ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, September 22, 2012 | 11:27 AM | 1 Comments

    Ini Dia Harga Dan Spesifikasi Apache AH-64D Block III Longbow Untuk Indonesia

    New York - The Defense Security Cooperation Agency (DSCA) diberitahu oleh Konggres pada 19 September 2012, untuk menjual 8 helikopter serang Apache AH-64D blok III serta suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik kepada Pemerintah Indonesia. Semua itu diperkirakan memerlukan biaya sekitar USD 1.42 Milyar.

    Pemerintah Indonesia telah mengajukan pengajuan untuk membeli 8 helikopter serang Apache AH-64D Blok III, termasuk 19 mesin T-700-GE-701D (16 dipasang dan 3 untuk suku cadang), 9 Modernized Target Acquisitin dan Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensor, 4 radar jenis AN/APG-78 Fire Control Radar (FCR) dengan unit radar elektronik (komponen Longbow), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor dan Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, 24 Integrated Helmet dan Display Sight Systems (IHDSS-21), 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, dan 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles.

    Selain itu akan dilengkapi juga dentification Friend or Foe transponders, 30mm guns and ammunition, communication equipment, tools and test equipment, training devices, simulators, generators, transportation, wheeled vehicles, organizational equipment, spare and repair parts, support equipment, personnel training and training equipment. Pemerintah AS juga akan melakukan kontraktor engineering, teknis, layanan dukungan logistik dan elemen terkait lainnya dari dukungan logistik. Yang semua itu membutuhkan biasa USD 1.42 Milyar.

    Penjualan helikopter tersebut diusulkan konggres untuk memberikan kontribusi kepada kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS untuk meningkatkan stabilitas politik dan kemajuan ekonomi ASEAN.

    Selain itu penjualan helikopter diusulkan agar Pemerintah Indonesia bisa melindungi aset penting dan mencegah potensi ancaman baik dari luar dan lainnya. Indonesia akan menggunakan helikopter Apache untuk menjaga perbatasan, penumpasan teroris dan operasi pembajakan dan mengendalikan arus pengiriman barang yang melalui selat Malaka.

    Melalui program ini memungkinkan Indonesia untuk memberikan kemampuan lebih untuk menjaga pertahanan dan menyediakan unsur-unsur penting yang diperlukan untuk bekerjasama dengan pasukan AS.

    Rencana penjualan helikopter ini tidak akan mempengaruhi keseimbangan militer di kawasan ASEAN.

    Adapun para produsen yang akan ikut serta dalam mendukung pengadaan helikopter tersebut yaitu Boeing, Lockheed Martin, General Electric, Lockheed Martin Milimeter Techonolgy dan Longbow Corporation Limited Liability. Dalam pelaksanaan penjualan yang diusulkan akan dilibat lima produsen dari AS dan tiga perwakilan pemerintah AS yang mendukung semua peralatan tersebut.

    Dalam pengadaan tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap pertahanan AS.

    Sumber : DSCA/MIK
    Readmore --> Ini Dia Harga Dan Spesifikasi Apache AH-64D Block III Longbow Untuk Indonesia

    Jubir Kemhan : Bila Harga Sesuai Kami Terima Tawaran Helikopter Apache

    Jakarta - Kerjasama keamanan Indonesia dan AS menciptakan terobosan baru. Washington menawarkan Jakarta untuk membeli sejumlah unit helikopter tempur Apache, yang tidak lagi mereka pakai. Langkah AS ini terkait dengan kebijakan Indonesia yang tengah meremajakan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

    Menurut kantor berita Reuters, rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa di Washington DC pada Kamis siang waktu setempat (Jumat pagi WIB). Kedua menteri bertemu untuk pertemuan kali ketiga Komisi Bersama AS-Indonesia, yang membahas perkembangan kemitraan komprehensif bilateral.

    Kepada wartawan, Menlu Clinton mengatakan bahwa Kongres telah diberitahu perihal rencana pemerintahnya menjual helikopter tempur Apache ke Indonesia. "Persetujuan ini akan memperkuat kemitraan komprehensif dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," kata Clinton.

    Menurut dia, dengan ingin menjual helikopter Apache, AS berkepentingan memperkuat pertahanan Indonesia. Pasalnya, menurut Clinton, AS kini memandang Indonesia sebagai "pijakan bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik."

    Tahun lalu, AS pun mengumumkan hibah 24 unit jet tempur F-16 ke Indonesia. Dua lusin jet tempur itu tidak lagi digunakan oleh militer AS, walau harus mengalami pemutakhiran teknologi dan yang biayanya harus ditanggung Indonesia.

    Di bawah pemerintahan Barack Obama, AS saat ini tengah mempererat kerjasama pertahanan dengan Indonesia. Ini sejalan dengan perubahan strategi keamanan AS, yang mulai berfokus ke Asia Pasifik setelah terlibat perang di Irak dan Afganistan.

    AS juga telah meningkatkan kerjasama militer dengan sekutu-sekutu tradisionalnya di Asia Pasifik, seperti Filipina dan Australia. Manuver-manuver Washington di kawasan ini pun - walau berkali-kali dibantah oleh para pejabat AS, mengundang perhatian serius dari China, karena dianggap sebagai upaya membendung pengaruh dan ancaman Beijing.

    Terkait pernyataan Clinton soal penguatan kerjasama kedua negara, Menlu Natalegawa menegaskan bahwa hubungan erat antara Indonesia dan AS kini dampaknya tidak lagi sebatas lingkup bilateral. "Kedua negara kini telah menempuh hubungan yang sangat dekat dalam suasana yang sangat produktif dan saling menguntungkan, yang tidak hanya dirasakan di tingkat bilateral, namun juga meningkat ke lingkup regional," kata Natalegawa, dalam jumpa pers yang transkripnya dimuat di laman Deplu AS.

    Keunggulan Longbow

    Menurut Menlu Clinton, Apache yang ditawarkan AS adalah seri AH-64D seri Longbow. Dibuat oleh Boeing, AH-64 Apache merupakan helikopter andalan Angkatan Darat AS untuk operasi tempur terbatas. Menggantikan helikopter AH-1 Cobra, Apache mulai digunakan Angkatan Darat AS pada April 1986.

    Menurut data dari Boeing.com, Apache seri AH-64D Longbow mulai dipakai Angkatan Darat AS pada Maret 1997. Selain AS, kini militer dari sejumlah negara sudah menggunakannya, yaitu Mesir, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Arab Saudi, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

    Dibanding dari seri pendahulunya, AH-64D Longbow ini memiliki sejumlah kelebihan dalam konektivitas digital, sensor, sistem persenjataan, peralatan pelatihan, dan sistem dukungan pemeliharaan.

    Helikopter yang dikendalikan dua awak ini juga dilengkapi teknologi presisi yang lebih baik dari seri awal. Pengembangan mesin dan navigasinya membuat helikopter tempur ini bisa terbang lebih lama dan lebih lincah bermanuver.

    Keunggulan utama seri D dari versi sebelumnya adalah kemampuan helikopter itu dalam menggunakan rudal-rudal Longbow Hellfire, yang dipandu radar. Seri AH-64D ini pun dilengkapi dengan radar FCR, yang membuat helikopter itu bisa mendeteksi dan menyerang target di tengah hujan, kabut, atau asap. Kemampuan ini tidak dimiliki model AH-64A.

