ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, June 11, 2011 | 3:37 PM | 0 Comments

    TNI AU Akan Diperkuat Lima Hercules Baru

    Jakarta - Sebanyak lima unit pesawat angkut C-130 Hercules akan segera memperkuat TNI Angkatan Udara, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Jakarta, Sabtu.

    Ditemui ANTARA usai memimpin serah terima jabatan Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I, Kasau Marsekal Imam Sufaat mengatakan lima pesawat angkut C-130 itu akan tiba di Indonesia dalam dua tahun mendatang secara bertahap.

    "Kami membutuhkan sembilan pesawat Hercules, dalam dua tahun ini semoga bisa dipenuhi lima dulu. Dengan penambahan sembilan unit itu, maka TNI Angkatan Udara akan memiliki 30 unit," katanya.

    Ketigapuluh unit Hercules itu, lanjut Imam terdiri atas pesawat tanker sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional untuk mengangkut dua batalyon sebanyak 26 unit.

    Ia menuturkan, untuk memenuhi sembilan unit Hercules ke depan maka pihaknya telah menjajaki beberapa tawaran dari beberapa negara.

    "Dari beberapa tawaran itu, kami pilih yang terbaik," kata Kasau.

    Hingga kini setidaknya tiga negara yang menawarkan hibah pesawat angkut C-130 Hercules kepada Indonesia, seperti Amerika Serikat, Australia dan Norwegia.

    Pemerintah Amerika Serikat dan Australia menawarkan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe E dan J dengan potongan harga khusus kepada pemerintah Indonesia pada 2012.

    Enam Hercules hibah dari AS itu merupakan pesawat yang sebelumnya diperuntukkan bagi tiga negara di Asia dan Afrika. Namun, semua sebelum dihibahkan ke Indonesia telah mengalami perbaikan dan modifikasi.

    AS menjanjikan bantuan pengadaan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dan J untuk Indonesia. Bantuan berupa potongan harga dengan menggunakan fasilitas Foreign Military Financing (FMF) dan bantuan suku cadang bagi pesawat angkut berat Hercules.

    Sementara Pemerintah Norwegia menawarkan empat unit pesawat angkut C-130 Hercules tipe H kepada Indonesia, yang telah digunakan Angkatan Udara Norwegia.

    Sebelum dihibahkan, Norwegia sepakat untuk melakukan peremajaan terlebih dulu atas biaya mereka. Empat unit Hercules tipe H yang ditawarkan tersebut keseluruhannya bernilai 66 juta dolar AS.

    Sedangkan Australia menawarkan Hercules Tipe J, sesuai hasil kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara Australia pada awal 2011, maka Australia akan segera menyerahkan hibahnya kepada Indonesia.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI AU Akan Diperkuat Lima Hercules Baru

    KSAU: Pelanggaran Wilayah Terus Meningkat

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengemukakan, kegiatan pelanggaran wilayah baik di darat, laut maupun udara meningkat.

    "Meski berdasar analisa intelijen dalam beberapa waktu ke depan tidak akan ada invasi terbuka, namun pelanggaran wilayah makin meningkat baik di darat, laut maupun udara," katanya, saat memimpin upacara serah terima jabatan Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) I di Jakarta, Sabtu.

    Imam mengatakan, pelanggaran wilayah itu disertai dengan aksi pencurian sumber daya alam baik di darat maupun di laut.

    "Pembalakan liar, pencurian ikan marak terjadi di wilayah kita. Karena itu. Berbagai bentuk pelanggaran wilayah disertai kegiatan ilegal seperti pencurian ikan tersebut dapat menjadi potensi konflik bagi dua negara atau beberapa negara," katanya.

    Terkait itu, lanjut Imam, sebagai salah satu komando utama yang bertugas menegakkan kedaulatan di udara dan mendukung kedaulatan negara di laut dan darat, Koopsau I harus terus melaksanakan peran dan tugas pokoknya dengan maksimal.

    Kasau mengakui, untuk melaksanakan peran dan tugas pokoknya secara maksimal masih terkendala terbatasnya tingkat kesiapan alat utama sistem senjata karena anggaran yang terbatas.

    "Namun, bukan berarti dengan keterbatasan itu, jajaran Koopsau I tidak dapat melakukan tugas pokoknya dan perannya. Diperlukan manajemen yang baik yang dapat mensinergikan potensi SDM, alat utama sistem senjata dan lainnya," ujarnya.

    Imam menegaskan, diperlukan kreativitas, inovasi yang realistis untuk menjalankan tugas pokok dan peran Koopsau I secara maksimal dihadapkan pada keterbatasan yang ada.

    Koopsau I yang bermarkas komando di Jakarta menaungi 19 pangkalan udara atau lanud, tiga detasemen, dan 40 pos TNI AU. Wilayah tanggungjawabnya membentang dari Sabang hingga sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Jawa Tengah.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> KSAU: Pelanggaran Wilayah Terus Meningkat

    KSAU: Hibah F-16 Tunggu Keputusan Parlemen AS

    F-16

    Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan hibah dua skuadron pesawat F-16C/D Fighting Falcon dari Amerika Serikat masih menunggu persetujuan parlemen negara tersebut.

    Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, ia menambahkan, "Semoga pada Agustus mendatang, seluruh proses sudah selesai termasuk persetujuan dari parlemen AS, sehingga pada tahun ini sudah dapat tandatangan kontrak,".

    Kasau melanjutkan,"jika tahun ini sudah dapat ditandatangani kontraknya, maka tahun depan delapan unit pesawat tersebut diharapkan sudah masuk memperkuat TNI Angkatan Udara,`.

    Imam menuturkan pihaknya sudah melakukan pemaparan baik kepada Mabes TNI, Kementerian Pertahanan dan DPR tentang rencana hibah dua skuadron pesawat F-16 tersebut.

    "Bahkan kami juga sudah menyampaikan secara rinci mengapa TNI Angkatan Udara lebih memilih menerima hibah tersebut dibandingkan dengan membeli pesawat serupa berjenis terbaru namun dengan harga lebih mahal. Kita paparkan segala kekurangan dan kelebihannya," ungkapnya.

    F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multiperan yang dikembangkan General Dynamics, yang kemudian diakuisisi oleh Lockheed Martin, AS. Meski pada awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, belakangan telah berevolusi menjadi pesawat multiperan yang tangguh dan amat populer.

    Indonesia pernah memiliki 12 unit F-16 blok 15OCU yang terdiri atas delapan F-16A dan empat F-16B. Namun, anggota Komisi I (Hankam dan Luar Negeri) DPR, Fayakhun Andriadi, mengatakan, Indonesia kini hanya memiliki 10 F-16 model A/B atau F-16 generasi pertama. Indonesia hendak mengembangkannya menjadi satu skuadron penuh dengan berencana membeli enam unit F-16 terbaru model C/D.

    Namun, munculnya tawaran dari AS untuk menghibahkan F-16 kepada Indonesia. AS kini memiliki 24 F-16 C/D yang masih baik dan masih dapat di-retrofit menjadi F-16 C/D terbaru karena AS telah meningkatkan kelas pesawatnya ke F-18.

    Sebelum dihibahkan, AS membantu melakukan retrofit 24 unit pesawat F-16 C/D itu dan "upgrade" 10 unit F-16 A/B milik Indonesia menjadi F-16 generasi terbaru.

    Jika tawaran AS itu diterima, jumlah pesawat F-16 model C/D Indonesia kelak setelah "retrofit" dan "upgrade" akan menjadi 32 unit atau dua skuadron.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> KSAU: Hibah F-16 Tunggu Keputusan Parlemen AS

    Marsekal Pertama TNI Sunaryo Resmi Jadi Pangkoopsau I

    Jakarta - Marsekal Pertama TNI Sunaryo resmi menjabat Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) I menggantikan Marsekal Muda TNI Dede Rusamsi yang akan menduduki jabatan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara.

    Upacara serah terima jabatan Pangkoopsau I dipimpin Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu.

    Marsma Sunaryo merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara 1982 dan sempat menjabat sebagai Komandan Skuadron Udara 7 Kalijati, Subang, Jawa Barat.

    Pria kelahiran Bojonegoro, 14 Juli 1956, itu juga sempat dipercaya menjabat Komandan Pangkalan Udara Jayapura, Komandan Pangkalan Udara Atang Sendjaja, Bogor, dan terakhir sebagai Wakil Gubernur Akademi Angkatan Udara.

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat dalam sambutannya mengatakan, dengan pergantian jabatan Pangkoopsau I, kualitas pelaksanaan peran dan tugas Komando Operasi Angkatan Udara I, semakin meningkat.

    "Sebagai salah satu kotama, Koopsau I memiliki tugas pokok melakukan pembinaan kemampuan dan kesiapsigaan operasional TNI AU dalam menegakkan kedaulatan negara di udara, mendukung penegakkan kedaulatan negara di darat, laut dan udara," katanya.

    KASAU mengakui, keterbatasan anggaran yang berdampak pada tingkat kesiapan alat utama sistem senjata masih menjadi tantangan klasik yang harus dihadapi.

    "Karena itu, sebagai pemimpin Pangkoopsau harus mampu membina dan menumbuhkan daya kreatifitas dan inovasi untuk mengatasi tantangan itu sekaligus mencarikan solusi terbaik untuk mengatasi keterbatasan itu," kata Imam menegaskan.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Marsekal Pertama TNI Sunaryo Resmi Jadi Pangkoopsau I

    Kasum TNI Tinjau Latihan Bersama TNI-Militer China

    Jakarta - Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Suryo Prabowo meninjau langsung pelaksanaan latihan bersama TNI dengan Angkatan Bersenjata China atau People`s Liberation Army (PLA) di Bandung, Jawa Barat, Jumat.

    Ia mengatakan, latihan bersama yang baru kali pertama diadakan tidak saja bertujuan meningkatkan keterampilan, kemampuan dan profesionalisme prajurit, namun juga untuk menjalin saling pengertian dan kesepahaman militer kedua negara.

    "Latihan ini tidak semata untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan, akan tetapi bagaimana latihan antara Kopassus TNI AD dan People`s Liberation Army (PLA) China menghasilkan pemahaman, kesetaraan dan manfaat bersama bagi kedua pihak," kata Suryo.

    Latihan bersama tersebut bersandikan "Sharp Knife" dimulai pada 5 hingga 18 Juni 2011 di Pusdikpassus Batujajar.

    Kegiatan itu merupakan wahana untuk mempererat hubungan kedua negara khususnya di bidang militer antara Kopassus dengan PLA China.

    Secara umum, latihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan serta keterampilan anggota Kopassus dan PLA China dalam bidang taktik dan teknik operasi khusus secara perorangan maupun kelompok.

    Tidak itu saja, latihan itu juga bertujuan meningkatkan hubungan kerja sama antara Kopassus dan PLA China.

    Sedangkan sasaran latihan diantaranya adalah mampu melaksanakan teknik dan taktik pembebasan sandera, serbuan rumah ban, praktek penerjunan dan bersosialisasi dengan China melalui olahraga dan pertukaran budaya.

    Materi latihan bersama antara lain meliputi menembak tepat, reaksi, serbuan ruangan, pembebasan sandera di gedung, terjun statik, olahraga dan pertukaran budaya.

    Didampingi Danpusdikpassus Kolonel Inf Santos Gunawan Matondang dan Kepala Tim Koordinasi Latihan PLA China Kolonel Senior Xu Huan Lin, Kasum TNI mengunjungi daerah latihan didahului menerima paparan dari Komandan Latihan Letkol Inf Enoh Solehudin.

    Dalam kesempatan tersebut, Kasum TNI beserta rombongan juga mengecek peralatan latihan yang digunakan.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Kasum TNI Tinjau Latihan Bersama TNI-Militer China

    Bappenas: Pengadaan Alutsista TNI Mengedepankan Skala Prioritas

    Surabaya - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana menegaskan, pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) di lingkungan TNI harus mengedepankan skala prioritas dan memenuhi kebutuhan pokok minimum.

    "Pemerintah memiliki komitmen dalam percepatan pemenuhan MEF (Minimum Essential Forces) tahap pertama dalam jangka waktu lima tahun," katanya kepada wartawan di sela-sela kunjungan kerja ke Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) di Surabaya, Jumat.

    Dalam kunjungan itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas didampingi Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, KSAL Laksamana TNI Soeparno, dan sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan, Bappenas, serta Mabes TNI.

