Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, dalam konsep pengadaan alutsista untuk mencapai target minimum essential force (MEF), pengadaan dari luar negeri harus melibatkan industri pertahanan dalam negeri.Dengan demikian terjadi proses transfer of technology (ToT) yang membantu proses kemandirian industri pertahanan atau setidaknya bisa dilakukan off-set.
Namun hal itu tidak akan terjadi jika pembelian dilakukan terhadap barang bekas pakai negara lain. ”Selain itu juga rawan terhadap embargo. Kita tidak tahu perlengkapan itu seperti apa sesudahnya,misalnya untuk membeli amunisi apakah kita masih bisa beli dari produsennya?” katanya kemarin.
Pembelian alutsista bekas juga merugikan dari aspek perawatan. Sebab, perjanjian pembelian dilakukan bukan dengan produsennya langsung sehingga untuk perawatan maupun suku cadang akan lebih mahal. Dengan begitu pembelian alutsista bekas dianggap hanya akan membuang-buang anggaran. ”Tidak ada nilai tambah bagi industri pertahanan dalam negeri, jadi kita rugi,”tandasnya.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, pemerintah mendorong agar setiap pembelian alutsista impor dilakukan dengan sistem government to government (G to G) sehingga akan didapat garansi yang lebih banyak untuk dapat memanfaatkan senjata itu dengan baik. Pemerintah juga menolak membeli jika disertai persyaratan tertentu yang bakal menyulitkan di kemudian hari, misalnya membuka peluang ancaman embargo.
Belajar dari pengalaman masa lalu,pemerintah pernah membeli alutsita yang ternyata itu tidak bisa digunakan. ”Dari belajar itu, kita sekarang tidak mau lagi melakukan pembelian,misalkan ada persyaratan-persyaratan yang menyulitkan kita. Itu clear,”ujar Purnomo. Dia menuturkan,saat ini pemerintah sedang mengkaji rencana pembelian alutsista bekas dan baru dari Eropa dan Amerika Serikat.
Hal ini membuat daftar rencana pengadaan alutsista dalam program MEF TNI mengalami perubahan. Purnomo menyebut beberapa jenis alutsista yang diincar adalah main battle tank dan helikopter.Namun,semua rencana pengadaan dari Eropa ini masih dalam proses pembahasan meski telah disampaikan dalam sidang kabinet.
”Bapak Presiden memberikan waktu sekitar dua minggu,” kata mantan Menteri ESDM itu. Walaupun ada perubahan rencana, hal itu tidak boleh melebihi pagu alokasi USD6,5 miliar sehingga jika memang akan ada penambahan daftar baru pembelian, hal itu harus disesuaikan dengan prioritas kebutuhan.”Jadi ada beberapa yang dikurangi, ada beberapa yang ditambahkan,”imbuhnya.
Pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto sebelumnya menilai pembelian alutsista bekas merupakan strategi transisi pemerintah sebelum mencapai kemandirian industri alutsista. Menurut dia,pemerintah sudah memiliki desain ideal dalam pengadaan alutsista di masa mendatang.
Pembelian alutsista bekas saat ini merupakan pilihan yang paling rasional jika berdasarkan pada kecepatan proses.Sebab, untuk membeli alutsista baru membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.Untuk pesawat tempur, misalnya, baru dibuat 2016–2017 dan kapal perang pada 2033. ”Tidak ada pilihan kalau mau (produk) masuk pada masa (Presiden) SBY, kecuali pasar bekas,”ujarnya.
Untuk produk bekas, Andi menyebut saat ini hanya ada tiga konsorsium senjata yang teknologinya masih sesuai dengan sekarang, yakni Amerika Serikat,Eropa Barat,dan Rusia. Pemerintah harus selektif karena mayoritas negara-negara itu tidak mengikutkan klausul ToT dalam penjualan produknya sehingga hal ini tidak menguntungkan bagi upaya pembangunan kemandirian industri alutsista dalam negeri.
Sumber : Seputar Indonesia
Berita Terkait:
INDONESIA
- Proses Pengecatan Leopard 2A4 Dan Marder 1A3 TNI AD
- Kemhan : Indonesia-Rusia Belum Sepakat Hibah Kapal Selam
- Foto Kedatangan Leopard 2A4 Dan Marder 1A3
- 2014, Dua Helikopter Apache Tiba Di Indonesia
- Indonesia dan Polandia Jajaki Kerjasama Produksi Bersama Alutsista
- Dua Su-30MK2 TNI AU Tiba Di Makasar
- Komisi I Siap Awasi Pengadaan Helikopter Apache
- Indonesia Kirim Degelasi Ke Rusia Untuk Tinjau 10 Kapal Selam
- Kemhan Kirim Tim untuk Pelajari Spesifikasi Apache
- Menhan Tempatkan Satu Squadron Apache Di dekat Laut China Selatan
- Selain Apache AH-64E, Indonesia Juga Tertarik Dengan Chinook
- Komisi I Dukung Pengadaan Satelit Untuk Pertahanan Negara
- Darurat , Tol Jagorawi Dijadikan Landasan Pesawat Tempur
- Rusia - AS Saling Berlomba Dalam Pengadaan Alutsista Indonesia
- Komisi I : Kami Berharap AS Turut Berpartisi Dengan Industri Pertahanan RI
- Komisi I Mendukung Tawaran 10 Kapal Selam Bekas Dari Rusia
- Rusia Tawarkan 10 Kapal Selam Bekas Kepada Indonesia
- 2014, Pemerintah Mengalokasikan Rp 83,4 Triliun Untuk Kementerian Pertahanan.