    Apache AH-64D ini dalam beberapa tahun terakhir mengalami pengembangan varian. Menurut army-technology.com, varian Apache Block II mulai digunakan Angkatan Darat AS pada 2003. Varian ini dilengkapi sistem komunikasi digital yang lebih baik.

    Selain itu, Angkatan Darat AS sejuak Oktober 2010 memulai pengembangan varian baru, yaitu Block III. Pada tahap ini AH-64 D mengalami pemutakhiran pada sensor televisi bercahaya rendah (LLTV), yang bisa memantau cahaya lampu jalan dan suar. Block III ini mulai dipasok sejak November 2011, demikian ungkap Flight International.

    Namun, demi peremajaan helikopter tempur baru, Angkatan Darat AS sudah menargetkan pembelian terakhir Apache Longbow pada 2010. Menurut laporan dari Kantor Anggaran Kongres AS pada November 2007, harga satu unit Apache AH-64D ini sekitar US$18 juta, atau kini kurang lebih Rp171,8 miliar. Harga itu sudah termasuk pemasangan radar FCR.

    Hingga berita ini dimuat, pemerintah AS belum memaparkan kepada publik harga Apache yang ditawarkan ke Indonesia. Selain itu belum ada tanggapan resmi dari delegasi Indonesia atas tawaran itu, termasuk bagaimana pengaturan jual belinya bila memang disetujui.

    Tanggapan Pejabat

    Namun tawaran Apache dari Amerika ini sudah mengundang pro dan kontra. Ada pejabat yang mendukung, namun ada pula yang mengkritisi.

    Seorang pejabat Kementerian Pertahanan menyambut baik rencana Amerika Serikat untuk menjual helikopter tempur Apache AH-64/D kepada Indonesia. "Benar, mereka menawarkan. Tapi itu baru komitmen mereka. Helikopter itu sendiri bagus, kita tertarik," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin kepada VIVAnews, Jumat 21 September 2012.

    Menurut Hartind, saat ini belum ada tindak lanjut dari Indonesia terkait rencana AS tersebut. "Kita masih mempertimbangkan. Karena belum bicara mengenai harga. Baru komitmen mereka," ucapnya.

    Tapi yang pasti, kata Hartind, Indonesia tidak akan membeli jika harga delapan unit helikopter Apache itu terlalu mahal. "Kalau harganya pas, jadilah kita beli. Karena itu helikopter yang bagus," lanjut Hartind.

    Namun, dia menilai bahwa Apache yang ditawarkan Amerika itu kemungkinan bekas pakai. Jadi, kondisinya masih harus diteliti. "Tentunya, sebelum dibeli, tim kami akan terlebih dulu melihat kondisi helikopternya. Apakah kondisinya masih bagus atau tidak," Hartind menambahkan.

    Sebaliknya, anggota DPR dari Komisi I, Mahfudz Siddiq, mengkritisi tawaran Amerika itu. Menurut dia, lebih baik Indonesia membeli helikopter multifungsi yang lebih berguna, yaitu CH-47 Chinook, ketimbang helikopter tempur.

    Chinook dikenal sebagai helikopter angkut, baik untuk personel maupun logistik. "Komisi I tahun lalu pernah mengusulkan ke Kementerian Pertahanan untuk membeli Chinook dari Amerika Serikat dengan skema MFS (military foreign sales)," ujar Mahfudz.

    Bagi dia, kegunaan heli Chinook sangat multifungsi, terutama untuk membantu operasi penanggulangan bencana. "Apache memang diperlukan sebagai heli serbu, namun lebih prioritas Chinook. Syukur kalau pemerintah Amerika Serikat bisa tawarkan keduanya," kata dia.

    Namun, bagi Mahfudz, pembelian Apache juga diperlukan untuk mengimbangi negara-negara lain, seperti Singapura. "Namun akan lebih efektif jika diprioritaskan Chinook atau dilakukan secara bersamaan," tegasnya.

    Meski rencana pembelian heli tempur sudah ramai diperbincangkan, Mahfudz belum mengetahui lebih detil soal realisasi. Sebab, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, sampai saat ini belum ada anggaran untuk pembelian Apache. "Termasuk juga dalam rencana anggaran 2013," kata dia.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> Jubir Kemhan : Bila Harga Sesuai Kami Terima Tawaran Helikopter Apache

    Friday, September 21, 2012 | 2:08 PM | 0 Comments

    Komisi I : Kita Berharap AS Tawarkan Helikopter Chinook

    Jakarta - Komisi I DPR menilai pembelian helikopter Chinook dari Amerika Serikat lebih penting daripada heli tempur Apache AH-64/D. Pesawat Chinok lebih multifungsi.

    "Komisi I tahun lalu pernah mengusulkan ke Kementerian Pertahanan untuk membeli pesawat Chinook dari Amerika Serikat dengan skema MFS (military foreign sales)," ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, Jumat, 21 September 2012.

    Menurut Mahfudz, kegunaan heli Chinook sangat multifungsi, terutama untuk membantu operasi penanggulangan bencana.

    "Apache memang diperlukan sebagai heli serbu, namun lebih prioritas Chinook. Syukur kalau pemerintah Amerika Serikat bisa tawarkan keduanya," ungkap dia.

    Namun pembelian Apache juga diperlukan untuk mengimbangi Singapura. "Namun akan lebih efektif jika diprioritaskan Chinook atau dilakukan secara bersamaan," tegasnya.

    Meski rencana pembelian heli tempur sudah ramai diperbincangkan, Mahfudz belum mengetahui lebih detil soal realisasi. Sebab, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, sampai saat ini belum ada anggaran untuk pembelian Apache. "Termasuk juga dalam rencana anggaran 2013," kata dia.

    Seperti diketahui, Amerika Serikat akan menjual delapan unit helikopter tempur Apache AH-64/D kepada Indonesia.

    Ini merupakan perkembangan terkini kerjasama pertahanan antarnegara setelah Washington beberapa waktu lalu memberi hibah 24 unit jet tempur F-16 ke Jakarta.

    Sumber : Vivanews
    Readmore --> Komisi I : Kita Berharap AS Tawarkan Helikopter Chinook

    Konggres AS Setujui Penjualan Helikopter Apache AH-64D Longbow Kepada Indonesia

    New York - Indonesia akan membeli delapan helikopter Apache dari Amerika Serikat, yang disebut-sebut menjadi sebuah tanda bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan menyangkut peningkatan keamanan kawasan.

    Menurut laporan AFP seperti yang dipantau ANTARA, Kamis, pembelian itu diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa di Washington, Kamis.

    Hillary mengatakan Pemerintah AS telah "menginformasikan kepada Kongres tentang potensi penjualan delapan helikopter AH-64D Apache Longbow kepada pemerintah Indonesia."

    "Perjanjian ini akan memperkuat kemitraan menyeluruh kita dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," ujar Hillary.

    Ia tidak menyebutkan nilai penjualan kedelapan Apache yang akan dibeli oleh Indonesia itu.

    Menlu Marty Natalegawa dan Menlu Hillary Clinton pada Kamis masing-masing memimpin delegasi kedua negara melakukan Pertemuan Komisi Bersama (JCM) RI-AS yang ketiga setelah mereka sebelumnya melakukan pertemuan serupa di Washington DC pada tahun 2012 dan di Bali tahun 2011.

    Komisi Bersama itu merupakan mekanisme kerangka kemitraan menyeluruh, yang secara resmi diluncurkan tahun 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Obama ketika Obama berkunjung ke Indonesia.