    Armida mengakui masih banyak alutsista yang dibutuhkan untuk mendukung tugas TNI. Namun, anggaran yang diperlukan juga tidak sedikit sehingga harus ada pertanggungjawaban dan berfungsi efektif.

    "Prioritas MEF (Kekuatan Pokok Minimum) alutsista tergantung 'user' (TNI) yang dikoordinasikan dengan Kementerian Pertahanan. Semua harus terintegrasi, termasuk revitalisasi industri pertahanannya," tambahnya.

    Ia menambahkan, kunjungannya ke Koarmatim dan dilanjutkan ke PT PAL bertujuan untuk mengetahui kemajuan dari pencapaian MEF, terkait pengembangan industri pertahanan dalam negeri.

    Menurut Armida, sebagai negara kepulauan, pemerintah sedang berusaha mengimplementasikan program ekonomi jangka panjang, yang salah satu program utama di dalamnya adalah pengadaan alutsista TNI dan juga industri perkapalan.

    "Keduanya harus dikembangkan bersama-sama dengan memperhatikan sejauh mana dampak positif terhadap perekonomian," tambahnya.

    Dalam kesempatan itu, Kepala Bappenas dan rombongan melihat beberapa alutsista milik TNI AL yang dipamerkan di Koarmatim, seperti tank amfibi buatan Rusia, kapal perang KRI Clurit dan KRI Banjarmasin, serta sejumlah peralatan senjata dan amunisi.

    KRI Clurit yang merupakan kapal perang jenis kapal cepat rudal dan baru bergabung di jajaran TNI AL pada akhir April 2011, adalah produksi industri perkapalan dalam negeri PT Palindo Marine, Batam.

    Begitu juga KRI Banjarmasin dari kapal perang jenis "Landing Platform Dock" (LPD) merupakan hasil karya PT PAL dan bergabung di jajaran TNI AL sejak akhir 2010. Sedangkan peralatan senjata dan amunisi produksi PT Pindad.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Bappenas: Pengadaan Alutsista TNI Mengedepankan Skala Prioritas

    Friday, June 10, 2011 | 5:49 PM | 0 Comments

    Menteri PPN Armida S. Alisjahbana Tinjau Alutsista TNI AL

    Surabaya - Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengunjungi Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Ujung Surabaya. Di markas Koarmatim ini, Armida mendapat pemaparan mengenai kekuatan pokok minimum atau Minimum Essential Forces (MEF).

    Menteri PPN Kepala Bappenas tiba di Koarmatim dan langsung disambut oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhatono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto serta Dankormar Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin di Ruang Longue Majapahit, Jumat (10/6/2011).

    Di dalam ruangan tersebut Menteri PPN/Kepala Bappenas beserta rombongan mendengarkan paparan tentang kekuatan pokok minimum atau Minimum Essential Forces (MEF) yang disampaikan oleh Waasrena Kasal Laksamana Pertama TNI Agung Pramono.

    Kunjungan Kerja Menteri PPN/Kepala Bappenas dilanjutkan meninjau Tank BMP-3F milik Korps Marinir yang baru dibeli tahun 2010 sebanyak 17 unit, KRI Clurit-641 yang dibuat oleh PT Palindo Marine Industry Tanjung Guncang Batam dan KRI Banjarmasin 592 yang bersandar di Dermaga Ujung Koarmatim, serta meninjau Alutsista dari perlengkapan dan sarana TNI AL yang digelar di Dermaga Koarmatim Surabaya.

    Turut Hadir dalam acara tersebut Aslog Panglima TNI, Danguspurlatim, Asrena Kasal, Aslog Kasal, Danpasmar-1 serta para pejabat TNI lainnya.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Menteri PPN Armida S. Alisjahbana Tinjau Alutsista TNI AL

    Komisi I DPR : Bahas Hibah F16 dari Amerika Serikat

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf, mengungkapkan, pihaknya sedang membahas beberapa usulan pemerintah di bidang pengembangan alat utama sistem persenjataan, termasuk hibah pesawat tempur jenis F-16 dari Amerika Serikat.

    "Termasuk adanya hibah pesawat militer jenis F-16 dari USA yang membutuhkan biaya cukup besar," kata dia, Jumat. Selain itu, kata Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antarparlemen (BKSAP) DPR RI ini, pembahasan mengenai pendidikan dan latihan militer bersama serta kebutuhan-kebutuhan di bidang pertahanan lainnya.

    "Dalam rapat dengar pendapat (RDP) awal pekan ini dengan Menteri Pertahanan (Menhan), kami akan mendalami Rencana Anggaran Kementerian dan Lembaga Negara (RAKL) yang diajukan pemerintah (melalui Kementerian Pertahanan), belum mengambil keputusan apa-apa," ujarnya.

    Dia meluruskan pernyataan Menhan Purnomo Yusgiantoro seolah pemerintah sudah mengajukan anggaran pertahanan sebesar Rp80 triliun, lalu dirasionalisasikan dalam pembahasan di DPR RI (Komisi I) menjadi hanya Rp61 Triliun.

    "Sesuai dengan amanat Undang-Undang MD3 bahwa satuan tiga dibahas mitra dengan komisi di DPR RI. Maka kami akan membahas secara detil tentang kebutuhan-kebutuhan Kemenhan, khususnya prioritas mengenai penyediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista)," kata Nurhayati Ali Assegaf.

    Sumber: REPUBLIKA
    Readmore --> Komisi I DPR : Bahas Hibah F16 dari Amerika Serikat

    TNI AD Dan US Army latihan bersama di Bogor

    TNI AD Dan US Army Sedang Melakukan Latihan Bela Diri.

    Jakarta - TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Darat Amerika Serikat (USARPC) melakukan latihan bersama dengan nama Garuda Shield 2011.

    Latihan ini dibuka oleh Direktur Latihan Kodiklat AD, Brigjen TNI Mulyono dan Komandan Pelaksana Komando Misi 9 AD Amerika Serikat Brigjen Michell Compton, di Pusat Pendidikan Zeni AD, Jalan Sudirman 39, Bogor, Jawa Barat.

    "Sebanyak 130 personel US Army yang terdiri beberapa kesatuan. Diantaranya Garda Nasional dan elemen yang tergabung dalam latihan Garuda Shield 2011 ini," kata Publik Affair Komando Misi ke-9 US Army, Captaian Cristina Douglas.

    Menurut Cristina, tujuan latihan bersama ini untuk memperkuat hubungan US Army dan TNI AD yang sudah kelima kalinya melakukan latihan bersama.

    "Bahwa US Army mengadakan latihan bersama bukan hanya dengan Indonesia, tapi banyak sekali di seluruh negara," ujar Christine.

    Sumber: PRIMAIRONLINE
    Readmore --> TNI AD Dan US Army latihan bersama di Bogor

    Laut Cina Selatan Picu Konflik China Dan Vietnam


    Jakarta - Ketegangan dua negara terjadi di Laut China Selatan. Vietnam menuduh China menyabot kapal survei gempa mereka. Sebaliknya China memperingatkan negara-negara tetangganya, termasuk Vietnam, agar tidak coba-coba mencari sumber daya alam di wilayah yang masih mereka sengketakan.

    Menurut harian The Wall Street Journal, Kementerian Luar Negeri Vietnam pada Kamis 9 Juni 2011 mengungkapkan kapal survei mereka diganggu kapal penangkap ikan dan dua kapal patroli China pada hari yang sama. Kapal-kapal China itu dituduh telah memotong kabel yang dipasang oleh tim survei gempa bumi dari kapal yang dioperasikan perusahaan minyak milik pemerintah Vietnam, PetroVietnam.

    Peristiwa itu berlangsung di suatu kawasan di Laut China Selatan. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Nguyen Phuong Nga, insiden itu terjadi di wilayah kedaulatan mereka.

    Kejadian yang sama berlangsung dua pekan lalu. Vietnam saat itu menuding kapal patroli China memotong kabel yang dipasang kapal survei mereka. Peristiwa itu berlangsung di dalam zona ekonomi eksklusif Vietnam, yang berjarak 200 mil laut dari garis pantai negara itu.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung Rabu lalu menyatakan bahwa klaim negaranya atas sebagian wilayah maritim di Laut China Selatan tidak bisa diganggu gugat.

    China pun membantah klaim Vietnam. Menurut Duta Besar China untuk Filipina, Liu Jianchao, pernyataan Vietnam itu tidak beralasan. Liu justru curiga bahwa Vietnam melakukan muslihat untuk mencari sumber daya alam di Laut China Selatan.

    Maka, Liu memperingatkan kepada Vietnam dan negara-negara pesisir Laut China Selatan agar tidak coba-coba eksplorasi minyak mentah dan gas alam di kawasan yang tengah dipersengketakan.

    "Kami menyerukan pihak-pihak lain untuk berhenti mencari sumber daya alam di wilayah yang turut diklaim China. Kami tidak akan bertindak kecuali bila diserang," kata Liu.

    Selain China dan Vietnam, wilayah-wilayah pesisir Laut China Selatan yaitu Filipina, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Kamboja, Taiwan, dan Thailand. Lautan itu diyakini kaya dengan ikan dan sumber daya alam.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> Laut Cina Selatan Picu Konflik China Dan Vietnam

    Pengiriman Pasukan TNI Buktikan Indonesia Ciptakan Ketertiban Dunia

    Jakarta - Pengiriman prajurit-prajurit TNI ke berbagai wilayah konflik menunjukkan Indonesia berperan aktif dalam menciptakan ketertiban dunia sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

    Demikian salah satu butir paparan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di hadapan sekitar 200 peserta Konferensi dengan tajuk "Regional Architecture in Southeast Asia" yang diadakan Royal Higher Institute for Defense, Kementerian Pertahanan Belgia dan KBRI Brussel di Brussel, Belgia baru-baru ini.

    Purnomo adalah menteri pertahanan pertama yang memberikan kuliah umum di lembaga pemikir atau"think tank" hankam Belgia ini, demikian Sekretaris III Penerangan, Sosial Budaya dan Diplomasi Publik KBRI Brussel, Punjul Nugraha kepada Antara London, Jumat.

    Punjul Nugraha menjelaskan pada konferensi itu Purnomo Yusgiantoro menekankan bahwa dunia yang aman, tertib dan damai merupakan tanggung jawab semua bangsa, dan Indonesia telah menekankan prinsip tersebut sejak kemerdekaannya.

    Bukti konkret peran itu adalah keikutsertaan Indonesia pada berbagai pasukan pemelihara perdamaian dalam kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa, melalui pengiriman kontingen Garuda yang telah dimulai sejak 50 tahun lalu.

    Purnomo juga menggarisbawahi bahwa letak Indonesia sangat strategis dalam memainkan peran pemeliharaan keamanan kawasan, utamanya keamanan laut di perairan Indonesia dan sekitarnya yang vital bagi kelancaran perdagangan dunia.

    Sejumlah peserta menyatakan penghargaan mereka atas peran dan sumbangan Indonesia dalam pengamanan Selat Malaka dan Selat Singapura, serta pengiriman misi penjaga perdamaian di berbagai belahan dunia.

    Menhan menggarisbawahi tantangan dan potensi ancaman terhadap keamanan Indonesia baik yang datang dari luar maupun dari dalam, serta prioritas strategi dalam mengatasinya.

    Menhan juga menggarisbawahi situasi terkini di ASEAN, termasuk perkembangan di perbatasan Thailand dan Kamboja, serta peran ASEAN dalam meredam ketegangan di kawasan itu.

    Prioritas kerja sama yang telah ditetapkan di ASEAN mencakup keamanan kelautan, penanggulangan terorisme, kesiapsiagaan dan tanggap darurat menghadapi bencana, serta pengembangan kerja sama operasi misi perdamaian.

    Selama di Belgia, selain menjadi pembicara di Konferensi, Purnomo Yusgiantoro juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Belgia, Pieter de Crem dan Ketua Komite Militer Uni Eropa, Jenderal Hakan Syren serta bertemu dengan beberapa wakil dari kalangan industri strategis Belgia.

    Dubes RI di Brussel, Arif Havas Oegroseno mengatakan kehadiran Menhan Purnomo Yusgiantoro di Brussel memiliki arti penting, salah satunya, adalah sebagai bentuk pengakuan Eropa atas peran Indonesia dalam menciptakan dan memelihara perdamaian dunia.

