ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    ATTENTION


    PERHATIAN

    "Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut Atau Silahkan Hubungi Admin Melalui Chat Box/Shout Box/E-mail yang tertera di bawah .

    ADMIN
    steven_andrianus_xxx@yahoo.co.id

    Kategori »

    INDONESIA (4795) TNI (1147) ALUTSISTA (984) TNI AL (721) TNI AU (694) Pesawat Tempur (684) USA (597) Industri Pertahanan (564) PERBATASAN (448) KOREA (400) Kerja Sama (400) RUSIA (382) Teknologi (315) TNI AD (306) Kapal Perang (281) Pesawat Angkut (276) Anggaran (249) PERTAHANAN (235) CHINA (232) MALAYSIA (226) Tank (218) DI (210) Kapal Selam (201) Rudal (165) Helikopter (159) Pindad (145) KORUT (140) ASEAN (127) POLRI (126) Kapal Angkut (119) DMC (114) AUSTRALIA (107) PAL (106) Kapal Patroli (99) EROPA (98) Senjata (94) Pesawat Latih (93) TIMTENG (93) UAV (87) Nuklir (84) Pasukan Perdamaian (84) Teroris (83) ISRAEL (81) Radar (75) Kopassus (74) SINGAPORE (74) INDIA (72) IRAN (71) Ranpur (70) Africa (69) Roket (67) JAPAN (60) INGGRIS (59) LAPAN (59) PBB (59) jerman (57) Pesawat Patroli (56) LEBANON (55) Satelit (54) kapal latih (47) PRANCIS (45) BELANDA (41) THAILAND (36) BRAZIL (35) Philippines (35) TAIWAN (35) TIMOR TIMUR (31) VIETNAM (29) Inteligen (27) NATO (25) BRUNEI (24) Korvet (22) LIBYA (22) PAKISTAN (22) PALESTINA (21) Amerika Latin (16) KAPAL INDUK (16) English News (15) PAPUA NUGINI (15) BIN (14) ITALIA (14) VENEZUELA (14) KAMBOJA (13) ASIA (12) AFGANISTAN (11) POLANDIA (11) PT. LEN (9) Pesawat Bomber (9) Frigates (8) UKRAINE (7) Amerika Utara (6) Kapal Perusak (6) Berita Foto (5) Georgia (5) UEA (5) YAMAN (5) EGIPT (4) New Zealand (4) Pesawat Tanker (4) SRI LANKA (4) BANGLADESH (3) BULGARIA (3) YUNANI (3) HAITI (2) KAZAKHTAN (2) Polisi Militer (2) ROMANIA (2) \ (1)

    Total Pageviews

    Berita Terpopuler

    Powered by Blogger.

    Saturday, April 2, 2011 | 5:00 PM | 0 Comments

    Amerika Serikat Akhiri Misi Di Libya


    Warga Libya memotret tentara bayaran dari Afrika yang tewas digempur pesawat tempur Perancis di al-Wayfiyah, sebelah barat Benghazi, 20 maret 2011.

    Washington — Amerika Serikat bersiap menarik semua jet tempurnya dari operasi zona larangan terbang di Libya. AS juga berharap aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara dan negara lainnya dapat mengurangi serangan. Misi tempur AS dijadwalkan akan berakhir pada Sabtu ini.

    Sikap AS itu diumumkan Menteri Pertahanan Robert Gates dan Kepala Staf Gabungan Laksamana Mike Mullen, Kamis (31/3) di Washington, atau Jumat WIB. Pengumuman itu malah menimbulkan reaksi tidak percaya sejumlah anggota Kongres.

    AP merilis, anggota Kongres AS bertanya-tanya mengapa pemerintahan Barack Obama memilih mengundurkan diri dari elemen kunci strategi militer di Libya itu. Mereka berpendapat, operasi koalisi Barat—yang kini diambil alih Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)—mulai membuahkan hasil.

    ”Aneh”, ”mengganggu”, dan ”mengerikan”, begitu kata-kata kritis yang dilontarkan para senator. Mereka mendesak Gates dan Mullen memberikan penjelasan.

    Misi AS mulai meninggalkan Libya, Sabtu ini. Gates mengatakan, Inggris, Perancis, dan anggota NATO lainnya dapat mengambil alih operasi itu menurut cara mereka. AS hanya mendukung dari belakang.

    Pekan lalu Obama mengatakan tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam operasi di Libya. AS tidak ingin kasus Irak dan Afganistan terulang di Libya. Jika kekuatan udara Moammar Khadafy sudah dilumpuhkan, AS akan surut.

    Resolusi politik

    Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle yang sedang berada di Beijing, China, hari Jumat mengatakan, krisis Libya tidak bisa diselesaikan melalui aksi militer. ”Semua pihak harus mulai melakukan resolusi politik,” kata Westerwelle.

    Jerman dan China sejak awal mendukung penegakan zona larangan terbang di atas Libya. Meski demikian, sama seperti Rusia, mereka tidak setuju intervensi militer terhadap Libya, melainkan hanya melalui pendekatan diplomatik.

    ”Situasi Libya tidak dapat diselesaikan dengan cara militer. Hanya bisa melalui resolusi politik dan kita harus mewujudkan berjalannya proses itu,” kata Westerwelle dalam lawatan empat hari di China.

    Menlu China Yang Jiechi juga menyatakan, China mendukung solusi diplomatik. Dia khawatir dengan laporan yang menyebutkan bahwa kekerasan senjata terus berlangsung dan hal itu menyebabkan jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil.

    ”Masalah ini harus ditangani dengan tepat dengan cara diplomatik dan politik. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, China akan terus memainkan peran yang bertanggung jawab dalam hal ini,” kata Yang.

    China dan Jerman, anggota tidak tetap DK PBB, abstain dalam pemungutan suara DK PBB terkait zona larangan terbang. Mereka mendesak Khadafy menarik pasukannya dari pusat-pusat penduduk. Jerman meminta Khadafy turun. China mengkritik NATO telah melampaui misi Resolusi PBB 1973.

    Kanselir Jerman Angela Merkel sejak awal tak yakin serangan koalisi dapat meredam krisis Libya. Menurut Merkel, serangan ini malah menggelorakan semangat Libya untuk berperang.

    Gencatan senjata

    Hari Jumat terjadi pertempuran sengit antara pasukan oposisi dan loyalis Khadafy di Brega, salah satu kota minyak di Libya timur. Kota ini menjadi rebutan, silih berganti diduduki salah satu kubu jika kubu yang lain dapat didesak keluar.

    Pasukan Khadafy juga menggempur Misrata di Libya barat. Loyalis menggunakan tank, roket, granat, mortir, dan proyektil lainnya. ”Kami tak lagi mengenali tempat itu. Kota porak poranda,” kata Sami, juru bicara oposisi.

    Oposisi menegaskan, mereka setuju melakukan gencatan senjata. Hal itu bisa dilakukan sesuai kondisi, yakni jika pasukan Khadafy ditarik keluar dari kota-kota di Libya barat. Khadafy harus memberikan kebebasan berbicara kepada rakyatnya.

    Mustafa Abdel Jalil, Ketua Dewan Nasional Transisi Oposisi, di Benghazi, Libya timur, menyerukan agar Khadafy menyingkirkan semua ”tentara bayaran” dari jalanan. Itu prasyarat lain yang diharapkan oposisi demi terjadinya gencatan senjata.

    Tolak intervensi militer


    Di Indonesia, Forum Umat Islam (FUI), yang terdiri dari sejumlah organisasi atau kelompok Islam, menolak intervensi militer Barat di Libya. Serangan itu membuat persoalan semakin rumit dan menewaskan banyak korban rakyat sipil.

    Aspirasi itu disuarakan FUI dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, Jumat. Massa menggelar unjuk rasa dari Bundaran Hotel Indonesia menuju Kedubes AS.

    Sekretaris Jenderal FUI KH Muhammad Al Khaththath menegaskan, umat Islam Indonesia mengutuk keras serangan militer itu. ”Kami meminta Pemerintah Indonesia mengajukan protes keras ke PBB. Hentikan serangan. Biarkan krisis Libya diselesaikan oleh rakyatnya sendiri,” katanya.

    Al Khaththath mencurigai serangan AS dan NATO itu hanya kedok untuk menguasai Libya. Libya cukup strategis secara politik di Timur Tengah karena kaya minyak bumi.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Amerika Serikat Akhiri Misi Di Libya

    TNI-AU Segera Miliki Simulator "Super Puma"

    Simulator Helikopter.

    Jakarta - TNI Angkatan Udara segera memiliki simulator helikopter Super Puma untuk mendukung keterampilan dan keahlian penerbang-penerbang helikopter.

    Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro menjawab ANTARA di Jakarta, Jumat mengatakan, simulator dibangun di Pangkalan Udara Atang Sendjaya, Bogor.

    "Di sana kan ada dua skuadron udara helikopter yakni Skuadron Udara 6 (Super Puma) dan Skuadron Udara 8 (Puma)," katanya.

    Bambang mengatakan, gedung simulator helikopter Super Puma NAS 332 di Lanud Atang Senjaya telah memasuki tahap instalasi dan "finishing".

    Ia menambahkan, pembangunan simulator helikopter Super Puma itu dilakukan oleh tiga pihak yakni PT Dirgantara Indonesia (perakitan), Inggris (pengerjaan sistem komputer avionik) dan Belanda (layar monitor/motion picture).

    "Dengan keberadaan simulator itu keterampilan dan keahlian para penerbang dapat dipertahankan atau ditingkatkan dan jam terbang helikopter pun dapat di hemat," kata Bambang.

    Tentang kelanjutan pengadaan helikopter Super Puma dari PT Dirgantara Indonesia, ia mengatakan, akan tetap dilanjutkan sesuai ketentuan kerja sama yang telah disepakati TNI Angkatan Udara dan PT DI.

    "Selama periode 2010-2014, mereka akan menuntaskan tiga helikopter Super Puma yang sudah lama dikerjakan," katanya.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> TNI-AU Segera Miliki Simulator "Super Puma"

    Friday, April 1, 2011 | 6:50 PM | 0 Comments

    Knalpot Pindad Buatan Purbalingga

    Purbalingga - Setelah mendapat kepercayaan dari sejumlah ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) mobil terkenal seperti Mercedes Benz, Suzuki, Daihatsu, dan Toyota, knalpot produksi perajin Purbalingga (Jateng) ternyata juga digunakan pada kendaraan tempur jenis panser dan tank.

    ''PT Pindad yang secara rutin memesan knalpot Purbalingga, tak hanya menggunakannya untuk panser bagi TNI-AD. Tapi juga untuk panser yang dibuat guna memenuhi pesanan dari Malaysia dan Lebanon,'' kata seorang perajin knalpot Purbalingga, Muhajirin, Jumat (1/4).

    Dia menyebutkan, pesanan knalpot untuk kendaraan tempur TNI-AD, sebenarnya sudah dilakukan PT Pindad sejak tahun 2009/2010. Pada saat itu, jumlah permintaan memang tidak banyak, rata-rata 150 buah knalpot per tahun. Sedikitnya pesanan knalpot tersebut, karena pesanan pembuatan tank oleh TNI kepada PT Pindad juga masih sedikit.

    Namun pada tahun 2011 ini, PT Pindad juga mendapat pesanan pembuatan panser dari Malaysia dan Lebanon. Berdasarkan informasi yang diperoleh Muhajirin dari PT Pindad, panser yang dipesan adalah kendaraan tempur Panser Anoa 6 kali 6. ''Untuk kebutuhan pembuatan panser tersebut, kami juga mendapat permintaan untuk memenuhi kebutuhan knalpotnya,'' katanya.

    Saat ini, Muhajirin mengaku telah mengirimkan 11 unit knalpot untuk panser Anoa pesanan Lebanon, dan 32 unit knalpot untuk Panser pesanan dari Malaysia. Knalpot yang dipesan, ermasuk bagian mufler (kendang knalpot) dan exhause (pipa pengeluaran)-nya.