    Sementara itu, seperti yang diungkapkan Departemen Luar Negeri AS pada laman mereka, Hillary menyebut Indonesia sebagai "mitra yang alami" bagi AS dan menekankan pentingnya hubungan kedua negara menyangkut stabilitas kawasan.

    "Sebagai negara demokrasi terbesar kedua dan ketiga di dunia, kita adalah mitra alami, dan Amerika Serikat melihat Indonesia sebagai landasan bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik," ujarnya.

    Menlu Hillary mengatakan hubungan AS dengan Indonesia adalah pondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi.

    Ia menyebutkan, sejak tahun 2000, perdagangan bilateral kedua negara telah berlipat ganda hingga mencapai 27 miliar dolar AS (sekira Rp257,9 triliun) tahun lalu.

    "Perjanjian senilai 21 miliar dolar (Rp200,6 triliun) antara Lion Air dan Boeing merupakan yang terbesar dalam sejarah Boeing," ujar Hillary.

    Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unit pesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.

    Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.

    "Sektor gas alam Amerika telah menarik investasi dari perusahaan-perusahaan energi Indonesia di sini. Sebuah Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Celanese, yaitu sebuah perusahaan Amerika, kemungkinan mengarah kepada fasilitas baru bernilai miliaran dolar yang akan mengubah batu bara menjadi etanol," tambah Hillary.

    Menlu Marty Natalegawa sepakat dengan mitranya itu bahwa Indonesia dan AS memiliki kemitraan yang kuat.

    "Kemitraan yang menguntungkan kedua belah pihak dan pada saat yang sama meluas di luar tingkat bilateral, ditambatkan dan dikendalikan oleh keyakinan kuat kedua negara bagi perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia Pasifik," kata Marty.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Konggres AS Setujui Penjualan Helikopter Apache AH-64D Longbow Kepada Indonesia

    Thursday, September 20, 2012 | 8:04 AM | 0 Comments

    Kebanjiran Order, PT DI Belanja Mesin Produksi

    Bandung - PT Dirgantara Indonesia (Persero) membeli mesin-mesin produksi baru guna memenuhi pesanan pembuatan pesawat setelah banyak pesanan (order) pembelian akhir-akhir ini.

    "Kami kebanjiran pesanan. Makanya, permesinan yang sudah berusia rata-rata 30 tahun kami revitalisasi," kata Kepala Humas PTDI Rakhendi Triyatna di Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/9).

    Selain derasnya pesanan itu, kata Rakhendi, PTDI sedang dalam jadwal pembenahan sesuai dengan program restrukturisasi dan revitalisasi. Selain melaksanakan penyiapan SDM sesuai kebutuhan masa depan, pengadaan mesin-mesin baru guna kelancaran proses produksi.

    Mesin-mesin baru yang sudah dioperasikan yaitu sebanyak 8 unit dan 5 unit lainnya dalam proses kedatangan.

    Mesin tersebut adalah mesin CNC (computerized numerical control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB, Gantry Jobs LINX30, serta Gantry Matec 30 P.

    Mesin-mesin berteknologi tinggi dalam kondisi baru tersebut didatangkan dari beberapa pabrik di antaranya dari Jerman, Italia, dan Taiwan.

    Kemampuan mesin CNC dapat diandalkan. Pengalaman selama ini menunjukkan di samping mampu menyelesaikan pembuatan komponen (single dan detail part) untuk pesawat-pesawat produk sendiri, PTDI mampu memasok dalam jumlah besar komponen pesanan Airbus, Boeing, dan Bombardier.

    "Sebagaimana sering kami ungkapkan, PTDI merupakan pemasok tunggal untuk bagian tengah, depan, sayap pesawat A380, pesawat terbesar di dunia yang berlantai dua," kata Rakhendi dengan menambahkan pihaknya saat ini memiliki lebih dari 100 mesin CNC dan TNC.

    Sumber : Metrotvnews
    Readmore --> Kebanjiran Order, PT DI Belanja Mesin Produksi

    Dirut PT DI : Kontrak PTDI Tembus Rp 8,2 Triliun

    Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memperkirakan akan mendapat kontrak sebesar Rp8,2 triliun pada tahun 2012.

    Kontrak tersebut berasal dari pesanan pesawat Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Udara (AU).

    Asisten Direktur Utama Bidang Sistem Jaminan Mutu PT Dirgantara Indonesia, Soni Saleh Ibrahim, mengatakan, sepanjang sejarah, nilai kontrak tersebut merupakan yang terbesar. “Ini seiring niat pemerintah memberdayakan industri strategis,” kata Soni di Bandung, Selasa (18/9).

    Soni memaparkan, kontrak itu terdiri dari pemesanan sembilan pesawat CN 295 untuk TNI Angkatan Udara, 25 unit helikopter Bell 412 EP untuk TNI Angkatan Darat, serta 6 unit helikopter EC 725 pesanan TNI Angkatan Udara.

    Nilai kontrak itu meningkat dari pemesanan 2011 sekitar Rp1 triliun. Adapun pemesanan pada tahun lalu, terdiri dari 1 unit pesawat NC 212-400 dengan konfigurasi pembuat hujan dari Thailand, 3 unit helikopter Bell 412 EP dari TNI Angkatan Laut, 4 unit helikopter Bell 412 EP dari TNI Angkatan Darat, serta 2 helikopter Super Puma NAS 332 dari TNI Angkatan Udara.

    Untuk mengantisipasi banyaknya pesanan, kata Sony,PTDI mulai melakukan rekrutmen tenaga teknik baru. Sebelumnya, Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT Dirgantara Indonesia, Sukatwikanto mengatakan perekrutan itu akan dilakukan bertahap hingga tahun 2015 mendatang.

    PT Dirgantara Indonesia menargetkan rekrutmen rata-rata 300 orang setiap tahunnya terhitung mulai tahun 2012 ini.

    Saat ini PTDI memiliki 2 ribu tenaga kerja muda dan 2 ribu orang yang bakal selesai masa kerjanya pada 2020 mendatang. Manajemen memutuskan untuk membuka rekrutmen serta pelatihan bagi para tenaga kerja baru. “Rekrutmen itu dibutuhkan untuk regenerasi,” tambah Sukatwikanto.

    PT Dirgantara Indonesia juga melakukan roadshow ke berbagai perguruan tinggi untuk menyosialisasikan program rekrutmen ini. “Kami sudah jalan ke Universitas Hasanudin di Makassar serta Universitas Udayana di Bali. Selanjutnya akan ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan,” tutur Sukatwikanto.

    Terkait produksi pesawat tahun 2013-2014, Soni mengatakan, pihaknya bakal mengerjakan 11 unit helikopter anti kapal selam untuk TNI Angkatan Laut, 3 unit helikopter Bell 412 EP untuk Polisi Udara.

    Selanjutnya 2 unit CN 235 anti kapal selam, 2 unit CN 235 versi military transport, serta 2 pesawat NC 212-200 untuk Filipina Air Force, serta 3 unit CN 235 untuk Brunei Royal Air Force. “Nilai kontraknya sekitar Rp2,5 triliun,” tambah Soni.

    Untuk mengerjakan pesanan tersebut, PT Dirgantara membutuhkan belanja modal sekitar 60 persen dari nilai kontrak. “Pembuatan satu pesawat itu memakan antara 6 ribu hingga 10 ribu jam kerja, tergantung jenis pesawatnya,” terang dia.