    Dubes Arif Havas Oegroseno menjelaskan diterimanya Purnomo Yusgiantoro oleh Menhan Belgia dan pejabat tinggi di Uni Eropa merupakan momentum untuk meningkatkan rasa saling percaya antara kedua pihak pada isu pertahanan dan keamanan yang sensitif, demikian Dubes Havas.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Pengiriman Pasukan TNI Buktikan Indonesia Ciptakan Ketertiban Dunia

    Bandara Timika Belum Bisa Didarati Pesawat Sukhoi TNI AU

    Pesawat Sukhoi TNI AU Sedang Melakukan Landing.

    Timika - Landasan pacu pada Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika, Papua, hingga saat ini belum bisa didarati pesawat tempur Sukhoi.

    Panglima Komando Operasi TNI AU II Marsekal Muda (Marsda) R Agus Munandar kepada wartawan di Timika, Kamis (9/6/2011), mengatakan, untuk bisa didarati pesawat Sukhoi, landasan pacu Bandara Timika harus dilapis ulang (overlay) agar lebih licin.

    Sehubungan dengan itu, Agus mengatakan bahwa jajarannya telah meminta PT Freeport Indonesia untuk mengupayakan lapis ulang landasan pacu tersebut.

    "Melalui Komandan Lanud Timika, kami sudah meminta Freeport untuk memperbaiki landasan yang masih kasar supaya lebih licin lagi. Kalau soal panjang, itu tidak jadi masalah karena landasan Bandara Timika memiliki panjang 2.500 meter, sementara pesawat Sukhoi mampu mendarat di landasan minimal 2.000 meter," urai Agus.

    Ia mengatakan, lapis ulang landasan pacu Bandara Timika sangat penting mengingat pada Februari 2012, TNI AU berencana mengoperasikan radar pertahanan udara di Timika. Radar pertahanan udara itu nanti memiliki kemampuan deteksi 180 hingga 250 notikal mile.

    Sebelum radar pertahanan udara Timika beroperasi, rencananya pesawat Sukhoi akan terbang dari Bandara Timika ke arah Laut Arafura di selatan Papua guna menguji kemampuan radar pertahanan udara tersebut.

    Saat ini TNI AU baru memasang dua radar pertahanan udara untuk melindungi wilayah Papua, yakni di Biak dan Merauke, yang baru diresmikan pada bulan Maret lalu.

    Selain di Timika, TNI AU juga akan menempatkan radar pertahanan udara di Saumlaki, Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

    Sesuai perencanaan dari Mabes TNI AU, dalam beberapa tahun ke depan akan dibangun lagi empat radar pertahanan udara, yakni di Tambulaka, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Poso di Sulawesi Tengah, Jayapura, dan Singkawang di Kalimantan Barat.

    "Saat ini sistem pertahanan udara kita di wilayah timur Indonesia sudah semakin baik karena didukung pembangunan sejumlah radar dengan prioritas daerah perbatasan," ungkap Agus.

    Ia mengatakan, selama ini, satu dari 10 pesawat Sukhoi yang ditempatkan di Skuadron Bandara Hasanuddin, Makassar, setiap saat melakukan pengawasan hingga ke wilayah Papua, termasuk ke wilayah perbatasan dengan negara tetangga terdekat, seperti Papua Niugini dan Australia.

    Agus menambahkan, radar pertahanan udara yang akan ditempatkan di Timika nantinya akan dikoneksikan dengan radar sipil sebagaimana di tempat lain.

    Dalam kunjungan kerja ke Timika beberapa waktu lalu, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan sedikitnya 32 radar pertahanan udara yang ditempatkan di semua wilayah, mulai dari Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua.

    KSAU mengatakan bahwa saat ini Indonesia baru memiliki 17 radar pertahanan udara. "Kita membutuhkan minimal 32 radar. Sekarang baru 17 radar. Jadi, masih sangat kurang," katanya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Bandara Timika Belum Bisa Didarati Pesawat Sukhoi TNI AU

    Thursday, June 9, 2011 | 8:15 PM | 0 Comments

    Dua Pesawat C-17 Globemaster II USAF Mendarat Di Pekanbaru Dalam Rangka Latma Pasific Angle

    Pekanbaru - Dua pesawat jenis Boeing C-17 Globemaster III dari USAF mendarat di Lanud Pekanbaru. Pesawat membawa 120 personel dan alat berat berupa mobil besar serta kelengkapan peralatan lainnya. Kedatangan pesawat di bumi Lancang Kuning tersebut berkaitan dengan rencana pelaksanaan latihan bersama antara TNI dengan USAF, membawa misi kemanusiaan. Latihan bersama yang bertajuk “Pasific Angle Exercise” tersebut akan digelar pada tanggal 12 – 17 Juni mendatang di desa Kampar Kiri Hilir Kabupaten kampar.

    Agenda Kegiatan yang dilaksanakan adalah bakti sosial dengan pengobatan massal, rehab SMP 2 Kampar, SMA 1 Kampar, dan pembangunan menara air puskesmas Perhentian Raja, Kampar. Adapun personel yang terlibat di Pacific Angel Exercise selain Indonesia dan Amerika, ada juga dari Bangladesh, Singapura dan Timor Leste yang akan mendirikan rumah sakit lapangan.

    Selain agenda bersama dan kerjasama tahunan, latihan bersama yang melibatkan beberapa Negara tersebut juga bertujuan meningkatkan hubungan baik antar beberapa Negara.

    Sumber: TNI AU
    Readmore --> Dua Pesawat C-17 Globemaster II USAF Mendarat Di Pekanbaru Dalam Rangka Latma Pasific Angle

    TNI AL Dan AL Korsel Jajaki Latihan SAR Kapal Selam

    Jakarta - TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) sepakat menjajaki latihan bersama SAR kapal selam, untuk meningkatkan profesionalisme dan ketrampilan prajurit matra laut kedua negara.

    Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Tri Prasodjo ketika dikonfirmasi ANTARA News di Jakarta, Kamis, mengatakan kerja sama dan latihan bersama kedua angkatan laut selama ini telah berjalan baik.

    "Semua bentuk kerjasama dan latihan bersama, dibahas rutin dalam forum navy to navy talk angkatan laut kedua negara, salah satu yang disepakati untuk dijajaki adalah latihan bersama SAR kapal selam," ungkapnya.

    Selain latihan bersama, kedua angkatan laut juga melakukan kerja sama bidang pendidikan dan saling kunjung perwira, kata Tri menambahkan.

    Dialog antar-angkatan laut kedua negara dilakukan dua hari sejak Rabu, dihadiri Asisten Operasi Angkatan Laut Korsel Laksamana Muda Kim Kyung-sik.

    Sebelumnya, Kyung Sik melakukan kunjungan kehormatan kepada Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.

    Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan kerjasama militer kedua negara di bidang latihan, operasi, dan pendidikan dapat terus ditingkatkan pada masa mendatang.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI AL Dan AL Korsel Jajaki Latihan SAR Kapal Selam

    China Akan Segera Memiliki Kapal Induk Pertamanya

    Beijing - China patut mendapatkan acungan dua jempol ke atas. Pasalnya, sebentar lagi, Negeri Tirai Bambu itu akan memiliki kapal induk pertamanya.

    Kendati begitu, sebagaimana warta AP dan AFP pada Rabu (8/6/2011), kapal induk dimaksud sejatinya adalah kapal induk yang belum kelar sepenuhnya dibangun. Varyag namanya.

    Kapal yang diluncurkan pada 4 Desember 1998 itu tadinya milik Uni Soviet. Kapal tersebut dihentikan pembangunannya pada 1992. Kala itu, Varyag memang tergerus oleh runtuhnya Uni Soviet. Alhasil, Uni Soviet pun menyerahkan kapal tersebut kepada Ukraina. Soalnya, Ukrainalah yang memang jadi basis pembangunan kapal kelas Admiral Kuznetsoz ini. Seturut catatan, kapal induk itu belum rampung pengerjaan kelengkapan elektroniknya.

    Ternyata juga, Ukraina tengah bokek alias kehabisan uang. Varyag kemudian dilelang. Seusai menebus banderol lelang sebesar 20 miliar dollar AS, China pun boleh membawa pulang Varyag.

    Informasi terkini, Varyag kemudian dituntaskan pembangunannya di galangan Dalian, China. Kapal itu dicat abu-abu, khas Angkatan Laut (AL) China. Nama Shi Lang kemudian menjadi nama baru pengganti Varyag. Pada Oktober 2010 AL China menerima Shi Lang dalam jajarannya.

    Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata China Jenderal Chen Bingde membenarkan kalau pihaknya memang bersegera mengoperasikan Shi Lang. Sejatinya, pembangunan kapal induk tersebut adalah proyek rahasia China.

    Kemudian, Letnan Jenderal Qi Jiangua, asisten kepala staf, mengatakan kepada koran Commercial Daily, bahkan jika kapal induk tersebut digunakan, kapal itu sudah pasti tidak akan berlayar ke wilayah perairan negara lain. "Semua bangsa besar di dunia memiliki kapal induk mereka sendiri. Itu adalah simbol kebesaran sebuah bangsa," kata Qi, seperti dikutip oleh koran tersebut.

    China saat ini memiliki masalah perbatasan lautnya dengan beberapa negara tetangga. Akan tetapi, Letjen Qi mengatakan, China selalu mengikuti prinsip-prinsip bertahan untuk strategi militernya. "Akan lebih baik bagi kami jika kami bertindak lebih cepat dalam memahami samudra dan memetakan kemampuan maritim kami lebih dini," kata Qi Jianghua.
    "Kami sekarang menghadapi tekanan besar di beberapa samudra, apakah itu di Laut China Selatan, Laut China Timur, Laut Kuning, atau Selat Taiwan," kata Qi Jiangua merujuk ke perairan-perairan yang diperebutkan China dengan negara-negara tetangga.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> China Akan Segera Memiliki Kapal Induk Pertamanya

    Komisi I DPR : Peluang Pembelian Pesawat Sukhoi Masih Terbuka

    Jakarta - Anggota Komisi I DPR Muhammad Najib mengatakan, masih terbuka opsi pengadaan pesawat tempur Sukhoi dari Rusia untuk penambahan alutsista bagi TNI AU, meski dikabarkan saat ini Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah mencapai kesepakan untuk pembelian 16 pesawat T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan. Sebab, sepengetahun Komisi I DPR, kontrak pengadaan pesawat T-50 dari Korsel itu baru tahap awal, belum final.

    "Komisi I DPR sejauh ini belum pernah diajak pembahasan pengadaan satu skuadron pesawat T-50 dari Korsel sehingga keputusan pengadaan pesawat tersebut belum belum final karena DPR belum menyetujuinya," ujar Najib kepada Jurnalparlemen.com, Kamis (2/6).

    Bahkan, kata Najib, masih terbuka juga peluang atas tawaran 24 unit hibah pesawat F-16 bekas dari Amerika Serikat (AS). Mengingat sampai saat ini semua opsi pengadaan pesawat tempur untuk mendukung kekuatan alutsista TNI AU semuanya belum disepakati DPR dan Pemerintah.

    Menurut Najib, memang sebagian besar anggota Komisi I DPR menyarankan agar Kemhan kembali membeli pesawat Sukhoi dari Rusia untuk melengkapi jumlah pesawat tersebut yang dimiliki TNI AU menjadi satu skuadron. Terlebih kerja sama pembelian pesawat tempur dengan Rusia selama ini relatif mudah. Ini berbeda dengan negara lain yang menyertakan sejumlah persyaratan ketat dan cenderung membebani Indonesia.

    "Rusia selama ini telah menyediakan anggaran kredit ekpor bagi Indonesia dalam pengadaan alutsista dari Rusia sebesar satu miliar dolar AS. Kredit ekspor dari Rusia itu selama ini baru terpakai 30 persennya sehingga Indonesia masih banyak memiliki kesempatan untuk membeli berbagai alutsita dari Negeri Beruang Merah itu dengan memanfaatkan kredit ekspornya, termasuk dalam pembelian pesawat tempur Sukhoi," tegasnya.

    Mantan Sekretaris F-PAN DPR RI ini menjelaskan, selama ini kecenderungannya Komisi I DPR juga mendorong Kemhan untuk membeli pesawat tempur yang dalam kondisi baru, serta dari negera yang tidak memiliki catatan buruk pada Indonesia, khususnya soal embargo persenjataan.

    Dikabarkan, Korea Selatan akan segera merealisasikan pesanan 16 jet tempur T-50 Golden Eagle pada 2013. Itu menyusul penandatanganan kontrak pengadaan pesawat senilai 400 juta dolar AS dengan Pemerintah Indonesia pada pekan lalu.