    Menurutnya, Panser Anoa 6 X 6 adalah sejenis kendaraan tempur pengangkut personil atau APC (Armoured personal carrier) dengan sistem penggerak 6 roda simetris.

    Sebelumnya, Muhajirin mengaku telah secara rutin memasok mufler knalpot untuk jenis kendaraan panser mortir, panser recovery, dan panser Anoa-2. Semua pasokan atas permintaan PT Pindad.

    ''Hingga saat ini, kami telah mengirimkan 300 unit knalpot untuk kendaraan tank dan panser yang digarap PT Pindad. Dalam waktu dekat, kami juga tengah diminta memasok lagi knalpot untuk tank-tank model baru yang akan dibuat untuk memperkuat kendaraan TNI,'' katanya.

    Dipilihnya knalpot produksi perajin Purbalingga, antara lain karena karena kualitasnya cukup baik dan mampu meredam suara.

    Sumber : REPUBLIKA
    Readmore --> Knalpot Pindad Buatan Purbalingga

    China Percepat Pembangunan Persenjataan Teknologi Tinggi

    Beijing - Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China meningkatkan komposisi pembangunan mekanisasi dan informasi persenjataan dan peralatan, kata buku putih pertahanan nasional negara itu Kamis.

    Tentara Pembebasan Rakyat mendapatkan momentum dalam mengembangkan senjata baru dan berteknologi tinggi serta peralatan militer, kata buku putih itu, yang dikeluarkan oleh Kantor Informasi Dewan Negara.

    Tentara Pembebasan Rakyat telah membentuk sebuah sistem dengan peralatan generasi kedua sebagai badan utama dan generasi ketiga sebagai tulang punggung, menurut buku putih itu.

    Menurut buku putih, PLA telah mengembangkan operasi-operasi darat untuk sistem persenjataan dengan helikopter-helikopter, kendaraan lapis baja, senjata penekan dan anti-udara sebagai tulang belakang.

    Angkatan Laut PLA (PLAN) telah dibangun untuk operasi maritim dengan sistem persenjataan tipe baru kapal selam, kapal permukaan dan pesawat permukaan serangan sebagai tulang belakang, dan Tentara Pembebasan Rakyat Angkatan Udara telah dibentuk untuk operasi-operasi kontrol udara dengan sistem persenjataan tipe baru pesawat tempur, dan sistem rudal pendukung dari tanah-ke-udara.

    Juga,Pasukan Artileri Kedua PLA telah membentuk sebuah sistem persenjataan rudal menengah dan jangka panjang dari darat-ke-darat, katanya menambahkan.

    Buku putih mengatakan bahwa PLA juga bekerja untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola, memelihara peralatan pendukung.

    Penyelamatan darurat terbaru dan operasi bantuan bencana, latihan kontra-terorisme, dan dilengkapi latihan penuh serta manuver-manuver telah menguji pencapaian pengembangan dan pengelolaan persenjataan dan peralatan, dan menunjukkan peningkatan yang penting dalam kapabilitas dukungan peralatan PLA, buku putih itu mengatakan.

    Untuk pengembangan ke depan persenjataan dan peralatan, PLA berusaha untuk mempromosikan kompatibilitas organik dan pengembangan komposisi platform senjata yang dipadukan dengan sistem elektro-info.

    "PLA bekerja untuk memantapkan persenjataan yang ada dan peralatan untuk meningkatkan kinerja menyeluruh secara sistematis, organik dan terpadu, sehingga dapat meningkatkan efektivitas biaya pengembangan persenjataan dan peralatan," kata buku putih itu.

    Sumber: Yahoo
    Readmore --> China Percepat Pembangunan Persenjataan Teknologi Tinggi

    Singapura Ajak Indonesia Untuk Melakukan Patroli Di Somalia

    Jakarta - Panglima Angkatan Bersenjata Singapura Jendral Neo Kien Hong dalam jumpa pers ASEAN Commander Of Defence Informal Meeting di Jakarta, Kamis(31/3), mengundang perwira TNI AL untuk bergabung dalam patroli memerangi bajak laut di perairan Teluk Aden dan pesisir Somalia.

    Singapura dan Malaysia ikut senta dalam operasi internasional di perairan itu dengan mengirim masing - masing satu kapal perang. "Kami mengadakan rotasi personel baru yang bertugas selama tiga bulan selama Mei - Juni.

    Untuk menguatkan kerjasama ASEAN kami mengundang perwira TNI AL dari Indonesia, Brunei, dan Thailand." Kata Neo.

    Sumber: KOMPAS/MIK
    Readmore --> Singapura Ajak Indonesia Untuk Melakukan Patroli Di Somalia

    Indonesia Dan Prancis Gelar Latihan Bersama di Lebanon

    Surabaya - Satgas Yonif Mekanis Kontingan Garuda (Konga) XXIII-E/UNIFIL (Indobatt/ Indonesian Battalion) menggelar latihan bersama dengan Satgas Force Commander Reserve (FCR) dari Kontingen Prancis, di Lapangan Soekarno, Markas Indobatt UN POSN 7-1, Lebanon Selatan (30/3).

    Perwira Penerangan (Papen) INDOBATT Kapten Pasukan Banu Kusworo kepada ANTARA melalui surat elektronik dari Lebanon, Kamis, melaporkan latihan bersama bertajuk "Joint Field Artelery Deployment Exercise" itu digelar selama dua hari, 29-30 Maret.

    "Latihan itu diikuti 100 prajurit Indobatt dengan koordinator Pasi Plan Kapten Marinir Profs Degratment, Pasiops Kapten Marinir Eko Budi Prasetyo dan Pasi Udara Lettu Pnb Ageng Wahyudi," katanya.

    Sementara FCR Prancis mengerahkan satu unit FCR lengkap dengan persenjataan artileri di bawah pimpinan Komandan Unit Capt Thomas Dessert.

    Pada hari pertama, latihan diawali dengan presentasi oleh Komandan Unit FCR tentang Standar Operation Procedure (SOP) of FCR dan prosedur bila ada permintaan bantuan tembakan.

    "Kegiatan itu dilaksanakan di ruang rapat Batalyon dan diikuti oleh seluruh Danki (komandan kompi) di jajaran Indobatt serta para perwira staf," katanya.

    Setelah pelaksanaan presentasi dilanjutkan dengan "briefing" (pengarahan) kepada para prajurit di lapangan Soekarno.

    Selanjutnya, peserta latihan dibagi menjadi empat kelompok dan menerima materi tentang pengenalan senjata artileri "Caesar" milik Kontingen Prancis.

    "Menurut penjelasan Komandan Unit FCR, senjata tersebut dilengkapi dengan ATLAS System (sistem penghubung dan penembakan otomatis untuk senjata artileri medan)," katanya.

    Pada hari kedua, latihan dilanjutkan dengan praktik "drill stelling" senjata, "drill" perpindahan "stelling" dan "drill" penembakan kering senjata Caesar.

    Selain itu, seluruh prajurit Indobatt bersama dengan satuan FCR mempraktikkan bagaimana berperan sebagai "observation platoon", "liason detachment", dan "platoon head quarter."

    "Ketiga bagian tersebut merupakan satu kesatuan dari unit artileri medan FCR," katanya.

    Ia menambahkan praktik latihan pada hari kedua disaksikan oleh Komandan Indobatt, Letkol Inf Hendy Antariksa, Wadan Letkol Mar Harnoko, Wadan FCR Lt Col Dartencet serta Perwira Staf Operasi FCR Lt Col Rozier.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Indonesia Dan Prancis Gelar Latihan Bersama di Lebanon

    Rafale Mencari Lawan Seimbang Di Libya


    Teknisi Angkatan Laut Perancis mempersenjatai pesawat tempur Rafale dengan misil "Mica IR" untuk menjalankan misi ke Libya di atas kapal induk Charles De Gaulle, Jumat (25/3). Kubu oposisi Libya berterima kasih kepada Perancis atas inisiatif mereka memulai serangan koalisi terhadap basis militer pemimpin Libya, Moammar Khadafy, tetapi meminta "kekuatan asing" bisa meninggalkan negeri mereka.

    Sudah hampir dua pekan Perancis berada di garda depan mengawal zona larangan terbang di atas Libya. Pejabat-pejabat militer Perancis pun beberapa kali mengumumkan keberhasilan pesawat tempur andalan mereka, Dassault Rafale, menghancurkan berbagai sasaran. Namun, benarkah keunggulan Rafale sudah sungguh-sungguh teruji?

    Terakhir, Senin (28/3), Perancis melaporkan, jet-jet Rafale mereka berhasil menghancurkan pusat komando pasukan Moammar Khadafy di pedalaman Libya, sekitar 10 kilometer sebelah selatan ibu kota Tripoli. Juru bicara Kepala Staf Gabungan Perancis, Kolonel Thierry Burkhard, tidak bersedia memberikan detail kerusakan sasaran, kecuali hanya mengatakan misi hari Minggu itu berjalan sukses.

    Meski memiliki misi utama mengamankan zona larangan terbang, yang bertujuan mencegah penggunaan pesawat tempur AU Libya untuk menyerang pasukan oposisi, kekuatan pasukan koalisi kali ini memang menyerang target-target di darat dan laut. Target-target itu seperti tank, kapal patroli, instalasi radar, sistem pertahanan antiserangan udara, hingga pusat-pusat komando.

    Alasan pemilihan sasaran-sasaran di darat itu adalah untuk melumpuhkan kemampuan pasukan pro-Khadafy agar tidak lagi membunuh warga sipil Libya.

    Delapan Rafale yang lepas landas dari Pangkalan Udara Robinson di Saint-Dizier, Perancis timur laut, membuka operasi militer di Libya ini di bawah nama sandi Operasi Harmattan, Sabtu (19/3). Dilaporkan, delapan Rafale itu berhasil menghancurkan empat tank Khadafy yang bersiap menyerang kota Benghazi.

    Akan tetapi, hingga hari ke-12 operasi tersebut, jet-jet canggih buatan Dassault Aviation itu seperti belum menemukan lawan yang sepadan dengan kemampuan sesungguhnya.

    Multifungsi


    Pesawat generasi keempat yang dirancang menjadi tulang punggung keunggulan udara angkatan bersenjata Perancis hingga tahun 2030 ini dibekali dengan seabrek kemampuan canggih sehingga mampu melaksanakan berbagai misi sekaligus.

    Begitu multifungsinya Rafale sehingga pihak Dassault menjuluki pesawat tempur itu ”omnirole” atau ”mahabisa” sebagai istilah pemasaran untuk membedakan dengan pesawat-pesawat setara dari AS atau negara lain, yang biasanya hanya dilabeli sebagai pesawat ”multirole”.

    ”Pesawat ini sudah menjalankan misi udara ke udara, menghantam sasaran dari udara ke darat, misi pengintaian, dan bahkan bisa menjadi pesawat tanker. Benar-benar multifungsi. Anda bisa menyiapkan pesawat dan memilih misinya sembari Anda terbang,” ungkap Burkhard setengah berpromosi.

    Untuk menunjukkan kemultifungsian jet tempur ini kepada dunia, Perancis menurunkan dua jenis Rafale dalam operasi di Libya. Dua jenis itu adalah jenis yang lepas landas dari pangkalan di darat (Rafale C yang berkursi tunggal dan Rafale B yang berkursi ganda) milik Armée de l’Air atau AU Perancis dan versi Rafale M yang bisa lepas landas dan mendarat di kapal induk milik Marine Nationale atau AL Perancis.

    Rafale, yang dalam bahasa Perancis berarti tiupan angin badai, adalah wujud ambisi Perancis menunjukkan kemandirian militer mereka. Saat negara-negara Eropa lain bergabung untuk mengembangkan bersama pesawat Eurofighter Typhoon pada pertengahan 1980-an, Perancis memilih mundur. Mereka mengembangkan sendiri proyek pesawat ACX, yang kemudian menghasilkan Rafale.