    Sumber : Berita Satu
    Readmore --> Dirut PT DI : Kontrak PTDI Tembus Rp 8,2 Triliun

    Airbus Military Melakukan Serah Terima CN-295 Kepada Indonesia

    Madrid - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin saat ini dalam perjalanan menuju Airbus Military di Sevilla, Spanyol untuk serah terima pesawat militer CN295.

    Hal itu disampaikan Atase Pertahanan RI di Madrid, Kolonel CAJ Erry Herman kepada detikcom, Rabu (19/9/2012).

    Didampingi delegasi High Level Committee (Panitia Tingkat Tinggi), Wamenhan dijadwalkan bertolak pada pukul 09.30 waktu setempat dari Instalasi Airbus Military di Getafe, langsung uji terbang dengan pesawat baru produksi bersama Airbus Military dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) itu.

    Pesawat CN295 yang diserahterimakan hari ini sebanyak 2 dari 9 unit sesuai kontrak kerjasama. Selanjutnya 2 pesawat ini akan diterbangkan ke tanah air dan diharapkan sudah bisa dipresentasikan pada Hari TNI 5 Oktober mendatang.

    Menurut Kolonel Erry, delegasi HLC dalam rombongan Wamenhan ini antara lain Dirjen Renhan Marsda Sunaryo, Ka Baranahan Kemhan Mayjen Ediwan Prabowo, Aslog Kasad Mayjen Joko Sriwidodo, Aslog Kasau Marsda JFP Sitompul, Kabag Fora Set Baranahan Kemhan Kolonel Laut (E) Listyanto, Kasubag Duk Mayor Laut (KH) Isam Hadi, Deputi Bidpol Hukum dan Hankam Rizky Ferianto, dan Kasubditwas Lembaga Pemerintah Bidang Hankam BPKP Bea Rejeki Tirta Dewi.

    Kemudian Duta Besar Adiyatwidi Adiwoso Asmadi, Atase Pertahanan RI Kolonel CAJ Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Aerostruktur Andi Alisjahbana, Sales Marketing Aircraft Integration Ariwibowo, dan Asisten Dirut Hubungan Kepemerintahan Irzal Rinaldi.

    Selain itu juga dari Bank BRI selalu pihak finance yang menyediakan bridging loan: Managing Director BRI Asmawi Syam, Senior Vice President Susy Liestiowaty, Senior Vice President M. Sodo Harisetyanto.

    Ikut terbang bersama rombongan delegasi HLC dalam pesawat angkut menengah militer CN295 yang sudah bertuliskan TNI Angkatan Udara, Indonesian Air Force itu juga para pejabat teras dari manajemen Airbus Military dan media setempat.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Airbus Military Melakukan Serah Terima CN-295 Kepada Indonesia

    Tuesday, September 18, 2012 | 5:01 PM | 0 Comments

    PT DI Kerjakan 11 Helikopter ASW Dan 8 Helikopter Serang Ringan

    Bandung - Selain pesawat sayap tetap versi patroli maritim, minat terhadap helikopter produksi PT Dirgantara Indonesia juga terus menunjukan peningkatan. Kebanyakan heli tersebut ditujukan untuk kepentingan militer.

    Pemesannya memang didominasi Kementerian Pertahanan guna memperkuat alutsista TNI. Meski demikian, secara kuantitas, heli yang dipesan relatif signifikan termasuk bagi pendapatan perusahaan.

    Ditambah pesanan terhadap pesawat sayap tetap terutama CN-235 MPA dan anti kapal selam, nilai kontrak yang diraih PT DI mencapai Rp 8,2 triliun. Ini di luar pencapaian tahun 2011 yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

    Berdasarkan keterangan Asisten Direktur Utama PT DI Bidang Sistem Jaminan Mutu, Sonny Ibrahim Saleh, sejak 2012, BUMN strategis itu akan menggarap 11 unit heli anti kapal selam AL dan delapan unit heli serang AD.

    "Untuk anti kapal selam jenisnya adalah Superpuma karena faktor peralatan pendukung sedangkan untuk tujuan serang bukan lagi NBO-105 tapi kemungkinan Ecureuil," tandasnya di Bandung, Selasa (18/9).

    Kemungkinan yang dimaksudkan Sonny adalah Eurocopter AS350 Ecureuil. Di saat yang sama, PT DI juga tengah memenuhi pesanan 7 unit heli buatan pabrikan asal Eropa berjenis lainnya. Enam di antaranya untuk AD. Jenisnya adalah EC-725 Cougar varian Combat SAR and Personal Recovery. Pengerjaan tersebut di luar jumlah pesanan atas heli angkut personil Bell 412 EP untuk kepentingan TNI.

    Sumber : Suara Merdeka
    Readmore --> PT DI Kerjakan 11 Helikopter ASW Dan 8 Helikopter Serang Ringan

    Wawancara Bersama Direktur Umum Dan SDM PT Dirgantara Indonesia

    Bandung - Setelah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir, PT Dirgantara Indonesia (Persero) kini mulai bangkit. Order pembuatan pesawat, komponen dan jasa datang dari berbagai negara. PTDI mulai merevitalisasi struktur dan SDM untuk mengimbangi meningkatnya pesanan dan kontrak pembuatan pesawat. Bagaimana itu dilakukan? Berikut wawancara wartawan FAJAR, Hasbi Zainuddin, dengan Direktur Umum & SDM PT Dirgantara Indonesia (Persero), Sukatwikanto, di ruang redaksi Harian FAJAR, 12 September lalu.

    PTDI lebih cenderung memproduksi pesawat untuk militer. Bagaimana perkembangannya?

    Klaster pesawat yang dibuat PTDI itu memang lebih kepada military, karena memang sejak awal didirikan, PTDI itu memang memproduksi pesawat militer. Orientasinya sebagai transportasi sipil dan membantu pertahanan. Meskipun kita belum memproduksi pesawat tempur.

    Pembiayaannya bagaimana?

    Jika dihitung, total nilai kontrak itu mencapai Rp8 triliun, hingga tahun 2016. Untuk modal dan pembiayaan pesawat ini, kita ambil dari APBN melalui bank pemerintah.

    Pembeli itu datang dari mana saja?

    Untuk pesawat-pesawat military ini, pembeli kita tahun ini semakin meningkat. Kita bahkan sudah punya kontrak pembuatan pesawat dengan beberapa pembeli dalam negeri dan negara luar. Baik itu berupa unit pesawat, maupun komponen dan jasa.

    Selain dari dalam negeri, pemesan kita yang sudah deal itu datang dari beberapa negara, di antaranya Korea Selatan, UAE (Uni Emirat Arab), Pakistan, Jepang, Malaysia, Brunei, Thailand, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Irlandia. Turki, Burkinafaso, dan Senegal. Negara-negara ini membangun kontrak pembelian pesawat, komponen, dan jasa.

    Selain beberapa negara itu, kami juga sementara mengikuti proses tender penjualan pesawat di Filipina. Pesawat tersebut antara lain tiga unit jenis CN 295, 4 unit CN235 untuk seri maritim transport, dan satu unit NC212 untuk seri 200 untuk maritim patroli.

    Tendernya sementara berlangsung di Finance State. Kita berharap tahun ini ada beritanya menang. Nah, di Thailand, kita sudah memenangkan tender satu unit NC 212-200. Penjualan di Thailand dan Filipina ini menambah nilai kontrak Rp8 triliun itu.

    Pesawat yang dipesan jenis apa saja?