    Sumber: JURNAL PARLEMEN
    Readmore --> Komisi I DPR : Peluang Pembelian Pesawat Sukhoi Masih Terbuka

    Wednesday, June 8, 2011 | 7:52 PM | 0 Comments

    Pesawat N 219 Buatan PT DI Kebanjiran Peminat

    Pesawat N-219 Buatan PT DI.

    Jakarta - Pesawat terbang komuter N-219 banyak diminati sejumlah pemerintah daerah. Padahal pesawat jenis ini baru memasuki tahap pembuatan prototipe. "Mereka tertarik membeli untuk transportasi penghubung antarkabupaten kota," kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011.

    Sedikitnya ada 40 pemerintah daerah tingkat kabupaten dan kota yang berminat membeli N-219. Minat para calon pembeli terungkap dari hasil muhibah bisnis Kementerian Perindustrian di sejumlah daerah. "Mereka bisa membeli pesawat itu sendiri atau dengan menggandeng maskapai lokal untuk penerbangan terjadwal ataupun carter," kata Budi.

    Sekitar 300 insinyur diterjunkan untuk mengembangkan N-219. Pesawat ini memakai dua mesin, yang masing-masing berkekuatan 8.50 HP. Komponen lokal mencapai 70 persen. Sisanya berupa mesin dan sistem avionik dipasok dari impor. Saat ini PT Dirgantara Indonesia berhasil membuat 3 jenis pesawat: NC-212, CN-235, dan N-250.

    Pesawat yang dirancang PT Dirgantara Indonesia itu memiliki kapasitas 19 kursi. Pengadaan N-219 sudah mendesak karena pesawat di kelas itu banyak yang berusia 20 tahun sehingga perlu segera diganti. Nantinya pesawat perintis berusia uzur dapat diganti dengan N-219. Pengembangan N-219 menjadi bagian dari program restrukturisasi PT Dirgantara.

    Menurut Budi, Kementerian Perindustrian masih mempersiapkan detail teknis dan desain prototipenya. Pembuatan prototipe pesawat membutuhkan dana sekitar Rp 300 miliar. Tahun ini Kementerian Perindustrian sudah mengajukan anggaran untuk 2012 bagi pengembangan N-219 sebesar Rp 59 miliar. Ditargetkan prototipe pesawat N-219 mampu terbang pada 2014.

    Pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang mengatakan tipe N-219 sangat cocok untuk daerah dengan lapangan udara terbatas. Daerah semacam ini membutuhkan transportasi udara sebagai penghubung wilayah, terutama di Indonesia bagian timur. Menurut Hanna, Indonesia mampu memproduksi pesawat sendiri. "Tapi hasilnya tetap perlu dikaji kelayakannya," katanya.

    Dengan memproduksi sendiri, kata Hanna, biaya pengadaan pesawat tersebut bakal jauh lebih murah ketimbang membelinya dari negara lain. "Jelas lebih murah membikin sendiri daripada membeli. Apalagi kita memang sudah mampu memproduksinya," katanya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Pesawat N 219 Buatan PT DI Kebanjiran Peminat

    Indonesia Membeli Pesawat Kepresidenan Seharga $ 58 Juta Dollar

    Pesawat Boeing Business Jet 2.

    Jakarta - Tak lama lagi Indonesia akan mempunyai pesawat kepresidenan sendiri. Pemerintah telah menemukan kata sepakat dalam penentuan harga pesawat dengan Boeing, produsen pesawat asal AS. Pesawat Boeing Business Jet 2 ini akan dibeli pemerintah dengan harga USD 58 juta.

    "Kami berhasil menegosiasi USD 58 juta dari USD 62 juta," kata Mensesneg Sudi Silalahi dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (8/6/2011). DPR sebelumnya sudah menyetujui pengadaan pesawat kepresidenan.

    Saat ini, Sudi sudah membuat surat kepada Menteri Keuangan untuk pengadaan green aircraft. "Sudah ditandatangai persetujuannya 27 Desember 2010 yang lalu," kata Sudi.

    Dengan telah disepakatinya harga, maka pesawat ini akan mulai dirakit tahun 2012 dan diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2013.

    "Tim teknis sedang mempersiapkan desain interiornya," ucapnya.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Indonesia Membeli Pesawat Kepresidenan Seharga $ 58 Juta Dollar

    Roda Pesawat TNI AU Patah Saat Tergelincir

    Pesawat tempur, Hawk 200 milik TNI AU tergelincir di Pekanbaru.

    Pekanbaru - Pesawat tempur milik TNI AU yang tergelincir di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, sudah ditarik ke base Lanud.

    Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Pekanbaru, Bowo Budiarto menjelaskan kecelakaan terjadi akibat kesalahan teknis pada rem. "Sistem rem tidak berfungsi dengan baik. Sehingga ketika pesawat mendarat, rem tidak berfungsi dan terjadilah insiden," kata dia kepada wartawan, Rabu 8 Juni 2011.

    Akibatnya, lanjut Bowo, pesawat yang saat itu sedang berada di pertengahan runway, keluar dari jalur sekitar 3 meter. Selain itu, imbuhnya, kecelakaan ini juga menyebabkan roda sebelah kanan belakang patah.

    "Dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa. Pilot pesawat selamat. Sekarang sedang kami dalami kondisi pesawat. Teknisi sedang memeriksanya," tambah Bowo.

    Ia menjelaskan, pesawat Hawk 200 tersebut diterbangkan dalam rangka latihan rutin. Insiden ini sempat membuat Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru tutup.

    "Bandara tutup sekitar pukul 13.00 WIB dan buka kembali sekitar pukul 15.30 WIB," kata Duty Manager Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Sudrajat kepada VIVAnews.com di ruang kerjanya. Sejumlah penerbangan pun terganggu.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> Roda Pesawat TNI AU Patah Saat Tergelincir

    Menristek Dan Polri Kerjasama Dalam Pengembangan Teknologi

    Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi menjalin kerja sama dengan Kepolisian. Kerja sama itu dibuat guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di bidang penegakan hukum.

    "Kerja sama akan melibatkan sejumlah instansi yang berkepentingan dengan program tersebut," ujar Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, usai menandatangani naskah kerja sama di ruang Rupatama Mabes Polri, 8 Juni 2011.

    Beberapa instansi tersebut di antaranya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Tenaga Nuklir Nasional, dan Industri Pertahanan Dalam Negeri. "Termasuk sejumlah kampus, seperti ITB dan ITS," ujar Suharna.

    Kepala Kepolisian RI, Jenderal Timur Pradopo menilai penting kerja sama tersebut. Menurut dia, dukungan iptek merupakan instrumen penyelidikan yang banyak membantu tugas kepolisian. Hal mana tampak dari penggunaan robot pendeteksi bom atau teknologi forensik guna identifikasi korban kejahatan. "Kerja sama ini sebenarnya sudah lama dibuat, khususnya yang menyangkut teknologi tinggi," ujarnya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Menristek Dan Polri Kerjasama Dalam Pengembangan Teknologi

    Update : Antara Pesawat Tempur Sukhoi, Sandal dan STNK

    Balikpapan - Minat dan rasa penasaran masyarakat Balikpapan, Kalimantan Timur untuk melihat langsung dari dekat pertunjukan static show empat pesawat sukhoi di base ops Sepinggan Lanud Balikpapan ternyata tidak hanya terlihat dari kepadatan pengunjung yang memadati base ops.

    Setelah diamati, ternyata ada di antara pengunjung yang terpukau sehingga tidak menyadari lagi bahwa surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang dimiliknya sudah tercecer dan hilang.

    STNK itu ditemukan aparat TNI yang melakukan pengamanan dan segera memberikan pengumuman barang hilang melaui pengeras suara. Pihak TNI AU tetap menunggu hingga pemilik STNK tersebut datang menjemput ke kantor base ops Sepinggan.

    Lain halnya dengan Yuli, bocah siswa SD 005 Balikapapan ini rela menahan panasnya aspal base ops hanya untuk melihat sukhoi dari dekat.

    "Tadi waktu mau berangkat sandalnya terjatuh karena berdesakan di truk. Nanti saja di cari lagi, yang penting lihat Sukhoi dulu." ungkap Yuli yang mengaku mengoleksi miniatur pesawat tempur kebanggaan Republik Indonesia ini.
    Yuli terlihat sesekali berpindah pijakan untuk menghindari panasnya aspal dan raut wajahnya sesekali meringis menahan panasnya aspal.

    Pihak TNI AU juga tidak ingin mengecewakan kelengkapan kebahagiaan pengunjung. Para bapak TNI AU yang bertugas mengawasi pengunjung dan pesawat terlihat dengan senyuman ramah melayani permintaan berfoto bersama dengan pesawat sukhoi dan Anggota TNI AU berseragam lengkap.

    Sumber: TRIBUN NEWS
    Readmore --> Update : Antara Pesawat Tempur Sukhoi, Sandal dan STNK

    Wuih Ternyata DPR Belum Setujui Pembelian T-50 Golden Eagle dari Korsel

    Jakarta - Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan, DPR hingga kini belum memberikan persetujuan kepada Departemen Pertahanan atas rencana pembelian 16 jet tempur T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan. Selama ini rencana pembelian pesawat tersebut belum pernah disampaikan pemerintah kepada DPR.

    “DPR memang telah mendengar atas rencana pembelian jet tempur dari Korsel tersebut. Namun yang pasti DPR belum memberikan persetujuan dalam hal itu. Mengingat pemerintah sendiri hingga kini belum pernah membicarakannya dengan DPR,” kata Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen, Senin (30/5).

    Mahfudz menjelaskan, Komisi I DPR baru akan menggelar rapat kerja dengan Dephan, Juni mendatang. Raker di antaranya akan mempertanyakan realisasi pengadaan pesawat tempur TNI AU.

    “Termasuk adanya informasi, adanya keputusan yang dicapai oleh pemerintah dalam pengadaan pesawat temput T-50 buatan Korsel tersebut,” kata Wasekjen PKS ini.

    Lebih lanjut Mahfudz mengatakan, Raker juga akan membahas soal proyeksi tambahan anggaran sebesar Rp 9 triliun pada APBN-P 2011 untuk Dephan. Akan dipergunakan belanja alutsista apa saja, dari negara mana dan berapa banyak.

    “Nanti kita akan pertegas, untuk keputusan pemerintah dengan anggaran tambahan itu akan dipergunakan belanja alutsista apa saja dan jenisnya apa,” ujarnya.

    Lebih lanjut Mahfudz mengatakan, sejauh ini Komisi I DPR belum memberikan keputusan atas beberapa skenario dalam penambahan alutsista TNI terutama dalam hal pesawat tempur untuk TNI AU. Baik soal penambahan pesawat Sukhoi dari Rusia untuk menggenapkan menjadi satu skuadron atau soal hibah pesawat F-16 bekas dar AS. Termasuk soal pembelian T-50 dari Korsel tersebut.

    “Komisi I DPR baru akan memberikan persetujuan setelah pemerintah memberikan paparan atas rencana pembelian pesawat tempur tersebut. Yang pasti tidak mungkin, kalau sudah keputusannya membeli T-50 dari Korsel sudah fiks, kemudian juga mau beli Sukhoi dan F-16 bekas dari AS. Dari anggaran tidak mungkinlah. Makanya kita tunggu dulu penjelasan dari pemerintah,” katanya.

    Korea Selatan akan segera merealisasikan pesanan 16 jet tempur T-50 Golden Eagle pada 2013. Pihak Negeri Ginseng sukses meneken kontrak 400 juta dolar AS dengan pemerintah Indonesia pada Rabu (25/5), sebagai bagian dari pembaruan sarana TNI AU.

    Pesawat tempur supersonik itu buatan pabrik pesawat terbang Korsel, KAI. Perusahaan itu bekerja sama dengan Lockheed Martin asal Amerika Serikat. KAI memenangi tender yang digelar pada April 2011. Golden Eagle akan menggantikan pesawat Hawk MK-53 yang sudah tua.

    Sumber : JURNAL PARLEMEN
    Readmore --> Wuih Ternyata DPR Belum Setujui Pembelian T-50 Golden Eagle dari Korsel

    Tuesday, June 7, 2011 | 11:33 PM | 0 Comments

    Anggaran Pertahanan Hanya Terealisasi Rp. 61 T Dari Rp 80 T Yang Diusulkan Kemenhan Untuk Tahun 2012

    Jakarta - Kementerian Pertahanan mengusulkan anggaran 2012 sebesar Rp80 triliun. Dalam pembahasan dengan Komisi I DPR, anggaran dirasionalisasikan menjadi Rp61 triliun. Jumlah itu sudah naik bila dibanding tahun sebelumnya.

