ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Tuesday, July 12, 2011 | 4:27 PM | 0 Comments

    Wamenhan : Bahan Baku Alutsista Butuh Pembebasan Bea Masuk Impor

    Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengharapkan adanya penghapusan bea masuk untuk bahan baku industri alat utama sistem persenjataan (Alutsista). Diharapkan dengan adanya penghapusan ini dapat meningkatkan produksi Alutsista yang digunaka oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

    Demikian disampaikan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Syamsuddin ketika ditemui di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (12/7/2011).

    "Kita ingin Alutsista 0% bea masuknya, tapi khusus untuk bahan baku Alutsista dan dapat rekomendasi dari Kementerian Pertahanan kalau ridak nanti bisa disalahgunakan," ujarnya.

    Dengan memberikan penghilangan bea masuk untuk industri Alutsista, Sjafrie menilai, harga produk Alutsista asal Indonesia dapat menjadi lebih murah dari produk Alutsista dari negara lain. Namun bukan berarti kualitas produk alutsisa Indonesia buruk.

    "Harga kita akan bersaing di luar lebih murah, tapi kualitasnya lebih tinggi karena kita harus menguji dulu dengan kompetitor lain. Kita bisa mengungguli kompetitor lain," jelasnya.

    Sjafrie menambahkan, dirinya telah memberikan rekomendasi untuk BUMN yang bergerak pada industri Alutsista, seperti PT PAL, PT PINDAD, PT DI. Selain itu, juga telah diberikan untuk BUMS seperti PT PALINDO.

    Lebih lanjut Sjafrie mengatakan perlu adaya perluasan industri baja di Indonesia agar mampu untuk mendukung industri kendaraan tempur yang juga lebih besar.

    "Industri baja diharapkan punya akselerasi. Produk hulunya dibutuhkan kelebaran industri baja yang lebih besar, sekarang baru 2 meter, kita butuh 4 meter untuk kapal. Untuk kendaraan tempur yang lebih besar," ujarnya.

    Sumber : DETIK

    Berita Terkait:

    0 komentar:

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.