ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Sunday, August 8, 2010 | 9:59 PM | 0 Comments

    Menuju Era Perang Dingin Baru?


    latihan Angkatan Laut Korea Selatan di Pulau Baengnyeong, dekat wilayah perbatasan yang diributkan antara Korsel dan Korea Utara di Laut Kuning, Jumat (6/8). Hari itu merupakan hari kedua latihan Angkatan Laut Korsel dalam rangka siaga menghadapi serangan Korut.

    Perang memang belum sampai meletus di kawasan Asia Timur. Akan tetapi, saling ancam dan perlombaan senjata yang terjadi antara negara-negara di kawasan itu makin mengkhawatirkan dan mengingatkan pada ketegangan era Perang Dingin abad ke-20 silam.

    Hanya dalam tempo dua pekan sejak akhir Juli, empat latihan militer besar-besaran digelar di kawasan yang sedang memanas itu. Dua digelar oleh Korea Selatan (Korsel) dan dua lagi oleh China.

    Semua berawal dari perang berkepanjangan antara Korsel dan Korea Utara (Korut), yang sudah berlangsung setengah abad lebih. Perang secara fisik memang sudah berhenti sejak 23 Juli 1953 setelah disepakatinya perjanjian gencatan senjata.

    Namun, secara teknis, kedua negara berbeda ideologi itu masih berperang karena hingga hari ini belum ada satu perjanjian damai pun yang ditandatangani.

    Di tengah alotnya perundingan enam pihak yang bertujuan menghentikan ambisi nuklir Korut, terjadi insiden yang merusak semuanya. Pada 26 Maret, Cheonan, kapal perang jenis korvet milik Angkatan Laut Korsel, meledak dan tenggelam di perairan Laut Kuning dekat dengan perbatasan Korut. Korsel kehilangan 46 pelautnya.

    Sebuah tim penyelidik multinasional menyimpulkan, ledakan tersebut berasal dari torpedo yang ditembakkan kapal selam Korut. Pyongyang sontak menolak mentah-mentah hasil penyelidikan itu dan mengaku tidak bertanggung jawab terhadap tenggelamnya Cheonan.

    Belakangan juga dikabarkan, pada waktu hampir bersamaan dengan insiden Cheonan itu, militer Korut juga memobilisasi besar-besaran rudal-rudal anti-serangan udaranya, dari Provinsi Hwangdae di barat daya ke daerah yang lebih dekat dengan perbatasan Korsel.

    Korsel pun tersulut emosinya dan langsung menggelar angkatan perang sebagai bentuk unjuk kekuatan dan peringatan kepada Korut agar tak bertindak di luar batas. Korsel dan Amerika Serikat (AS) menggelar latihan perang laut bersama di Laut Kuning, pada 25-28 Juli. AS mengirimkan gugus tugas tempur kapal induk USS George Washington.
    Korut bereaksi dengan mengancam akan membalas dengan kekuatan nuklir apabila latihan itu jadi digelar. China pun protes keras karena latihan itu bisa dikatakan dilangsungkan di halaman depannya. Kota-kota utama China, termasuk Beijing, berada pada jarak serang pesawat-pesawat tempur F/A-18 Hornet yang berpangkalan di USS George Washington.

    Pindah lokasi


    Setelah diprotes China, Korsel dan AS akhirnya memindahkan lokasi latihan ke Laut Jepang, di sebelah timur Semenanjung Korea.

    Namun, China tidak berhenti di situ. Negara adidaya baru di Asia ini pun menggelar dua latihan militer sekaligus. Satu latihan artileri dan pendaratan pasukan di pantai Laut Kuning (yang berseberangan dengan Korea) dan satu lagi latihan perang udara besar-besaran di Provinsi Henan dan Shandong di selatan Beijing.

    Korsel pun sejak Kamis (5/8) kembali menggelar latihan perang anti-kapal selam di kawasan Laut Kuning, di sekitar lokasi tenggelamnya Cheonan. Meski diprotes keras oleh Pyongyang, pihak Korsel mengatakan bahwa latihan ini hanya permulaan dari serangkaian latihan militer yang masih akan dilangsungkan dalam beberapa bulan mendatang.

    Saling unjuk kekuatan ini membuat prospek perdamaian di kawasan negara-negara kekuatan ekonomi utama di Asia ini menjadi suram. Robert Einhorn, penasihat khusus Departemen Luar Negeri AS, mengatakan, perundingan enam pihak di Asia Timur belum bisa dilanjutkan dengan perkembangan situasi saat ini.

    ”Menurut saya, perundingan itu belum bisa dilanjutkan saat ini. Langkah-langkah Korea Utara memunculkan pertanyaan besar apakah mereka benar-benar akan menepati komitmen mereka (dalam perundingan itu),” tutur Einhorn.

    Pada saat bersamaan, hampir seluruh negara di kawasan itu sedang berlomba-lomba mengembangkan senjata terbarunya. Korut terus mengembangkan bom nuklir dan rudal balistik antarbenua Taepodong, yang daya jelajahnya bisa mencapai daratan Amerika.

    China pun dikabarkan sudah memasuki tahap akhir pengembangan rudal pembunuh kapal induk Dong Feng DF-21D. Tidak hanya itu, kelompok media Jane’s pun mengabarkan, Korsel sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu menyerang seluruh wilayah Korut dan sebagian China, Rusia, serta Jepang.

    Dalam sebuah analisisnya, Council for Foreign Relations (CFR) yang berbasis di New York, AS, menyebutkan, jika perlombaan senjata di kawasan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Jepang akan mengamandemen konstitusinya dan ikut-ikutan mengembangkan senjata penyerang, termasuk nuklir.

    Seperti ditengarai oleh Hyung-A Kim, pakar masalah Korea di Australian National University, memanasnya kawasan ini dengan serangkaian latihan militer merupakan awal dari terwujudnya Perang Dingin ala Asia Timur.

    Sumber: KOMPAS

    Berita Terkait:

    0 komentar:

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.