    Macam-macam. Salah satu pemesan kita, Korea, itu menggunakan salah satu jenis pesawat CN235 sebagai pesawat kepresidenan. Sementara Malaysia, menggunakannya sebagai pesawat VIP, setingkat di bawah presiden.

    Untuk pesawat, kita mengandalkan N295. Pesawat ini ordernya sudah sembilan unit sampai tahun 2014, oleh TNI Angkatan Udara.

    Tahun ini sudah ada dua yang jadi dan kita delivery.

    CN295 ini adalah pesawat hasil pengembangan CN235 yang dilakukan Airbush Military. Bedanya, badan pesawat ini lebih panjang tiga meter, sehingga mampu membawa penumpang sampai 50 orang, dengan menggunakan mesin Turboprop Pratt & Whitney yang lebih besar. Pesawat ini juga mampu mengangkut satu unit mobil tank.

    PT Dirgantara bekerjasama dengan berbagai pihak dalam hal produksi beberapa pesawat. Apa kerjasama yang paling strategis?

    Jadi, pertama yang harus dipahami tentang konsep industri pesawat, tidak ada industri yang memproduksi sendiri pesawat secara utuh. Untuk PTDI, ada tiga jenis produksi kita. Pertama, pesawat yang kita diciptakan sendiri, dan hak kita untuk memproduksi dan menjualnya. Produk itu misalnya, pesawat CN235 yang pembuatannya kita kerjasama dengan CASA.

    Pesawat jenis ini adalah buatan Indonesia. Ada juga produk yang underlisence. Kita buat, tapi bukan kita pemiliknya. Itu seperti pesawat NC212-200 dan 400. Kita hanya berhak memodifikasi, mengubah sedikit hidungnya, dan sayap.

    Ketiga, industrial cooperation. Artinya, kita hanya membuat komponennya. Nah, untuk ini, PTDI merupakan satu-satunya pembuat komponen untuk bahu pesawat Airbush A380. Untuk komponen itu, kita mendapat order sampai 10 tahun ke depan.

    Nah, untuk pemasaran, kami saat ini juga bekerjasama dengan Airbush Military, yang dulunya bernama CASA, dengan ikut membantu mengelola pasar pesawat jenis NC 212-400, CN 235, dan CN 295, di Asia dan Pasifik.

    Selain itu? PTDI juga terlibat dalam pengembangan pesawat tempur multi roles IFX-KFX, kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan. Pesawat ini merupakan pesawat tempur generasi 41/2, setara dengan F16++. Dari kerja sama ini, kita target mulai beroperasi tahun 2020 mendatang.

    Komposisi saham Indonesia-Korea dalam kerja sama ini sebesar 20-80 persen. Selain PTDI, beberapa pihak yang terlibat dalam pengembangannya antara lain Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai koordinator, Kementerian Ristek (Riset dan Teknologi), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), ITB, dan Balitbang Kemhan.

    Nah, dengan kerjasama ini, kita tentu memiliki hak untuk memodifikasi, mendesain, dan membangun dua skuadron di Bandung. Meskipun, kalau ada pembeli dari luar negeri, kita dan Korea tentu harus duduk bersama, karena modalnya berdua. Selain itu, tentunya masih banyak lagi kerjasama dan kontrak yang kita lakukan, yang mencukupkan nilai kontrak itu sebesar Rp8 triliun.

    PTDI saat ini menunjukkan prestasi yang baik, dan mampu bangkit dari keterpurukan sejak krisis 1998 silam. Apa faktor yang mendukung prestasi besar ini?

    Tentu dari sisi kebijakan pemerintahan. Dulu, kita kesulitan karena barang yang dipesan itu bisa kita delivery dalam waktu paling cepat 36 bulan. Kenapa, karena kita dilarang stok. Jumlah barang yang ingin dibuat, harus berdasarkan order, dan pembiayaannya melalui APBN yang diputuskan setiap tahun. Sementara, pemesan maunya 12 sampai 18 bulan sejak ditandatangani kontrak.

    Sekarang, pemerintah sudah membolehkan stok, sehingga, pesawat itu bisa kita kirim lebih cepat, bisa sekitar 12 sampai 18 bulan. Pemerintah juga memberi kebijakan, khusus produksi pesawat, pembiayaannya melalui APBN multiyear, bisa sampai tiga tahun sekaligus. Pemerintah juga sudah lebih terbuka memberlakukan kredit impor.

    Target keuntungan dari order itu?

    Kita sampai sekarang sebenarnya masih menggendong utang. Kita tahun kemarin telah menyelesaikan utang masa lalu terhadap pemerintah yang manfaatnya sebagian sudah kita nikmati. Nah, sekarang masih punya utang riil. Berupa utang bisnis, yang sehari-hari kita gunakan membeli berbagai perangkat industri. Kita perkirakan tahun 2014, dengan order tersebut, utang riil itu bisa kita selesaikan.

    Apa harapan Anda?

    Untuk itu, yang kami butuhkan adalah tenaga SDM. Kita sedang mencari sarjana teknik yang punya idealisme dan integrasi yang tinggi, yang sanggup bekerja keras, meskipun gaji minim. Kita siap untuk melatih. Perekrutan SDM ini kita lakukan, karena dari sekitar 2.300 tenaga di PTDN, sekitar 70 persen di antaranya akan pensiun sampai tahun 2016 mendatang.

    Sumber : Fajar
    Readmore --> Wawancara Bersama Direktur Umum Dan SDM PT Dirgantara Indonesia

    Indonesia Dan Turki Bahas Kerjasama Pertahanan

    Jakarta - Selasa (18/9) pagi ini, Komisi I DPR dijadwalkan menerima kunjungan kerja delegasi Parlemen Turki, untuk membahas sejumlah persoalan internasional dan kelanjutan upaya peningkatan kerja sama industri pertahanan antar kedua negara.

    "Turki, parlemen dan pemerintahannya, sesungguhnya selama ini banyak berharap Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia dan mempunyai pengaruh luas di kawasan ASEAN dan Gerakan Non Blok, banyak memainkan peran dalam penyelesaian masalah internasional yang terjadi saat ini. Seperti isu nuklir Iran dan masalah Palestina," ujar Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com

    Kata Mahfudz, Turki sejak lama telah membuka diri dan mengajak Indonesia untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang pertahanan. Namun sayang Pemerintah RI sangat lambat meresponsnya, ketimbang misalnya kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat dan Eropa. Padahal, standar alutusista Turki itu sudah sama dengan yang dimiliki negara-negara NATO.

    "Ini sebagaimana juga mereka sampaikanan saat kunjungan kerja kita (Komisi I DPR) ke Turki beberapa lalu dan kunjungan kenegaraan Presiden dan PM Turki ke Indonesia selama beberapa waktu lalu. Mereka berulang kali sudah menyampaikan dan mengajak peningkatan kerja sama pertahanan dengan RI."

    Kata Mahfudz, sebelumnya Komisi I DPR juga telah menekankan perlunya pengadaan dan modernisasi alutsista TNI yang bervariasi. Tujuannya, ketika negara yang selama ini menjadi tumpuan atau kiblat alutsista bagi TNI, tiba-tiba mengembargo, Indonesia tidak terpukul. Menurut Mahfudz, sejumlah alutsista berat Turki seperti kapal selam, kapal perang, pesawat tempur, pesawat tanpa awak, dan radar militer, sangat berkualitas baik dan berstandar NATO.