- Ketua KNKT : Lanud Polonia Harus Aman Untuk F-16
- Hari ini, 4 Kapal Perang Indonesia Show Force Balas Provokasi Malaysia
- KSAD : Helikopter Apache Akan Tiba 2018
- Korsel Kembangkan Internal Waepon Bay Untuk Pesawat Tempur K/IFX
- Islamic Development Bank Fasilitasi Kredit Ekspor Untuk PT DI
- Perancis Tingkatkan Kerjasama Pertahanan Dengan Indonesia
- Indonesia Kurang Teliti Dalam Pengadaan Pesawat Super Tucano Dari Brasil
ALUTSISTA
- Indonesia dan Polandia Jajaki Kerjasama Produksi Bersama Alutsista
- Rusia - AS Saling Berlomba Dalam Pengadaan Alutsista Indonesia
- Dilema Pengadaan Alutsista TNI : Baru, Bekas Atau Rekondisi?
- Indonesia Butuh Satu Dekade Lagi Untuk Pemenuhan Alutsista
- Meristek Yakin Indonesia Kurangi Ketergantungan Alutsista Dari Luar Negeri
- TNI AU Akan Melakukan Pengadaan Peluru Kendali Jarak Menegah
- Komisi I : Kemhan Usulkan Tambahan Anggaran Untuk Pengadaan Apache Dan Hercules
- Komisi I : Pemotongan Anggaran Kemhan Bisa Ganggu Target MEF 2014
- Alutsista Buatan PT Pindad Dipamerkan Di Lebanon
- Untuk Perisai Udara, Indonesia Akan Dilengkapi Oerlikon Skyshield
- Pengamat : Alutsista TNI Harus Bisa Bantu Sipil Saat Darurat
- Komisi I : Kerja Sama Alutsista dengan Inggris Harus Dibatalkan
- Panglima TNI : TNI Akan Melakukan Latihan Terbesar Tahun 2014
- Kasad Terima Presdir Avibras, Bahas Astros II
- Presiden: Logistik dan Distribusi, Kunci Utama Alutsista TNI
- Presiden Janjikan Modernisasi Alutsista TNI Tuntas 2014
- Presiden : Alutsista Indonesia Harus Lebih Besar Dan Modern Dari Tetangga
- Komisi I Berencana Kunker ke Ukraina Untuk Jajaki Kerja Sama Persenjataan
- Bank BRI Siapkan Rp 1 Triliun untuk Biayai Alutsista Indonesia
- PBB Desak Konsensus Perjanjian Perdagangan Senjata
- Presiden : Indonesia Tak Pernah Gunakan Alutsista untuk Bunuh Rakyatnya
- Industri Pertahanan Nasional Sudah Menguasai Teknologi Level Menegah
- Menhan : Presiden Jajaki Kerja Sama Alutsista Dengan Jerman Dan Hungaria
- Pengamat : Industri Pertahanan Butuh Kepastian Dari Pemerintah
- Ketua DPR : Beban Hutang Luar Negeri Picu 'Seretnya' Pengadaan Alutsista
EROPA
- EADS Tawarkan Dana Segar $ 2 Miliar Bila Menang Dalam Pengadaan Pesawat Tempur Korsel
- Indonesia Beli Teknologi Panser Dari Belarusia
- Menhan Sambut Baik Tawaran Kerjasama Industri Pertahanan Dengan Wallenberg Family Swedia
- Menhan : Presiden Jajaki Kerja Sama Alutsista Dengan Jerman Dan Hungaria
- Spanyol Berikan Lisensi CN 212-400 Kepada Indonesia
- Indonesia Tertarik Tank Leopard Dan Kerjasama Perkapalan Spanyol
- Menhan Spanyol Kunjungi Indonesia Untuk Membahas MoU
- Tiga Negara Bersaing Untuk Membuat Kapal Pengganti KRI Dewaruci
- Airbus Military Melakukan Serah Terima CN-295 Kepada Indonesia
- TNI AU Kirim Empat Penerbang Ke Spanyol
- Indonesia Dan Ceko Jajaki Peluang Kerjasama Industri Pertahanan
- 14 Anggota Komisi I Kunjungi Industri Pertahanan Spanyol
- Komisi I Sahkan Perjanjian Kerjasama Pertahanan Dengan Ceko Dan Italia
- Airbus Military Optimis Dapat Menjual A400M Kepada Indonesia
- Komisi I Lakukan Kunjungan Ke Pabrik Leopard Jerman
- Dirut DI : PT DI Tingkatkan Kerjasama Dengan Airbus
- Komisi I Kunker Ke Jerman Untuk Pantau Perkembangan Leopard
- Belarus Tawarkan Kerjasama Industri Pertahanan dengan Indonesia
- Spanyol Berharap Indonesia Tingkatkan Kerjasama Pertahanan
- Komisi I Bahas Ratifikasi Kerjasama Militer dengan Italia Dan Ceko
- ACAB Ditunjuk LIG Nex1 Untuk Membuat Kubah Radar KFX
- Wamenhan Terima Kunjungan Dubes Slokavia
- Norwegia Tawarkan Hibah C-130 H Murni Ke Indonesia
- Januari 2012 , Dua C-295 Buatan Airbus Akan Tiba Ke Indonesia
- TNI AL Mencari Pengganti KRI Dewaruci Ke Eropa
0 komentar:
Post a Comment