bahan bakar minyak (BBM) ilegal di sekitar Laut Banda, Kepulauan Maluku, Kamis (25/3).

    Kapal Motor Bintang Mutiara II yang dinakhodai Trisno ditahan bersama 15 orang ABK (Anak Buah Kapal) yang kesemuanya warga Negara Indonesia. Ketika ditahan, kapal itu berbobot mati 30 GT (Gross Ton) sedang memuat BBM jenis solar sebanyak 20 Ton.

    Komandan KRI Karel Satsuitubun (KST) – 356 Letkol Laut Yoos Suryono Hadi menjelaskan, kapal tersebut diduga telah melakukan pelanggaran karena membawa solar secara ilegal.

    ”Solar itu ditempatkan di dalam palka yang biasa dipergunakan sebagai tempat ikan,” tegasnya.

    Untuk penyelidikan dan proses hukum lebih lanjut maka kapal serta semua barang bukti dikawal menuju Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX Ambon.

    Sumber: http://www.tni.mil.id/news.php?q=dtl&id=2011200920113158
    Readmore --> KRI KAREL SATSUITUBUN TAHAN KAPAL PENGANGKUT BBM ILEGAL

    Pesawat Tempur Asing Bikin Israel Ketar-ketir


    JERUSALEM, KOMPAS.com - Angkatan Udara Israel, Selasa (30/3/2010), mengirim sejumlah pesawat tempurnya ke kota Haifa utara setelah beberapa pesawat tempur asing mendekati wilayah udaranya.

    Laporan Stasiun TV Saluran Dua menyebutkan, pesawat-pesawat tempur negara Zionis itu kembali ke pangkalannya setelah memastikan bahwa pesawat militer asing tersebut tidak bermaksud jahat.

    Dalam beritanya, TV Saluran Dua tidak mengungkapkan negara asal pesawat-pesawat militer yang terbang mendekati pantai Israel dari Mediterania tersebut. Berita stasiun TV itu juga tidak menjelaskan maksud misi pesawat-pesawat tempur asing di dekat wilayah udara Israel tersebut.

    Pihak militer Israel tidak mengeluarkan pernyataan apapun tentang insiden yang terjadi di saat rakyat Israel bakal merayakan Hari Raya Paskah ini.

    Angkatan bersenjata Israel sensitif terhadap serangan di hari suci sejak adanya serangan mendadak Siria dan Mesir di saat perayaan Yom Kippur pada Perang Timur Tengah 1973. Israel adalah negara yang dibangun pada 1948 di atas tanah rakyat Palestina dengan dukungan Inggris dan sejumlah negara Barat lainnya.

    Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/03/31/03210288/Pesawat.Tempur.Asing.Bikin.Israel.Ketar-ketir.
    Readmore --> Pesawat Tempur Asing Bikin Israel Ketar-ketir

    Tuesday, March 30, 2010 | 11:09 PM | 0 Comments

    Russia set to float out 2nd stealth corvette

    St. Petersburg's Severnaya Verf shipyard will float out on Wednesday a new corvette featuring stealth technology, a Russian Navy spokesman said.

    The Soobrazitelny is the second Project 20380 corvette designed by the Almaz Central Marine Design Bureau.

    "The corvette features innovative solutions regarding hull design, armament, communications and electronics," the spokesman said.

    The first Project 20380 corvette, the Steregushchy, was put into service with Russia's Baltic Fleet in October 2008, and two other ships of the same series, the Boyky and the Stoyky, are under construction.

    The Project 20380 corvette can be deployed to destroy enemy surface ships, submarines and aircraft, and to provide artillery support for beach landings. It uses stealth technology to reduce the ship's secondary radar field, as well as its acoustic, infrared, magnetic and visual signatures.

    Russia plans to have up to 30 vessels of this class to ensure the protection of its coastal waters, as well as its oil and gas transportation routes, especially in the Black and the Baltic seas.

    Each corvette has a displacement of 2,000 metric tons, maximum speed of 27 knots, and a crew of 100

    From: RIA
    Readmore --> Russia set to float out 2nd stealth corvette

    Presiden Korea Selatan Inspeksi Pulau Baengnyeong

    BAENGNYEONG, KOMPAS.com — Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, Selasa (30/3/2010), terbang ke pulau perbatasan di selatan perbatasan laut kedua Korea untuk menginspeksi operasi pencarian Angkatan Laut terhadap puluhan awak kapal patroli yang tenggelam dan kini masih hilang, kata pembantu Lee.

    Lee menjadi Presiden Korea Selatan pertama yang mengunjungi Pulau Baengnyeong, 16 kilometer dari pantai barat Korea Utara, yang menjadi tempat bagi penggelaran artileri.

    "Presiden Lee berkunjung menggunakan helikopter untuk memantau perkembangan operasi penyelamatan dan penyelidikan, mengenai sebab-sebab terjadinya kecelakaan," kata seorang penjabat di istana kepresidenan, Cheong Wa Dae.

    "Dia baru saja mengakhiri kunjungan," katanya menambahkan.

    Seorang penjabat, yang berbicara dengan syarat yang tak disebutkan namanya, sebelumnya, meminta agar berita kunjungan presiden tersebut diembargo sampai Lee tiba di tempat yang aman karena hal itu berkaitan dengan keamanan kepala negara.

    Dalam memimpin sidang kabinet mingguan sebelumnya, Lee memerintahkan petinggi militer agar tetap waspada terhadap Korea Utara setelah tenggelamnya kapal tersebut.

    "Ini karena karamnya kapal tersebut terjadi di perbatasan. Karena itu, militer hendaknya siap untuk menghadapi kemungkinan gerakan Korea Utara," kata Lee seperti dikutip oleh juru bicaranya, Park Sun-kyoo.

    Komentar presiden itu terjadi pada saat Angkatan Laut Korea Selatan sedang berusaha memastikan sebab-sebab karamnya kapal tersebut dengan 46 awaknya yang masih hilang, Jumat lalu.

    Sebanyak 58 awak lainnya berhasil diselamatkan. Menteri Pertahanan Kim Tae-young mengatakan, militer mencermati kasus itu dengan membuka segala kemungkinan, termasuk keterlibatan Korea Utara.

    Media di sini mengungkapkan kemungkinan adanya ranjau laut yang diambangkan oleh Korea Utara di sekitar perbatasan, yang dipersalahkan menjadi sebab ledakan kapal berbobot 1.200 ton itu dan terbelah menjadi dua.

