ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Thursday, July 5, 2012 | 10:23 AM | 0 Comments

    Komisi I : Biaya Upgrade Hercules Terlalu Besar

    Jakarta - Hibah pesawat angkut Hercules yang akan diterima Indonesia dari Pemerintah Australia sangat tak logis karena memakan biaya perbaikan sangat besar. Biaya perbaikan satu Hercules hibah hampir sama dengan harga satu unit pesawat Hercules yang baru, yakni 60 juta dollar Amerika Serikat.

    "Biaya yang akan dikeluarkan Pemerintah untuk perbaikan satu Hercules hibah terlalu besar," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/7).

    Selain mengibahkan enam Hercules bekas, pemerintah Australia menawarkan pembelian pesawat Hercules baru dengan jenis sama senilai 90 juta dolar Amerika Serikat untuk enam unit. "Padahal di saat yang bersamaan pemerintah Australia juga menawarkan pembelian 6 unit pesawat Hercules sejenis yang siap operasi senilai 90 juta dollar Amerika," kata Tubagus, di Gedung DPR, Senin (2/7).

    Pada pertengahan 2011 pemerintah melalui Kementerian Pertahanan melaporkan rencana hibah Hercules. Namun, memerlukan dana untuk perbaikan. Karena dirasa perlu dan mendesak, Komisi I saat itu menyetujui.

    Akan tetapi beberapa bulan kemudian Kemhan melaporkan bahwa pemerintah Australia membatalkan hibah tersebut. Dan baru pada awal tahun 2012 pemerintah menyampaikan ulang bahwa hibah lima pesawat dari Australia itu jadi dilaksanakan. "Dalam waktu dekat ini kami akan meminta penjelasan ke Kemhan kenapa memilih hibah daripada membeli yang siap beroperasi," kata TB Hasanuddin.

    Rencananya, pesawat Hercules itu digunakan untuk menggantikan Fokker 27 yang dilarang terbang lagi sambil menunggu pesawat CASA N-295 dari Spanyol. Hibah akan dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden ke Australia. Kunjungan dalam rangka pertemuan tahunan kedua pimpinan Indonesia-Australia ini terfokus pada isu ekonomi, yaitu perdagangan dan investasi sapi juga infrastruktur.

    Sumber : Suara Karya

    Berita Terkait:

    0 komentar:

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.