    "Pagu indikatif ada kenaikan," ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, saat rapat di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 7 Juni 2011.

    Menurut Purnomo, anggaran itu untuk tunjangan kinerja, kenaikan berkala, kesejahteraan pegawai, pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista). "Untuk pembelian alutsista itu kurang Rp20 triliun dari apa yang kita ajukan," ujarnya.

    Purnomo menambahkan, porsi terbesar itu untuk kesejahteraan pegawai. "Kan kebanyakan dari anggaran kita itu persentase terbesar gaji pegawai," ujarnya.

    Kemudian, porsi berikutnya untuk belanja barang, yaitu untuk maintenance, operation, pemeliharaan. "Yang ketiga itu belanja modal, pembelian alutsista, memodernisasi alutsista," ujarnya.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> Anggaran Pertahanan Hanya Terealisasi Rp. 61 T Dari Rp 80 T Yang Diusulkan Kemenhan Untuk Tahun 2012

    TNI Akan Kirim KRI Iskandar Muda Ke Lebanon

    KRI Iskandar Muda.

    Jakarta - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan bahwa pihaknya akan kembali mengirimkan kapal perangnya untuk bergabung dalam Satuan Tugas Maritim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon (Maritime Task Force UNIFIL).

    "Sejak 2010, kita telah mengirimkan dua kapal perang untuk bergabung dalam satuan tugas maritim misi perdamaian PBB di Lebanon, yakni KRI Diponegoro dan KRI Frans Kasiepo," katanya dalam seminar memperingati Hari Internasional Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Jakarta, Selasa.

    Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Pusat Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia, Brigadir Jenderal TNI I Gede Sumertha, Panglima TNI mengatakan kapal perang yang akan dikrim ke Lebanon adalah KRI Iskandar Muda.

    "Kapal akan diberangkatkan pada Agustus 2011," kata Agus menambahkan.

    Panglima TNI mengemukakan, keikutsertaan Indonesia dalam misi perdamaian PBB merupakan titik tolak diterimanya Indonesia sebagai anggota penuh ke-60 PBB pada 28 September 1950. Setelah resmi menjadi anggota PBB, Indonesia menjalankan misi pertamanya dalam misi perdamaian PBB ke Mesir, seiring konflik yang terjadi antara Mesir-Israel pada 1957.

    "Itulah awal partisipasi TNI dalam misi pemeliharaan perdamaian di bawah payung PBB, dan seiring perkembangan waktu, TNI terus berkiprah dan berperan aktif sambil terus berbenah diri dengan mengedepankan rasa kemanusiaan dan keadilan yang lebih," katanya.

    Pada kesempatan itu, Agus menegaskan, TNI memilih untuk menjalankan misi pemeliharaan perdamaian daripada misi penciptaan perdamaian.

    "Hal itu, antara lain didasarkan pada pertimbangan menghindari kemungkinan tudingan TNI akan berpihak kepada pemerintahan yang saha atau bahkan pasukan pemerintah justru akan menuduh kontingen TNI akan berpihak pada pasukan pemberontak," katanya.

    Data PBB mencatat Indonesia berada di urutan 17 di antara negara-negara dengan kontribusi pasukan paling banyak dalam operasi penjaga perdamaian PBB. Sampai April lalu tercatat total pasukan Indonesia yang bergabung di bawah komando PBB sebanyak 1.801 pasukan TNI dan polisi terdiri dari 1.772 personel laki-laki dan 29 personel perempuan.

    Negara dengan kontribusi pasukan terbesar adalah Bangladesh dengan total pasukan di bawah komando penjaga perdamaian mencapai 10.589 pasukan. Menyusul di urutan kedua Pakistan dengan 10.581 pasukan dan India berada di urutan ketiga dengan kontribusi pasukan 8.442 personel.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI Akan Kirim KRI Iskandar Muda Ke Lebanon

    Menhan: Perjanjian Ekstradisi Terpisah dari DCA

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan perjanjian ekstradisi antara Indonesia dengan Singapura tidak terkait dengan Defence Cooperation Agreement (DCA). Perjanjian kerjasama pertahanan Indonesia - Singapura dalam DCA sendiri mentok dan tidak ada kata sepakat.

    Karena itu, Purnomo mengatakan, masalah ekstradisi masih dibicarakan antara Indonesia dengan Singapura. Karena perjanjian tentang ekstradisi tidak sepaket dengan DCA.

    "Mereka bilang itu tidak satu paket. Jadi kalau mau ada perjanjian ekstradisi ya silakan. Itu terpisah dengan DCA," kata Purnomo di Gedung DPR, Selasa, 7 Juni 2011.

    "Kalau pemerintah merasa perlu dengan Singapura masalah ekstradisi, ya dibicarakan. Kayak misalnya pembebasan pajak, dibicarakan ya dibicarakan, nggak perlu dikaitkan (dengan DCA)," ucap Purnomo.

    "Jadi jangan punya mindset seperti dulu bahwa DCA itu diselesaikan dulu, kemudian nanti akan terjadi trade off atau kompensasi dengan masalah ekstradisi. Jangan berpikir begitu," lanjut dia.

    Sebelumnya, Kedutaan Besar Singapura mengatakan perjanjian ekstradisi sudah ditandatangani Indonesia dengan Singapura pada tahun 2007. “Penandatanganan perjanjian tersebut juga disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Bali pada 27 April 2007,” kata Sekretaris Pertama Bidang Politik Kedutaan Besar Singapura di Indonesia, Herman Loh, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, Sabtu malam, 4 Juni 2011.

    Namun, perjanjian ekstradisi belum bisa dilakukan karena belum ada ratifikasi di DPR. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Michael Tenne, ada perbedaan posisi antara Indonesia dengan Singapura dalam memandang perjanjian ekstradisi.

    Singapura menginginkan perjanjian ekstradisi sepaket dengan DCA, sedangkan Indonesia ingin agar kedua perjanjian itu berdiri sendiri-sendiri. “Singapura mengaitkan kedua perjanjian itu, sementara Indonesia tidak. Indonesia ingin perjanjian ekstradisi diratifikasi tanpa harus menunggu ratifikasi kerja sama pertahanan,” jelas Tenne.

    Singapura menjadi 'surga' bagi sejumlah tersangka kasus hukum di Indonesia, yang kemudian memilih bersembunyi di sana. Salah satu tersangka yang menjadi incaran antara lain Nunun Nurbaeti Daradjatun, tersangka kasus suap Pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.

    Sumber: VIVANEWS
    Readmore --> Menhan: Perjanjian Ekstradisi Terpisah dari DCA

    TNI Mengirim Tambahan Pasukan ke Haiti Untuk Pemulihan Bencana

    Jakarta - Kepala Pusat Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia, Brigadir Jenderal TNI I Gede Sumertha, mengatakan tahun ini TNI kembali mengirimkan 167 orang pasukan ke Haiti. Pasukan itu dikirim di bawah komando pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk menjalankan tugas pengamanan dan pemulihan pasca-bencana. "Pasukan yang dikirim ini dari Batalyon Zeni Angkatan Darat," katanya di Jakarta, Selasa 7 Juni 2011.

    Indonesia sudah berpartisipasi di Haiti selama satu tahun terakhir bersama pasukan PBB. Tapi, hanya mengirimkan 10 orang dari kepolisian.

    Brigadir Jenderal Sumertha mengatakan permintaan penambahan pasukan datang dari Sekretariat PBB dan disetujui oleh pemerintah. Saat ini lebih dari 1.800 personel pasukan TNI dan polisi berada di luar negeri dalam misi penjaga perdamaian PBB. Mereka tersebar di Lebanon, Kongo, Sudan, Haiti, Sierra Leone, dan lain-lain.

    Kepala Seksi Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Widya Sadnovic mengatakan permintaan pasukan Indonesia dari Sekretariat PBB sebetulnya sangat tinggi. Tapi, tidak seluruhnya bisa dipenuhi oleh pemerintah dan TNI. Ia mencontohkan pada periode 2008-2009 Indonesia diminta mengirim tak kurang dari 3.000 pasukan.

    "Itu untuk disebar di berbagai negara," katanya. Termasuk ke Irak, Afganistan, dan negara konflik lainnya. Tapi, tidak semua permintaan penambahan personel atau pengiriman pasukan baru bisa dipenuhi. Permintaan untuk mengirim pasukan ke Irak dan Afganistan ditolak karena pertimbangan ideologi dan keamanan.

    "Sampai sekarang pengiriman pasukan ke Afganistan dianggap tidak aman secara ideologis ataupun untuk personel TNI," katanya. Selain itu, permintaan pengiriman pasukan biasanya datang secara mendadak. Sekretariat PBB biasanya mengirimkan permintaan pasukan yang harus dipenuhi dalam jangka waktu dua atau tiga bulan.

    Operasi penjaga perdamaian diputuskan di dalam rapat Dewan Keamanan PBB. Segera setelah diputuskan Sekretariat akan mendekati negara-negara untuk dimintai kesediaannya mengirim pasukan. Pemerintah harus menyiapkan pelatihan khusus untuk pasukan yang akan dikirim, perlengkapan pasukan, dan peralatan tempur serta biaya operasi.

    Sumertha mengatakan permintaan ini sering tidak bisa begitu saja dipenuhi karena TNI harus menyiapkan pelatihan untuk pasukan, terutama untuk mengubah pola pikir pasukan. "Pasukan kita dilatih untuk berperang. Sedangkan ketika menjadi pasukan penjaga perdamaian mereka tidak boleh berperang," tuturnya.

    Data PBB mencatat Indonesia berada di urutan 17 di antara negara-negara dengan kontribusi pasukan paling banyak dalam operasi penjaga perdamaian PBB. Sampai April lalu tercatat total pasukan Indonesia yang bergabung di bawah komando PBB sebanyak 1.801 pasukan TNI dan polisi terdiri dari 1.772 personel laki-laki dan 29 personel perempuan.

    Negara dengan kontribusi pasukan terbesar adalah Bangladesh dengan total pasukan di bawah komando penjaga perdamaian mencapai 10.589 pasukan. Menyusul di urutan kedua Pakistan dengan 10.581 pasukan dan India berada di urutan ketiga dengan kontribusi pasukan 8.442 personel.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> TNI Mengirim Tambahan Pasukan ke Haiti Untuk Pemulihan Bencana

    TNI Mendapat Medali PBB Di Kongo

    Penyerahan medali PBB kepada pasukan TNI.

    Jakarta - Satuan Tugas Kompi Zeni TNI Konga XX-H di Kongo, mendapat Medali PBB atas keberhasilannya menjalankan misi perdamaian PBB di Kongo (Monusco) selama enam bulan.

    "Penyematan medali penghargaan PBB itu dilakukan Komandan Monuso Letjen Chender Prakhas di Bumi Cenderawasih Camp Dungu, Kongo" kata perwira penerangan Konga XX-H/Monusco Letnan Satu Infantri Imam Mahmud melalui surat elektroniknya Selasa 7 Juni 2011. "Medali PBB diberikan kepada Komandan Satgas Letkol Czi Widiyanto".

    Menurut Letjen Prakhas, selama penugasan di Kongo, Kontingen Indonesia telah menunjukkan prestasi luar biasa. Diantaranya pembangunan jalan Dungu-Faradje sejauh 147 KM. "Kontingen Indonesia bukan hanya membangun jalan dan jembatan antara Dungu-Faradje, tetapi juga telah membangun jembatan hati antara orang Kongo dengan tentara PBB khususnya Monusco"," tutur Prakhas.

    Prakhas menambahkan, Indonesian Engineering Company (IEC) juga dinilai telah berbuat ramah terhadap penduduk lokal dan komunitas lokal.

    Prakhas menyatakan Medali PBB adalah bukti nyata kontribusi IEC selama enam bulan di Kongo, sekaligus kontribusi TNI dalam menciptakan perdamaian di wilayah Kongo.

    Pada kesempatan itu kepada Kontingen negara lain, Letjen Prakhas menekankan agar dapat mengambil pelajaran dan contoh dari Kontingen Zeni Indonesia dalam kerja kerasnya kepada UN dan Monusco.