    Sebab-sebab ledakan dan karamnya kapal tersebut belum bisa dikonfirmasikan.

    Presiden menyerukan penyelidikan secara cepat dan ilmiah mengenai insiden itu, dan menginstruksikan pemerintahannya untuk menjamin hasil-hasil penelitian itu dibeberkan sepenuhnya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Presiden Korea Selatan Inspeksi Pulau Baengnyeong

    Russia, Greece to hold joint naval drills in 2010

    The Russian and Greek navies will conduct joint exercises in 2010 as part of a bilateral military cooperation action plan, the Russian Defense Ministry said on Tuesday.

    Anatoly Serdyukov met on Tuesday his Greek counterpart Evangelos Venezelos in Moscow to discuss bilateral military ties and a Russian initiative to sign a new European security treaty.

    "15 events are planned for 2010 for the Russian and Greek servicemen, including exchanges, reciprocal visits of the countries' warships and joint naval drills," spokeswoman for the Russian defense minister Irina Kovalchuk told reporters.

    Military-technical cooperation between Russia and Greece began in 1993 and the countries signed an intergovernmental agreement that is currently in force two years later. In the 1990s, Greece acquired over $1 billion worth of Russian weapons.

    Russian TOR-M1 air defense systems, Kornet and Fagot antitank weapons, as well as air cushion landing craft Zubr are in service with the Greek Armed Forces.

    "Our relations in the sphere of military-technological cooperation are very constructive. And they play an important role both in the development of bilateral relations between Russia and Greece and in the development of Russia-EU relations in general," the Greek defense minister said.

    From: RIA
    Readmore --> Russia, Greece to hold joint naval drills in 2010

    Melihat Industri Bom di Kedungkandang yang Bikin Kagum Staf Presiden SBY


    Biasa Dipasang di Sukhoi dan Pesawat Standar NATO

    Siapa sangka jika persenjataan enam pesawat Sukhoi milik Indonesia selama ini tidak dipasok dari Rusia, tapi dari sebuah industri bom skala kecil di Kota Malang. Adalah Ricky Hendrik Egam, orang di balik industri persenjataan made in Indonesia ini.

    Yosi Arbianto

    ---

    Dua bengkel teknik di Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, menjadi tempat produksi bom P-100. Jenis bom P-100 ini termasuk kategori drop bom atau bom yang dijatuhkan dari pesawat.

    Dua bengkel itu disewa Ricky dari seorang pengusaha lokal sejak 2007. Dulu, bengkel itu untuk membuat knalpot motor dan reparasi mesin-mesin industri. Termasuk bengkel pembuatan beberapa suku cadang bus. Sebelum dijadikan lokasi produksi bom, masyarakat setempat mengenal bengkel itu sebagai bengkel knalpot berbendera Raja Knalpot. Kini, nyaris warga sekitar tidak tahu kalau bengkel tersebut membuat persenjataan pesawat tempur Sukhoi.

    "Orang sini nyebutnya bengkel teknikal. Biasanya banyak yang ndandakno mesin, mbubut besi, gawe knalpot. Mosok saiki gawe bom nang kene," tanya Nanang, warga Jalan Muharto heran.

    Ricky menggunakan satu bengkel yang luasnya separo lapangan bola menjadi lokasi asembling dan finishing bom. Di sana banyak alat-alat teknik. Beberapa jenis mesin bubut, mesin bor, peralatan las, hingga alat-alat untuk pengecatan dan balancing (keseimbangan). Di bengkel ini, juga ada kantor dan penyimpanan casing bom yang sudah jadi.

    Sedangkan satu bengkel lagi dengan letak berseberangan, menjadi lokasi pengecoran badan bom. Di bengkel yang ukurannya lebih kecil itu, Ricky membuat casing (selongsong) bom dari besi nodular. Juga membuat fin (penyeimbang/ekor) dari besi ST-37, suslug (cantelan) dari baja VCN 45, tabung isian, nose (bagian depan bom), dan juga pelontar.

    Minggu (28/3) kemarin, empat belas anggota staf khusus kepresidenan datang berkunjung. Mereka melihat aktivitas pembuatan bom yang bisa compatible dipasang di dua jenis pesawat ini. Yakni pesawat Sukhoi 27/30 dan pesawat standar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), seperti F-5. Staf khusus kepresidenan tertarik karena ada industri kecil yang bisa menopang kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) dalam negeri.

    "Terus terang saya baru tahu ini. Mestinya pemerintah memberikan perhatian. Sehingga nanti bisa dikembangkan untuk industri pertahanan," ungkap Purwatmojo, ketua rombongan staf khusus kepresidenan bidang bantuan sosial dan bencana.

    Ada dua jenis bom yang dipabrikasi di bengkel sederhana tersebut. Yakni bom latih P-100 berwarna biru dan bom P-100 L (life) berwarna hijau militer. Dimensi keduanya hampir sama. Bom memiliki panjang 1.100 milimeter, berat 100-125 kilogram, dan diameter 273 milimeter. Untuk panjang ekor (fin) lebih kurang 550 milimeter.

    Bom yang berwarna biru hanya bisa mengeluarkan asap ketika dijatuhkan dan hidungnya menyentuh tanah. Asap berasal dari gas TiCl2 (titanium diclorida) yang dimasukkan dalam tabung di dalam badan bom. Gas di dalamnya keluar karena tabung pecah saat membentur tanah.

    Bom latih berkaliber 100 kilogram ini telah digunakan sejak 2007 oleh pesawat tempur Sukhoi SU 27/30 di Skuadron 11 Ujung Pandang. Bekerjasama dengan Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) sudah ratusan buah bom latih diluncurkan dari Sukhoi.

    Untuk bom yang berwarna hijau militer, bisa meledak. Karena di dalamnya diisi dengan bahan peledak. Proses pengisian bahan peledak dilakukan di dua BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis). Yakni, di PT Pindad untuk jenis bahan peledak militer dan PT Dahana, Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk jenis bahan peledak komersial.

    "Kalau sudah diisi bahan peledak, bomnya langsung diangkut TNI AU sebagai pengguna bom buatan kami. Kami tidak punya izin untuk menyimpan bahan peledak," kata Ricky, pria kelahiran Surabaya 50 tahun lalu ini.