    Rafale dibuat memenuhi tuntutan AU dan AL Perancis, yang menginginkan sebuah pesawat yang bisa menjalankan fungsi tujuh pesawat berbeda. Pesawat itu dituntut harus bisa menjalankan berbagai misi, mulai dari keunggulan udara, pengintaian, dukungan udara bagi serangan darat, serangan presisi udara ke permukaan (sasaran di tanah maupun di laut), hingga mampu menjalankan serangan nuklir.

    Bukan tandingan

    Dassault menjawab tantangan itu dengan mendesain pesawat yang gesit dan lincah berkat perpaduan sayap delta dan canard (sayap kecil di bagian depan) serta empat lapis sistem kemudi elektronik (fly-by-wire). Rafale mampu menjalankan misi terbang rendah mengikuti kontur permukaan bumi untuk menghindari deteksi radar musuh.

    Perpaduan badan yang 70 persennya terbuat dari material komposit yang ringan dan dorongan dua mesin turbofan M88-2 membuat Rafale memiliki kemampuan supercruise, yakni mampu melesat hingga kecepatan supersonik (Mach 1,87) tanpa menggunakan peranti afterburner (menyemprotkan bahan bakar ekstra di saluran buang mesin jet), sehingga menghemat konsumsi bahan bakar dan menurunkan biaya operasional.

    Dari segi avionik, Dassault mengklaim Rafale sebagai satu-satunya pesawat buatan Eropa yang menggunakan perangkat radar pemindai elektronik aktif (AESA), yang mampu melacak banyak sasaran dan ancaman di sekitar pesawat secara simultan dalam kondisi segala cuaca dan tahan gangguan pengacak radar musuh.

    Pesawat ini juga dilengkapi sistem peperangan elektronik SPECTRA, yang mampu mendeteksi berbagai jenis musuh dari jarak jauh sehingga memungkinkan pilot memilih metode pertahanan paling efektif. Sistem ini dijalankan berdasarkan basis data musuh, yang bisa ditentukan sendiri dan diperbarui sewaktu-waktu.

    Namun, dengan segala kemampuan ini, baru dua fungsi yang sudah ditunjukkan Rafale di Libya, yakni serangan udara ke darat dan misi pengintaian. Sejak operasi dimulai dua pekan lalu, belum sekali pun pesawat ini menghadapi lawan setimbang di udara.

    Memang tak mungkin AU Libya, yang sebagian besar armadanya adalah jet MiG dan Sukhoi lawas buatan Rusia, bisa menandingi persenjataan avant garde Perancis ini.

    Rafale Perancis memang berhasil melumpuhkan satu pesawat AU Libya di Pangkalan Udara Misrata, Kamis pekan lalu. Akan tetapi, sasarannya adalah pesawat latih kuno buatan Yugoslavia, Soko G2-Galeb, yang baru saja mendarat di landasan.

    Jadi, jika Perancis bermaksud memberi label ”battle proven” bagi pesawat Rafale ini agar kelak lebih laku dijual ke negara lain, misi di Libya belum benar-benar membuktikan kemampuan Rafale sesungguhnya.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Rafale Mencari Lawan Seimbang Di Libya

    Dephan Siapa Anggaran $ 16 Juta Dollar Untuk Pengadaan UAV

    Ilustrasi.

    Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemhan) menganggarkan sekitar USD16 juta untuk pembelian pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV).

    Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Eris Herryanto mengatakan, untuk 2011 direncanakan akan dilakukan pembelian sejumlah pesawat tanpa awak. Dana untuk pembelian tersebut diambil dari anggaran tambahan untuk memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) senilai Rp2 triliun pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011.

    Namun, dia belum bisa memastikan pesawatpesawat tersebut akan didatangkan dari negara mana. “Untuk sejumlah pembelian alutsista, kita akan menggunakan anggaran tambahan Rp2 triliun,” ujarnya di Jakarta kemarin. Selain itu, lanjut Eris, tambahan anggaran tersebut juga akan dibelanjakan untuk persenjataan pesawat tempur Sukhoi dan sejumlah helikopter dari Rusia.

    Seperti diketahui,TNI Angkatan Udara akan menambah satu skuadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, untuk memperkuat kemampuan pemantauan, termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat. Pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis dan dapat dioperasikan dari jarak jauh.

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat pernah menyatakan, untuk menampung pesawat- pesawat tersebut, status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1. Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP Helmi Fauzy mengatakan, prinsipnya Komisi I menyetujui sejumlah pembelian alutsista yang diusulkan Kemhan dan TNI.

    “Untuk pembelian pesawat tanpa awak dan sejumlah persenjataan lain prinsipnya disetujui,” ujarnya.Namun, lanjut Helmi,Komisi I mempertanyakan pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari Garuda Indonesia. Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Fayakhun Andriadi menambahkan, pihaknya mempertanyakan serah terima pesawat tersebut.

    Menurutnya, proses pembelian tersebut telah melanggar prosedur.“DPR belum memberikan persetujuan atas proses pembelian tersebut,” katanya. Seharusnya,dengan anggaran yang tersedia,TNI AU dapat membeli pesawat baru yang pemeliharaannya jauh lebih mudah dan murah ketimbang membeli pesawat bekas dari maskapai penerbangan.

    ”Sebaiknya beli baru.Apalagi untuk VVIP. Satu bisa sekelas 737, satunya lagi pesawat yang bisa mendarat di mana-mana,misalnya CN235 yang bisa (dibuat) di dalam negeri oleh PT Dirgantara Indonesia,”ujarnya.

    Sumber: SINDO
    Readmore --> Dephan Siapa Anggaran $ 16 Juta Dollar Untuk Pengadaan UAV

    Thursday, March 31, 2011 | 10:00 PM | 0 Comments

    Industri Pertahanan Nasional Pamer Alutsista di Pertemuan Panglima ASEAN


    Replika pesawat patroli maritim jenis CN 235-220 MPA buatan PT Dirgantara Indonesia.

    Jakarta - Sejumlah industri strategis pertahanan turut meramaikan Pertemuan ASEAN Chiefs of Defence Forces Informal Meeting (ACDFIM) ke delapan di Hotel Sultan, Jakarta. Di tempat yang terbatas sejumlah perusahaan seperti PT PAL Indonesia, PT Dirgantara Indonesia, Pindad dan beberapa perusahaan swasta lainnya saling berbaris memamerkan produk unggulan berupa alat utama sistem persenjataan.

    Pesawat hasil produksi PT DI misalnya. Menurut staf pemasaran PT DI Teguh Graito pesawat CN 235 asli buatan anak bangsa sudah laku terjual 341 buah sejak 1976-2009. Harga satu pesawat PT DI saat ini dibanderol US$ 20 juta. "Kalau dilengkapi sistem lainnya jadi US$25-30 juta," kata Teguh di Jakarta, Kamis 31 Maret 2011.

    Terakhir Malaysia memesan delapan unit pesawat CN 235 dari PT DI. Enam unit digunakan untuk angkut pasukan dan dua unit untuk kenegaraan. Sementara Korea Selatan memesan empat unit yang difungsikan untuk patroli laut.

    Selain membuat pesawat, PT DI pun memproduksi komponen yang menghubungkan sayap pesawat dengan badannya untuk pesawat komersil airbus 380. "Ini bukti kalau kami sudah memiliki sertifikat berkelas internasional," kata Teguh.

    Sementara itu PT PAL Indonesia sedang mencoba melakukan penawaran dengan Filipina untuk kapal militer berjenis Landing Platform Dock. Kapal ini memiliki panjang 125 meter dan lebar 22meter. "Bisa memuat lima helikopter dan mengangkut 354 orang," kata Bayu Wicaksono Humas PT PAL Indonesia.

    Replika-replika seperti pesawat dan kapal berjajar dengan rapi di sepanjang koridor yang menuju Ballroom Hotel Sultan. Contoh senjata api yang dipajang oleh Pindad berhasil menarik perhatian sejumlah pengunjung. Perlengkapan prajurit seperti helm, tas, tenda, kompi ikut meramaikan pertemuan ACDFIM.

    Menurut Panglima TNI Agus Suhartono kehadiran perusahaan nasional itu untuk menunjukkan hasil inovasi bangsa Indonesia. "Kita harus bangga," kata Agus.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Industri Pertahanan Nasional Pamer Alutsista di Pertemuan Panglima ASEAN

    Militer ASEAN Sepakati Tukar Informasi Intelijen

    Jakarta - Hasil pertemuan tahunan panglima militer negara-negara ASEAN menyepakati akan ada pertukaran informasi intelijen. "Ini agar semua anggota ASEAN well inform," kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Jakarta, Kamis 31 Maret 2011.

    Dalam pertemuan ke delapan kalinya ini dihasilkan tujuh kesepakatan yang nantinya akan diwujudkan dalam kerja nyata. Kesepakatan tersebut diantaranya penggunaan aset militer untuk membantu bencana alam dan aksi kemanusiaan, latihan militer bersama, termasuk saling menjaga wilayah perairan khususnya di sekitar Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

    ASEAN Chief of Defence Force Informal Meeting merupakan pertemuan tahunan antara panglima angkatan bersenjata negara-negara di ASEAN. Pertemuan pertama berlangsung pada 2001 di Indonesia. Pertemuan rutin ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan kerja sama antar anggota ASEAN.

    Pada pertemuan tahun ini fokus pembahasannya kepada pemanfaatan aset militer untuk membantu negara yang tertimpa bencana alam. Total jumlah negara yang hadir pada pertemuan kali ini adalah sepuluh negara.

    Agus Suhartono menambahkan bahwa hasil dari pertemuan ini akan dibawa ke tingkat pertemuan antar kementerian pertahanan. Saat ditanya langkah nyata pemanfaatan aset militer untuk keperluan bencana alam, Agus mengatakan akan ada Standar Operational Procedure-nya.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Militer ASEAN Sepakati Tukar Informasi Intelijen

    Militer Asean Sepakat Menjaga Laut Cina Selatan


    Jakarta - Sepuluh Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) negara anggota Asean fokus membicarakan Laut Cina Selatan. Petinggi Angkatan Bersenjata Asean membahas ancaman pembajak di jalur lalu lintas Asean ini.

    Panglima TNI, Laksamana Agus Suharsono menjelaskan, kerjasama pengamanan Asean akan menimalisir kejahatan di laut. Buktinya, kerjasama Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura di Selat Malaka. Saat ini keamanan di Selat Malaka meningkat seiring dengan digiatkannya patroli bersama.

    "Tadi dari Malaysia menyampaikan kondisi di Malaka. Adanya Patroli di Malaka oleh empat negara, itu bisa menurunkan tingkat kejahatan di Malaka, sehingga saat ini Malaka menjadi zero acsiden," kata Agus di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis, (31/3/2011).

    Pulihnya keamanan di Selat Malaka, ternyata tak terjadi di Laut Cina Selatan. Para penjahat laut ini memilih Laut Cina Selatan sebagai wilayah operasi.

    "Kita harus mewaspadai kejahatan yang awalanya berada di Malaka berpindah ke Laut Cina Selatan. Untuk itu kita tingktakan pengamanan jalur ekonomi di Laut Cina selatan supaya terus berjalan," imbuhnya.

    Selain itu, dalam pertemuan Pangab se Asean hari ini juga disepakati bahwa Asean tidak akan pernah membuat fakta militer atau pun aliansi militer. Bukan hanya itu, mereka juga sepakat untuk tidak mengerahkan pasukan ke wilayah Laut Cina Selatan.

    "Tetapi angkatan Bersenjata Asean berkeinginan untuk membentuk suatu pasukan penjaga perdamaiaan kawasan Asean yang siap dikerahkan ke negara yang membutuhkan sesuai dengan permintaan," sergahnya.

    Sumber: TRIBUN
    Readmore --> Militer Asean Sepakat Menjaga Laut Cina Selatan

    Direksi PT Dirgantara Indonesia Siap Dirombak



    Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana merombak jajaran direksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Hal ini bagian dari penyehatan dari sisi organisasi maupun manajemen perusahaan pelat merah pembuat pesawat terbang tersebut.

    Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, saat ini kondisi direksi PTDI mengalami masalah. Antara lain kondisi Dirut PTDI Budi Santoso yang sakit-sakitan dan direktur keuangan yang telah mengundurkan diri.

    "Kita akan evaluasi direksi, direktur keuangan kan sudah mundur, dirut pun sekarang sedang ada gangguan kesehatan, kita lihat kalau ini jadi beban apa salahnya kalau berat kita coba cari pengganti. Tapi kita tunggu sampai sembuh dulu," kata Mustafa di gedung DPR-RI, Rabu malam (30/3/2011).

    Menurut Mustafa langkah ini harus dilakukan demi menyehatkan organisasi dan manajemen dari PT DI.

    "Kita sedang evaluasi, dua hal. Satu organisasai akan kita lakukan peninjauan, sudah masuk konsep dari mereka, kemudian masuk evaluasi dari mereka. Kita akan lakukan penyehatan baik organisasi maupun manajemen," katanya.

    Dari sisi keuangan, pemerintah tengah mengupayakan penyelamatan terhadap BUMN sakit ini. Pihak DPR-RI melalui Komisi VI telah setuju terkait pemberian Subsidiary Loan Agreement (SLA) atau Penerusan Pinjaman kepada PT Dirgantara Indonesia (DI), dengan suntikan Rp 123 miliar (konversi dana talangan) di APBN-P 2011.

    Sebelumnya PT DI berniat mengkonversi utangnya Rp 3,9 triliun menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN). Perseroan berharap konversi tersebut bisa menyehatkan kondisi perseroan yang masih 'sakit'.

    Dengan adanya konversi utang tersebut, maka debt to equity ratio (rasio ekuitas) akan membaik dan perusahaan pelat merah itu bisa mencari utang guna melaksanakan berbagai proyeknya.

    Sampai saat ini PTDI telah memproduksi delapan pesawat terbang per tahun. Namun, perseroan masih belum bisa meraup untung akibat kondisi utangnya yang terlalu besar.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Direksi PT Dirgantara Indonesia Siap Dirombak

    Petinggi Militer se-Asia Tenggara Sarapan Soto Bersama

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kanan) didampingi Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono (kanan) dan Mensesneg Sudi Silalahi (ketiga kanan) berbincang dengan sejumlah Panglima Angkatan Bersenjata se-ASEAN di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/3).

    Jakarta - Sejumlah jenderal dan petinggi militer Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN pada Kamis pagi berduyun-duyun ke Istana Merdeka, Jakarta, untuk menghadiri pertemuan informal, sekaligus menyantap soto ayam bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    "Ada soto ayam. Menu kita sehari-harilah," kata Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha ketika ditemui di komplek Istana Kepresidenan.

    Julian mengatakan, pihak Istana Kepresidenan sengaja menyediakan menu sehari-hari yang dibuat istimewa bagi para jenderal tersebut.

    "Agak istimewa sedikit," katanya.

    Menurut Juian, konsep santap pagi bersama merupakan pilihan yang tepat untuk menjamu para petinggi militer negara-negara Asia Tenggara itu. Santap pagi bersama, katanya, akan menambah semangat dan kesegaran para perwiwa militer itu untuk mengikuti rapat.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pertemuan para petinggi militer ASEAN itu adalah pertemuan informal dan tidak akan membahas sesuatu yang terkait dengan operasi bersenjata.

    "Pertemuan panglima-panglima angkatan bersenjata ASEAN pagi ini sebenarnya pertemuan informal," katanya sebelum mengikuti pertemuan tersebut.

    Pertemuan informal itu, kata Purnomo, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak membentuk pakta militer di kawasan ASEAN.

    Purnomo menegaskan, kerja sama militer bukan hanya dalam bentuk perang. "Kerja sama itu bisa untuk operasi militer selain perang," katanya.

    Kerja sama selain perang itu antara lain penanggulangan bencana, misi perdamaian, penanggulangan teror, dan pengamanan wilayah maritim.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir dalam pertemuan informal panglima angkatan bersenjata se-ASEAN yang bertajuk "ASEAN Chiefs of Defense Forces Informal Meeting (ACDFIN)" itu.

    Yudhoyono juga memberikan arahan dalam acara yang dihadiri oleh 50 undangan tersebut.

    Selain santap pagi bersama, pertemuan informal kedelapan yang digelar secara tertutup itu juga diisi dengan sambutan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan sambutan perwakilan ASEAN Chief of Defense Forces, Royal Thai Armed Forces, General Songkitti Jaggabatara.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Petinggi Militer se-Asia Tenggara Sarapan Soto Bersama

    Cara Soeharto Tunjukkan Kedaulatan Patut Ditiru

    Batam - Almarhum Soeharto, saat menjabat sebagai presiden, menunjukkan kedaulatan negara dengan cara unik, memancing di tengah laut yang berbatasan dengan negara lain, kata pengamat politik dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpindang Zamzami A Karim.

    "Ketika seorang kepala Negara memancing, radius pengamanan oleh aparat sangat luas dan sekaligus melambangkan kemampuan menjaga keamanan dan kedaulatan atas wilayah laut," kata Zamzami dalam Seminar I Pemberdayaan Wilayah Perbatasan di Universitas Internasional Batam di Kepulauan Riau, Rabu (30/3).

    Dalam seminar yang diselenggarakan Lembaga Kajian Strategis Ekonomi Politik Perbatasan itu, Zamzami mengatakan, cara Presiden Soeharto ketika itu sederhana dan sebaiknya ada pejabat pemerintah kini yang meniru di laut perbatasan Kepri.

    Kini soal kedaulatan Indonesia dalam hal ini di Kepri yang 96 persen terdiri atas laut, dan 2.408 pulau besar dan kecil, menurut Zamzami, perlu dijaga dengan kekuatan, serta diplomasi, dan manajemen perbatasan yang berperspektif kelautan disertai pendekatan kesejahteraan bagi warga.

    Ia menilai selama ini kelemahan dalam mengelola kelautan merupakan titik lemah dan rawan menimbulkan kerugian pada masyarakat di sepanjang pantai dan terjadi pencaplokan pulau-pulau perbatasan, penyelundupan dan penjarahan sumber daya laut oleh kapal-kapal asing.

    Padahal Kepri sebagai wilayah penyangga politik perbatasan harus dibangun dengan fokus pada manajemen maritim dan dengan regulasi yang meleluasakan warga masyarakat di perbatasan untuk hidup sejahtera, katanya.

    Zamzami menyarankan pemerintah agar mengajak Malaysia membangkitkan kembali komitmen yang dibuat pada April 1972 untuk bersama-sama melindungi kehidupan dan warga masyarakat di pantai-pantai sepanjang Selat Malaka dan terutama di Kepri.

    Komitmen April 1972 dapat merawat posisi geostrategis Kepri yang berperanan menyangga stabilitas politik negara-negara sekitar, katanya.

    Bagi Indonesia, menurut dia, komitmen dengan Malaysia yang dibuat pada April 1972, bila dibangkitkan akan menjadikan warga di pantai-pantai kedua negara tidak lagi memandang asing satu sama lain hanya karena berbeda wilayah dan kebangsaan.

    "Kelak, misalnya tidak lagi terjadi kesalahpahaman tentang batas-batas daerah tangkapan nelayan dari kedua negara," katanya.

    Kebangkitan komitmen April 1972 dapat diupayakan dengan memanfaatkan posisi Indonesia yang kini Ketua ASEAN, katanya.

    Ia menuturkan, komitmen pada April 1972 merupakan salah satu dari sekian kesepakatan Indonesia dan Malaysia dalam menjaga agar kawasan ini tetap aman sebagai jalur lalu lintas perdagangan banyak negara di Asia, terutama Jepang, dan pada akhir-akhir ini, Korea serta China.

    Tonggak sejarah politik perbatasan di kawasan ini telah dimulai ketika pada 17 Maret 1970 ditandatangani perjanjian mengenai batas laut Selat Malaka antara dua negara pantai, Malaysia dan Indonesia yaitu mulai dari Selatan One Fathom Bank yang berada di Kelang sampai ke Selat Durian Singapura.

    Posisi geostrategis Indonesia dalam hal ini Kepri di kawasan Selat Malaka sebagai jantung lalu lintas peradaban dunia di Asia, dianggap penting Amerika Serikat sehingga harus mengontrol keseimbangan kekuasaan di kawasan Asia guna memastikan bahwa wilayah ini memiliki hak otonomi yang kuat, inklusif dan tidak bergolak.

    Menurut Zamzami, wilayah Kepri yang bersentuhan langsung dengan perbatasan berbagai negara merupakan entitas politik paling majemuk dan paling inklusif serta menjadi kawasan terkaya akan ragam budaya dan dinamika politik karenanya dicermati Singapura, Malaysia bahkan AS dan Australia setiap waktu.

    Amerika Serikat, katanya, menganggap Indonesia sebagai pemain kunci, selain Jepang dan China, bagi terwujudnya sistem keamanan yang stabil di Asia Tenggara

    Badan Pengelola

    Pembicara lain dalam seminar tersebut, Sekretaris Komisi I DPRD Kepri Surya Makmur Nasution mengusulkan Gubernur Kepri mempercepat pembentukan Badan Pengelola Perbatasan (BPP) Provinsi Kepri agar pembiayaannya dapat mulai dialokasikan melalui APBD Perubahan Kepri 2011.

    BPP Provinsi Kepri, hendaknya dibentuk bukan hanya untuk melaksanakan amanah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, melainkan hendaknya sebagai kesadaran betapa penting mengelola kawasan perbatasan di Kepri dengan perspektif kelautan dan pendekatan kesejahteraan, katanya.

    Pengelolaan perbatasan tidak dapat dilakukan secara parsial BPP provinsi semata, melainkan harus terintegrasi secara konseptual dan bersinergi dalam pelaksanaannya dengan BPP kabupaten-kota.

    Orang-orang di BPP hendaknya memiliki kapasitas dan kompetensi yang mumpuni dengan sikap nasionalisme sejati, siap dan sanggup bekerja keras, jujur dan berani mengambil keputusan-keputusan yang berpihak kepada kepentingan kesejahteraan warga Kepri dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Pengelolaan perbatasan di Kepri, menurut Nasution, perlu didukung kalangan pemangku kepentingan dan menyertakan Program Sarjana Penggerak Perbatasan.

    Ia mengemukakan, di Kepri terdapat potensi perikanan yang luyar biasa, serta di Perairan Natuna dan Kepulauan Anambas melimpah potensi migas.

    Tetapi, katanya, potensi perikanan laut baru terkelola kurang dari lima persen, sedangkan pengelolaan minyak dan gas hingga kini posisi masih terpinggirkan.

    "Hal itu merupakan salah urus akibat dampak dari sentralisasi sistem pemerintahan rezim Orde Baru. Sudah saatnya Kepri bangkit untuk menata diri dengan kayaan maritim," katanya.

    Khusus soal pengelolaan minyak dan gas bumi di Natuna dan Kepulauan Anambas, menurut Nasution, Pemprov Kepri harus mampu melakukan upaya-upaya strategis sampai ke tingkat lobi untuk memperkuat posisi tawar sebagai daerah penghasil.

    Peningkatan dana bagi hasil minyak sudah saatnya diperjuangkan lebih besar dari sekarang ini yang hanya lebih kurang Rp1,4 triliun per tahun.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Cara Soeharto Tunjukkan Kedaulatan Patut Ditiru

    Menhan : Indonesia Tak Ingin Bentuk Pakta Militer di ASEAN

    Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

    Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan para Panglima Angkatan Bersenjata negara-negara ASEAN Kamis 31 Maret 2011 pagi ini, tidak untuk membahas sesuatu yang terkait dengan operasi bersenjata.

    "Pertemuan panglima-panglima angkatan bersenjata ASEAN pagi ini sebenarnya pertemuan informal," kata dia sebelum mengikuti peretemuan tersebut di Istana Merdeka.

    Pertemuan informal itu, menurut Purnomo, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak membentuk pakta militer di kawasan ASEAN. Purnomo menegaskan, kerja sama militer bukan hanya untuk perang. "Kerjasama itu bisa untuk operasi militer selain perang," kata Purnomo.

