ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Monday, August 9, 2010 | 10:07 PM | 0 Comments

    Konflik Perbatasan Asia Tenggara Tidak Butuh Bantuan AS

    MANILA, KOMPAS.com - Filipina, Senin (9/8/2010) mengatakan negara-negara Asia Tenggara tidak memerlukan bantuan AS dalam menyelesaikan sengketa wilayah dengan China di Laut China Selatan, yang kaya sumber alam.

    Menteri Luar Negeri Alberto Romulo mengemukakan, perundingan-perundingan harus dilakukan sepenuhnya antara ASEAN dan China.

    Menjawab pertanyaan apakah ia mendukung pernyataan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton bulan lalu yang mengisyaratkan keterlibatan lebih besar AS dalam sengketa di Laut China Selatan itu.

    "Tidak. Itu adalah urusan ASEAN dan China. Saya dapat menegaskan, itu adalah urusan ASEAN dan China. Itu cukup jelas," kata Romulo kepada wartawan.

    China menegaskan pihaknya memiliki kedaulatan penuh atas kepulauan Spratly dan Paracel yang kaya sumber alam di Laut China Selatan.

    Akan tetapi Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam dan Taiwan juga menyatakan klaim atas sebagian pulau-pulau itu.

    Hillary dalam Forum Regional ASEAN di Hanoi bulan lalu mengatakan bahwa AS memiliki satu kepentingan dalam menjamin navigasi yang terbuka dan perdagangan bebas di Laut China Selatan.

    Hillary juga menyerukan perundingan multilateral untuk menyelesaikan masalah itu, sikap yang sejak lama ditentang China, yang ingin membicarakan klaim itu dengan masing-masing negara.

    Romulo mengatakan, ASEAN terus mendorong pelaksanaan peraturan satu perjanjian yang ditandatangani dengan China tahun 2002 yang mnyerukan penyelesaian damai masalah antara semua pihak yang bertikai.

    Akan tetapi itu hanya satu kesepakatan yang tidak mengikat dan ASEAN mendesak China agar perjanjinan itu mengikat.

    "Kami akan terus membicarakannya dan itu selalu dalam agenda kami," kata Romulo.

    Sumber: KOMPAS

    Berita Terkait:

    0 komentar:

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.