    Khusus untuk bom P-100 L yang bisa meledak, Ricky telah melakukan uji coba statis dan dinamis pada 29 Desember 2009 lalu. Lokasinya di AWR (air weapon range) Pandanwangi, Lumajang. Bom dipasang di pesawat Sukhoi dan dijatuhkan pada ketinggian 4.500 feet (sekitar 1.350 meter). Dislitbangau menilai trajectory (lintasan bom) P-100 L layak. Seperti halnya P-100 versi latih yang telah mendapatkan sertifikat kelaikan.

    "Usai uji coba tersebut, kami mendapatkan perintah untuk membuat 24 buah P-100 L yang akan digunakan dalam fire power demo bulan depan di hadapan presiden," kata sarjana pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini.

    Atas hasil kepiawaiannya di bidang pembuatan industri kecil bom ini, Ricky juga pernah diundang dua kali oleh Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM). Malaysia bahkan ingin memesan 1.000 unit P-100 L dan P-100. Bom tersebut akan digunakan untuk latihan pengeboman 18 unit pesawat Sukhoi milik Malaysia.

    Selama ini, Sukhoi milik Malaysia saat latihan menggunakan drop bom jenis OFAB-50 buatan Rusia. Bom jenis ini tidak ada yang jenis latih. Semuanya bisa meledak. Malaysia rupanya berhitung terhadap mahalnya biaya latihan bila terus-terusan menggunakan OFAB-100-120.

    "Kalau dibandingkan dengan biaya membeli bom latih ini, satu banding lima harganya," ungkap putra seorang purnawirawan angkatan laut ini.

    Sumber: Jawa Pos
    Readmore --> Melihat Industri Bom di Kedungkandang yang Bikin Kagum Staf Presiden SBY

    Menhan Ingin Media Massa Lakukan Bela Negara

    JAKARTA--MI: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meminta pada media massa terlibat dalam bela negara, terlebih ancaman nirmiliter dinilai semakin meningkat dibandingkan ancaman militer yang ada. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk bela negara karena amanat UUD 1945.

    "Media massa bisa membantu kita menumbuhkan efek tangkal apabila ada pihak yang mau menggangu kita, terutama ancaman nonmiliter. Kita ingin menumbuhkan semangat bela negara. Yang menangkal itu tidak hanya TNI, tapi kita semua. Kita ingin itu disosialisasikan," kata Menhan dalam pembukaan Workshop Defence Image Building di Jakarta, Senin (29/3).

    Bela negara, sahut Menhan, berbeda dengan militerisme. Bela negara ini diamanatkan untuk semua elemen masyarakat, tak peduli sipil ataupun militer. Media massa bisa ikut berperan tanpa harus angkat senjata, tapi bersikap mencintai negara dengan memberikan informasi terkait kelemahan lawan yang mau mengganggu negara.

    "Kami tidak ingin mereka berpihak pada kita, tapi kita ingin media massa itu seimbang. Biasanya kalau wawancara kan nadanya negatif, tapi setelah itu harus ada nada positif. Objektif menyampaikan posisi pandangan mata, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Berita itu juga harus faktual, terkini. Pemberitaan memasukkan kondisi terkini kalau gambarnya sudah berubah. Terakhir, akurat. Tapi memang di media bad news is the good news," jelas Menhan.

    Ia mengatakan bahwa kondisi media massa sekarang ini berada sebagai industri. Sebagai industri, tentu saja ada aturan ekonomi yang berlaku. Ia tak ingin jika industri media massa hanya dikuasai segelintir pihak sehingga akhirnya terjadi monopoli. "Anda sendiri tidak suka dengan neolib. Anda sendiri ingin ada kebebasan. Maka itu, jangan sampai media tidak dikuasai oleh salah satu pihak saja," sahutnya.

    Ia juga berharap media massa menghormati informasi pertahanan yang tidak bisa diakses sangat terbuka kepada publik karena risikonya tinggi terhadap posisi negara. Ia menekankan jika hal itu bukanlah keputusan Kementerian Pertahanan tetapi UU KIP.

    "Kita lihat betapa strategisnya pertahanan ini. Kita punya posisi strategis keutuhan bangsa, rahasia negara, peradilan militer. Terkait internal kita, ada hal-hal yang tidak bisa dibuka karena menyangkut kekuatan kita. Sebelum UU Rahasia Negara, sudah ada dalam UU Penyiaran Publik. Apalagi, tetangga kita saja ada UU yang lebih keras lagi. Kita sendiri tidak punya terkait itu," tukasnya.


    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Menhan Ingin Media Massa Lakukan Bela Negara

    Pembangunan Industri Militer tidak Perlu Tunggu Negara Kaya

    DEPOK--MI: Industri militer memiliki peran strategis bagi pertahanan suatu negara. Pembangunan industri militer tak perlu menunggu suatu negara sudah kaya.

    "Tidak ada satu negara yang tidak didukung industrial military complex. Untuk membangun itu, tidak perlu tunggu kaya dulu, miskin pun bisa dimulai," ujar pengamat ekonomi Faisal Basri dalam simposium nasional di UI, Depok, Selasa (30/3).

    Pembangunan industri pertahanan tidak bisa tergantung pada negara lain. Sayangnya, industri penunjang yang paling utama untuk industri pertahanan malah kondisinya paling buruk di Indonesia, yakni KrakataU Steel (KS).

    Menurut Faisal, PT KS bahkan tak mampu untuk memproduksi steel alloy dan aluminium alloy yang menjadi bahan dasar industri lain, termasuk industri militer. "Saya enggak mengerti dengan perencanaan industri pertahanan. Industri pertahanan kita malah membuat panser, sementara perang darat sudah tidak ada lagi. Akibatnya, panser disuruh menjaga Istana Wapres. Padahal, kita lebih butuh kapal karena kita negara kepulauan," ujarnya.

    Ia menilai hal itu membuktikan bahwa orientasi pembangunan di Indonesia sudah melenceng. Padahal, industri yang paripurna bisa mendukung munculnya masyarakat kelas menengah. Kelas inilah yang akan memacu pertumbuhan di Indonesia.

    "Kelas menengah akan memunculkan buruh militan, bukan pegawai bank, pegawai asuransi, artis. Industri yang didukung buruh militanlah yang akan maju. Itu tidak akan tercipta di Indonesia karena 85 persen pekerja tidak dilindungi kontrak sehingga tidak ada job security. Akhirnya, tercipta radikalisasi," cetusnya.