    Sejak 1956 Indonesia telah mengirimkan militernya untuk bergabung dalam misi perdamaian PBB di Mesir, yang dikenal dengan nama Kontingen Garuda.

    Prakhas menilai, militer Indonesia mempunyai upaya tinggi sebagai pasukan penjaga perdamaian di seluruh dunia. Saat ini terdapat 1.795 personel TNI yang tergabung dalam berbagai misi PBB.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> TNI Mendapat Medali PBB Di Kongo

    Satu Skuadron F-5 Tiger TNI AU Akan Diganti F-16

    Bandung - Satu skuadron pesawat tempur F-5 Tiger yang dimiliki TNI AU bakal segera digantikan jenis pesawat tempur dengan kemampuan yang lebih baik yakni F-16 dari Amerika Serikat.

    Demikian Panglima Komando Operasi TNI AU I, Marsekal Muda TNI Dede Rusamsi usai sertijab Danlanud Husein Sastranegara dari Kol Pnb Asep Adang Supriyadi kepada Kol Pnb Umar Sugeng Hariyono di Bandung, Selasa (7/6). "Saat ini proses penggantian F-5 oleh F-16 tengah dilakukan. Negoisasi sedang berjalan, dan timnya baru pulang dari AS," ujarnya.

    Selama ini, kekuatan F-5 Tiger AU yang merupakan pesawat tempur buatan tahun 1978 ditempatkan di Skuadron Udara 14 Lanud Iswahjudi, Madiun. "Rencananya satu skuadron F-16 yang menggantikannya, nanti Mabes TNI AU yang menerangkan," katanya.

    Selama proses pembaruan alutsista itu berlangsung, imbuh perwira tinggi bintang dua itu, Koops TNI AU I tetap mengoperasikan F-5 yang ada untuk keperluan operasi patroli udara. "Kondisinya masih berjalan normal."

    Meski sudah pasti, pihaknya belum bisa memastikan proses penggantian itu bisa dilakukan pada 2011. Dia menyatakan pengadaan alutsista tersebut selalu mempertimbangkan sejumlah faktor.

    Dalam kaitan itu, TNI telah memutuskan menerima tawaran hibah dua skuadron F-16 dari AS. Sebelumnya, program pengadaan F-16 baru akan dilakukan pada 2014 sebanyak enam pesawat.

    Sumber: SUARA MERDEKA
    Readmore --> Satu Skuadron F-5 Tiger TNI AU Akan Diganti F-16

    KASAD : Indonesia Dan Italia Tingkatkan Kerjasama Militer

    Roma - Hubungan RI–Italia, terutama kerjasama militer, diharapkan meningkat, mengingat pengalaman Italia dalam operasi-operasi darat di berbagai wilayah.

    Hal itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI George Toisutta mengenai tujuan kunjungan kerja ke Italia atas undangan KASAD Italia Jenderal Giuseppe Valotto.

    Pertemuan kedua pejabat tinggi militer yang berlangsung di Markas Besar Angkatan Darat Italia, Roma, Senin (6/6/2011), itu diawali dengan pembicaraan tertutup, hanya antara keduanya.

    Jenderal Valotto menyampaikan terimakasih dan penghargaan atas pertisipasi TNI dalam jumlah cukup banyak di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Minister Counsellor Pensosbud KBRI Roma kepada detikcom seusai pertemuan.

    Jenderal Valotto juga menyampaikan harapan agar Indonesia dapat berpartisipasi pada misi-misi perdamaian lain.

    Dalam tanggapannya, KASAD Jenderal Toisutta menyampaikan bahwa sesuai dengan amanat konstitusi Indonesia telah dan senantiasa berpartisipasi aktif dalam misi-misi perdamaian yang beroperasi dalam kerangka PBB.

    Dalam kaitan dengan UNIFIL, Toisutta menyampaikan bahwa pasukan TNI yang sekarang berada di UNIFIL merupakan kontingen ke-4. Dari keikutsertaan pasukan TNI di UNIFIL, telah banyak manfaat dan pengalaman berguna yang diperoleh pasukan TNI.

    Toisutta juga secara khusus menyampaikan belasungkawa atas tewasnya 6 prajurit Italia di UNIFIL dalam insiden yang terjadi pada 2/5/2011 lalu.

    Dalam kunjungan kerja tersebut, kedua jenderal dan jajarannya juga saling melakukan exchange of knowledge (pertukaran pengetahuan, red).

    Jajaran yang mendampingi KASAD ke Italia adalah Asrena KASAD Mayjen TNI Mulhim Asyrof, Koorsahli KASAD Mayjen TNI Hatta Syafrudin, Dapuspenerbad Brigjen TNI Mochamad Wachju Rijanto, Wadanpussenarmed Kodiklat TNI AD Kolonel Arm. Aris Setiabudi, Paban V/Hublu Spamad Kolonel Inf. Afanti Side Uloli dan Athan RI Paris Kol. Pnb. Erwin Buana Utama.

    Prosesi kunjungan KASAD ke Markas Besar Angkatan Darat Italia sepenuhnya berlangsung secara kemiliteran, diawali dan diakhiri dengan pengumandangan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Italia oleh Korps Musik Angkatan Darat Italia.

    Dalam prosesi kunjungan, KASAD Jenderal TNI George Toisutta juga melakukan pemeriksaan barisan kehormatan Angkatan Darat Italia.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> KASAD : Indonesia Dan Italia Tingkatkan Kerjasama Militer

    TNI Menggunakan Strategi Pertahanan Guna Siasati Minimnya Alutsista

    KCR 40 Merupakan Kapal Perang Buatan Indonesia.

    Jakarta - Alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI dalam kondisi yang minimum. Namun begitu, peralatan minim tidak mengurangi kinerja TNI. "Kapal perang yang digunakan dalam operasi militer ke Somalia itu sudah pensiun di negara lain, sudah tidak ada," kata Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Danguspurlabar), Laksamana Pertama TNI Achmad Taufiqoerrochman di Jakarta, Senin (6/6).

    Taufiq mengatakan, agar tetap dapat melaksanakan tuntutan tugas TNI menggunakan strategi tertentu. "Yang penting strateginya. Bagaimana kami tetap bisa melaksanakan tugas dengan persenjataan yang ada," katanya.

    Menurut dia, untuk mensiasati kondisi ini dilakukan repowering terhadap kapal-kapal yang ada. "Kapal-kapal itu punya bodi yang lebih bagus, kami ambil bodinya, kami ganti mesinnya," katanya.

    Dengan cara seperti ini, menurut Taufiq, dapat membantu meningkatkan kualitas senjata yang kurang. "Kalau dikatakan kurang ya kurang, kami mengikuti pemerintah saja. Pemerintah sedang membangun pendidikan, kami juga mementingkan pendidikan. Jauh sekali kan kalau dibandingkan anggaran pendidikan," katanya.

    Dalam pemberitaan sebelumnya, Dirjen Perencanaan Pertahanan (Renhan) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Marsda TNI Bonggas S Silaen mengatakan, anggaran alutsista yang disediakan negara baru 0,69 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    Menurutnya, dengan anggaran sebesar ini kekuatan pertahanan berkisar 30-40 persen. Silaen menambahkan, untuk mencapai kekuatan pertahanan 90 persen diperlukan peningkatan anggaran 15-20 tahun mendatang hingga dua persen dari PDB. "Kuantitas dan kualitas alutsista yang ada sekarang dalam kondisi yang minimum, baik secara umur maupun teknologi," kata Silaen.

    Sumber: JURNAS
    Readmore --> TNI Menggunakan Strategi Pertahanan Guna Siasati Minimnya Alutsista

    Kopassus Belum Berminat Membeli Senjata Pasukan Khusus Dari China

    Ilustrasi.

    Bandung - Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus) belum akan membeli persenjataan individu dari Republik Rakyat China.

    "Persenjataan mereka bagus, sesuai dengan tuntutan atau yang dibutuhkan seorang prajurit pasukan khusus. Namun, kami belum akan membelinya," kata Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen TNI Lodewijk Freidrich Paulus kepada ANTARA News di Bandung, Senin.

    Ketika ditemui usai melihat dan menjajal beberapa persenjataan individu Angkatan Bersenjata China (People`s Liberation Army/PLA), ia mengatakan, pihaknya fokus untuk menggunakan produk dalam negeri seperti senapan serbu dari PT Pindad.

    Mulai Senin hingga tiga hari ke depan Kopassus dan PLA menggelar latihan bersama untuk kali pertama di Pusat Pendidikan Kopassus Batujajar, dengan fokus penanganan terorisme.

    Dalam rangkaian kegiatan itu, masing-masing pihak menampilkan persenjataan individu yang kerap digunakan personelnya sebagai pasukan khusus.

    Kopassus menampilkan beberapa persenjataan individu senapan serbu buatan PT Pindad yang terdiri atas beberapa varian. Ditampilkan pula persenjataan lain yang diproduksi pihak luar seperti MP5.

    Militer China menampilkan beberapa persenjataan dan perlengkapan individu seperti alat tangkap, busur lintang dwi guna, senapan patah 18,4 mm, pelontar granat 35 mm, senapan serbu berperedam suara 5,8 mm, dan senapan serbu ringan 5,8 mm.

    Seluruh persenjataan dan perlengkapan militer individu PLA itu merupakan produk industri pertahanan dalam negeri China.

    Di sela-sela menerima penjelasan mengenai kecanggihan masing-masing senjata itu, Danjen Kopassus menjajal beberapa diantaranya.

    "Bagus...cocok untuk pertempuran jarak dekat," katanya, usai menjajal salah satu senapan laras panjang.

    Lodewijk juga menjajal menggunakan busur lintang, dan melihat peragaan penggunaan senjata lainnya.

    "Ya kita lihat semuanya, kita sesuaikan dengan kebutuhan pasukan kita. Yang jelas, kita kan sudah komitmen untuk memprioritaskan produk nasional seperti senapan serbu dari PT Pindad," ujarnya.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Kopassus Belum Berminat Membeli Senjata Pasukan Khusus Dari China

    Monday, June 6, 2011 | 9:27 PM | 0 Comments

    China Puji Kemampuan Kopassus

    Kopassus.

    Bandung - Angkatan Bersenjata China (People's Liberation Army/PLA) memuji kehebatan Komando Pasukan Angkatan Darat atau Kopassus yang terbukti berhasil melakukan setiap misinya dengan baik. "Termasuk misi yang dilakukan saat pembebasan kapal di Somalia," kata Kepala Staf Komando Militer Jinan China Letjen Zhao Zongqi di Bandung, Senin.

    Ia mengatakan, Kopassus merupakan salah satu pasukan elit terbaik di dunia baik dalam keberhasilan dalam Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
    Berbicara saat pembukaan Latihan Bersama Kopassus dengan PLA, Zongqi mengatakan, kehebatan Kopassus telah terbukti di beberapa operasi yang dijalankan termasuk dalam operasi di perairan Somalia.

    "Tidak itu saja, Kopassus juga terbukti mampu menjalankan misi-misi perdamaian PBB tergabung dalam kontingen TNI," katanya, menambahkan.

    Terkait itu, tambah Zongqi, dalam latihan bersama yang baru kali pertama diadakan, kedua pihak dapat saling mengisi dan memperkaya potensi, keunggulan yang dimiliki militer kedua pihak, khususnya pasukan khusus kedua negara.

    "Bagaimana pun dengan latihan bersama itu, terutama dalam penanggulangan terorisme, segala macam ancaman dapat diantisipasi dan diatasi dengan lebih baik," katanya.

    Latihan bersandikan "Sharp Knife 2011" dipusatkan di Pusat Pendidikan Kopassus Batujajar berlangsung 6 hingga 19 Juni 201.
    Materi latihan bersama itu antara lain menembak tepat, tembak reaksi 1 sampai 4, serbuan rumah ban, teknik pertempuran jarak dekat (PJD), Method of Entry (MoE), teknik dan taktik pembebasan sandera dan penerjunan statik dan free fall serta studi kasus tentang terorisme.

    Tujuan latihan bersama meningkatkan kemampuan serta ketrampilan antara anggota Kopassus dan PLA China dalam bidang taktik dan teknik operasi khusus.

    Selain itu, meningkatkan kemampuan kedua belah pihak dalam mengantisipasi berkembangnya ancaman terorisme.

    Sumber: REPUBLIKA
    Readmore --> China Puji Kemampuan Kopassus

    Indonesia Akan Produksi Kapal Selam Sendiri Tahun 2020

    Ilustrasi.