    "Mereka (Turki) sudah berulang kali menyatakan siap melakukan transfer teknologi alutsista jika Pemerintah RI mau. Dan, Turki sangat terbuka serta tidak memberikan persyaratan politik untuk kerja sama pengadaan, alih teknologi, dan produksi alutsista dari Turki pada Indonesia tersebut. Sekarang tinggal kitanya, mau tidak meningkatkan kerja sama dengan Turki tersebut, utamanya kerja sama dalam bidang pertahanan tersebut," ujar politisi PKS tersebut.

    Sumber : Jurnal Parlemen
    Readmore --> Indonesia Dan Turki Bahas Kerjasama Pertahanan

    Jerman Dukung Pengadaan Alutsista Oleh Indonesia

    Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, mengadakan kunjungan kerja ke Jerman, Perancis dan Spanyol dari Tanggal 17 sampai dengan 24 September 2012. Dalam kunjungan kerja Wamenhan sebagai Ketua High Level Committee (HLC) Kemhan ini didampingi Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsda TNI Sunaryo, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Aslog Kasad Mayjen TNI Joko Sriwidodo, Aslog Kasau Marsda TNI JFP Sitompul. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melaksanakan negosiasi dalam proses pembelian atau pengadaan Alutsista TNI sesuai dengan Rencana Strategi 2010-2014.

    Mengenai kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan tim HLC ke Jerman, Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan memberikan dukungan kepada Indonesia dalam pembelian Alutsista Jerman. Pernyataan tersebut dimuat di beberapa media Jerman menanggapi kunjungan Wamenhan bersama tim HLC ke Jerman. Kanselir memberikan tiga alasan dukungan terhadap Indonesia dalam pembelian Alutsista Jerman tersebut yaitu ; Indonesia bukan negara yang memiliki banyak hutang, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat, dan Indonesia bukan merupakan negara pelanggar HAM. Kanselir Jerman Angela Merkel juga menegaskan bahwa tidak ada negara lain yang mendikte Jerman dalam penjualan Alutsistanya.

    Kunjungan Wamenhan di Jerman, Wamenhan dijadwalkan bertemu dengan CEO Rheinmetall, CEO Grob, dan CEO Luersen. Turut serta dalam kunjungan kerja tersebut Deputi Menteri Negara PPN/Ka Bappenas Bid. Polhukhankam Ir. Rizky Ferianto MA, dan Dirut PT. Dirgantara Indonesia Budi Santoso. Dalam kunjungannya ke Spanyol, Wamenhan direncanakan akan mengunjungi Kementerian Pertahanan Spanyol dan bertemu dengan Menhan Spanyol D. Pedro Morenes Eulate, serta melaksanakan pertemuan dengan State Secretary Bidang Industri Pertahanan Spanyol.

    Sumber : DMC
    Readmore --> Jerman Dukung Pengadaan Alutsista Oleh Indonesia

    Kemhan Siapkan Dana Pinjaman Rp 21 T Untuk 45 Jenis Pengadaan Alutsista TNI

    Malang - Kementerian Pertahanan terus berupaya melengkapi alutsista di lingkungan TNI. Sekitar 40 persen dari program pembangunan kekuatan pertahanan sudah direncanakan selama 15 tahun ini terealisasi hingga akhir semester pertama tahun 2014 mendatang.

    "Total dana yang dianggarkan sebesar Rp 57 triliun, Rp 21 triliun di antaranya berasal dari pinjaman luar negeri," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, disela serah terima empat pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Senin (17/9/2012).

    Purnomo menjelaskan, dalam program pembangunan kekuatan pertahanan itu, tercatat sebanyak 45 kegiatan pengadaan alutista bergerak bakal selesai pada Tahun 2014 nanti.

    "Ada 45 jenis pengadaan," jelas dia kepada wartawan.

    Ia menambahkan, dari total 45 pengadaan itu, sebanyak 30 persen alutsista diperuntukkan bagi TNI AU, yang meliputi pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, dan pesawat latih.

    "Sedangkan alutsista tak bergerak seperti radar," imbuh dia.

    Dalam kesempatan itu, Purnomo menyerahkan empat pesawat Super Tucano kepada Skadron 21 Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh, turut hadir dalam acara itu Panglima TNI, dan Kasau, Pangkoops2 TNI Angkatan Udara, dan Pangdam V Brawijaya.

    Tak ketinggalan, pihak ambassador Brasil sebagai produsen pesawat taktis pengganti OV-10 Bronco sudah di-grounded sejak 2007 silam. "Kini resmi Tucano menjadi kekuatan baru pertahanan udara tanah air," sebut Purnomo.

    Sebelumnya, empat pesawat Super Tucano terlebih dahulu tiba di Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh setelah menempuh perjalanan panjang dari Brasil.

    Sumber : DETIK
    Readmore --> Kemhan Siapkan Dana Pinjaman Rp 21 T Untuk 45 Jenis Pengadaan Alutsista TNI

    KSAU : Indonesia Harus Membeli 32 Super Tucano Untuk Produksi Bersama

    Malang - Pemerintah Brasil membuka kesempatan lebih luas untuk kerja sama pengadaan pesawat militer aneka jenis dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) pascapenjualan Super Tucano ke Indonesia.
    br/> Sayangnya, dalam pengadaan Super Tucano yang sudah berjalan, alih teknologi (ToT) yang didapat Indonesia minim. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disertai alih teknologi. Namun dalam pengadaan Super Tucano ini, alih teknologi yang didapat tidak sampai dalam tahap teknologi pembuatan. Menurut dia,minimal harus beli 32 unit agar Indonesia bisa mendapat ToT hingga proses produksi bersama.
    br/> ”Kalau minimal 32 unit, beberapa pesawat bisa diproduksi di Indonesia. Tapi karena baru delapan, ToT untuk PT Dirgantara Indonesia (DI) baru bisa ground support,” terangnya seusai serah terima pesawat dari Pemerintah Brasil kepada Indonesia di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang,kemarin. Seperti diketahui, TNI AU membeli delapan pesawat Super Tucano dengan nilai USD141,99 juta. Pihak Embraer Brasil selaku produsen baru mengirimkan empat pesawat.
    br/> Direncanakan empat pesawat lagi akan dikirim pada 2013. KSAU menuturkan, memang diharapkan PT DI bisa turut serta dalam pembuatan pesawat yang cocok untuk counter insurgency (antigerilya) sehingga suatu saat Indonesia bisa memproduksi pesawat jenis ini. Namun, dengan jumlah pembelian yang sedikit tersebut, jika dipaksakan dilakukan produksi bersama justru membuat anggaran membengkak. ”Kita sudah lima tahun off, skuadron tidak terbang (pascagrounded OV-10 Bronco pada 2007). Jadi kita harus cepat (pengadaannya),”terangnya.
    br/> Adapun untuk persenjataan, lanjut KSAU,hanya sebagian yang tidak dibeli dari luar negeri seperti PDU, bom MK82,dan roket FFAR karena industri dalam negeri sudah bisa memproduksi.Selebihnya harus membeli dari luar negeri seperti peluru kaliber 12,7 mm dengan sistem tembak elektrik.” Super Tucano bisa mengangkut senjata hingga 1,5 ton,” sebut Imam. Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silvera Soares mengatakan,kerja sama pertahanan antara kedua negara tak hanya untuk jangka pendek dan menengah,melainkan jangka panjang.
    br/> ”Kami juga siap memberikan alih teknologi dan siap memberikan masukan apa pun yang dibutuhkan Indonesia,”tegasnya. Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security Luiz Carlos Aguiar menambahkan,Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan. Itu pun jika Indonesia membeli minimal dua skuadron.
    br/> Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serah terima pesawat Super Tucano tersebut cukup monumental karena Indonesia mendapat pesawat beserta perjanjian kerja sama berkelanjutan. ”Januari 2013 datang lagi pesawat itu (4 unit),” ucapnya. Selanjutnya, pada akhir 2013 atau awal 2014, delapan unit yang dibeli pada tahap kedua dijadwalkan juga tiba.
    br/> Sumber : SINDO
    Readmore --> KSAU : Indonesia Harus Membeli 32 Super Tucano Untuk Produksi Bersama

    Monday, September 17, 2012 | 1:04 PM | 0 Comments

    Menhan : Ada 14 Alutsista Yang Akan Perkuat Pertahanan TNI AU

    Malang - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, menargetkan hingga 2014 atau hingga berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, 14 jenis alutsista akan hadir untuk memperkuat pertahanan udara TNI AU.

