ALUTSISTA ARDAVA BERITA HANKAM CAKRA 401 SUBMARINE DEFENSE STUDIES INDO-DEFENSE INDONESIA DEFENSE INDONESIA TEKNOLOGI RINDAM V BRAWIJAYA THE INDO MILITER
Formil MIK Formil Kaskus Formil Detik.COM
PT.DI LAPAN LEN NUKLIR PAL PINDAD RADAR RANPUR ROKET RUDAL SATELIT SENJATA TANK/MBT UAV
TNI AD TNI AL TNI AU
HELIKOPTER KAPAL ANGKUT KAPAL INDUK KAPAL LATIH KAPAL PATROLI KAPAL PERANG KAPAL PERUSAK KAPAL SELAM PESAWAT TEMPUR PESAWAT ANGKUT PESAWAT BOMBER PESAWAT LATIH PESAWAT PATROLI PESAWAT TANKER
KOPASSUS PASUKAN PERDAMAIAN PERBATASAN
  • PERTAHANAN
  • POLRI POLISI MILITER
  • PBB
  • NATO BIN DMC TERORIS
    AMERIKA LATIN AMERIKA UTARA BRASIL USA VENEZUELA
    AFGANISTAN ETHIOPIA IRAN ISRAEL KAZAKHTAN KYRGYZTAN LEBANON LIBYA MESIR OMAN PALESTINA TIMUR TENGAH YAMAN
    ASEAN AUSTRALIA Bangladesh BRUNAI CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KAMBOJA KORSEL KORUT
    MALAYSIA Selandia Baru PAKISTAN PAPUA NUGINI Filipina SINGAPURA SRI LANGKA TAIWAN TIMOR LESTE
    BELANDA BULGARIA INGGRIS ITALIA JERMAN ROMANIA RUSIA UKRAINA
    MIK News empty empty R.1 empty R.2 empty R.3 empty R.4

    Thursday, September 23, 2010 | 10:19 PM | 0 Comments

    Pengakuan 'Menikmati Perkosaan' dalam Uji Kelayakan Calon Panglima

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Meski tetap serius, sesekali uji kepatutan dan kelayakan Panglima TNI pada Kamis (23/9) di DPR bisa diselingi kelakar juga. Ketika pertanyaan soal netralitas TNI mencuat, istilah 'menikmati perkosaan' pun muncul.

    Mulanya ketika ada anggota Dewan mempertanyakan soal komitmen Laksamana Agus Suhartono terhadap netralitas TNI. Effendi Choirie dari PKB meminta ketegasan sikap Agus terhadap hak pilih TNI yang pernah mencuat menjadi perdebatan.

    Soal ini pun ditanggapi Max Sopacua dari Demokrat. Menurut dia, soal netralitas TNI sudah jelas. "Yang kini dibutuhkan adalah sikap kita dari parpol untuk tidak menarik TNI ke kiri dan ke kanan," kata Max.

    Saling timpal antara Effendi dan Max lumayan menyita perhatian. Berinisiatif menjembatani persoalan, pimpinan sudang Tubagus Hasanuddin pun ambil suara.

    "Kita tidak bisa minta sikap hitam-merah calon panglima sekarang, karena masalah hak pilih hingga masih debatable, ketika dulu muncul wacana itu juga masih banyak penafsiran," kata Hasanuddin yang juga politisi PDIP ini. Dia meminta agar soal hak pilih dan netralitas ini dibahas dalam rapat-rapat Komisi nantinya.

    Dia lalu bercerita pengalamannya saat menjadi perwira TNI Angkatan Darat --pangkat terakhirnya mayor jenderal, yang dipaksa membela dan mendukung Golkar semasa Orde Baru.

    "Sebenarnya kami perwira muda menolak, tapi komandan bilang: 'Hei Hasanuddin, kamu ini ibarat diperkosa, tapi nggak bisa melawan. Daripada mau melawan tapi nggak bisa, sudah nikmati saja," kata Hasanuddin disambut tawa ngakak hadirin.

    "Makanya bertahun-tahun kami diperkosa, tapi kami nikmati. Malah karena enak, kemudian gantian memperkosa. Tapi sekarang jangan diulang," kata Hasanuddin menambah panjang tawa hadirin.

    Tawa belum selesai, Tantowi Yahya nyeletuk. "Saya ingin koreksi, enak tapi, kok, enggak diulang?" kata politisi Golkar ini.

    Dengan enteng Hasanuddin menimpali. "Ini merupakan semacam pengakuan dosa untuk hidup lebih baik baik," katanya.

    Mendengar itu, Agus Suhartono hanya mesem-mesem saja.

    Sumber: TEMPO

    Berita Terkait:

    0 komentar:

    Post a Comment

     
    Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by ADMIN | Published by MAJU INDONESIA KU
    Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.