    Kerja sama selain perang itu antara lain penanggulangan bencana, misi perdamaian, penanggulangan terorisme dan pengamanan wilayah maritim.

    Hari ini Presiden Yudhoyono menjamu santap pagi para Panglima Militer negara-negara se-ASEAN di Istana Merdeka. Acara ini merupakan rangkaian Asean Chiefs Of Defence Forces Informal Meeting ( ACDFIM) ke-8 Tahun 2011. Selain Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Presiden didampingi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono serta Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Menhan : Indonesia Tak Ingin Bentuk Pakta Militer di ASEAN

    Puspenerbal Resmikan NACS Dan Dan Melikuidasi Skuadron 900


    Setelah memiliki Flight Training Device untuk pesawat latih TB-10 Tobago, kini Puspenerbal memperoleh kembali Flight Training Device yang diberi nama NACS (Naval Aviation Combat Simulator) untuk simulasi pertempuran udara maritim bagi para penerbang pesud TNI Angkatan Laut.

    Pada hari Rabu tanggal 30 Maret 2011 pukul 09.00 Wib Komandan Puspenerbal Laksma TNI H. Sipahutar, M.Sc. meresmikan Gedung NACS yang ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh ibu Linda Halomoan Sipahutar selanjutnya Komandan, Wadan, para Direktur Puspenerbal Danwing 1, Danwing 2 diikuti para undangan meninjau ruang simulator.

    Sarana Latihan Naval Aviation Combat Simulator (NACS) dibangun dan dikembangkan sebagai simulasi taktik pertempuran pesawat udara yang sekaligus dapat difungsikan sebagai simulasi taktis operasi yang memiliki kemampuan peperangan laut meliputi peperangan permukaan atas air, peperangan

    bawah air dan udara. Peralatan simulator dibangun dengan tujuan sebagai sarana latihan taktik pertempuran laut yang dirancang dapat diintegrasikan melalui platform fixed wing, rotary wing, surface ship dan submarine.

    Selesai meresmikan gedung Naval Aviation Combat Simulator (NACS) pukul 10.00 Wib bertempat di Base Ops Lanudal Juanda dilaksanakan upacara likuidasi skuadron 900 yang dipimpin langsung oleh Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI H. Sipahutar, M.Sc dan dihadiri oleh para Direktur Puspenerbal, Danwing Udara 1, Danwing Udara 2, Kafasharkan Pesud, Danpuslatdiksarmil serta pejabat dijajaran Puspenerbal. Pada pelaksanaan upacara acara pokok didahului penghormatan, pemeriksaan pasukan, pembacaan Skep Danpuspenerbal, penyelubungan Tunggul Skuardron 900, penanggalan tanda jabatan dan penandatangan naskah.

    Pada amanatnya Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI H. Sipahutar, M.Sc. mengatakan kepada seluruh anggota Skuadron 900 Wing Udara 1 yang telah ditetapkan sebagai anggota Fasharkan Pesud kiranya dapat segera menyesuaikan diri dengan organisasi baru dan tetap semangat dalam menjalankan tugas dengan baik. Selanjutnya kepada anggota Skuadron 900 Wing Udara 2 akan ditetapkan sebagai anggota Sathar Pesud Lanudal Tanjungpinang yang memiliki kemampuan pemeliharaan tingkat III khususnya bagi pesawat udara yang bermarkas di Wing Udara 2.

    Maksud diselenggarakannya upacara likuidasi skuadron 900 Wing Udara 1 dan Skuadron 900 Wing Udara 2 merupakan implementasi dari terbentuknya organisasi Puspenerbal yang diresmikan melalui alih bina satuan-satuan penerbangan ke dalam jajaran Puspenerbal. Sebagai skuadron Pemeliharaan, Skuadron 900 telah menunjukkan kiprahnya dalam melaksanakan tugas Pemeliharaan dan Perbaikan bagi pesawat udara TNI AL baik yang bermarkas di Wing Udara 1 maupun Wing Udara 2. Dengan perubahan organisasi Disnerbal menjadi Puspenerbal, maka satuan Pemeliharaan yang dulunya oleh Skuadron 900, kini telah ditingkatkan menjadi Fasharkan Pesud yang memiliki kemampuan pemeliharaan hingga tingkat Depo, sehingga mampu melaksanakan kegiatan pemeliharaan tingkat IV secara swakelola.

    Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Udara disingkat Fasharkan Pesud adalah unsur pelaksana Puspenerbal yang berkedudukan langsung di bawah Danpuspenerbal. Fasharkan Pesud memiliki tugas melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan Pesud, fasilitas pendukung serta materiel udara Puspenerbal. Dengan menjadi Fasharkan Pesud, mendatang dapat melakukan pembenahan secara internal baik yang menyangkut regulasi, ketrampilan dan kemampuan maupun kelengkapan fasilitas pemeliharaan sesuai standar yang dipersyaratkansehingga Fasharkan pesud mampu menjadi leader untuk mewujudkan program zero accident dalam keselamatan kerja.

    Diakhir amanatnya Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI H. Sipahutar, M.Sc. mengucapkan terima kasih kepada seluruh mantan personel Skuadron 900 yang telah menunjukkan dedikasinya sebagai teknisi pesawat udara dengan baik dan selamat bekerja di satuan yang baru.

    Sumber: Puspenerbal
    Readmore --> Puspenerbal Resmikan NACS Dan Dan Melikuidasi Skuadron 900

    Panglima Militer ASEAN Kumpul di Jakarta

    Ilustrasi.

    Jakarta — Sejumlah panglima angkatan bersenjata negara anggota ASEAN berkumpul di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/3/2011) pagi, untuk menghadiri pertemuan informal.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pertemuan para petinggi militer ASEAN itu tidak akan membahas sesuatu yang terkait dengan operasi bersenjata.

    "Pertemuan panglima-panglima angkatan bersenjata ASEAN pagi ini sebenarnya pertemuan informal," katanya sebelum mengikuti pertemuan tersebut. Pertemuan informal itu, kata Purnomo, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak membentuk pakta militer di kawasan ASEAN.

    Purnomo menegaskan, kerja sama militer bukan hanya dalam bentuk perang. "Kerja sama itu bisa untuk operasi militer selain perang," kata Purnomo. Kerja sama selain perang itu antara lain penanggulangan bencana, misi perdamaian, penanggulangan teror, dan pengamanan wilayah maritim.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hadir dalam pertemuan informal panglima angkatan bersenjata se-ASEAN yang bertajuk "ASEAN Chiefs of Defense Forces Informal Meeting (ACDFIN)" itu. Pertemuan informal kedelapan itu juga akan diisi dengan acara santap pagi bersama.

    Pertemuan tertutup yang berlangsung sejak pukul 07.30 WIB itu akan diisi dengan sambutan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan sambutan perwakilan ASEAN Chief of Defense Forces, Royal Thai Armed Forces, General Songkitti Jaggabatara. Presiden Yudhoyono juga akan memberikan arahan dalam acara yang dihadiri oleh 50 undangan itu.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Panglima Militer ASEAN Kumpul di Jakarta

    Anggota Komisi I : Kementerian Dinilai Melanggar Prosedur

    Jakarta - Pengadaan alat utama sistem persenjataan atau alutsista oleh Kementerian Pertahanan dinilai melanggar prosedur. Hal yang paling mencolok adalah berkaitan dengan pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari PT Garuda Indonesia oleh TNI Angkatan Udara.

    ”Kami mempertanyakan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran ) yang sudah dikeluarkan padahal belum selesai dibicarakan,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin, Rabu (30/3). Salah satu kasus yang mencuat adalah pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari PT Garuda Indonesia. Menurut dia, pembelian tersebut masuk ke dalam APBN Perubahan untuk tahun 2011. Anggaran sebesar Rp 2 triliun itu belum ditandatangani DPR. Padahal, sesuai dengan undang-undang, untuk bisa mengeluarkan DIPA, dibutuhkan persetujuan dan tanda tangan dari komisi di DPR yang terkait dengan kementerian.

    Pada Rabu (9/3) PT Garuda Indonesia yang diwakili Direktur Utama Emirsyah Satar menyerahkan dua buah pesawat Boeing 737-400 seharga Rp 190 miliar kepada TNI AU yang diwakili Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat. Kedua pesawat tersebut akan dioperasikan menjadi pesawat angkut militer VVIP di Halim Perdanakusuma. Pesawat ini juga akan menjadi cadangan pesawat kepresidenan.

    Seremonial

    Kementerian Pertahanan yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Erris Herryanto menyatakan bahwa acara serah terima tersebut hanya bersifat seremonial belaka. Namun, menurut Hasanuddin, argumen itu tidak bisa diterima karena yang terjadi adalah kesalahan prosedur. ”Kementerian Keuangan juga seharusnya tidak mengeluarkan DIPA,” kata TB Hasanuddin.

    Berdasarkan data yang diperoleh Kompas, dalam sambutannya, Erris Herryanto menyatakan, sesuai surat edaran Menteri Keuangan tentang Pagu Definitif Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2011, Kementerian Pertahanan diharuskan menyampaikan dokumen Satuan 3 Pagu Definitif yang telah disetujui Komisi I DPR selambat-lambatnya tanggal 12 November 2010. Oleh karena itu, Kementerian Pertahanan meminta agar anggota Komisi I DPR menandatangani Satuan 3 Kementerian Pertahanan dan TNI tahun 2011. Dengan belum ditandatanganinya dokumen itu, proses administrasi jadi terlambat.

    Sumber: KOMPAS
    Readmore --> Anggota Komisi I : Kementerian Dinilai Melanggar Prosedur

    Wednesday, March 30, 2011 | 8:06 PM | 0 Comments

    Review Investigasi - Di Balik Layanan Elang Emas


    T-50 Golden Eagle.

    Dari pangkalan militer di Seongnam, rombongan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ternyata diangkut oleh pesawat kepresidenan Korea Selatan menuju Busan. "Presiden Lee Myung-bak meminjamkan pesawatnya untuk mengantar kami," kata seorang anggota rombongan Kamis tiga pekan lalu.

    Pertengahan bulan lalu, Hatta memimpin 50 pejabat dan pengusaha Indonesia ke Korea Selatan. Selain menjajaki peluang investasi, Hatta diutus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membahas kerja sama pembelian alat tempur. Salah satunya pesawat latih supersonik T-50 Golden Eagle buatan Korea Aerospace Industries.

    Sumber Tempo bercerita, delegasi Hatta dilayani secara khusus untuk melicinkan proses pembelian pesawat itu. Korea Selatan dan Cina memang selalu memanjakan pejabat yang datang, termasuk menyiapkan mobil, bahkan pesawat, untuk membawa mereka berkeliling negeri. "Tapi, kalau sampai meminjamkan pesawat kepresidenan, itu artinya mereka sudah jorjoran," katanya.

    Korea Aerospace Industries memang sedang membutuhkan uang untuk mendanai produksi Golden Eagle. Perusahaan yang sejak krisis 1997 di-sokong pemerintah ini juga dikejar target menjual seribu unit si Elang Emas pada 2030.

    Celakanya, Singapura dan Abu Dhabi, yang awalnya siap membeli, mendadak mencoret T-50 dari daftar belanjanya. Adapun penjualan pesawat latih pilot pesawat tempur F-16 dan F-15 itu ke Indonesia sudah keduluan Yakovlev 133 buatan Rusia. Pesawat Rusia itu tidak cuma bisa disetel untuk berlatih memiloti pesawat MiG-29 dan Sukhoi 30. Sistemnya juga bisa direkayasa untuk F-15 dan F-16.

    Sumber yang dekat dengan pejabat Kementerian Pertahanan bercerita, Yakovlev sudah pernah dipresentasikan kepada para perwira Markas Besar TNI Angkatan Udara pada 2008. Setahun kemudian, giliran pejabat Kementerian Pertahanan yang dilobi. "Pembicaraan sudah masuk negosiasi harga, tapi mendadak Korea masuk," katanya.

