ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Tuesday, April 9, 2013 | 4:36 PM | 4 Comments

    EADS Menantang Boeing Dan Lockheed Martin Dalam Pengadaan Pesawat Tempur Korsel

    Seoul - Perusahaan dirgantara European Aeronautic Defence and Space Company (EADS) akan menantang AS dalam pengadaan pesawat tempur tahap ketiga Korsel.

    EADS dan Defense Acquisition Program Administration (DAPA) sepakat akan merakit 48 dari 60 pesawat tempur di Korsel jika Negara tersebut memilih pesawat tempur Eurofighter Tyhpoon.

    Menurut juru bicara DAPA, Baek Yoon-Hyung mengatakan kesepakatan negosiasi teknis yang telah dilakukan pada 5 April telah berakhir dan negosiasi putaran kelima juga sudah berlangsung.

    “EADS telah setuju untuk melakukan perakitan pesawat tempur Tyhpoon di Korsel,” kata Baek, ia juga menambahkan bahwa negosiasi berapa jumlah yang akan dirakit belum tentukan.

    Selain itu pihak dari EADS juga membenarkan negosiasi tersebut, mereka juga mengatakan telah setuju untuk melakukan perakitan 48 pesawat di Korsel.

    Kesepakatan tersebut merupakan tantangan bagi EADS, karena EADS akan menjadi pihak yang tidak diuntungkan dalam proses seleksi FX yang disebabkan oleh hubungan erat antara Korsel dan AS.

    Menurut laporan terbaru dari Presiden, Departemen Pertahanan Korsel mengatakan akan membuat keputusan pada bulan Juni tahun ini. Korsel juga mensyaratkan 48 dari 60 pesawat akan dibuat di dalam negeri dan turut serta sampai 50% dari proyek FX.

    Jika EADS menyetujui perakitan 48 pesawat tersebut dilakukan di Korsel, bukan hanya menciptakan lapangan kerja tapi juga memberikan pengetahuan teknis untuk industri kedirgantaran Korsel.

    Menurut Lee Seon-Jae, wakil presiden humas EADS di Korea, mengatakan bahwa proyek tersebut akan membantu mengembangkan industri pertakitan dengan menyediakan pengembangan alur perakitan, pengalaman kerja, suku cadang, bahan analisis dan bagian perlengkapan.

    “Hal ini juga terkait dengan proyek pengembangan pesawat tempur KFX”, tambah Lee.

    Baek juga menegaskan Korea Aerospace Industries akan menangani perakitan pesawat tempur di Korsel. Selain EADS, Perusahaan asal AS yaitu Boeing juga mengusulkan model F-15 SE serta memberikan tawaran untuk membuat beberapa bagian komponen pesawat tersebut kepada Korsel. Tetapi hal tersebut ditunjukan berbeda oleh pihak Lockheed Martin yang mengusulkan model pesawat tempur siluman F-35A, dimana sampai saat ini negosiasi belum menawarkan transfer teknologi kepada Korsel.

    Menurut Baek mengatakan bahwa pembicaraan mengenai transfer teknologi dan kondisi kontrak telah selesai dan saat ini telah berlangsung tahap putaran kelima.

    Sementara itu, menurut Defense Security Cooperation Agency (DSCA) Departemen Pertahanan AS yang ikut mengawasi penjualan alutsista buatan AS kepada pihak asing, telah mengumumkan di dalam situsnya bahwa Korsel telah menyatakan niatnya untuk membeli 60 F-35 dan 60 F-15 S dalam sebuah foreign military sale (FMS) dan telah diberi tahukan kepada Kongres AS.

    Baek juga akan mendalami hal tersebut, dan menjelaskan bahwa Kongres AS harus memberitahukan atau meminta persetujuan kepada perusahaan penjual alutsista ke luar negeri.

    “Hal ini merupakan prosedur standar, jangan sampai keluar dari jalur,” katanya.

    Proyek FXIII akan melibatkan pembelian 60 pesawat tempur senilai 8.3 triliun won (US$ 7.3 milyar). Proses pemilihan pemenang tender akan selesai pada bulan Juni.

    Sumber : The Hankyoreh/MIK

    Berita Terkait:

    4 komentar:

    tomihadia said...

    tahun ini indonesia membeli pesawat Tyhpoon

    raka anom said...

    Sampai menunggu 1 1/2 tahun tertundanya proyek KFX/IFX, indonesia perlu menambah skuadron utk pesawat tempur, paling tidak kalau yg disampaikan oleh bp tomihadia benar indonesia membeli tyhpoon, indonesia perlu menempatkan skuadron pesawat tempur di papua, di NTT, di Tarakan, di Sulawesi dan di Kalbar, dan di papua serta di selatan pulau Jawa, di Maluku dan di NTB. Daerah yg sdh ada skuadron tempur perlu di lakukan variasi dlm penempatan jenis pesawat tempur, shg negara tetangga yg blm pny pswt tmpr yg akn diadakn mngalami kebingungan dng kelebihan dan kekurangan pesawat tempur. Yg terpenting slain pesawat tmpr adlh perlu penambahan dana utk memperpanjang landasan di daerah2 yg letaknya tdk jauh dng negara tetangga dan juga penambahan radar militer plng tdk 250 unit.

    raka anom said...

    Maaf bp. Tomihadia, dari mana sumber informasi yg menyebutkan atau yg memberitakan tahun ini indonesia membeli pesawat tyhpoon

    tomihadia said...

    INI RENCANA MODERNISASI ATAU PENAMBAHAN ALUTSISTA HINGGA 2014
    *PEBRUARI 2013 : 16 UNIT GOLDEN FIGTER KOREA
    *APRIL 2013 : 16 UNIT YAK 130 DARI RUSIA
    *MEY 2013 :24 UNIT EUROFIGHTER TYHPOON INGGRIS
    *MARET 2014: 30 UNIT F16 HIBA AS
    *AGUSTUS 2014: 16 UNIT 35 BM RUSIA
    * AGUSTUS 2014 : 4 UNIT ANTONOV AN 100 DAN AN 225

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.