    Jakarta - Meski pemerintah menargetkan industri pertahanan sudah terbangun pada 2024, Indonesia diharapkan sudah bisa memproduksi kapal selam sendiri pada 2020. Untuk itu, mulai tahun ini Indonesia akan mulai melakukan alih teknologi untuk pembuatan kapal tersebut.

    “Tahun ini kita akan kirim insinyur-insinyur untuk memulai proses alih teknologi,” ujar Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Susilo, kepada Tempo, Senin, 6 Juni 2011.

    Tahap awal proses alih teknologi dilakukan dengan mengirimkan sumber daya manusia dari Indonesia untuk terlibat dalam perakitan kapal selam yang dipesan oleh pemerintah ke negara produsen kapal itu. Tahap berikutnya dari alih teknologi adalah perakitan dan produksi sebagian komponen kapal selam di Indonesia.

    Susilo mengatakan tahun ini Indonesia berencana memesan dua kapal selam. Pada pemesanan berikutnya diharapkan perakitan salah satu unit yang dipesan bisa dilakukan di tanah air walaupun komponen dan alat-alat utamanya masih diimpor. "Misalnya kita beli tiga, yang dua diproduksi di sana (negara produsen), satu lagi kita rakit di sini," ujarnya.

    Susilo mengatakan saat ini potensi pengembangan kapal selam di Indonesia memang belum ada. Industri kapal di dalam negeri belum menguasai teknologi pembuatan kapal selam maupun sumber daya manusia berupa tenaga ahli. Persoalan lain yang dihadapi untuk mengembangkan industri ini adalah investasi yang diperlukan sangat besar.

    Indonesia, kata dia, juga belum memiliki galangan kapal dan kelengkapannya dengan kapasitas yang cukup besar untuk membangun kapal selam. Meskipun ada galangan yang cukup besar, diperlukan perbaikan dan penambahan fasilitas. "Biaya untuk membangun galangan kapal ini lebih besar dari biaya untuk pembelian satu unit kapal selam," kata Susilo.

    Juru Bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Silmy Karim mengatakan komite bersama Kementerian Pertahanan akan mendorong beberapa kebijakan untuk mendukung pertumbuhan industri pertahanan nasional. Salah satunya yang akan diusulkan adalah pembebasan bea masuk sparepart untuk industri pertahanan.

    Ini dilakukan untuk memicu produksi alat pertahanan oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. "Sekarang kami sedang menginventarisir komponen apa saja yang perlu diberi pembebasan bea masuk," katanya. Kementerian akan meminta agar peraturan pembebasan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan khusus komponen pertahanan.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Indonesia Akan Produksi Kapal Selam Sendiri Tahun 2020

    Dephan Berikan Pembekalan Tim Enginering KF-X/IF-X


    Bandung - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemhan) Marsdya TNI Eris Herryanto, S.IP, M.A., memberikan pembekalan kepada Tim Engineering KF-X/IF-X, Kamis (2/6) di Lembang, Bandung. Tim tersebut berjumlah 34 Engineers yang berasal dari Kemhan, TNI AU, ITB dan PT. DI.

    Tim tersebut direncanakan akan diberangkatkan ke Korea Selatan pada bulan Juli mendatang dalam rangka pelaksanaan tahap Technology Development Phase bagian dari program pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X. Pesawat tempur tersebut merupakan pesawat tempur baru generasi 4.5 (F16++) yang akan dikembangkan bersama oleh Republik Indonesia dan Republik Korea Selatan.

    Tim Engineering Republik Indonesia yang ditugaskan di Korea Selatan harus benar-benar profesional, tangguh, penuh motifasi, inisiatif serta berdedikasi tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan pembekalan disamping agar setiap anggota Tim memiliki pemahaman yang sama mengenai apa yang menjadi tugas dari Tim selama di Korea Selatan.

    Pembekalan dilaksanakan dengan tujuan meliputi memberikan satu arahan yang jelas mengenai pentingnya program KF-X/IF-X untuk menjaga kedaulatan NKRI, sosialisasi dan rencana kerja program pengembangan pesawat temur KF-X/IF-X, mempersatukan visi dan misi bagi setiap anggota Tim, memberikan motifasi yang kuat untuk bisa bekerjasama dalam satu Tim yang solid, agar seluruh rencana kerja yang telah ditetapkan.

    Pembekalan diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang Kemhan) dan berlangsung selama lima hari dimulai tanggal 29 Mei sampai dengan 3 Juni 2011.

    Sementara itu, Sekjen Kemhan dalam pembekalannya memberikan paparan dengan tema “ Pentingnya Program KF-X/IF-X Bagi Pertahanan Negara Republik Indonesia Di Masa Mendatang”. Selain mendapatkan pembekalan dari Sekjen Kemhan, selama pembekalan Tim juga mendapatkan materi pembekalan dari beberapa nara sumber.

    Sumber: DMC
    Readmore --> Dephan Berikan Pembekalan Tim Enginering KF-X/IF-X

    PT Samudra Indonesia Akan Menggunakan Jasa TNI Untuk Menjaga Kapal Mereka

    MV Sinar Kudus Dikawal 2 Kapal Perang Milik TNI AL.

    Jakarta - Direktur Eksekutif PT Samudera Indonesia Tbk Asmari Herry mengatakan bahwa pelayaran niaga melalui Terusan Suez akan dijaga anggota TNI Angkatan Laut. “Mungkin akan ditambahkan 6-8 anggota militer,” kata Asmari kepada Tempo, Sabtu lalu.

    Kebijakan ini diambil setelah Kapal MV Sinar Kudus milik Samudera Indonesia disandera 46 hari oleh lanun Somalia pada 16 Maret lalu. Menurut Asmari, penambahan ini akan meningkatkan biaya operasional kapal yang mencapai US$ 14 ribu dolar per kapal per hari.

    Asmari mengatakan bahwa setelah penyanderaan tersebut pemerintah mengadakan seminar mengenai pengamanan pelayaran niaga, terutama menuju Eropa. Pelayaran menuju Eropa, kata Asmari, lebih ekonomis ditempuh melewati Terusan Suez yang sebelumnya harus melintasi perairan Somalia. “Hanya membutuhkan waktu empat bulan,” katanya.

    Dua jalur lain, kata Asmari, dinilai terlalu lama dan tidak ekonomis. Jalur tersebut adalah melewati Tanjung Harapan Afrika Selatan yang membutuhkan waktu enam bulan dan melewati Panama di Samudera Pasifik yang membutuhkan delapan bulan pelayaran.

    Menurut Asmari, bantuan militer Indonesia lantaran belum ada kesepakatan Internasional untuk menumpas lanun Somalia. “Yang ada baru rencana penguatan Pemerintah Somalia agar rakyatnya tidak merompak,” katanya. Oleh karena itu, setiap kapal dan negara yang melintasi perairan rawan Somalia akan menjaga kapal masing-masing.

    Asmari mengklaim Sinar Kudus merupakan satu-satunya kapal berbendera Indonesia yang berlayar menuju Eropa. Oleh karena itu, perseroan, kata dia, akan meningkatkan kemampuan 1.000 awak dengan 60 kapal yang dimiliki Samudera Indonesia. “Akan kami bekali dengan pelatihan,” ujarnya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> PT Samudra Indonesia Akan Menggunakan Jasa TNI Untuk Menjaga Kapal Mereka

    TNI AU Gelar Static Show Sukhoi di Balikpapan

    Balikpapan -Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) menggelar kegiatan static show mulai hari ini, Senin (6/6/2011).

    Komandan Pangkalan TNI AU Balikpapan Riva Yanto ST M.Sc menjelaskan static show yang akan berlangsung hingga, Sabtu (11/6/2011) itu dilaksanakan dalam rangkaian Manuver Lapangan (Manlap) Latihan Angkatan Udara (Lathanud) Kilat, Lathanud Cakra dan Opshanud Tameng Petir 2011.

    Kegiatan itu berdasarkan Surat Telegram Pangkohanudnas No: ST/63/2011 tanggal 24 Mei 2011 tentang Manlap Lathanud Kilat, Cakra dan Opshanud Tameng Petir pada 4 Juni 2011 sampai 12 Juni 2011 di wilayah Kosekhanudnas II.

    TNI AU Undang Muspida Balikpapan Lihat Pesawat Sukhoi

    Pangkalan TNI AU Balikpapan mengundang forum Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) untuk melihat lebih dekat alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI AU termutakhir pesawat Sukhoi di Base Operation Lanud Balikpapan, Senin (6/6/2011).

    "Kami mengundang Muspida hari ini," ujar Komandan Pangkalan TNI AU Balikpapan Letkol Pnb Riva Yanto ST M.Sc.

    Tidak hanya menyaksikan dari dekat, Muspida mendapat kesempatan untuk berfoto dekat dengan pesawat senilai 35 Juta USD atau kurang lebih Rp 350 miliar per unit itu.

    Sumber: TRIBUN
    Readmore --> TNI AU Gelar Static Show Sukhoi di Balikpapan

    Interview Dengan Kolonel Laut A. Taufiqoerrochman Dalam Pembebasan MV Sinar Kudus

    Kapal MV Sinar Kudus Dikawal Dua Kapal Perang Milik TNI.

    Jakarta - Teks berita di televisi itu menarik perhatian Kolonel Laut A. Taufiqoerrochman. Kapal MV Sinar Kudus dikabarkan dibajak di perairan Somalia. Sang Kolonel membatin, "Kelihatannya saya akan berangkat ke sana." Sebelum menonton televisi, Taufiq-nama singkat yang tertera di baju dinasnya-baru saja menyerahkan jabatan Komandan Latihan Komando Armada Timur di Surabaya. Dia didapuk menjadi Komandan Komando Pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat. Pangkatnya mestinya sudah naik menjadi laksamana pertama, tapi belum ada upacara penyematan pangkat secara resmi.

    Benar saja, Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Marsetio memanggil Taufiq dan menunjuknya sebagai komandan operasi pembebasan awak MV Sinar Kudus yang disandera lanun Somalia. Kemudian Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengajak Taufiq menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya di Puri Cikeas. "Presiden menyampaikan arahan, yang penting keselamatan sandera harus diutamakan," ujarnya.

    Resmilah Taufiq menjadi Komandan Satuan Tugas Merah Putih untuk membebaskan awak kapal Sinar Kudus. Kapal yang mengangkut bijih nikel senilai Rp 1,5 triliun itu berangkat dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara, menuju Rotterdam, Belanda. Namun kapal dengan 20 awak itu dibajak sejak 29 Februari. Para awak disekap perompak selama 46 hari.

    Operasi melibatkan pasukan khusus dari berbagai angkatan. Ada Detasemen Jala Mengkara alias Denjaka dari Marinir, Satuan Penanggulangan Teror alias Gultor dari Kopassus TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Katak alias Kopaska dari TNI Angkatan Laut, dan Pasukan Intai Amfibi alias Taifib dari Marinir. Taufiq berangkat memimpin operasi dengan tiga melati masih tersemat di pundaknya. Dia memimpin dua kapal perang: KRI Abdul Halim Perdanakusuma, yang dilengkapi satu helikopter jenis Bolkow, dan KRI Yos Sudarso.

    Tim Merah Putih akhirnya berhasil membawa pulang kapal dan awaknya dengan selamat, meski uang tebusan US$ 4,5 juta digondol perompak, Ahad dua pekan lalu. Keberhasilan pasukan Indonesia ini diapresiasi sejumlah pihak, termasuk komandan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di kawasan perairan sekitar Somalia. "Belum pernah ada kapal yang masuk ke perairan Somalia, kecuali Indonesia," kata Taufiq. "Sudah begitu, menembak mati perompak pula."

    Rabu pekan lalu, Taufiq, yang sudah resmi menyandang satu bintang di pundaknya, menerima Nugroho Dewanto, Yandi M. Rofiyandi, dan Fanny Febiana dari Tempo di Markas Komando Armada Barat, Jakarta. Pria berpembawaan humoris ini menuturkan lika-liku operasi secara lugas diselingi canda, termasuk tentang sandi "Gudang Garam-Dji Sam Soe" yang biasa digunakan sesama pelaut Indonesia.

    Bagaimana ceritanya Anda ditugasi memimpin operasi pembebasan awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia
    ?