    Dua tahun lalu, Kementerian Pertahanan tahu-tahu menyebut pesawat latih supersonik buatan Korea. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal I Wayan Midhio, dua pekan lalu malah mengatakan, "Sejak awal tak ada rencana membeli pesawat latih selain T-50 Golden Eagle."

    Ketua Panitia Kerja Alat Utama Sistem Persenjataan DPR, Tubagus Hasanuddin, heran akan rencana itu. Hasanuddin membenarkan cerita bahwa Korea sebetulnya belum memproduksi pesawat latih itu dalam jumlah besar. Rangka pesawat memang banyak, tapi yang bermesin tak sampai sepuluh unit. "Tak ada yang mau membeli pesawat itu," katanya.

    Menurut Hasanuddin, kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan sering tak masuk akal. Misalnya rencana kerja sama membuat prototipe pesawat tempur Korean Fighter Experiment yang ditandatangani pada Juli tahun lalu. Pesawat berkode KFX itu akan dibuat bersama PT Dirgantara Indonesia.

    Rencananya, pesawat itu akan mulai beroperasi pada 2020. Saat itu Indonesia tak perlu membayar lisensi kalau mau bikin sendiri. Namun, demi menyiapkan prototipenya, Indonesia harus menyetor uang Rp 1,6 triliun. "Buat apa kita mengeluarkan uang besar untuk riset senjata negara lain?" kata Hasanuddin.

    Adalah makelar senjata Nyoman Sarimin yang berperan memuluskan masuknya pesawat latih Negeri Ginseng itu. Nyoman sebelumnya juga sukses mencegat rencana pembelian kapal selam Scorpen dari Prancis dan Kilo Class buatan Rusia. "Nyoman Sarimin itu yang menguasai senjata dari Korea Selatan," kata agen rivalnya.

    Nyoman memang gesit, karena gaya bisnis Korea lebih memungkinkan ia punya sumber dana buat melobi. Ia bahkan tak perlu repot-repot mencari kredit ekspor untuk pembelian kendaraan tempur lantaran pemerintah Korea siap memberikan pinjaman lunak. Pemerintah Indonesia, kata sumber tadi, juga dibuai dengan janji-janji investasi.

    Berbeda dengan produsen Amerika Serikat dan Eropa, yang kaku dan pelit soal uang, para makelar Korea Selatan lebih luwes dalam berbisnis. Pejabat yang datang pasti dimanjakan, mulai dari pelesir, makan, hingga uang saku. "Kalau mau perempuan pun mereka sanggup menyiapkan," katanya.

    Memakai bendera Grup Jumbo Karya Agung, sepak terjang Nyoman-keturunan Cina Medan-dimulai sejak era Orde Baru. Ia memakai PT Osco Utama untuk menjajakan kapal selam Changbogo, sedangkan untuk pesawat ia memakai bendera PT Multi Eka Karma.

    Dalam akta pendiriannya, Multi Eka adalah perusahaan perdagangan hasil patungan beberapa pengusaha dengan Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, Koperasi Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, dan Koperasi Detasemen Markas Besar TNI. Nama Nyoman Sarimin sendiri tak tercantum.

    Perusahaan ini berkantor di Wisma Eka Karma, Jakarta Selatan. Di ruang tamu gedung empat lantai yang bersebelahan dengan kantor stasiun televisi TransTV ini dipajang dua foto besar pesawat latih TNI Angkatan Udara KT-1 Bs Wong Bee buatan Korea Aerospace Industries.

    Manajer Multi Eka Karma, Agung Pranoto, mengatakan bahwa Nyoman Sarimin memang staf ahli direksi perusahaannya. Multi Eka berspesialisasi dalam bisnis pesawat latih. "Kami memang yang jadi perantara penawaran T-50 Golden Eagle," katanya.

    Namun I Wayan Midhio membantah adanya makelar dalam pengadaan pesawat latih Angkatan Udara. Menurut dia, perusahaan rekanan hanya dilibatkan dalam pembelian, sesuai dengan peraturan tentang pengadaan barang dan jasa. "Pembicaraan awal itu langsung antarpemerintah," katanya. "Kami menghindari perantara."

    Pilihan membeli pesawat Korea Selatan pun lebih karena tawaran kredit pembelian dengan bunga rendah ditambah adanya alih teknologi. "Karena Korea mau alih teknologi, kerja sama dengan mereka klop dengan rencana kita membangun industri pertahanan dalam negeri," kata Wayan.

    Meski begitu, negosiasi seperti jalan di tempat. Hingga Oktober tahun lalu, statusnya masih mandek di tim evaluasi pengadaan. "Itu masih jauh dari pembelian," kata Agus Pranoto.

    Korea Aerospace Industries gerah dan memutus kontrak dengan Multi Eka. Pada 18 Maret 2010, Korea Aerospace menyurati Kementerian Pertahanan. "Kami ingin berpartisipasi dalam tender pengadaan pesawat latih tanpa melalui perantara agen di Indonesia," kata Agus, membacakan isi surat.

    Sejak itu, Korea Selatan rajin mengutus pejabat pemerintah dan militernya ke Indonesia. Terakhir, pada Desember tahun lalu, Presiden Lee Myung-bak sendiri yang menemui Presiden Yudhoyono di sela acara Forum Demokrasi Bali.

    Tak mulusnya penjualan disebut-sebut sumber Tempo sebagai pemicu pembobolan kamar Ahmad Rojih Almansur, anggota delegasi Hatta ke Korea Selatan. Petinggi badan intelijen nasional Korea Selatan (NIS), seperti dikutip harian Chosun Ilbo, membenarkan agennya menyusup ke kamar Kepala Subdirektorat Industri Elektronik Kementerian Perindustrian itu.

    Penasaran atas rencana pembelian alat tempur itu bukan hanya di pihak Korea, tapi juga di kalangan Komisi I DPR. Menurut Tubagus Hasanuddin, pengajuan anggaran oleh Kementerian Pertahanan dan TNI tak pernah dilengkapi perincian mengenai alat tempur yang akan dibeli. "Kami tidak pernah tahu jenisnya dan akan dibeli dari mana," katanya.

    Senjata Negeri Ginseng

    KERJA sama militer Indonesia dengan Korea Selatan terus menghangat dalam delapan tahun terakhir, terutama setelah Presiden Yudhoyono dan mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun meneken deklarasi kemitraan strategis dalam kerja sama militer pada 2006. Berikut ini berbagai peralatan militer Korea Selatan yang dihibahkan, dibeli, dan masih dijajaki:

    Pesawat latih KT-1 Wong Bee

    Produsen: Korea Aerospace Industries
    Jumlah: 20 unit
    Status:dibeli pada 2003

    Kapal laut landing platform dock

    Produsen: Daesun Shipbuildings & Engineering Co. Ltd
    Status: kontrak pembelian pada 2004
    Jumlah: 4 unit (dua dibuat di Korea dan dua lainnya akan dibuat di PT PAL Surabaya)

    Kapal selam Changbogo Class

    Produsen: Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering
    Status: penjajakan barter dengan pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia (2008)
    Jumlah: dua unit
    Pesaing: Kilo Class (Rusia) dan Scorpen (Prancis)

    Landing Vehicle Tank tipe 7A1

    Produsen: Samsung Techwin
    Jumlah: 10 unit dari rencana 35 unit
    Status: Hibah dari pemerintah Korea Selatan pada November 2009

    Korean Fighter Experimental

    Status: nota kesepahaman rencana kerja sama produksi pada 11 Agustus 2010. Pembuatan prototipe dan baru mulai produksi pada 2020.

    Kendaraan lapis baja K-21 IFV

    Produsen: Daewoo International Corp
    Jumlah: 22 unit
    Status: Kontrak hibah pada 11 Januari 2010 senilai US$ 70 juta

    Pesawat latih supersonik

    T-50 Golden Eagle
    Status:penjajakan (Februari 2011)
    Produsen:Korea Aerospace Industries
    Pesaing:Yakovlev 133 (Rusia)

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Review Investigasi - Di Balik Layanan Elang Emas

    TNI Kirim Pasukan Ke Perbatasan Thailand - Kamboja


    Jakarta - Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia segera mengirim pasukan TNI Zeni Tempur ke Haiti. Pasukan Zeni Tempur TNI bertugas untuk ikut dalam pembangunan di Haiti pascagempa yang memporakporandakan negara itu tahun lalu.

    Selain itu, pasukan ke Haiti juga terdiri dari tim medical (kesehatan). “Yang ke Haiti itu terdiri dari pasukan zeni tempur dan medical. Jadi tidak harus mengirim pasukan untuk bertempur,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro, Selasa (29/3) di kompleks Istana Presiden, Selasa (29/3) usai mendampingi Presiden SBY memberikan pernyataan terkait kisruh politik di Libya.

    Menurut Menhan, jumlah pasukan TNI ke Haiti sekitar 2-3 Satuan Setingkat Kompi (SSK). “Mereka (personel TNI) siap diberangkatkan. Semua sudah kita latih dan sudah disiapkan,” kata Menhan.

    Purnomo menambahkan, utusan PBB saat bertemu pada acara Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) menanyakan kesiapan kontingen Indonesia ke Haiti. “Utusan PBB menanyakan kesiapan kita ke Haiti. Dan, kita nyatakan sudah latih dan siap diberangkatkan,” katanya.

    Pada bagian lain, Menhan juga mengatakan Indonesia akan mengirim pasukan TNI untuk menjaga perdamaian di perbatasan antara Kamboja dan Thailand. Namun pengiriman pasukan masih menunggu hasil pertemuan antara Kamboja-Thailand yang difasilitasi Indonesia pada 7-8 April mendatang.

    “Menlu (Marty Natalegawa) mempersiapkan suatu pertemuan yang dinamakan Joint Country Commission. Meski belum tahu hasilnya, Kementerian Pertahanan siap, mengirim pasukan ke sana (perbatasan Kamboja-Thailand) jika diperlukan,” kata Menhan.

    Sumber: JURNAS
    Readmore --> TNI Kirim Pasukan Ke Perbatasan Thailand - Kamboja

    Foto PRT Bawakan Tas Ransel Tentara SAF Jadi Buah Bibir di Singapura

    Singapura - Sebuah foto yang memperlihatkan seorang pembantu rumah tangga (PRT) membawakan tas ransel seorang tentara sedang menjadi perbicangan di Singapura. Dalam foto tersebut, PRT itu terlihat berjalan mengikuti seorang prajurit.

    Foto itu sontak menuai cibiran. Ada yang menyebut prajurit-prajurit Angkatan Bersenjata Singapura alias Singapore Armed Forces (SAF) manja dan lembek. Foto tersebut banyak dimuat di media Singapura dan Internet pekan ini. Foto yang awalnya diposting di Facebook itu pun menjadi buah bibir.

    "SAF harus menemukan PRT itu dengan cepat. Masukkan dia ke militer, dia kuat," kicau pemilik akun Twitter Rod_Man14.

    "Di balik setiap kesuksesan prajurit SAF, ada seorang PRT," kicau Chinteresting di situs mikro-blogging Twitter seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (30/3/2011).

    "Jika dia tak bisa membawa ranselnya sendiri, bagaimana bisa bergantung pada prajurit seperti ini untuk membela Singapura," cetus Heavencry09 di forum obrolan portal berita xinmsn.

    Menurut seorang analis, prajurit dalam foto tersebut memang terkesan lembek dan manja. "Ini satu insiden, saya pikir satu-satunya kesimpulan yang bisa kita buat secara umum adalah bahwa tentara itu memang lembek dan manja," kata Bernard Loo, pakar urusan militer di lembaga studi S. Rajaratnam School of International Studies.

    Namun ditekankannya, tidak adil untuk menggeneralisir tentara Singapura dengan foto tersebut.

    Gara-gara foto tersebut, harian Singapura, New Paper melakukan survei terhadap 23 prajurit Singapura. Hasilnya, diketahui bahwa 22 orang di antaranya menyuruh PRT mereka untuk mencuci dan menyeterika pakaian seragam mereka. Sedangkan 17 orang di antaranya menyuruh PRT mereka untuk membersihkan kamar mereka.