    Untuk memulainya, industri militer mulai dari subsidi negara. Itu yang juga terjadi pada pembangunan industri Airbus dan Boeing sehingga maju saat ini. "Dulu ketika Menperin Rini Sugandi berdebat keras dengan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Purnomo ingin membeli kapal tanker. Dia mengusulkan itu semua impor karena lebih murah. Bu Rini ingin semua diproduksi dalam negeri tapi akhirnya nego, masing-masing lima. Itu juga yang bisa membangun industri kita ke depan," tandasnya.


    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Pembangunan Industri Militer tidak Perlu Tunggu Negara Kaya

    TNI AL Gelar Latihan Penegakan Hukum di Laut

    Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal III), Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul mengatakan prajurit TNI AL Lantamal III menggelar latihan operasi penegakan hukum di laut. Latihan tersebut secara khusus untuk menangkap pelaku tindak pidana perikanan dan perusak ekosistem laut dengan menggunakan kapal patroli Patkamla Salmaneti berlangsung di perairan Kepulauan Seribu dan sekitarnya.

    Dalam siaran pers Dispen Lantamal III yang diterima Jurnal Nasional, Danlantamal III Iskandar Sitompul mengatakan, latihan operasi penegakkan hukum di laut yang dilaksanakan TNI AL dapat berjalan dengan efektif dan tepat sasaran. "Simulasi ini dimulai dengan adanya laporan dari masyarakat bahwa di sebelah barat perairan Pulau Bunder telah terjadi tindak pidana penangkapan ikan menggunakan potas," kata Iskandar.

    Menindaklanjuti laporan masyarakat ini, kata Iskandar, satuan kewilayahan TNI AL segera meneruskan informasi ini melalui sarana komunikasi kepada kapal patroli TNI AL yang berada paling dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP). Kebetulan Patkamla Salmaneti yang sedang melaksanakan patroli rutin di wilayah perairan Kepulauan Seribu menerima informasi ini segera melaksanakan operasi pengejaran dan penangkapan.

    "Dari operasi ini Patkamla Salmeneti berhasil menangkap pelaku di TKP dengan barang bukti yang cukup," katanya

    Sumber: JURNAL
    Readmore --> TNI AL Gelar Latihan Penegakan Hukum di Laut

    Sukhoi dan Hawk Latihan Bersama Di Lanud Iswahjudi

    Pesawat-pesawat tempur jenis Hawk 109/209 dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat dan Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru, Riau mulai hari Sabtu (27/3) berdatangan di Lanud Iswahjudi, yang kedatangan diterima langsung oleh Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi, Kolonel Pnb Tatang harlyansyah, S.E., di Shelter Skadron Udara 15, Sabtu (27/3).
    Sementara pesawat tempur Sukhoi SU-27/30 dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makasar, Sulawesi Selatan dibawah pimpinan langsung Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Kolonel Pnb Agus Supriyatna mendarat di Lanud Iswahjudi, yang diterima langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Kolonel Pnb Ismono Wijayanto di Shelter Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Senin (29/3).

    Kedatangan pesawat-pesawat tempur dari luar Lanud Iswahjudi tersebut, dalam rangka melaksanakan pemusatan latihan terbang selama beberapa hari, untuk persiapan Fly Pass dan demo udara pada acara peringatan ke-64 Hari Jadi TNI Angkatan Udara tanggal 9 April 2010, yang akan dilaksanakan di Lanud Halim Perdanakususma, Jakarta.

    Selama di Lanud Iswahjudi, semua jenis pesawat tempur yang akan tampil bermanuver di udara pada acara Hari Jadi ke-64 TNI AU tersebut akan melaksanakan beberapa latihan secara bersama-sama diantaranya terbang formasi maupun aerobatic baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

    Lanud Iswahjudi kali ini, selain sebagai tempat pemusatan latihan, juga sekaligus menjadi pangkalan aju bagi pesawat-pesawat tempur jenis Hawk 209/109 dan Sukhoi SU-27/30, disamping pesawat-pesawat tempur yang ada di Lanud Iswahjudi yaitu F-16/Fighting Falcon, F-5/ Tiger dan Hawk/MK-53 dari Skadron Udara 3, 14 dan 15 semua juga terlibat dalam acara demo udara Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta nanti.

    Sumber: TNI AU
    Readmore --> Sukhoi dan Hawk Latihan Bersama Di Lanud Iswahjudi

    10 Negara Asia Bahas Perdagangan Senjata


    Sebanyak 45 ahli dari Asia Tenggara, melakukan pertemuan di Bali.

    VIVAnews – Untuk membatasi perdagangan gelap senjata ringan dan kaliber kecil, sebanyak 45 ahli yang mewakili 10 Negara di Kawasan Asia Tenggara serta perwakilan organisasi Internasional dan akademisi melakukan pertemuan di Kuta Bali, Senin 29 Maret 2010.

    Deputi Direktur Jenderal untuk Urusan Multilateral Departemen Luar Negeri Hadi Hartono mengatakan, acara ini merupakan perwujudan dari POA (Programme of Action) yang sudah disahkan oleh PBB.

    "POA ini telah disetujui untuk menghadapi tantangan serius bagi kemanusiaan dan keamanan" ujarnya

    Apabila terlambat dalam menerapkannya maka akan berakibat banyak kematian dari ribuan orang setiap hari. Meski tak lebih sebagai ikatan politik namun menurutnya POA telah merancang kerjasama Internasional dalam menangani perdagangan illegal.

    Perdagangan illegal senjata kecil dan kaliber ringan merupakan masalah dunia, pelaku-pelakunya pun dapat merancang pelanggaran untuk memenuhi kebutuhan perang sipil diberbagai wilayah.

    Umumnya pelanggaran itu dapat berpotensi menghidupkan kegiatan teroris dan penyelundupan narkoba diseluruh dunia.

    Hadi mengatakan aksi kerjasama regional tidak bisa dianggaap remeh, untuk itu perlu memperkuat kapasitas kerjasama antar negara tetangga supaya dapat melawan perdagangan illegal.