    Alutsista tersebut, nilainya ialah 30 persen dari total Rp 57 Triliun yang telah dianggarkan pemerintah untuk 45 kegiatan di jajaran TNI AD, TNI AU, dan TNI AL.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dalam sambutannya di serah terima empat pesawat EMB-314 Super Tucano di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, siang ini (17/9/2012) menguraikan bahwa untuk TNI AU, jenis-jenis alutsista yang akan diadakan diantaranya ialah alutsista jenis pesawat angkut, jenis pesawat tempur, jenis Helikopter, dan jenis pesawat latih.

    "Setidaknya sampai akhir kabinet, semuanya diharap akan terpenuhi. Itu belum termasuk alutsista tidak bergerak seperti radar misalnya," kata Purnomo.

    Sementara itu, untuk Super Tucano sendiri, ditargetkan pada Januari 2013 mendatang, empat Tucano akan kembali tiba di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh. Sedangkan delapan sisanya, direncanakan akan tiba pada akhir 2013 atau paling lambat pada awal 2014.

    "Sehingga total akan ada satu skadron penuh Super Tucano yang memperkuat pertahanan kita," imbuhnya.

    Sumber : Tribun
    Readmore --> Menhan : Ada 14 Alutsista Yang Akan Perkuat Pertahanan TNI AU

    Embraer Tawarkan KC-390 Kepada TNI AU

    Malang - Setelah pesanan pasti empat dari delapan pesawat tempur kontra penyusup EMB-314 Super Tucano diserahkan kepada TNI AU, Embraer Brazil berniat menawarkan pesawat transport berat.

    "Bisa menggantikan C-130 karena daya angkut maksimalnya hingga 20 ton sementara Hercules cuma 12,5 ton saja. Pangsa pasarnya beda karena ini memiliki keunggulan tersendiri," kata CEO Embraer Brazil, Luiz C Aguiar, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Abdurrahman Saleh, Malang, Senin siang.

    Bersama Duta Besar Brazil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares, dia menyerahterimakan empat Super Tucano itu kepada Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, yang kemudian menyerahkan lagi kepada Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Imam Sufaat.

    Aguilar sengaja datang dalam upacara serahterima empat Super Tucano yang beberapa waktu lalu menginjakkan ban-ban roda pendaratnya di Tanah Air setelah meninggalkan Brazil dua pekan lalu. Indonesia adalah pengguna pertama Super Tucano di Asia-Pasifik.

    Dia tidak mengungkap secara persis jenis dan tipe pesawat angkut militer bermesin jet yang dikatakan itu. Akan tetapi, Embraer memiliki KC-390 yang difungsikan sebagai pesawat angkut berat dan tanker udara.

    Indonesia telah memilih C-295 buatan Airbus Military sebagai pesawat angkut ringannya, mendampingi CN-235. Bicara soal pesawat transport militer, Embraer berhasil meyakinkan Angkatan Udara India untuk memilih EMB-145 sebagai pesawat peringatan dini dan pengatur pertempuran (AWACS).

    Di Indonesia, nama Embraer sebagai produsen pesawat terbang telah lebih dulu ternama di bidang pesawat jet eksekutif dengan konfigurasi mewah, di antaranya Phenom 100 dan Legacy 600.

    Bagi Embraer, kata Aguilar, kenyataan Indonesia memilih Super Tucano adalah sangat penting. "Ini memberi kesempatan bagi kita bersama membangun kerja sama yang baru, yang saling menguntungkan," katanya.

    Sumber : ANTARA
    Readmore --> Embraer Tawarkan KC-390 Kepada TNI AU

    Kemhan Memiliki Pinjaman Luar Negeri Terbanyak

    Jakarta - Kementerian Pertahanan menjadi kementerian/lembaga yang direncanakan menarik pinjaman proyek terbesar pada 2013 dengan nilai pinjaman luar negeri mencapai Rp12,75 triliun.

    Berdasarkan data Kementerian Keuangan, dalam RAPBN 2013 total pinjaman proyek yang akan ditarik mencapai Rp39,4 triliun. Pinjaman ini terdiri dari pinjaman kementerian/lembaga Rp29,21 triliun, pinjaman yang diterushibahkan kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta Rp3,22 triliun, dan penerusan pinjaman (subsidiary loan agreement) kepada Pemda dan BUMN Rp6,96 triliun.

    Dari 23 K/L, pinjaman untuk Kementerian Pertahanan tercatat paling besar, yakni terdiri dari pinjaman proyek yang sedang berjalan (on-going) senilai Rp132,3 miliar dan pinjaman yang segera diaktifkan pada 2013 (pipeline) Rp12,62 triliun.

    Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsyudin mengatakan pihaknya menargetkan pencapaian kebutuhan alutsista yang pembiayaannya menggunakan kredit ekspor dapat selesai pada semester I/2014.

    Selama ini, imbuhnya, telah terjadi akselerasi pengadaan kapal selam, kapal rudal, pesawat CN-235 yang didatangkan dari Spanyol. Namun, beberapa kendala akuntabilitas menyebabkan pinjaman kredit ekspor alutsista tahun anggaran 2012 senilai Rp9 triliun diblokir oleh Kemenkeu.

    "Saya kira blokir sudah mengalami akselerasi. Tugas Kemenkeu adalah bagaimana melaksanakan loan agreement sampai pengeluaran L/C yang dikeluarkan perbankan, Kemenhan skema pengadaannya," tuturnya di kantor Kemenkeu, pekan lalu (13/09).

    Dalam RPJMN 2010-2014, program percepatan pembangunan Minimum Essential Forces menjadi salah satu prioritas pemerintah. Pada 2013, pemerintah menargetkan peningkatan alutsista matra darat menjadi 37%, matra laut 21%, dan matra udara 31%.

    Selain Kemenhan, Kementerian Pekerjaan Umum, Polri, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga direncanakan menarik cukup banyak pinjaman proyek pada 2013. Nominalnya berturut-turut Rp7,80 triliun untuk KemenPU, Rp2,07 triliun untuk Polri, dan Rp1,65 untuk Kemendikbud. Adapun dari total pinjaman proyek senilai Rp39,40 triliun yang akan dicairkan pada 2013, pemerintah menetapkan 9 proyek prioritas. Proyek tersebut mencakup rehabilitasi Pelabuhan Tanjung Priok, pembangunan transportasi kereta api jalur ganda, dan pengembangan mass rapid transportation (MRT) di Jakarta yang akan dibiayai dari pinjaman Jepang.