    Hampir 200 ribu PRT diperkirakan bekerja di Singapura tahun lalu. Sebagian besar dari mereka berasal dari Indonesia dan Filipina.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> Foto PRT Bawakan Tas Ransel Tentara SAF Jadi Buah Bibir di Singapura

    Pesawat B-2 Jatuhkan 40 Bom di Libya

    Tripoli - Televisi pemerintah Libya melaporkan 48 orang tewas dan 150 lainnya cedera akibat serangan udara sekutu dan serangan-serangan baru di Tripoli pada Ahad pagi.

    Pasukan Barat menghantam sasaran-sasaran di sepanjang pantai Libya, Sabtu dengan menggunakan serangan udara dan laut terhadap pasukan Muamar Gaddafi. Tujuan serangan itu agar pasukan Gaddafi melakukan gencatan senjata terhadap pemberontak dan menghentikan serangan terhadap penduduk sipil.

    Stasiun televisi CBS News di laman internetnya, Ahad mengatakan tiga pembom siluman AS B-2 menjatuhkan 40 bom di satu "lapangan udara penting" Libya, yang tidak disebutkan namanya. Seorang juru bicara Pentagon mengatakan pihaknya tidak memperoleh informasi tentang serangan itu.

    Pesawat-pesawat tempur Prancis melancarkan serangan pertama dalam intervensi militer internasional terbesar di dunia Arab sejak invasi di Irak tahun 2003, menghancurkan tank-tank dan kendaraan-kendaraan lapis baja di daerah Benghazi, pangkalan pemberontak di Libya timur.

    Beberapa jam kemudian kapal-kapal perang Amerika Serikat dan Inggris dan kapal-kapal selam menembakkan 110 rudal Tomahawk ke pertahanan udara sekitar ibu kota Tripoli dan kota Misrata di daerah barat, yang dikepung pasukan Gaddafi, kata para pejabat militer AS.

    Mereka mengatakan pasukan AS dan pesawat-pesawat tempur bekerja sama dengan Inggris, Prancis, Kanda dan Italia dalam operasi "Fajar Odyssey".

    Gaddafi menanggapi serangan itu dengan menyatakan "Kini saatnya mengeluarkan persediaan dan mempesenjatai seluruh massa dengan semua jenis senjata untuk mempertahankan kemerdekaan persatuan dan kehormatan Libya," katanya dalam pesan audio yang disiarkan televisi pemerintah beberapa jam setelah serangan-serangan itu dimulai.

    China dan Rusia, yang abstain dalam pemungutan suara Dewan Keamanan PBB pekan lalu, menyatakan penyesalan mereka terhadap aksi militer itu. Kementerian luar negeri China mengatakan pihaknya mengharapkan konflik itu tidak membawa kehilangan nyawa warga sipil yang lebih besar.

    Ledakan-ledakan dan tembakan anti pesawat bergema di Tripoli pada Ahad pagi. Tembakan itu disusul dengan suara "Allahu Akbar" yang bergema di seluruh pusat kota itu.

    Televisi Libya menayangkan gambar dari satu rumah sakit yang tidak disebutkan namanya dan menyatakan tayangan itu korban-korban "musuh penjajah". Sepuluh mayat ditutup dengan kain berwarna putih dan biru, dan beberapa orang cedera, satu di antara mereka berada kondisi parah, kata televisi itu.

    Penduduk Tripoli mengatakan mereka mendengar suara ledakan keras dekat distrik Tajoura di sebelah timur sementara di Misrata mereka mengatakan serangan-serangan ditujukan pada pangkalan udara yang digunakan pasukan Gaddafi.

    Seorang saksi mata Reuters di pangkalan pemberontak di Benghazi, Libya timur melaporkan suara ledakan-ledakan keras dan tembakan anti pesawat, tetapi tidak jelas pihak mana yang menembak.

    Sumber: ANTARA
    Readmore --> Pesawat B-2 Jatuhkan 40 Bom di Libya

    English News : Turkey targets Indonesia And Malaysia for defense exports

    ACV 300 Buatan Turki Di Pindad.

    Eyeing to expand in new markets, Turkish defense industry focuses on Indonesia and Malaysia. FNSS, a producer largely owned by Turkish company Nurol, is to sell armored vehicles worth between $300 million and $400 million to the Indonesian Army initially as part of a broader industry relation. The military electronics firm Aselsan also is planned to cooperate with the Asian country on wireless devices and other electronic equipment.

    In an effort to cement its position as a major exporter of armored vehicles and other defense equipment, Turkey has chosen the southeastern Asian nations of Indonesia and Malaysia as two key target countries.

    Shortly before a planned visit by President Abdullah Gül to Indonesia in early April, senior Turkish procurement officials in mid-March secured a number of defense industry deals, for which official cooperation agreements are scheduled to be signed during the visit.

    “Indonesia and Malaysia are two countries with which we really want and hope to greatly boost our defense industry relations,” said a senior procurement official.

    A first cooperation package with Indonesia is expected to cover the sale and joint production of armored vehicles, wireless devices and rockets. The value of this first package would be between $300 million and $400 million, the Turkish procurement official said.

    The Ankara-based armored vehicle manufacturer FNSS, a joint venture between Turkey's Nurol Holding and BAE, is expected to provide the Indonesian Army with tracked armored combat vehicles. FNSS' majority shares belong to Nurol.

    Aselsan, a top military electronics company and Turkey's largest defense firm, is planned to cooperate with Indonesia on wireless devices and other electronic equipment. Roketsan, Turkey's top company specializing in rockets and missiles, is expected to sell rockets to Indonesia.

    "After this first cooperation package, a second package is envisioned, and it may cover joint production of naval vessels and the modernization of Indonesia's [older] F-16 fighter aircraft by our TAI [Turkish Aerospace Industries]," said the Turkish procurement official.

    TAI, which in the 1990s assembled more than 200 F-16s for the Turkish Air Force, in recent years has modernized or is modernizing Jordan's and Pakistan's older F-16s with the permission of Lockheed Martin, the aircraft's original maker. TAI also is contributing to the production of the U.S.-led F-35.

    Malaysia

    With Malaysia, FNSS signed the largest single Turkish export deal in history, during a visit of Malaysian Prime Minister Datuk Seri Najib Tun Razak to Ankara in late February.

    FNSS signed the $600 million export agreement with Malaysia's Deftech for the design, development, production and logistical support of 257 Pars 8x8 wheeled armored combat vehicles for the Malaysian armed forces. FNSS earlier sold tracked armored vehicles to Malaysia.

    "We have a solid cooperation base with Malaysia. In the near future, we plan to work on naval vessels and some other defense equipment with that country," the Turkish procurement official said.

    "Turkey, Indonesia and Malaysia are all predominantly Muslim countries, but religion does not play a role in Turkish efforts for arms sales to those nations," said one defense analyst based here.

    Separately, Turkey also seeks to modernize the older F-16s of Thailand, another South Asian country.

    Turkey's defense industry exports greatly have improved in recent years, up from only some $250 million a year five years ago. The SSM is eyeing the export of defense equipment worth nearly $1.5 billion this year, up from $832 million in 2009. The 2010 figure has not been announced yet.

    From: Hurriyetdailynews
    Readmore --> English News : Turkey targets Indonesia And Malaysia for defense exports

    Indonesia Akan Beli 16 Unit T-50 Senilai $ 400 Juta Dolar

    Pesawat Latih T-50 Golden Eagle Buatan Korsel.

    Seoul (WDN/MIK)- Fakta telah membuktikan ekspor pesawat latih supersonik T-50 ke Indonesia merupakan keberhasilan dalam pencapaian yang luar biasa.

    Fakta juga membuktikan keberhasilan pemerintah Korsel karena Indonesia merupakan negara pertama dalam penggunaan pesawat latih canggih T-50, pada tanggal 29 pemerintah Korsel melalui degalasi KAI (Industri Dirgantara Korsel) telah mengirim surat kepada menteri pertahanan Indonesia untuk pengadaan pesawat latih T-50 ke Indonesia. Dalam pengadaan pesawat latih untuk Indonesia, T-50 bersaing dengan pesawat latih buatan Rusia yaitu Yak-130 tetapi akhirnya T-50 memenangkan pengadaan pesawat latih tersebut.

    Sebelumnya menteri pertahanan Korsel kim menghadiri acara Jakarta Internasional Dialogue yang berlangsung dari tanggal 23 – 25 Maret di Jakarta yang dihadiri oleh perwakilan dari degalasi dari negara sahabat. Pada acara tersebut pemerintah dan departemen pertahanan Indonesia memberikan pidato menyampaikan berita baik. Sebelumnya Kim bertemu dengan sekretaris dan menteri pertahanan Indonesia membahas regulasi keamanan selain itu juga membahas masalah pengadaan T-50 yang sempat tertunda.

    Setelah itu jika pemerintah Indonesia menandatangi kontrak untuk memilih T-50 maka merupakan kontrak utama bagi KAI, Indonesia telah berencana membeli 16 pesawat latih T-50 sebesar $ 400 juta USD.

    Pihak KAI dan Lockheed Martin telah mengevaluasi harga pesawat latih T-50 tersebut agar dapat bersaing dengan pesawat latih sejenis, tetapi yang terjadi pihak KAI sering kalah tender dalam kompetisi pengadaan pesawat latih di beberapa negara karena mahalnya pesawat latih T-50. Pada tahun 2009 pihak KAI kalah tender dengan pesawat latih M-346 buatan Italia dalam pengadaan pesawat latih untuk Uni Emirat Arab dan bernasib sama saat pengadaan pesawat latih untuk singapura yaitu T-50 kalah dengan pesawat latih M-346.

    Jika ekspor pesawat latih ke Indonesia berhasil maka merupakan batu pijakan untuk masuk ke pangsa pasar Amarika, karena Angkatan Udara AS akan mengganti pesawat latih T-38 dengan pesawat latih yang baru.

    Sumber: KUKINEWS/WDN/MIK
    Readmore --> Indonesia Akan Beli 16 Unit T-50 Senilai $ 400 Juta Dolar

    60% dari Rp 4,8 T Anggaran AS di Libya Habis untuk Bom & Misil

    Washington DC - Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan dana US$ 550 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun untuk operasi militer yang baru beberapa hari dilakukan di Libya. Dari dana itu, 60 persennya dipakai untuk pengadaan bom dan misil.

    Sisanya sebanyak 40 persen digunakan untuk biaya membawa pasukan ke wilayah operasi. Demikian kata pejabat Departemen Pertahanan AS seperti dikutip Reuters, Rabu (30/3/2011).

    Triliunan rupiah tersebut, rupanya menimbulkan beban bagi AS. Karena itu, mereka berharap hanya akan mengeluarkan dana US$ 40 juta per bulan saja setelah operasi militer di negeri Muammar Khadafi itu dikendalikan oleh NATO.

    Biaya operasi militer di Libya, yang sementara masih lebih kecil dibanding dengan perang Irak dan Afganistan, juga dikhawatirkan akan memperburuk tingkat belanja pertahanan AS secara keseluruhan.

    Sementar itu, Juru Bicara Pentagon, Komandan Angkatan Laut Kathleen Kesler mengatakan, sulit untuk memperkirakan besaran biaya operasi di Libya untuk hari-hari ke depan.

    Namun, ia mengharapkan, AS tinggal mengeluarkan US$ 40 juta lagi dalam 3 Minggu mendatang, sebab AS telah mengurangi pasukannya setelah NATO mengambil alih tanggung jawab di Libya.

    Analis pertahanan Byron Callan mengharapkan operasi militer AS di Libya tidak berdampak pada perdagangan saham pertahanan di AS. Sebab, saat ini pesawat-pesawat tempur AS telah ditempatkan di pangkalan di Italia, sehingga mengurangi penerbangan untuk mengisi bahan bakar.