    "Kita perlu sekali memperkuat kerjasama dengan Negara tetangga, karena ini akan membatu sekali dalam mengurangi perdaganngan illegal senjata" jelasnya.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> 10 Negara Asia Bahas Perdagangan Senjata

    Monday, March 29, 2010 | 12:34 PM | 0 Comments

    Latest Deadline For Brazil Fighter Decision: April

    SAO PAULO, Brazil - Brazil plans to announce in early April the winner of a multibillion-dollar competition for modern fighter jets meant to cement its new role as Latin America's preeminent military power.

    The tender, though, has been marked by infighting between Brazil's air force and government, and fierce rivalry between the nations vying to score the deal.



    The finalists now include France's Rafale made by Dassault, Sweden's Gripen NG by Saab, and the F/A-18 Super Hornet by Boeing.

    President Luiz Inacio Lula da Silva's stated preference for the ultra-sophisticated, semi-stealth Rafale jet annoyed the Air Force, which preferred the much cheaper and easier-to-maintain Gripen.

    The Super Hornet, in contrast, has languished in the race - less because of performance comparisons than Brazil's hard-learned lessons that U.S. companies are more reluctant to give full access to their military technology.

    Throughout the competition, Lula and his defense minister, Nelson Jobim, have underscored technology transfer as their top priority so that Brazil could not only build its own next-generation fighters but also export them.

    That ambition derives from Brazil's growing global clout, and the expectation that Latin America's biggest economy now deserves a seat at the top table alongside U.N. Security Council permanent members Britain, China, France, Russia and the United States.

    France's jet bid was bolstered by the fact that Brazil's strategic pact with Paris that has already seen it sign a $12 billion deal in early 2009 to buy 50 helicopters and five submarines from France. One of the submarines will be built to run on nuclear power.

    The value of the jet fighter contract has not been revealed, but it is estimated at between $4 billion and $10 billion, depending on the final choice, maintenance costs and armaments.

    The initial purchase will be for 36 aircraft to patrol Brazil's vast airspace over the next 30 years, with an option to add nearly 100 more.

    Faced with such a juicy opportunity and eyeing other open tenders in India and Kuwait, the competing companies have gone all out to land the Brazilian tender.

    French President Nicolas Sarkozy lent his negotiating skills to the endeavor, and he and President Lula issued a joint statement in September saying Brazil had entered into exclusive negotiations to buy the Rafales.

    But when the two sidelined contenders cried foul and Brazil's air force showed its displeasure through leaks to the media, Lula had to backtrack and say the competition was still wide open.

    The United States used the opening to send top envoys, including national security adviser Jim Jones, to try to convince Brazil the U.S. government was ready to transfer "necessary" technology to win the deal.

    Not be outdone, Dassault reportedly cut $2 billion off its asking price, according to the Folha de Sao Paulo daily. The French company did not confirm the discount, saying only it was "confidently" awaiting Brazil's decision.

    Then in late February, the aircraft carrier Carl Vinson was morphed into a floating showroom when it was sent to Brazil with its contingent of F/A-18s on display. Boeing representatives were handily available on land to answer questions.

    U.S. Secretary of State Hillary Clinton followed up with a visit in early March, during which she also lobbied for the Super Hornet.

    Sweden's Saab, which has emphasized that Brazil could be a partner in the Gripen NG's development right from the prototype stage, has sought to have the last word.

    Swedish King Carl XVI Gustaf and Queen Silvia made visit to Brazil this week, during which Swedish business leaders, including Saab CEO Aake Svensson. talked up the business opportunities from a Gripen win.

    Under such formidable pressure - domestic and international - Brazil's government has repeatedly pushed back its decision date.

    The head of the Air Force, Gen. Juniti Saito, had said the winner would be announced by the end of March.

    But Jobim, the defense minister, said March 25 that the victor would now not be declared before April 5, after Brazil's Easter break.

    From: DENFENSE NEWS
    Readmore --> Latest Deadline For Brazil Fighter Decision: April

    Russia makes first appearance at DIMDEX naval show

    Russia's state arms exporter Rosoboronexport will showcase 150 exhibits of Russian naval equipment at a biennial naval show in Qatar on March 29-31.

    Founded in 2008, DIMDEX is the only specialized maritime defense exhibition in the Middle East bringing together companies, which represent the latest achievements in the sphere of maritime security.

    Russia will spotlight at the show the Club M mobile high-precision coastal cruise missile system equipped with 3M-14E, 3M-54E and 3M54E1 missiles, which are capable of destroying naval and land targets.

    Other Russian exhibits include Tiger and Gepard class corvettes, Mirage and Mangust class patrol boats, Murena-E class air cushion landing craft, and Kilo and Amur-1650 class diesel attack submarines.

    According to organizers, 130 exhibitors from 30 countries will take part in the DIMDEX 2010 naval show, hosted by Qatar Emiri Naval Forces and held under the patronage of Sheikh

    Tamim Bin Hamad Al Thani, Heir Apparent of The State of Qatar.

    Over 70 official delegations and up to 20 warships are expected to attend the exhibition.

    From: RIA
    Readmore --> Russia makes first appearance at DIMDEX naval show

    New Russian anti-piracy task force arrives in Gulf of Aden

    A Russian Pacific Fleet task force arrived on Monday in the Gulf of Aden to join the anti-piracy mission off the Somali coast, a fleet's spokesman said.

    The task force comprises an Udaloy-class missile destroyer, Marshal Shaposhnikov, a salvage tug and a tanker.

    "The fourth task force from the Pacific Fleet, which departed from Vladivostok on February 24, has arrived to the Somali coast," the spokesman said.

    The Russian vessels will join the international naval force in the area to protect commercial ships from frequent pirate attacks.

    According to the official, the Marshal Shaposhnikov destroyer has two naval helicopters and a unit of naval infantry on board.

    "The first convoy of commercial vessels to be escorted by the new task force is being formed in the Gulf of Aden," he said.

    The Russian Navy has maintained a permanent presence off the Horn of Africa, with warships operating on a rotation basis. Russia joined international anti-piracy efforts off the Somali coast in October 2008.

    The task force is the fourth group of warships from the Russian Pacific Fleet engaged in the anti-piracy mission off Somalia, with the previous three task forces led by the Admiral Vinogradov, Admiral Panteleyev and the Admiral Tributs destroyers.

    During the tour of duty, the Pacific Fleet groups escorted a total of over 100 commercial vessels from 26 countries along the shipping lanes in the Gulf of Aden, and thwarted over 20 pirate attacks.