    Selain itu, pembangunan infrastruktur oseanografi dibiayai pinjaman dari pemerintah Perancis, pemberdayaan petani melalui pemanfaatan teknologi informasi dari pinjaman Bank Dunia, pembangunan jalan di kawasan Indonesia Timur dari pinjaman pemerintah Australia, pembangunan waduk Jatigede dan waduk Citarum, serta pembangunan pelabuhan Belawan.

    Sumber : BISNIS
    Readmore --> Kemhan Memiliki Pinjaman Luar Negeri Terbanyak

    KSAL : TNI AL Meminta Pemerintah Untuk Memperbanyak KCR

    Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) meminta pemerintah memperbanyak kapal-kapal cepat berpeluru kendali, termasuk KRI Klewang untuk memperkuat pengamanan di wilayah perairan.

    Namun, kapal-kapal perang berukuran kecil tersebut harus ditopang dengan sistem persenjataan yang canggih. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno mengatakan, wilayah laut Indonesia yang sangat luas memerlukan dukungan alat utama sistem senjata (alutsista) yang banyak dan canggih. “Kita butuh banyak sekali kapal-kapal cepat seperti Klewang,” ungkap Soeparno di Jakarta kemarin.

    Namun,karena sekarang ini baru memiliki satu kapal kawal cepat rudal (KCR) dengan tiga lunas, penempatannya baru bisa dilakukan di Armada RI Wilayah Timur (Armatim).

    Dia menyebut, KRI Klewang adalah kapal yang dari segi desain unik dengan ada tiga lambung. Dengan tiga lambung itu,kapal ini memiliki stabilitas yang tinggi saat menghadapi gelombang. Namun, biaya membuat kapal tersebut juga mahal yakni mencapai Rp114 miliar. Meski demikian, Soeparno mengatakan,pengadaan kapal KCR akan terus dilakukan sehingga jumlahnya lebih banyak lagi.Selain KRI Klewang, sebelumnya TNI AL juga mendapat tambahan beberapa unit KCR yakni KRI Celurit dan KRI Kujang.

    Guna mendukung penambahan KCR,Kementerian Pertahanan telah bekerja sama dengan pemerintah China untuk produksi peluru kendali (rudal) C-705. Seluruh KRI akan dilengkapi dengan rudal berkemampuan jelajah hingga 140 kilometer itu.TNI AL juga sudah dua kali melakukan uji coba rudal ini.

    Hasilnya cukup memuaskan untuk dipilih sebagai senjata kapal KCR. Menurut Menhan Purnomo Yusgiantoro, dengan produksi sendiri rudal,kemampuan persenjataan akan meningkat cukup signifikan.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> KSAL : TNI AL Meminta Pemerintah Untuk Memperbanyak KCR

    Sunday, September 16, 2012 | 9:24 AM | 0 Comments

    Pengamat : Infrakstruktur Pendukung Tank Harus Disiapkan

    Jakarta - Pemerintah harus segera memikirkan pembangunan infrastruktur dan mengkaji lokasi-lokasi penempatan untuk tank-tank tempur yang akan tiba dari Jerman.

    Apalagi sebagian besar infrastruktur yang ada sekarang tidak dirancang untuk mendukung pergerakan kendaraan tempur seperti tank. Pengamat pertahanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Cornelis Lay menuturkan, tank yang dimiliki Indonesia sekarang ini memang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. “Tapi dengan membeli tank seberat 63 ton (Leopard),kesulitan kita infrastruktur tidak tersedia,”paparnya saat dihubungi SINDO kemarin.

    Sebagaimana diketahui,Pemerintah Indonesia telah membeli ratusan tank Leopard dan Marder dari Jerman. Keberadaan tank tersebut sebagai penguatan pertahanan dalam negeri. Kendala infrastruktur makin jelas bila tank-tank itu ditempatkan di wilayah perbatasan. “Itu kesulitan teknis mau penempatannya di mana,” sebut dia.

    Cornelis menyebut pembangunan infrastruktur yang ada tidak dirancang untuk mendukung pergerakan kendaraan militer sebagaimana banyak dilakukan negara lain di dunia. Kalaupun ada yang sanggup, itu pun jumlahnya terbatas. Selain itu, lanjut dia,pemerintah patut mengkaji masalah strategi penempatan ini dengan kebijakan politik luar negeri.

    Pada 2015, kebijakan politik luar negeri mengarahkan Indonesia menjadi bagian ASEAN Community yang memiliki tiga kesepakatan integrasi. Integrasi pertama adalah integrasi wilayah,kemudian integrasi lembaga, serta integrasi penduduk.

    Integrasi-integrasi ini membuat semua negara ASEAN Community terbuka satu sama lain. “Apakah dengan kebijakan seperti ini, penjagaan perbatasan dengan penguatan militer di perbatasan (Kalimantan-Malaysia) masih relevan? Memang masih ada perbatasan lain seperti di Papua, tapi ya itu tadi kendalanya infrastruktur,”sebut dia.

    Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, sesuai kajian pertahanan yang pernah dilakukan, geografi Indonesia lebih cocok dengan pengoperasian tank medium ketimbang MBT.Karena itu pihaknya sejak awal menyarankan agar pemerintah tidak membeli MBT.

    Sementara itu, kajian tim kavaleri TNI Angkatan Darat menyimpulkan Leopard memiliki beberapa keunggulan dibandingkan MBT lain. Di antaranya dari segi penggunaan bahan bakar, Leopard multifuel berbeda dengan lainnya yang hanya bisa dengan satu jenis bahan bakar. Dari segi kemampuan, Leopard mampu menembak sejauh 6 km, lebih jauh ketimbang MBT PT-91M milik Malaysia yang sanggup 5 km.

    Leopard juga mampu menyelam dalam air berkedalaman tak lebih dari empat meter dan mampu menembak siang dan malam. Adapun Marder, tank medium ini dapat difungsikan sebagai pengangkut perpindahan personel. Pengadaan Mar-der ini tidak pernah disinggung sebelumnya. Bahkan,Komisi I DPR juga belum membahasnya.

    Kapal Berpeluru Perlu Diperbanyak

    Sementara itu,TNI Angkatan Laut membutuhkan banyak kapal cepat berpeluru kendali, termasuk KRI Klewang, untuk memperkuat pengamanan di wilayah perairan.Namun, kapal- kapal perang berukuran kecil tersebut harus ditopang dengan sistem persenjataan yang canggih.

    Menurut Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, wilayah laut Indonesia yang sangat luas memerlukan dukungan alutsista yang banyak dan canggih. “Kita butuh banyak sekali kapal cepat seperti Klewang,” katanya kemarin.

    Namun karena sekarang ini baru memiliki satu kapal kawal cepat rudal (KCR) dengan tiga lunas, penempatannya ada di armada RI wilayah timur (armatim). Dia menyebut KRI Klewang adalah kapal yang dari segi desain unik dengan adanya tiga lambung. Dengan tiga lambung itu,kapal ini memiliki stabilitas yang tinggi saat menghadapi gelombang.

    Namun, biaya membuat kapal tersebut juga mahal, yakni mencapai Rp114 miliar. Meski demikian, Soeparno menuturkan,pengadaan kapal KCR akan terus dilakukan sehingga jumlahnya lebih banyak lagi.

    Sumber : SINDO
    Readmore --> Pengamat : Infrakstruktur Pendukung Tank Harus Disiapkan

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.