    Saya baru ditugasi menjadi Komandan Komando Pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat. Setelah serah-terima 17 Maret di Surabaya, saya membaca running text televisi sore: kapal Sinar Kudus dibajak. Saya membatin, kelihatannya akan berangkat. Saya berinisiatif mengambil buku dan mencorat-coret strategi operasi. Jadi, kalau diperintahkan, saya sudah punya konsep. Saya ke Jakarta dan mau menghadap Panglima Armada Barat. Tiba-tiba ditelepon Kepala Staf Armada Barat dan disuruh langsung ke Markas Besar TNI Angkatan Laut di Cilangkap.

    Jadi Anda langsung ke Cilangkap sebelum sampai ke kantor baru?


    Enggak sempat ke sini. Di Cilangkap, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut sudah rapat. Beliau mengatakan, "Kamu yang bawa, ya. Kamu kan jadi Komandan Gugus Tempur Laut besok. Kalau perlu, serah-terima malam ini." Pasukan sudah ada di Cilandak, yakni Denjaka, Gultor, Taifib, dan Kopaska. Saya ke Cilandak, lalu kembali ke Cilangkap dan ke rumah Panglima. Saya baru pulang dan sampai di rumah di Salemba jam tiga pagi. Jam tujuh seharusnya acara serah-terima, tapi kapal sudah datang, sehingga harus segera mengecek.

    Siapa yang memberikan arahan operasi kepada Anda?

    Setelah mengecek dan pasukan masuk ke kapal, jam setengah delapan pagi saya mendampingi Panglima TNI menghadap Presiden di Cikeas. Presiden menerima paparan dari Panglima TNI dan Komandan Korps Marinir. Pertemuan itu dihadiri Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Panglima Kostrad, dan Komandan Kopassus. Presiden menyetujui rencana garis besar yang disampaikan Panglima TNI. Operasi militer harus meminta persetujuan dari yang memberi perintah, yaitu Presiden.

    Apa arahan Presiden waktu itu?


    Arahan beliau sangat runtut dan beliau menguasai sekali operasi militer. Saya catat semua dan menjadi dasar membuat rencana operasi. Yang paling utama adalah keselamatan sandera. Presiden juga meminta kami membuat rencana cadangan kalau ada perubahan situasi.

    Dalam pemaparan rencana operasi, apakah termasuk skenario penyergapan di Laut Arab?


    Kami memang berencana mengambil kapal di Laut Arab. Kami sudah menghitung posisi ketika kapal ditangkap. Bahan bakar kapal akan cukup sampai di Laut Arab kira-kira sampai 10 April. Saya rencanakan paling lambat 3 April sudah berada di posisi menyergap. Begitu disetujui, besoknya saya berangkat.

    Ketika Anda berangkat, bagaimana tanggapan keluarga?

    Ha-ha-ha.... Sudah biasa. Saya berangkat besok, subuhnya istri malah sudah berangkat ke Manado. Ketika saya antar dia ke bandar udara, belum dikasih tahu mau berangkat. Baru jam tiga sore, Panglima TNI mengatakan berangkat jam 18.00. Saya selalu menyampaikan bahwa pada saat roh ditiupkan, file-nya sudah ada, kapan meninggal, juga nasib buruk dan baik.

    Ada perubahan rencana operasi di tengah jalan?

    Ya. Kami berangkat dan baru melintang di Padang pada 25 Maret. Ternyata kapal sudah lego jangkar di perairan Somalia. Karenanya, target menjadi lebih sulit karena terlalu dekat daratan. Selain itu, ada kapal lain sehingga kemungkinan sandera dipisah. Jadi, ketika dalam perjalanan ke Laut Arab, kami ubah ke El-Dhanan.

    Bagaimana berkoordinasi dengan pasukan multinasional di perairan Somalia?

    Ketika pertama masuk, kami belum menjalin komunikasi dengan mereka. Tapi kami terus berhubungan dengan Markas Angkatan Laut. Pasukan multinasional tergelar di Gulf of Aden, Thorn of Africa, Arabian Sea, dan Somalian Basin.

    Selama pengintaian, seberapa dekat kapal dengan target?

    Pada 4 April, unsur terdepan kami sudah berada satu mil dari sasaran. Perompak tidak tahu bahwa kami sudah datang. Lalu kami analisis. Jadi, begitu masuk, jangan dibayangkan hanya ada kapal Sinar Kudus. Di sekitar situ saja ada delapan kapal. Kalau sudah begini, sulit menentukan yang mana Sinar Kudus. (Taufiq memperlihatkan foto citra radar dari kapal Abdul Halim Perdanakusuma.) Kami lalu mengintai dengan helikopter dan permukaan. Kami kaburkan identitas helikopter.

    Semua itu dilaporkan ke Panglima TNI?


    Kami melaporkan posisi dan rencana aksi pada malam harinya dengan metode raid. Serbu, lalu mundur. Pasukan dibekali senjata berperedam suara. Masuk dengan senyap, naik, sikat, turun, dan mundur. Kalau mesin kapal bisa dihidupkan, langsung dikawal.

    Bagaimana tanggapan Panglima TNI?

    Panglima menanyakan tingkat keberhasilannya. Saya menjawab 50-50, karena posisi sandera tidak diketahui selama pengintaian. Atas arahan Presiden, operasi baru dilaksanakan kalau tingkat keberhasilan di atas 70 persen. Ini operasi istimewa dan keputusannya akan berdampak internasional, sehingga komando penuh ada di Presiden, dan Panglima sebagai komando operasinya. Makanya saya butuh posisi sandera. Operasi kami tunda sambil menganalisis dan mencari data. Kesempatan itu digunakan untuk berkoordinasi dengan satuan multinasional. Kami berbagi informasi intelligence, surveillance, and reconnaissance.

    Apa langkah selanjutnya?

    Kami diperintahkan segera membebaskan sandera pada 28 April karena ada negosiasi. Presiden mengatakan negara tak melakukan negosiasi tapi tak bisa melarang perusahaan memilih berunding. Ternyata perundingan mundur sampai 30 April.

    Apakah Anda mengetahui opsi perundingan oleh pemilik kapal itu?

    Saya tahu, tapi di luar konteks. Saya hanya bertugas mengamankan. Pada 30 April, tebusan didrop dan sandera dijanjikan akan bebas jam dua siang. Setelah ditunggu dua sampai empat jam, ternyata tak dibebaskan juga.

    Bagaimana ekspresi pasukan Anda ketika mengetahui ada opsi negosiasi?

    Saya merasakan anak-anak gemas. Sudah jauh-jauh datang, tak jadi perang, ha-ha-ha.... Kami hanya pelaksana operasi dan harus siap mengubah postur dengan cepat. Awalnya postur menyerang, jadi postur diplomasi.

    Bagaimana Anda berkomunikasi dengan awak kapal MV Sinar Kudus selama pengintaian?

    Saya punya pengalaman ketika masih menjadi kapten. Waktu melintas di perairan Italia, ada panggilan "Gudang Garam-Dji Sam Soe" melalui handy talkie. Waktu itu saya enggak paham. Rupanya, itu sebagai tanda, ada orang Indonesia di kapal lain. Saya gunakan pengalaman itu ketika di Somalia. Meski lambat dijawab, akhirnya tersambung juga.

    Apakah perompak tak curiga dengan percakapan awak kapal di handy talkie?

    Kami hanya berkomunikasi sebentar-sebentar. Kami dianggap awak kapal karena memang komunikasi mereka di anjungan dan buritan menggunakan handy talkie. Kami lalu merangkai semua informasi dan data. Perompak rupanya bergerak menuju Eyl. Jarak dari El-Dhanan ke Eyl itu 90 mil, hampir 170 kilometer. Mereka bergerak jam empat pagi pada 1 Mei. Kami mengintai dan menjaga supaya tetap di perairan internasional. Jangan sampai kehadiran kami jadi kontraproduktif.

    Semua pasukan mengikuti sampai Eyl?


    Saya menyiapkan sea rider dan helikopter. Bayangkan, sea rider yang biasanya beroperasi di arus tenang berada di laut dengan kedalaman 8.000 meter dan berombak besar. Mereka seperti naik kuda tanpa pelana. Jam dua siang, kapal berhenti. Saya dekatkan sea rider ke kapal. Helikopter dalam posisi siap. Tiba-tiba awak kapal Sinar Kudus berteriak melalui handy talkie. Perompak kembali beraksi.

    Bagaimana sampai ada kontak senjata hingga empat perompak tewas?


    Perompak ini memiliki beberapa kelompok. Ada yang setuju dan tidak dengan perundingan. Kelompok yang tak setuju itu bermaksud membajak kapal lagi. Teriakan permintaan tolong itu menjadi dasar kami masuk ke perairan Somalia. Kami masuk sampai jarak lima mil. Helikopter menembaki perompak yang hendak membajak kapal lagi. Empat orang tewas dan tak ada yang menggunakan baju awak kapal. Jadi mungkin memang perompak.

    Berapa lama kontak senjata itu?

    Tidak lama. Kami hanya menyapu supaya perompak tak naik. Setelah selesai, saya kirim tim untuk sterilisasi, khawatir ada bom atau penyusup.

    Bagaimana kondisi awak kapal?

    Ketika saya naik, tampak awak kapal mengalami tekanan psikis. Wajar saja karena setiap hari ditodong senjata. Setelah aman, kami mengawal mereka ke Oman. Belum sehari berangkat menuju Oman, kapal mogok. Ternyata kehabisan air tawar untuk mendinginkan mesin. Kapal sampai di Oman pada 4 Mei dan awak kapal pulang, diganti awak baru. Kapal kemudian melanjutkan perjalanan ke Rotterdam dan ada petugas kami di atas kapal untuk mengawal.

    Tanggapan pasukan multinasional?

    Kebetulan saya kenal komandan pasukan NATO di sana. Dia mengirim surat elektronik dan menulis: "You do make different." Tadinya saya tidak paham apa maksudnya. Ternyata tak pernah ada kapal yang masuk ke perairan Somalia, kecuali Indonesia. Apalagi sampai menembak mati perompak.

    Kabarnya pernah melakukan operasi menghadapi perompak di Selat Malaka?

    Ya, pada 2004. Ada tanker dibajak dan 36 awaknya disandera. Jam sepuluh malam, kami menyerbu. Perompak memiliki senjata lebih bagus, tapi kami lebih terlatih. Terjadi pertempuran jarak sangat dekat, paling jauh lima meter. Padahal senjata mereka bisa dipakai sampai 600 meter. Keberhasilan sempurna: 36 orang dibebaskan tanpa cedera dan lima perompak tewas. Jadi, kalau dikatakan TNI tidak mampu, kami sudah melaksanakan sebelumnya. Namun sedikit diberitakan.

    Waktu melakukan operasi pembebasan sandera di Selat Malaka, apakah dengan pasukan khusus seperti di Somalia?

    Hanya dengan anak buah saya yang ada di kapal. Mereka semua memang sudah terlatih. Organisasi kapal itu ada empat, yaitu tempur, administratif, pemeliharaan, dan penjagaan. Semua bisa berubah setiap saat. Dasar organisasi kapal itu tempur. Mungkin sehari-harinya juru masak, tapi dia bisa menjadi penembak meriam atau senapan mesin dalam pertempuran.

    Dengan operasi itu, Angkatan Laut membuktikan bisa mengamankan perairan Selat Malaka?

    Panglima Armada Pasifik Amerika pernah mengatakan Selat Malaka masuk daerah hitam, banyak perompak. Muncul stigma negara pantai tak bisa mengamankan wilayahnya. Tapi kita buktikan mampu mengamankan perairan itu.

    LAKSAMANA PERTAMA AHMAD TAUFIQOERROCHMAN


    Tempat dan Tanggal Lahir: Sukabumi, Jawa Barat, 18 Oktober 1961

    Pendidikan:

    Akademi Angkatan Laut, 1985
    Pendidikan Lanjutan Perwira I, 1990
    Pendidikan Lanjutan Perwira II, 1993
    Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, 1998
    Sekolah Staf dan Komando TNI, 2009

    Karier:


    Komandan KRI Pulau Rani, KRI Badik, KRI Karel Satsuit Tubun
    Komandan Satuan Patroli Komando, Satuan Kapal Eskorta, dan Komando Latihan Armada Timur
    Dosen Instruktur Akademi Angkatan Laut, Komando Pendidikan TNI AL, dan Sekolah Staf dan Komando TNI
    Komandan Komando Pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Interview Dengan Kolonel Laut A. Taufiqoerrochman Dalam Pembebasan MV Sinar Kudus

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.