    From: RIA
    Readmore --> New Russian anti-piracy task force arrives in Gulf of Aden

    452 Prajurit TNI Mendarat di Malaysia

    JAKARTA- Sebanyak 452 prajurit terbaik dari TNI AD, AL, dan AU dikirim ke Malaysia untuk mengikuti Latihan Gabungan Bersama Malaysia-Indonesia Darat Samudera Angkasa (Latgabma Malindo Darsasa) 7AB/2010.

    Setelah menempuh perjalanan laut selama empat hari, para prajurit yang terdiri dari Detasemen-81 Gultor Kopasus TNI AD, Denjaka TNI AL, dan Denbravo TNI AU serta pasukan pendukung, lego jangkar di Pelabuhan Tanjung Beruas Malaysia, pada Minggu, 28 Maret kemarin.

    Berdasarkan rilis dari Perwira Penerangan Latgabma Malindo, Letda Sus Santoso, setelah melakukan debarkasi peralatan dan personel di Dermaga Tanjung Beruas, KRI Surabaya 591 langsung kembali ke Indonesia. TNI dan Angkatan Tentera Malaysia (ATM) rencananya akan menyelenggarakan Latgabma Malindo Darsasa 7AB/2010.

    Pada Latgabma tahun ini, TNI dan ATM rencananya akan melaksanakan operasi gabungan bersama dalam rangka menanggulangi serangan teroris dan dampak bencana bagi kemanusiaan yang dapat terjadi di wilayah kedua Negara.

    Latihan ini dilaksanakan berdasarkan hasil keputusan sidang High Level Committe (HLC) ke-3 pada tanggal 10 Mei 2007 di Jakarta tentang persetujuan Direktif Malindo Latgabma Darsasa-7AB/2010.

    Latihan gabungan bersama antara ATM dan TNI pada tahun ini bertujuan untuk melatih Combine Joint Task Forces-Counter Terorism (CJTF-CT) yang dibentuk dalam rangka meningkatkan kerjasama, pengertian dan profesionalisme di antara kedua pasukan ATM dan TNI beserta komponen lainnya.

    Latihan Gabungan Bersama Malaysia-Indonesia rencananya akan dibuka secara langsung oleh Panglima ATM Jenderal Tan Sri Dato Sri Azizan Arifin bersama dengan Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso pada tanggal 2 April 2010 di Malaysia. Rencana latihan ini akan digelar di tempat-tempat strategis yang berada di Malaysia seperti Everly Resort Hotel, Selat Malaka, dan Bandara Batu Berendam.

    Sumber: OKEZONE
    Readmore --> 452 Prajurit TNI Mendarat di Malaysia

    PT DI Ditarget Raih Rp 1,5 Triliun

    Direktur Integrasi Pesawat PT DI, Budiwuraskito, saat ditemui di ruangannya. Foto: Agung Putu Iskandar/Jawa Pos.
    BANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dituntut untuk terus menambah pendapatan. Tahun ini Kementerian BUMN menarget PT DI mendapat kontrak Rp 1,5 triliun. Itu naik 36 persen dari target tahun lalu Rp 1,1 triliun.

    Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengatakan, dalam rapat umum pemegang saham (RUPS), pemerintah menargetkan kontrak Rp 1,7 triliun lantaran tren industri dirgantara terus menanjak. Namun, akhirnya disepakati Rp 1,5 triliun.

    Target sebesar itu, kata Budi, memang tidak mudah. Namun, tahun lalu PT DI berhasil menembus target pemerintah. Dari target kontrak karya Rp 1,1 triliun, PT DI berhasil meraup Rp 1,4 triliun. "Peluang di industri dirgantara masih sangat terbuka," ujar Budi saat ditemui di kompleks PT DI di Bandung pekan lalu.

    Menurut dia, perputaran uang di bisnis dirgantara cukup besar, yakni sekitar USD 10 miliar per tahun. Uang berjibun tersebut tak hanya didapat dari pembuatan pesawat, tapi juga pembuatan komponen, subkontrak bagian-bagian pesawat besar, dan perawatan (maintenance). "Kalau kami bisa mendapat satu persen saja dari perputaran uang itu, perusahaan ini sangat sehat," katanya. Satu persen dari USD 10 miliar berarti USD 100 juta dolar atau sekitar Rp 911,5 milliar (kurs USD 1 = Rp 9.115, Red).

    Saat ini PT DI memiliki sejumlah produk layanan selain pembuatan pesawat terbang dan helikopter. Di antaranya, aerostructure, aircraft services, engineering services, dan pertahanan (defence). Masing-masing memiliki pasar.

    Aerostructure, misalnya. Bidang itu bertugas membuat komponen-komponen pesawat. Di antaranya, pembuatan bahan komposit (bodi pesawat yang dibuat dari campuran bahan-bahan ringan seperti kain dan aluminium), drive rib, inboard outer fixed leading edge (IOFLE) yang biasa digunakan Airbus A380.

    PT DI menyuplai sejumlah produsen pesawat terbang yang lebih besar. Misalnya, Airbus (Prancis), Boeing (Amerika), Bombardier, EADS CASA (Eropa), Spirit Aero System, Korean Airlines Aerospace (Korea Selatan), dan Mitsubishi Heavy Industries (Jepang).

    Menurut Budi, PT DI saat ini berutang Rp 1,7 triliun kepada pemerintah. Karena itu, PT DI harus tancap gas mendongkrak income dari omzet berdagang pesawat dan komponen-komponennya. Namun, Budi berharap pemerintah fleksibel terhadap utang gede itu. "Kami akan berupaya mengonversinya jadi modal penyertaan atau produk barang dan jasa lain," jelas Budi.

    Sumber: JPNN
    Readmore --> PT DI Ditarget Raih Rp 1,5 Triliun

    PT DI Ditarget Raih Rp 1,5 Triliun

    Direktur Integrasi Pesawat PT DI, Budiwuraskito, saat ditemui di ruangannya. Foto: Agung Putu Iskandar/Jawa Pos.

    BANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dituntut untuk terus menambah pendapatan. Tahun ini Kementerian BUMN menarget PT DI mendapat kontrak Rp 1,5 triliun. Itu naik 36 persen dari target tahun lalu Rp 1,1 triliun.

    Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengatakan, dalam rapat umum pemegang saham (RUPS), pemerintah menargetkan kontrak Rp 1,7 triliun lantaran tren industri dirgantara terus menanjak. Namun, akhirnya disepakati Rp 1,5 triliun.

    Target sebesar itu, kata Budi, memang tidak mudah. Namun, tahun lalu PT DI berhasil menembus target pemerintah. Dari target kontrak karya Rp 1,1 triliun, PT DI berhasil meraup Rp 1,4 triliun. "Peluang di industri dirgantara masih sangat terbuka," ujar Budi saat ditemui di kompleks PT DI di Bandung pekan lalu.

    Menurut dia, perputaran uang di bisnis dirgantara cukup besar, yakni sekitar USD 10 miliar per tahun. Uang berjibun tersebut tak hanya didapat dari pembuatan pesawat, tapi juga pembuatan komponen, subkontrak bagian-bagian pesawat besar, dan perawatan (maintenance). "Kalau kami bisa mendapat satu persen saja dari perputaran uang itu, perusahaan ini sangat sehat," katanya. Satu persen dari USD 10 miliar berarti USD 100 juta dolar atau sekitar Rp 911,5 milliar (kurs USD 1 = Rp 9.115, Red).

    Saat ini PT DI memiliki sejumlah produk layanan selain pembuatan pesawat terbang dan helikopter. Di antaranya, aerostructure, aircraft services, engineering services, dan pertahanan (defence). Masing-masing memiliki pasar.

    Aerostructure, misalnya. Bidang itu bertugas membuat komponen-komponen pesawat. Di antaranya, pembuatan bahan komposit (bodi pesawat yang dibuat dari campuran bahan-bahan ringan seperti kain dan aluminium), drive rib, inboard outer fixed leading edge (IOFLE) yang biasa digunakan Airbus A380.

    PT DI menyuplai sejumlah produsen pesawat terbang yang lebih besar. Misalnya, Airbus (Prancis), Boeing (Amerika), Bombardier, EADS CASA (Eropa), Spirit Aero System, Korean Airlines Aerospace (Korea Selatan), dan Mitsubishi Heavy Industries (Jepang).

    Menurut Budi, PT DI saat ini berutang Rp 1,7 triliun kepada pemerintah. Karena itu, PT DI harus tancap gas mendongkrak income dari omzet berdagang pesawat dan komponen-komponennya. Namun, Budi berharap pemerintah fleksibel terhadap utang gede itu. "Kami akan berupaya mengonversinya jadi modal penyertaan atau produk barang dan jasa lain," jelas Budi.

    Sumber: JPNN
    Readmore --> PT DI Ditarget Raih Rp 1,5 Triliun

    Upaya PT Dirgantara Indonesia Bertahan di Industri Pesawat Terbang


    Bangkit Lewat Ketiak Sayap Airbus

    Dalam beberapa kesempatan, Prof Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie mengaku sangat kecewa melihat nasib PT Dirgantara Indonesia. Sebab, industri pesawat terbang yang dirintisnya itu kini jalan di tempat. Bagaimana kondisinya sekarang?

    ---

    " KITA pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu (12/3).

    Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 hektare.

    Yang paling laris adalah pesawat CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332 Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu membanggakan bangsa saat itu.

    Namun, persoalan muncul saat krisis ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari N-250.

    PT DI menerima pesanan 120 pesawat. Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. Ribuan karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan lalu.

    Namun, PT DI harus menelan pil pahit. Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata Budiwuraskito, pria Semarang ini.

    Padahal, kata Budi, PT DI telanjur merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan. Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, dan siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu, mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' ujarnya mengingat sejarah kelam PT DI itu.

    Bayangan menerima duit gede USD 1,2 milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT DI juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK karyawan secara baik-baik,'' katanya.

    Pada 2003, PT DI memutus kerja sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja, PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan.

    Namun, PT DI berupaya mempertahankan diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.

    ''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau bisa kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang didirikan pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut.

    ***

    PT DI tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit, masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT DI.

    Salah satunya British Aerospace (BAE). PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah enam pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT DI sudah leluasa berdagang pesawat.

    Budi menuturkan, order enam pesawat itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan'' PT DI saat itu. Laba dari pesanan itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge (IOFLE) dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380.

    Airbus A380 adalah pesawat bikinan Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan 500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi subkontrak dari pemain besar,'' kata Budi.

    Kondisi PT DI terus membaik. Dalam waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan pengembangan pesawat tersebut,'' katanya.

    Kemampuannya tak jauh berbeda dengan F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata Budi.

    Selain itu, order dari Timur Tengah terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235 untuk pesawat pengawas pantai, pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan SAR Nasional (Basarnas) empat unit.

    Budi mengakui, tren industri dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh tahun ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. Sebenarnya, kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari pinjaman. Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu.

    Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' kata Budi lantas tersenyum.

    Sumber: JAWA POS
    Readmore --> Upaya PT Dirgantara Indonesia Bertahan di Industri Pesawat Terbang

    Sunday, March 28, 2010 | 11:49 AM | 0 Comments

    U.S. Marines Remain Committed To JSF Program, For Now

    The future of U.S. Marines on aircraft carriers may hinge on the F-35 program.
    The U.S. Marine Corps remains fully committed to the F-35B Lightning II short take-off, vertical landing variant. (LOCKHEED MARTIN)

    The Marine Corps, which is the only U.S. service that has not announced a significant delay for the Joint Strike Fighter, remains fully committed to the F-35B Lightning II short take-off, vertical landing variant. Marine officials have already purchased 29 planes in the fiscal 2008-10 budgets and officials insist they are on track to see a squadron operational by December 2012.

    The test plane, BF-1, conducted its first vertical landing March 18, checking off a major milestone in the F-35B program, but that event was delayed by almost a year. Still, officials with Lockheed Martin, the F-35's lead manufacturer, and the Corps said they are confident the timeline will be met, adding that the first two training aircraft are expected to be delivered by the end of 2010.

    "We are going to be able to operate our planes from the sea, on our amphibious force fleets initially, and we'll move ashore to the same kinds of forward operating bases that we operate the AV-8B," Lt. Gen. George Trautman, the deputy commandant for aviation, said in a conference call with reporters.

    Trautman said nothing about the Corps' jets operating from carriers - as the Marines F/A-18 Hornets do today - but he did say the first F-35 squadron is expected to deploy with a Marine expeditionary unit in 2014.