    Dalam 24 jam terakhir, sekutu setidaknya telah menembakkan kembali 22 misil Tomahawk ke pasukan pendukung kolonel Muammar Khadafi. Pasukan koalisi juga melakukan 115 kali serangan untuk melumpuhkan musuh.

    Hari Minggu lalu, NATO akhirnya setuju untuk mengambil alih kendali penuh operasi militer di Libya dari AS, yang telah berjalan sejak 19 Maret 2011. Operasi ini dilakukan untuk menegakkan zona larang terbang dan melindungi masyarakat sipil Libya dari pasukan Khadafi.

    Sumber: DETIK
    Readmore --> 60% dari Rp 4,8 T Anggaran AS di Libya Habis untuk Bom & Misil

    Tuesday, March 29, 2011 | 5:47 PM | 0 Comments

    Tahun 2012 Lulusan Akademi Angkatan Udara Setara Dengan S1

    Yogyakarta - Lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) akan mendapat gelar Strata 1 seperti perguruan tinggi lainnya. Gelar sarjana itu adalah Sarjana Sains Terapan Pertahanan.

    "Pada tahun ini sudah ada surat untuk pemberian gelar itu, pada 2012, kami harap AAU sudah terakreditasi Strata 1," kata Gubernur Akademi Angkatan Udara, Marsekal Muda TNI I.B Putu Dunia, di Markas Komando AAU, Yogyakarta, Selasa 29 Maret 2011.

    Sementara ini lulusan AAU masih setara dengan Diploma IV. Dengan gelar Strata 1, dalam pengembangan ilmu pengetahuan ke depannya para karbol AAU bisa diterima di universitas atau perguruan tinggi manapun.

    Menurut Putu, pihaknya saat ini sedang menyiapkan syarat untuk akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Hal ini dilakukan setelah menerima izin penyelenggaraan program pendidikan dari Kementrian Pendidikan Nasional pada 29 Desember 2010 lalu. AAU sendiri berupaya menyejajarkan diri dengan Akademi Angkatan Bersenjata di negara lain, seperti Akademi Angkatan Udara Amerika (USAFA) dalam mengakreditasi program-program pendidikannya.

    Akademi Angkatan Udara saat ini sedang berbenah agar apa yang diajarkan di akademi itu diakui, materi pertahanan yang diajarkan di AAU diharapkan juga dapat memenuhi persyaratan menjadi program sarjana Strata 1.

    Saat ini, AAU bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto (STTA) serta beberapa perguruan tinggi lainnya, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Institut Teknologi Bandung. Hal itu dilakukan sebagai upaya akreditasi akademi milik angkatan udara itu.

    "Dengan kerja sama ini, kami berharap mampu meningkatkan kualitas para karbol dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Putu.

    Hari ini, Selasa (29/3), penandatanganan nota kesepahaman pengembangan pendidikan kedirgantaraan dilakukan oleh Gubernur AAU dengan Ketua STTA Marsekal Pertama TNI (Purnawirawan) Sutjianto.

    Sutjianto menyatakan melalui kerjasama antara STTA dan AAU, maka jajaran TNI AU akan berkesempatan mendapatkan lisensi dasar penerbangan dengan masa berlaku tak terbatas. Ketika memasuki masa pensiun, lisensi tersebut dapat digunakan untuk persyaratan bekerja pada maskapai penerbangan umum.

    "Kerja sama ini juga diharapkan menambah kemampuan karbol dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata dia.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Tahun 2012 Lulusan Akademi Angkatan Udara Setara Dengan S1

    Penilaian Akuntabilitas Kinerja Kemhan Meningkat

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) mendapatkan predikat cukup baik dalam hasil penilaian evaluasi Akuntabilitas Kinerja Kementerian/Lembaga (K/L) Pemerintah tahun 2010 yang dilaksanakan Kementerian Pemberdayaan Apartur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN dan RB). Hasil penilaian ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang mendapat predikat cukup (agak kurang).

    Laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pusat tersebut disampaikan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara E.E. Mangindaan pada acara Penyerahan Laporan Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Pusat pada tanggal 7 Maret 2011.

    Hasil evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah pusat tahun 2010 yang nilainya cukup baik ke atas melampaui target. Tercatat sebanyak 50 kementerian/lembaga (63,29%) mendapatkan kategori cukup baik ke atas, dibanding tahun 2009 yang hanya 47,37% atau naik 16,27%. Padahal target tahun 2010, instansi pusat yang nilainya ke atas 60%.

    Dari hasil evaluasi akuntabilitas kinerja K/L yang dilakukan Kementerian PAN dan RB tahun 2010, terdapat 11 K/L mendapat predikat baik, 39 K/L berpredikat cukup baik, 27 K/L predikat cukup (agak kurang) dan tinggal 2 K/L mendapat predikat kurang.

    Kemhan termasuk dalam kelompok 39 K/L yang mendapat predikat cukup baik. Dari hasil penilaian, Kemhan mendapatkan nilai rata – rata hasil evaluasi tahun 2010 sebesar 52, 71 meningkat dari nilai rata – rata tahun 2009 sebesar 49,07. Lingkup penilaian difokuskan pada lima komponen antara lain perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi, kinerja dan capaian kinerja.

    Meningkatnya predikat dalam hasil penilaian evaluasi terhadap akuntabilitas kinerja Kemhan yang dilaksanakan oleh Kementerian PAN dan RB tersebut merupakan hasil kerja keras dari seluruh jajaran Kemhan dan hal tersebut patut untuk mendapatkan apresiasi.

    Pada tahun 2010 sejumlah langkah serta upaya telah dilakukan Kemhan dengan memaksimal peningkatan kualitas kinerja pada tahun 2010. Pelaksanaan pengawasan melalui Sistem Pengendalian Internal (SPI) secara intensif terus diupayakan untuk meningkatkan kinerja Kemhan. Sukses tidaknya penyelenggaraan negara akan sangat ditentukan oleh efektifitas kegiatan pengawasan sejak proses perencanaan sampai dengan pengakhiran kegiatan.

    Selain itu, Kemhan juga berusaha agar dapat meningkatkan penilaian Badan Pemeriksa Keuangan RI dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

    Penilaian yang positif dari Kementerian PAN dan RB tersebut akan dipertahankan bahkan ditingkatkan pada kinerja Kemhan tahun 2011. Sejumlah saran terkait dengan perbaikan kinerja Kemhan yang disampaikan Kementerian PAN dan RB akan menjadi perhatian seluruh jajaran Kemhan guna mewujudkan cita-cita dan harapan.

    Sumber: DMC
    Readmore --> Penilaian Akuntabilitas Kinerja Kemhan Meningkat

    Kemhan Kembali Ajukan Anggaran Tambahan Sebesar Rp 9 Triliun

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) akan kembali mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp9 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2011. Kemhan sebelumnya telah meminta tambahan anggaran sebesar Rp 11 triliun. Namun, Kementerian Keuangan baru menyetujui sebanyak Rp 2 triliun.

    Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Selasa (29/2) mengatakan tambahan Rp9 triliun adalah untuk memenuhi minimum essential forces alias standar kekuatan. "Kita dulu mengajukan Rp11 triliun. Tapi, baru dapat Rp2 triliun. Jadi, kita ajukan lagi. Soal dapat atau tidak, tergantung dari keuangan negara. Kita memahami juga ada perkembangan negara, harga minyak naik," kata Purnomo.

    Saat ini, alokasi anggaran pertahanan dalam APBN 2011 sebesar Rp 47 triliun. Hampir separuh dari anggaran itu atau Rp22,5 triliun dari total Rp47 triliun digunakan untuk kebutuhan belanja pegawai. Adapun sisanya sebesar Rp24,5 triliun baru digunakan untuk belanja barang dan belanja modal.

    Sumber: MEDIA INDONESIA
    Readmore --> Kemhan Kembali Ajukan Anggaran Tambahan Sebesar Rp 9 Triliun

    ASEAN Bentuk Komisi Militer Bersama Untuk Menangani Bencana

    Jakarta - Negara-negara anggota ASEAN menganggap penting peran militer dalam upaya pemberian bantuan kemanusiaan, dan penanggulangan bencana. Untuk itu, ASEAN merancang aturan yang akan menyertakan kemiliteran negara-negara ASEAN setiap kali terjadi bencana.

    Rancangan "Komite Bersama penggunaan Aset dan Kapasitas Militer ASEAN dalam pemberian bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR)", digodok bersama para perwakilan militer negara-negara ASEAN pada acara lokakarya di Jakarta, 28-29 Maret 2011.

    Menurut pernyataan dikeluarkan ASEAN, ide pembentukan komite bersama ini berawal dari keyakinan militer amat berperan, dan dapat segera dikerahkan dalam memberikan respon cepat saat bencana terjadi.

    "Negara-negara ASEAN pun terbukti memiliki kapasitas militer yang dapat dikerahkan dalam operasi bantuan kemanusiaan, baik di tingkat regional maupun internasional," tulis pernyataan tersebut.

    Lokakarya ini adalah acara tahap kedua yang dimaksudkan meneguhkan pembicaraan sebelumnya di Pattaya, Thailand, pada 2009, dan dilanjutkan putaran diaog pertahanan di Ha Noi, Vietnam, pada 11 Maret 2010.

    "Tujuan utama pembentukan komite bersama ini adalah memajukan dan meningkatkan kerja sama antarmiliter dari negara-negara ASEAN melalui penggunaan aset dan kapasitas militer," tulis pernyataan ASEAN.

    Komite bersama ini nantinya akan mengemban tugas pelaksana semua kegiatan berkaitan operasi HADR negara-negara ASEAN. Selain itu, tanggung jawab komite bersama adalah menyusun standar prosedur operasi militer ASEAN dalam upaya bantuan kemanusiaan.

    "(Komite bersama juga) memfasilitasi latihan gabungan seluruh angkatan militer dari negara ASEAN, mengeksplorasi dan mengidentifikasi wilayah kerjasama bidang HADR, dan melaksanakan operasi bersama HADR," bunyi pernyataan itu.

    Sumber: VIVA NEWS
    Readmore --> ASEAN Bentuk Komisi Militer Bersama Untuk Menangani Bencana

    Inggris Kekurangan Pilot untuk Menyerang Libya Karena Anggaran Dipotong


    Jakarta - Angkatan Udara Inggris (RAF) terancam kekurangan pilot untuk operasi ke Libya karena pemotongan anggaran pertahanan.

    Sejak konflik dimulai, pilot Typhoon dari skuadron 18 RAF telah mendukung aturan no fly zone Libya dari sebuah pangkalan udara di Italia selatan.

    Namun, kekurangan pilot pesawat tempur berkualitas menyebabkan RAF tidak memiliki cadangan untuk mengganti mereka ketika skuadron harus dirotasi dalam beberapa minggu.

    Situasi ini sangat serius sehingga RAF harus menghentikan pelatihan pilot Typhoon karena instrukturnya harus maju ke garis depan, menurut sumber angkatan udara. Sejumlah kecil pilot akan ditarik musim panas ini.

    Kekurangan itu muncul karena pemotongan anggaran yang membatasi jumlah pilot yang telah dilatih untuk menerbangkan Typhoon baru.

    Sementara keputusan pemerintah untuk menonaktifkan HMS Ark Royal, jet Harrier dan pesawat pengintai Nimrod - semua memainkan peran dalam konflik Libya - telah memperparah masalah itu.

    Seorang pilot RAF telah menghubungi The Daily Telegraph untuk memperingatkan risiko tersebut terhadap operasi Libya. "Kami kekurangan pilot," ujarnya. "Tersedia sedikit pilot yang melakukan dua kali yang seharusnya dilakukan. Jika kita tidak melatih lagi kita akan kehabisan tenaga segera."

    Dia menambahkan menghentikan pelatihan pilot tempur Typhoon adalah tindakan menyedihkan yang dapat membuat kekuatan pasukan Typhoon tak ada.

    Sumber: TEMPO
    Readmore --> Inggris Kekurangan Pilot untuk Menyerang Libya Karena Anggaran Dipotong

     

    Pengikut

    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.