    Some observers say the Corps' commitment to the F-35B is driven by a long-term desire to break away from Navy carriers. A powerful and versatile fighter jet that could operate from smaller-deck amphibs would grant the Marines more autonomy than ever before.

    "If the F-35B makes its numbers, that empowers the Marines in their effort to get a divorce from the traditional large carrier groups," said Richard Aboulafia, a defense analyst with the Teal Group in Virginia.

    Big Navy is not happy about the potential break up.

    At a time when the Navy is already facing questions about whether it really needs 11 carriers in the fleet, the leadership will have an even harder time persuading lawmakers to fund the world's largest ships if the Marines don't have any use for them.

    The Corps, however, maintains that it wants a fifth-generation fighter capable of operating off carriers, amphibs and from forward operating bases downrange, said Capt. Craig Thomas, a Marine spokesman based at the Pentagon.

    Commandant Gen. James Conway has admitted that the service does not have any clear alternatives to the F-35B, since it opted not to purchase any F/A-18 Super Hornets. The service's aging Hornets will start transitioning out of service in fiscal 2013 as will its Harriers. That means questions about the future of the F-35 may lead to even more questions about the future of the Marine's fixed-wing fleet, according to some analysts. If the F-35 became too expensive, the Marines may have no other options. While the Navy can just buy more Super Hornets, the Corps has expressed no interest in buying them or extending the purchase of the AV-8B Harriers.

    "In the end, the Marines may not have a jump jet," said James Hasik, a defense analyst in Virginia. "I'm not terribly convinced of the argument that the Marine Corps actually needs its own close-support arm that isn't rotary driven."

    Winslow Wheeler, an analyst with the Center for Defense Information in Washington, agreed.

    "How many times have you seen an AV-8B land next to a unit engaged in combat to talk to the commander and get insights on the close-air support mission?" Wheeler said. "I don't think it's ever happened."

    Thomas says the Corps has no intentions of saying goodbye to its fixed-wing fleet. The Corps' commitment to the aircraft is a key factor, said Bob Dunn, a retired Navy vice admiral who has watched it closely.

    "When the Marines get dedicated to something, they are going to go for it - come hell or high water," Dunn said.

    From: DEFENSE NEWS
    Readmore --> U.S. Marines Remain Committed To JSF Program, For Now

    2 Short-Range Missiles Pass Test: India

    BHUBANESWAR, India - India successfully tested two short-range nuclear-capable missiles from two sites off its eastern coast on March 27, a Defence Ministry official said.

    India, which tested nuclear weapons in 1998, has developed a series of nuclear and conventional missile systems as part of a program begun in 1983.

    Saturday's first test was the launch of the Dhanush, which has a range of 220 miles (350 kilometers) and was fired from a naval ship in the Bay of Bengal off the shores of the state of Orissa.

    The second missile was the Prithvi (Earth)-II, launched from Chandipur-on-Sea Integrated Test Range, 200 kilometers northeast of Bhubaneswar, the capital of Orissa.

    "The tests were successful and met all the mission objectives," said S.P. Dash, director of the Integrated Test Range.

    The Dhanush, which means bow in Hindi, is a variant of the ground-to-ground Prithvi missile developed for the Indian Navy.

    Both variants can carry nuclear and conventional warheads and have been developed at home.

    The 28-foot (8.5-meter) Prithvi-II missile has a range of 150-350 kilometers and can carry a one-ton payload.

    Last month, India announced it would test a nuclear-capable missile with a range of over 5,000 kilometers within a year.

    India has developed an array of weapons systems for reaching potential targets in neighboring Pakistan and China.

    India's current longest-range nuclear-capable missile, Agni-III, can travel a maximum of 3,500 kilometers.

    Nuclear-armed Pakistan, with which India has fought three wars since their partition and independence six decades ago, has said India's missile development program could trigger a new arms race in the region.

    From: DEFENSE NEWS
    Readmore --> 2 Short-Range Missiles Pass Test: India

    Taiwan Siaga setelah Insiden Tenggelamnya Kapal Korsel

    KOROR--MI: Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengatakan Sabtu bahwa ia telah menginstruksikan pihak militer untuk siaga setelah menerima laporan tentang tenggelamnya kapal patroli Angkatan Laut Korea Selatan di laut antara China dan semenanjung Korea.

    Ma, yang sedang mengadakan kunjungan ke Palau, diberitahu stafnya tentang insiden itu Jumat malam dan jumpa pers yang diadakannya terputus. Ia segera mengadakan pertemuan darurat dengan pihak keamanan dan memerintahkan mekanisme keamanan nasional Taiwan diaktifkan.

    Pada Sabtu pagi, Presiden Ma mengadakan sidang dengan para pejabat di Taipeh, termasuk Wakil Presiden Vincent Siew, Menteri Pertahanan Nasional Kao Hua-chu, Perdana Menteri Wu Den-yih dan Ketua Legislatif Wang Jin-pying, kata juru bicara Kantor Kepresidenan Lo Chih-chiang, yang menyertai Ma dalam lawatan diplomatik ke negara-negara sekutu Pulau Pasifik.

    Ma memutuskan untuk melawat ke Palau sebelum terbang kembali Sabtu malam, kata Lo. Presiden Ma tiba di Palau sekitar Jumat siang sebagai bagian dari lawatan enam hari ke seluruh enam negara yang menjadi sekutu Taiwan di Pasifik Selatan. Ma telah mengunjungi Marshall Islands, Karibati, Tuvalu, Nauru dan Kepulauan Solomon.

    Menurut laporan-laporan kantor berita asing, kapal AL Korea Selatan dengan 104 personel di dalamnya tenggelam di lepas pantai barat negara itu setelah ledakan yang belum diketahui.

    Sebanyak 48 pelaut telah diselamatkan, kata seorang perwira militer kepada AFP. Sementara itu, seorang juru bicara militer Korea Selatan mengatakan, hingga sejauh ini belum ada indikasi bahwa Korea Utara terlibat dalam insiden itu, kata laporan-laporan. Sebelumnya stasiun TV Korea Selatan "SBS" melaporkan kapal patroli militer Korea Selatan dihantam torpedo Korea Utara sebelum tenggelam.

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Taiwan Siaga setelah Insiden Tenggelamnya Kapal Korsel

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.